There was an error in this gadget

Monday, February 28, 2011

Cantik, I'm Coming!!! bab 11

Maaf, cantik I'm comingnya saya hapus ^^
coz mau di terbitkan ^^

Friday, February 25, 2011

(calon) Novel Timeless Love

Sinopsis Timeless Love
Oleh Imah_HyunAe

Leo, seorang pemuda bermata teduh dan berpenampilan biasa-biasa saja, jatuh cinta pada untuk pertama kalinya pada seorang gadis sederhana yang populer namun penuh kebaikan hati bernama Ana.
Ana, seorang gadis remaja yang hidupnya dipenuhi dengan kemelut. Tetapi ia selalu berusaha untuk tetap tersenyum dalam menjalani apa yang telah ditakdirkan untuknya.
Ana tak pernah tahu kebahagiaan itu apa, sampai ia bertemu dengan Leo, lelaki yang selalu menemaninya menatap langit di kursi yang ada di halaman samping sekolah. Leo yang selalu ada di sekitarnya dengan caranya. Leo yang membuat hari kelahirannya bukan lagi menjadi hari yang dibencinya.
Namun, Ana merasa ia amat tak pantas untuk Leo. Karena itulah ia meminta Leo agar jangan mencintainya saat laki-laki itu menyatakan cintanya pada Ana lewat lagu ‘Suaraku Berharap’ di pentas sekolah.
Leo akhirnya mengetahui alasan kenapa Ana menolaknya, berkat Mira yang menceritakan masa lalu Ana. Ia lalu memilih untuk tetap di sisi Ana. Menjadi tongkat yang mampu menyangga Ana pada saat apa saja. Juga membuat gadis itu bahagia.
Di antara keduanya terselip sosok Wahyu. Tak ada yang tahu bagaimana dan apa sebenarnya membuat Wahyu seakan menjadi sesosok makhluk yang begitu membenci keberadaan Ana.
Semua berjalan menyenangkan sampai akhirnya Leo harus pindah. Selama dua tahun tak bisa pulang. Dan ketika ia pulang, Ana telah menghilang.
Tahun berlalu. Berkat Wahyu, Leo menemukan Ana. Namun, kenyataannya berbeda. Ana telah menikah dan hamil!
Leo sudah hampir menyerah pada perasaannya ketika ia mengetahui kebohongan yang Ana buat. Belum sempat Leo mencari tahu apa alasan Ana berbohong dan bernapas lega, ia harus terempas lagi. Sakit. Bahkan jauh lebih sakit dari kebohongan Ana sebelumnya. Leo harus terluka amat dalam karena kenyataan itu. Ana ternyata tak seperti yang ia kira.
“Yang terlihat di luar, belum tentu mencerminkan yang isi di dalamnya, Leo…” kata Ana saat itu.
==================================

Give your comment ^^

Friday, February 18, 2011

FF Begin Chapter 25

Title : Begin chapter 25 ‘Lucky’
Author : Imah Hyun Ae
Ide : Park Yong Kyo
Genre : Romance
Tokoh :
1. Kim Hyun Ae (pembacaku atau kalau nggak mau…saya aja ea?? Hehehe ^^)
2. Park Yong Kyo aka Rima (teman kalian yang cinta ama Korea)
3. Lee Hyu Rim aka lia (teman kalian yang cinta ama Korea juga)
4. Kim Hyun Joong (suami Hyun Ae)
5. Jung Yunho (namja idaman Hyun Ae ^_^)
6. Kim Jae Joong (sahabat Hyun Joong kekasih Lee Eun Shi)
7. Kim Junsu (pasangan masih rahasia)
8. Lee Eun Shi (kekasih Kim Jae Joong)
9. And other member dbsk and SS501
------------------------------------------------------------------------

Begin Chapter 25
‘Lucky’

#Lia POV
Aku dan Rima sejak dua minggu lalu sudah menempati kosan baru kami. Ukurannya yang agak besar membuat dua orang ‘besar’ seperti aku dan Rima tidak merasa terlalu sempit. Tetangganya juga menyenangkan walau aku harus terbata-bata mengucapkan bahasa inggris bersama mereka juga sesekali bahasa korea bersama kamus lengkap Inggris-Indonesia, dan Korea-Indonesia di tanganku. Mereka seperti menghargai usahaku untuk bisa bahasa mereka, hahaha…
O,ya, Seperti yang direncanakan kosan kami dekat dengan rumah Hyun Ae. Hanya berbeda jalan saja. Kami setiap sore selalu berkunjung ke sana. Sekalian menikmati pemandangan senja yang memukai di belakang rumahnya yang langsung menghadap laut.
Kami juga bekerja di restoran Indonesianya. Katanya supaya kami mudah melayani tamu. Dia bahkan memperkerjakan kami setengah hari saja. Sisanya untuk kami mengenal kota Seoul. Ada-ada saja pikirannya. Tapi, lumayan juga sih.
Hari ini, usai bekerja aku dan Rima kembali ke kos kami. Beberapa menit kemudian aku memutuskan untuk jalan-jalan. Rima kuajak, namun ia menolak. Dan ide untuk jalan-jalan seorang diri tiba-tiba muncul. Pasti asyik. Tanpa Rima (karena dia sedang lelah katanya) dan tanpa Hyun Ae (karena aku tahu dia sedang repot mengurus cabang restorannya yang baru ^^). Perjalanan ini pasti ‘mengasyikan’. Kalau tersesat aku masih bisa menghubungi Hyun Ae. Yup, sudah mempersiapkan semuanya, dari baterai HP yang kuisi hingga full, pulsanya juga. Jadi aku tak perlu cemas.
Yup. Usai mengganti pakaian, aku keluar kos. Kuhirup udara Seoul di siang hari pada peralihan musim semi ke musim panas. Hm… berbeda dengan Indonesia.
Dengan senyum lebar, langkah pertama kumulai…
-End POV-
>>>cut>>>

#Junsu POV
Aku sudah mencari dan menguhubungi manajerku beberapa kali, tak ada jawaban. Padahal aku mau menitip belikan DVD PlayStation terbaru. Ke mana sih si hyung itu? Tidak tahu apa kalau aku tak akan tenang sebelum mendapatkan DVD itu?!! Aishh… kesalku sambil mengacak-acak rambutku. Kuintip kru yang lain. Semua terlihat sibuk. Member lainnya juga sibuk. Changmin sibuk pemotretan untuk iklan pakaian di sebuah majalah. Yoochun sedang iklan CF bersama Jae Joong hyung. Yunho hyung sibuk jadi model di MV versi drama lagu SHINee. Dan aku karena belum ada tawaran untuk drama musical terbaru, terpaksa menganggur. Sedang rekaman untuk single terbaru masih sepuluh hari lagi. ugh…
Padahal aku sengaja ke manajemen berharap bertemu manajer hyung dan minta belikan DVD itu biar aku tidak bosan!
Kesal. Aku memutuskan keluar. Turun ke lantai satu dan menuju mobil hitam milikku. Lalu melajukannya ke jalanan Seoul. Tanpa kusadari aku melintasi jalanan menuju pasar. Ada banyak toko-toko di sana.
Lama aku berputar-putar dan akhirnya menemukan sebuah toko yang kuyakini ada menjual DVD PlayStation itu di deretan toko-toko sepanjang jalan ini. Segera aku menuju area parkir. Lalu membongkar kotak yang memang selalu ada di jok belakang. Mengambil wig dan kaca mata hitam juga topi putih. Yah, biar tidak terlihat kalau aku ini seorang bintang, eu-kyang-kyang…
Kulihat di kaca spion, hm, penyamaranku sudah OK. Apalagi aku pakai kaos oblong dan jeans yang simpel. Semoga tidak ada yang mengenaliku. Aku juga tidak akan lama, hanya mencari DVD itu dan membelinya lalu pulang. Yup, paling lima menit saja, tak akan ada yang menyadari kalau aku adalah Junsu DBSK, eu-kyang-kyang…
Baiklah. Aku turun dari mobil dan melangkah ke toko itu.
Aku sudah berada di depan tumpukan DVD PlayStation. Ada banyak ternyata yang baru dan belum sempat kubeli. Aku jadi bingung. Apa kubeli semua saja?
Aku langsung mengambil 15 DVD. Apa masih ada yang belum kuambil ya?
Kulihat-lihat lagi.
“O?” jeritku saat mendapatkan yang belum kumiliki. Langsung kuambil dan mencari lagi.
Kasak-kusuk terdengar di sekitarku. Apa aku sudah terlalu lama di sini? Apa mereka menyadari siapa aku?
Ragu-ragu aku menoleh. Mereka memang memperhatikanku. Aish… mengganggu kesenangan orang saja.
Cepat aku menyatukan DVD yang sudah kupilih tadi.
“Chogi~” seseorang menegurku sambil mengintip ke wajahku. Seorang yeoja. Apa dia Cassie? Aish… Lekas aku berbalik menuju kasir dan mengabaikannya.
“Kau Junsu oppa kan?” tegurnya lagi sambil menghampiriku.
Kulihat pengunjung dan Kasir memperhatikanku. “A-annio.” Elakku dengan suara khasku. Iash… harusnya tadi dibikin aneh nih suara. Aigo…
“Yah! Benar kau Junsu oppa!” jeritnya.
Deg!
“Hanya Junsu oppa yang punya suara seunik ini!” jeritnya sekali lagi. Membuat pengunjung diluar menghentikan langkahnya. “Oppa, ayo foto denganku!!!”
Pengunjung lainnya mendekat. Mengamatiku dengan seksama. Sial! “Tidak kau salah!” ujerku cepat sembari menyerahkan uang dan menarik kantung plastik berisi DVD PlayStationku. Cepat-cepat aku keluar.
“YA! Junsu oppa!!! Chankanman!!!” jerit yeoja itu.
Aku segera berlari menjauh. Si yoeja terus berteriak di belakangku diiringi kehebohan pengunjung lain. Sial!!
Aku berlari secepatnya berharap segera sampai ke parkiran mobilku. Tapi aneh. Kenapa serasa jauh? Bukannya tadi cukup dekat? Apa aku salah jalan?
Bruk!!!
Keasyikan berpikir, aku sampai menubruk seseorang. “Mian!” ujerku cepat dan berlari lagi.
-End POV-

