There was an error in this gadget

Saturday, June 26, 2010

FF: Love is Hurt chapter 2 -ending-

nah.. ini chap terakhirnya...
happy reading ^_^

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Title: Love is Hurt
Author: Imah Hyun Ae
Disclaimer: ini murni khayalan saya
Genre: angst
Cast: Hyun Ae and Donghae (super Junior)


“Love is Hurt”


-Donghae POV-
Aku berjalan penaln menuju taman dekat kost Hyun Ae. Memikirkan kenapa dia masih sedingin ini. Apa dia tidak athu aku begitu sakit diperlakukannya begitu. Bukan sakit di fisik. Tapi di sini. Di hati ini.
Aku sudah tak tahu lagi bagaimana berhenti mencintainya. Ribuan kali dia bersikap menyakitkan seperti ini aku tetap saja menyukainya. Tetap saja mencintainya. Kenapa Tuhan? Kenapa harus dia…?

-flashback-
“Ya~!!! Donghae oppa!!! Berhenti!!” teriak Hyun Ae sambil mengejarku.
Aku menjulurkan lidah padanya.
“Akan kubuat wajah oppa penuh warna, lihat saja!”
“Itu kalau kau berhasil menangkapku!” teriakkua, masih berlari menghindarinya di halaman.
Dia terus mengejarku.
Brugh!
Eh??
Aku berbalik. Kulihat dia terjatuh.
“Ah!” rintihnya.
Aku berlari mendekatinya dan melihat keadaannya. “Lutut dan tanganmu berdarah.”
Cemas, segera aku menggendongnya di bahuku.
Dia melingkarkan lengannya di leherku. Perasaan hangat menjalar seketika. Kenapa denganku?
Aku menurunkannya di krusi ruang tengah dan mengambil obat merah.
“Sakit oppa~” katanya manja saat aku membersihkan lukanya.
“Makanya, kalau lari lihat-lihat.”
Dia merengut. “Ini gara-gara oppa terus lari tahu! Coba kalau oppa rela kubalas, aku tak akan jatuh kan..”
“Kau menyalahkan oppa?” dalam hati aku tertawa melihat tingkahnya. Dongsaeng yang tidak mau kalah…
“Memang salah oppa kan?” tuntutnya.
Aku tersenyum. “Kau ini,” desisku sambil mengacak-acak rambutnya.
Aku diam. Membuatku membeku seketika. Matanya yang bulat. Rambut panjangnya yang lembut. Wajahnya yang bersih. Hey!! Kenapa dengan hatiku?
“Gwenchana?” aku menegurnya yang masih diam di tempatnya. Terlebih untuk menenangkan ahtiku yang tiba-tiba saja berbeda.
“Ah? Annio oppa.”
“Jangan bohong…” aku duduk di sampingnya dan membersihkan wajahnya yang kucoret tadi. Tanganku dingin seketika.
“Anni… hanya merasa di dekat oppa begitu nyawan.”
Aku menghentikan aktifitasku sesaat. Tanpa kusadari sebuah senyum mengembang di bibirku. “Jeongmal?”
Dia mengangguk.
Aku semakin tersenyum lebar.
“Kenapa oppa tersenyum?”
“Eh?” apa aku tadi tersenyum lebar? “Itu….Mungkin… oppa senang karena ternyata kau menyayangi oppa.”
Apa benar cuma perasaan sayang?
“Tentu saja kan oppa? Donghae oppa kan oppaku!”
Aku mengelus kepalanya dengan sayang. “Nde. Donghae oppa, oppa Hyun Ae seorang.” ^^
“Oppa juga menyayangiku kan?”
Aku menangguk. Sebuah senyum indah terukir di hatiku.
--end flashback--

Seharusnya aku tahu, itu awal dari smeua rasa ini. Kenapa? Kenapa hari itu aku berpikir Cuma sekedar sayang oppa terhadap dongsaengnya? Padahal seharusnya aku tahu, sejak hari itu aku memandangnya sebagai yeoja…
Aku menatap langit cerah di atasku.
Without words tears fall
Without words my heart breaks down
Without words I wait for love
Without words I hurt because of love
I zone out, I become a fool because I cried..
Looking at the sky
(Nothing Said by Jang Geun Seok ost. You Are Beautiful)

-flashback-
Hyun Ae selalu memanti kepulanganku. Biasanya kami bermain atau menonton drama kesukaannya. Tapi kali ini aku pulang bersama yeoja di sekolahku. Ada tugas yang harus kuselesaikan.
Benar saja, dia menungguku.
Aku dan temanku mendekat.
“Kenalkan ini dongsaengku yang manja, Hyun Ae. Hyun Ae, kenalkan ini teman oppa di sekolah, Yoona.”
Hyun Ae mengulurkan tangannya. Kuperhatikan wajahnya. Sepertinya dia tak suka. Ya!!! Kenapa hatiku justru senang??
“Senang bertemu denganmu,” kata Yoona.
“Kau tidak sibuk kan, saeng?” tanyaku.
Ah, tumben-tumbenan aku memanggilnya ‘saeng’. Kuperhatikan wajahnya lagi. Dia sepertinya tak menyukai panggilan itu. n.n
Dia mengangguk. “Bisa tolong buatkan minum untuk teman oppa tidak?”
Dia mengangguk lantas ke dapur.
Aku sedang tertawa bersama Yoona ketika Hyun Ae tiba di ruang tengah dengan dua gelas di atas nampan yang dia pegang.
Wajahnya tampak semakin kusut.
Dia mendekat ke sana dan menaruh nampan dengan kasar. Membuat air dalam gelas bergoyang dan jatuh ke kertas yang tak jauh dari nampan.
“Saeng?” aku terkejut melihat sikapnya tapi di sisi lain menikmatinya juga.
“Mian Yoona-yah.” Kataku pada Yoona sambil mengambil tisu dan mencoba mengeringkan kertas yang terkena air tadi.
“Gwenchana oppa.”
Oppa? Kenapa rasanya aneh dipanggil oppa olehnya?
“Saeng?” aku menggoda Hyun Ae dengan memanggilnya ‘saeng’ lagi. “Bisa tolong-“
“Aku benci oppa!” potongnya sambil menghentakkan kaki dan pergi ke kamarnya.
Tanpa bisa kucegah senyum mengembang di wajahku.
“Wae oppa?” Yoona menyadarkanku.
“Ah? Anni.” Tapi tetap saja aku mengulum senyum. Apa arti sikapnya tadi adalah cemburu?
--end flashback--

Setelah hari itu aku sering membawa yoeja chingu ke rumahku dan setiap kali juga kulihat dia marah.
Aku menikmatinya.
Dia bersikap dingin padaku tapi aku tak khuatir. Karena kupikir itu Cuma sikap cemburunya. Ternyata aku salah. Dia menghindariku hingga hari ini. Andai ku tahu akan begini jadinya, aku tak akan bertingkah kenak-kanakan seperti itu dulu. Apa-apaan membuatnya cemburu.
Karena takut dia semakin jauh, aku kembali mendekatinya. Bersikap layaknya seorang oppa menyayangi dongsaengnya. Tapi sepertinya aku terlambat. Dia tak mau kudekati lagi.
Kupikir ada baiknya juga dia bersikap seperti itu. dengan begitu perasaan yang salah ini tak akan tumbuh subur. Namun lagi-lagi pikiranku salah. Salah besar. Setahun tak bertemu denganya perasaan ini masih sama. Dia yang masuk SMA berasrama dan setelah tahun pertama tak pernah pulang. Ketika pulang untuk menunggu pengumuman kelulusan dan pendaftaran ke universitas, aku menyambutnya dengan gembira. Aku… ingin dia merasa oppanya yang sayang padanya tak berubah.
Tapi… hari itu, lagi-lagi dia memberi luka di hatiku.

-flashback-
“Mau lihat pialaku tidak? Aku selalu jadi juara di kompetisi dance lho.” Tawarku senang ketika Hyun Ae datang. Menyakitkan mengakui bahwa sejak aku datang, dia sama sekali tak menatapku!!
“Jangan hanya dance Donghae. Seharusnya kuliahmu juga dapat nilai yang memuaskan.” Umma menegurku.
“Arraseo umma.” ^__^
“Kajja!” aku menarik tangannya.
Aku terus bberjalan berhenti tepat di depan kamarnya. “Kau siap?” =D
“Apa menariknya?” ucapnya dingin. Dia melepas genggaman tanganku. Lantas meninggalkanku.
“Kehidupan asrama selalu serius ya?” godaku.
Dia tak mejawab. Juga tak berbalik.
“Aku harap Hyun Ae yang dulu segera kembali.” Kataku pelan. Aku sudah tak bisa jadi kekasihmu, karena itu, biarkan aku jadi oppamu. Biarkan semuanya seperti dulu. Tak apa Hyun Ae-ah… Tak apa jika perasaan ini tak pernah bisa kau balas, asal jangan acuhkan aku…
~You can’t leave me
Stay here even if it’s hard
If I can see you just a bit more
I’d smile for the amount of love left
Timeless, it isn't separation is it?~
(Timeless by Junsu dbsk ft. Zhang Li Yin)
--End flashback--

Hyun Ae-ah… andai bisa kembali ke masa lalu, aku… aku pasti tak akan membiarkan appa menikah dengan ummamu! Karena dengan begitu aku… aku bisa mengatakan perasaanku. Karena itu aku bisa berjuang untuk selalu berada di sampingmu. Karena itu aku bisa membisikkan ‘sarangahe Hyun Ae-ah’ setiap waktu.
Juga… aku bisa dengan senyum bahagia datang dan melamarmu. Menjadikanmu pendamping hidupku selamanya. ‘Hyun Ae-ah… jeongmal… saranghae…’ boleh kuungkapkan kata ini padamu?
Aku memutuskan menerima calon yang diajukan appa padaku. Dia cantik. Dan kuharap kelak bisa membuatku mencintainya.
Hari pernikahan semakin dekat, tapi hatiku justru menginginkan bertemu Hyun Ae. Terlebih dia bilang tak bisa datang.
Aku membujuk umma untuk pergi ke sini, menemuinya. Mengajaknya pulang bersama. Aku ingin… ada satu foto keluarga lengkap kami yang baru. Terakhir foto bersama adalah 7 tahun yang lalu.
--End Donghae POV--
***

--Hyun Ae POV--
“Hyun Ae-ah?” suara umma.
Kulihat jam. Pukul 6 malam. Aku tertidur rupanya.
“Kau sudah bangun? Kau belum makan dari tadi siang. Makanlah…”
“Aku belum lapar umma..”
“Makanlah meski sedikit.”
Aku menyerah.
Usai makan aku kembali lagi ke kamar.
Pintu kamarku di ketuk saat aku tengah merenung di dekat jendela. Pukul 9 malam. Umma kah?
“Apa kau sudah tidur?” suara oppa.
Aku memilih diam.
“Bisa tidak kita keluar sebentar?”
“…”
“Kau tidur ya? Baiklah… akan kutunggu sampai kau bangun.”
Aku mendekat ke pintu perlahan-lahan. Tak terdengar suara langkahnya yang beranjak pergi. Apa dia menunggu di depan pintu?
Tiga puluh menit, aku tetap tak mendengar suara. Penarasan aku membuka pintu.
Dia tersenyum lebar. “Kajja!” dia langsung menarikku. Aku berusaha melepasnya tapi gagal. Dia menggenggam tanganku terlalu kuat.
Dia masih menarikku. Kami sudah di jalan depan ruamh. Langkahnya tak berhenti. Mau ke mana?
Aku berusaha berontak. Berhasil.
Segera aku berbalik, menuju ke kost.
Satu tangan menarik lenganku. “Kajima~” lirihnya. “Chepal…”
Tak sengaja mataku bertemu dengan matanya. “Kali ini saja.” Lirihnya lagi.
Sadar, aku berontak lagi. Aku tak boleh dekat-dekat dengannya! Ya kan??? Jangan menahanku oppa… kumohon…
Lagi satu tangan menarikku. Kali ini lebih kuat. Membuatku berbalik dan….
Membuatku langsung ke pelukannya! Aku membeku seketika.
“Kajima~ Hyun Ae-ah.. Chepal molli kajima…” bisik Donghae oppa tepat di telingaku. ia semakin mempererat pelukannya.
Wae?
“Kali ini saja, jangan mengabaikanku…” lirihnya.
Lima menit berlalu dan dia masih memelukku erat. kepalanya bersandar di bahu kiriku dan kurasai mulai basah. Apa oppa menangis?
--End Hyun Ae POV--

-Donghae POV-
Aku mengajaknya keluar. Hanya ingin membuat sebuah kenangan kebersamaan kami yang mungkin untuk terakhir kalinya. Tapi ia terus saja berontak.
Aku menariknya. “Kajima~” lirihku. “Chepal…”
Mata kami bertemu. “Kali ini saja.” Lirihku lagi.
Entah kenapa dia berontak lagi. Kumohon Hyun Ae-ah, kali ini saja…
Aku kembali manariknya. Tapi kali ini lebih kuat. membuatnya berbalik dan….
langsung ke pelukanku! Tanpa kusadari aku merengkuhnya.
“Kajima~ Hyun Ae-ah.. Chepal molli kajima…” bisikku tepat di telinganya. Aku semakin mempererat pelukannya.
Perasaan selama ini menyeruak seketika. Perasaan yang tak pernah bisa bersatu, membuatku pilu. “Kali ini saja, jangan mengabaikanku…” lirihku.
Lima menit berlalu dan aku masih memeluknya erat. Kusandarkan kepalaku di bahu kirinya. Perlahan, pilu itu menciptakan kabut di mataku, kemudian jatuh membasahi bahunya. Aku memangisi perasaanku yang tak pernah bisa ku tunjukkan padanya. Menangisi cinta tak seharusnya kujatuhkan padanya.
“Saranghae…” tanpa ku tahu kata itu keluar dari mulutku.
“Jeongmal saranghae…” ulangku lirih bersamaan air mata yang kembali membanjir. “Jeongmal saranghae Hyun Ae-ah…” aku terisak sekarang.

~I love you
The only words I have to say to you are I love you
I love you
They've become such meaningless words, but I love you
But what good is it now
We'll never see each other again..
I know it's pointless, but I want to hold you back.~
(I Love You by Shim Changmin dbsk)

If there’s one life, it’s us now
Hold tight baby, timeless
Stain it on this heart
(Timeless by Junsu dbsk ft. Zhang Li Yin)
---End Donghae POV---

-Hyun Ae POV-
Pandanganku mengabur seketika ketika berulang kali dia mengucapkan kalimat itu.
“Sarangaheyo Hyun Ae-ah…” ucapnya lagi.
“Oppa…”
Tubuhnya bergetar hebat. Membuat air amtaku yang mengganntung ikuit terjatuh.
“Sarangahe Hyun Ae-ah…” ia masih menangis hebat.

