There was an error in this gadget

Saturday, June 26, 2010

FF: Love is Hurt chapter 2 -ending-

nah.. ini chap terakhirnya...
happy reading ^_^

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Title: Love is Hurt
Author: Imah Hyun Ae
Disclaimer: ini murni khayalan saya
Genre: angst
Cast: Hyun Ae and Donghae (super Junior)


“Love is Hurt”


-Donghae POV-
Aku berjalan penaln menuju taman dekat kost Hyun Ae. Memikirkan kenapa dia masih sedingin ini. Apa dia tidak athu aku begitu sakit diperlakukannya begitu. Bukan sakit di fisik. Tapi di sini. Di hati ini.
Aku sudah tak tahu lagi bagaimana berhenti mencintainya. Ribuan kali dia bersikap menyakitkan seperti ini aku tetap saja menyukainya. Tetap saja mencintainya. Kenapa Tuhan? Kenapa harus dia…?

-flashback-
“Ya~!!! Donghae oppa!!! Berhenti!!” teriak Hyun Ae sambil mengejarku.
Aku menjulurkan lidah padanya.
“Akan kubuat wajah oppa penuh warna, lihat saja!”
“Itu kalau kau berhasil menangkapku!” teriakkua, masih berlari menghindarinya di halaman.
Dia terus mengejarku.
Brugh!
Eh??
Aku berbalik. Kulihat dia terjatuh.
“Ah!” rintihnya.
Aku berlari mendekatinya dan melihat keadaannya. “Lutut dan tanganmu berdarah.”
Cemas, segera aku menggendongnya di bahuku.
Dia melingkarkan lengannya di leherku. Perasaan hangat menjalar seketika. Kenapa denganku?
Aku menurunkannya di krusi ruang tengah dan mengambil obat merah.
“Sakit oppa~” katanya manja saat aku membersihkan lukanya.
“Makanya, kalau lari lihat-lihat.”
Dia merengut. “Ini gara-gara oppa terus lari tahu! Coba kalau oppa rela kubalas, aku tak akan jatuh kan..”
“Kau menyalahkan oppa?” dalam hati aku tertawa melihat tingkahnya. Dongsaeng yang tidak mau kalah…
“Memang salah oppa kan?” tuntutnya.
Aku tersenyum. “Kau ini,” desisku sambil mengacak-acak rambutnya.
Aku diam. Membuatku membeku seketika. Matanya yang bulat. Rambut panjangnya yang lembut. Wajahnya yang bersih. Hey!! Kenapa dengan hatiku?
“Gwenchana?” aku menegurnya yang masih diam di tempatnya. Terlebih untuk menenangkan ahtiku yang tiba-tiba saja berbeda.
“Ah? Annio oppa.”
“Jangan bohong…” aku duduk di sampingnya dan membersihkan wajahnya yang kucoret tadi. Tanganku dingin seketika.
“Anni… hanya merasa di dekat oppa begitu nyawan.”
Aku menghentikan aktifitasku sesaat. Tanpa kusadari sebuah senyum mengembang di bibirku. “Jeongmal?”
Dia mengangguk.
Aku semakin tersenyum lebar.
“Kenapa oppa tersenyum?”
“Eh?” apa aku tadi tersenyum lebar? “Itu….Mungkin… oppa senang karena ternyata kau menyayangi oppa.”
Apa benar cuma perasaan sayang?
“Tentu saja kan oppa? Donghae oppa kan oppaku!”
Aku mengelus kepalanya dengan sayang. “Nde. Donghae oppa, oppa Hyun Ae seorang.” ^^
“Oppa juga menyayangiku kan?”
Aku menangguk. Sebuah senyum indah terukir di hatiku.
--end flashback--

Seharusnya aku tahu, itu awal dari smeua rasa ini. Kenapa? Kenapa hari itu aku berpikir Cuma sekedar sayang oppa terhadap dongsaengnya? Padahal seharusnya aku tahu, sejak hari itu aku memandangnya sebagai yeoja…
Aku menatap langit cerah di atasku.
Without words tears fall
Without words my heart breaks down
Without words I wait for love
Without words I hurt because of love
I zone out, I become a fool because I cried..
Looking at the sky
(Nothing Said by Jang Geun Seok ost. You Are Beautiful)