#Author POV
Lia sedang asyik melihat majalah yang ia sendiri tak tahu apa yang tertulis di dalamnya (karena tulisannya tulisan hangul) ketika seseorang menubruknya. Ia hampir terjatuh.
“Mian!!” ujer si penabrak sambil membungkuk dan kembali berlari. Lia memandang punggung sosok yang menubruknya dengan heran. Ia mengembalikan majalah yang ia lihat tadi dan melangkah namun langsung terhenti saat melihat tumpukan DVD di jalanan. Ia teringat sosok tadi membawa bungkusan. Ah? Apa ini miliknya?
Lia cepat memungutnya dan mencari sosok tadi. Sudah agak jauh dari tempatnya. Lekas ia berlari dengan kecepatan penuh dan berteriak. “Chogiyo~!!”
Sosok yang diteriaki tak menoleh. Mungkin tak mendengar.
“YA!!!” teriak Lia lagi. “DVD-mu!!!” teriaknya dalam bahasa Indonesia. Menyadari kesalahan bahasanya, ia berteriak lagi meski pengucapannya agak janggal, “Your DVD!! Your DVD fall?” teriak Lia sembarang ucap. Sosok yang di kejar menoleh namun kembali berlari dengan kencang.
“YA!!” teriak Lia lagi. “Igo-” teriak Lia tertahan. Aish… bagaimana bilangnya?? Sembarang sajalah!!! “It’s yours??!!” (maksudnya ‘apa ini punyamu?’, Cuma karena Lia tidak begitu mahir bahasa inggris jadi kacau begitu ^^) “DVD!!! Ya!!! Wait!!! Your DVD, bukan???” teriaknya kali ini campur-campur, karena tidak tahu bahasa inggrisnya bagaimana, sambil berlari dan melambaikan DVD.
Junsu masih berlari tanpa arah dan ketika melihat tulisan ‘toilet’ ia segera masuk ke sana. “Semoga dia tidak melihat! Aish… kenapa harus ada insiden seperti ini??” sungutnya di dalam.
Lia yang kelelahan hampir menyerah ketika melihat sosok yang di kejarnya menuju toilet. Ia segera berlari ke sana. Tepat di depan toilet yang tertutup ia mengatur napasnya lalu berkata dengan bahasa Indonesia, “Apa kau di dalam?” sambil mengetuk pintu.
Junsu mendengar suara yeoja, dan keningnya langsung berkerut bingung. Bicara apa dia tadi?
“Pabo! Pakai bahasa inggris Lia!!” gumam Lia sambil memukul pelan kepalanya. “I… ‘maksud’ bahasa inggrisnya apa ya? Aigo…” gerundel Lia. “Sorry. I cannot…” Lia berpikir sebentar sebelum berkata, “…tell English and Korea very good. You understand, yes?”
Junsu garuk-garuk kepala mendengar bahasa Lia yang tidak dipahaminya. Apa maksudnya?
“You can out?” tanya Lia ragu-ragu. Maksud hati pengen bilang, ‘bisakah kamu keluar?’. Di dalam Junsu makin ragu-ragu dengan kemampuan bahasa inggrisnya yang sebelumnya dia kira sudah bagus.
“I… ‘mau’ apa ya?” Bingung, Lia mengambil kamusnya. Ternyata ia cuma bawa kamus Korea-Indonesia/Indonesia-Korea. Dicarinya kata ‘mau’. Tidak ada! “Kamusnya payah!!” kesal Lia. Sembarang saja Lia. Semampu kamu!!! nasehat hatinya lagi.
Junsu mengeryit. Bahasa apa itu? Ah, jangan-jangan diluar orang gila! Hyung, tolong… jerit Junsu dalam hati.
“Ya!! You here, yes? You can out? I will tell you, it’s DVD you?” kata Lia akhirnya. Maksudnya sebenarnya, ‘Kau di dalam kan? Bisakah kau keluar? Saya mau bertanya apa DVD ini milikmu?’.
Junsu makin bingung. Ia cuma menangkap kata DVD. Dia bicara apa?? Batin Junsu. DVD? Cepat ia melihat kantung plastic yang sejak tadi dia pegang. “EH???” jeritnya saat melihat kantung plastik itu kosong dan robek di bagian bawahnya. Ragu-ragu ia keluar.
Melihat pintu toilet terbuka Lia langsung tersenyum. “It’s DVD you?” tanyanya sambil menunjukan DVD pada Junsu.
Junsu mengambil semua DVD itu dan melihat semuanya. “Yes! Ini DVD-ku. Maksudku DVD me!” kata Junsu asal saking girang sambil tersenyum senang. Ia lalu mendongak, “Goma-,” kata-katanya terhenti saat melihat siapa yang membawa DVD-nya. Ia merasa tak asing dengan wajah yeoja di depannya.
Lia tersenyum lega. “OK. I will go. Annyeong~” ujer Lia lalu berbalik.
Junsu tak menjawab. Pikirannya masih mengembara mencari ingatannya tentang yeoja di depannya. Hingga akhirnya ia teringat pertemuan dengan teman-teman Hyun Ae beberapa minggu lalu. “Li… Lia??” panggil Junsu ragu.
Langkah Lia terhenti. Ia mendengar sosok di belakangnya memanggilnya. Dengan bingung ia berbalik.
“You Lia? Hyun Ae friend, kan?” tanya Junsu sembari mendekat.
Lia mengangguk.
“Ini aku, Junsu. Junsu DBSK!” jerit Junsu. Tak sadar kalau dia masih di tempat yang ramai.
Lia hanya mengerti ‘Junsu DBSK’. Ia menatap sosok di depannya tak percaya.
Junsu melepas kaca matanya sambil tertawa, “Eu-kyang-kyang… tidak kusangka kita bertemu di sini? Eu-kyang-kyang…”
Meski tidak mengerti Lia ikut tertawa. Tidak menyadari beberapa pasang mata memperhatikan mereka.
Kasak-kusuk terdengar. Junsu memperhatikan sekitar dan…. “Aahhhhh!!!!! Aku lupa!!!” jeritnya saat menyadari kenapa orang-orang memperhatikannya. Ia menutup mulutnya dan mengenakan kaca matanya. Kemudian ia berjalan menunduk guna menyembunyikan wajahnya.
Lia memperhatikan dengan raut bingung.
Menyadari sesuatu, Junsu berbalik dan menarik tangan Lia. “Kajja!!” ujernya pelan lalu kembali berjalan cepat sambil menyeret Lia.
Lia melihat punggung namja di depannya lalu ke tangannya yang di genggam si namja. Tangan Junsu oppa hangat… batinnya. Rasa hangat menjalari hati dan seluruh tubuhnya.
Akhirnya Junsu menghentikan langkahnya. Ia dan Lia tiba diparkiran dengan selamat (tanpa gangguan fans). Dibukakannya pintu samping pengemudi untuk Lia. “Masuklah,” ujer Junsu. Lia tidak mengerti bahasanya cuma ia mengerti bahasa isyarat tubuh Junsu. Dengan linglung ia masuk.
Junsu cepat menuju kursi kemudi dan duduk di sana. Ia melepas alat penyamarannya dan menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil melirik ke Lia. “Mian… aku tidak tahu kenapa, tadi malah berbalik dan menarikmu sampai ke sini, hehehe…” ujernya salah tingkah. “Karena sudah terlanjur, akan kuantar kau pulang. Apa kau ke sini tadi sendiri? Atau bersama Rima dan Hyun Ae?”
Lia yang sekali lagi hanya mengerti ucapan ‘Rima dan Hyun Ae’, dengan ragu-ragu menggeleng. “I alone.” Ujernya sambil berharap Junsu mengerti.
“Ah!!! Kau tidak bisa bahasa korea ya? Jadi you alone? OK. Then we go to Hyun Ae’s home,” kata Junsu pede padahal bahasa inggrisnya masih kacau sambil menghidupkan mesin mobil.
“But…” kata Lia ragu-ragu. Ia mau mengatakan kalau ia sudah tinggal di kos tapi bingung mengatakannya.
“Nde?” Junsu menatapnya. Menunggu kelanjutan kalimat yeoja di sampingnya.
Lia menggeleng. “A-annio…” sahut Lia sambil tersenyum aneh.
Junsu balas tersenyum dan melajukan mobilnya.
>>>cut>>>