~If there’s one life, it’s us now
Hold tight baby, timeless
Stain it on this heart~
(Timeless by Junsu dbsk ft. Zhang Li Yin)

Aku terisak sekarang.
“Apa yang harus kulakukan? Perasaan ini masih untukmu Hyun Ae-ah… Masih…”
Air mataku mengalir kian deras…
“Andai aku tidak menjadi oppamu, pasti sudah kukatakan sejak dulu. Jeongmal… jeongmal Hyun Ae-ah…” isaknya.
“Nado saranghae oppa…”bisikku menangis tak kalah hebat. “nado saranghae…” Aku membalas pelukannya dengan arat.
Kami sama-sama menangisi perasaan kami.
--
Kami menuju taman. Di sana, entah bagaimana kami mulai bercerita tentang perasaan ini. Perasaan yang ternyata sama-sama hadir 9 tahun lalu dan tak berubah.
Dia menggengam tanganku erat ketika kami berjalan menuju kostku.
Dua meter dari kost dia berhenti. Lantas mengecup keningku lama. Air manataku kembali menggantung.
“Setelah masuk, kau akan menjadi dongsaengku lagi.” Ucapnya sambil memandang kostku. Perih yang dia rasa juga perih yang kurasa.

~For it will only hurt like a moments fever
We both agree
This is timeless love
I’ll be leaving with the world
But will sadness also go with me?
You call for me for you are yearning
I will only leave scars on the door to your heart
Will I know after I swallow the tears that I’ve heaved from inside of me?
Hold my hand so I can’t leave
Timeless, it isn’t separation is it?~
(Timeless by Junsu dbsk ft. Zhang Li Yin)

“Kajja…” lirihnya enggan.
Aku menyeka air mataku yang jatuh. “Mianhae…”
---End Hyun Ae POV---

-Donghae POV-
“Mianhae…”Aku menghentikan langkahku.
“aku… tak bsia ikut pulang besok.” Ujer Hyun Ae di belakangku.
Aku menggganguk, dan perlahan masuk ke dalam bersamaan dengan bulir air mata yang membasahi pipiku lagi.
--
Semua undagan sudah datang. Pesta pernikahan sudah di mulai sejak tadi. Aku menyalami para undangan. Mencoba terlihat bahagia di hari pernikahan ini. Ketika sebuah e-mail masuk ke HPku aku berpamitaan. Kubuka e-mail tersebut.
From: Hyun Ae
Subject: -
“Chukae oppa… semoga kau bahagia… mian karena tak bsia datang. Aku rasa, aku baru bisa menemuimu jika perasaan ini sudah tak untukmu lagi… mianhae oppa…”
Aku menutup hpku sambil menatap angkasa. “Apa saat kau menemuiku nanti perasaanku juga sudah bukan untukmu lagi?” gumamku.

-end-
------------------------------------------------------
Ottokhe?? Ada yang nangis kah?? *Cuma harapan author*
Di tunggu commentnya. ^^d *buatlah saya lebih semangat lagi berkarya ^___^*
Gomaweo m(_ _)m

Friday, June 25, 2010

FF: Begin chapter 1

Ini khayalanku dan teman-temanku yang terllau tinggi. Semoga kalian mnyukainya ^^

-----------------------------------------------------------

Title: Begin
Author: Imah Hyun Ae
Ide: Park Yong Kyo
Genre: Romance

Tokoh:
1. Kim Hyun Ae (pembacaku atau kalau nggak mau…saya aja ea?? Hehehe ^^)
2. Park Yong Kyo aka Rima (teman kalian)
3. Lee Hyu Rim aka lia (teman kalian)
4. Kim Hyun Joong
5. Kim Jae Joong
6. Kim Junsu
7. Lee Eun Shi
8. And other member dbsk and SS501


Prolog
-Hyun Ae POV-

Aku menatap layar laptopku. Sesuatu bergerak di kepalaku. Memintaku kembali mengenangnya dan memulai menuliskannya. Sebuah kisah yang ingin kupersembahkan pada kedua sahabatku. Juga pada para pemimpi lainnya, untuk percaya bahwa mimpi-mimpi kita dan hal-hal kecil di sekitar kita akan berhubungan dengan masa depan kita. Kalian akan menyadarinya ketika masa depan telah kita jalani.
Kutatap sosok di luar sana, suamiku. Ia tersenyum. Seolah mengijikanku menulis apa yang tengah kupikirkan. Sesautu mengembang di hatiku.
Aku kembali ke layar. Menaruh tanganku di keyboardnya. Kemudian mulai menarikan di atasnya. Sebuah kisah nyata kita akan tertulis di sana. Kuharap kalian menyukainya chingu.




Chapter 1
Missing

-Rima pov-

Setahun sudah aku lulus dari universitas palangkaraya. Sudah setahun pula aku bekerja di SMA tempat asalku. Aku masih seperti aku saat SMA dulu. Masih begitu tergila-gila dengan dbsk. Oppa-oppa tersayangku. Cintaku pada Jae Joong pun tak berubah. Bahkan lebih besar. Saking cintanya, aku tak pernah bisa memerikan sedikit saja ruang di hatiku untuk orang lain.
Aku mengendarai motorku, menuju rumah teman yang sama gilanya denganku. Tapi dia mencintai Junsu, haha…
Kali ini acara kami adalah menonton live concert dbsk di rumahnya. Seandainya ada seorang lagi pasti lebih heboh. Seorang yang sama gilanya dengan kami. Oh, mungkin lebih parah. Idola koreanya banyak sekali. Apa masih bisa kuurutkan. Mereka adalah: Yunho dbsk, Hyun Joong ss501, Jungmin ss501, Changmin dbsk, Key SHINee, Taemin SHINee, Onew SHINee, Yoochun dbsk, Ki Bum suju, Yesung Suju, Heechul suju, Eunhyuk suju, Kyu Hyun suju, siapa lagi ya? Oh, Lee Hong Gi ft island, Lee Jae Jin ft island, ryowook suju, hm…. Itu masih boybandnya. Belum lagi tokoh drama.
Kami masing-masing punya mimpi. Bermimpi kalau suatu hari kami tak sengaja bertemu dengan idola kami. Lia, saat dia bekerja di took kue, berharap suatu hari dbsk datang dan membeli kue di sana. Sedang aku, aku berharap bisa ikut pertukaran pelajar ke korea. Dan dia, temanku yang satu itu, dia berharap bisa mengikuti olimpiade internasional di korea. Mimpi kami terlalu tinggi. Tapi kami percaya kata-kata Arai dalam buku Sang Pemimpi Andrea Hirata.

“Bermimpilah, karena tuhan akan memeluk mimpimu.”

Tapi, itu benar-benar hanya menjadi mimpi. Aku yang tak mengikuti pertukaran pelajar satupun, Lia yang berhenti bekerja di toko kue karena lingkungan yang tak memungkinkan, dan dia yang pergi entah kemana. Dia menghilang sejak dua tahun lalu, begitu juga dengan keluarganya. Tak ada yang tahu mereka di mana. Atau jangan-jangan dia mengejar mimpinya sekarang. Bisa saja jika Tuhan mengijnkan dia sekarang sedang di Korea. Bukan mengikuti olimpiade, melainkan mengejar S2 di sana. Bukankah dia pernah bilang padaku dia menginginkan gelar S2?
Aku harap suatru hari nanti dia menghubungi kami. Atau sebaliknya, kami bisa menemukan jejak untuk bertemu dengannya. Aku rindu kebersamaan kami bertiga.
Akhirnya aku tiba di rumah Lia akhirnya. Dia sepertinya baru bangun tidur. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 9.
Aku masuk ke rumahnya. Seperti biasa, kedua orang tuanya sedang tidak ada. Pergi ke pasar, berdagang. Sedangkan dia, hari minggu tempatnya bekerja libur.
Dia menghidupkan tv dan dvdnya setelah dia selesai mandi.
Kami menonton dengan mata penuh kekaguman. Sudah bertahun-tahun kami mencintai grup boy band ini, dan setiap kali mereka perform selalu saja membuat kami semakin cinta. Aku berharap, kami, suatu saat bisa pergi ke konser mereka. Melihat aksi mereka secara langsung. Amin.

-----End Rima POV----

-Lia POV-

Kalian yang melihatku mungkin seperti orang yang tersangkut, atau bahkan terkurung di dunia mimpi. Aku masih terus bermimpi suatu hari bisa bertemu dengna idolaku. Junsu. Dan seorang yang berhasil membuatku berkhianat. Lee Hong Ki.
Aku yakin, entah kapan, aku akan bertemu salah satu dari mereka. Bukankah jika kau bermimpi, maka mimpimu itu akan menjadi kenyataan??
Aku sering menonton konser mereka, drama mereka, bahkan reality show mereka di dvd, juga channel Arirang. Bahkan You Tube juga habis kugeledah. Tak kalah FanFic tentang mereka juga habis kulahap. Huah…. Kurasa baru dengan mereka aku bisa sedalam ini mencintai.
Saat berita mereka akan bubar, antah berapa kali air mata ini mengalir. Rasanya sangat kehilangan sekali. Aku suka kebersamaan db oppa. Suka dengan junsu yang polos dan suara lumba-lumbanya, suka dengan yoochun yang berkharisma, changmin yang imut, leader yang bertanggung jawab: Jung Yunho, dan si cowok cantik nomor satu di korea alias si ‘umma’, Kim Jae Joong.
Sebuah kebahagiaan bisa mengenal mereka. Saking cintanya, bahkan berasa tak bisa hidup tanpa ada merkea berlima. Hahai… lebay, tapi itu benar.
Cinta ini sudah tak bisa lagi di lukiskan dengan kata-kata. Sikap bodoh (menurut mereka yang melihat kegilaanku) yang terus memimpikan mereka ini sudah bisa membuat orang-orang mengetahui sedalam apa cinta ini.
GILA!!! Pernah seseornag mengatakn ini padaku. Tapi aku rasa tidak. Aku masih sadar di mana kau berpijak. Aku masih sadar seberapa jauh mereka kugapai. Aku masih tahu diri, bahwa yang kuimpikan hanyalah mimpi (meski dilubuk hati ingin sekali ia menjadi nyata).
Aku masih di tempatku, di bawah langit biru yang dengan tulus menaungi impian-impianku.
Aku kembali memperhatikan dbsk yang sedang menyanyikan lagu mreka ‘Break Out’, aku ingat saat itu Junsu oppa menjadi seroang kakek. Hahaha, meski kakek-kakek dia tetap terlihat tampan dan aku masih bisa mengenalinya XDXD
Rima di sampingku, heboh memperhatikan Jae Joong oppa. Ini memang rutinitas kami di hari minggu. Saat hari libur yang kami lakukan adalah menonton bersama-sama oppa-oppa kesayangan kami. Jika ada yang baru, maka tak segan-segan kami berburu dari dunia nyata hingga dunia maya!!!
Seandainya dia ada, pasti lebih seru.
Ah, kami tidak tahu ke mana chingu kami yang satu itu. Padahal dulu, saat masih kuliah, kami sering memintanya menuliskan fanfic yang kami khayalkan. Apakah dia masih seperti kami? Masih mencintai dbsk?
Aku tak memperoleh jawaban. Hanya sepoi angin yang semakin menambah kerinduan kami pada sosoknya.
----End Lia POV----
----------------------------------------------------

bgmn?? penasaran?? ^^ comment please ^^

Tuesday, June 15, 2010

FF: Sad Story

Hmm aouthor comeback again. Kali ini sengaja yang jadi castnya Kim Jae Joong, coz rasa-rasanya dia aja member dbsk yang belum jadi tokoh utama di FFku, hehehe, mianhae oppa ^^
Kali ini one shoot. Tapi, kalau berasa kepanjangan, mianhae… aouthor kebiasaan lebih dari satu Chapter sih, hehe…..
Nah, kali ini author juga nggak mau lama-lama, jadi selamat membaca ^^

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Title: Sad Story
Genre: romance
Cast: Park Hyun Ae (23th), Park Soo Ae (26th), Kim Jae Joong (24th),
Disclaimer: imajinasi saya ketika santai-santai sore hari.

“Sad Story”

Ini persembahan untuk dongsaengnku. Aku tak tahu bagaimana harus memulai kisah ini. Yang kutahu, aku mengerti rasa sakitnya. Kadang aku ikut menangis melihat perihnya luka yang seharusnya tak diterimanya.
Ijinkan aku memulai kisah ini.
*******
Aku melihat ke arahnya. Dia terbangun dari tidur yang lama di pembaringnan yang siap merenggut nyawanya kapan saja. Aku benar-benar takuiut dia akan menyusul umma dan appa di atas sana.
Dia mengerjap. Seolah mengenali tempat di mana dia berada sekarang.
Aku mendekat. Ku tahan air mataku yang kembali handak jatuh saat melihat wajah pucatnya tersenyum lembut padaku.
Jae Joong baru saja pulang mengantar umma dan appanya.
“Onnie…” kurasa itu maksud dari gerak bibirnya.
“Nde…?” sial air mataku membanjir sekarang.
“……..” ia mengatakan sesuatu tapi aku tak bisa mengerti. Apa dia menanyakan ‘Ini di mana?’
Dia berkata lagi. Wajahnya pucatnya menegang. Apa dia menyadarinya?
“Tenanglah… aku segera memanggil dokter.” Pamitku sembari mengusap air mata yang tak bsia kutahan sama sekali.
Air mataku banjir saat menemui si dokter. Aku tak berhasil mengatakan satu katapun. Ini terlalu menyakitkan. Untuk kami juga untuknya.
Dokter seolah mengerti. Dia mengangguk dan bersama suster menuju ruangan itu. Aku mengikuti mereka di belakang. Tergugu tanpa bisa melakukan sesuatu.
Lagi-lagi Hyun Ae berbicara padaku, tapi aku tak tahu apa yang dikatakannya. Tangisannya membuat isakanku menjadi.
“Gwenchana Hyun Ae-ah… tenanglah…” lirihku. Bagaimana bisa menegarkan orang lain kalau aku yang menngatakannya saja masih dalam kondisi berurai air mata.
Ku dapati air mata Hyun Ae mengalir kian deras. dengan panic ia mengambil kertas di tangan suster dan menulis “Kenapa denganku onnie? Aku tak bisa mendengar suaramu, juga suaraku?”tulisnya
Aku mengatup bibirku. Beberapa detik aku tak bisa bernapas.
Dia mengguncang tubuhku. Menuntut jawaban. Di matanya ia menuntut kejujuran. Tapi di saat bersamaan kutemukan ketakutan.
“Hyun Ae-ah…” lirihku disela tangisku, aku menggeleng. Tak sanggup.
Aku menutup wajahku. Air mataku tak bisa kuhentikan sama sekali. Jelas ini membuatnya berpikir dia mengalami hal yang buruk kan?
Dokter menepuk pundakku pelan. Memberiku sedikit kekuatan. “Kau harus mengatakannya,” gumam dokter itu.
Di sela sesegukanku aku mendongak. Dongsaengku menuntut jawaban dariku dengan matanya yang telah merah.
Aku menghela napas. “Hari itu kau kecelakaan…” mulaiku. Dia menulis sesuatu lagi. Dengan tergesa. Kemuda menyerahkannya apdaku.
“Apa aku kehilangan pendengaranku onnie?”
Aku seka air mata yang gugur ke wajahnya sambil mengangguk lemah. Tatapannya penuh luka kali ini.
Kuambil pen yang masih di tangannya.
“Hari itu,” tulisku di kertas yang diserahkannya, “usai pulang dari butik, Kau mengalami kecelakaan yang sangat fatal. Kau divonis,” satu butir air mata jatuh ke kertas itu. Haruskah kukatakan yang sebenarnya, atau membohonginya?
Aku menghela napas panjang. Mencari kekuatan. “ Dokter memvonismu tidak bisa mendengar dan kehilangan suaramu selamanya.” Sambungku. “Aku tahu itu menyakitkan sekali.”
Aku tak tahu harus menulis apa lagi. Kutatap dia. Segera dia mengambil kertas itu.
Ia membacanya. Matanya menatapku tak percaya. Matanya seolah bciara ‘Katakan ini bohong, onnie!!’
“Kuatkan dirimu, Hyun Ae-ah…” bisikku. Dan kutahu itu tak berhasil. Dia tak bisa mendengarku. Dan yang dilakukannya adalah menangis hebat. Bahunya bergubcang. Ia meraung-raung, tanpa suara.
Aku menatapnya dan ikut berurai air mata. Hanya itu yang bisa kulakukan.
Dokter memberikan suntik penenang. Beberapa detik kemudian Hyun Ae tertidur.
Aku mengusap wajahku yang kucel. Menghapus air mata dan berharap ia tak jatuh lagi. Tapi sekali lagi aku gagal.
Kutatap Hyun Ae. Kenapa? Kenapa harus dia Tuhan? Kenapa kau ambil pendengaran dan suaranya saat hari terbahagia dalam hidupnya sudah ada di depan matanya? Kenapa kau mempermainkan hatinya? Hati kami!!!