-flashback-
Hyun Ae selalu memanti kepulanganku. Biasanya kami bermain atau menonton drama kesukaannya. Tapi kali ini aku pulang bersama yeoja di sekolahku. Ada tugas yang harus kuselesaikan.
Benar saja, dia menungguku.
Aku dan temanku mendekat.
“Kenalkan ini dongsaengku yang manja, Hyun Ae. Hyun Ae, kenalkan ini teman oppa di sekolah, Yoona.”
Hyun Ae mengulurkan tangannya. Kuperhatikan wajahnya. Sepertinya dia tak suka. Ya!!! Kenapa hatiku justru senang??
“Senang bertemu denganmu,” kata Yoona.
“Kau tidak sibuk kan, saeng?” tanyaku.
Ah, tumben-tumbenan aku memanggilnya ‘saeng’. Kuperhatikan wajahnya lagi. Dia sepertinya tak menyukai panggilan itu. n.n
Dia mengangguk. “Bisa tolong buatkan minum untuk teman oppa tidak?”
Dia mengangguk lantas ke dapur.
Aku sedang tertawa bersama Yoona ketika Hyun Ae tiba di ruang tengah dengan dua gelas di atas nampan yang dia pegang.
Wajahnya tampak semakin kusut.
Dia mendekat ke sana dan menaruh nampan dengan kasar. Membuat air dalam gelas bergoyang dan jatuh ke kertas yang tak jauh dari nampan.
“Saeng?” aku terkejut melihat sikapnya tapi di sisi lain menikmatinya juga.
“Mian Yoona-yah.” Kataku pada Yoona sambil mengambil tisu dan mencoba mengeringkan kertas yang terkena air tadi.
“Gwenchana oppa.”
Oppa? Kenapa rasanya aneh dipanggil oppa olehnya?
“Saeng?” aku menggoda Hyun Ae dengan memanggilnya ‘saeng’ lagi. “Bisa tolong-“
“Aku benci oppa!” potongnya sambil menghentakkan kaki dan pergi ke kamarnya.
Tanpa bisa kucegah senyum mengembang di wajahku.
“Wae oppa?” Yoona menyadarkanku.
“Ah? Anni.” Tapi tetap saja aku mengulum senyum. Apa arti sikapnya tadi adalah cemburu?
--end flashback--

Setelah hari itu aku sering membawa yoeja chingu ke rumahku dan setiap kali juga kulihat dia marah.
Aku menikmatinya.
Dia bersikap dingin padaku tapi aku tak khuatir. Karena kupikir itu Cuma sikap cemburunya. Ternyata aku salah. Dia menghindariku hingga hari ini. Andai ku tahu akan begini jadinya, aku tak akan bertingkah kenak-kanakan seperti itu dulu. Apa-apaan membuatnya cemburu.
Karena takut dia semakin jauh, aku kembali mendekatinya. Bersikap layaknya seorang oppa menyayangi dongsaengnya. Tapi sepertinya aku terlambat. Dia tak mau kudekati lagi.
Kupikir ada baiknya juga dia bersikap seperti itu. dengan begitu perasaan yang salah ini tak akan tumbuh subur. Namun lagi-lagi pikiranku salah. Salah besar. Setahun tak bertemu denganya perasaan ini masih sama. Dia yang masuk SMA berasrama dan setelah tahun pertama tak pernah pulang. Ketika pulang untuk menunggu pengumuman kelulusan dan pendaftaran ke universitas, aku menyambutnya dengan gembira. Aku… ingin dia merasa oppanya yang sayang padanya tak berubah.
Tapi… hari itu, lagi-lagi dia memberi luka di hatiku.

-flashback-
“Mau lihat pialaku tidak? Aku selalu jadi juara di kompetisi dance lho.” Tawarku senang ketika Hyun Ae datang. Menyakitkan mengakui bahwa sejak aku datang, dia sama sekali tak menatapku!!
“Jangan hanya dance Donghae. Seharusnya kuliahmu juga dapat nilai yang memuaskan.” Umma menegurku.
“Arraseo umma.” ^__^
“Kajja!” aku menarik tangannya.
Aku terus bberjalan berhenti tepat di depan kamarnya. “Kau siap?” =D
“Apa menariknya?” ucapnya dingin. Dia melepas genggaman tanganku. Lantas meninggalkanku.
“Kehidupan asrama selalu serius ya?” godaku.
Dia tak mejawab. Juga tak berbalik.
“Aku harap Hyun Ae yang dulu segera kembali.” Kataku pelan. Aku sudah tak bisa jadi kekasihmu, karena itu, biarkan aku jadi oppamu. Biarkan semuanya seperti dulu. Tak apa Hyun Ae-ah… Tak apa jika perasaan ini tak pernah bisa kau balas, asal jangan acuhkan aku…
~You can’t leave me
Stay here even if it’s hard
If I can see you just a bit more
I’d smile for the amount of love left
Timeless, it isn't separation is it?~
(Timeless by Junsu dbsk ft. Zhang Li Yin)
--End flashback--