Lia menggaruk kepalanya yang tak gatal sementara Junsu terus menekan bel rumah Hyun Ae. Rumah tersebut tampak sepi.
“Ke mana mereka?” gumam Junsu. Ia menolek ke Lia, “Kau punya kuncinya kan?”
“Nde?” Lia merasa Junsu bicara padanya namun ia tidak mengerti. “Oppa tell me?” (maksud Lia, “Oppa bicara padaku?”).
Kening Junsu mengeryit. Tell me apaan? Bingungnya. Ah, mungkin maksudnya ulangi lagi. “I mean… you umm… have… key house?”
Key house? Kunci rumah? Batin Lia. Ia memberikan senyum aneh lalu menggeleng.
“Aneh. Seharusnya kau punya!” sungut Junsu. “Bagaimana sekarang?”
Lia ingin menangis. Padahal ia sudah sangat beruntung bisa bertemu Junsu dan bisa berduaan dengannya. Tapi gara-gara bahasa korea yang masih belum begitu dikuasainya, hal itu tak bisa ia nikmati. “Oppa,” ujer Lia hati-hati. Junsu memperhatikannya lagi. “Mm… I not here. I leave…” (maksudnya, “Saya tidak di sini lagi. saya sudah pindah”).
Junsu mengeryit sekali lagi. Dia bicara apa? Tidak di sini? Leave itu tinggal,kan? Jadi maksudnya ‘saya tinggal?’ Apa maksud sebenarnya dia sudah tidak tinggal di rumah Hyun Ae?? Aish… coba ada Yoochun!
“Oppa, understand?” tanya Lia ragu-ragu.
“Yes, I stand. Eu-kyang-kyang…” ujer Junsu gaje.
*aduh apa sih mereka ini??? #author bingung#apalagi yang baca*
Lia tersenyum lega.
“You tell me before harusnya. Jadi I can antar.”
Mata Lia membulat. Bingung total dengan bahasa gado-gado Junsu. Junsu oppa ngomong apa ya? Jerit hatinya pilu.
“So, where your house?” tanya Junsu akhirnya. *tuh kan inggrisnya Junsu oppa kacau*
“Ah, there.” Lia cepat menunjuk ke arah seberang. “Street before this street.” Terangnya terbata.
Junsu manggut-manggut. Ia mengerti dengan jelas dan tersenyum dengan bangga. “OK. We go there. Kajja…” ujernya semangat sambil tersenyum lebar pada Lia. Lia balas tersenyum lega.
*kira-kira memang begini tidak ya kenyataannya, hahahaha*
>>>>cut>>>>

Mobil hitam berhenti di depan kosan bercat putih. Seorang yeoja di dalamnya turun dari mobil. Sedang namja yang menyupir mobil tersebut memilih tidak keluar. Ia menurunkan kaca mobil dan berbicara pada yeoja itu.
“Sorry, I cannot go to your home (maksudnya saya tidak bisa main ke kosmu). Mungkin ada my fans here. And sangat menakutkan if they see me. You understand?”
Lia mengangguk meski tidak mengerti apa yang Junsu bicarakan.
“Gomaweo for this day (maksudnya ‘terima kasih untuk hari ini’). This day is fun day (hari ini hari yang menyenangkan).” ujer Junsu sambil tersenyum senang. Lia turut tersenyum.
“Bye…” pamit Junsu sambil melambai.
“Bye, oppa!!” sahut Lia sambil membalas lambaiannya. Dan juga masih dengan senyum gembira.
Junsu balas tersenyum dan menutup kaca mobil. Tak berapa lama, mobilnya menghilang dari pandangan Lia.
-End POV-

#Lia POV
Hfff… hari ini benar-benar melelahkan. Mengejar seorang yang ternyata Junsu oppa. Bicara pakai bahasa inggris yang hancur dengannya. Menarikku ke mobilnya. Mengantarku ke rumah Hyun Ae. Bicara lagi. Aish… Andai bahasa inggrisku seperti Rima, atau bahasa koreaku sefasih Hyun Ae, mungkin tak akan terasa selelah ini. Malah mungkin akan sangat menyenangkan. Aigo… nasib-nasib…
Sebaiknya jangan diceritakan ke Rima atau Hyun Ae, bisa-bisa mereka menertawakanku.
Aku masuk ke rumah dan Rima menyambutku dengan wajah heran dengan semangkuk mi instan di tangannya.
“Kenapa denganmu? Pulang-pulang langsung berwajah manyun…” tanyanya,
Aku menggeleng dan masuk ke kamarku dengan malas. Kenapa harus begini nasibku…
-End POV-

#Junsu POV
Hoahh…. Tidak di sangka, gara-gara beli DVD PlayStation aku di kejar-kejar fans. Sampai-sampai aku tidak mengenali siapa yang mengejarku ke toilet dan menyerahkan DVD-ku yang jatuh. Ternyata dia Lia, temannya Hyun Ae. Hahahaha… bahasa inggrisnya sama parahnya denganku. Untungnya masih bisa kumengerti walau sedikit. Coba kalau tidak, bagaimana kami berkomunikasi.
Senyumku kembali mengembang. Kalau diingat-ingat, lucu juga. Serasa berada di dunia lain. Hanya berdua dengannya dan tidak ada yang membantu menerjemahkan apa yang mau kami katakan. Kalau lebih lama lagi bicara dengannya, bisa-bisa aku sudah pakai bahasa tarsan, eu-kyang-kyang…
Aku terus melajukan mobil sambil menertawakan pertemuanku dengan Lia. Tak lama, aku tiba di kediaman DBSK. Masih dengan senyum mengembang aku masuk. Ada banyak sepatu yang tidak di raknya. Sepertinya member lainnya baru datang.
“Aku pulang,” Ujerku lalu masuk ke dalam.
“Dari mana, Su?” tegur Yoochun yang sedang rebahan di ruang keluarga.
“Dari petualangan yang menyenangkan,” ujerku. Yoochun menatap heran, minta penjelasan.
Aku memberikan tawa khasku. “Kau tidak boleh tahu, Chun. Eu-kyang-kyang…” sambungku lalu masuk ke kamar.
“Ya!!! Sejak kapan kau senang merahasiakan sesuatu.” Protes Yoochun.
“Sejak hari ini, Chun!!! Eu-kyang-kyang…” teriakku sambil tertawa.
-End POV-

_TBC_

Gomaweo… hahaha… Tunggu kelanjutannya ya ^^d

FF Kyopta I'm Coming!!! special chapter

Maaf, karena dibukukan maka isi cerita saya hapus dari blog ^^
silahkan beli bukunya di www.nulisbuku.com ^^

Wednesday, February 16, 2011

Kampus 6

Kampus 6
by Imah Hyun Ae

Pertama kali bertemu dengannya adalah saat aku mengikuti ospek. Pertama kali lihat senyumnya, hatiku berkata kalau dialah belahan jiwa yang kucari. Aku yakin itu.

Aku dan dia akrab kemudian. Sering sms-an, curhat atau sekedar lucu-lucuan. Perasaan ini makin dalam ketika dia bilang dia baru mencari kekasih setelah lulus kuliah. Ditambah lagi dia baik.

Aku pun pada akhirnya memutuskan jadi teman baiknya. Saling membahas perkulian, saling menanyakan kabar dan saling bercerita hal yang terjadi di sekitar kami. Aku merasa 'nyaman' di posisi 'teman baik' ini. Namun keyakinanku berubah ketika aku mengetahui dia sudah punya kekasih.

Akupun membujuk hati agar tidak mengenangnya lagi. Kuharap, seiring waktu dia sudah tak di hati ini...

Friday, February 11, 2011

FF Begin Chapter 24

Title : Begin chapter 24 ‘Yunho’s Heart’
Author : Imah Hyun Ae
Ide : Park Yong Kyo
Genre : Romance
Tokoh :
1. Kim Hyun Ae (pembacaku atau kalau nggak mau…saya aja ea?? Hehehe ^^)
2. Park Yong Kyo aka Rima (teman kalian yang cinta ama Korea)
3. Lee Hyu Rim aka lia (teman kalian yang cinta ama Korea juga)
4. Kim Hyun Joong (suami Hyun Ae)
5. Jung Yunho (namja idaman Hyun Ae ^_^)
6. Kim Jae Joong (sahabat Hyun Joong kekasih Lee Eun Shi)
7. Kim Junsu (pasangan masih rahasia)
8. Lee Eun Shi (kekasih Kim Jae Joong)
9. And other member dbsk and SS501
------------------------------------------------------------------------

Begin Chapter 24
‘Yunho’s Heart’


#Yunho POV
Pertemuan-pertemuanku dengan Hyun Ae:
~Flashback~
Aku sedang mengunjungi yayasan di mana aku sebagai salah satu donaturnya. Aku berjalan ke sayap kiri. Bosan, aku pamit dan memilih naik ke lantai atas dan berhenti di atap. Tampak di sana yeoja berambut hitam terkuncir berdiri di sudut kanan. Sesaat aku ragu untuk mendekat. Namun, ketika samar-samar kudengar senandung lagu “Trust” darinya, aku memutuskan mendekat.
Senyumku mengembang. ‘Suaranya lumayan,’ batinku. Dan aku terperanjat tepat saat yeoja itu berbalik menghadapku.
“A… Annyeong…” sapaku gugup sambil membungkuk.
Yeoja itu melepaskan headsetnya dan balas membungkukan badan. “Ada yang bisa saya bantu?” ujernya.
“Ah? Anni. Saya cuma melihat-lihat. Jongsuhamnida sudah mengganggu Anda.”
“Tidak apa-apa. Apa… Anda pengajar baru?” tanyanya. Aku menggeleng.
“A~ Jangan-jangan Anda donator yang dimaksud pagi tadi. Anda Tuan Jung, bukan?”
Aku mengangguk ragu. Yeoja itu segera membungkuk. “Maaf sempat tidak mengenali Anda.”
Aku tertawa pelan. “Santai saja. Anda pengajar baru?”
Yeoja itu mengangguk. “Baru dua bulan lebih.”
Aku menganguk-angguk. ‘Bahasa koreanya lumayan, tapi logatnya aneh. Dan sepertinya dia tak mengenaliku.’ Batinku girang. “Anda tidak terlihat seperti orang korea.”tegurku padanya. “Boleh tahu Anda berasal dari mana?”
Yeoja itu tersenyum. “Saya dari Indonesia.”
“Waw… Jauh juga. Semoga Anda betah di sini.” Komentarku sambil tersenyum lembut.
“Nde,” jawabnya sambil balas tersenyum. Satu desiran aneh hinggap di hatiku. ‘Ada apa ini?’ batinku tegang. “Um… Tidak apa-apa kan kalau saya di sini?”
“Ah.. Te… Tentu…”
Aku tersenyum lagi, lalu menikmati pemandangan yang terhampar di bawah. Aku lalu menutup mata. Menikmati semilir angin yang menyapa. ‘Damai sekali,’ batinku. Kubuka kembali mataku dengan senyum mengembang. ‘Lama sekali rasanya tidak merasakan ketenangan seperti ini.’ Aku perlahan menoleh ke arah yoeja tadi. “Khamsahamnida,” ucapku tulus.
“Untuk… apa?” tanyanya bingung.
“Terima kasih karena sudah mengijinkan saya menikmati ketenangan tempat ini,” jelasku sambil tersenyum hangat.
“Tidak perlu seperti itu. Ini bukan bangunan milik saya. Dan seharusnya saya yang meminta ijin pada Anda. Anda kan donator di sini, jauh lebih berkuasa dari pada saya yang di gaji…”
Aku tertawa pelan. Sebuah pesan masuk ke HP-ku. Dari adikku. “Maaf, saya harus ke bawah. Annyeong…” pamitku.
“Annyeong…” sahut yeoja itu sambil membungkuk.
Aku balas membungkuk. Lalu pergi.
>>>cut>>>