-flashback-
Hyun Ae tampak lebih ceria akhir-akhir ini setelah dia menjalin kasih dengan seorang namja cantik bernama Kim Jae Joong, seniornya di kampus. katanya dia sudah punya usaha, meski kecil. Dan sebentar lagi lulus.
Aku pernah bertemu dengannya ketika Hyun Ae mengajakknya ke rumah. Seorang namja yang sopan. Terlihat sekali dia begitu penyanyang. Dan aku merestui hubungan mereka.
--
Hyun ae mondar-mandir di dapur saat aku sedang memasak untuk makan malam kami. Wajahnya tampak tegang. Padahal sore tadi masih berbinar bahagia. Aku tak bertanya karena tahu pasti Jae Joonglah yang membuat sebahagia itu, seperti biasanya.
“Wae?” tanyaku akhirnya.
“…Eh?” dia berhenti. Menatapku dengan tatapan gelisah.
“Ada yang ingin kau katakan?”
Dia diam. Seolah menimbang-nimbang mengatakannya atau tidak. Aku menunggu sembari meneruskan masakanku.
“Onnie…”
“Hm..?”
“Janji tidak akan marah ya!?”
“Tergantung separah apa masalah itu dari sudut pandangku.” ^^
“Onnie~ ” ia merengek manja.
“Arraseo.” Aku menoleh kearahnya sambil menuangkan masakanku ke priring. “Aku tak akan marah,” kataku sembari menaruh piring itu di meja. Aku mariknya duduk di kursi makan. “Sekarang katakan.”
“Umm…”
“Hm?”
“itu…”
“Apa~?”
“Tadi…,Jaejoong oppa melamarku,” lirihnya.
“Jeongmal? Whaaa~” XD
Dia menagngguk. “Dia mengajakku menikah….”
“Selamat yaaa….” XDD
“Eh? Onnie tidak marah?”
“Ini kan kabar baik? Kenapa harus marah?”
Dia tersenyum malu. Aku mengelus kepalanya lembut. “Kalau dia memang serius, dia harus melamarmu padaku secara resmi lho…”
“Gwenchana?”
Aku mengangguk. “Hm~mm… Gwenchana.”
“Gomaweo Onnie… AKu janji nanti kucarikan namja yang baik yang cocok dengan onnie.”
Aku tersenyum. “Ada-ada saja.”
--
Jae Joong datang ke rumah kami bersama keluarganya. Secara resmi mereka melamar Hyun Ae.
Kami menentukan hari pernikahannya. Setelah sepakat kami membicarakan detail pestanya.
Kami juga berkunjung ke makam orang tua untuk meminta restu.
Segalanya berjalan dengan lancer. Semuanya telah siap, tinggal menuju butik yang di tentukan pihak keluarga Jaejoong untuk mengukur baju. Pihak laki-laki sudah menunggu di sana. Aku tak bisa ikut pergi karena tiba-tiba rapat penting tak bisa ditinggalkan.
Jae Joong sebenarnya ingin menjemput, tapi Hyun Ae melarangnya karena jarak dari rumah ke butik itu cukup jauh. Dia memilih naik taksi.
Dia pamit padaku lewat telpon.
“Tumben…” ejekku.
“Siapa tahu onnie merindukan suaraku?” candanya.
“Tidak akan!” sangkalku, bercanda.
Dia tertawa.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAaaaaaaaaaaaaaaaa……….tut-tut-tut….”
Deg!
Jantungku serasa berhenti berdetak. Apa yang terjadi. Kenapa dia berteriak?
“Hyun Ae-ah?” panggilku cemas. Tak ada jawaban.
“Yongseo??? Yongseo??? YAAA!!! HYUN AE-AH???”
--
--
Rapat baru mau dimulai ketika sebuah telpon masuk. Nomor tak dikenal. Aku menjawab. Suara wanita. Dan detik itu juga aku merasakan diriku tak berpijak di bumi.
Aku minta ijin dan segera menuju rumah sakit. Menunggu di depan ruang UGD, tempat dongsaengku berjuang untuk hidupnya. Aku meminta agar Tuhan tak mengambilnya.
Aku menelpon Jae Joong. Mengabarkan bahwa Hyun Ae kecelakaan.
Mereka ada di sampingku 20 menit kemudian. Kami sama-sama meminta keselamatan Hyun Ae.
--
Dokter keluar, kemdian mengajakku ke ruangannya. Mengatakan dia selamat tapi juga mengatakan vonis yang menyakitkan itu. Aku yang tak mengalami saja sehancur ini apalagi dia?
Jae Joong menghampiriku ketika aku keluar.
“Apa kata dokter? Apa lukanya parah?”
Aku diam bersamaan tetesan air mata yang jatuh ke pipiku.
“Noona?!” ia menatapku cemas.
“Dokter bilang…” aku mengatakannya sambil tergugu, “Hyun Ae kehilangan pendengaran dan suaranya selamanya.”
Jae Joong mundur ke belakang beberapa langkah. Syok.
-----end flashback----

Aku meminta Tuhan agar tak mengambilnya. Tapi sepertinya doaku kurang. Tuhan memang tak menngambilnya dariku tapi sebagai gantinya aku kehilangan suara dan pendengarannya. Dia tak lagi bisa mendengar suara-suara indah idolanya.
Dia bilang aku merindukan suaranya. Dan itu sepertinya benar-benar terjadi.
Jae Joong masih belum kembali ketika dia terbangun lagi. Digenggamnya tanganku dengan erat. Aku menatapnya. Dia mengatakan sesuatu yang lagi-lagi tak bisa kuterka.
Lagi-lagi air mataku jatuh saat dia menatap sekitar dengan putus asa.
Dia berusaha menjangkau sesautu. Buku?! Ah!!
Aku segera mengambilnya. Dia menulis sesuatu di sana.
“Apa Jae Joong oppa sudah tahu keadaanku?”
Aku mengangguk. “Dia tadi mengantar orang tuanya pulang. Mungkin sebentar lagi kembali.”
Usai aku menulis itu, sosok Jae Joong datang. Hyun Ae menangis seketika. Dia mengatakan sesuatu lagi.
Jae Joong merengkuhnya ke pelukannya. Mengusap kepala Hyun Ae dengan lembut. Membiarkan Hyun Ae menangis sepuasnya di bahunya.
Perlahan aku keluar.
--
Aku menyampaikan permintaan Hyun Ae. Membatalkan pernikahan. Kedua orang tua Jae Joong dan Jae Joongnya sendiri tampak terkejut.
“Kami tidak bermaksud mempermainkan kalian. Kami… kami merasa tidak enak, dengan kondisi Hyun Ae seperti ini. Aku… terlebih Hyun Ae tak ingin Jae Joong terpaksa menikahinya hanya karena kesepakatan sudah terucap sebelum kecelakaan ini terjadi. Saya pikir-“
“Aku tetap menikahinya Noona. bagaimanapun dia, karena dia Hyun Ae yang kucintai, aku tetap akan menikahinya.”potong Jae Joong.
Penglihatanku buram. Aku tahu aku kembali menangis kali ini. “Jangan memaksakan diri, Jae Joong-ah.” Lirihku.
“Annio. Umma, appa dan aku baru saja mau berunding dengan noona tentang jadwal ulang pernikahan kami.”
Aku mengatup bibirku. Cuma satu kata yang bisa kukeluarkan, “Khamsahamnida…” aku membungkuk.
“Ya… tak perlu seformal itu,” umma Jae Joong memelukku. “Sudah kubilang kita keluarga kan?”
“Chosuhamnida…” dia mengusap air mataku dengan lembut.
--
Hyun Ae menangis terharu ketika Jae Joong dan kelurganya datang dan mengatur ulang jadwal pernikahan.
“Aku mencintaimu tanpa alasan. Meski kau tak seperti dulu, kau tetaplah Hyun Ae, orang yang ku cinta.” Begitulah sms dari Jae Joong ketika dia dan keluarganya sudah pulang.
Aku memeluk Hyun Ae. “Kau dapat pria yang baik Hyun Ae. Benar-benar beruntung.” Batinku.
--
Pernihakan sudah dekat. Semuanya sudah diatur dengan baik. Aku mengantar Hyun A eke butik. Dia tampak cantik dengan gaun pernikahan yang senada dengan Tuxedonya Jae Joong. Mereka terlihat serasi sekali. Kulihat Jae Joong memujinya dengan menggunakan bahasa isyarat. Benar, aku, Hyun Ae, dan Jae Joong, bersama-sama mempelajari bahasa isyarat. Agar aku dan Jae Joong tahu apa yang ingin Hyun Ae sampaikan, dan agar Hyun Ae juga tahu apa yang kami ingin sampaikan.
“Oppa juga tampan,” balas Hyun Ae dengan isyarat tubuh pula.
Di sudut ini aku tersenyum. Kebahagiaan dongsaengku adalah kebahagiaanku juga.
--
Sudah dua jam berlalu Jae Joong belum datang juga. Kata Jae Joong dua jam lalu, jalanan macet total.
Orang tua Jae Joong yang lebih dulu datang tampak cemas. Hyun Ae lebih cemas lagi. Sesekali dia melihat HPnya. Berharap Jae Joong menelponnya.
Gemas, dia memencet tombol di HPnya. Menelpon Jae Joong. Tapi tetap tak ada jawaban.
“Kenapa dia tidak mengangkat telponku?” tanya Hyun Ae dengan isyarat tubuhnya.
Aku jadi ikut-ikutan cemas.
“Ah, Jae Joong? Di mana kau?” suara appanya Jae Joong mengalihkan perhatian kami.
Tiba-tiba wajah pria 50 tahunan itu memucat. “Anda bilang… Jae Joong kami… kecelakaan?”
Hyun Ae menatap tajam pada appa Jae Joong, begitu juga denganku.
“Nde? Di jalan XXXX? Seka-”
Belum selesai appa Jae Joong bicara Hyun Ae sudah berlari keluar. Tak peduli dengan gaunnya yang akan rusak. Juga dandanannya. Yang ia pedulikan Cuma keselamatan Jae Joong.
Aku mengejarnya di belakang. Kuteriakkan namanya, memintanya berhenti. Tapi dia masih terus berlari. Ah, aku lupa kalau dia tak bisa mendengar.
Aku terus berlari di belakangnya.
Ambulance melewati kami. Hyun Ae menoleh sambil berlari. begitu juga denganku. Apa di dalam sana adalah Jae Joong?
Setibanya di jalan XXXX lariku melambat. Kulihat Hyun Ae sudah terduduk di aspal. Bahunya berguncang. Dia nampak menggenggam sesuatu.
Aku mendekat. Dia nampak menggenggam cincin pernikahan yang di siapkan Jae Joong. Ada bercak darah di cincin itu. Hyun Ae menatapku, tergugu. Sembari memberikan isyarat, “Waeyo onnie?”
Aku langsung duduk di sampingnya dan memeluknya. Dia memukul-mukul tubuhku sambil menangis. Tuhan… kenapa seperti ini?
Hujan seketika turun ke bumi. Membasuh darah yang tadi melumuri sebagian aspal.
Bersusah payah aku membawanya ke rumah sakit.
--
Mata appa dan Umma Jae Joong tampak merah. Sesuatu yang buruk pasti terjadi.
Merkea mempersilahkan kami masuk ke dalam ruang gawat darurat. Satu sosok berselimut kain putih menusuk hati kami. Perlahan, Hyun Ae mendekat. Sosok itu kian jelas. Kim Jae Joong.
Hyun Ae langsung memeluk sosok itu. Bahu Hyun Ae berguncang semakin hebat. Dia seperti berteriak “ANDWEE!!” namun tak terdengar. Air matanya deras mengalir.
Di sudut ini, aku hanya bisa menangis. kembali tak ada yang bisa kulakukan. Kenapa harus begini Tuhan?
*****
Umma dan Appa Jae Joong sering mengunjungi kami. Berbagi kenangan tentang Jae Joong. Juga berusaha membuat Hyun Ae ceria kembali. Namun sepertinya kami tak berhasil.Sekarang Hyun Ae lebih sering menatap langit. Tak pernah lagi kulihat dia tersenyum. Bahasa isyarat pun sangat jarang ia gunakan untuk bicara denganku. Seolah memilih diam dan mengunci diri. Diajak bicarapun dia hanya mengangguk dan menggeleng.
Kemarin kutemukan di HP Hyun Ae
To: Jae Joong my namja
“Jae Joong oppa… boleh aku menyusulmu?”
Detail: Gagal mengirim.

