There was an error in this gadget

Tuesday, September 27, 2011

FF "Heart" chap 9 -end-

Omo!!!! This is the end!!!! Title: Heart Genre: Romance Tokoh: 1. Lee Hyun Ae (tokoh utama/pembaca/siapa saja yang mau lah) 2. Kim Soo Ae 3. Park Yong Kyo (shbt Hyun Ae) 4. Jung Ji Hyun 5. Kim Hyun Joong 6. Jung Yunho 7. Kim Jae Joong 8. Lee Song Yi (sahabat Soo Ae) Chapter 9 Wish -Author POV- Hyun Joong kembali mengunjungi Soo Ae. Tapi hari ini agak berbeda. Suasana di rumah gadis itu tampak sepi. Hyun Joong mengetuk pintu dan memanggil Soo Ae. Tak ada jawaban. Dia mengetuk lagi, dan lagi-lagi tak terdengar jawaban. Hyun Joong lantas mengambil hpnya. Menghubungi Soo Ae. Tak ada jawaban lagi. Dengan cemas Hyun Joong melangkah keluar pagar rumah Soo Ae. Seorang tetangga yang kebetulan keluar rumahnya, Hyun Joong mendekat dan menyapanya. ”Annyeong omonim...” ”Ah, Annyeong...Temannya Soo Ae kan?” Hyun Joong mengangguk. Sebelum sempat bertanya aomonim itu langsung berkata. ”Kasihan sekali Soo Ae. Lagi-lagi harus di rawat di rumah sakit.” ”Dia... masuk rumah sakit?” Hyun bertanya nyaris tercekat. Omonim itu mengangguk. ” Aku khawatir dia tidak akan pernah kembali lagi.” Hyun Joong lalu bertanya di rumah sakit mana dia di rawat. @ rumah sakit: Hyun joong menatap kamar rumah sakit. Di dalam terlihat sekali banyak alat-alat yang tak di kenalnya terhubung dengan tubuh seseorang yang tengah terpejam tak berdaya. Hyun Joong membuka pintu dan melangkah perlahan. Di samping Soo Ae terlihat adiknya yang nomor dua menunggunya. Di sisi adik itu, ada seorang yang tak di kenalnya. Orang itu menatapnya. Sedikit terkejut mendapati Hyun Joong ada di kamar itu. ”Hyung?” tegur adiknya Soo Ae pada Hyun Joong. Taemin. ”Bagaimana keadaannya?” ”Kata dokter masa kristisnya sudah lewat.” ”Syukurlah...” ada sedikit kelegaan di matanya. ”Kau... temannya?” orang di samping Taemin bertanya. ”Nde. Hyun Joong imnida.” ”Ah, Yunho imnida.” Kali ini Hyun Joong yang terkejut. Jadi, dia mantan suami Soo Ae. Hyun Joong ingat Soo Ae pernah menyebutkan nama suaminya padanya. Mereka bersalaman. Untuk bberapa saat mereka terdiam. Taemin berinisiatif membelikan air untuk Yunho dan Hyun Joong. Sesaat setelah Taemin pergi Hyun Joong bertanya, ”Bagaimana kabar istrimu?” Yunho menatapnya. Lagi-lagi dengan tatapan terkejut. ”Dia yang cerita. Kalian bercerai, beberapa bulan kemudian kau menikah lagi. Dia ikut menengok?” Yunho menggeleng. ”Istrimu... tahu kalau kau ke sini?” Hyun joong menatapnya sesaat. Dia berpikir Soo Ae yang menceritakan tentang dirinya dengan Hyun Ae. Dia tersenyum. ”Anni. Tadi pagi aku baru tahu. Aku langsung kemari. Mungkin sore nanti aku akan mengajaknya.” jawab Hyun joong tak yakin. Yunho mengangguk. Sore harinya, seperti yan g dikatakan Hyun Joong, dia mengajak Hyun Ae. Hyun Ae sendiri terkejut mendengar teman terbaik suaminya tengah terbaring di rumah sakit. Dia sudah mendengar semua cerita tentang Soo Ae. Perceraiannya. Orang tuanya yang meninggal. Dan sakitnya. Dia harus menyingkirkan cemburu itu jauh-jauh. Soo Ae membutuhkan ornag-orang yang menyayanginya di sisinya. Menyemangatinya. Saat Hyun Ae dan Hyun Joong berkunjung sore itu, Soo Ae belum siuman. Dia masih terlihat pucat. Beberapa saat kemudian Yunho masuk. Hyun Ae sangat terkejut. Dia baru tahu bahwa ternyata mantan suaminya Soo Ae adalah Yunho. Ia merasa bersalah. Cukup lama mereka di sana, menatap Soo Ae yang masih tak sadar. Yunho keluar dari ruangan. Hyun Ae mengikuti. Wajahnya terlihat sedih. ”Oppa...” panggil Hyun Ae. ”Aku tak pernah bisa memberinya kebahagiaan...” lirih Yunho. ”Dia yang selalu tersenyum menyambutku. Selalu mendengarkan dengan antusias semua ceritaku. Selalu mendengar keluh kesahku. Tapi ke mana aku? Aku menyakitinya... meninggalkannya. Bahkan aku tak tahu kalau dia sakit!!” Air mata penyesalan Yunho mengalir ke pipinya. ”Aku ini apa??? Datang saat duka, dan menjauh darinya saat bahagia. Kenapa aku begitu buta?? Kenapa aku tak pernah melihat kalau dia terluka, sakit lahir dan batin!” Yunho terisak. Menundukkan wajahnya. ”Aku selalu mengejar bahagiaku. Tak pernah berpikir untuk memberi sedikt saja dari bahagia yang kupunya untuknya.” Yunho menangis tertahan. Sesegukan. Hyun Ae duduk di sampingnya. Yunho menoleh. Terlihat dengan jelas matanya memerah. ”Dia sakit. Sudah lama ia tahu sakitnya. Tapi kenapa dia menahannya sendirian?? Kenapa dia tidak memberitahuku??” ”Jika saja aku mengenalnya lebih dulu sebelum kau, aku pasti jatuh cinta padanya.” ”Mianhae oppa...” lirih Hyun Ae. ”Jika saja aku tahu kalau aku bagian dari orang yang menyakiti gadis sebaik dia, aku pasti tak akan meu bertemu denganmu oppa. Tak akan mau mengenalmu. Tak akan pernah bersahabat denganmu. Aku... seandainya aku tahu oppa, aku tak akan menerima pernikahanku dengan Hyun Joong.” Hyun Ae menangis juga akhirnya. ”Jika saja itu terjadi, Soo Ae pasti bisa bersama orang yang di cintai dan mencintainya.” Yunho terdiam. Mereka tak sadar bahwa sejak tadi Hyun Joong mendengarkan pembicaraan mereka dari balik pintu. Dia tersandar di dinding. Syok karena Hyun Ae mengenal Yunho dan lebih syok lagi karena Hyun Ae bisa mengetahui bahwa dulu, dia pernah sangat mencintai Soo Ae. ”Mianhae...” ucap Yunho akhirnya. ”Aku sudah menyalahkanmu.” Hyun Ae hanya menggeleng. Hyun Joong masih terdiam di tempatnya. ’Bukan salahmu Hyun Ae. Seandainya aku tak mengutamakan gengsiku, bukan cerita kita tak akan begini,’ batinnya. Esok harinya Yunho dan Ji Hyun datang bersama. Hyun Ae dan Hyun Joong kembali datang. Mereka berdoa untuk kesembuhan Soo Ae. Tapi sayangnya, kondisi Soo Ae kembali kritis. Hyun Ae menyaksikan dua orang laki-laki di depannya menatap penuh kesedihan pada Soo Ae saat alat penunjuk denyut jantuk berbunyi nyaring. Mereka seperti di hempaskan ke bumi yang paling dalam. Dokter segera masuk. Memberikan pertolongan. Namun... kenyataannya berbeda. Soo Ae... wanita dengan hati seputih salju itu pergi. Dia meninggalkan orang-orang yang menyayanginya. Adik-adiknya, Yunho, Hyun Joong, Ji Hyun, dan... Hyun Ae... ”Kenapa dia seenaknya begitu?” Yunho bertanya dengan mata sembab. Metatap nanar pada sosok yang ditutupi kain putih. ”Dia datang kekehidupanku tanpa kuminta, lalu pergi sesukanya.” Ji Hyun, istrinya mengelus pundaknya yang tampak rapuh. You wait for me, but i can’t come To where you are crying You don’t know i keep hurting you Please just leave I miss you dearly, i missyou dearly I hate my self for missing you so much I want to cry, knelling down in front of you Hope that whole thing didn’t happened (Bogoshipda) -End- ---------------------------------------------------------------------------------------------------- Huuaaaaa!!!!!!!!! TT__TT *author banjir air mata=lebay* Hiks..hiks...hiks.... aouthor stop sampai adegan ini aja ya...coz FF baru udah mendesar pengen di tulis lagi di komputer, hehehe XDXDXD cu di FF berikutnya, hahai *promo again* Coment and like ya.... XDXDXDXD

