There was an error in this gadget

Friday, February 4, 2011

Love Ya!!! chapter 9

Love Ya!!!
oleh Imah Hyun Ae

Chapter 9
My Secret Love

~Ima~
Kulihat jam warna perak campur pink di pergelangan tangan kiriku. Kalau tak ada gangguan, sebentar lagi mereka datang.
Aku menghela napas.
Bagaimana aku harus bersikap? Ternyata cinta itu masih untuknya. Apa yang harus aku lakukan? Masih bisakah aku tersenyum biasa seperti dulu? Aku terlalu gugup untuk bertemu dengannya lagi. Terlalu takut jika melihat pandangan penuh kasihnya masih untuk… Lia.
Aku menghela napas. Bayang-bayang masa lalu itu kembali hadir.
***

~SMA kelas X Semester 2~
Aku belum lama mengenalnya. Baru sekitar lima bulan. Dia sahabat Lia dari kecil. ‘Laki-laki aneh’, itu kesan pertamaku padanya. Ya… karena melihat dia yang begitu antusias terhadap hal-hal berbau korea. Menangis diam-diam saat drama itu menampilkan adegan sedih. Ikutan heboh, tak kalah hebohnya dengan kami yang terlalu menghayati adegan di drama tersebut.
Nana, sahabat baruku juga. Dan dia sudah menjadi sahabat Lia sejak SMP, tak masuk hari ini. Jadilah aku pulang sendirian.
Sambil melangkah mundur, aku melambai pada Lia dan Egi. Mereka membalas lambaianku.
“Hati-ha—” kata-kata Lia tak selesai karena saat itu kakiku mengenai batu. Aku jatuh. Kurasai kaki kananku sakit.
“Tidak apa-apa?” Lia menatap cemas saat melihatku meringis. Kupegangi pergelangan kakiku.
Lia dan Egi membantuku berdiri.
“Thanks…” ucapku sambil menahan sakit. Sepertinya kakiku terkilir.
“Masih bisa jalan?”
Aku mengangguk. “Sampai jumpa…” pamitku dan mulai berjalan. Sayangnya di langkah kedua aku limbung. Cepat Egi menyambutku.
“Sepertinya kau terkilir,” gumamnya. “Mau ke rumah sakit?”
Aku menggeleng. “Ayahku bisa memijatnya kok.”
“Oh…” Di pandangnya aku sesaat.
Deg!
Ada perasaan lain di dadaku. Apa ini?
“Biar kupapah,” katanya sambil melingkarkan tanganku di bahunya. Di tatapnya Lia. “Kau pulang saja dulu. Ima biar aku yang antar.”
Lia tampak mengangguk.
Sambil berjalan kulirik dia. Wangi farfumnya membuat hatiku terasa hangat. Aneh…
Mendadak dia menoleh ke arahku. Aku terkejut, sekaligus salah tingkah.
“Jangan merasa tidak enak. Kita kan teman?” ujernya. Dia tersenyum hangat padaku.
Deg!
Jantungku berdetak aneh lagi. Kenapa bisa?
Di bus, dia duduk di sampingku.
“Masih sakit?” tanyanya cemas.
Aku mengangguk tanpa berani memandangnya.
----
Bus berhenti. Egi melangkah lebih dulu. Tepat did ala pintu keluar dia berhenti lalu berjongkok membelakangiku.
“Kenapa?” tanyaku bingung.
“Biar kugendong. Kakimu semakin parah kalau kau paksa berjalan lagi,” ujernya.
“Tapi…”
“Cepatlah. Orang di belakang sudah menunggu,” ucapnya.
Aku menoleh ke belakang. Memang benar, ada beberapa orang yang menunggu.
“Maaf,” ujerku tak enak pada mereka.
Segera aku melingkah tanganku di leher Egi. Jantungku berdetak semakin cepat. Perlahan dia berjalan. Aroma minyak rambut yang dia pakai tercium. Jantungku kembali tak berdetak dengan tenang.
“Rumahmu di mana?” ujernya tiba-tiba.
“EH? Di… Di sebelah sini,” kutunjuk jalanan sebelah kiri dengan gugup.
Hff…. Kenapa denganku? Kenapa… aku ingin… jalan ini tak pernah berujung? Kenapa… aku ingin di belakangnya seperti ini… lebih lama lagi? Apa… aku jatuh cinta? Pada Egi?
“Yang mana rumahmu?”
“EH?” aduh… lagi-lagi mengagetkanku.
“Hmf… kau melamun ya?” tanyanya sambil tertawa geli.
“Hehe… yang itu rumahku,” kataku malu.
Dipencetnya bel rumahku. Tak lama kemudian pintu di buka. Ibuku kaget melihatku di gendong.
“Kau kenapa?” tanyanya sambil mempersilahkan Egi masuk.
“Tadi tergelincir,” kataku saat Egi meurunkanku di kursi.
“Ya ampun.. Bagaimana bisa?” tanya ibu lagi.
Aku meringis.
“Aku pulang ya? Sepertinya hari mau hujan…” pinta Egi.
“Tidak istirahat dulu?”
Egi menggeleng.
Aku menghela napas kecewa. Aku tidak ingin dia pergi.
“Sebaiknya kau obati kakimu. Sampai jumpa,” pamitnya.
Aku mengangguk lemah. “Terima kasih sudah mengantarku,” ucapku tulus.
Dia tersenyum hangat. “Jangan sungkan begitu.”
Hfff… wajahku memanas lagi…
***