-end-
---------------------------------------------------------------------------------------------------

Ottokhe? Author sempet nangis waktu nulis cerita ini *lebay? tapi ini kenyataan*
Give ur commet!!!
Apalagi yang kena tag. WAJIB COMMENT lho!!! XDDD

Tuesday, June 8, 2010

FF: MY HEART KNOW YOU part c -ending-

Lets read,hehe

Title: My Heart Know You
Genre: romance
Author: Imah Hyun Ae
Cast: Jung Sae Riie (aka Sai), Im Seulong (2am)
Disclaimer: terinspirasi ketika ingat sebuah komik seru,hehe


"MY HEART KNOW YOU"

Jantungku semakin cepat berdetak. Kuperhatikan lekat wajahnya. Dia membimbingku duduk. Tak sengaja kulihat cincinnya. Cincin couple yang Sae Riie satunya beli bulan lalu.
Hff,aku selalu lupa membeli kado untuk hari ini. Tunggu, jangan-jangan... "Kau...Sae Riie?"
"Eh? Nde oppa." katanya setengah malu-malu. "Wae? Apa dandananku terlalu jelek dan aneh?" dia memperhatikan dirinya.
"Jeongmal yeopo." bisikku, "Jadi ini kau? Sae Riie-ku?"
"Y..ye.."
Senyumku mengembang lebar. "Kau beda sekali dua bulan ini. Kupikir..." aku salah orang,sambungku dalam hati.
"Kontak lens ku rusak, jadinya pakai kaca mata. Karena oppa bilang cintaku saat aku biasa saja, kupikir oppa lebih suka aku yang seperti itu. Hehe..."
Aku tersenyum. Kurasa, bagaimanapun kau, hatiku tetap mengenalimu :3
--End Soulong pov--


Setelah hari itu Soulong menunjukan perhatiannya. Bahkan tanpa perlu sembunyi-sembunyi lagi. Kali ini dia sangat ingin dunia tahu Sae Riie miliknya...

-end-

"Kau menulis kisah cinta mereka ya?" Lee Teuk oppa melihat layar blogku.
"Hm..mm.. Mereka yang minta sebagai hadiah pernikahan mereka besok."
"Aish, lagi-lagi aku tak bisa menemanimu."
"Gwenchana oppa."
"Eh, kulihat di blogmu tak ada cerita tentang kita. Wae?"
"Nanti, kalau oppa sudah menikahiku baru kupost." ^_^
"Sudah kau tulis? Tinggal melihat akhir cerita kita seperti apa." aku tersenyum lebar. Lantas kembali menatap layar. Sae Riie dan Seulong sudah memberi komentar mereka.
"Gomaweo, n.n," tulis Sae Riie.
"Persis seperti kenyataannya," komentar Seulong.
Aku baru mau menulis balasan ketika Lee Teuk oppa berkata, "Kalau begitu,menikahlah denganku."
"...eh?" aku menoleh ke arahnya.
Dia mengeluarkan cincin dari saku celananya. "Menikahlah denganku Hyun Ae-ah?" katanya sambil menatapku lembut.
"Oppa... Kau..."
"Seharusnya kau bilang 'I do' dan memberi pelukan."
Aku memukulnya pelan bersamaan dengan air mata yang mau jatuh. Ia menarik tanganku dengan lembut dan menyematkan cincin itu di jari manisku.
Aku memeluknya. "I do oppa," bisikku.
----Finish----

Happy ending kan? Moga yang request and baca suka. Tapi lagi-lagi Hyun Ae tetap ada ya. Jadi tokoh utama kedua,hehe... XD Gomaweo XD
WAJIB COMENT lho ^O^

Wajib COMENT!! :3

FF: MY HEART KNOW YOU part b

Nah, ini part b-nya. Moga-moga suka. X-3
-----

Title: My Heart Know You
Genre: romance
Author: Imah Hyun Ae
Cast: Jung Sae Riie (aka Sai), Im Seulong (2am)
Disclaimer: terinspirasi ketika ingat sebuah komik seru,hehe


"MY HEART KNOW YOU"


-Soulong pov-

"nugu?" Jo Kwon bertanya usai aku menutup telpon.
"anni. bukan siapa2."
"Sae Riie kan?"
aku mendelik ke arahnya. "bagaimana kau bisa tahu?"
"sudah kebiasaanmu kalau dia yg menelpon kau jawab 'bukan siapa2'." :D
aku tersenyum tipis. Sae Riie kekasihku. Barusan dia menelpon menanyakan apa aku bisa merayakan hari jadi kami. padahal aku benar-benar lupa akan hari itu. Mungkin karena bukan hari yang mengesankan bagiku. Ah,seandainya dia orang yang ku sukai, pasti aku yang lebih agresif mengajaknya ke manapun untuk merayakan hari ini.
Bisa dibilang ini kesalahanku. juga kesalahan Jin Woon.

-flashback-
aku bertemu dengan seorang gadis yang cantik sekali. dia memakai kontak lens pada matanya. rambutnya yang bergelombang tergerai. sambil tersenyum dia membaca buku di tangannya.
dia bertopang dagu sekarang. dengan bias matahari dari jendela di belakangnya semakin membuat aura cantiknya keluar. jantungku...memainkan simponi yang indah, dan aku menikmatinya.
Dia mengalihkan pandangannya ke jam di lengannya. kemudian dia menutup bukunya dan berjalan ke meja penjaga perpustakaan.
ekor mataku masih mengikutinya hingga dia menghilang di balik dinding.

aku mulai mencari sosoknya sejak hari itu. berharap bisa bertemu lagi, dan dapat meyakinkan hatiku bahwa aku memang jatuh cinta padanya.

Dia kembali ke perpustakaan hari ini di jam yang sama seperti kemarin. Kali ini aku memperdekat jarak dudukku dengannya. Dan ketika dia ke meja penjaga perpustakaan, aku mengikutinya. Pura-pura meminjam buku di perpustakaan ini. Baru ku tahu dia bernama Sae Riie. Setahun di bawahku dan dan di jurusan ekonomi.

Lama-lama memperhatikannya, rasa suka ini semakin besar. Kepribadiannya yang tenang mmbuatku nyaman memupuk rasa ini.
Diam-diam, di sudut yang tersembunyi, sambil berpura-pura membaca buku, aku memperhatikannya.
--end flashback--

Aku... Akhir-akhir ini aku semakin yakin keputusan menyatakan cinta padanya adalah kesalahan. Ah, andai saja waktu itu member lain tak mendukungku...

-flashback-

Perasaan ini kian menggila. Padahal dengan jelas aku tahu aku lebih baik tak punya kekasih, jika itu menghambat karirku, juga mengacaukan kehidupannya (jika fans tak terima).
Kutatap mata teman-temanku yang baru saja mengatakan 'tidak apa-apa, kau sudah menemukan bahagiamu sekarang,' dengan senyum bahagia yang tulus.
"Gomaweo," bisikku.
"Hey,hari ini saja kau menyatakannya! Aku kenal teman dekatnya. Aku bisa minta bantuan dia kalau kau mau?" kata Changmin.
"Jeongmal?"
"Hu-umm..."
"Tapi...aku tak ada persiapan."
Mereka tersenyum geli.
"Lalu kapan? Lebih cepat lebih baik."
Aku bergeming. Tak lama kemudian mengangguk.


Hyun Ae bilang Sae Riie akan menungguku di aula pentas. Dengan gugup aku ke sana. Wajahku tertunduk. Tegang.
Ku buka pintu,lalu masuk. "mian mengganggu kesibukanmu." kataku,tapi tetap tak sanggup menatapnya.
"gwenchana..." jawabnya lembut. Itu membuat kegugupanku semakin menjadi. "um.."
"nde??"
"saranghae, Sae Riie-ah..." kataku akhirnya.
"... eh?"
"aku...saat pertama kali bertemu di perpustakaan sudah menyukaimu."
"eh?"
perasaan ini terus tumbuh dan menuntutku untuk menyatakannya padamu. aku tak tahu harus bagaimana dulu, tapi sungguh, jeongmal saranghae Sae Riie-ah." aku membungkuk. Ah, pasti dia pikir cara menyatakan cinta yang aneh.
"nado saranghae... Soulong," lirihnya.
"...eh? jeongmal?" aku mendongak. Bertatap mata langsung dengannya.
ia tersenyum. Oh,tidak. Ini kesalahan. Bukan gadis berkaca mata dengan rambut dikuncir kuda yang kumaksud. "go..gomaweo.." lirihku terbata. Jangan-jangan salah orang? Apa yang harus kulakukan?
"boleh kupanggil oppa?"
"y...ye" jawabku. keringat membanjiri wajahku. Eottokhajjeo?
"oppa..gwenchana?" dia mendekat. "wajah oppa terlihat pucat."
"ah? anni." aku tersenyum menenangkan.
--end flashback--

Waktu itu aku segera pamit darinya. Kutanya Jo Kwon, dia bilang gadis tadilah bernama Jung Sae Riie. Dia satu-satunya mahasiswi ekonomi yang bernama itu.

Dengan kecewa aku menjalani hubungan ini. Aku tak tega memutusnya, yang ternyata sangat pengertian padaku.

Sejak hari jadianku, periku menghilang. Aku tak pernah menemukan sosoknya lagi diperpustakaan. Malah Sae Riie yang kutemukan. Terkadang aku bingung dengan diriku. Berkata dengan yakin bahwa aku tak ada hati dengan Sae Riie yang ini. Tapi, di saat yang sama aku ingin bertemu dengannya. Berharap dia bisa hapus rinduku untuk gadis di perpustakaan itu.

Kulihat jam. Sudah 30 menit berlalu dari jam perjanjian. Apa dia masih menunggu?

Dengan lamban aku melangkah. Perlahan kulajukan mobil ke restoran itu.

Aku seperti tak berpijak di bumi. Bergeming di depan pelayan yang menyambut kedatangan pengunjung.
Aku masih takjub dengan kehadiran periku ketika dia melambai sekaligus tersenyum padaku.
Kutoleh kebelakang siapa tahu ada orang lain di belakangku. Tidak ada.
O,ya, mana Sae Riie satunya? Sae Riie yg jadi kekasihku.
Kulihat periku lagi, bibirnya seperti berkata "sini". Aku mendekat ragu-ragu.
Dia terlihat sumringah.
"Aku tahu oppa pasti datang." ujernya.
"...Eh?" apa maksudnya?
"Kenapa oppa masih berdiri? Oppa..ada pekerjaan?"
"...Nde?"
"Oppa... Gwenchana?" dia berdiri dan menyentuhkan tangannya ke keningku.

-tbc-

Mianhae. Karena updatenya di hp jadi ending baru di part c ea, gomaweo XD WAJIB COMENT!

FF: MY HEART KNOW YOU part a

Annyeong... Author comeback again.

Let read,hehe

Title: My Heart Know You
Genre: romance
Author: Imah Hyun Ae
Cast: Jung Sae Riie (aka Sai), Im Seulong (2am)
Disclaimer: terinspirasi ketika ingat sebuah komik seru,hehe


"MY HEART KNOW YOU"

Sae Riie berdandan dengan gembira. hari ini adalah dua bulan jadian dia dengan Seulong. Namja yang cukup terkenal dan bernaung dalam grup bernama 2am.
wajahnya makin berseri ketika Seulong bilang akan mengusahakan datang. Ia meminta Sae Riie menunggu di restoran tempat mereka janjian.

-Sae Riie pov-


Sekali lagi aku memperhatikan dandananku. ok.
Aku harap oppa suka.
kumasukkan hp k kantung rokku dan mulai melangkah. memanggil taxi dan meminta sopirnya mengantarku ke restoran "nomber one".
di sana aku menunggu sambil menikmati jus yang aku pesan.
saking semangatnya aku datang 15 menit lebih cepat dari perjanjian. tak apalah.

Ku perhatikan sekitar. sebagian besar pengunjung adalah sepasang kekasih.
aku jadi teringat hari jadian kami 2 bulan lalu...

-flashback-

Aku melihat sosok idamanku di dekat lapangan basket kampus.. Ku lihat dia sedang memainkan bola basket sambil bicara pada temannya. Aku terus memperhatikannya sampai Hyun Ae datang. Dia minta aku menjemputnya di sini.
"Mian, membuatmu menunggu. Tadi ada yang lupa ketinggalan,hehe.."
"Gwenchana..."
"Eh, siapa yang kau lihat tadi?" ia mengerling jahil.
"A..anni." aku tahu wajahku refleks memerah.
"Dia Seulong."
"...Eh?"
"Im Seulong. Member 2am, mustahil kau tak kenal."
Jadi dia Seulong? Pangeran impianku? Yang asli? Hwaaa...
--end flashback--

Sejak saat itu, aku diam-diam memperhatikannya.
Kenangan jadian kami menyeruak di benakku.

-flashback-
ruang kelas ramai dengan teman-teman. tiba-tiba Hyun Ae menarikku. mengajakku ke luar.
"ada yg ingin bicara denganmu." bisiknya. matanya menyiratkan sesuatu.
"siapa?"
"nanti juga tahu!" ia mengedip nakal.
Tak biasanya biasanya begitu.
dia membawaku ke aula pentas yang sering dipakai mahasiswa seni untuk pentas.
aku menatapnya penuh tanya.
"tunggu di sini. sebentar lagi dia datang." lagi-lagi dia mengedipkan matanya. Kemudian pergi.
eh??
dengan kebingungan yang masih menyergap,
kuedarkan pandangan ke sekitar. tak ada siapa-siapa.
5 menit menunggu dengan rasa penasaran memang menyiksa!
kreeett!
ku dengar pintu terbuka. seorang namja masuk. tingkahnya seperti orang tegang.
ia masih menunduk ketika berkata "maaf mengganggu kesibukanmu."
"gwenchana..."
"um.." ia tampak makin tegang.
"nde??"
"saranghae, Sae Riie-ah..."
"... eh?"
"aku...saat pertama kali melihatmu di perpustakaan sudah menyukaimu.
"...eh?"
"perasaan ini terus tumbuh dan menuntutku untuk menyatakannya padamu. aku tak tahu harus bagaimana, tapi sungguh, jeongmal saranghae Sae Riie-ah." dia membungkuk. Dari awal masuk dia sama sekali tak melihatku. cara menyatakan cinta yang unik.
aku tersenyum bahagia. "nado saranghae... Soulong," lirihku.
"...eh? jeongmal?" ia mendongak. bertatap mata langsung denganku.
ia tersenyum. "go..gomaweo.." lirihnya terbata.
"boleh ku panggil oppa?"
"y...ye" jawabnya. keringat membanjiri wajahnya.
"oppa..gwenchana?" aku mendekat. "wajah oppa terlihat pucat."
"ah? anni." ia tersenyum menenangkan.
--end flashback--

kami jadian sejak saat itu. dia jarang sekali mengantarku pulang Aku paham. karena jadwal kuliah kami yang berbeda,juga karena kesibukannya sebagai artis idola. juga mungkin untuk melindungiku dari fansnya yang mungkin saja marah padaku karena kami bersama.
Di kampuspun hanya Hyun Ae yang tahu. Aku tahu ini konsekuensinya sebagai kekasih artis.
pertemuan untuk kencan pun jarang. tak apa . Sejauh dia masih menelpon dan sms.
di kampus, kalau bertemu, kami berbicara sewajar mungkin agar tak terlihat mesra dan curiga.
agak canggung, tapi aku masih bisa menikmatinya, karena dia Seolong oppa, orang yang ku cinta. :)
aneh?! memang. bukankah karena cinta dan jadi kekasihnya seharusnya bisa meminta banyak perhatian dan sikap sayangnya.
ingin sebenarnya. namun keinginan itu harus kuredam. aku ingin dia merasa nyaman bersamaku. Dan tak menyesal karena mencintaiku. n.n
--end Sae Riie pov--
-----------


Silahkan lanjut ke chap berikutnya,hehe coment ea XD

Friday, June 4, 2010

FF: My Love For U -part 2 (ending)

Mungkin Kalian penasaran. Langsung saja!!!!