FF "Heart" chap 8

OMO!!! I wanna cry... T.T *author lebay deh!* Ya sudah, selamat membaca... =D Title: Heart Genre: Romance Tokoh: 1. Lee Hyun Ae (tokoh utama/pembaca/siapa saja yang mau lah) 2. Kim Soo Ae 3. Park Yong Kyo (shbt Hyun Ae) 4. Jung Ji Hyun 5. Kim Hyun Joong 6. Jung Yunho 7. Kim Jae Joong 8. Lee Song Yi (sahabat Soo Ae) Chapter 8 Heart -Hyun Ae POV- Bel terdengar setelah sepuluh menit kepergian Hyun Joong. Aku membuka pintu. Tak ada siapapun kecuali sebuah kado. Tertulis di sana untukku. Dengan takut aku membukanya. Kue rasa strowberi kesukaanku. Dari siapa? Aku mencari cari siapa tahu pengirimnya meninggalkan surat atau apapun. Sebuah amplop kecil terjatuh. Aku memungutnya. ”Annyeng chagiya... Apa kau masih suka dengan kue ini? Aku sengaja membalinya untukmu ^^ Aku harap aku bisa memakannya bersamamu. akh... aku merindukan saat-saat kebersamaan kita dulu. Apa kau merindukanku? Yunho” Jantungku berdetak lebih cepat. Aku tak pernah membayangkan dia akan melakukan ini. Segera aku membakar surat pendeknya. Lain hari kiriman seperti itu datang lagi. Semuanya merupakan kue kesukaanku. Pria itu masih mengingatnya. Setiap kali dia menyisipkan surat pendek. Isinya kurang lebih sama. Mengatakan ingin kembali seperti dulu. Ingin bersamaku. Dan setiap kali pula aku tak memakannya. Tak juga menyimpannya. Aku memberikannya pada teman di kampusku atau juga tetanggaku. Pernah dia menelpon ke nomorku yang belum pernah kuganti. Dengan sangat terpaksa aku menggantinya. Aku tak ingin ada kontak dengannya. Aku tak mau kehilangan Hyun Joong. Aku benar-benar mencintainya. ----End Hyun Ae POV---- -Yunho POV- Hampir sebulan ini aku mengirim kue untuknya. Kadang kuselingi dengan meingirim bunga. Setiap kali kuselipkan surat di sana. Dia tak pernah sekalipun membalasnya. Aku cukup senang jika dia menerima hadiahku. Aku mencoba menghubunginya. Masih aktif. Tapi tak diangkatnya. Dan setelah hari di mana aku mencoba menelponnya, nomor HPnya sudah tak aktif lagi. Beberapa hari aku mencoba, hasilnya tetap sama. Hari ini aku mengirimkan hadiah lagi. Kali ini aku tidak pergi begitu saja setelah memberi hadiah seperti hari-hari yang lalu. Aku akan menemuinya. Aku ingin bicara dengannya. Bel ku tekan. Terdengar langkah kaki mendekat dari dalam. Pasti dia. Aku tahu dia hari ini tidak ada jam kuliah. Dia membuka pintu. Tampak sekali dia terkejut menemukanku diluar rumah. ”Hai!” Dia diam tak menjawab. ”Boleh aku masuk?” aku bertanya sambil tersenyum semanis yang kubisa. Seolah tersadar dia menutup pintu. Tapi aku menahannya. ”Kenapa kau lakukan ini Hyun Ae-ah?” ”Mianhae oppa...” sekali lagi dia berusaha menutup pintu, aku berusaha menahannya, namun gagal. ”Oppa...,” katanya dari balik pintu, ”aku sudah bilang, kita tidak boleh bertemu.” ”Aku tahu. Tapi aku merindukanmu...” ”Oppa punya orang yang lebih berhak untuk oppa rindukan. Mian...” ”Seandainya... aku punya mesin waktu... aku tak akan pernah meninggalkanmu.” Hening. ”Hyun Ae...” ”Oppa,” potongnya cepat, ”setiap orang sudah punya mesin waktu. Untuk kembali ke masa lalu, mesin waktu itu kita beri nama kenangan.” (saya suka kalimat ini) *author nebeng, mengganggu!!* ”Apa... aku hanya tinggal kenangan?” (OMO!!!) *lagi2 aouthor ikut2an!!!* can’t i see you again? I can’t see me in your eyes Confortable waves and remains of the smile make me cry (While I was Waiting byPanic) ”Mianhae oppa... biarkan semuanya jadi masa lalu. Aku mendoakan kebahagianmu oppa. Tolong, doakan kebahagiaan untukku juga.” Aku terdiam. Kata yang pernah di ucapkan oleh seseorang. Kata yang hampir sama. Mungkinkah ini karma? Perlahan aku melangkah mundur. Menjauh dari pintu apartemen Hyun Ae. Bayangan masa lalu itu hadir di benakku. -flashback- Aku menatap seseorang di depanku. Kata appa dia pintar. Pandai memainkan piano. Padahal di rumahnya sama sekali tak pernah ada alat musik mahal itu. Dia benar-benar biasa, tapi kecerdasannya mengagumkan. Dia anak teman lama appa. Kerena pernah di tolong sewaktu SMA dulu, appa merasa berhutang budi. Mulanya appa menawarkan jabatan pada appanya, tapi appa orang itu menolak. Bukan seberapa, tak perlu membalas budi, katanya. Dia hanya mempercayai bahwa appaku bisa meneruskan perusahaan Jung yang baru meningkat. Jadi, sebagai gantinya appa menikahkan aku dengan anaknya. Pernikahan tanpa cinta! Gadis itu benar-benar biasa. Jujur saja, dia tak sedap di pandang mata. Aku menikah dengannya dengan terpaksa. Aku tak diijinkan berontak apalagi kabur. Aku membawanya ke rumah yang di berikan appa untuk ’kami’. ”Itu kamarmu.” kataku dingin saat kami sudah masuk ke rumah. Dia menatapku bingung. Mungkin dipikirannya aku bersedia sekamar dengannya. ”Harus kukatakan padamu,” aku berkata tanpa melihatnya, ”aku mencintai orang lain. Namanya Hyun Ae. Kuharap kau mengerti. Mian...” aku masuk ke kamarku. Menutup pintu dan menguncinya. Samar ku dengar dia terisak. Hatiku sekeras batu rupanya. Tak tersentuh sama sekali dengan tangisnya yang pilu. Kupikir dia akan berubah. Menatapku dengan benci. Tapi yang kudapati adalah senyum dan sikap lembutnya. Aku masih mengacuhkan sikapnya. Mungkin dia sakit hati berkali-kali karena sikapku. Berkali-kali kudengar dari balik kamarnya dia menangis. Tapi, tak pernah sekalipun dia tunjukan itu padaku. Apalagi marah. Perlahan aku menyadari dia begitu cantik. Seorang wanita dengan hati seputih salju. Bagai malaikat. Selama denganku, aku tahu aku hanya akan menyakitinya. Tapi aku tak bisa menceraikannya. Appa melarangku. Dan aku tak bisa membantah larangannya. Karena jika kau membantah appa akan melakukan segala cara untuk menghentikan hobi dance ku! Dia tahu, dance adalah hidupku. ”Yunho-ssi, sarapan untkmu sudah siap.” suara lembut gadis itu setiap kali dia selesai membuat sarapan. ”Yunho ssi, kau sudah pulang? Sudah makan?” tanyanya saat aku pulang kerja ”Yunho-ssi, kau sudah minum obat?” tanyanya cemas saat aku jatuh sakit. Sayangnya hatiku tak bisa luluh. Aku hanya bisa menganggapnya sebagai teman. Aku tak pernah mengacuhkannya lagi. Tapi juga tak memberi kesempatan untuk lebih jauh. Sering aku menceritakan tetang Hyun Ae padanya. Tak pernah bosan. Dia selalu mendengarkan dengan antusias. Tak menunjukan bahwa hatinya hancur mendengar betapa aku mencintai Hyun Ae-ku. Dia benar-benar teman yang baik. Hanya teman, pagar itu terpasang kuat di antara kami. Setahun tepat pernikahan kami, tak ada perubahan. Masih seperti itu. Aku ingin melepasnya, membiarkan dia mencari orang yang lebih pantas untuknya. Seseorang yang bisa menyayanginya. Membalas ketulusannya. Dan hari ini, malam hari, dia menungguku seperti biasa. Hanya kata-katanya setelah menanyakan sudah pulang dan sudah makan, berbeda. Bukan membicarakan pekerjaan masing-masing seperti hari kemarin di ruang tengah. TV masih menyiarkan acara komedi kesukaanku saat dia berkata.... ”Yunho-yah... aku... sudah mengajukan surat cerai kepengadilan.” Aku mengalihkan pandanganku. Menatapnya. ”Mianhae Yunho-yah...,” dia balas menatapku. Tak ada keraguan di matanya. ”Aku rasa sudah saatnya kita biarkan semua ini jadi masa lalu. Aku mendoakan kebahagianmu. Tolong, doakan kebahagiaan untukku juga.” katanya sambil tersenyum. Senyum lembut seperti biasanya. For me Love is a baeutiful scar Even when i see your beautiful smile I can’t smile with you (Becouse I’m Stupid by SS501) Kemudian dia berdiri. Menundukan tubuhnya hampir 90 derajat. ”Mian sudah merepotkan selama ini...” ucapnya. Dia lantas berjalan menuju sbeuah tas yang tak kusadari telah ada sejak tadi. Isinya kurasa baju-bajunya. ”Kau... mau ke mana?” ”Tempat seharusnya aku berada.” tampak dia menahan tangis. ”Kapan-kapan,berkunjunglah ke rumah kecilku... chingu...” Dia menuju pintu. Aku tak mencegahnya. Aku tahu dia pergi dengan hati hancur. Aku melihat bahunya yang berguncang hebat. Aku tak ingin mengurungnya di rumah ini. Rumah yang tidak bisa membalas cintanya. Mianhae Kim Soo Ae. Jeongmal mianhae... -end flashback- Aku tertegun di dalam mobilku. Menatap bangunan apartemen yang Hun Ae tempati. Mungkin ini karma untukku karena telah menyakiti seorang sebaik dirimu Soo Ae. Apakah kau telah menemukan kebahagiaanmu? Hyun Ae-ku sudah menemukan kebahagiannya. -flash back- ”Chukaeyo Yunho-yah... akhirnya kau menemukan kebahagianmu.” Kim Soo Ae mengucapkan selamat padaku saat aku bilang padanya akan menikah dengan seseorang yang kuyakini aku mencintainya. Aku sengaja mengunjunginya di rumah mungilnya untuk memberitahukan kabar gembira itu. ”Dengan Hyun Ae bukan?” dia bertanya dengan nada gembira. Aku menggeleng. Dia tampak terkejut. ”Aku menemukan cinta yang baru. Namanya Ji Hyun.” ”Jeongmal? Aku harap kalian bersama selamanya. Jangan menyakitinya ya?” Aku mengangguk. ”Gomawo. Kalau kau tidak sibuk, dan tidak keberatan, ku harap kau datang.” Dia mengangguk. ”Tentu.” Benar saja. Dia datang. Menemuiku, calon istriku, appa dan umma. Dia datang hanya sebentar. Mengucapkan selamat dan semoga menjadi keluarga bahagia. Menggodaku dengan mengatakan semoga sukses membuat grup kesebelasan (anak dari istriku). -end flashback- Aku tersenyum mengenang hal itu. Soo Ae... aku... mungkin sudah menyakiti Ji Hyun dari belakang. Masihkah aku bisa di maafkan? Perlahan aku melajukan mobilku. Menjauh dari apartemen itu. ----End Yunho POV---- -Hyun Joong POV- Aku mencari kediaman Soo Ae. Beberapa kali berkunjung ke sana. Kadang kulihat wajahnya begitu pucat. Kutanyakan tentang sakitnya, dia hanya menjawabnya dengan senyum. Lantas mengalihkan pembicaraan. Dia tak ingin aku lebih jauh tentang sakitnya. Apa dia harus menyimpannya sendirian? Sekali lagi aku baru tahu kalau kedua orangtuanya meninggal. Katanya hanya berselang beberapa bulan setelah dia bercerai. Sering kubertanya, kenapa penderitaan tak kunjung menjauhinya? Apa karena dia selalu tersenyum menghadapi pahitnya kehidupannya? Apakah setelah dia menangis, dia akan mendapatkan kebahagiaan? Atau jangan-jangan... sampai akhir waktunya... bahagia itu tak pernah datang? Aku mengunjunginya sesaat sebelum aku pergi ke kantor, saat istirahat, dan pulang kantor. Jika tidak bisa bertemu aku akan menelponnya. Aku ingin membayar kesalahanku yang tak pernah ada di saat-saat sulitnya. ”Soo-ie, gwencanayo?” tanyaku saat melihat wajahnya kian pucat. ”Gwencana.” katanya dengan senyum menyenangkan. Dia memintaku untuk pulang. Dia mengingatkanku bahwa Hyun Ae menungguku di rumah. Aku mengangguk dan melangkah pergi. Di rumah kudapati Hyun Ae menungguku. Dia sama baiknya dengan Soo Ae. Aku mencintainya. Sangat. Tapi aku juga sangat menyayangi Soo-ie. Aku menempatkan Soo-ie di sisi hatiku yang lain. Dan Hyun Ae di sisi hatiku yang lain. Bolehkan? ----end Hyun Joong POV---- Ottokhe??? Kaget kan ternyata Soo Ae adalah istri Yunho yang pertama, hehehe....

FF "Heart" chap 7

Title: Heart Genre: Romance Tokoh: 1. Lee Hyun Ae (tokoh utama/pembaca/siapa saja yang mau lah) 2. Kim Soo Ae 3. Park Yong Kyo (shbt Hyun Ae) 4. Jung Ji Hyun 5. Kim Hyun Joong 6. Jung Yunho 7. Kim Jae Joong 8. Lee Song Yi (sahabat Soo Ae) Chapter 7 My Angel -Hyun Joong POV- Tahun-tahun berlalu mungkin saja bisa mengubah perasaan seseorang, seperti musim. Tapi di hatiku musim belum berganti. Di sana masih ada musim gugur. Yang terus merindu satu sosok yang kucari-cari di antara daun-daun yang berjatuhan. Cinta baru mungkin bisa mengaburkan cinta lama. Mungkin karena sudah belajar menerima. Atau justru mungkin karena jejak lama terlalu sulit ditelusuri kembali? Namun, itu bukan aku. Cinta di masa lalu itu masih saja bertahta di hatiku. Dia hanya memberi sedikit ruang untuk astriku. Itulah yang kurasakan pada Soo Ae. Perempuan cerdas yang menghuni hatiku sejak SMP. Meski dia bukan jodohku, aku tetap mencarinya di adalam mimpi-mimpiku. I still think of the times with you But I must learn to let go I can’t dwell on the past; it’s time to move on ‘Cause they are just nameless memories Yet I see shadows of you all around Am I still waiting for you? But our memories have become a blur They are now just nameless memories (Nameless Memories by Heo Young Saeng) Aku tidak mungkin bisa melupakannya. Soo Ae... dia selalu hadir di peristiwa-peristiwa penting dalam hidupku. Dia seperti malaikat, baik dan tak pernah mengeluh. Dia selalu ada saat aku butuh kektuatan. Aku tahu dia meyukaiku, tapi aku memilih diam. Tidak, justru aku memilih menyakiti hatinya. Aku tak ingin dia menyadari aku mencintainya. Gengsiku terlalu tinggi kala itu, kuakui itu. namun dia tetap tak berubah. Selalu ada untukku. Dan Hyun Ae, dia jauh lebih cantik darinya. Dia juga baik. Dia akhirnya menerimaku. Aku bahagia. Sangat. Tapi... apa sesungguhnya yang kuinginkan? Kenapa aku masih mencari Soo Ae padahal dengan yakin kukatakan aku mencintai Hyun Ae?? Saat Soo Ae berprestasi, aku selalu datang. Memandang dari jauh. Mengucapkan selamat dalam hati, kemudian pergi. Seperti malam ini, aku menghadiri seuah pergelaran musik classic. Soo-ie tampil sebagai pianis. Dia memang berbakat meski di rumahnya tidak ada musik mahal itu. Setiap komposisi yang dimainkannya, hatiku selalu memuji. Selesai konser, entah kenapa aku begitu ingin menemuinya. Dia terkejut saat mendapatiku tengah menunggunya pulang. ”Hyunnie oppa?” tanyanya meyakinkan. ”Chukaeyo Soo-ie.” suaraku bergetar. “Gomawo oppa.” dia membungkuk. ”Apa kabar istrimu?” tanyanya. “Baik. Mm... kau pulang dengan suamimu? Mana dia?” Dia tersenyum. ”Annio oppa. Aku pulang sendiri. Suamiku... kami sudah lama bercerai.” ^^ Tenggorokanku tercekat. Tapi dia justru tersenyum seperti biasanya. ”Sejak... kapan...?” tanyaku tertahan. ”Dua tahun lalu, setahun setelah pernikahan kami.” dia masih tersenyum. Dua tahun? Hyun Joong!!!! Ke mana saja kau???? Dua tahun...Itu jauh sebelum aku menikah! ”Kenapa...tidak memberitahuku?” aku bertanya tertahan. ”Untuk apa? Lagipula aku baik-baik saja.” Tidakkah dia marah? ”Sudah malam oppa. Aku harus pulang. Dongsaengku menungguku. Annyeonghaseo...” Dia gegas berlari. Meninggalku. Malaikatku telah menghilang. Benarah dia baik-baik saja? Aku pulang dengan hati yang gamang. Hyun Ae menyambutku dengan senyuman manisnya. ”Ada apa Chagiya? Kau terlihat sedih...” ”Anni.” aku berusaha tersenyum. ”Jeongmal?” Aku mengangguk. Hyun Ae memelukku dari belakang. ”Bogoshipda chagiya...” bisiknya, ”Saranghaeyo...” Aku tersenyum. Dia selalu begitu. Merindukanku. Aku tahu dia sangat jatuh cinta padaku. Aku tak menjawab. Hanya mengelus tangannya dalam diam. Pikiranku telah berkelana pada Soo-ie. Are you doing well? Aren't you sick? I worry about you without me. I hope that you eat well even if you are busy, bundle up when it's cold and live strongly without crying (Love Letter by FT Island) Aku mencari Soo-ie. Kutanyakan pada teman-teman kami. Semua tahu dia telah bercerai. Semua memuji ketabahannya. Bahkan saat aku bertanya pada Song Yi, aku semakin terkejut. Soo-ieku menderita kanker otak dan sedang menjalani pengobatan. Kenapa aku sama sekali tidak tahu? Dia menderita lahir dan batin! ----end Hyun Joong POV---- ---------------------------------------------------------------------------------------------- Bagaimana pendapat kalian? Perasaan yang tersimpan. Hati yang masih terkunci di masa lalu. Saya tunggu coment dan likenya. Harap tak ada silince reader. TT.TT *sambil nangis bombay* Sampai jumpa di chapter berikutnya. XDXDXD