Di lain hari…
Aku dengan terburu-buru keluar dari kamarku. Siap menuju suatu tempat dengan pakaian yang rapi. Seorang namja imut yang kebetulan sedang duduk di ruang tengah menoleh. “Mau ke mana, hyung?” tegurnya dengan suara khasnya itu. siapa lagi kalau bukan Junsu.
“Mau… keluar sebentar. Ada… urusan…” jawabku sambil memasang wig berambut ikal dengan gugup.
“Jangan lupa bawakan aku makanan ya, hyung?” pinta namja kurus tinggi yang sejak tadi asyik memperhatikan laptopnya, Shim Changmin.
Aku berdecak. Paham betul dengan dongsaeng yang hobi makan apa saja itu. “Ingatkan aku lagi nanti,” sahutku sambil ke luar kediaman kami.

Aku mengetuk-ngetuk jemariku, gelisah. Lampu lalu lintas masih belum juga berubah ke warna hijau. Padahal biasanya aku tenang-tenang saja dengan warna meram di lampu itu. Apa karena sudah tidak sabar untuk bertemu dengan yeoja itu? *^_^*
Awal pertemuanku dengan seorang yeoja dari Indonesia. Hanya kebetulan. Aku sedang ke atap sekolah yang berada di naungan yayasan di mana aku salah satu donaturnya dan melihatnya. Kami bicara sebentar dan aku mengenalnya bernama Hyun Ae setelah pertemuan kami yang kesekian. Nama yang indah.
Tiba di yayasan, aku berjalan cepat ke atas. Merasa jalan cepat juga lambat, aku memutuskan untuk berlari. Seperti ingin cepat sampai ke atap sekolah yang terus-terusan memanggilku untuk segera datang.
Aku tersenyum saat pikiranku membayangkan di sebelah kanan atap, seorang yeoja berdiri membelakangiku. Headset menempel di telinganya. Lirih senanungnya akan hinggap ke telingaku. Aku akan berjalan mendekat dan ragu-ragu menegurnya, seperti waktu itu.
Langkahkju terhenti di depan pintu atap. Ketika tanganku menyentuh pemutar pintu, senyumku telah merekah lebar.
Whusss…
Hanya angin yang menyapa ketika pintu atap kubuka. Sosok yang kuharapkan tak ada sejauh mata memandang. Aku menghela napas kecewa.
Ketika aku hendak pergi, sebuah suara aneh terdengar dari sudut kiri. Dari balik dinding sepertinya.
Perlahan-lahan aku mendekat. Dan…
Yeoja yang kucari tampak duduk bersandar dinding itu sambil bersenandung.
Aku duduk dan menyapanya. Tanpa tahu bagaimana awalnya, aku kehabisan bahan pembicaraan. Sepertinya dia juga begitu. Situasi ini tak enak. Kami cukup lama saling diam.
Ragu-ragu aku menoleh. Kuberikan senyuman padanya. Dia membalasnya. “Maaf karena saya tidak begitu bisa menghidupkan suasana.” kataku
“Saya juga. Mian…” ujernya malu.
Aku tersenyum lembut. “Anda tidak akan mengusir saya kan?”
Dia menatapku. “Tentu saja tidak.”
Aku tersenyum lebar. “Saya sepertinya jatuh cinta pada tempat ini.” Dan mungkin juga pada Anda… sambungku dalam hati.
Jantungku berdetak cepat. aku tahu dia sedang memperhatikanku. Aku memilih tetap memandang langit. ‘Bolehkah aku memupuk perasaan ini?’
Beberapa waktu kemudian…
“Umm… chogi~,” tegurnya. Aku menoleh.
“Nde?” sahutku.
“Mian, Saya sudah harus ke kelas.”
Sudah waktunya ya? Waktu kenapa begitu cepat berlalu?
Perlahan aku menganggukt. “Semoga lain kali kita bsia bertemu lagi.”
“Nde?” dia agak terkejut. Tapi, itu memang harapanku. Tapi, kalau bertemu perasaan ini akan semakin subur, kan? Apa boleh? Aku.. seharusnya bagaimana?
Kusuguhkan senyum termanisku.
“A… Annyeong…” pamitnya cepat.
“Annyeong…” sahutku.
Aku menghela napas saat sosoknya menghilang dari pandanganku.
Rasanya ketenangan di sini lenyap bersama perginya dia…
Aku… sebaiknya pulang…
>>>cut>>>

H-1 DBSK concert…
Aku merasa yeoja itu sebaiknya menyaksikan konser kami. Aku ingin dia melihatku perform. Cepat-cepat aku menuju ke sekolah sebelum latihan siang kami dimulai.
Tiba di sekolah aku menuju atap, tapi tak menemukannya. Aku menunggu beberapa saat, tapi semakin gelisah. Aku lalu turun dan mencari di ruang guru, namun tak ada. Aku berniat mencari tahu jadwal yeoja itu namun karena belum tahu namanya, tidak jadi. Untunglah aku menemukannya baru keluar dari kelas 1 A. Aku menegurnya dan tersenyum lebar padanya. “Untung bertemu Anda di sini. Saya tidak tahu harus mencari di mana ketika tak menemukan Anda di atap dan di ruang guru,” ujerku.
“Tadi… saya ada kelas.” Jawabnya.
Akumengangguk paham. “Ini untuk Anda.” Kataku sambil menyerahkan selembar amplop padanya.
“Apa ini?” tanyanya.
Aku tersenyum misterius.
Ia perlahan membuka amplop itu. dan segera memandangku kembali dengan aneh ketika mendapati amplop itu adalah tiket konser DBSK.
Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. “Anda… bukan fans mereka ya? Mian…”
“Bukan begitu…”
“Jadi… Anda akan datang kan?” aku tersenyum cerah. “Saya tunggu!!” Aku lantas pergi dengan sejuta kebahagiaan menyelimuti hatiku.
>>>cut>>>

@ DBSK concert
Aku mencari sosok yeoja itu dan menemukannya di bangku lain, tidak di bangku tiket yang kuberikan padanya. Di sebelahnya ada seorang namja. Mereka sesekali berbicara, membuatku agak kesal.
Dan saat yeoja itu menangis, aku mendapati si namja menenangkannya. Rasanya aku ingin berlari ke bangkunya dan menyeretnya jauh-jauh dari namja itu. Hei, kenapa aku bisa berpikiran begitu?
Aku mengangkat bahuku dan terus menyanyi.
>>>cut>>>