Title: My Love For You

Genre: Romance

Tokoh:
Hyun Ae (pemabaca/suka2 mau anggap siapa)
Kim Junsu


My Love for You
(Chapter 2)

Surat ke 25

“Junsu-ah... Annyeong...
Hm... hari ini aku punya kabar. Entah baik atau buruk menurutmu. Seperti yang kuceritakan dulu, bibiku yang sekarang tinggal di Inggris mengikuti suaminya meminta umma untuk pergi ke inggris juga.
Kau ingat permintaan suaminya untuk memeriksakan mataku?
Benar, hasilnya aku bisa melihat kalau aku menjalani oprasi. Katanya sekitar 60 persen aku bisa melihat lagi. Dia bilang dia akan membayar biaya operasi itu. Hanya saja ia mengingkan Inggris. Dia lebih percaya pada negara itu.
Bukannya aku tak percaya, hanya saja... aku tak inging meninggalkan Seoul. Bagaimana jika aku tak kembali? Aku tak akan bisa melihatmu. Padahal aku ingin kau menjadi orang pertama yang kulihat.
Umma bilang aku bisa membawa fotomu saat membuka perban nanti jika aku ingin kau lah orang pertama yang ku lihat.
Su-ie... apa yang harus kulakukan? Bisakah kau menemaniku?

Hyun Ae”


Aku ingat, hari itu aku, tanpa mempedulikan apapun aku memacu mobil. Menuju ke rumahnya. Dua jam perjalanan terasa lamaaaaa sekali.
Saat tiba di sana, dia sudah tidak ada. Terbang ke Inggris di pagi itu.

I want to become the wind and embrace you gently
I want to fly to the world you are right now
Although i miss you and miss you again
I’ll wait for you
Don’t forget me
(Wasurinaide by DBSK)

Aku berjalan lelah. Surat itu di kirim kilat sampai ke manajemen hari itu juga. Hanya saja baru sampai ketanganku dua hari kemudian!

I felt your shadow on the path we always walked
I softly pray while closing my eyes fotr this to never fade
(Wasurinaide by DBSK)
Aku ingat perasaanku hari itu. Sangat kesal, marah. Merasa tak berguna. Yang kulakukan hanya berteriak tak jelas. Aku kehilangan malaikatku!

Beberapa bulan kemudian aku mendapat sebuah surat. Surat yang dari tulisannya seperti anak kecil yang baru belajar menulis. Tapi nama pengirimnya langsung menghentikan napasku.

Surat 26

Annyeong Su-ie.
Entah kapan suat ini akan sampai di tanganmu. Ku harap secepatnya. ^_^
Ah, kau tahu berapa lama menulis kata itu dalam huruf biasa? Lima menit!
Hey!!! Jangan tertawa! Aku tahu tulisan anak kecil bahkan jauh lebih baik. Tapi, ini sengaja aku perlihatkan padamu. Untuk membuktikan padamu bahwa aku sudah bisa melihat, hehehe. Kau tahu, aku mempelajarinya selama sebulan ini. Dan hasilnya.. beginilah.
Benar. Aku baru operasi sebulan yang lalu. Karena dokter ahli yang ditunggu baru ada pada waktu itu.
Untunglah operasinya sukses. Dan yang pertama kulihat... kau tahu?
Fotomu!!! Hahaha.... ternyata tak jauh beda dengan bayanganku. Hanya saja kau lebih imut. Senangnya...
Tapi lebih senang lagi kalau yang aslinya bisa kulihat,hehehe...
O,ya. Aku melihat MV dan konser kalian di YouTube dan juga Arirang. Wow... benar saja. Keren sekali!!! Aku jadi semakin mencintai kalian. Rasanya, aku benar-benar menjadi cassiopeia sejati XDXD
Dan sebuah kabar gembira untukku dan (mungkin) untukmu, bahwa hari minggu depan aku akan terbang ke Jepang. Aku akan melihat konser kalian!!!
Ku harap kita bisa bertemu di sana.
Su-ie... Sampai jumpa...

Hyun Ae ^_^


Aku tersenyum. Tokyo dome ada di depan mata. Suara teriakan fans menghangatkan hatiku. Hyun Ae-ah, apa kau ada di antara mereka? Aku harap kau ada di barusan paling depan agar aku bisa menemukanmu dengan mudah.

No matter what anybody says, you’re my crazy love
Though they say i’m crazy, just can’t get enough
I hope you will acknowledge my feelings
Baby, my heart beats for you
(Crazy Love by DBSK)

Aku akan memberikannya tiket PIV konser itu, seandainya dia bilang padaku di mana dia akan menginap.
Setengah jam kemudian konser di mulai. Aku bersemngat. Mencari-cari sosoknya. Dan kutemukan sejam kemudian. Dia di barisan PIV. Melambai-lambaikan stick merah sesemangat yang lain. Mulutnya bergerak-gerak, mengikuti nyanyian kami.
Aku melemparkan senyum padanya. Dia balas dengan senyuman yang sangat kurindukan. Aku harap aku bisa mendengar suaranya juga memeluknya. Aku tahu rinduku telah sampai pada puncaknya.
Aku berbalik, membelakangi penonton. Mengusap air mataku yang tiba-tiba jatuh. Kemudian berbalik lagi. Kutemukan Hyun Ae tengah mengusap air matanya juga. Mungkin perasaannya sama sepertiku.

Every day and night with you
I take your hand
Every day every night everywhere
Now our contact increases
Now, you and I begin
(Begin by DBSK)

Aku berusaha konsentrasi menyanyi hingga konser usai meski mataku tak lepas darinya. Aku benar-benar tak sabar ingin menyampaikan satu kata yang selama ini tak pernah kusampaikan padanya. Bahwa aku mencintainya!
Hyun Ae-ah, apa kau mencintaiku?
-----------

Aku menatap dengan gugup pada gadis di depanku. Aku mengungkapkan perasaanku padanya saat dia sedang sibuk membuat teh untuk kami saat dia kuajak berkunjung ke apartemen kami. Argh, ini bukan moment yang tepat bukan. Tapi aku tak mau terlambat lagi. Aku ingin dia tahu perasaanku dan ingin tahu perasaannya padaku.
Dia masih diam.
Beberapa detik kemudian kudapatkan sebuah anggukan darinya. Kemudian kudengar kata yang langsung memekarkan sejuta sakura di hatiku. ”Nado saranghae... oppa...”
Aku memeluk gadis cantik berambut panjang di depanku itu. Hyun Ae.
”Youngwonhi....” tambahnya.

Hahaha, aku jadi teringat lagu ini.

Tea For Two

The light wavers in the wind
The table serving tea for two
I’m lying on the sofa
Gazing at you

You seem to besingin something
While continue on reading te recipe
I wonder what you are making
Because i can feel the scent of lemon and vanilla
But if you are the one who’smaking it
Just only that would be enough to make me feel happy
It would last forever just like that

Important, so important
You’re my most important person in the world
Forever and ever
Let me look at you smiling by my side

It’s a lie that i wanted to help youout
I just wanted to kiss you
Embracing you from behind
Asking you, ”How’s the cooking?”

If the world was to end tomorrow
I still want to smile like this
To the you who keep readingon recipe
I’m going to kiss you
And tell you, ”I Love You”
And you’ll just simply nod your head
Just like today

You and you only
Can make me strong and weak
I love you and love you more
Afraid to think what if you don’t love me
Even if it’s painful, i still want to protect you

Important, so important
You’re my most important person in the world
More than anything and everything
Our encounter is such a bless
Just the two of us together like that
Just simply enjoying sweet moments like that...

-end-

-----------------------------------------------------


Ottokhe???? Apakah aku berhasil membuat kalaian terharu???

Di tunggu coment and like-nya.

Cu di FF berikutnya yang lebih membuat kalian terpesona *gakgakgak.....author kepedean :D*

FF: My LOve For U -part 1-

Hohoho…. Aouthor datang lagi. Senangnya…. XD apa kalian juga senang????
Senang ataupun tidak, aouthor kali ini ingin memberi kalian cerita terbaru lagi.

Mian akrena lagi-lagi apke chapter. Terlalu panjang sih, hehe…
Tenang. Yang ini Cuma dua chapter kok, hehehe….

Bicara soal tokoh, karena aku suka nama Hyun Ae yang berarti ‘cinta’ dan ‘harapan’ *gak penting untuk tahu artinya!* (suka2 aku XP), aku menjadikan nama ini sebagai nama tokoh utama atau kalaian, hehehe…. Langsung saja:

Title: My Love For You

Genre: Romance

Tokoh:
Hyun Ae (pemabaca/suka2 mau anggap siapa)
Kim Junsu


My Love for You
(Chapter 1)


Junsu POV

Kugenggam lembaran surat yang selalu berhasil menyemangatiku. Surat yang ditulis oleh sahabat terbaikku. Sahabat, yang entah sejak kapan menjadi orang yang kucintai.
Aku bersahabat degannya sejak kecil. Dia yang amat piawai memainkan biola meski matanya buta selalu mengiringiku yang bermain piano. Kadang suara indahnya mengiringi permainan pianoku.
Meski buta dia selalu ceria. Satu hal yang kupahami. Tertawalah maka orang lain akan ikut tertawa bersamanya. Dan jika ia bersedih, ketahuilah bahwa hanya aku yang akan ada di sisinya. Menenangkannya dengan nyanyianku.
Sering dia berkata suaraku sangat bagus. Ia yakin dan selalu berdoa suatu saat aku akan menjadi penyanyi. Tidak hanya terkenal di korea tapi juga dunia. Hahaha, aku tak berharap. Aku justru ingin menjadi pemain bola. Ingin jadi pesepak bola keganggaan negaraku ^_^
Kenyataan itu datang ketika aku SMP. Aku mengikuti audisi dan lolos. Kemudian aku mengikuti trainee.
Tiga tahun setelahnya aku dinyatakan debut, sayang suaraku menghilang. Aku harus mengembalikan suaraku.
Jadilah debut pertamaku bersama vokalis hebat lainnya, yaitu YooChun, Changmin, JaeJoong, dan YunHo. Kami bernaung dalam nama Dong Bang Shin Ki.
Kami di tempatkan di satu apartemen yang sama. Membuat kami bersahabat dnegna baik. Juga membuat kejahilanku tersalurkan, hahaha. Changmin selalu berkata tidak suka padaku, sebabnya, karena akulah sau-satunya orang yang berhasil membuat emosinya meningkat.
Kesibukan kami semakin meningkat setelah kami debut. Dan itu membuatku kesulitan membalas surat Hyun Ae. Untunglah dia mengerti, dia tak menuntutku membalas suratnya. Surat dengan tulisan braile. Aku memperlajarinya agar bisa membantu Hyun Ae. Ternyata itu benar-benar berguna saat kami tak bisa saling tatap dan bertemu seperti dulu.

Surat 1

”Su-ie...
Apa kabar? Fans pertamamu ini mendoakanmu selalu baik-baik saja. Di sini aku sedang menulis sambil mendengarkan lagumu. Bukan. Maksudku lagu Dong Bang Shin Ki. Kau pasti sibuk ya?
Mian... sudah mengganggumu.
Ah, ya, hari ini aku mencoba memainkan lagu kalian dengan biolaku. Masih ada beberapa nada yang meleset. Akan kucoba perbaiki. Jika sudah bagus, akan kurekam untukmu. Kau harus mendengarkannya ya.
Ah, ibu bilang sudah malam. Aku harus tidur. Bukankah malam dan siang untukku sama saja?! Aku tahu kau melotot sekarang. Pasti imut sekali. Aku... seandainya di berikan satu hari saja untuk melihat dunia, aku ingin melihat semua ekspresimu, junsu-ah. Boleh kan?
Aish... umma berteriak lagi. Sampai jumpa Su-ie. Surat berikutnya ku usahakan lebih panjang lagi.
Junsu-ah... anyyeonghaseo.

Dari Hyun Ae”


Surat kelima

”Annyeong...

Senang sekali mendapatkan balasan suratmu. Gomawo...
Ah, Apa kau baru selesai latihan? Pasti lelah.
Sama denganku. Disini ada beberapa hal yan harus kukerjakan. Benar-benar memeras tenaga. Hei, jangan kira aku berbohong. Kau tahu, aku sedang membuatkan syal untukmu. Bukankah sebentar lagi musim dingin akan tiba.
Aku tahu kau sibuk. Tak perlu merasa bersalah karena tidak bisa menelponku. Mengetahui kau baik-baik saja itu sudha cukup untukku.
O, ya. Aku benar-benar tak sabar menunggu musim dingin tiba. Aku akan membuat boneka salju dan kukatakan pada orang-orang bahwa itu kau. Hahaha...
Aishh, Su-ie! Jangan melotot di depan suratku! Bukankah boneka salju Su-ie sangat imut, hehehe....
Mm... su-ie... Rasanya aneh mengetahui kenyataan bahwa kau di sukai banyak orang. Aku... sedikit merasa tersisih. Mereka lebih sempurna dariku, dan pasti lebih cantik. Kau bisa memilih salah satu dari mereka sesukamu. Ya kan?
Hahaha, jangan marah. Aku tahu kau tidak seperti itu.
Su-ie...kurasa aku sudah hampir lupa bagaimana lekuk wajahmu. Kita berpisah cukup lama. Trainee membuatmu hanya sesekali berkunjung ke tempatku. Ah, sekarang pasti lebih sulit lagi.
Jangan khawatir. Aku akan menunggumu. Aku tidak akan kemana-mana.

Sampai jumpa, Su-ie.

Hyun Ae”


Surat ke 12

”Saeng il chuka hamnida
Saeng il chuka hamnida
Saeng il chuka Kim Junsu
Saeng il chuka hamnida

Saengil chukae Su-ie. ku harap kau terus bersinar seperti mentari. Tampak imut seperti bintang di langit. (aku sok tahu ya?) Dan lembut seperti angin di sore hari.
Aku hanya bisa memberimu hadiah ini. Sederhana, tapi kuharap kau suka. Kau bisa merekam suaramu sesukamu.

Sampai Jumpa
Mian, terlalu pendek.

Hyun Ae”

Aku teringat dengan hadianya. Recorder. Senyum mengembang di wajahku.

I love you
The foolish you
You are so precious to me

Surat-surat setelah itu kebanyakan berisikan ucapan selamat dan penyemangat untuk aku dan DBSK. Dia tak berbeda dengan fans yang lain. Mencemaskan hal-hal sepele dan terharu karena hal-hal sepele juga. Tingkah inilah yang juga membuat kami cepat terharu.
Cassiopeia, itu panggilan untuk fans kami. Mereka memilih sendiri nama itu. Karena mereka ingin menjadi bintang yang menyinari orang yang di cintainya, menyinari kami. Gomawo untuk kalian semua.
Aku tahu, kini banyak bintang-bintang bertebaran di sekitarku. Tapi bintang yang paling terang adalah dia, Hyun Ae-ku. Jauh sebelum orang-orang mengenalku, dia sudah mengenalku. Jauh sebeum orang-orang mengagumi suaraku, dia sudah lebih dulu mengaguminya. Dia selalu menjadi yang pertama dalam hidupku.
Hug, menjadi lagu yang kupersembahkan khusus untuknya. Hyun Ae-ah… apa kau mendengarnya?