FF "Heart" chap 6

Annyeonghaseo chingu..... kali ini saya menghadirkan sosok Soo Ae yang sesunggungnya *di dunia FF tentunya* Langsung saja, hehe...... Title: Heart Genre: Romance Tokoh: 1. Lee Hyun Ae (tokoh utama/pembaca/siapa saja yang mau lah) 2. Kim Soo Ae 3. Park Yong Kyo (shbt Hyun Ae) 4. Jung Ji Hyun 5. Kim Hyun Joong 6. Jung Yunho 7. Kim Jae Joong 8. Lee Song Yi (sahabat Soo Ae) Chapter 6 Memories -Soo Ae POV- Pernahkah dirimu merasakan kehilangan yang amat dalam? Rasanya seperti di hempaskan ke jurang yang dalam, curam, dan gelap. Sendiri tak berteman. Itulah yang kualamai. Ngilu rasanya hingga menjalar ke seluruh tubuh saat kehilangan itu merasuk hingga ke palung hati. Bahkan kadang jerit kehilanganku tidak bisa didengar oleh orang lain dan juga aku karena terlalu dalam. Namaku Kim Soo Ae. Aku perempuan biasa yang amat-sangat biasa. Aku mengakrabi kelelehan. Sejak kecil aku terbiasa di kalahkan bahkan mengalah untuk kepentingan orang lain. Aku terlahir bukan dari keluarga kaya. Aku sulung dari 4 bersaudara. Aku sudah diabiasakan mengalah untuk ketiga adikku dan bekerja keras untuk membantu pendapatan keluargaku. Aku menjalaninya tanpa protes. Bahkan ketika remaja, aku tak sempat protes ketika tak punya waktu untuk mengenal cinta. Hari-hariku telah penuh oleh kerja sambilan dan belajar. Menerima ketikan dan les privat, bahkan menerima pesanan jahitan. Rasanya hidupku sudah cukup rumit apalagi harus di tambah dengan seorang kekasih. Tapi, cinta itu datang tanpa diminta. Ia hadir begitu saja. Merajai hati tanpa bisa dikalahkan. Dan cintaku jatuh pada seorang laki-laki bernama Kim Hyun Joong. Laki-laki itu adalah temanku dari SD. Mungkin karena bersama itulah kami menjadi akrab. Dia menganggapku adiknya karena dia anak tunggal. Dan kami tak pernah membicarakan cinta. Sebagai panggilan akrab dia memanggilku Soo-ie dan aku memanggilnya Hyunnie. Yah, benar, aku mencintainya tanpa memperlihatkan rasa cinta yang menyesakkan itu padanya. Aku hanya ingin dia ada di sisiku. Aku bahkan mengalahkan hatiku sekuat tenaga saat teman-temanku ramai jatuh cinta padanya. Aku sadar, aku tak mungkin bia mengalahkan mereka. Diriku, terlalu biasa untuk di cintai seorang laki-laki, apalagi dia. Aku tetaplah aku. Terhenti di sini. Dengan rasa ini. Terus berusaha mematikan perasaan itu -meski gagal- dalam kesibukan. Aku tahu aku sering ditertawakan oleh teman-teman yang lain karena mengulang-ulang baju yang sama. Aku harus sedemikian irit. Hari terus berlanjut. Aku tetaplah seorang manusia yang tak patas di lirik meski kepandainku selalu menngundang decak kagum juga cemoohan. ”S2? Sekarang mengejar S3? Omo!!! Siapa yang mau dengan perempuan pintar? Bukankah laki-laki suka yang cantik?” ”Untuk apa pintar kalau wajah masih standar? Bukankah tetap tidak akan dilirik.” ”Laki-laki lebih suka perempuan yang enak di pandang. Bagaimana kalau di kantor suaminya nanti ada yang cantik, sedangkan dia di rumah tidak menarik sama sekali!” Aku menyadari siapa diriku. Bahkan Hyunnie oppa sendiri bilang, ”Cantik bukanlah yag utama, minimal enak dipandang...” Hatiku menjerit. Siapa yuang sudi mengatakan bahwa aku enak di pandang? Kulit kering dan kusam, hidung pesek, rambut kusut tak terawat, wajah penuh jerawat, mata sipit dan kurus. Aku hanyalah aku, selalu ada di sisi Hyunnie di saat susah dan senangnya. Aku adalah aku, yang terus mencintainya tanpa suara. Suatu hari umma menawarkanku seorang calon suami. Aku menerimanya tanpa banyak pertimbangan. Aku yang etelah letih menunggu akhirnya menikah dengan seseorang yang baru kulihat saat lamaran. Dia tampan, punya mata bulat yang menurutku membuatnya terlihat seperti anak kecil. Dia imut sekalai saat tersenyum. Dan sejak malam itu aku belajar mencintainya. Tapi, setahun kemudian dia pergi. Dia memilih orang lain. Aku remuk, tak berbentuk. Selama masa-masa berat itu aku melewatinya soerang diri. Anehnya, aku selalu ada di masa-masa sulit Hyunnie oppa. Orang melihatku bagai perempuan tak berpamrih. Bahkan, ketika Hyunnie oppa bertunangan dengan Hyun Ae yang sangat cantik, aku tak kecewa. Justru mendoakan kebahagian untuk mereka. Aku mengalah demi sebentuk cinta yang lain. Persahabatan. No metter how much i want to, The person i can’t see Trying to think of you, trying to thik of you As a dim figure appears No matter how much i try I’m still a helpless person (Sometime by SS501) -flashback- ”Soo-ie, aku... akan bertunangan besok...” Hyunnie oppa berkata padaku hari itu. ”Jeongmal? Dengan Hyun Ae kan?” ”Mmm...” dengan lemah dia mengiyakan. ”Oppa... tidak bahagia?” ”Entahlah...” ”Dia kan cantik? Putih seperti putri salju. Pintar. Kaya. Dan senyumnya manis sekali. Jika aku laki-laki, aku pasti jatuh cinta padanya.” Hyunnie oppa terdiam cukup lama.. ”Kami... di jodohkan. Bagaimana kalau dia tidak ingin bersamaku?” ”Jangan takut oppa. Aku mendukungmu!” ”Kau... mendukungku?” ”Wae? Bukankah itu yang selalu kulakukan untuk oppaku?” Dia menggeleng. ”Bukan untukku saja. Kau selalu memikirkan orang lain. Tidakkah... kau berpikir untuk mencari kebahagianmu sendiri?” Aku menggigit bibir bawahku. ”Aku bahagia jika orang-orang yang kucintai bahagia oppa.” Dan suaraku menghilang di bawa angin senja. Dan malam demi malam berlalu. Kulewati bersama alunan lagu dari dbsk yang sesuai dengan keadaanku. Why have I fallen for you? No matter how much time passes, I thought that you would always be here But you chose a different road Why wasn't I able to convey to you? (Why Have I Fallen For You by DBSK) -end flashback¬- Kemudian, pernah suatu hari Hyunni oppa mentag fotonya bersama tunagannya ke face bookku .sekaligus mengundangku di cara pernikahannya. Dia terlihat bahagia. Di kementar dia menulis, ’mungkin ini komunikasi kita yang terakhir Soo-ie’. Tak masalah. By your side, I'll become a tree, I'll give you a place to rest, I'll be your guiding light, And wait for you, Nothing better than that (Nothing Better by DBSK) Tepat di hari pernikahannya aku datang. Tersenyum dan berdoa untuknya. Namun segera menghilang sebelum acara foto-foto bersama teman kedua mempelai. Aku sudah bagian dari masa lalunya, jadi kurasa tak berhak ada di album pernikahannya. Dia benar-benar menghapusku. Karena setelah hari itu dia tak pernah menghubungiku lagi. Aku menangis tertahan. Dia berpura-pura tidak melihatku saat dia sendiri atau bersama Hyun Ae. Akupun begitu. Sakit. Perih. Inilah aku. Terkunci di sebuah kotak dan tak bisa keluar, kotak itu bernama kenangan. ----enh Soo Ae POV---- ----------------------------------------------------------------------------------------------------- Soo Ae memang menjadi sentral FF saya di chapter ini. ottokhe??? Kalian merasakan sakit hatinya yang amat sangat?? Saya merasakannya TT.TT RCL ya…. Dan….Siapkan hati kalian untuk chapter berikutnya. XDXDXD

FF "Heart" chap 5

Title: Heart Genre: Romance Tokoh: 1. Lee Hyun Ae (tokoh utama/pembaca/siapa saja yang mau lah) 2. Kim Soo Ae 3. Park Yong Kyo (shbt Hyun Ae) 4. Jung Ji Hyun 5. Kim Hyun Joong 6. Jung Yunho 7. Kim Jae Joong 8. Lee Song Yi (sahabat Soo Ae) Chapter 5 Two Heart -Hyun Ae POV- Pernahkah kalian membayangkan situasi yang kualami sekarang? Aku bertunangan dengan seseorang, dan mulai belajar mencintainya. Tapi kenyataannya dia tak bisa mencintaiku. Di sisi lain, seseorang hadir dari masa laluku dan membawa kehangatan yang kurindukan, namun dia telah dimiliki orang lain. Dia menawarkan sekeping cinta yang dulu begitu kuharapkan. Jika kalian jadi aku, apa yang akan kalian lakukan? Akhir-akhir ini aku jadi tertutup, termasuk pada Yong Kyo. Aku seperti di kejar-kejar rasa bersalah. Aku takut, tapi tidak membaginya pada seorangpun. Kenapa aku bisa berada di situasi ini? Sms dan telopon masuk setiap hari dari Yunho oppa, semuanya menunjukkan perhatian dan cinta yang sangat. Hyunjoong yang kukira cukup romantis, ternyata tidak peduli denganku. Dia sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Sedang rumah tangga Yonho oppa dan Ji Hyun, istrinya, baik-baik saja. Yunho oppa bilang kalau Ji Hyun unnie adalah istri yang sangat baik. Salahkah jika aku lebih senang bersama Yunho oppa jika tunanganku itu tidak mencintaiku? Dia menyimpan perempuan lain di hatinya. Soo Ae, atau... Soo-ie, panggilan sayangnya. Mengingat hal itu hatiku terasa di tusuk duri. I know that i can’t be like this If i say thay it’s a lie, a lie Will my heart go back (Mean Heart by T.Max) Tanpa sepengetahuan dia, aku menangis. Menangisi diriku, juga ketidakperhatian dirinya. Jujur, aku... sepertinya merindukan sapaan lembutnya, senyum manisnya, dan caranya memanggil namaku. Dia tidak menelpon dan juga mengirim sms. Mungkin baginya aku sudah tidak ada. Is not a good heart to me It’s such a bad heart It’s a bad heart It’s a bad heart (Mean Heart by T.Max) Umma kadang bertanya, kenapa aku tidak jalan-jalna dengan Hyun Joong. Maka dengan dingin aku menjawab, ’tanya saja dengan dia’. Apakah aku marah? Mungkin. Hingga suatu malam, dia menelponku. Nyaris menangis saat sapaan lembutnya terdengar di telingaku. ”Annyeong... apa aku mengganggumu?” pertanyaan yang sering dia tanyakan ketika menelpon. Aku merindukannya! ”Anni. Wae oppa?” aku berusaha meredam kegembiraanku. ”Bisakah kita bertemu? Ada hal yang ingin kubicarakan.” ”Nde. Di mana?” ”Aku di taman dekat rumahmu sekarang.” ”Aku segera ke sana oppa.” ”Mm.” dia lalu menutup telpon. Aneh. Kali ini tanpa salam penutup. Ah, mungkin karena kami akan bertemu langsung sebentar lagi. Aku langsung mengambil jaketku dan berlari keluar. Menuju taman. Tepat di bawah lampu taman kulihat sosoknya bersandar pada sisi kanan mobilnya. Aku mendekat. ”Oppa...” panggilku. Alhought my love is still awkward If by any chance you can hear ny heart If it’s different from ”I’m sorry” Give a smile (Wish You’re My Love by SS501) Dia menoleh. Senyumnya tak seperti biasanya. Ada apa? ”Mian Hyun Ae-ah. Tapi aku harus pergi untuk waktu yang lama.” ”Eh? Ke mana?” ”Entahlah. Yang jelas... ke tempat di mana aku bisa berpikir jernih tentang kita.” ”Maksud oppa?” ”Aku ingin memberi waktu untuk kita agar saling evaluasi.” ”Wae? Bukankah...beberapa hari lagi pernikahan kita?” ”Apa artinya sebuah pernikahan sementara kita masih seperti ini Hyun Ae-ah.” nada bicara terdengar lelah. Aku memandangi wajahnya. Baru kusadari sekarang ini dia lebih kurus dan pucat. “Bagaimanapun... aku tidak bisa memaksamu mencintaiku kan, Hyun Ae-ah?” “Annio oppa! Aku... aku... aku hanya tidak tahu harus memulai dari mana. Tapi, aku juga tidak mau memaksa oppa mencintaiku.” ”Anni Hyun Ae-ah. Aku belajar mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu. Aku mencari apa yang mebuatku bisa mencintaimu.” ”Pada akhirnya oppa tetap tidak mencintaiku, kan??” ”Sudah.” ”Lalu kenapa ada orang lain?” Dia terkejut. ”Nugu?” ”Park Soo Ae.” Keterkejutannya semakin bertambah. ”Atau.. Soo-ie-nya Hyunnie!” Ia kembali terkejut. Namun kemudian segera bertanya. “Apa seseorang tidak boleh punya masa lalu?” lebih terdengar bergumam. ”Dan dia masih di hati oppa kan?” tandasku. ”Nde. Tapi sebagai masa lalu. Hanya masa lalu yang kutempatkan di tempat yang tidak membuatku mengabaian orang yang kucintai sekarang. Bisakah kau percaya?” ”Di mana Soo Ae sekarang?” ”Di Seoul. Dia ibu rumah tangga yang bekerja. Dia sudah jadi milik seseorang Hyun Ae-ah.” ”Tapi... oppa masih berhubungan dengannya kan?” ”Sesekali. Itupun di forum alumni. Tak lebih. Kami hanya seorang teman dari masa lalu. Seperti kau dengan teman-teman SMAmu.” Aku terdiam. Di matanya aku menangkap kesungguhan. Bagaimana denganku dan.. Yunho oppa. ”Aku tidak pernah memaksamu mencintaiku Hyun Ae-ah. Aku ingin introspeksi diri sejenak.” Aku mersa ketakutan sekarang. Bagaimana kalau dia meninggalkanku selamanya? You know that a person like me No matter how hart I try I can’t erase you Please, hold me (What to Do by Ji Sun) ”Bisakah.... oppa tidak pergi?” Dia menatapku. ”Aku mohon oppa...” aku menahan tangisku yang hampir pecah. Hyun joong masih diam. ”Jika oppa peduli padaku, aku mohon... jangan pergi...” aku menangis sekarang. Perlahan dia mendekatiku. Merengkuhku kepelukannya. Aku balas dengan memeluknya erat. Aku benar-benar tak ingin dia pergi. Dia melepas pelukannya. Menatapku dengan mata lembutnya. ”Hyun Ae-ah...aku belum menayakan pertanyaan ini denganmu.” Aku menatapnya bingung. ”Maukah kau menikah denganku?” Almost paradise Your eyes feel warmer than the sun as the look at me I feel like i have everything in the world (Paradise by T.Max) Sebuah senyum merekah dibibirku. Pertanyaan yang memekarkan bunga-bunga di hatiku. Aku mengangguk dalam tangis. Dia mengecup keningku lamaaa sekali. Aku merasa terbang tinggi kebulan. ”Gomawoyo...” bisiknya pelan. ”Gomawoyo oppa,” balasku. Dia kembali memelukku. Kemudian berbisik lagi. ”Hyun Ae-ah, Saranghae...” Almost paradise Your love for me is brighter than the morning I feel like i have everything in the world (Paradise by T.Max) ”Nado saranghae oppa...” *** Aku resmi menikah dengan Hyun Joong sudah dua minggu. Sejak hari itu aku tinggal di sebuah apartemen yang dibelinya. Ternyata dias udah mempersiapkan rumah untuk hidup bersamaku. Gomawo suamiku... ^^ Sudah saatnya aku menata kehidupanku. Tidak seharusnya aku saling bias, saling merindu, dan membicarakan isi hati masing masing pada Yunho oppa. Aku harus menghindarinya. Aku melepas kepergian Hyun Joong di depan pintu. Dia mengecup keningku kemudian pergi. Aku menutup pintu dan bersiap berangkat ke kampus. Benar, tak ada rencana bulan madu. Pekerjaannya yang banyak dan kuliah yang padat membuat kami mengurungkan niat untuk berlibur jauh-jauh. Baru lima menit Hyun Joong pergi panggilan masuk ke hpku. Dari Yunho oppa. ”Yoboseo...” ”I’m home, honey. Kamu ke kampus?” “Nde, oppa. Hari ini ada ujian.” “Aku jemput, Ok?” “Annio oppa. Hari ini aku bernagkat dengan Yong Kyo dan Jae Joong.” ”Jeongmal? Bagaimana kalau kau batalkan saja, biar aku bisa mengantarmu?” ”Mm.. anni. Tidak enak dengan mereka.” ”Jadi... kau merasa tidak masalah dengan oppamu yang sedih karena tidak bisa menjemputmu?” ”Oppa...” ”Ayolah...” ”Annio oppa! Lagi pula... oppa milik orang lain, begitu juga denganku. Kita akhiri saja. Aku tidak ingin ada yang terluka.” ”Apa orang lain lebih penting dariku?” ”Oppa!! Kenapa kekanak-kanakan begini?” ”Kita bercerai dari pasangan kita, kemudian kita menikah, ottokhe?” ”Anni!!!” aku menolak tegas. ”Wae?” Aku diam. ”Aku mencintaimu sejak dulu Hyun Ae-ah. Dan kau pun begitu.” ”Tapi...” ”Apapun... mari kita cari berdua!” ”Cukup oppa!” ”Aishh...” dia mendesis kesal. ”Kenapa kau mempermainku??” ”Mianhae oppa. Jeongmal mianhae... aku memilih mundur.” “Kamu egois Hyun ae-ah!!” ”Mianhae oppa...” ”Aku akan terus mengejarmu!” ”Oppa, kau punya Ji Hyun unnie!” ”Tapi hatiku untukmu. Selamanya akan begitu!” ”Oppa...cukup!” aku terisak. ”Aku tidak akan merubah pikiranku!” ----End Hyun Ae POV---- -Yunho POV- ... ”Aku tidak akan merubah pikiranku!!!” tegasku padanya. Aku heran, kenapa dia berubah? Ke mana HyunAe yang selalu membalas perasaan dan perhatianku? Apa dia sudah jatuh cinta dengan Hyun Joong itu? Apa aku tak bisa menggenggam hatinya lagi??? apakah aku sudah terlambat???? please, do not go far away please, do not go far away where I can’t find you do not go so far away do not go so far away It can’t happen like this It can’t be come back to me please! To me please… I beg of you… don’t leave, don’t leave… promise to me…. please… (If You Can’t by Jung Min) ----End Yunho POV---- -Hyun Ae POV- Yunho oppa menutup telpon. Aku gemetar. Tidak pernah terpikirkan olehku kalau Yunho oppa senekad ini. Untung aku tidak memberitahunya alamat apartemen ini. Untung saja... Aku teringat Hyun Joong. Belakangan kuakui aku benar-benar jatuh cinta padanya. Aku ingin dia terus menyayangiku. ^^ Dengan rasa rindu yang tak tertahankan lagi (ceile....) aku menatap fotonya yang tersenyum. OMO!!! Suamiku benar-benar tampan! Hehehe... Ah, aku benar-benar merinduaknnya. ”Annyeong suamiku...” aku menelponya. Hihihi.... ”Annyeong istriku...” ”Sudah sampai kantor?” ”Mm... baru saja. Wae?” ”Bogoshipda...” Pasti dia tersenyum sekarang. ”Jeongmal?” ”Nde.” Kami diam. Dengan gemas aku memanggilnya. ”chagiya... do you miss me too?” Pasti dia tersenyum lagi. “Nde. Bogoshipda chagiya...” Aku menutup telpon dengan senyum lebar terukir dibibirku. Sepertinya lagu cinta mengalun di hatiku. Aku berangkat ke kampus. Yong Kyo dan Jae Joong yang belakangan mulai akrab terus menggodaku. Apalagi dia membongkar foto-fotoku bersama Hyun Joong yang tersimpan di laptop. ”Omo!!! Ajaib. Rasanya baru kemarin kamu bilang tidak akan jatuh cinta padanya, hihihi... sekarang, sudah benar-benar kayak cauple di drama-drama, ckckck!” ”Ya udah, cari pasangan sana!” ujarku. “Susah nyarinya!” “Ya udah, sama aku saja Yonggie?” yonggie? Aku melihat ke arah Jae Joong. Ah... bunga-bunga cinta bermekaran di hatinya dan itu... karena Yong Kyo? Hhaha, harapanku jadi nyata. “Kamu?” Mulailah perdebatan seperti biasanya dari mereka berdua. Aku mengamati mereka sambil tertawa. Sebuah sms masuk dari Hyun Joong. ”Aku mencintaimu. Kau menyejukan hatiku lebih dari sejuknya embun pagi. Menenangkanku dengan kelembutan yang lebih lembut dari semilir angin. Jika aku harus memberikan seluruh isi dunia padamu agar kau tetap di sisiku, pasti akan kuberikan (meski itu hanya dalam mimpiku). Aku berterima kasih pada tuhan karena Dia menjadikanmu belahan jiwaku. Saranghae youngwonhi chagiya...” Aku tersenyum dan membalas. ”Dan kau akan mendapati ku di sudut ini. Mencintaimu. Kau tak perlu memberikan seluruh isi dunia karena kau sendirilah duniaku. Saranghae oppa... ^^” --------------------------------------------------------------------------------------------------- KKYAAAAAAAA!!!!!!! *teriak kencang dalam hati* saya histeris sendiri menulis sms untuk kudua cauple di atas. Membayangkan itu Hyun Joong sesungguhnya dan saya Hyun Aenya *reader nimpukin buku, gak terima* Mianhe... *author meringis kesakitan* Tolong jangan marah... tetaplah tinggalkan coment kalian dan like juga kalau suka.