~SMA Kelas XI Semester 1~
Ruang seni yang sepi. Aku berjalan perlahan sambil membawa gitar ke dekat jendela. Angin sepoi masuk dan mengibas-ngibas poniku. Aku menghirup udaranya yang segar dalam-dalam.
Kulihat di lapangan ada sekelompok siswa bermain basket. Adakah Egi di sana? Aku melongokan kepalaku agar lebih jelas melihat. Tidak ada.
Kuraih lembaran kertas di saku bajuku. Lirik lagu Perhaps Love, ost. Drama korea Princess Hours, kesukaan kami.
Aku mulai menggenjreng gitar.
“…
Is it love? If you feel the same way, is it a beginning?
My heart keep saying it loves you
…”
Bayangan Egi menari-nari di benakku. Membuatku berhenti menggenjreng gitar.
“Kenapa berhenti?” seseorang menegurku dan mengambil lembaran kertas laguku.
Deg!
Jantungku berpacu cepat saat tahu siapa dia. Egi.
“Biar ku coba,” matanya berbinar gembira. Diambilnya gitar di tanganku dan mulai mencoba lagu tersebut. Pertama-tama dia bergumam. Saat dapat nada yang pas, dia memintaku bernyanyi mengiringinya.
“Suaraku jelek,” tolakku malu.
“Tidak apa-apa,” ujernya sambil memainkan intro. Mau tidak mau aku bernyanyi.
Sambil bergitar dia pun ikut bernyanyi. Sesekali dia tersenyum sambil menatapku.
Satu pintaku pada-Mu Tuhan, Mohon hentikan waktu… Aku ingin terhenti di menit ini bersamanya…
Namun detik terus berjalan…
***

~SMA Kelas XI Semester 2, awal-awal musim hujan~
Hujan turun dengan lebat tanpa diduga pagi ini. Aku dan Rima sama sekali tidak membawa payung. Gara-gara itulah kami terburu-buru berlari menuju koridor. Sampai-sampai aku tidak sadar dengan keadaan tasku yang terbuka.
“Ima~!!! Bukumu!!!” teriak seseorang di belakangku. Aku yang sudah di koridor segera berbalik. Kulihat buku-bukuku tercecer. Egi tampak sedang mengambilkan bukuku. Segera aku berlari mendekat.
“A~ Thanks…” ucapku lalu memunguti bukuku juga.
“Sepertinya tasmu minta ganti,” ujer cowok yang berada di bawah payung yang Lia pegang.
Aku mengangguk meski kurasai hatiku tidak terima dengan sikap Lia pada Egi itu. Hey!! Apa aku cemburu?
Egi menyerahkan bukuku.
“Makasih…”
Dia menjawab dengan gumaman sambil mengeluarkan isi tasnya. Lalu diserahkannya tasnya padaku. “Pakai tasku saja,” ucapnya ringan.
Dadaku menghangat… “Tapi…”
“Pakai saja.” Paksanya sembari tersenyum hangat.
Aku merasa wajahku memanas. “Thanks…”
Dia tersenyum lagi. “Jangan sungkan.”
“Sini. Biar kupegang payungmu,” tawarku saat kulihat Lia mau menawarkan bantuan padanya yang tampak kesulitan memegang buku dan payungnya.
“Thank you…” diserahkannya payungnya padaku. Lantas bersama-sama kami menuju koridor. Biarkan aku lebih dekat dengannya, Ya, batinku.
***