Beberapa minggu kemudian…
Aku baru selesai mandi ketika kudengar seseorang memencet bel kediaman kami. Kulihat Changmin membukakan pintu. Awalnya kupikir manajer, namun ternyata…
Aku seperti kehilangan udara. Napasku sesak. Yeoja itu ada di depanku bersama Hyun Joong?
Agak heran, aku menyambut mereka. Mempersilahkan mereka duduk. Hyun Joong memperkenalkan yeoja itu dan baru kutahu bernama Hyun Ae. Aku tersenyum lembut padanya, dan perasaan hilang selama ini terisi oleh rasa hangat yang menyusup di hatiku karena melihatnya kembali.
Jae Joong tahu kalau aku sering ke sekolah untuk bertemu dengan seorang yeoja, tapi sepertinya ia tidak menyadari kalau Hyun Aelah yeoja yang kumaksud. Ia memilih duduk di beranda. Kalau tahu, mungkin ia akan terus memandangi sikapku pada Hyun Ae dengan penuh minat, hahaha… untunglah…
Saat Hyun Joong pergi, aku memberanikan diri bertanya padanya, “Masih ingat dengan seorang namja yang memberikanmu tiket konser sebulan lalu?”
“Eh?” dia terkejut.
“Kenapa kau tidak menggunakan tiket yang kuberi?”
“EH??? Jadi…” ia jelas makin terkejut.
Aku mengangguk. “Namja itu aku, Hyun Ae-ssi. Arrasseo…” gumamnya. “Apa dia yang memberimu tiket?”
“Nde?”
“Kim Hyun Joong.” Jelasku mencoba mengusir sedikit rasa kesalku ketika teringat konser itu.
“A… Nde… Cosunghamnida…” Hyun Ae membungkuk dalam.
“Ya! Jangan begini.” Aku tersenyum lembut padanya.
Hyun Ae mengangguk lagi.
“O, ya, boleh tahu siapa paling kau sukai di grup?” pertanyaan Yoochun membuat pipi Hyun Ae merona. “Nugu?” Tanyanya tak sabar. Aku juga tak sabar. Apakah aku?
Junsu dan Changmin sudah memasang wajah imut mereka. rasanya aku ingin memasukkan mereka ke kamar agar berhenti bertingkah seperti itu di depan Hyun Ae.
“Yunho oppa…” jawab Hyun Ae pelan. Aku tersenyum dengan bangga. Oppa katanya? Dadaku menghangat lagi.
Pembicaraan terus berlanjut dan aku menikmati pertemuan ini.
Lalu aku ke dapur untuk mengambilkannya minuman.
Member lain mengikuti dan mengejekku. Seoalah-olah mereka bisa membaca pikiranku. Aku terus mengelak dan cepat-cepat ke ruang tamu lagi namun Hyun Ae sudah tidak ada. Kutanya Jae Joong yang ada di ruang tamu, dia bilang Hyun Ae tiba-tiba memilih pulang.
Meski kecewa, aku memilih diam.
Saat asyik-asyiknya mengobrol, Hyun Joong kembali. Menatap heran pada kami sambil menanyakan Hyun Ae di mana. Changmin mengatakan sesuai perkataan Jae Joong. Hyun Joong bertanya lagi dan wajahnya terlihat panik. Ia keliur kediaman kami dan menelpon seseorang. Hyun Ae, kah?
Lalu dia menuju salah satu halte. Aku dan member lain mengikuti. Hyun Ae ada di sana. Hyun Joong langsung mendekat. Aku bisa melihat wajahnya yang terlihat sangat marah.
“Kenapa tiba-tiba ingin pulang? Bukankah aku menyuruhmu menungguku di tempat mereka? Bukankah aku juga bilang, aku pergi cuma sebentar? Kenapa tidak menunggu sampai aku kembali?” Tanya Hyun Joong tak sabar. “Kau sendiri yang bilang masih tak terlalu bisa membaca huruf hangul, kenapa nekat jalan di daerah asing begini?”di tatapnya Hyun Ae dengan emosi.“Kalau kau naik ke bus yang slaah bagaimana??”
Hyun Ae menunduk dalam. Matanya mengabur. Aku ingin mendekat dan menghentikan emosi Hyun Joong namun kalimat Hyun Joong berikutnya membuatku terhenyak.
“Kalau begitu ingin pulang, kau bisa menelponku kan? Aku tak sesibuk yang kau kira, sampai-sampai tidak bisa mengantarmu! Apa karena tahu aku Hyun Joong, kau merasa aku bukan ‘oppamu’ lagi??”
Apa dia menyukai Hyun Ae…??
“Mian…” lirih Hyun Ae pelan.
“Apa kau berpikiran kalau kau minta tolong padaku, aku akan merasa susah? Bukankah aku bilang tidak apa-apa? Kalau kau pulang sendiri dan akhirnya tersesat, tidakkah kau berpikir itulah yang sebenarnya membuatku susah???”
Dadaku sakit melihat sebegitu perhatiannya Hyun Joong dengan Hyun Ae. Sementara Hyun Ae makin menunduk dalam. “Mian…” katanya setengah terisak.
Hyun Joong menghela napas. Lalu mendekat. Diacak-acaknya rambut Hyun Ae dengan sayang sambil berkata, “Lain kali jangan begini lagi!”
Aku tak sanggup melihatnya. Apa aku cemburu? Mungkin…
>>>cut>>>

Pertemuan berikutnya di dorm SS501. Pertemuan yang menyenangkan smapai akhirnya Hyun Joong menyanyikan lagu “Perhaps Love” saat aku ke toilet. Alunan lagunya masih sempat kudengar saat aku mengambil air minum di kulkas mereka.
Aku hendak bergabung namun urung saat kudengar,
“Hyun Joong menyukai Hyun Ae!” teriak empat namja. Siapa lagi kalau bukan Jungmin, Young Saeng, Baby Hyung, dan Kyu Jong. Hyun Joong tak mampu bereaksi apalagi aku. Dadaku sakit.
“Jincha???” tanya Junsu polos.
“Jangan percaya Junsu oppa. Mereka hanya bercanda,” kata Hyun Ae setengah tertawa. “Ya kan oppa?”
“Ya…” jawab Hyun Joong mengambang.
“Tuh kan…” katanya tenang.
“Aku… menyukaimu, Hyun Ae-ah…” kata Hyun Joong akhirnya. Aku mendesah. Aku tak mampu melangkahkan kakiku keluar. Terlalu kaget dengan kejujuran Hyun Joong. Apa Hyun Ae punya perasaan yang sama dengan Hyun Joong? Mengingat mereka begitu dekat.
Aku menggigit bibir bawahku dan bersyukur saat Hyun Ae bersikap tidak percaya bahkan mengatakan maaf.
>>>Cut>>>

Waktu berlalu dan aku tak bersemangat semenjak kejadian itu. Member DBSK yang lain tahu betul alasannya. Jae Joong sudah menceritakan tentang Hyun Ae yang kusukai sejak pertama kali bertemu di atap sekolah.
“Ya, hyung!! Mau sampai kapan kau bersikap seperti ini? Kalau memang suka, temui dia. Katakan perasaan hyung padanya seperti yang Hyun Joong lakukan!” kesal Yoochun usai mencuci mukanya. Ia hanya tidur sebentar dan terkejut mendengar bunyi tv dari ruang tengah. Aku yang menyalakan tv itu karena tidak bisa tidur semalaman.
“Bukankah Hyun Ae-ah bilang hyung urutan pertama di hatinya. Jamin! Pasti di terima deh!” sahut Junsu semangat yang tiba-tiba muncul di samping Yoochun.
“Benar, hyung!” sahut Changmin cepat. Ia baru saja mengambil cemilan di kulkas. Mungkin ia terbangun gara-gara perutnya minta di isi. “Kau harusnya mengejarnya. Bukankah prinsipmu meski teman, kalau cinta, akan kau perjuangkan terus? Palli! Nanti keburu dia pulang! dia kan tidak lama di sini?!!” katanya di sela-sela kunyahannya.
“Haruskah?” tanyaku akhirnya.
“Aku baru lihat leader DBSK seragu ini!” kesal Yoochun.
“Kalau hyung memang cinta, ya… kejar saja.”kata Changmin menggebu-gebu.
“Hwaiting, hyung!!!” Junsu menyemangati.
Aku mengangguk-angguk. Kutatap ketiga member DBSK yang sudah menjadi bagian dari hidupku bergantian lalu menarik napas dan berdiri. “Baiklah… Doakan aku!” kataku semangat. Yang lain mengangguk senang.
“Tapi, inikan masih pagi! Apa dia sudah di sekolah?” aku duduk lagi di sofa.
“Aishh… kalau memang harus sekarang, datang saja ke rumahnya.” Sahut Yoochun masih dengan kekesalan yang sama.
“Kenapa tidak membuat rencana agar terkesan romantis?” usul Changmin. Junsu mengangguk menyetujui.
Bletak!! Yoochun memukul kepala keduanya.
“Ya! Apa sempat? Kita akan tur keliling asia seminggu lagi. Apa sempat membuat rencana romantis?” tanya Yoochun. “Kalian sendiri tahu jadwal kita penuh sekarang. Jam 8 nanti kita sudah harus latihan seharian! Dua hari kemudian kita harus berangkat untuk gladi kotor.”
Changmin manyun. Merasa idenya diremehkan. Sedang Junsu, makhluk polos yang satu itu, kembali mengangguk-angguk.
“Tapi aku tidak tahu rumahnya di mana…” ujerku pelan.
Gubrak!
Yoochun seolah jatuh dari tempatnya. Bagaimana bisa begitu suka dengan seseorang tapi tidak tahu di mana rumahnya. Aigo….
“Tanya Hyun Joong hyung saja. Dia pasti tahu!” sahut Changmin dengan senyum kebangaan. Ia seolah mendapat ide yang brilian.
“Benar!” lagi-lagi junsu menjetujui.
“Kalau ditanya kenapa ingin tahu rumah, aku harus jawab apa?” tanyaku bingung.
Yoochun tampak geregetan. “Ya tinggal bilang kalau kita mau mengunjunginya kan? Aishhh…”
Aku langsung sumringah. Kuambil HPku dan menelpon Hyun Joong.
“Yongseo…” Sahut Hyun Joong dengan nada tak suka.
Aku jadi tak enak. “Yongseo, Hyun Joong-ah! Mian menganggumu pagi-pagi.”
“Nde. Gwencahana. Waeyo?” sahut Hyun Joong.
“Kau tahu kediaman Hyun Ae kan? Bisa kau beri tahu alamatnya. Kami ingin mengunjunginya,” kataku dnegan raut cemas. Aku tak begitu yakin Hyun Joong akan memberitahunya.
Hyun Joong terdiam.
“Hyun Joong-ah? Kau masih di situ?” tanyaku. Kecemasanku makin menjadi.
“AH… Nde.”
“Jadi bisa kau beri alamatnya?” tanyaku penuh harap.
“Hyun Ae pulang hari ini.” kata Hyun Joong tercekat.
“Nde?”
“Dia sekarang di bandara dan akan berangkat sekitar satu jam lagi. Dia bahkan tak pamit padaku!” kesal Hyun Joong.
Aku terdiam. Tanpa menutup telpon aku berhambur ke dalam kamar. Jae Joong terkejut karena tiba-tiba aku membuka pintu.
“Waeyo, Yunho-ah?” tanyanya melihat wajah panikku.
“Kunci mobil mana?” kataku sambil terus mencari dengan panik.
“Kau taruh di meja itu seingatku!”kata Jae Joong. Cepat kucari dan menemukannya. Buru-buru aku keluar.
“YA!!! Ada apa??” tanya Jae Joong smabil menahan langkahku dengan menarik tanganku.
“Hyun Ae… Dia akan pulang hari ini!”
“M-MWO???” keempat member tampak terkejut.
>>>>cut>>>>