FF "Heart" chap 4

Title: Heart Genre: Romance Tokoh: 1. Lee Hyun Ae (tokoh utama/pembaca/siapa saja yang mau lah) 2. Kim Soo Ae 3. Park Yong Kyo (shbt Hyun Ae) 4. Jung Ji Hyun 5. Kim Hyun Joong 6. Jung Yunho 7. Kim Jae Joong 8. Lee Song Yi (sahabat Soo Ae) Chapter 4 The Deepest Heart -Hyun Ae POV- Pagi hari, aku tak bicara dengannya. Malas saja. Rasanya masih kesal. Dia mencoba memancing pembicaraan, tapi aku mash kukuh dengan sikapku. Diam. Saat sarapan, kami makan dalam diam. Kemudian dia mengantarku pulang. Tetap, tak ada kata selama perjalanan. Mungkin dia juga bingung harus melakukan apa agar aku bicara. ”Nanti ku telpon.” katanya. Aku tak menganguk juga tak menggeleng. Dengan ragu dia masuk ke mobilnya. Aku masuk ke kamarku. Mandi. Kemudian bersiap-siap kuliah. Malas sebenarnya. Apalagi bertemu dengan Yong Kyo dan Jae joong yang tampaknya makin sering memperhatikanku. Melihat wajahku yang masih kusut ini, pasti mereka heboh. Tiba-tiba aku teringat sungai Han. Tempat pertapaan favoritku. Biasanya kalau lagi bad mood atau butuh ketenangan dan penyegaran, aku datang ke sana. Terakhir aku ke sana saat aku bersama dengan ’dia’. Kami berpisah saat kami memilih jalan yang berbeda. Dia pada bakat dance dan nyanyinya, dan aku.... yang bukan apa-apa. Aku tak pernah ke sana lagi. Hal itu terjadi sejak kelas 2 SMA. Ku hentikan mobilku di sungai Han ini. Lebih tiga tahun berlalu sejak hari itu. Aku keluar dari mobil. Bersandar di pintunya. Menikmati lembutnya angin yang bertiup. Ada apa dengan hatiku? Kenapa aku tidak mengerti? Apakah.... aku benar-benar jatuh cinta padanya? Tiba-tiba Hpku bergetar. Ugh! Aku lupa mematikannya. Apa itu dari Hyun Joong? Aku berpura-pura tak mendegarnya. Panggilan berakhir. Tapi dua detik kemudian panggilan itu masuk lagi.dengan kesal aku membuka pintu mobil, mengambil hpku. Nomor asing. Dengan enggan aku menjawabnya. ”Yoboseo...” ”Hyun Ae-ah? Masih ingat denganku?” ”Mm... siapa ya?” Siapa? Suaranya laki-laki. Rasanya kenal. Jangan-jangan teman SMA? “Masih ingat? Break dance? ’Are u ready?’?” Mwo? “Yun… Yunho oppa..??” Without words you let me know love Without words you gave me love You made me even hold on your breath But you ran away like this Without words love leaves me Without words love tosses me away What should I say next? My closed lips were surprised on their own It came without any words (Without Words by Park Shin Hye) Suara di seberang sadan menderaikan tawa. Memang benar dia. Orang yang selalu mengikuti acara itu adalah dia. Dari SMP sampai dia kuliah. Kami berpisah karena ada tawaran untuknya mengambil S2 jurusn seni. Membuatnya pergi diikuti kedua orang tuanya. ”Untunglah kau masih ingat. Ternyata nomor hpmu tidak berubah.” ”Nde... oppa... apa kabar?” ”Baik. Kamu?” Aku mengangguk. Menyadari orang di seberang telpon ini tak akan melihat anggukanku aku mengiyakannya. ”Nde, oppa.” Seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh. Seseorang dengan senyum yang sama hangat dan polosnya berada di depanku. Aku merasakan waktu berhenti di sekitarku. ”Annyeong, Hyun Ae-ah?” ^_^ ”An... annyeong oppa...” Kami terdiam cukp lama. “Oppa… sedang berlibur ke mari?” ”Anni. Aku tinggal di sini. Umma dan appa masih di sana. Karena orangtuanya tak ingin jauh dari anaknya aku putuskan untuk pindah ke sini.” ”Orang tua~ siapa?” Dia diam sejenak. ”Istriku.” Aku melihat ke arah tangannya. Sebuah cincin pernikahan melingkar di jarinya. Laki-laki yang lebih tua lima tahun dariku ini telah menikah. ”Chukae... mian karena terlambat mengucapkannya.” aku mencoba tersenyum. Dia menggeleng. ”Anni. Aku saja yang tidak sempat mengabarimu.” Aku tersenyum pahit. Lebih baik aku tidak tahu oppa, karena jika aku mengetahuinya, aku tidak akan sanggup berbicara padamu pada hari ini. ”Punya anak berapa?” ”Baru 4...” Aku menatapnya. Terkejut. -----End Hyun Ae POV---- -Yunho POV- Aku baru beberapa kali berkunjung ke tempat ini setelah hampir tiga tahun. Aku menyukai ketenangan dan keindahannya. Juga sebuah kenangan yang menjadi rahasia di sungai itu. Aku tengah berjalan ketika melihat sosok yang cukup kukenal. Bukan, tapi kurindukan. Aku membuka Hpku. Untuk pertama kalinya aku memberanikan diriku menelponnya. Kuharap dia tak mengganti nomornya. aku menunggu. Tak ada respon. Hanya bunyi nada tunggu di seberang sana. Aku mencoba lagi. Dan.... ”Yoboseo....” suara itu nyaris menghentikan detak jantungku. ”Hyun Ae-ah? Masih ingat denganku?” kusadari suaraku bergetar. ”Mm... siapa ya?” “Masih ingat? Break dance? ’Are u ready?’?” dengan semangat aku mengingatkannya. “Yun… Yunho oppa..??” Aku menderaikan tawa. Lega karena dia mengingatku. Sambil berbincang dengannya aku mendekatinya. ”Untunglah kau masih ingat. Ternyata nomor hpmu tidak berubah.” ”Nde... oppa... apa kabar?” ”Baik. Kamu?” ”Nde, oppa.” Aku sudah dekat dengannya. Kutepuk pundaknya. Dia menoleh. Seseorang dengan senyum yang kurindukan menatap terkejut. Aku merasakan waktu berhenti di sekitarku. Apa dia merasakannya juga? ”Annyeong, Hyun Ae-ah?” ^_^ ”An... annyeong oppa...” dia tampak gugup. The empty love, even with the sadness burning in the chest I will not be able to push you out from my heart Because the imperfect me is insignificant Until the falling tears Submerge every single memories For you are my love, I will surely find you (Find by DBSK) Kami terdiam cukup lama. “Oppa… sedang berlibur ke mari?” ”Anni. Aku tinggal di sini. Umma dan appa masih di sana. Karena orangtuanya tak ingin jauh dari anaknya aku putuskan untuk pindah ke sini.” ”Orang tua~ siapa?” Haruskah aku mengatakannya? Kenyataan yang ingin sekali kusangkal. ”Istriku.” lirihku akhirnya. Dia melihat ke arah tanganku. ”Chukae... mian karena terlambat mengucapkannya.” Aku menggeleng. ”Anni. Aku saja yang tidak sempat mengabarimu.” ”Punya anak berapa?” tanyanya setelah beberapa detik terdiam. ”Baru 4...” kulihat dia terkejut. ”Maksudku baru isi empat bulan.” Dia tertawa. ”Chukae...” ”Gomawo...” Aku bersandar di samping mobilnya. ”Oppa.... apa kau benar-benar akan membuat tim kesebelasan dari anak-anakmu?” Aku yang kali ini tertawa. ”Apa kau mempercayai ucapanku waktu itu Hyun Ae-ah? Aku hanya bercanda. Apa aku ingin membuat istriku mati?” Dia tertawa mendengar ucapanku. ”Kau sendiri... sudah bertunangan rupanya..” Dia menoleh ke arahku. Terkejut. Mungkin bertanya-tanya bagaimana aku bisa tahu. Aku meraih tangan kanannya. Cincin pertuangannya masih tersemat di sana. ”Hyun Joong.” bacaku pada nama yang terukir di cincin itu. ”Hm... kapan kau akan memperkenalkanku padanya? Aku ingin tahu seperti apa laki-laki yang berhasil menggantikanku menjagamu?” What if It seems like you’re going to love me Because it seems like you’re going to come to me if I wait just a little With these anticipations I can’t leave you Even though I know that as time accumulates It becomes pain Oh girl (What If by Super Junior) ----End Yunho POV---- -Hyun Ae POV- ”Hyun Joong.” bacanya pada nama yang terukir di cincin itu. Aku baru ingat aku mengenakan cincin itu. ”Hm... kapan kau akan memperkenalkanku padanya? Aku ingin tahu seperti apa laki-laki yang berhasil menggantikanku menjagamu?” Sejenak aku tersipu. Yunho oppa masih seperti yang dulu, suka bercanda, sangat santai dan... tampan. Dulu... aku suka diam-diam melirik matanya yang setajam elang, dagunya yang lancip, senyumnya yang polos, juga memperhatian langkahnya yang tegas. Aku mengenalnya saat aku tak sengaja ikut lomba dance ’are you ready?’ Kubilang tak sengaja karena temanku langsung mendaftarkanku tanpa memberitahukanku terlebih dulu. Untung hasilnya lumayan, juara harapan. Sedang dia berhasil meraih juara 2. Aku dan dia sering berlatih dance sama-sama. Dia mengajariku beberapa gerakan. Kami semakin hari semkin akrab. Dari hubungan sebagai teman, berubah menjadi adik-kakak. t Amma dan appa juga tidak keberatan dengan kebersamaan kami, karena ternyata dia anak sahabat sekaligus rekan kerja mereka. Namun, kedekatan kami berakhir saat aku masih kelas 1 SMA. Dia harus pergi. Sejak itu kami kehilangan komunikasi. Dia yang tak kunjung menghubungiku dan nomor hpnya yang ada padaku tak pernah aktif lagi membuatku kehilangan jejaknya. Kebersamaan kami hanya tinggal kenangan. Mengurungku dengan harapan dia akan kembali. Membalas perasaanku yang lebih muda darinya dengan perasaan yang sama. Kurasa itu tak akan pernah terwujud lagi. I did my best But I guess my best wasn't good enough 'Cause here we are back where we were before Seems nothing ever changes We're back to being strangers (Just Once, Changmin ver.) Kini, Yunho oppa ada di depanku. Duduk dan saling bercerita denganku. Seperti dulu. Aku merasa... telah menemukan sebagian jiwaku yang hilang, yang kemarin sempat kupikir telah berhasil di bawa laki-laki yang bertunangan denganku. Kami berjalan-jalan di tepi sungai Han, makan siang lalu mengobrol lagi sambil duduk di tepi sungai indah itu. ”Eh, mau lihat foto istriku?” ”Ah, jeongmal? Boleh?” ”Tentu saja.” dia tertawa. Mengambil dompetnya dan mengambil sebuah foto di sana. Dia menyerahkan foto itu padaku. Aku tertegun. Perempuan di foto itu sangat mirip denganku, chubby-nya, hidungnya, bibirnya, lekuk wajahnya. Kalau saja dia tidak mengenakan gaun pengantin dan di sampingnya berdiri Yunho oppa aku akan menyangka itu fotoku. “Mirip denganmu kan?” “Ah? Nde... tapi..dia jauh lebih cantik dan tinggi.” Aku menyerahkan kembali foto tersebut. Dia menyimpannya kembali. “Yang penting mirip dongsaengku,” katanya seraya mengelus kepalaku. Elusan sayang seperti tahun-tahun yang lalu. Sebuah perasaan lama yang kukenal hadir kembali memenuhi ruang di hatiku. ”Wae...?” tanyaku perlahan. Dia menatapku. Mata elangnya menunjukan sorot yang lembut. ”Supaya aku bisa terus mengingat dongsaeng tersayangku.” Gemuruh ombak serasa menghantam hatiku. Aku kembali tertegun. Tapi tak lama, karena dia kembali mengajakku berbincang. Kami terus berbincang hingga sore menjelang. Seolah tak ada hari lain. Senja menarikan kemegahannya di depan kami. Aku menatapnya takjub. Dia diam memperhatikanku. ”Kau masih menyukai senja, seperti dulu.” Aku mengangguk, tak melepaskan pandanganku dari sinar jingga itu. Usai atraksi senja tadi, kami memutuskan pulang. Yunho oppa menutup pintu mobilku smabil tersenyum. ”Gomawo, Hyun Ae-ah. untuk segalanya.” ”Gomawo karena sudah bercerita banyak hari ini padaku oppa.” Aku melajukan mobilku usai melambai padanya. Hariku terasa berwarna lagi. Saat tiba di rumah umma dan appa belum pulang, tapi aku justru mendapati sosok Hyun Joong duduk di ruang tengah. Menungguku. ”Sudah pulang?” tanyanya. ”Mm.” aku mengiyakan. ”Apa kau sudha makan?” ”Nde.” singkat dan dingin. ”Oh. kalau begitu istirahatlah. Aku... pulang dulu.” dia mendekat. Hendak mencium keningku, tapi aku memilih melangkah mundur. Menolaknya. Dia menatapku sesaat sebelum akhirnya mengucapkan selamat malam dan menghilang di balik pintu. ------------------------------------------------------------------------------------------------- ottokhe?? penasaran tidak?? gkgkgkgk.... XD RCL ya...