~Kelas XI SMA Semester 2, akhir bulan Mei~
Hujan turun saat pulang sekolah dan lagi-lagi aku lupa bawa payung. Aku berencana pinjam punya Egi, namun batal saat kudengar permbicaraan Egi yang lupa membawa payung juga. Pulang sekolah ini kami mau nonton bareng di rumah Lia.
Sambil bernaung di bawah payung Nana aku melangkah. Kami masuk ke bus dan duduk di kursi nomor tiga dari belakang. Sedang Lia dan Egi dapat kursi di paling belakang.
Bus perlahan melaju.
Aku mau menawarkan cemilanku ke Egi dan Lia di belakang, tapi tidak jadi. Ada hal yang langsung menyakiti hatiku. Egi, kulihat dia memandang keluar jendela. Bukan memandang pemandangan di luar sana, tapi… bayangan Lia yang terpantul di kaca itu.
Aku seperti kesulitan bernapas. Rasanya marah sekali. Marah pada Lia dan Egi. Tapi, siapa aku?
Aku berbalik dengan kecewa. Aku sadari satu hal. Hal yang sebenarnya terlihat jelas sejak lama: bagi Egi, Lia bukan cuma teman, tapi diam-diam laki-laki pemilik senyum hangat itu mencintainya.
Ngilu. Rasanya ngilu sekali mengetahui perasaan ini tak akan bersambut. Apa bisa kumatikan perasaan ini?!!
Aku… mungkin akan memakan waktu lama: diam-diam mencintainya.
***

~SMA Kelas XII~
Acara kelulusan kami buat sendiri usai pengumuman. Kami lega, kami semua lulus. Kami merayakannya di rumahku. Mereka duduk di ruang tengah sambil menonton MV terbaru boy band favorit kami. Dan aku sibuk membuat nasi goreng plus cemilan berupa gorengan. Sesekali Nana masuk ke dapur menawarkan bantuan.
“Tidak perlu. Sebentar lagi selesai, kok,” tolakku. “Duduk manis dan nonton saja di sana.”
“Oke, Bos!!” ujernya sembari memberi hormat. Ia lalu masuk ke dalam.
Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahnya.
Masakanku telah masak ketika Egi datang.
“Wow…” komentarnya takjub. “Jadi lapar.” Ia cengengesan sembari mengambil satu gorengan dari piring yang kupegang.
Aku tergelak. “Tolong bawakan, ya?”
“Sip!” ujernya ceria.
Kami sama-sama ke dalam dan menikmati nasi goreng yang kubuat.
“Hm… Kau cocok dijadikan calon istri, Ma. Masakanmu enak, beda dengan Lia, hahaha…”
Aku tertawa lebar. Senang karena dipujinya lebih baik dari Lia.
Lia mencibir. “Nasi goreng aku juga bisa.”
“Aku juga,” balas Egi cepat. “Tapi tak seenak ini! Wee…”
Lia manyun.
“Kapan-kapan kau buat lagi, ya?” Egi tersenyum sangat lembut padaku.
Hatiku menghangat…
***