Hyun Ae-ah… andai bisa kembali ke masa lalu, aku… aku pasti tak akan membiarkan appa menikah dengan ummamu! Karena dengan begitu aku… aku bisa mengatakan perasaanku. Karena itu aku bisa berjuang untuk selalu berada di sampingmu. Karena itu aku bisa membisikkan ‘sarangahe Hyun Ae-ah’ setiap waktu.
Juga… aku bisa dengan senyum bahagia datang dan melamarmu. Menjadikanmu pendamping hidupku selamanya. ‘Hyun Ae-ah… jeongmal… saranghae…’ boleh kuungkapkan kata ini padamu?
Aku memutuskan menerima calon yang diajukan appa padaku. Dia cantik. Dan kuharap kelak bisa membuatku mencintainya.
Hari pernikahan semakin dekat, tapi hatiku justru menginginkan bertemu Hyun Ae. Terlebih dia bilang tak bisa datang.
Aku membujuk umma untuk pergi ke sini, menemuinya. Mengajaknya pulang bersama. Aku ingin… ada satu foto keluarga lengkap kami yang baru. Terakhir foto bersama adalah 7 tahun yang lalu.
--End Donghae POV--
***

--Hyun Ae POV--
“Hyun Ae-ah?” suara umma.
Kulihat jam. Pukul 6 malam. Aku tertidur rupanya.
“Kau sudah bangun? Kau belum makan dari tadi siang. Makanlah…”
“Aku belum lapar umma..”
“Makanlah meski sedikit.”
Aku menyerah.
Usai makan aku kembali lagi ke kamar.
Pintu kamarku di ketuk saat aku tengah merenung di dekat jendela. Pukul 9 malam. Umma kah?
“Apa kau sudah tidur?” suara oppa.
Aku memilih diam.
“Bisa tidak kita keluar sebentar?”
“…”
“Kau tidur ya? Baiklah… akan kutunggu sampai kau bangun.”
Aku mendekat ke pintu perlahan-lahan. Tak terdengar suara langkahnya yang beranjak pergi. Apa dia menunggu di depan pintu?
Tiga puluh menit, aku tetap tak mendengar suara. Penarasan aku membuka pintu.
Dia tersenyum lebar. “Kajja!” dia langsung menarikku. Aku berusaha melepasnya tapi gagal. Dia menggenggam tanganku terlalu kuat.
Dia masih menarikku. Kami sudah di jalan depan ruamh. Langkahnya tak berhenti. Mau ke mana?
Aku berusaha berontak. Berhasil.
Segera aku berbalik, menuju ke kost.
Satu tangan menarik lenganku. “Kajima~” lirihnya. “Chepal…”
Tak sengaja mataku bertemu dengan matanya. “Kali ini saja.” Lirihnya lagi.
Sadar, aku berontak lagi. Aku tak boleh dekat-dekat dengannya! Ya kan??? Jangan menahanku oppa… kumohon…
Lagi satu tangan menarikku. Kali ini lebih kuat. Membuatku berbalik dan….
Membuatku langsung ke pelukannya! Aku membeku seketika.
“Kajima~ Hyun Ae-ah.. Chepal molli kajima…” bisik Donghae oppa tepat di telingaku. ia semakin mempererat pelukannya.
Wae?
“Kali ini saja, jangan mengabaikanku…” lirihnya.
Lima menit berlalu dan dia masih memelukku erat. kepalanya bersandar di bahu kiriku dan kurasai mulai basah. Apa oppa menangis?
--End Hyun Ae POV--

-Donghae POV-
Aku mengajaknya keluar. Hanya ingin membuat sebuah kenangan kebersamaan kami yang mungkin untuk terakhir kalinya. Tapi ia terus saja berontak.
Aku menariknya. “Kajima~” lirihku. “Chepal…”
Mata kami bertemu. “Kali ini saja.” Lirihku lagi.
Entah kenapa dia berontak lagi. Kumohon Hyun Ae-ah, kali ini saja…
Aku kembali manariknya. Tapi kali ini lebih kuat. membuatnya berbalik dan….
langsung ke pelukanku! Tanpa kusadari aku merengkuhnya.
“Kajima~ Hyun Ae-ah.. Chepal molli kajima…” bisikku tepat di telinganya. Aku semakin mempererat pelukannya.
Perasaan selama ini menyeruak seketika. Perasaan yang tak pernah bisa bersatu, membuatku pilu. “Kali ini saja, jangan mengabaikanku…” lirihku.
Lima menit berlalu dan aku masih memeluknya erat. Kusandarkan kepalaku di bahu kirinya. Perlahan, pilu itu menciptakan kabut di mataku, kemudian jatuh membasahi bahunya. Aku memangisi perasaanku yang tak pernah bisa ku tunjukkan padanya. Menangisi cinta tak seharusnya kujatuhkan padanya.
“Saranghae…” tanpa ku tahu kata itu keluar dari mulutku.
“Jeongmal saranghae…” ulangku lirih bersamaan air mata yang kembali membanjir. “Jeongmal saranghae Hyun Ae-ah…” aku terisak sekarang.