Aku mengemudi dengan cemas. Kami sampai dan langsung masuk. Kami agak mencuri perhatian karena tanpa melakukan penyamaran sama sekali. Untung pengunjung masih sedikit. Aku agak aneh mendengar dari speaker suara seseorang bernyanyi sambil subuk mencari informasi di mana ruangan untuk perbangan Indonesia.
“Neomanieoyahaneu nae maeumul yong sehagil
Mani bujukedo mani mujodaro naingul
“Dderoneun himdeun nari chajaindedo
Sesang ketkaji jabeun du son nochi aneulke”

Aku sudah menemukan tempat Hyun Ae berada. Aku cepat-cepat ke sana diikuti yang lain. Aku lupa, kalau aku baru bisa masuk ke ruang keberangkatan kalau meiliki tiket. Cepat Aku berbalik. Lagu masih mengalun. Seolah itu adalah soundtrack dari perjuanganku.
“Gomawoyo nae gtae meumulreojyeoseo”

Aku sedang memesan tiket ke Indonesia. Beruntung karena masih bersisa. Aku cepat melangkah namun seketika terhenti saat mendengardari pengeras suara di bandara.
“Jeongmal gomaweo Hyun Ae-ah.”
Hyun Joong kah??
“Jadi kumohon, jangan pergi…” sambung suara itu lagi.
“Hyung?” tegur Yoochun. Ia dan member yang lain memang mengikuti ke manapun aku pergi. Ditatapnya diriku dengan tatapan simpati. “Masih sempat kalau kau mau berusaha.” Ujernya.
“Aku sudah terlambat!”
“Belum jika Hyun Ae menolak!” kata Yoochun yakin. Diseretnya akudengan semangat.
Namun, kenyataannya kami terlambat. Di dalam, sudah ada pemadanagan yang langsung menyakiti hatiku. Hyun Ae memeluk Hyun Joong.
>>>cut>>>

Hatiku remuk saat mendapatkan undangan pernikahan langsung dari Hyun Joong. Yah, karena pernikahan ini sembunyi-sembunyi, makanya dia menyerahkan sendiri padaku dan member lain. aku melihat undangan itu dan tertulis dengan nyata di sana nama Hyun Ae dan Hyun Joong sendiri. mereka akan menikah di Indonesia.
“Aku rasa aku tidak bisa datang,” ujerku senormal mungkin pada Hyun Joong.
“Tidak apa-apa. Aku mengerti kesibukan kalian. Mohon doakan kami ya?” pinta Hyun Joong dengan wajah sumringah. Aku tersenyum sebisaku meski hati ini rasanya terkoyak hingga habis tak berbentuk.
~End All Flashback~

Aku mendesah. Lalu menuju ranjang. Menenggelamkan tubuh ini dan berharap perasaan ini juga ikut tenggelam meski kutahu itu tak akan mungkin…
_TBC_

Hohoho… next chapter kira-kira masuk ke tokoh siapa ya? Lia? Rima? Jae Joong? Junsu? Changmin? Atau Yoochun? Atau jangan-jangan sebagian besar dari mereka? hahaha… tunggu kelanjutannya ya ^^
Di tunggu komentarnya. Mohon maaf juga nih kalau ada salah-salah ketik. Maklum buru-buru ^^d *peace*

FF Begin Chapter 22

Title: Begin chapter 23 ‘Like Crazy’
Author: Imah Hyun Ae
Ide: Park Yong Kyo
Genre: Romance
Tokoh:
1. Kim Hyun Ae (pembacaku atau kalau nggak mau…saya aja ea?? Hehehe ^^)
2. Park Yong Kyo aka Rima (teman kalian yang cinta ama Korea)
3. Lee Hyu Rim aka lia (teman kalian yang cinta ama Korea juga)
4. Kim Hyun Joong (suami Hyun Ae)
5. Jung Yunho (namja idaman Hyun Ae ^_^)
6. Kim Jae Joong (sahabat Hyun Joong kekasih Lee Eun Shi)
7. Kim Junsu (pasangan masih rahasia)
8. Lee Eun Shi (kekasih Kim Jae Joong)
9. And other member dbsk and SS501
------------------------------------------------------------------------

Begin Chapter 23
‘Like Crazy’

#Lia POV

Sudah lebih dari seminggu setelah pertemuan kami dengan DBSK. Namun serasa sudah lama sekali. Pertemuan yang menyenangkan, tapi kurang sempurna karena Jae Joong oppa hanya sebentar. Sepertinya dia begitu sibuk dan punya banyak masalah. Sampai-sampai Rima tak sempat sekedar bersalaman dengannya.
Ah, bicara soal salaman, sebenarnya aku agak menyesal. Kenapa tidak langsung kupeluk saja orang yang paling kusukai itu? Menghidup aroma tubuhnya. Atau langsung menyeretnya ke bandara? *lho?* Aish…
Kugaruk kepalaku yang tak gatal sambil memandangi Rima yang masih serius membuat kue. Katanya itu untuk DBSK oppa. Dia akan minta Hyun Joong atau Hyun Ae mengantarkannya. Sebagai permintaan maaf kami karena hanya member satu oleh-oleh. Padahal kami mengakunya fans berat mereka.
“Berhentilah menggaruk kepalamu! Ketombemu bisa jatuh ke adonan ini tahu!!” sewot Rima tiba-tiba.
“Ya, Umma!!!”teriakku. aku memang sering memanggilnya ‘umma’. Kenapa? Hanya suka saja, hahaha… “Aku tidak punya ketombe! Nih lihat!!” ujerku sambil menyodorkan kepalaku kepadanya.
Sebuah kikikan halus terdengar dari belakangku. Aku dan Rima menoleh dan mendapati Hyun Ae sedang mengamati kami.
“Sejak kapan kau menguping?” sewotku.
Hyun Ae hanya tertawa dan mendekati kami.
“Sudah selesai?” tanya Rima.
Kudapati Hyun Ae mengangguk. Dia baru kembali dari restorannya.
“Lagi membuat apa?” tanya Hyun Ae sambil duduk di kursi.
“Kue buat uri oppa?” ujerku. Kening Hyun Ae berkerut.
“Tolong ya?” ujer Rima sambil menangkupkan tangan dan menunjukan wajah puppy eyesnya.
“Tolong apa?” tanya Hyun Ae bingung.
“Tolong antarkan ke DBSK oppa,” ujerku penuh harap. Hyun Ae memang belum kami beri tahu tentang rencana kami ini. “Kau mau kan?”
“Tidak apa-apa jika kami tidak boleh ikut. Asal kau mengantarkannya pada mereka.” sambung Rima.
Hyun Ae menatap kami bergantian.
“Hyun Joong oppa juga boleh… Ya?” pintaku lagi.
Hyun Ae menghela napas.
“Ini sebagai permintaan maaf kami karena memberi hadiah hanya satu saja untuk mereka.” rengek Rima. Aku menunjukan wajah penuh harapku.
“Aishh… Ara~.” Ucap Hyun Ae akhirnya. Aku dan Rima langsung saling ‘tos’, hehehe…
“O, ya.” Ucap Rima tiba-tiba. Aku dan Hyun Ae serempak menoleh ke arahnya. “Aku memutuskan untuk lebih lama di sini, boleh?”
“Ah, aku juga!!!” teriakku.
“Tentu saja boleh,” jawab Hyun Ae.
“Tapi, aku akan sangat lama…” sambung Rima.
“Tak masalah…” sahut Hyun Ae
Rima menggeleng. “Akan jadi masalah buatmu dan suamimu. Kalian akan sulit untuk… ehm… ‘bermesraan’. Kau mengerti maksudku kan?”
Benar juga… *dari tadi ‘benar juga’ terus nih si Lia*
Hyun Ae tertawa. “Kau ini!!”
-End POV-

#Rima POV
Aku menatap Hyun Ae lalu beralih ke Lia. Aku sudah beberapa hari memikirkan ini. benar. Tinggal lama di sini, mungkin sekitar satu tahunan, sekalian merasakan bagaimana rasanya hidup di Negara empat musim seperti di negeri ini. dan tidak mungkin selama setahun aku menetap di rumah Hyun Ae kan? Aku harus menyewa rumah kecil atau kos-kosan. Masalahnya aku tidak punya banyak uang. Tidak mungkin menambah repot Hyun Ae dengan menanggung biaya hidup di sini, bukan? Jadi kuputuskan…
“Aku memutuskan untuk menyewa rumah kecil atau kosan. Kalau tidak keberatan kau pinjami aku uang. Nanti kubayar dengan bekerja di restoranmu. Aku juga akan mencari pekerjaan lain.” kataku pada Hyun Ae.
“Tidak perlu seperti itu!” tolak Hyun Ae. “Aku yang mengajak kalian ke sini. Jadi…”
“Tidak!!” potongku. Aku tidak mau menyusahkannya. Kalaupun dia merasa tidak akan menyusahkan, tetap saja aku merasa tidak enak. “Kau dan Hyun Joong oppa sudah cukup repot dengan adanya kami di sini. Lagipula, aku ingin tahu bagaimana rasanya hidup di negeri orang? Ingin juga merasakan apa yang kau rasakan saat pertama kali hidup di negeri ini,” kataku sambil tersenyum untuk meyakinkannya.
Hyun Ae menatapku dan Lia bergantian. “Kalian yakin?”
Aku mengangguk mantap.
“Kalau Rima umma bilang begitu, aku ngikut aja, hehehehe…” Jawab Lia sambil cengengesan.
Hyun Ae menghela napas. “Baiklah… Nanti kupikirkan kalian bekerja di mana.”
“Bantu kami mencari kos juga, hehe…” sahutku.
Hyun Ae tersenyum. “Nde~. Kita cari di dekat sini saja.”
Aku dan Lia mengangguk bersamaan.
-End POV-