Hug

I want to be your bed in your room for just a day
I want to make you go to sleep,
Comfottablke, warmly in my arms

For you, I’d win over all your problems
And all your busy errands
Even the monster in your dream

I wonder how day without me passes by for you
I’m so corrius to how much you really love me

I want to be your diary in your little drawer
I want to put all your secrets in my heart,
Without you kowing

I want to be your kitty for just a day
You fid it warm milk and sofly embrace it

Sing your playfulness with the cat abd your cute kisses to it
I guess I even felt a little jealous

My heart is like this…
You are the only person who can see it
No metter who I see, or where I am
I only look at you

I want to be you close lover just for a day
I’d be able to listen to your accomplishments and even your complaints
Just for you

In my heart, in my soul
Love is still something that’s awkward to me, but
I want to you give you everything in this world
Even if it would only be in my dreams
My heart like this
Just the fact that I can watch over you
Makes me so grateful
I’m so happy, even if I lack a lot

I want to be your lover forever
When you are in my arms
I want to become stone
So we can stay this way forever



Hyun Ae-ah… saranghaeyo…
-------------------------------------------------------------------------------

Ottokhe??? Apa kalian suka? RCL ya? XD

FF: Memories Without A Name -last chapter (versi b)

Ni endingnya sama Hyun Joong. mdh2n pada suka. RCL ya...




Chapter 5
Begin...

-Author POV-

Hyun Joong melepas jaket hitamnya. Mengambil kunci di saku celanya. Lantas menuju kamar Hyun Ae berada.
Ia membuka pintu itu. Hyun Ae berbaring di ranjang dengan mata terpejam. Mungkin tidur, pikir Hyun Joong.
Ia meletakan kalung yang di ambilnya di sisi kanan bantal Hyun Ae. Menatap gadis itu sesaat. Kemudian pergi.
Hyun Ae membuka matanya saat pintu kamar telah di tutup Hyun Joong. Dia duduk sambil menghela napas. Pandangannya jatuh pada kalung bermotif sederhana yang ada di sisi kanan bantalnya.
Ia pandangi kalung itu. Kemudian mengalungkannya di lehernya.
Pandangannya beralih ke pintu. ”Gomawoyo (terima kasih)...” lirihnya.
Sementara Jung Min dan Kyu Jong masih di posisi semula. Menatap rumah Hyun Joong dengan tatap tajam mereka.

Pagi kembali menyapa. Hyun Joong kembali mengantarkan sarapan pagi untuk Hyun Ae. Ia memperhatikan Hyun Joong dari tempat tidur. Tak sengaja ia melihat tangan kanan Hyun Joong. Memar dan terluka.
Hyun Ae menatapnya, berharap Hyun Joong menjelaskan padanya kenapa tangannya sampai seperti itu. Tetapi Hyun Joong justru memalingkan wajahnya. Tak ingin menatap Hyun Ae. Ia hendak melangkah pergi ketika tanpa sadar tangan Hyun Ae menahannya.

Every day and night with you
I take your hand
Every day every night everywhere
Now we feel connected and verified
Now, let the story begin

Every day and night with you
The heat and sparks form without cooling down
Every day every night everywhere
Now our contact increases
Now, you and I begin
(Begin by. DBSK)

Hyun Ae melepas perban yang membalut luka di lengannya. Ia balutkan pada tangan Hyun Joong.
Hyun Joong masih dengan posisi tak menatap Hyun Ae. Ketika balutan yang Hyun Ae buat selesai, ia langsung pergi. Hyun Ae hanya bisa menatap punggungnya yang lagi-lagi menghilang di balik pintu kamar itu.
Ia menatap layar laptopnya. Tampak di sana sosok Jung Min yang masih berbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Ia pikir Jung Min masih di rawat di sana. Segera saja ia menuju ke rumah sakit itu dengan sebuah pistol terselip di pinggangnya.
Tiba di rumah sakit, ia langsung mencari kamar Jung Min.
Ia langsung menodongkan pistol. Ia yakin di balik tirai biru itu sosok Jung Min masih terkulai tak berdaya. Sayangnya kenyataan berbeda. Jung Min sudah tak berada di sana.
Segera saja ia berlari. Melajukan mobilnya ke rumahnya.
Sementara itu, Jung Min yang melihat Hyun Joong yang keluar dari kediamannya segera beraksi. Ia masuk ke dalam rumah itu.
”Hyun Ae-ah?!” panggilnya keras. ”YA (Hei)!!!” teriaknya.
“Hyun Ae-ah?!!!”

---End Author POV---


-Hyun Ae POV-

Aku masih berbaring di tempat tidur ketika kudengar sebuah suara yang tak asing lagi.
”YA!!!!” panggil suara itu. ”Hyun Ae-ah?!!! Jawab aku??!!!” sebuah teriakan disertai ketukan pintu yang keras.
”Jung Min oppa...” lirihku. ”Apakah itu kau?”
”Hyun Ae-ah?!!!” suara di luar menjawab. Benarkah itu dia...?
”Jung Min oppa!!!!” sahutku keras sambil berlari menuju pintu. Menggedor-gedornya keras agar Jung Min tahu aku di sini.
”Hyun Ae-ah, kau di dalam?”
”Nde!!!”
”Tunggu sebentar.”
Ku dengar ia seeprti mencari sesuatu. Kemudian...
BUGHH!!! BUGHH!! BUGHH!!
Pintu perlahan terbuka. Ku dapati sosok Jung Min di depanku. Aku langsung lemas. Terduduk di lantai. Ku pikir aku tak akan bertemu dengannya lagi.
Jung Min memelukku. Hangat itu benar-benar nyata. Aku bukan bermimpi.
Ia melepas pelukannya. ”Kajja (ayo)!!” katanya sambil menarik tanganku.
Pertama kalinya aku keluar kamar. Aku berhenti melangkah. Kuedarkan pandanganku. Dapat ku lihat segala isi yang ada di ruang tengah rumah ini. Lampu-lampu, rak-rak, dan sebagainya. Pandanganku terhenti pada sebuah foto. Kim Hyun Joong, nama itu tertulis di sana. Sebuah perasaan tak asing merasuki hatiku.

What if
I met you first
No, if I didn’t know you
These thoughts are useless
For I’m already living in the deeply set times of you
(What If by Super Junior)
Jung Min menarik tanganku lagi. Menuju pintu depan.
Namun langkah kami langsung terhenti ketika satu sosok bermata dingin menodongkan senjatanya. Jung Min mengangkat tangannya tanda menyerah.
Bugh!!!
Sosok itu memukul Jung Ming dengan pistolnya. Cukup keras hingga mampu membuat Jung Min pingsan seketika.
”Jangan...” desisku sambil terduduk ketakutan.
Sosok itu langsung menarikku dengan paksa. Memasukkan ku ke dalam mobil BMW silver miliknya.
Dia bagian dari masa laluku. Orang yang pernah kucintai. Tapi bersamanya aku tak berhasil menemukan bahagia. Aku meninggalkannya. Mengabaikan, bukan, berusaha melupakan janji yang pernah kubuat padanya.
Tapi, dia semenakutkan sekarang. Dia yang kukenal dulu begitu menyayangiku meski tatap tajamnya membuatku kehilangan keberanian.

I still think of the times with you
But I must learn to let go
I can’t dwell on the past; it’s time to move on
‘Cause they are just nameless memories
(Memories without a name by Heo Young Saeng)

***

Langkah Kyu Jong yang terseret menyadarkanku. Ia menodongkan pistolnya ke arahku.
”AAAAAAAAaaaaa....!!!!!!!!” aku berteriak ketakutan dengan mata terpejam.
DOR!!!
Persendianku lemas.
Tuk!
Sesuatu terjatuh ke tanah.
Brugh!!
Ku buka mataku perlahan. Terlihat olehku sosok Kyu Jong yang memegang dada kirinya. Pistolnya telah jatuh ke tanah.
Di belakangnya kulihat seseorang yang ku kenal,Hyun Joong, menodongkan pistolnya. Dia masih hidup?
Kusadari air mataku mengalir untuknya.
Kyu Jong menatapku. Kali ini tatapannya sangat lembut. Kembali aku menagis tertahan saat ku dengar lirih katanya, ”Saranghae... youngwonhi... (aku mencintaimu... selamanya...) Hyun Ae-ah...”

Even if you are far from where I am
If you should leave, you musn’t tell me
I may be a fool but, I will not forget you
Your back turned is something I will never want to see
(If You Can’t by Park Jung Min)
”Oppa...” air mata mengalir dari sudut mataku. Kyu Jong terkulai tak berdaya. Satu hal yang ku tahu pasti, dia sudah tiada.
Hyun Joong membuang pistolnya. Perlahan mendekatiku. Dia meringis sambil memegangi dada kirinya.
”Gwencanayo...”dia memelukku. Tangisku kembali pecah. ”Tenanglah...” dia mengusap rambutku lembut. Napasnya terdengar lelah.
Sirine polisi terdengar. Tak lama kemudian kulihat sosok Hyung Joon, sahabat Jung Min datang.
***

Is it the end???? Blum. ini saya beri langsung epilognya....


~Epilog~

Hyun Ae tak pernah mau masuk ke ruang rawat Hyun Joong. Jika ia ingin melihat keadaan laki-laki itu dia hanya memilih menatap sosoknya dari luar kamar. Atau bertanya dengan suster yang baru keluar dari kamarnya.
Bukan ingin mengacuhkan. Hanya saja, dia perlu waktu untuk menata hati. Karena sebuah cinta, tanpa ia sadari, ia jatuhkan pada Hyun Joong.
Hyun Joong pun hanya mampu menatap sosok Hyun Ae. Dia tak berani mendekat. Merasa tak pantas.
Saat ini Hyun Ae menatap dua gundukan di depannya. Kyu Jong dan satunya Jung Min. Kedua orang yang pernah dicintainya ini dimakamkan di kota Seoul. Hyun Ae mengunjungi mereka beberapa kali selama sebulan ini.
“Oppa… mianhae…” ucap Hyun Ae setiap kali berada di depan makam mereka.

I can’t fully express my feelings for you (I can’t)
When the moon can’t be seen in the night sky
I’ll be able to meet you
One thousand years of feelings
Living on in a song
So that someday
When I’m reborn
I’ll be able to meet you
(A Thousand Years Love song by. DBSK)

Suatu hari di supermarket.
Duk!!!
Hyun Ae tak sengaja menambrak sosok di depannya. Ia segera minta maaf.
“Aku sengaja..” sebuah suara yang tak asing berasal dari orang yang berdiri di depannya.
“Eh?” Hyun Ae langsung mendongak. Dengan jelas ia melihat sosok di depannya.
Hyun Joong??? Batinnya meneriakkan nama itu.
Ia lekas berlari.
Hyun Joong mengejarnya.

please, do not go far away
please, do not go far away
where I can’t find you
do not go so far away
do not go so far away

It can’t happen like this
It can’t be
come back to me please!

To me please…

I beg of you…
don’t leave, don’t leave…
(If You Can’t by Park Jung Min)

Ia berhasil meraih tangan Hyun Ae. Ia menariknya ke pelukannya.
“Kau boleh membenciku. Tapi kumohon… jangan acuhkan aku…” bisiknya di telinga Hyun Ae. Bulir air mata menggenang di pelupuk mata Hyun Ae.
“Karena aku mencintaimu, ku mohon jangan acuhkan aku.”
Hyun Ae terisak sekarang. Memeluk erat sosok di depannya.

~TAMAT~

Bagaimana pendapat kalian? Sesuai harapan kah? Haha, saya sebagai author juga bingung mengakhirinya bagaimana. Jadi saya putuskan dengan akhir bersama Hyun Joong seperti ini. Cukup romantis dan membuat kalian terharu kan? *maunya, hehe…*
See you di ff berikutnya. Have a nice day!!!! :D

FF: memories Without A Name -last chapter (versi a)

Hm... langsung baca saja ya....

Chapter 5
Begin...

-Author POV-

Hyun Joong melepas jaket hitamnya. Mengambil kunci di saku celanya. Lantas menuju kamar Hyun Ae berada.
Ia membuka pintu itu. Hyun Ae berbaring di ranjang dengan mata terpejam. Mungkin tidur, pikir Hyun Joong.
Ia meletakan kalung yang di ambilnya di sisi kanan bantal Hyun Ae. Menatap gadis itu sesaat. Kemudian pergi.
Hyun Ae membuka matanya saat pintu kamar telah di tutup Hyun Joong. Dia duduk sambil menghela napas. Pandangannya jatuh pada kalung bermotif sederhana yang ada di sisi kanan bantalnya.
Ia pandangi kalung itu. Kemudian mengalungkannya di lehernya.
Pandangannya beralih ke pintu. ”Gomawoyo (terima kasih)...” lirihnya.
Sementara Jung Min dan Kyu Jong masih di posisi semula. Menatap rumah Hyun Joong dengan tatap tajam mereka.

Pagi kembali menyapa. Hyun Joong kembali mengantarkan sarapan pagi untuk Hyun Ae. Ia memperhatikan Hyun Joong dari tempat tidur. Tak sengaja ia melihat tangan kanan Hyun Joong. Memar dan terluka.
Hyun Ae menatapnya, berharap Hyun Joong menjelaskan padanya kenapa tangannya sampai seperti itu. Tetapi Hyun Joong justru memalingkan wajahnya. Tak ingin menatap Hyun Ae. Ia hendak melangkah pergi ketika tanpa sadar tangan Hyun Ae menahannya.

Every day and night with you
I take your hand
Every day every night everywhere
Now we feel connected and verified
Now, let the story begin

Every day and night with you
The heat and sparks form without cooling down
Every day every night everywhere
Now our contact increases
Now, you and I begin
(Begin by. DBSK)

Hyun Ae melepas perban yang membalut luka di lengannya. Ia balutkan pada tangan Hyun Joong.
Hyun Joong masih dengan posisi tak menatap Hyun Ae. Ketika balutan yang Hyun Ae buat selesai, ia langsung pergi. Hyun Ae hanya bisa menatap punggungnya yang lagi-lagi menghilang di balik pintu kamar itu.
Ia menatap layar laptopnya. Tampak di sana sosok Jung Min yang masih berbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Ia pikir Jung Min masih di rawat di sana. Segera saja ia menuju ke rumah sakit itu dengan sebuah pistol terselip di pinggangnya.
Tiba di rumah sakit, ia langsung mencari kamar Jung Min.
Ia langsung menodongkan pistol. Ia yakin di balik tirai biru itu sosok Jung Min masih terkulai tak berdaya. Sayangnya kenyataan berbeda. Jung Min sudah tak berada di sana.
Segera saja ia berlari. Melajukan mobilnya ke rumahnya.
Sementara itu, Jung Min yang melihat Hyun Joong yang keluar dari kediamannya segera beraksi. Ia masuk ke dalam rumah itu.
”Hyun Ae-ah?!” panggilnya keras. ”YA (Hei)!!!” teriaknya.
“Hyun Ae-ah?!!!”