~I love you
The only words I have to say to you are I love you
I love you
They've become such meaningless words, but I love you
But what good is it now
We'll never see each other again..
I know it's pointless, but I want to hold you back.~
(I Love You by Shim Changmin dbsk)

If there’s one life, it’s us now
Hold tight baby, timeless
Stain it on this heart
(Timeless by Junsu dbsk ft. Zhang Li Yin)
---End Donghae POV---

-Hyun Ae POV-
Pandanganku mengabur seketika ketika berulang kali dia mengucapkan kalimat itu.
“Sarangaheyo Hyun Ae-ah…” ucapnya lagi.
“Oppa…”
Tubuhnya bergetar hebat. Membuat air amtaku yang mengganntung ikuit terjatuh.
“Sarangahe Hyun Ae-ah…” ia masih menangis hebat.

~If there’s one life, it’s us now
Hold tight baby, timeless
Stain it on this heart~
(Timeless by Junsu dbsk ft. Zhang Li Yin)

Aku terisak sekarang.
“Apa yang harus kulakukan? Perasaan ini masih untukmu Hyun Ae-ah… Masih…”
Air mataku mengalir kian deras…
“Andai aku tidak menjadi oppamu, pasti sudah kukatakan sejak dulu. Jeongmal… jeongmal Hyun Ae-ah…” isaknya.
“Nado saranghae oppa…”bisikku menangis tak kalah hebat. “nado saranghae…” Aku membalas pelukannya dengan arat.
Kami sama-sama menangisi perasaan kami.
--
Kami menuju taman. Di sana, entah bagaimana kami mulai bercerita tentang perasaan ini. Perasaan yang ternyata sama-sama hadir 9 tahun lalu dan tak berubah.
Dia menggengam tanganku erat ketika kami berjalan menuju kostku.
Dua meter dari kost dia berhenti. Lantas mengecup keningku lama. Air manataku kembali menggantung.
“Setelah masuk, kau akan menjadi dongsaengku lagi.” Ucapnya sambil memandang kostku. Perih yang dia rasa juga perih yang kurasa.

~For it will only hurt like a moments fever
We both agree
This is timeless love
I’ll be leaving with the world
But will sadness also go with me?
You call for me for you are yearning
I will only leave scars on the door to your heart
Will I know after I swallow the tears that I’ve heaved from inside of me?
Hold my hand so I can’t leave
Timeless, it isn’t separation is it?~
(Timeless by Junsu dbsk ft. Zhang Li Yin)

“Kajja…” lirihnya enggan.
Aku menyeka air mataku yang jatuh. “Mianhae…”
---End Hyun Ae POV---

-Donghae POV-
“Mianhae…”Aku menghentikan langkahku.
“aku… tak bsia ikut pulang besok.” Ujer Hyun Ae di belakangku.
Aku menggganguk, dan perlahan masuk ke dalam bersamaan dengan bulir air mata yang membasahi pipiku lagi.
--
Semua undagan sudah datang. Pesta pernikahan sudah di mulai sejak tadi. Aku menyalami para undangan. Mencoba terlihat bahagia di hari pernikahan ini. Ketika sebuah e-mail masuk ke HPku aku berpamitaan. Kubuka e-mail tersebut.
From: Hyun Ae
Subject: -
“Chukae oppa… semoga kau bahagia… mian karena tak bsia datang. Aku rasa, aku baru bisa menemuimu jika perasaan ini sudah tak untukmu lagi… mianhae oppa…”
Aku menutup hpku sambil menatap angkasa. “Apa saat kau menemuiku nanti perasaanku juga sudah bukan untukmu lagi?” gumamku.

-end-
------------------------------------------------------
Ottokhe?? Ada yang nangis kah?? *Cuma harapan author*
Di tunggu commentnya. ^^d *buatlah saya lebih semangat lagi berkarya ^___^*
Gomaweo m(_ _)m

No comments:

Post a Comment