#Hyun Ae POV
Aku agak terkejut melihat semangat mereka untuk tinggal di negeri ini, terutama Rima. Aku tak bisa membantak kekeraskepalaan mereka. Apa boleh buat. Nanti aku mencari pekerjaan yang tidak memberatkan mereka saja.
Sejam berlalu dan kue yang Rima buat sudah masak. Ia mendinginkannya beberapa saat lalu menghiasinya dengan krim coklat. Membuatku ingin mencicipinya karena coklat makanan kesukaanku.
“Kenapa tadi tidak buat dua?” sungutku menyadari aku tidak bisa mencicipinya. “Aku juga mau..”
“Ya! Kau bisa beli kan?” sahut Rima cuek.
Aku manyun. “Ya sudah. Tidak aku antar ke oppa!” ancamku.
Rima mendelik marah. Aku langsung tertawa. “Iya-iya. Kuantar.” Kataku. Rima tersenyum penuh kemenangan. Sebenarnya mana mungkin juga tidak aku antar, merekakan sudah susah-susah membuatnya.
Setelah kue dihiasi, aku memberikan kotak kue yang kebetulan masih ada di lemari piringku.
Pada akhirnya aku mengajak mereka ikut serta. Hanya saja, mereka tetap di mobil nantinya sementara aku menyerahkan kue itu.
Aku keluar dan diikuti mereka. Supir pribadi sudah siap di depan. Kami masuk, dan perlahan mobil melintasi ruas jalan Seoul menuju kediaman DBSK.
-end POV-
>>>cut>>>

#Author POV

Di depan kediaman DBSk…
Hyun Ae turun dengan membawa kotak kue di tangan kanannya. Sementara Rima dan Lia di dalam mobil dengan mata fokos pada sosok Hyun Ae.
Hyun Ae menekan bel sekali. Ia menunggu beberapa saat, tak ada suara dari dalam. Ditekannya sekali lagi, tetap tak ada jawaban. Dicobanya lagi, keadaan masih sama. Sepertinya mereka sedang keluar, batinnya.
Sementara itu, sebuah mobil hitam berhenti. Lima namja turun bergiliran dari mobil itu dan menuju ke rumah. Mereka tampak terkejut melihat ada sosok yeoja di depan rumah mereka.
Hyun Ae baru hendak menaruh kue itu di depan rumah ketika ia mendengar langkah kaki mendekat. Ia pikir Rima dan Lia menyusulnya ternyata bukan. Ia melihat lima namja yang ditunggunya ada di depannya. Sepertinya baru kembali dari suatu tempat. Ia menyuguhkan senyumnya. “Annyeong oppa..” sapanya.
Namja yang paling depan tak menyahut. Hanya mendelik dengan Hyun Ae dengan raut tak suka lalu mendekat ke pintu dan membukanya.
“Annyeong…” sahut empat namja lainnya.
“Mmaafkan sikap Jae Joong hyung. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Hampir seminggu ini ia terlihat kesal,” ujer Yunho.
Hyun Ae mengangguk mengerti.
“Masuklah…” tawar Yunho sambil masuk ke dalam diikuti yang lain.
“Anni,” tolak Hyun Ae dan langsung menghentikan langkah Yunho.
“Tolong jangan diambil hati sikap Jae Joong hyung tadi. Dia hany-”
“Annio…” kata Hyun Ae sambil tersenyum. “Aku ke sini memang cuma mau menyerahkan ini oppa,” ujernya sambil menyodorkan kotak kue.
“Apa itu? Makanan kah??” tanya Changmin dengan mata penuh harap.
Hyun Ae mengangguk sambil tertawa kecil. “Iya oppa. Ini kue buatan Rima dan Lia. Mereka minta maaf karena hanya bisa memberikan satu kenang-kenangan dari Indonesia dengan kalian.”
Changmin cepat menyambutnya. “Gomaweo…” ujernya sambil membawa kue itu ke dalam.
“Ya!! Aish… Dia selalu begitu kalau soal makanan. Sopan-santunnya langsung hilang,” keluh Yunho. Membuat Hyun Ae lagi-lagi tertawa kecil.
“Ara oppa. Aku pulang dulu. Annyeong…” pamit Hyun Ae.
“Sampaikan salam dan terima kasih kami pada mereka.”
Hyun Ae mengangguk dan berbalik.
“Tidak dariku!!!” terdengar suara keras dari dalam.
Hyun Ae tahu itu suara siapa, ia terus saja berjalan dan masuk ke mobilnya. “Mereka menitip salam dan terima kasih untuk kuenya,” ujernya. Rima dan Lia tersenyum senang. “Jalan, Pak. Kita kembali ke rumah,” pinta Hyun Ae pada supirnya.
Sementara itu di kediaman DBSK…
Yunho berbalik. Menatap si pelaku yang bersuara nyaring tadi. “Ya! Hyung!!! Kenapa kau ini??” heran Yunho. Ia lalu kembali melihat keluar. Ia yakin Hyun Ae mendengar teriakan Jae Joong barusan. “Kalau kesal dengan suatu hal, jangan limpahkan kekesalanmu ke orang lain!” nasehat Yunho sambil masuk ke dalam.
Jae Joong mendengus dan duduk di sofa sambil meminum minuman dingin yang ia bawa dari dapur. “Dia yang membuatku kesal. Apa perlu dia menunjukan ke temannya kalau dia juga dekat dengan kita? Apa dia ingin membuat seluruh dunia iri padanya?? Huh!!” sungut Jae Joong.
“Ya!! Sejak kapan kau berpikiran seperti itu, hyung?!” heran Yunho. “Dia hanya berbagi keberuntungannya dekat dengan kita pada temannya, memangnya salah?”
Jae Joong menatap Yunho tak suka. Ia masih kesal dengan Hyun Ae lantaran Eun Shi masih mengabaikannya hingga hari ini. Seandainya tidak, mungkin ia akan bersikap sedikit ramah.
“Bukankah kau yang lebih peduli dengan fans, hyung? Kenapa seperti tidak suka begini? “ sambung Yunho lagi.
Jae Joong mendengus dan kembali meneguk minuman dinginnya. Saat Yunho berlalu hendak ke kamar, ia bersuara dengan dingin, “Kalau bukan Hyun Ae, apa kau akan tetap berpikiran seperti ini?”
“Tentu saja, hyung!” tegas Yunho. Lalu masuk ke kamarnya.
“Pembohong!” gumam Jae Joong. “Kau sangat mengistimewakannya Yunho-yah, sangat!”
Yunho bersandar dibalik pintu kamar. Ia mendesah. Sejujurnya, ia sendiri tahu bahwa ia sangat mengistimewakan Hyun Ae. Sejujurnya, ia masih berharap perasaan yeoja itu masih untuknya. Sejujurnya, ialah yang paling tidak rela pernikahan Hyun Joong dan Hyun Ae terlaksana. Tapi ia bisa apa? Hyun Ae yang memilih Hyun Joong sebagai teman dalam sedih dan senangnya, bukan memilihnya. Sejujurnya, debur indah di hatinya masih terasa setiap kali ia bertemu dengan yeoja itu. Sejujurnya pula, ia nyaris gila karena tak bisa menghentikan perasaan cinta itu di hatinya.
Cinta itu, kenapa harus ada kalau pada akhirnya berakhir duka? Batin Yunho. Di benaknya kini berkelebat kenangannya bersama Hyun Ae.
_TBC_


Hohoho…. Lanjut ke chapter 24 ya, special Yunho POV hihihi… ^^

Monday, February 7, 2011

Terjemahan Lirik You Wouldn't Answer My Call by 2am

Kamu Tidak Menjawab Panggilan-pangilanku

by 2am

(Saya cuma nerjemahin menurut versi Saya, jadi maaf kalau agak beda dari yang lain ^^)


Meskipun aku tahu seberapa kamu membencinya

Tak ada yang bisa kulakukan

Di depan rumahmu, aku dengan malang menunggumu

Seberapapun, seberapapun sulitnya aku

Itu bukan hal besar dibandingkan kehilanganmu

Di tempat yang sama, di depan rumahmu, aku menunggu

*Untukmu yang tidak menjawab panggilan-panggilanku lagi

*Untukmu yang tidak mau melihatku

*Seberapapun aku memohon, sebanyak apapun aku meminta maaf

*Meskipun itu tak berguna

*Aku menunggu di depan rumahmu

*Meskipun jika kamu berusaha mengabaikanku

*Dan kamu berlalu seolah aku seseorang yang kamu lihat pertama kali

*Hingga akhirnya kamu dengar kata-kataku "Maafkan aku..."

Di hari aku melihat telpon ribuan kali

Dan saat satu suara kecil terdengar

Aku melihatnya berkali-kali untuk pastikan jika itu pesan darimu

Pertama kali, pertama kali kupikir itu sebuah kepercayaan

Aku berpikir kamu akan kembali

Setelah kamu meninggalkanku dengan kejam



^^d

Saturday, February 5, 2011

Perjodohanku, Kebahagianku

Perjodohanku, Kebahagianku
Oleh Imah_HyunAe

“Selama ini aku selalu ada di sekitarmu, hanya kau yang tak menyadari kehadiranku.” Saat itu aku akan tertunduk dan tersenyum malu. Lalu lelaki itu melanjutkan lagi, “Aku tahu kau tak mau pacaran, dan itu semakin meyakinkanku kalau tak salah jika kau jatuh hati padamu. Jadi, maukah aku jadi yang pertama dan terakhir dalam hidupku?” dan aku mengangguk.
Ah, khayalan yang indah, bukan? Aku tersenyum. Andai kenyataan nanti seindah itu…
Aku membuang napas panjang. Mengusir kegundahanku tentang siapa dan di mana belahan jiwaku. Aku… harus konsentrasi pada skripsiku.
**
“Apa kabar, As?”