~Perkuliahan Semester 4~
Kami sudah banyak mengenal kata-kata korea dari sebuah grup pecinta korea yang setiap minggunya memberikan pelajaran tersebut. Nana dan aku belajar keras menghapal kata demi katanya.
Lirik lagu kesukaan kami pun kami hapal beserta maknanya. Jadi, ketika ada yang bertanya apa yang kami nyanyikan, kami bisa dengan mudah menjelaskannya.
Kupandangi lirik lagu yang baru kudapat. Soundtrack drama You Are Beautiful. Ada dua lagu yang cocok untuk menggambarkan perasaanku. Pertama ‘Without A Word’, dan kedua ‘What Should I Do?’.
Aku menghela napas sembari menghidupkan mp3 hpku dan ikut bernyanyi.
“I shouldn’t have done that
I should have ignored it
Like I didn’t see it
Like I couldn’t see it
I shouldn’t have looked at you in the first place

Without a word, you made me know love
Without a word, you gave me your love
You made me fill myself with every breath
Then you ran away

Without a word, love left me
Without a word, love tossed me aside
Not knowing what to say
My lips must have been surprised
Because you came without a word


Without a word, tears start falling down
Without a word, my heart breaks
Without a word, I wait for love
Without a word, I hurt because of love
I zone out, I become a fool
Because I cry just by looking at the sky

Without a word, it comes
Without a word, it leaves
Like a fever I’ve had
Maybe all I have to do is hurt for a while
Because in the end,
The only thing that remains are scars…”

Aku menghela napas lagi. Kubalik lembar berikutnya dan mulai menyanyi lagi.
“…
What should I do… What should I do… You’re leaving
What should I do… What should I do… You’re leaving
I love you… I love you… I cry out to you
But you can’t hear me… Because I’m only shouting with my heart

All day long I try to erase you, but you arise in my thoughts again
All day long I try to say goodbye to you, but you arise in my thoughts again
Although you’ve gone to a place where I can’t hold you even if I reach out my hand
I can’t find you, I can only cry

What should I do… What should I do… I can only see you
What should I do… What should I do… I love you
I’m sorry… I’m sorry… Can you hear me
Please return to me… If it isn’t you, I can’t go on
…”

“Tumben lagu sedih?” tanya Egi yang langsung duduk di depanku dan merebut lembaran kertasku. “Lagu di drama yang kita tonton kemarin ya?”
Aku mengangguk.
“Sepertinya Lia dan Nana belum keluar…” gumamnya sambil melihat kea rah kampus Lia dan Nana.
Aku mengangguk. Memang sudah kebiasaan kami kalau jam kuliah sudah berakhir, kami akan menunggu satu sama lain di warung makan ini.
“Sebentar,” ujernya lalu berjalan ke sebelah sana, ke kerumunan mahasiswa yang sedang asyik bermain gitar. Dia kembali dengan satu gitar di tangannya dan menggenjrengnya tak jelas.
“Kita duet, yuk?” ajaknya. “Lagu May I Love You, bagaimana?”
“Tapi…”
“Aku tahu kau hapal.” Potongnya cepat. Dia pun memulai intronya dan menyanyi,
“Muni yollineyo kudega turo-ojyo
Chonnune nan nae saramin gol aratjyo
Nae ape tagawa kugae sugimyo bichin olgul
Chongmal nuni bushige arumdapjo
(The door opens, you come in
I knew it was you
You walk to me and show your face
It is so beautiful)”

Di bait kedua dia melirikku.
Aku menyanyi dengan pelan.
“Wonirinji nachsolchiga a-nhayo sollego itjyo
Nae mamul modu kachyogan kudae…
(It looks familiar, my heart is beating
You have taken my heart…)”
Egi tersenyum dan menyahut.
“Joshimsurobke yaegi hallaeyo yong-ginae bollaeyo
Na onulbuto kudaerul saranghaedo dwelkkayo…
(I will tell you how, I will be brave
May I love you know?”
Kusahut,
“Cho-umin-golyo bunmyonghan nukkin nochige sichi-anhchyo
Sarangi oryo nabwayo kudaeyege nul choh-un gonman julkkeyo
(This is first time, I don’t want to miss it
Love has arrived, I’ll do very best)”

Egi kembali tersenyum hangat. Lalu bersama-sama kami menyanyikan bagian akhir lagu ini.
“Cham ma-nhun ibyol cham ma-nhun nunmul jal kyondyonaetkiye
Chom nujo-optjiman kudaerul manage dwennabwayo chigum nae-ape anjun saramul
Saranghaedo dwelkkayo
Togun-gorinun manure
Kudaeyege nul choh-un gonman julkkeyo
Naega kudaerul saranghaedo dwelkkayo
(There were so many cries and tears
But I finally met you
May I love you?
This is my first time
I don’t want miss it
May I love you?)”