ff "Heart" Chap 3

Hm.... sudah masuk Chapter 3. Kira-kira akan jadi berapa chapter ya? ^_^a Nikmatilah cerita ini dengan sabar. Akan ada kejutan beberapa saat lagi. Bersiaplah!!!! Title: Heart Genre: Romance Tokoh: 1. Lee Hyun Ae (tokoh utama/pembaca/siapa saja yang mau lah) 2. Kim Soo Ae 3. Park Yong Kyo (shbt Hyun Ae) 4. Jung Ji Hyun 5. Kim Hyun Joong 6. Jung Yunho 7. Kim Jae Joong 8. Lee Song Yi (sahabat Soo Ae) Chapter 3 My feel -still Hyun Ae POV- Jam tiga sore duplikat Ji Hoo datang. Aku enggan menyebut namanya karena itu membuat napasku sesak. Dia menjemputku dengan dandanan yang santai, tapi tetap membuatku terpukau. Tiba di taman, kami berjalan-jalan, seperti dua orang teman, aku membuat jarak. Dia seolah mengerti dan tak ingin memaksa mendekat. Ketika lelah, dia membelikan minuman soda dingin untukku dan untuknya. Kami minum sambil duduk di kursi taman tersebut. Dia lebih banyak menceritakan tentang dirinya. Tentang pekerjaannya. Tentang keluarganya, saat kami berjalan-jalan tadi. Dan sekarang, saat kami duduk di kursi ini, aku mengetahui bahwa kami punya selera yang sama, dari lagu, buku, drama, juga film. Chemistry-nya sudah dapat kata orang. Aku rasa, aku menyukainya. Caranya bicara, caranya tersenyum, caranya tertawa, caranya berjalan, dan caranya memanggil namaku. Aku menyukai semuanya. Dia tak hentinya mengukirkan sebuah senyum di bibir dan hatiku. Bisakah aku mencintainya? Menggantikan posisi ’dia’ yang selama ini masih bertahta di dasar sana? Atau aku telah jatuh cinta padanya?!! Sebuah gelengan kecil kudapatkan dari palung hatiku. Kami telah bertunangan. Di percepat satu minggu, karena appa melihatku cukup akrab dengannya. Dia takut aku berubah pikiran. Benar. Sekarang sebuah cincin putih berukirkan namanya melekat di jari manis kananku. Aku tahu setiap melihat cincin itu aku tersenyum. Aku tak merasa kesal sama sekali. Apakah hatiku mulai terbuka? I wanna love you i wanna with you Can you feel it, my feeling Come to me, come a little bit closer and take my heart away (Lovely Day by Park Shin Hye ost. You are Beautiful) Aku sedang menatapnya yang memainkan pianonya di depanku. Dia menyanyikan lagu Haeng Bok Ee Ran. Lagu kesukaanku, yang juga kesukaannya, yang sudah sering dimainnnya di depanku berulang kali. i can't know what happiness is there can't be a happiness without you offering up all of this life, i love you devoting all of this life, i love you forever just don't do farewells.. just be by my side there can't be a happiness without you i now know that love is an important thing there can't be love without you offering up all of this life, i love you devoting all of this life, i love you forever just don't do farewells.. just be by my side there can't be love without you be by my side Aku sering main ke rumahnya sejak kami bertunangan. Appa dan ummanya yang meminta. Katanya biar saat menikah nanti sudah terbiasa. ”Aishh... bosan! Lagunya itu lagi,” protesku akhirnya. ”Wae? Bukannya kau bilang suka chagiya...” dia kadang memanggilku dengan chagiya. Dan itu selalu sukses membuatku blushing! ”Tapi tidak perlu diulang terus kan?” Dia tersenyum menatapku. Aku memalingkan wajahku. Malu! ”Arrasso. Kalau yang ini?” Dia memainkan nada lagu ’begin’. ”Suka.” Dan dengan bahagia dia menyanyikan lagu itu. It's okay to cry at times when you want to Don't be unreasonable When a tear dries up, a smile will light up your face Look, you are already laughing The future is confusing But we are not defeated, we desire courage Every day and night with you I take your hand Every day every night everywhere Now we feel connected and verified Now, let the story begin You turn away to avoid my intentions But I like you When we are separated, we can share something Yes..if we have these feelings I cannot say "goodbye" to yesterday The unsteady hours are wasted Every day and night with you The heat and sparks form without cooling down Every day every night everywhere Now our contact increases Now, you and I begin I am like reality, (Baby I need your love, need your touch) (Oh baby I need your love, need you touch, baby) In the darkness of the night I am scared, (You tell me now) But I'm not alone Every day and night with you I take your hand Every day every night everywhere Now we feel connected and verified Now, let the story begin Every day and night with you The heat and sparks form without cooling down Every day every night everywhere Now our contact increases, Now, you and I begin. (Begin by DBSK) “Oppa... bukankah sudah saatnya kau kembali ke kantor?” Aku tidak tahu sejak kapan aku bersedia memanggilnya ‘oppa’. Mungkin sejak kami bertunangan. “Senangnya... kau tahu jadwal kerjaku.” ”Bukannya oppa yang bilang padaku bahwa pukul 1 akan kembali ke kantor lagi?” Dia tersenyum. Mengubah posisi duduknya dari menghadap piano menjadi menghadapku. ”Hyun Ae-ah.... apa kau bahagia?” Aku diam. Tak bisa menjawab. Aku masih belum yakin dengan perasaanku. ”Mian kalau tidak bisa membuatmu bahagia.” Aku menggeleng. Bukankah aku yang harusnya minta maaf karena belum berani membalas perhatiannya dan juga...perasaannya? ”Aku pergi dulu.” katanya. Dia berdiri kemudian. Aku mengantarnya hingga pintu depan. Dia berdiri di depanku. Kemudian. Chup! Sebuah kecupan mendarat di pipi kiriku. Ah, seerti pasanagn suami istri rasanya. Aish... apa yang kau pikirkan Hyun ae-ah!!! Aku tahu wajhaku sudah memerah seperti tomat matang sekarang. ”Aku janji aku segera pulang,” katanya lalu pergi. Aku mengangguk dalam keadaan tertunduk. *hehehe (suara hati aouthor)* Mobilnya melaju meninggalkanku. Tinggal aku sendiri dan beberapa pelayannya di rumah ini yang tertinggal. Appa dan ummanya sedang pergi ke Australia, mengurus bisnis mereka di sana. Aku malas pulang karena appa dan ummaku juga sedang tidak ada di rumah, mereka sedang mengunjungi karyawan terbaiknya yang sakit di luar kota. Aku duduk di ruang tangah. Memainkan piano dengan asal. Bosan, aku mengambil gitar, baru kutahu dia juga bisa memainkan alat musik ini dua minggu yang lalu. Bosan main gitar, aku memutuskan untuk berkeliling rumah. Memperhatikan kegiatan pelayan yang hilir mudik membersikah suam sudut rumah itu. Aku berhenti di taman belakangnya yang cukup luas. Mengamati pemandanganya. Lagi-lagi karena bosan aku memutuskan masuk ke dalam. Kali ini aku putuskan ke kamar Hyun Joong. Dia mengijinkanku masuk ke dalamnya sejak kami resmi bertunangan. Aku baru ada keberanian masuk ke dalam akhir-akhir ini, dan itupun jika dia tidak ada. Kulihat seorang pelayan sedang membersihkan kamarnya. Saat aku masuk dia tersenyum. Aku duduk di depan meja dekat tempat tidurnya. Kulihat laptopnya. Aku mengambil hpku dan mengirim sms padanya. ”Oppa, boleh aku pinjam laptopmu?” Dibalasnya beberapa detik kemudian. ”Tentu.” ”Boleh aku online?” ”Lakukanlah. Tidak perlu minta ijin padaku.” Aku tersenyum. Kubalas. ”Gomawo oppa ^^” ”Sama-sama chagiya ^^” Senyum lebarku mengembang. Aku menghidupkan laptopnya. Membuka blogku, cek email, membuka twitter, kemudian membuka plurk. Karena sepi aku memutuskan membuka facebook. Hm... ini kan milik seseorang yang kukenal, siapa lagi kalau bukan Hyun Joong oppa. Sepertinya dia lupa log out. Foto profilnya adalah fotonya yang sedang bersandar pada sebuah dinding, dengan gaya cool dia meanatap kamera. Wah-wah, dia cocok juga kalau jadi model. ^.^ Iseng, aku membuka fotonya. Siapa tahu aku menemukan foto menakjubkan yang masih disimpannya. Kulihat ada foto dia di luar negeri. Sendiri. Dengan macam-macam pose. Wah, narsis juga, hihihi... Aku buka album yang bertuliskan ’chingu (teman)’. Penasaran, seperti apa temannya dulu. Seperti teman-temanku, ada yang aneh, lucu, tegang kalau di foto, ada yang narsis. Rata-rata cowok. Kalau ada ceweknya cuma saat dia berfoto ramai-ramai dengan temannya yang lain. Tidak banyak. Apa dia tipe cowok yang sulit jatuh cinta ya? Aku terus melihat ke foto selanjutnya hingga.... Sebuah foto Hyun Joong bersama seorang perempuan. Berseragam SMA. Hanya mereka berdua di foto itu. Nama foto itu ’my secret friend’. Jantungku terasa berhenti berdetak. Apa maksudnya? Am I finally alright now? This is what they ask me, I look so pained, my tears seep through my two hands. (Don’t Cry My Love by DBSK) Kubaca, di bawahnya Hyun Joong menulis komentarnya. ”Soo-ie. Aku memanggilnya begitu saat sma. Teman, bukan, lebih dari sekedar teman dan sahabat, lebih tepatnya belahan jiwa terbaik yang pernah kumiliki. Dia baik, pintar, aktif, periang dan sangat tulus. Soo-ieku yang tidak pernah ngambek sekalipun. Soo-ie yang selalu ada saat aku butuh. Soo-ie... Tetaplah ada untukku.” Aku termenung. Soo-ie. Apakah itu panggilan akrabnya untuk gadis ini? Aku kembali membaca komentar di bawahnya. Tertulis sebuah nama ’Kim Soo Ae’. ”Hyunnie oppa teman seangkatanku dari SD sampai S2. Omo! Betah sekali ya berteman dengannya? Of course! Karena dia seperti oppaku sendiri. Kebetulan dia tidak punya saudara, maka dia menganggapku seperti dongsaeng(adik)nya. Ups, tidak juga kurasa. Karena kadang, aku yang lebih dewasa, hehehe... Hyunnie orangnya pintar, baik, pendiam, dan... beberapa sunbei perempuan di sekolah, bahkan junior mengatakan bahwa dia... tampan! Menurutku? Umm.... kurasa pendapatku tidak penting.” Aku tertawa pahit. Kubaca komentar Hyun joong di bawahnya. ”Ya!!! Siapa bilang aku pendiam? Siapa bilang pendapatmu tidak penting? Buatku pendapatmu amat-sangat pengting! Arrasso??” Balasan Soo Ae ”Nde, Hyunnie oppa. Arrasso... ah,mau pinjam novel. Aku baru beli.” ”Jeongmal? Bisa kau bawa nanti?” ”Sure!” ”Gomawo... ^.^ oh, ya, kenaapa kemarin tidak masuk?” ”Sama-sama hyunnie oppa ^^ kemarin? Biasa...sakit ^^;; tapi hari ini sudah sembuh.” ”Ah... syukurlah. Kalau kau sakit jangan lupa bilang padaku. Membuatku khawatir.” ”Hyunnie oppa khawatir padaku? Ah, senangnya. Gomawo oppa, karena sudah mengkhawatirkanku ^^” ”Tentu aku mengkhawatirkanmu! Bagaimana mungkin aku tidak peduli dengan twinmateku?!” ”Haha... oppa, jangan marah. Kalau marah, tak akan ada yang menyubutmu tampan lagi nanti! :D” ”Jika kau menganggapku tampan, aku tak peduli pendapat orang lain.” ”aish.... arrasso... Hyunnie oppa. Saranghae...Cu!” ”saranghae soo-ie. Cu 2 ^^” Aku lemas seketika. Kepalaku terasa berputar-putar. Perih memenuhi perut, kerongkongan dan hatiku. Mataku berkunang-kunang. Sembab. Rasanya, meteor besar menjatuhi tubuhku! Even though I wanted to believe that that smile was just for me It probably isn’t, right? But still Just maybe What if I meet you first No, if I didn’t know you These thoughts are useless For I’m already living in the deeply set times of you (What If by Super Junior) Aku menangis seketika. Jika dia punya pilihannya sendiri, kenapa memutuskan bertunangan denganku. Berkata dengan yakin bahwa akan menikahiku! Kenapa dia tidak memilih menikah dan hidup bahagia dengan Soo-ie-nya. Menyebalkan!!! Mungkinkah orang tua kami salah menjodohkan kami? Kalau di hatinya sudah ada tempat dan itu hanya untuk Soo-ie-nya, untuk apa memaksa bersamaku? Kenapa tidak berusaha keras agar dia bisa bersamanya? Kawin lari kalau perlu! Untuk apa coba dia membohongiku dengan bilang aku selalu hadir di mimpinya? Bukankah... Lee Hyun Ae dan Kim Soo Ae dua orang yang berbeda. Wajah kami juga tidak mirip! Akh....kenapa juga aku mulai membuka hati untuknya? Hyun Ae pabo! Jelas-jelas dia membohongimu! Aishh... coba waktu pertunangan it aku kabur saja! Pergi ke mana saja, sejauh mungkin. Kalau perlu ke kutub Selatan. Sekalian mati beku! Kuseka air mataku. Perlahan aku berdiri dari dudukku dan melangkah. Tepat di depan pintu kamar sosok itu datang. Aku baru sadar kalau hari sudah malam. ”Hyun Ae-ah...” panggilnya. Aku diam tak menjawab. Dia menatapku. Bingung. ”Kau menangis?” ia bertanya dengan cemas. ”Wae?” ”Aku mau pulang!!” kataku lalu melewatinya dengan kasar. Dia terkejut, langsung menarik lengan kiriku. ”Ada apa? Apa aku punya salah? Jika ’ya’, aku minta maaf.” ”Bagaimana kau bisa minta maaf jika kau tidak tahu kesalahanmu??!!!” Aku membentaknya. Dia lagi-lagi menatapku. Terkejut. ”Kenapa...” Aishh... aku mulai terisak. Sebegitu kesalkah mengetahui di hatinya pernah bahkan mungkin hingga saat ini ditempati orang lain? ”Kenapa oppa bertunangan denganku padahal oppa tidak mencintaiku?!” Dia menghela napas. ”Aku belajar mencintaimu, Hyun Ae-ah... mungkin sekarang Aku ’belum’ mencintaimu, tapi bukankah aku sudah bilang, aku benar-benar menyukaimu sejak pertama kali melihatmu? Terlebih kau sering hadir di mimpiku...” ”Aku tidak butuh gombalanmu!!!” kembali aku membentaknya. Melepaskan genggamannya. ”Aku ingin pertunangan kita BATAL!!!” ucapku kemudian berbalik. Meninggalkannya. Beberapa langkah aku berlari, kurasakan seseorang menarik dengan kuat, membawaku kepelukannya. Lembut dia mengusap rambutku. ”Aku tidak menggombalimu,” bisiknya di telingaku. ”Aku bukan orang seperti itu. kau memang benar-benar hadir di mimpiku, Hyun Ae-ah. Sering sekali.” Without words tears fall Without words my heart breaks down Without words I wait for love Without words I hurt because of love I zone out, I become a fool because I cried.. (Without a Word by Jang Geun Suk ost You Are Beautiful) Aku sesegukan dipelukannya. Entah kenapa rasanya nyaman sekali. Seperti menemukan sekuntum bunga yang hilang sejak lama. -----End Hyun Ae POV----- -Hyun Joong POV- Aku mengejarnya. Sekuat tenaga menarik lengannya dan membawanya ke pelukanku. ”Aku tidak menggombalimu,” bisikku di telinganya. ”Aku bukan orang seperti itu. kau memang benar-benar hadir di mimpiku, Hyun Ae-ah. Sering sekali.” Kurasakan dia sesegukan. Hyun Ae-ah. Mianhae... aku janji tak akan membuatmu menangis lagi. While crying, I’ll be a towel absorbing your tears I will promise you I will live while my eyes only seeing you I will promise you I will live while my arms embracing you From I awake in the morning until I fall asleep I’ll only think of you (Promise by AN Jell ost You Are Beautiful) -----End Hyun Joong POV---- Diluar hujan turun dengan lebat. Karena itu Hyun Joong tidak bisa mengantarkan Hyun Ae pulang. Mereka makan malam bersama di rumahnya, dengan selera makan seadanya. Kemudian dia mengantarkan Hyun Ae ke kamar tamu. Hyun Ae berbaring di tempat tidur kamar tamu itu. Menutupi tubuhnya dengan selimut. Sedang Hyun Joong, dia duduk di samping ranjang membaca buku, sekaligus menemaniku. Pintu kamar dia biarkan terbuka dan lampu kamar dia biarkan menyala. Dia seolah berusaha membuat Hyun Ae merasa nyaman karena dia ada di sampingnya. Sepertinya, dia berhasil melakukannya. ---------------------------------------------------------------------------------------------------- Wow..... bagaimana selanjutnya??? Tunggulah dengan sabar :D RCL ya chingu...?????