---End Author POV---


-Hyun Ae POV-

Aku masih berbaring di tempat tidur ketika kudengar sebuah suara yang tak asing lagi.
”YA!!!!” panggil suara itu. ”Hyun Ae-ah?!!! Jawab aku??!!!” sebuah teriakan disertai ketukan pintu yang keras.
”Jung Min oppa...” lirihku. ”Apakah itu kau?”
”Hyun Ae-ah?!!!” suara di luar menjawab. Benarkah itu dia...?
”Jung Min oppa!!!!” sahutku keras sambil berlari menuju pintu. Menggedor-gedornya keras agar Jung Min tahu aku di sini.
”Hyun Ae-ah, kau di dalam?”
”Nde!!!”
”Tunggu sebentar.”
Ku dengar ia seeprti mencari sesuatu. Kemudian...
BUGHH!!! BUGHH!! BUGHH!!
Pintu perlahan terbuka. Ku dapati sosok Jung Min di depanku. Aku langsung lemas. Terduduk di lantai. Ku pikir aku tak akan bertemu dengannya lagi.
Jung Min memelukku. Hangat itu benar-benar nyata. Aku bukan bermimpi.
Ia melepas pelukannya. ”Kajja (ayo)!!” katanya sambil menarik tanganku.
Pertama kalinya aku keluar kamar. Aku berhenti melangkah. Kuedarkan pandanganku. Dapat ku lihat segala isi yang ada di ruang tengah rumah ini. Lampu-lampu, rak-rak, dan sebagainya. Pandanganku terhenti pada sebuah foto. Kim Hyun Joong, nama itu tertulis di sana.
Jung Min menarik tanganku lagi. Menuju pintu depan.
Namun langkah kami langsung terhenti ketika satu sosok bermata dingin menodongkan senjatanya. Jung Min mengangkat tangannya tanda menyerah.
Bugh!!!
Sosok itu memukul Jung Ming dengan pistolnya. Cukup keras hingga mampu membuat Jung Min pingsan seketika.
”Jangan...” desisku sambil terduduk ketakutan.
Sosok itu langsung menarikku dengan paksa. Memasukkan ku ke dalam mobil BMW silver miliknya.
***

Langkah Kyu Jong yang terseret menyadarkanku. Ia menodongkan pistolnya ke arahku.
”AAAAAAAAaaaaa....!!!!!!!!” aku berteriak ketakutan dengan mata terpejam.
DOR!!!
Persendianku lemas.
Tuk!
Sesuatu terjatuh ke tanah.
Brugh!!
Ku buka mataku perlahan. Terlihat olehku sosok Kyu Jong yang memegang dada kirinya. Pistolnya telah jatuh ke tanah.
Di belakangnya kulihat seseorang yang ku kenal,Hyung Joon, sahabat Jung Min, menodongkan pistolnya.
Kyu Jong menatapku. Kali ini tatapannya sangat lembut. Kembali aku menagis tertahan saat ku dengar lirih katanya, ”Saranghae... youngwonhi... (aku mencintaimu... selamanya...) Hyun Ae-ah...”
”Oppa...” air mata mengalir dari sudut mataku. Kyu Jong terkulai tak berdaya. Satu hal yang ku tahu pasti, dia sudah tiada.
”Palli!!!” ku lihat banyak orang berseragam polisi mendekat. Mengangkat tubuh Jung Min, Hyun Joong, dan Kyu Jong.
Hyung Joon mendekat.
”Kau aman Hyun Ae. Kajja. ”
Hyung Joon membawaku ke sebuah rumah sakit. Di sana Jung Min di rawat. Ia masih dalam keadaan kritis.
----End Hyun Ae POV----

Is it the end???? Blum. ini saya beri langsung epilognya....


~Epilog~

Hyun Joong dan Kyu Jong di makamkan di pemakaman umum di kota Seoul. Hyun Ae mengunjungi mereka beberapa kali selama sebulan ini.
“Oppa… mianhae…” ucap Hyun Ae setiap kali berada di depan makam mereka.

I can’t fully express my feelings for you (I can’t)
When the moon can’t be seen in the night sky
I’ll be able to meet you
One thousand years of feelings
Living on in a song
So that someday
When I’m reborn
I’ll be able to meet you
(A Thousand Years Love song by. DBSK)

Setelah Jung Min di bolehkan pulang oleh Dokter Young Saeng kemarin, kunjungan ke makam itu sedikit berubah. Karena kali ini Jung Min ikut berkunjung.

~TAMAT~

Bagaimana pendapat kalian? Atau kalian menginginkan ending yang berbeda? Haha, saya sebagai author juga bingung memilih siapa yang harusnya ebrsama kalian. Saya cinta ketiganya *author kok mementingkan perasaannya!* ‘biarin!’ *keras kepala!* :P
See you di ff berikutnya. Buat yang suka baca cerpen dan blum di tag cerpen adaptasi dari kehidupan teman saya silahkan tinggalkan permintaan anda di coment ff ini atau dinding saya… have a nice day!!!! :D

FF: Memories Wihout A Name -chapter 4-

O.o sudah mendekati akhir cerita. Bagaimana? Perasaan di mv apakah berhasil kugambarkan dengan baik? Semoga saja Y.Y


Chapter 4
Where is Hyun Ae??

-Jung Min POV-

Perlahan aku membuka mataku. Buram. Samar kudengar bunyi alat penunjuk detak jantung.
Aku mengerjapkan mataku. Beberapa detik kemudian barulah terlihat dengan jelas di mana aku sekarang. Aku melihat sekeliling. Tak kudapati Hyun Ae di sisiku.
Ah, dia juga terluka, batinku.
Waktu seakan berhenti ketika aku teringat. Ketika aku setengah sadar di jalanan hari itu, beberapa saat setelah tembakan mengenai kami. Satu sosok berjalan mendekat. Kemudian mengangkat tubuh Hyun Ae. Menjauh dariku.
Siapa laki-laki itu??
Pintu terbuka. Hyung Joon, sahabatku, tampak terkejut melihat aku yang sudah siuman.
”Sebentar, aku panggilkan dokter.” katanya lalu pergi. Tapi aku menahan langkahnya dengan menanyakan Hyun Ae.
”Apakah... kau tahu... di mana... Hyun Ae... sekarang..?” tanyaku lirih.
Ia berbalik. Menatapku sesaat. ”Kami sedang menyelidikinya hyung (abang).”
”Apa kau tahu, Hyun Ae... dia.. seorang laki-laki membawanya saat kami terluka.”
Hyung Joon mengangguk. ”Tenanglah... Kalau ada kabar, aku langsung memberitahumu, hyung. Aku janji.”
Aku menatap punggungnya yang menghilang. Beberapa menit kemudian dokter datang dan langsung memeriksa keadaanku. Dia bilang aku perlu istirahat di rumah sakit sampai aku benar-benar pulih.
”Berapa lama, Dok?” tanya Hyung Joon.
”Mungkin dua minggu.”
”Khamsahamnida (terima kasih) Young Saeng-ssi.”
Dokter yang di panggil Young Saeng mengangguk. Lantas meninggalkan kami.
Hyung Joon menatapku. ”Kesembuhanmu juga penting, hyung. Aku pergi dulu.”
Aku mengangguk.

Dua minggu lebih kesehatanku baru pulih. Aku keluar dari rumah sakit. Namun keberadaan Hyun Ae baru ku temukan sehari kemudian. Dia di duga masih bersama laki-laki yang kini ku tahu bernama Kim Hyun Joong. Laki-laki yang di duga menembakku.
Hyung Joon memintaku bersabar menunggu. Membiarkan polisi yang menyelamatkannya. Tapi aku sudah tidak bisa menunggu lagi. Bagaimana kalau terjadi hal-hal buruk pada Hyun Ae-ku.
Hyung Joon tak mau memberi tahu alamat Kim Hyun Joong itu padaku. Polisi belum tahu pasti, katanya. Mungkin benar, mungkin juga bohong.
Dengan kesal aku memacu mobilku. Menyusuri ruas jalan kota Seoul. Berharap, bisa menemukan sosok Hyun Joong di antara orang-orang yang ku lihat di jalan-jalan.
Nyaris putus asa. Namun angin malam membawa keberuntungan padaku. Sekitar tujuh meter dariku kulihat Hyun Joong menatap toko perhiasan. Memecahkan kaca jendela toko tersebut. Ia tampak mengambil sesuatu. Lalu melangkah pergi.
Aku mengikutinya di balik kemudiku.
Dia masuk ke sebuah rumah. Tak lama setelah dia masuk, lampu-lampu di rumah itu menyala. Apakah di sini tempat tinggalnya? Apakah Hyun Ae benar-benar ada di sana? Aku harap begitu. Jika tidak, aku tak tahu harus ke mana lagi mencarinya.

----End Jung Min POV----



-Kyu Jong POV-

Aku mencari rumah sakit yang merawat Jung Min. Kupikir dia di sana di rawat bersama Hyun Ae. Pistol yang ku persiapkan jadi tidak berguna ketika tahu di rumah sakit itu hanya ada dia. Di mana Hyun Ae? Apakah dia mati? Bukankah tembakanku hanya mengenai lengannya?
Aku tak sengaja mencuri dengar perkataan Jung Min dan seseorang. Orang itu bilang sedang menyelidikinya.
Ku dengar suara lagi. Sepertinya suara Jung Min.
”Apa kau tahu, Hyun Ae... dia.. seorang laki-laki membawanya saat kami terluka.”
Seorang laki-laki? Membawa Hyun Ae? Siapa? Ah, apakah dia ada hubungan dengan Hyun Ae?
Ku dengar sebuah jawaban.
”Tenanglah... Kalau ada kabar, aku langsung memberitahumu, hyung. Aku janji.”
Aku diam. Meninggalkan tempat itu sesaat kemudian.
Aku pastikan akan mengikuti laki-laki itu dan menemukan Hyun Ae.
Melewati jalan di atas sungai Han, dadaku berdesir. Teringat kembali tentang kenanganku bersama Hyun Ae. Kami yang hanya diam sambil menatap air sungai yang tenang.
Ketika malam merambat ia akan berbisik mengatakan, ”Oppa, aku harap aku bisa seperti bintang yang menyinari jalanmu.”
Tidakah ia tahu kalau kata itu mengakar hingga ke palung hatiku?
Suatu senja yang sangat indah, di tepi sungai yang sangat disukainya ia bertanya, ”Oppa... Apa arti Hyun Ae untukmu?”
SEGALANYA! Tidakkah ia dengar jawaban itu? Ia segalanya buatku. Lebih dari sekedar harapan dan cinta. Bersamanya aku hidup. Aku rela jadi apapun asal bisa bersamanya. Tapi kenapa? Kenapa ia membuangku????
Hyun Ae-ah...!!!!! WAEYOOOO???!!!!!, teriak hatiku.

I must have gotten ill from missing you so much
From loving you too much
Just one thing… your heart
That one thing
Can’t you just share it with me
Can’t you love me
(_____ by. ___)


Aku mengikuti jejak Jung Min. ia berputar-putar tanpa tujuan. Jangan-jangan ia tak tahu di mana Hyun Ae.
Aku memutuskan berhenti mengikutinya, tapi sikapnya justru menghentikan pikiranku. Aku menunggunya. Dan sepertinya dia menunggu laki-laki yang sedang berdiri di sebuah toko perhiasan.
Ia mengikuti ke mana laki-laki itu pergi. Begitu juga denganku.
Laki-laki itu masuk ke sebuah rumah. Lampu-lampu di dalam rumah tersebut terlihat menyala.
Jung Min menunggu di balik kemudinya.
Ku alihkan pandanganku ke rumah laki-laki tadi. Apakah Hyun Ae ada di sana?
---End Kyu Jong POV---

RCL ya chingu.... XD

FF: Memories Without A Name -chapter 3-

Hm... saya jadi deg-degan....
Slamat Membaca!!!!
Chapter 3
Way to Love

-Hyun Joong POV-

Aku merebahkan Hyun Ae yang masih terpejam di kamarku. Aku memutuskan merawatnya di rumahku karena hanya ini kesempatanku bersamanya. Ku tatap ia sebentar kemudian keluar. Aku mengunci pintu kamar tersebut. Aku takut saat ia terbangun ia akan pergi. Meninggalkanku yang belum sempat menunjukan aku mencintainya.
Ku ambil perban dan obat merah. Juga beberapa obat tablet penghilang rasa sakit.
Perlahan ku buka pintu kamar. Ia tengah duduk sambil meringis memegangis lengannya yang terluka. Aku duduk di kasur,cukup dekat dengannya. Kurasai hatiku bergetar hebat. Ia menatapku bingung.

Why, you don’t know
You don’t know me
I wish that you will take my way whole heart
I don’t need another
I only wish for your love
(Love Like This by. SS501)

Dalam diam aku mengubah posisi duduknya yang semula menghadapku kini memunggungiku. Ku lepas blezernya perlahan. Ia merintih saat tak snegaja blezernya mengenai lukanya.
Lukanya tak begitu dalam. Sepertinya perlurunya tidak bersarang di lengannya. Syukurlah.
Aku membalut lukanya usai menetesinya dengan obat mereh. Setelah selesai, lagi-lagi, dengan tanpa berkata sepatah katapun aku menyerahkan dua buah obat tablet dan segelas air padanya.
Tanpa berkata, ia meminum obat itu.
Aku keluar. Menguncinya. Seperti menyadari bahwa dirinya ku kunci dari luar, ia berlari mendekati pintu. Menggedor-gedornya dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Aku tak berkutik. Hanya menatap pintu itu sesaat kemudian pergi.

The closer I get
More scared I get
But this love can’t be stopped
Why is it just my love that is slow
Why is it just my love that is hard
Even if I’m by your side
You’re the whole world
I look at only you
I stare into distance in front of you
(Can You Hear Me by. Tae Yeon)

Aku akan melihat wajahnya jika aku membawakan makan pagi, siang, dan malam untuknya. juga membawakan baju ganti untuk di pakainya. Dan jika tengah malam, aku akan mengunjunginya. Menatap wajahnya yang penuh kedamaian saat tidur. Lalu keluar dan berharap pagi segera datang. Seperti itu setiap hari.
Aku sadari masakanku tidak terlalu enak. Ia tak pernah menghabiskannya. Sebenarnya aku ingin mengajaknya ke dapurku. Ingin mencicipi masakan buatannya. Tapi lagi-lagi rasa takut menghantuiku. Aku takut ia pergi, dan aku tak bisa meraihnya lagi.
Sambil memikirkan hadian apa yang ingin ku berikan padanya, aku mengantarkan makan siangnya. Saat kamar terbuka, ia tak terlihat di kasur itu. Aku masuk dan menatap kamar mandi. Mungkin dia di sana pikirku.
”Hyaa!!!!” sebuah teriakan dan...
Bugh!!!
Sesuatu yang berat menghantam bahuku. Aku mematung sesaat. Ku letakkan makan siangnya di meja dekat ranjang, seperti biasanya.
Aku berbalik. Melangkah keluar. Sekilas ku lihat ia berdiri ketakutan sambil memegangi benda berat yang ia hantamkan padaku.
Aku kembali mengurungnya di kamar itu.