Pengunjung di warung bertepuk tangan meski tidak tahu lagi apa yang kami nyanyikan.
“Kalian cocok jadi penyanyi duet,” ujer salah satunya.
“Iya. Mungkin bisa mengalahkan pasangan duet terkenal saat ini,” tambah yang lain. Semua tergelak.
Kami berdua cuma bisa tersenyum.
“Hey! Kalau aku menikah nanti, di resepsiku kamu jadi penyanyinya, ya?”
“Umm… tergantung,” jawabku.
“Tergantung apanya?”
“Tergantung siapa calonmu, hehe…”
Egi tersenyum lalu memandang langit di luar sana. “Benar juga. Kira-kira nanti aku menikah dengan siapa, ya?”
Aku memandangnya. Apa boleh aku berdoa kalau orang yang kau nikahi nanti adalah aku, Gi?
Egi masih memandang langit. Hanya angin yang diam-diam menghibur hatiku.
***

~Perkuliahan Semester 5~
Gundukan di depanku belum kering dan tangisku belumlah pecah dengan sempurna. Tapi… ibu justru memilih menyusulnya. Menyusul ayah yang lebih dulu meninggalkanku. Beliau meninggal seminggu lebih dulu.
Aku menarik napas dalam. Langit cerah yang memayungiku seolah tak peduli akan dukaku ini.
Seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh dan menemukan sosok pemilik senyum hangat yang mengisi hatiku beberapa tahun ini. Dia menatapku dengan lembut. Seolah memintaku untuk kuat.
Aku menelan ludah. Mencoba menahan tangisku agar tak pecah di depannya. Aku tak mau Egi melihatku rapuh.
Semilir angin langsung menggigit hatiku. Nyeri. Mengakibatkan satu butir air mata jatuh ke pipiku.
“Aku belum sempat membahagiakan mereka…” lirihku berat. “Aku belum sempat meminta maaf,” isakku pecah seketika. “Belum sempat membalas kasih sayang mereka selama ini. Aku…”
Egi merangkul bahuku. Menegarkanku. Tapi aku sudah terlanjur rapuh…
“Mereka belum sempat melihat karyaku di terbitkan…” air mataku makin membanjir. “Kenapa mereka malah pergi?” tanyaku sambil terduduk. Tak sanggup menahan duka dan sesal yang bergelayut ini.
Egi tak mengatakan apa-apa. Ia membiarkanku terisak makin keras. Perlahan di sandarkannya kepalaku di pundaknya dan dielusnya dengan lembut. Membuatku merasa nyaman. Juga membuat cinta ini semakin dalam…
***

~Pernikahan Lia~
Dulu aku tak percaya dengan kata-kata ‘Melihatmu sakit, aku pun merasa sakit’. Aku pikir itu bualan yang tak seharusnya dipercayai. Namun, sekarang aku menyadari bahwa aku salah. Melihatnya yang memandang sosok di depan penghulu itu dengan tatapan penuh luka, hatiku jelas sekali terasa sakitnya. Menusuk tajam hingga keseluruh tulang-tulangku.
‘Bahagiamu, bahagiaku juga’ aku jadi percaya kata ini juga.
Rasanya ingin sekali mengulurkan tangan. Mengatakan padanya dengan lantang, ‘Lihatlah! Ada aku yang menyayangimu. Jadi berhentilah mencintainya. Mulailah denganku!’. Namun aku tak bisa. Kata-kata itu hanya sampai di kerongkonganku dan tak pernah berhasil keluar.
Perlahan aku duduk di sampingnya.
“Di sebuah tempat di mana dia berhasil meraihku ketika dia mengulurkan tangan. Di sebuah tempat di mana aku bisa selalu mendengarnya jika dia memanggilku. Aku akan tetap di sana dan tak berubah sedikitpun. Karena aku mencintainya. Karena aku seorang yang bodoh.” Egi menoleh ke arahku. “A Song For A Fool dari Park Sang Woo. Kurasa kata-kata di lagu itu sangat cocok untukmu sekarang.” Kutatap dia, lalu tersenyum. Dan mungkin juga cocok untukku…
Aku kemudian melangkah pergi. Tak sanggup melihat luka yang tergambar jelas di matanya.
***