ff "Heart" chap 2

langsung aja Title: Heart Genre: Romance Tokoh: 1. Lee Hyun Ae (tokoh utama/pembaca/siapa saja yang mau lah) 2. Kim Soo Ae 3. Park Yong Kyo (shbt Hyun Ae) 4. Jung Ji Hyun 5. Kim Hyun Joong 6. Jung Yunho 7. Kim Jae Joong 8. Lee Song Yi (sahabat Soo Ae) Chapter 2 Can you... ”Benarkan kamu mau kawin dengan ajushi itu?” todong Yong Kyo pagi itu ketika aku baru masuk ke dalam gedung kuliah. Tentunya setelah ia berhasil mengusir si Jae Joong dari ruang kelas itu. Ugh...haruskah aku menceritakan yang sebenarnya? Aku sendiri masih belum menyimpulkan apapun. ”Ya!!!” Yong Kyo berteriak di depanku. Membuatku kembali ke bumi. Aku menatapnya. “Wae?” dia balik menatapku, “Jangan-jangan, ajushi itu benar-benar harebushi ya?” ”Gawat Yong Kyo-ah. Dia.... dia...” “Dugaanku benar kan?” Aku menggeleng tegas. ”Lalu?” ”Dia... dia mirip banget sama Ji Hoo sunbei...” ”MMWWOOO???? Ji Hoo sunbei? BBF?” aku mengangguk. ”Tidak mungkin! Kurasa kau perlu memeriksa matamu, Hyun Ae-ah! Jangan-jangan katarak!” ”Ya!!!” aku memukul pundakknya. Yong Kyo menatapku tak percaya. “Kau serius,” desisnya. Aku kembali mengangguk tegas. “Ja... jadi... kau... menyukainya?” “Entahlah...” “Ah... pabo!!!” “Aku bingung chingu...” “Aissh... yang bisa kupesankan hanya...mudah-mudahan dia bisa membuatmu lupa dengan cowok itu.” “Mwo? Itu bukan pesan namanya!” Perdebatan kami tidak berlanjut, karena dosen sudah datang. @ Yong Kyo’s House Sampai jam 1 siang ini aku tidak bisa memikirkan apapun. Tiga minggu?? Apa masih bisa merubah segalanya? Tapi... buat appa pertunangan sama saja dengan pasti menikah. Tidak mungkin batal. Ottokhe...?? Beberapa menit yang lalu umma mengirim sms kalau gedung, catering, dan pakaian pengantin sudah di urus oleh dia dan Mrs Kim a.k.a calon mertuaku. Kami (maksudku aku dan duplikat Ji Hoo) tinggal memilihnya saja sekalian mengukur. Juga memilih gaun dan setelan jas untuk pertunangan kami. Zzzz.... zzzz.... HP ku bergetar. Kulihat sebuah panggilan masuk. Seperti ada angin lembut yang berembus di hatiku. Ku jawab. ”Yoboseo...” Yong Kyo masuk ke kamarnya, melihatku mengangkat telpon dia memilih diam. ”Hyun ae-ah, apa aku mengganggumu?” tanya duplikat Ji Hoo di ujung sana. ”Ah, anni. Wae?” ”Syukurlah... tadi umma bilang pulang kuliah kita diminta memilih baju. Ottokhe?” ”Mm... Silahkan duluan Hyun Joong-ssi. Saya mungkin masih lama.” ”Ah, arrasso...” Kami terdiam beberapa saat. ”Itu...kalau... bajunya tidak sama bagaimana?” Aishh... ”Kita bertemu di sana saja. Kebetulan saya membawa mobil. Anda silahkan duluan. Mm.... bisa anda berikan alamatnya?” ”Di daerah barat. Dekat MC donnat.” ”Ah, Saya buta daerah itu.” “Kalau begitu Saya jemput saja. Hyun Ae-ah di mana?” ”Saya sekarang di rumah Yong Kyo, teman saya.” ”Biar ku jemput di sana. Di mana alamatnya.” ”Jalan Xxxxx no xxx.” ”Ok. Tiga puluh menit lagi aku tiba.” ”Nde. Ah, Hyun Joong-ssi?” ”Ye?” ”Boleh... teman saya ikut?” Yong Kyo mendelik. Aku mengegrakkan tanganku. Memohon padanya. ”Tentu.” ”Gomawo...” aku langsung menutup telpon. Yong kyo melotot padaku. ”Kenapa aku harus ikut?” tanyanya. Setengah mati aku membujuknya. Akhirnya dia mau juga. Dengan syarat aku bersedia menemaninya online semalaman bersamanya minggu nanti. 30 menit kemudian HP ku bergetar lagi. Lagi-lagi Hyun Joong menelpon. ”Aku sudah di depan rumah,” katanya. ”Ah. Kami segera keluar.” Aku menutup telpon. ”Duh... yang mau kecan!” Yong Kyo langsung menyambar. ”Aishh... kajja!” Aku menariknya keluar. Kulihat dia berdiri di samping kanan mobilnya. Posenya sungguh keren. Aku terpana sesaat. Untungnya segera sadar sebelum dia mendapati ku tengah menganguminya. Kulirik Yong Kyo. Dia tengah ternganga. Aku menyikut pinggangnya. Dia tersadar. ”Annyeong... Park Yong Kyo imnida...” Yong Kyo mengulurkan tanganya. ”Annyeong... Kim Hyun Joong imnda. Calon suamninya Hyun Ae..” balas duplikat Ji Hoo sambil tersenyum manis. OMO!!! Reading the magic spell syal la la Your smile appeared like the warm sunhine My heart is throbbing again (Lovely Day by Park Shin Hye ost. You Are Beautiful) Yong Kyo berbisik di telingaku. ”Dia mirip sekali Hyun Ae ah... benar-benar ukiran hidup...” Aku tersenyum. Ops! Apa aku merasa bangga??!!! Ouch... Hyun Joong membukakan pintu mobil. Mempersilahkan aku masuk ke dalam, duduk di sampingnya. Dia juga membukakan pintu untuk Yong Kyo. Dengan sopan sahabatku itu mengucapkan terima kasih. Sempat terpikir olehku apa yang akan di katakannya jika yang membukakan pintu mobil untuknya adalah Jae Joong. Mungkin kata-kata unik lagi yang akan keluar dari mulutnya, dan pastinya dia tidak akan sesopan ini, hehe... Di mobil, selama perjalanan, Yong Kyo selalu menimpali ucapan orang itu. Aku tertawa dalam hati. Bahkan Yong Kyo yang di matanya cuma ada idolanya saja mengakui bahwa dia... sangat tampan! ^_^ Di tempat penyewaan pakaian pengantin, malah Yong Kyo yang cerewet memilih warna apa, modelnya seperti apa, untuk kami kenakan nanti. Aku dan dia hanya menurut. Habis bagaiamana lagi, pilihannya bagus sih. Setelah memilih ini-itu, kami sepakat gaun biru muda dan jasnya yang senada dengan warna gaun tersebut untuk pertunangan kami dan warna putih dengan banyak motif bunga daisy pada gaunnya akan menajdi gaun pengantinku. Jas untuknya berwarna putih pula. Yong Kyo meminta kami mengepas pakaian tersebut. ”Wow...suit-suit!” Aku dan duplikat Ji Hoo yang sama-sama mencoba baju pertuangan terseipu malu. Dia terlihat tampan sekali dengan setelan jas itu. Lagi-lagi kurasakan angin lembut berembus di hatiku. Just like prince in the fairy tales, look and smile at me Even i do not know that, in my eyes there is only you And don’t know that my heart is throbbing the sound of my heart beats (are Lovely Day by Park Shin Hye ost. You beautiful) ”Ottokhe?” tanyanya. ”Eh..mm... bagus...” ”Kau juga. Kau terlihat manis dengan gaun itu.” Ouch! Sesuatu menacap di hatiku. Seketika wajahku menghangat. ”Hyun joong-ssi, haruskah kita seperti ini?” ”Wae?” ”Saya...rasanya, keputusan ini tanpa memikirkan pendapat saya.” ”Kau... masih menolak Hyun Ae-ah...” wajahnya terlihat sedih. ”Saya... saya hanya ingin menikah dengan orang yang tepat, Hyun Joong-ssi. Tidakkah anda juga begitu?” ”Apakah aku bukan orang yang tepat untukmu, Hyun Ae-ah?” Omo! Ekspresinya membuatku tak tega. Aku menggigit bibirku. ”Saya... saya tidak tahu...” ”Kalau begitu, mau mencobanya denganku?” ”Hyun joong-ssi! Saya bukan kelinci percobaan!!” ”Aku tidak pernah menganggapmu begitu Hyun Ae-ah. Aku yakin kau adalah orang yang kucari selama ini sejak pertama kali melihatmu!” ”Kapan? Kemarin malam?” Tidak mungkin! ”Anni!” Mwo??? ”Akan kuceritakan...” ”Aisshh!!!” aku mendesis kesal. ”Lho, kok masih pakai baju tunangan? Baju pengantinya sudah?” Yong Kyo menyerahkan baju penagntin padaku dan pada orang itu. Sementara pemilik salon hanya bsia geleng-geleng kepala. Malamnya, si duplikah Ji Hoo itu kembali menelponku. Aku mengangkatnya dengan enggan. Lagi-lagi saat suaranya terdengar, hatiku terasa tenang. ”Annyeong...” sapanya lembut. ”Annyoeng....” ”Apakah kau sedang sibuk?” ”Anni.” ”joengmal? Syukurlah... aku pikir aku menganggumu.” ”Wae?” ”Anni. Hanya ingin mendengar suaramu.” ”Oh...” Kami terdiam beberapa detik. ”Hyun ae-ah...” panggilnya. “Nde?” “Bisakah kau memanggilku ’oppa’?” ”MWO???” kurasakan dadaku sesak. Kenapa ini? “Wae?” “Aku.. kau... seperti membuat batas agar orang lain tak boleh memasukinya. Bolehkah jika aku yang memasukinya? Aku ingin lebih dekat denganmu agar kau tahu aku pantas untukmu.” Hyun Joong-ssi... Dia berdehem di ujung sana. ”Mianhae...” ”Arrasso...ah, apa besok kau ada waktu?” ”Nde. Wae?” ”Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman. Hanya jalan-jalan.” ”Mm`m. Tentu.” ”Jam 3 sore kujemput.” ”Nde.” Usai mengucapan selamat malam dia menutup telpon. Yang aku tidak tahu adalah, bahwa di kamarnya, dia tengah tersenyum gaje pada HPnya. XD ---------------------------------------- Hahaha......... bagi yang suka Hyun Joong pasti merasa seharusnya langsung mengiyakan pertunangan dan pernikahan ini. Bersikap sebagai pasangan yang baik. Dan tanpa di minta memanggilnya ’oppa’ dengan manja. Gakgakgak, kalau itu dunia nyata aku pun pasti melakukan hal ini. Sayangnya ini dunia fanfic, jadi kita buat sedikit lebih lambat dan... sedikit menolaknya, hehehe..... tidak apa-apa kan Hyun Joong oppa ;D RCL ya Chingu??!!!!!!!!!