I’ll never let you go
Hey, stay by my side
Let’s count each passing season
Right by your side like this
My Life we’ll walk together
All the time, forever
(Song For You by. DBSK)

Aku menatap layar laptopku. Satu target terpampang di sana. Sosok laki-laki yang pernah menyakiti Hyun Ae. Baru kudapat infonya beberapa hari yang lalu. Ia sering berkunjung ke club “Hae”. Aku akan menghabisinya hari ini.
Ku ambil pisauku. Ku bayangkan rak yang berjarak dua meter di depanku adalah sosok orang itu.
Suuuut!
Pisau melayang. Kubayangkan mengenai bahunya.

Di club tersebut ku lihat dia sedang minum. Langsung saja ku ambil pisauku dan melemparkan ke arahnya. Benar-benar tepat mengenai bahunya. Ia pingsang seketika. Tidak. Dia mati!
Setelah itu keributan terjadi. Mereka, para pekerja di club dan (mungkin) anak buah dari laki-laki tadi mengejarku. Sekuat tenaga aku melarikan diri.
Terjebak di lorong yang sempit, aku harus menghajar mereka agar aku bisa lari.
Cukup lama, hingga akhirnya aku berhasil menyandra satu orang dan menodongkan pisau ke leher orang itu. Teman-temannya angkat tangan. Tanda menyerah.
Perlahan aku berjalan mendekati pintu. Ku dorong orang yang kusandra tadi sekuat tenaga, menjauh dariku.
Aku berhasil lari.
Setelah merasa aman, aku berhenti. Mengatur napasku, kemudian berjalan.

Malam yang sunyi aku melewati toko perhiasan yang sudah tutup. Aku teringat Hyun Ae.
Ku dekati toko tersebut. Sebuah aklung degan desain sederhana, mungkin Hyun Ae akan suka.
Dengan sekuat tenaga aku memecahkan jendela kaca toko tersebut dengan tanganku.
----End Hyun Joong POV----

Silahkan tinggalkan coment... :D

FF: Memories Without A Name -chapter 2-

Hahaha, langsung up date semuanya aja ya. Nih chapter keduanya. RCL ya....

Chapter 2
Crazy of Love

-Hyun Ae POV-

Hampir sebulan yang lalu. Sabtu sore. Aku berjalan riang sambil memakan es krimku. Aku melangkah sambil membayangkan hal-hal menyenangkan yang akan ku lakukan bersama Jung Min. Senyum merekah di wajahku. Dia adalah namja chinguku. Namja chingu terbaik yang pernah aku punya. Ia riang, ceria, ramah, penyayang, tulus, dan baik hati. Senyumya selalu menghangatkan jiwaku. Tawanya mampu menyirami kegersangan yang bertahta di hatiku.
Saat sednag asyik memkirkannya, handphone ku berbunyi. Di layar tampak fotonya yang sedang tertawa. Aku menjawab panggilannya.
”Annyeong... Hyun Ae-ah.” sapaan seperti biasanya. Suara renyahnya mengukir sebuah senyum di bibirku. Ah, selalu begitu.

I can’t know what happiness is
There can’t be a happiness without you
Just don’t do farewells... just be my side
There can’t be a happiness without you
I now know that love is an important thing
There can’t be love without you
(Haeng bok ee ran by Hyun Joong~ ost.BBF)

”Annyeong oppa...” sahutku.
”Kau di mana?”
”Jangan melangkah lagi.”
”Eh?”
”Aku ada di depan Jung Min oppa sekarang?”
”Benarkah? Di mana?”
”Coba palingkan wajah oppa ke kanan.”
Jung Min memalingkan wajahnya ke kanan. Aku melambaikan tanganku. Ia balas dengan senyum lebarnya yang khas sambil menutup telpon.
Aku menyebrangi jalan. Dia juga begitu.
Kami sudah dekat ketika....
DOR!
Sebuah peluru mengenai Jung Min.
Saat aku hendak mendekat,kudengar sebuah tembakan lagi. Sakit! Kurasa sakit di lengan kiriku. Aku terdorong ke belakang. Pandanganku kabur. Kemudian gelap. Samar kudengar rintihan.
”Hyun Ae...”
Suara Jung Min oppa. Aku ingin membuka mata tapi tak bisa.
----End Hyun Ae POV----

-Hyun Joong POV-

Seseorang berambut sebahu, ceria, dengan sebuah senyum selalu terukir di bibirnya, dan suaranya yang indah setiap kali berkata membuat hatiku bergetar. Tanpa ku sadari, entah sejak kapan aku telah jatuh cinta padanya. Perasaan tidak ingin kehilangannya mengganggu hari-hariku.
Pertemuaku dengan gadis itu ketika ia membeli es krim di sebuah mini market. Saat itu aku hendak membeli minuman dingin. Ia tak sengaja menabrakku yang berjalan berlawanan arah dengannya. Dengan segera ia meminta maaf. Membungkukkan tubuhnya beberapa kali. Biasanya, tak peduli perempuan atau laki-laki, siapapun yang berani menubrukku, aku pasti langsung marah. Tapi kali itu berbeda. Mungkin karena suara merdunya, mungkin nada pernyesalan yang di tunjukkannya dari permintaan maafnya, mungkin karena matanya yang ketakutan kalau-kalau aku bentak, atau mungkin... sudahlah. Aku tak tahu sebabnya. Yang jelas tiba-tiba saja saat itu emosiku menguap. Pergi entah ke mana.

Baby, why are you doing this to me
Who’s fallen in love with you?
Don’t step back, saying you’re afraid
Just leave it up to me
How’s that, my lady
(Ring Ding Dong by.SHINee)

”Kau sendiri tidak apa-apa?” tanyaku tanpa sadar.
“Eh? Iya. Tidak apa-apa.” jawabnya sambil tersenyum. Kurasakan sejuta mawar mekar di hatiku.
Aku segera memalingkan wajah. Masuk ke dalam minimarket tersebut. Meninggalkan dia yang menatapku dengan bingung. Aku tak peduli. Tapi detik berikutnya ku sadari aku menyesal. Saat aku berbalik, sosoknya sudah tak ada.
Aku melangkah keluar. Kudapati dia yang masuk ke sebuah mobil. Tanpa berpikir panjang aku mengikutinya.
Hampir tiga bulan setelah pertemuan itu. Dan selama itu pula aku mengikutinya. Menyelidiki semua kegiatannya. Mengikuti ke mana ja dia pergi. Sampai suatu ketika aku tahu mobil yang selama ini mengantar dan menjemputnya bukanlah mobil keluarganya, melainkan kekasihnya.

Baby, I can’t breathe, oh crazy
You’re too pretty, I can’t take it, oh crazy
Why am I like this?
(Ring Ding Dong by.SHINee)


Perasaanku jadi aneh. Ada marah, benci, kesal, jengkel, cemburu, bercampur jadi satu. Ingin sekali kulenyapkan laki-laki yang selalu bergandengan tangan dengan pelangiku. Begitu juga dengan laki-laki yang menebar pesona padanya serta mengganggunya.
Suatu sore menjelang malam, Hyun Ae, begitu nama gadis itu, berjalan sendiri menuju toko tak jauh dari rumahnya. Saat ia pulang ku lihat dua orang pria mabuk menghadang jalannya. Ia tampak ketakutan. Sebelum aku sempat menolongnya kekasihnya yang kebetulan lewat (mungkin berniat berkunjung ke rumahnya) sudah menolongnya. Pria mabuk itu lari setelah di pukul olah laki-laki itu yang belakangan ku tahu bernama Park Jung Min.
Tapi aku belum puas. Aku mengejar dua pria mabuk tersebut dan menghajar mereka habis-habisan. Ku keluarkan pisau yang terselip di sakuku. Ku arahkan ke mereka.
Tanpa peduli mereka hidup atau mati, aku meninggalkan mereka. Salah mereka karena telah mengganggu Hyun Ae-ku.
Hari ini aku menatap layar laptopku sambil memainkan pistol di tangan kananku. Di sana tampak wajah Jung Min. Aku tahu tatapanku penuh kebencian padanya. Benci karena dia yang di pilih oleh Hyun Ae.
Kemudian aku melangkah. Mengambil jaket hitamku juga kunci mobilku.
Aku menunggu di sisi jalan. Aku tahu ini adalah tempat biasa mereka kencan. Pistol melekat erat di tangan kiriku.
Sepuluh menit kemudian kulihat Hyun Ae. Ia melambai ke seberang jalan. Jung Min tampak tersenyum lebar. Ku keluarkan pistolku. Senyum itu akan sirna sekarang.
5, 4, 3, 2, 1....
Dor!
Peluru di pistolku mengenai bahu kirinya.
Di dalam mobil aku tersenyum puas.
---end Hyun Joong POV---


-Kyu Joong POV-

Perasaan sayang bisa berubah jadi benci. Itu yang kurasakan saat ini. Itu semua bersumber dari gadis yang hingga kini masih ku cintai. Hyun Ae.
Ia, saat aku benar-benar mencintainya, memutuskanku. Mengatakan bahwa aku terlalu mengekangnya. Over protective. Selama bersamaku ia merasa tak bahagia.
Aku tahu itu. Dan aku berusaha. Semampu dan sekuat tenagaku. Tidakkah ia sadari itu?
Padahal aku sudah bilang padanya, ”Mari kita cari bahagia bersama-sama”. Saat itu ia mengiyakan.
”Meski lelah, berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku!” ia mengangguk. Lantas menunjuk kelingking kanannya padaku. Kebiasaannya ketika berjanji. Seperti anak kecil. Tapi aku menyukai hal itu.
Aku mengikat kelingkingku dengan kelingkingnya. ”Ku pegang janjimu!”
Janji itu, mungkin hanya sebuah angin lalu baginya. Tak perlu di penuhi. Tidakkah ia sadari kalau dialah yang membawakan harapan, bahagia, dan cinta padaku yang selalu sendiri? Tidakkah ia berpikir seperti aku, bahwa dirinya terlahir untukku. Dan aku terlahir untuknya. Meskipun aku mati, jika lahir kembali aku pun kembali jatuh cinta padanya.

It’s you
I don’t need anyone else, it’s only you
Even if you ask again, it’s only you
Even if you already have another lover
I can’t forget you
(It’s You by. Super Junior)

Tidakkah ia pikir bahwa dirinya adalah yang pertama juga terakhir yang kucintai di dunia ini??
Aku tanyakan padanya lewat tatapan mata saat kata putus itu terucap di bibirnya. Ia hanya menunduk dan berkata, ”Mianhae... Mianhae oppa. Jeongmal mianhae...” ia membungkuk. Kemudain menatapku. Lantas pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.
Apakah ia tahu, bahwa setelah hari itu aku memikirkannya. Nyaris gila. Membayangkan dia yang duduk di kursi sepan meja kerjaku. Kenangan-kenangan lain yang tertinggal menggeliat di otakku. Aku benar-benar merindukannya.

How can I forget all the special memories of you?
I still remember, my little princess
What I’m feeling must be love
It’s hard to hide it
When a smile appears on my face
I start to miss you
Before the day even ends
What should I do?
(My Little Princess by. dbsk)

Aku ingin menjadi angin yang bisa memeluknya dengan bebas. Menjadi bumi di mana ia pijak sekarang. Aku ingin dia kembali padaku. Aku ingin dia tak melupakanku.
Aku berdoa. Tapi doaku tak terkabulkan. Ia justru berlari ke orang lain. Berlari pada laki-laki yang bisa menatapnya dengan lembut lewat mata teduh yang di milikinya. Lelaki yang bisa membuatnya tertawa.
Aku tahu, selama denganku ia tak pernah tertawa seperti bersama laki-laki itu. Ia tak pernah tersenyum selebar itu. Aku tahu aku terlalu kaku untuknya. Tapi aku benar-benar mencintainya. Bahkan mungkin lebih dari laki-laki itu. Lebih dari sinar mentari yang sering kulihat. Lebih dari suara yang kudengar. Lebih dari udara yang kuhirup!

Tonight on the same day
It feels like you are here
I’m calling you again like a fool
(When We Will be Together by. dbsk)

Hyun Ae, gadis itulah yang melelehkan salju yang membekukan hatiku, tapi kemudian dia juga yang menurunkan salju. Membuatku kembali beku. Jadi kurasa cukup adil jika aku tak bisa memilikinya, maka orang lain pun tak bisa memilikinya juga.
Aku memainkan pistolku. Di gang sempit yang cukup tersembunyi aku menanti kehadirannya. Ia yang seperti biasa akan bertemu dengan laki-laki itu di ruas jalan ini.
Lima menit menunggu. Aku melihat sosok laki-laki hangat itu, Park Jung Min. Ia tampak tersenyum lebar ke seberang jalan. Pasti dia melihat Hyun Ae.
Benar saja. Di seberang sana ku lihat Hyun Ae melambai. Lalu melangkah mendekatinya sambil tersenyum gembira.
Aku mengarahkan pistolku. Kemudian melepaskan pulurunya. Ku lihat Jung Ming roboh. Apakah peluruku mengenainya?
Bruk!
Hyun Ae roboh ke belakang. Darah mengalir dari lengan kirinya.
----end Kyu Joong POV----


-Author POV-

Jung Min memegang bahu kirinya. Sambil meringis ia bergeser mendekati Hyun Ae.
”Hyun Ae...” panggilnya lemah.
Hyun Ae tak menjawab. Matanya tertutup. Jung Min berusaha memanggil sekali lagi tapi tenaganya telah habis. Ia pingsan.
Orang-orang di sekitar yang melihat kejadian itu terlihat kaget. Hyun Joong yang baru saja berada di antara mereka langsung mendekat. Tatap sedihnya tertuju pada Hyun Ae.
Perlahan ia mendekat. Mengangkat tubuh Hyun Ae. Lantas membawanya ke mobilnya. Tak peduli dengan sosok Jung Min yang terkulai tak berdaya di aspal.
Orang-orang yang melihat Hyun Joong membawa tubuh Hyun Ae pergi berpikir kalau Hyun Joong adalah kenalannya. Mereka fokus pada Jung Min. Seseorang di antara mereka langsung menelpon ambulan. Lima menit kemudian ambulan datang dan membawa Jung Min.
Sementara Kyu Joong, ia telah pergi sebelum sempat melihat Hyun Joong pergi membawa Hyun Ae.
----End Aouthor POV----
------------------------------------------------------------------------


Sekali lagi, RCL ya!!!!! XD