~Resepsi Pernikahan Lia~
“Kau ada masalah?” tanya Egi tiba-tiba. Apa raut wajahku terlihat sekali tak gembira.
“Kenapa?” kuusahakan tersenyum secerah mungkin.
Egi menggeleng. Aku segera memalingkan wajah. Tak mau melihat dirinya yang terluka lagi. Karena begitu melihatnya terluka, perih di hatiku makin bertambah.
***

~Setahun Setelah Wisuda~
Nana dan Egi tampak murung. Sepertinya mereka tak setuju dengan keputusan yang baru kusampaikan pada mereka.
“Mian… (maaf…),” lirihku.
“Kenapa harus pergi?” tanya Nana. Ini untuk ketiga kalinya dia mengulang pertanyaan itu.
“Sudah kukatakan, di sana lebih dekat dengan abangku. Lagipula lebih cepat untukku ke Jakarta jika harus mengurus novelku lagi, kan?”
“Tapi-”
“Kita masih bisa telpon-telponan kok,” sambarku cepat.
“Lia lebih dulu pergi. Sekarang kau. Mungkin nanti Nana juga. Hh…tinggal aku saja yang di sini nantinya.” Keluh Egi dengan wajah muram.
Aku pergi juga karenamu, Gi! Pergi karena tidak kuat dengan sikapmu yang terus memikirkan Lia!!
“Ah… nonton bareng tidak akan seru lagi!!” gerutu Nana.
“Maaf…” lirihku.
“Jadi kapan kau berangkat?” tanya Egi akhirnya.
“Mm… besok…” jawabku lambat. Takut mereka marah.
“Aish… kenapa baru sekarang mengatakannya? Setidaknya… setidaknya kau memberi kami kesempatan untuk membuat kejutan atau acara perpisahan kan?”
Aku menggeleng pelan. “Malam ini sudah cukup. Kenangan bahagia selama berteman dengan kalian sudah banyak. Lagipula aku pasti kemari mengunjungi kalian.”
“Janji?” pinta Nana.
Aku mengangguk pasti.
***

~Di Bandara, saat perpisahan tiba~
“Jangan lupa sering-sering hubungi kami di sini,” bisik Nana sambil menyeka air matanya. Tak kusangka anak yang ceria ini cengeng juga.
Aku mengangguk sambil tersenyum padanya.
“Jaga kesehatanmu,” nasehat Egi. Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk.
“Aku pasti merindukanmu,” bisik Egi dan berhasil membuat pertahananku runtuh.
“Jangan menangis lagi!” tegurnya sambil memberiku sapu tangannya.
“Gara-gara siapa coba!” protesku. Dielusnya kepalaku dengan sayang.
“Sampai jumpa…” bisiknya pelan. Membuatku mengangguk lemah.
Aku melambai dan melangkah mundur sambil menatap mereka. Mereka membalas lambaianku sambil berusaha menyuguhkan senyum hangat mereka. Segera kuhentikan langkahku. Perlahan kunaikkan kedua tanganku ke atas kepalaku dan menyatukan jari-jarinya. “Saranghae… (Aku mencintai kalian…)” bisikku.
Egi dan Nana membalas dengan gerakan yang sama.
Mungkin buatmu itu cuma ‘cinta’ sebagai seorang teman, Gi…
Kemudian aku pergi…

TBC

No comments:

Post a Comment