FF "Heart" chap 1

FF ini adaptasi dari novel Jodoh dari Surga.Saya harap kalian suka. karena sebenarnya ini awal-awal dlu saya mengenal FF, jadi harap maklum ya ^^ Title: Heart Genre: Romance Tokoh: 1. Lee Hyun Ae (tokoh utama/pembaca/siapa saja yang mau lah) 2. Kim Soo Ae 3. Park Yong Kyo (shbt Hyun Ae) 4. Jung Ji Hyun 5. Kim Hyun Joong 6. Jung Yunho 7. Kim Jae Joong 8. Lee Song Yi (sahabat Soo Ae) Chapter 1 Why Must I ”Jadi...malam ini kamu akan dipertemukan dengan belahan jiwamu yang datang dari negeri antah berantah itu?” tanya Yong Kyo, sahabatku. Dia sudah tahu perihal perjodohanku dengan seseorang yang aku tidak tahu siapa dia kecuali dia S2 lulusan ekonomi terbaik dari Perancis, pandai main piano dan biola. ”Dia asli Korea kok! Bukan dari negeri antah-berantah!” bantahku ”Bukan itu yang kumaksud, Hyun Ae-ah!” ”Hm~m. Dia datang malam ini.” ”Nggak Khawatir kalau-kalau cowok itu akan setua apa? Jangan-jangan kepala penuh rambut putih atau...botak.” Aku langsung manyun. Yong kyo malah tertawa. Dasar tu anak! “Memangnya aku di jodohkan dengan harebushi-harebushi (kakek-kakek)??” Yong kyo tertawa. ”Nggak kebayang deh...” ucapnya di sela tawanya. Huu... ”Tapi...gimana kalau dia cakep?” aku berharap sih begitu. Yong kyo mendengus. ”Emang kalau cakep kamu mau?” ”Nggak juga sih! Hehe...” hatiku berdesir. Satu sosok berkelebat di pikiranku. ”Tuh kan... Aku juga nggak mau. Secara aku lebih bebas merdeka memilih dengan siapa aku hidup nanti.” ”Maksudnya, pilihan jomblo seumur hidup? Hihihi....” ”Yee... itu sih kamu. Makanya, punya cowok dong, biar bisa bilang ’appa, aku sudha punya pilihan sendiri’.” ”Memang kamu punya? Perasaan enggak deh!” ”Aku masih punya waktu untuk mencari, nah kamu???” Hfff, bicara denganya terkadang tidak menghasilkan solusi. Memang sih, aku selama 20 tahun hidupku tak ada satupun cowok yang hinggap kecuali satu. Dia yang enggan untuk ku ingat lagi. Bicara soal 20 tahun, apakah di usia itu, jika tidak punya kekasih, sudah dicap sebagai perawan tua? Tidak kan? Aishh... tidak kah orang tuaku tahu aku masih ingin menikmati hidup? Masih ingin bermimpi tentang idolaku... masih ingin memberi seluruh cintaku untuk mereka.. masih ingin menikmati masa-masa kuliah juga tentunya. ”Seandainya ’dia’ kembali...apa kau akan menolak perjodohan ini?” Aku terdiam cukup lama. Ingatan tentang dia kembali hadir. Aku menghela napas, membuang jauh-jauh sosok itu. ”Anni.” ”I can’t believe it!” Yong Kyo benar. Aku tersenyum pahit. “Heh, speaker berjalan! Bisa diam nggak sih! Berisik tahu!!!” Kim Jae joong, musuh bebebuyutan Yong Kyo menegur. Baru sadar aku bahwa kami masih di perpustakaan. Segera aku menundukan wajahku, berpura-pura membaca. Sementara Yong Kyo... ”Huh!!! Dasar cowok tampang cewek!” Hihihi, aku tertawa dalam hati. Tapi kusadari bibirku mengulum senyum. Ah, kuharap musuh bebuyutan ini berjodoh. “Ya!!! Kau mentertawakanku ya!??” Yong Kyo makin sewot. Hehehe.... “Nggak apa-apa. Yong Kyo kan baik hati, ramah-tamah dan tidak sombong.” “Huuuu....” Jae Joong melayangkan koor andalannya. ”Apa ha-hu ha-hu???” ”Sudah-sudah. Mrs Park dan Mr Kim, marahnya ditersukan di KUA saja...” ”NO WAY!!!!” sahut Jae Joong, sedikit berteriak. ”Ih, siapa juga yang mau nikah sama kamu??” ”Mrs Park, Mr kim...” Kepala perpustakaan datang. O-oww!! Mulut Yong Kyo dan Jae Joong langsung mendesiskan kata itu. Perlahan mereka menundukkan kepala, kembali membaca. Keheningan merayap. Membuatku memikirkan kehidupanku lagi. Aku teringat kata-kata Yong Kyo tentnang calon tunanganku. Boleh jadi dia asal bicara. Tapi bagaimana kalau benar? Kubayangkan sisa hidupku harus kulewati bersama orang asing dan kemungkinan besar tidak akan bisa kucintai. Dia belum tentu mencintaiku. Akh... apalagi kalau dia benar-benar tua. Fisiknya, penampilannya, caranya menajalani hidup. OMO!!! O.o Hm... apa aku kabur saja? *setan mengangguk membenarkan* Aishh... kenapa harus aku yang mendapati nasib seperti ini? Dari mana juga datangnya makhluk planet bernama Kim Hyun Joong itu. Bagaimana bisa dia dijodohkan denganku. Anak jendral siapa? Atau... anak direktur perusahaan apa? Apa jangan-janagn teman bisnis appa?? Oh My God! What should i do? Oppa…. (maksudku para idolaku) tolong aku… jika ini mimpi, maka ini mimpi terburukku. Tolong bangunkan aku!!!! Wake me gently, my sunhine Just like princess in the fairly tales, I will close my eyes and wait When I open my eyes, please stay by my side Oppa…. T.T Pukul 19.25 aku tiba di rumah. Sepulang kuliah aku berkeliling kota Seoul dulu. Santai-santai di sungai Han, kemudian makan es krim di sebuah cafe. Tak ada niat pulang, sampai umma menelponku memintaku segera pulang. Aishh... Di depan rumah ada BMW hitam parkir seenaknya. Mobil honda jazzku tidak bisa masuk. Ottokhe??? Aku segera turun. Celingak-celinguk. Sepertinya di mobil itu masih ada orang. Tahu dari mana? Kayanya sih... Aishh.. jangan tanya-tanya lagi. Aku mengetuk kaca mobil BMW itu. Tuk-tuk-tuk. Tak ada respon. Jangan-jangan nggak ada orangnya? Aku berbalik, hendak menuju mobilku, ketika kudengar... ”Nona... Nona....” yang langsung membuatku terlonjak kaget. Hantu kah? ”Mian, mengagetkan Anda.” Aku berbalik. ”Apakah mobil saya mengganggu?” Belum hilang kekagetanku, aku kembali ternganga. Sinar lampu jalan depan rumahku jatuh tepat di wajah orang yang memanggilku tadi. Sumpah! Dia mirip sekali dengan Yoon Ji Hoo. Sunbae nasional anak-anak SMA. Itu lho tokoh dalam drama boys before flower, yang booming di Asia??? Tahu kan? Tahu kan??? Hyun Ae.. apa aku sudah rabun?! Orang setampan dia mana mungkin ada di depanmu! “Nona… mau parkir?” “Eng…m.. ma... mau par...kir… ma...suk…” Hyun Ae-ah... kenapa di saat-saat penting ini malah gagap! Memalukan!! ”Oh, mian... kalau begitu saya majukan sedikit mobil saya.” ”Nde....” Dia memajukan mobilnya beberapa meter. Sekarang mobilku bisa masuk. Btw... itu tadi tetangga baru ya? Atau... tamunya tetangga? Tukeran tamu yuk, hehehe.... Tapi.... gawat! Keringat dingin membanjiri tubuhku. Tadi aku langsung keluar dari mobil usai mematikan mesinnya. Aku lupa mencabutnya. Alhasil kunci itu tertinggal di dalam. Minta tolong siapa? Kalau ketahuan appa teledor begini bisa kena marah. ”Silahkan nona.” Hyun Ae-ah... pabo!!! ”Kuncinya ketinggalan di dalam ya?” Seketika wajahku menghangat. ”Arraso....” dia menuju mobilku. ”Mmm... Nona... masuk saja dulu. Nanti kuncinya saya antar sama mobilnya ke dalam.” ”Ah, saya tunggu saja.” Dia mengangguk. Kemudian melanjutkan kegiatannya. Mobil berhasil di masukan ke dalam. Aku mengikutinya di belakang. Ketika dia keluar dari mobilku, aku tersenyum. Ia menatapku kemudian balas tersenyum ”Kamsahamnida...” ucapku sambil membungkukkan tubuhku. ”Ah, jangan sungkan.” ia menyerahkan kuncil mobilku. ”Khamsahamnida....” ucapku sekali lagi. ”Mian...Saya harus masuk.” aku menunjuk rumahku. Dia mengikuti arah telunjukku kemudian dia menangguk. Aku pun masuk ke dalam. Kulihat dua orang yang tak kukenal duduk di ruang keluarga. ”Ms Kim, ini lho Hyun Ae, anak saya yang saya ceritakan itu.” ucap Umma sambil memegang bahuku bangga. Aku tersenyum sekenanya. ”Aduuuuh....senangnya ketemu calon menantuku...” sahut ms Kim O_o Ouch! WHAT???? Jangan-jangan mereka.... orang tuanya si Kim Hyun Joong itu????? OMO!!!! Lho??!! Mana yang namanya si Hyun Joong? Masa ajushi (paman) yang disampingnya Mrs. Kim itu? Dia akn seumuran dengan ayahku!!!! “Ah, Hyun Joong, kau sudah datang...” “Nde.” Sebuah suara menajwab di belakangku. Aku merasa jantungku berhenti berdetak. Lega, karena bukan ajushi itu yang jadi calon suamiku melainkan orang yang ada di belakangku. Dengan gugup aku menoleh kebelakang. O_o Bukankah dia duplikatnya Ji Hoo sunbei, yang menolongku tadi? Jadi.. dia...si Kim Hyun Joong itu. Calon suamiku? Benarkah? Kudapati dia tersenyum padaku. ”Hyun Joong imnida,” katanya memperkenalkan diri. Aku baru sadar dari keterpanaanku saat ibuku memukul pundakku. ”Eh? Emm.. A... Annyeong... Hyun Ae imnida.” Aishh... kenapa pertemuan kami seperti ini? Tidak adakah cara lain yang lebih... manis? Ah... padahal aku sudah bilang pada Yong Kyo akan menolak pertunangan ini, apapun yang terjadi! Tapi.... senyumnya... OMO!!!! Benar-benar membuatku meleleh. Aku pamit untuk mandi. Di kamar mandi aku terlongong-longong. Begitu juga di kamar dan di depan lemari pakaian. Akhirnya kuputuskan mengenakan rok panjang dan t-shirt. ”Jadi, bagaimana Hyun Joong, kamu siap?” suara Mr. Kim. Langkahku terhenti. ”Nde...” APA?? ”Mantap?” suara appa. ”Mantap, ajuhsi...” ”Appa...” ”Eh? Nde...Appa...” ”Baguslah...” Appa mngurut dada, lega. Kemudian appa dan Mr. Kim tertawa. Lho?? Aku tidak ditanya??? “Hyun Ae, ottohke?” Tanya Mrs Kim sambil tersenyum menatapku. Duplikat Ji Hoo menatapku. Tapi sedetik kemudian mengalihkan pandangnya. Aku hanya mematung. Bingung harus menjawab apa. Bukan, maksudku, bingung bagaimana menolak dengan kata-kata yang tidak menyakiti semuanya. Aku perlu waktu banyak untuk merangkainya. ”Diamnya perempuan tandanya setuju, ya kan Hyun Ae?” appa!!! Aku makin terdiam. Appa memang begitu. Aku menatap umma. Matanya mengisyaratkan agar aku mengiyakan. Umma.... Aku masih diam saat mereka sibuk menentukan tanggal pertunangan dan pernikahan. Pertunangan tiga minggu lagi dan pernikahannya tiga bulan kemudian. Apa aku benar-benar akan menikah dengannya?! Sesuatu terbesit di benakku. ”Mmm... Mian... boleh saya bertanya?” Mrs Kim mengangguk mengiyakan. ”Bisakah... bisakah saya... minta nomor HP Anda eng.. Hyun Joong-ssi.” ”Ah... benar biar makin dekat. Arrasso-arrasso...” Aduh, Mr Kim! “Biar ku missedcall sekarang. Berapa nomormu Hyun Ae-ah?” dia tak menggunakan kata resmi lagi. Dia juga memanggilku Hyun Ae-ah. Terdengar nyaman sekali. Malamnya, tepatnya pukul 23.00. Annyeonghaseo… Hyun Joong-ssi apakah Anda sudah tidur? Mian kalau saya mengganggu. Beberapa menit kemudian. Anyyeong Hyun Ae-ah. Belum. Ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan. Mianhae. Tidak apa-apa. Aku terdiam sesaat. Haruskah kutanyakan? Hyun Joong-ssi, bolehkah saya bertanya. Tentu. Mmm... Hyun Joong-ssi, bagaimana kalau saya menolak perjodohan ini? Apakah ada orang lain, Hyun Ae-ah? Anni. Hanya saja saya... tidak sreg dengan caranya. Apakah karena kita tidak saling mengenal? Bukankah ada masa tiga bulan sebelum menikah, tidak kah itu cukup untuk membuatmu mengenalku? Tapi... saya benar-benar tidak ingin. Kenapa tidak di coba? Sebuah hubungan serius bukan untuk coba-coba Hyun Joong-ssi. Jalani dulu, Hyun Ae-ah. Demi orangtua kita. Kenapa Anda menerima perjodohan ini? Kenapa harus saya? Tidakkah anda punya pilihan sendiri? Jika Anda punya pilihan sendiri saya bersedia membantu. Kau akan membantu jika kau mengiyakannya. Mengiyakan apa ?_? Mau kah kau jadi sahabatku, Hyun Ae-ah? Oh, makdusnya ini. Haruskah aku membalas ’tentu’? -------------------------------------------------------------------------

Mata Kuliah Semester V

Mata Kuliah Semester V Program Studi Matematika UNPAR

No. Kode MK Mata Kuliah
1. KICA 1019 Analisis Real II
2. KICA 1026 Kajian dan Pengembangan Matematika Sekolah
3. KICA 1030 Assesment Pembelajaran Matamatika
4. KICA 1033 Seminar Pendidikan Matematika
5. KIKP 1004 Statistik Matematika II
6. KIKP 1008 Media Pembelajaran Matematika
7. KICA 1021 Struktur Aljabar II
8. KICA 1013 Geometri Transformasi

Smiley face Ini merupakan tugas dari Pak Ardo (dosen mata kuliah Sistem Informasi Matematika UNPAR)

Kunjungi blog Pak Ardo

Jenis-jenis metode pembelajaran

Jenis-jenis metode pembelajaran

Jenis-jenis metode pembelajaran:
1. Presentasi: Penyampaian informasi dan pengetahuan dari seorang presenter dengan menggunakan pedekatan komunikasi satu arah. Dalam metode pembelajaran ini, presenter memiliki kemampuan spesifik yang perlu disampaikan kepada pemirsa (audience). Dalam hal ini, pemirsa adalah peserta program pelatihan atau trainee.
2. Diskusi: Metode pembelajaran yang dilakukan dengan cara membahas masalah atau topik penting untuk memperoleh pemahaman dan pengetahuan. Setiap peserta dapat memberikan opini terhadap masalah atau topik yang didiskusikan.
3. Permainan: Metode pembelajaran ini bersifat kompetitif dan mengarahkan siswa untuk dapat mencapai prestasi atau hasil belajar tertentu. Permainan haruslah menyenangkan dan memberikan pengalaman belajar baru bagi siswa. Pada umumnya, dalam metode pembelajaran permainan, ada pihak yang menang dan ada pihak yang kalah. Pihak yang menang akan mendapatreward, sedangkan pihak yang kalah perlu ebrlatih lebih keras untuk memenangkan permainan.
4. Simulasi: Metode pembelajaran ini mengharuskan siswa melakukan peran tertentu diluar dirinya sendiri atau melakukan sesuatu yang belum pernah dilakuka dalam situasi baru. Melalui proses simulasi, siswa akan memperoleh pengalaman belajar yang mendekati situasi nyata.
5. Bermain peran: Bermain peran merupakan kegiatan belajar dalam sebuah situasi yang mendekati situasi sesungguhnya. Dalam metode ini biasanya digunakan model yang realistik. Dalam metode pembelajaran ini, siswa diminta memerankan sesuatu yang belum pernah dialami sebelumnya.
6. Tutorial: Penyajian informasi – konsep dan prinsip- yang melibatkan siswa secara aktif di dalamnya. Metode ini biasanya digunakan juga untuk aktivitas pemelajaran yang bersifat perbaikan atau remedial.
7. Demonstrasi: Dalam metode ini, seorang instruktur memperlihatkan cara melakukan proses atau prosedur tertentu secara sistematik kepada siswa. Metode ini akan memberi dampak positif jika diikuti dengan aktivitas praktek oleh siswa. Siswa mengamati cara instruktur melakukan proses kerja dengan benar.
8. Penemuan: Metode pembelajaran yang menerapkan pendekatan induktif –siswa untuk dapat menemukan sesuatu secara coba-coba atau trial and error.
9. Latihan: metode ini menekankan pada latihan intensif dan berulang-ulang dengan tujuan agar siswa dapat menguasai keterampilan yang bersifat spesifik.
10. Kerja sama: metode ini menekankan pada upaya untuk membangun pengetahuan dan keterampilan melalui kolaborasi antar-siswa. Dalam metode ini siswa para siswa diminta untuk menyelesaikan sebuah proyek bersama dengan bimbingan intensif dari guru.


Sumber: Benny A. Pribadi, 2009, Model Desain Sistem Pembelajaran, Jakarta: Dian Rakyat

Smiley face
Semoga terbantu

Saturday, September 24, 2011

Daftar Istilah Dalam Pembelajaran

(sumber: Benny A. Pribadi, 2009, Model Desain Sistem Pembelajaran, Jakarta: Dian Rakyat) Daftar Istilah -Afektif: Kemampuan Untuk memilih suatu tindakan dalam menghadapi situasi yang bersifat spesifik. -Analisis: Kemampuan dalam mengurai konsep dan menjelaskan keterkaitan komponen yang terdapat di dalamnya. -Analisis kebutuhan: Analisis yang dilakukan untuk mengetahui masalah kinerja yang sebenarnya sedang dihadapi oleh organisasi atau perusahaan. Masalah yang ditemukan dapat menggambarkan bentuk solusi yang diperlukan, yaitu pelatihan dan non pelatihan. -Analisis tugas: Analisis yang dilakukan terhadap prosedur pelaksanaan suatu tugas dan pekerjaan untuk memperoleh tugas dan pekerjaan tersebut. -Analisis karakteristik siswa: Analisis yang dilakukan untuk lebih mengenal kemampuan dan potensi siswa yang akan berperan serta dalam program pembelajaran yang didesain. -Aplikasi: Kemampuan dalam menerapkan prinsip, aturan, konsep, dan pengetahuan yang telah dipelajari. -Behavioristik: Teori belajar yang menekankan pada pentingnya konsep keterkaitan antara stimulus dan respon dalam kegiatan pembelajaran. -Belajar: Proses alami yang dapat membawa perubahan pada pengetahuan, tindakan, dan perilaku seseorang. -Desain: Gambaran keseluruhan, struktur, kerangka, atau outline, dan urutan atau sistematika kegiatan. -Desain Sistem Pembelajaran: Proses sistematik yang dilakukan dengan cara menerjemahkan prinsip-prinsip belajar dan pembelajaran menjadi rancangan yang dapat diimpelentasikan dalam bahan dan aktitas pembelajaran. -Evaluasi: Proses pengumpulan data dan informasi yang dilakukan untuk menilai dan mengambil keputusan. -Evaluasi formatif: Proses evaluasi untuk memperoleh informasi tentang keunggulan dan keterbatasan sebuah program dengan tujuan untuk melakukan revisi dan penyempurnaan. -Evaluasi perorangan: Tahap awal yang perlu dilakukan dalam menerapkan evaluasi formatif. -Evaluasi sumatif: Penilaian efektivitas dan efesiensi program untuk menentukan kelanjutan penggunaan program. -Evaluasi kelompok kecil: Penilaian program yang dilakukan dengan mengujicobakan program terhadap sekelompok kecil calon pengguna yang terdiri 10-15 orang siswa. Evaluasi ini dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas program. -Evaluasi lapangan: Uji coba terhadap sekelompok besar calon penguna program tersebut digunakan dalam situasi pembelajaran yang sesungguhnya. -Gaya belajar: Kesukaan atau preferensi untuk melakukan suatu kegiatan belajar. -Gaya belajar auditori: Kecenderungan untuk memelajari materi pelajaran melalui indera pendengaran. -gaya belajar kinestetik: Kecenderungan melakukan proses belajar sambil melalukan suatu aktivitas. -Gaya belajar visual: Kecenderungan untuk memelajari pengetahuan dan keterampilan melalui indera penglihatan. -Karakteristik siswa: Ciri/sifat & atribut yang melekat pada siswa yang menggambarkan kondisi siswa, misalnya kemampuan akademis yag telah dimiliki gaya dan cara belajar, serta kondisi sosial ekonomi. -Kecerdasan majemuk: Multipotensi yang dimiliki individu, meliputi sejumlah kecerdasan seperti logis matematis, verbal linguistik, musikal, kinestetik, visual spasial, intrapersonal, dan naturalistik. -Kognitif: Kemampuan yang berkaitan dengan hal yang bersifat intelektual. -Kompetensi: Kemampuan yang dimiliki siswa oleh seseorang setelah menempuh proses pembelajaran. -Komunikasi: Proses pertukaran informasi dan pesan antara sumber dan penerima. -Konstruktivistik: Pendekatan dalam pembelajaran yang beranggapan bahwa siswa sebagai individu pembangun pengetahuan berdasarkan pengalaman yang dialami. -Media pembelajaran: Sesuatu yang digunakan untuk menyampaikan pesan/informasi dari sumber kepada siswa. -Metode Pembelajaran: cara yang ditempuh untuk menyampakaikan isi/materi pelajaran pada siswa. -Model: Sesuatu yang menggambarkan adanya pola berpikir dan analogi dari suatu konsep yang digambarkan dalam bentuk grafis. -Multimedia: Program yang mampu menampilkan unsur gambar, teks, suara animasi, dan video dalam sebuah tampilan yang dikontrol melalui program komputer. -Pemahaman: Kemampuan dalam menjelaskan dan mengartikan konsep yang dipelajari. -Pembelajaran: Serangkaian kegiatan yang sengaja diciptakan dengan tujuan untuk memudahkan terjadinya proses belajar. -Pendekatan sistem: cara pandang dan melihat sesuatu sebagai keseluruhan dan sistematik. -Pengetahuan: Tingkat kemampuan kognitif terendah, yaitu kecakapan melakukan identifikasi dan mengenal fakta dan data faktual. -Psikomotor: Kemampuan dalam mengoordinasikan gerakan tubuh untuk mencapai tujuan yang spesifik. -Sintesis: Kemampuan dalam menggabungkan komponen-komponen yang dipelajari dalam suatu kesatuan yang baru dan utuh. -Sistem: Suatu kesatuan yang terdiri atas komponen-komponen yang saling bersinergi untuk mencapai suatu tujuan. -Siswa: subyek dari proses dan aktivitas pembelajaran.

Saturday, September 17, 2011

KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR

KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR Keterampilan mengajar bagi seorang guru adalah sangat penting kalau ia ingin menjadi seorang guru yang profesional, jadi disamping dia harus menguasai sumbstansi bidang studi yang diampu, keterampilan dasar mengajar juga adalah merupakan keterampilan penunjang untuk keberhasilan dia dalam proses belajar mengajar. Sari dari keterampilan dasar mengajar ini diambil dari berbagai sumber dimana bahan ini digunakan untuk para mahasiswa yang melakukan praktek mengajar di sekolah sebelum dia bekerja sepenuhnya sebagai seorang guru. Pada kenyataannya dewasa ini banyak para guru yang mengajar dengan pola tradisional dan mengabaikan keterampilan-keterampilan yang sangat mendasar ini. Keterampilan dasar mengajar ini adalah merupakan panduan pengajaran mikro dengan menggunakan perangkat Sydney Micro Skills (1973). Keterampilan Dasar Mengajar ini adalah : 1. Keterampilan Bertanya 2. Keterampilan Memberi Penguatan 3. Keterampilan Mengadakan variasi 4. Keterampilan Menjelaskan 5. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran 6. Keterampilan Memimpin Diskusi Kelompok Kecil 7. Keterampilan Mengelola Kelas 8. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan Ad.1. Keterampilan Bertanya Dalam proses belajar mengajar yang dilaksanakan oleh seorang guru tidaklah lepas dari guru memberikan pertanyaan dan murid memberikan jawaban yang diajukan. Pada kenyataannya di lapangan banyak para guru yang tidak menguasai teknik-teknik dalam memberikan pertanyaan kepada siswa sehingga banyak pertanyaan tersebut hanya bersifat knowledge saja artinya kebanyakan hanya mengandalkan ingatan. Pengertian dan Rasional keterampilan bertanya bertujuan untuk memperoleh informasi untuk memperoleh pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berfikir. Pertanyaan yang diberikan bisa bersifat suruhan maupun kalimat yang menuntut respon siswa. Tujuan-tujuan dalam memberikan pertanyaan tersebut adalah: a. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu pokok bahasan. b. Memusatkan perhatian siswa terhadap suatu pokok bahasan atau konsep. c. Mendiagnosis kesulitan-kesulitan khusus yang menghambat siswa belajar. d. Mengembangkan cara belajar siswa aktif. e. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengasimilasikan informasi. f. Mendorong siswa mengemukakannya dalam bidang diskusi. g. Menguji dan mengukur hasil belajar siswa. h. Untuk mengetahui keberhasilan guru dalam mengajar. Komponen-komponennya yaitu: 1) Pengungkapan pertanyaan secara jelas 2) Pemberian Acuan 3) Pemusatan 4) Pemindahan Giliran 5) Penyebaran 6) Pemberian waktu berfikir 7) Pemberian Tuntunan Ad.2. Keterampilan Memberi Penguatan Penguatan adalah suatu respon terhadap suatu tingkah laku dan penampilan siswa. Penguatan adalah suatu respons terhadap suatu tingkah laku siswa yang dapat menimbulkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Komponen-komponen dalam keterampilan memberi penguatan adalah: 1) Penguatan Verbal; penguatan ini dapat dinyatakan dalam 2 bentuk yaitu kata atau kalimat. 2) Penguatan Non Verbal; bisa berupa mimik atau gerakan badan, mendekati, memberi sentuhan atau memberi kegiatan yang menyenangkan, berupa symbol atau benda maupun penguatan tak penuh sepert “yah, jawabanmu sudah baik tetapi masih perlu disempurnakan” Ad.3. Keterampilan Mengadakan Variasi Variasi dalam kegiatan belajar mengajar dimaksud sebagai proses perubahan dalam pengajaran yang dikelompokkan dalam tiga kelompok yaitu; variasi dalam gaya mengajar, variasi dalam menggunakan alat dan media pembelajaran dan variasi dalam pola interaksi dalam kelas. Komponennya adalah: a. Variasi dalam Gaya Mengajar: 1) Penggunaan variasi suara 2) Pemusatan perhatian 3) Kesenyapan 4) Mengadakan kontak pandang 5) Gerakan badan dan mimik 6) Pergantian posisi guru dalam kelas b. Penggunaan Media dan Bahan Pelajaran 1) Variasi alat/ bahan yang dapat dilihat 2) Variasi alat yang dapat didengar 3) Variasi alat yang dapat diraba dan dimanipulasi c. Variasi Pola Interaksi dan Kegiatan Siswa Ad.4. Keterampilan Menjelaskan Menjelaskan adalah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasikan secara sistematik yang bertujuan untuk menunjukkan hubungan, antara sebab akibat, yang diketahui dan yang belum diketahui. Komponen-komponen Keterampilan Menjelaskan a. Merencanakan: 1) Isi pesan (materi) 2) Penerima pesan (siswa) b. Menyajikan suatu penjelasan 1) Kejelasan 2) Penggunaan contoh dan ilustrasi 3) Pemberian tekanan 4) Balikan Ad.5. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran Yang dimaksud dengan keterampilan membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan situasi siap mental dan menimbulkan siswa agar terpusat perhatian pada apa yang dipelajari. Yang dimaksud dengan menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa. a. Komponen Membuka 1) Menarik perhatian siswa 2) Menimbulkan motivasi 3) Memberikan acuan 4) Membuat kaitan b. Komponen Menutup 1) Meninjau kembali 2) Mengevaluasi Ad.6. Keterampilan Memimpin Diskusi Kelompok Kecil Diskusi kelompok adalah merupakah salah satu strategi yang memungkinkan siswa menguasai suatu konsep atau memecahkan suatu masalah melalui suatu proses yang memberi kesempatan berfikir, berinteraksi sosial serta berlatih bersikap positif. Komponen Keterampilan: 1) Memusatkan perhatian 2) Memperjelas masalah atau urunan pendapat 3) Menganalisa pandangan siswa 4) Meningkatkan urunan siswa 5) Menyebarkan kesempatan berpartisipasi 6) Menutup diskusi Ad.7. Keterampilan Mengelola Kelas Mengelola kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan keterampilan untuk mengembalikan pada kondisi belajar yang optimal. a. Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal Meliputi: 1) Menunjukkan sikap tanggap 2) Membagi perhatian 3) Memusatkan perhatian kelompok 4) Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas 5) Menegur 6) Memberi penguatan b. Keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal meliputi: 1) Modifikasi tingkah laku 2) Pengelolaan kelompok 3) Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah Ad.8. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan Terjadinya hubungan interpersonal yang sehat dan akrab dapat terjadi antara guru-siswa, maupun antara siswa dan siswa, baik dalam kelompok kecil maupun perorangan. Komponen Keterampilan: 1) Keterampilan untuk mengadakan pendekatan secara pribadi 2) Keterampilan Mengorganisasikan 3) Keterampilan Membimbing dan memudahkan belajar siswa 4) Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar Oleh: Purwiro Harjati Panduan pada Matakuliah Micro Teaching Prodi Pendidikan Fisika UM Metro (sumber: google ^^)