Ragu-ragu aku mendongak..
>cut>

selengkapx ad d Cantik, I'm Coming!! Di www.nulisbuku.com

Friday, February 4, 2011

Love Ya!!! chapter 12

Chapter 12
Bali dan Kenangan

Suasana sangat ramai. Hiruk pikuk orang-orang yang berlalu lalang membuat langkah Nana melambat. Dia menoleh ke kiri dank e kananan. Jong Hwa terus mengikuti di sampingnya.
Nana menghela napas panjang. Ketiga sosok yang di nantinya tak jua terlihat. Dia mencari lagi di anrata kerumunan orang yang menghalangi pandangannya.
Ia baru akan mengeluh lagi ketika satu sosok dengan wajah lelah tapi tampak gembira tertangkap retinanya. Dua orang yang lebih tinggi dari sosok itu membuat senyum Nana yang sempat hilang merekah kembali. Dengan semangat ia melambaikan tangannya dan berteriak memanggil nama mereka bertiga.
“Ima!!! Lia!! Egi!!!”
Ketiga pemilik nama tersebut menoleh ke arahnya. Senyum lebar terukir di wajah mereka.
“Onnie!!! (Kakak!!),” teriak Lia sambil berlari mendekat ke Nana dan memeluknya. Jelas sekali wanita yang sudah menikah ini sangat merindukan sahabatnya.
Egi tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sorot matanya mengatakan Anak-ini-memang-tidak-berubah. Ima yang melihat ekspresi dan sorot mata Egi Cuma bisa membuang muka. Lagi-lagi, cemburu hinggap di hatinya. Tak sengaja ia bertemu mata dengan Jong Hwa.
Laki-laki yang lebih tinggi dari Egi itu tersenyum. Ima membalasnya dengan senyum tipis.
“Ima?” panggil Nana. Ima menoleh. “Bogoshipda… (Aku merindukanmu…),” ujernya sambil merentangkan tangannya.
Ima tersenyum, “Aku juga,” ucapnya lalu mendekat dan memeluk Nana.
Nana melihat ke arah Egi lalu mendekat. “Apa kabar, oppa?” tegurnya sambil menepuk pundak Egi dengan pelan.
Egi tertawa kecil. “Seperti yang kau lihat.” Diliriknya sosok yang berwajah putih bersih yang sejak tadi berdiri tak jauh darinya. “Siapa? Pacarmu ya?” bisiknya.
Nana tertawa. “Tidak. Dia tetanggaku. Orang korea yang bekerja di hotel yang sama denganku. Sudah pernah kuceritakan ke kalian kan?”
Mereka bertiga mengangguk. Sedang Jong Hwa tersenyum ramah.
“Kau akan tinggal dengannya selama di sini sedang Lia dan Ima akan tinggal denganku.”
Egi mengangguk-angguk. Dia menghadap Jong Hwa. “Bangapta. Egi imnida. (Senang berjumpa denganmu. Aku Egi.).” Egi mengulurkan tangan.
“Nado. Lee Jong Hwa imnida.” Sambut Jong Hwa.
“Maaf kalau kehadiranku mengganggu.”
“Gwencahana…”
“Lia,” ujer Lia memperkenalkan diri tanpa diminta sambil mengulurkan tangan.
“Jong Hwa…” sambut Jong Hwa ramah.
“Ima,” ujer Ima pelan seraya mengulurkan tangan.
Jong Hwa menyambutnya. “Jong Hwa.” Tiba-tiba, kegugupan menyusup ke hatinya. Terkunci di sana tanpa sempat ia mencegahnya.
“Ayo kita ke rumahku sekarang! Aku sudah buat kimchi untuk kalian lho!!!” ajak Nana semangat.
“Yayyy… asyikk…” cepat Lia menarik tangan Nana. “Kajja!!”
Jong Hwa tertawa. “Seperti melihat Nana jadi dua,” komentarnya.
“Begitulah kalau mereka bertemu.” Egi membenarkan sambil tersenyum memperhatikan dua wanita di depan mereka yang seperti angka satu dan nol itu.
Jong Hwa mengulum senyum. Diluar kesadarannya dia melirik ke Ima yang ternyata sedang memandangi Egi dengan sorot mata berbeda. Saat pandangan mereka bertemu, Ima cepat-cepat berpaling.
***

Ruangan kecil yang menjadi ruang tengah di kostan Nana terlihat semain kecil saat mereka duduk di sana dan menikmati kimchi yang sudah di siapkan Nana dan Jong Hwa.
Nana tertawa geli melihat ekspresi ketiga temannya yang baru pertama kali memakannya. Jelas sekali lidah mereka belum terbiasa.
Mereka lalu membicarakan kehidupan mereka selama setahun ini. Hal-hal apa saja yang terjadi. Setelah semua sudah diceritakan giliran Jong Hwa yang harus menceritakan tentang negerinya yang membuat keempat warga Indonesia ini tergila-gila.
***
~Ima~
Sore hari, Bali menyambut kami dengan ramah. Noktah-noktah jingga di langit pun mulai tampak. Angin lembut menyapa tubuh kami. Memainkan beberapa helai rambut kami. Seolah mengucapkan selamat datang pada kami.
Hampir pukul lima sore, kami memutuskan jalan-jalan ke pantai sambil menunggu malam tiba. Sesekali kubidikkan kameraku pada siluet senja di depan kami ini.
“Ah, foto kami juga!!!” pekik Lia semangat. Dia langsung menggandeng tangan Egi. Membuat lelaki yang sejak tadi memandang laut lepas itu terkejut. Setelah kufoto, dia berlari ke arah Nana dan Jong Hwa lalu menarik tangan mereka.
Dia berdiri di samping Egi. Di sampingnya Nana. Dan di samping Nana, adalah Jong Hwa.
Usai kufoto, ia mendekatiku dan mengambil kameraku.
“Jong Hwa, bisa tolong fotokan?” pintanya lalu menarikku ke sampingnya. Nana cepat menggandeng tanganku. Dia dan Lia sudah memasang wajah imut. Egi dengan ekspresi konyolnya dan aku memilih bergaya cool saja.
Aku kembali mengabadikan pemandangan sekitar. Rasa sesak memenuhi dadaku saat melihat Lia dan Egi berjalan bersisian di bibir pantai . sesekali mereka tertawa saat air pantai menyentuh kaki mereka yang mereka biarkan telanjang.
Lia berhambur ke laut. Dengan senyum tersungging di bibirnya, Egi mengikuti. Membuatku hanya bisa menghela napas panjang di sudut ini.
“A~!!!” pekik Lia saat Egi dengan sengaja menyiram Lia dengan air laut. Sambil menjerit dan tertawa lepas, Lia membalas. Mereka terus seperti itu. Membuatku merasa seperti orang asing di sini. Aku serasa dilarang masuk di antara mereka. Ah, bukan dilarang. Tapi memang tak bisa masuk. Sedang Nana dan Jong Hwa, tertawa saja melihat tingkah mereka berdua.
Jadi… inikah perasaan Arga waktu itu? Perasaan tak bisa masuk di antara kedua orang yang tanpa sadar saling terikat itu?!!
Kulihat sekarang Lia mematung. Cepat Egi mendekat. “Kau kenapa?” tanyanya.
Aku mendekati mereka. Ingin tahu. Begitu juga dengan Nana dan Jong Hwa.
“AH? Hanya teringat masa lalu.” Lia berpaling menatap laut lepas. “Dulu… sewaktu ke pantai, Arga menaikan kedua tangannya, membentuk isyarat ‘cinta’ dalam kebiasaan korea. Sambil membentuk isyarat itu dia berkata ‘jeongmal saranghae’ padaku. Dia… tersenyum seperti biasanya. Kedua matanya menyipit. Deretan giginya yang rapi pun terlihat bersama senyuman itu. Sayang… dia harus pergi lebih dulu…” Lia tersenyum pedih pada kami.
Aku tak bsia berkata apa-apa. Aku mengerti sedihnya.
Egi tampak mendekat dan menepuk pelan pundak berkali-kali. Seolah mengatakan ‘Sabarlah’ pada sahabat kecilnya itu. Kulihat Lia mebalas tepukan itu dengan senyum lembutnya. Tatap matanya seperti mengatakan aku-bersyukur-kau-aku-masih-punya-kau-Gi.
Adakah yang bisa membuatku menghilang dari tempat ini sekarang?!!
“Aku mau beli minuman, ada yang mau ikut?” aku menoleh. Jong Hwa tampak menanti jawaban dari kami.
“Kita sama-sama saja,” ujer Egi. Yang lain setuju. Mereka melangkah. Kutarik napas perlahan. Lalu berjalan lambat di belakang mereka. Kenapa perasaan ini masih ada?



TBC

mohon sarannya...
pasti masih banyak yang kurang kan? ^^

Love Ya!!! chapter 11

Love Ya!!!
by Imah Hyun Ae

Chapter 11
Go To Bali

~Ima~

“Ima~!!!”
Teriakan Lia menyadarkanku. Aku melambai pada mereka dan menyuguhkan senyum terbaikku.
“Wah~ kau sedikit berubah,” ujer Lia sambil memelukku. Dia kemudian melepas pelukannya dan menelitiku dari ujung kaki ke ujung kepala. Membuatku ikut-ikutan memperhatikan diriku.
“Kau makin cantik.” Dia tersenyum tulus padaku. Kemudian menatap Egi. “Ya kan, Gi?” tanyanya.
Kulirik Egi sekilas. Lelaki dengan gaya rambut chesenut itu mengangguk sembari memperhatikanku.
“Mm… ke tempatku sekarang?” tanyaku. Mereka mengangguk bersamaan. Rencananya kami akan menunggu di hotel tempatku menginap sampai jam tiga nanti, dan barulah kami berangkat ke Bali. Tempat di mana Nana sekarang berada. Dia jadi guide untuk pengunjung dari korea karena kemahirannya berbahasa itu. Apalagi ada temannya yang keturunan korea asli juga bekerja untuk hohel yang sama. Jadi dia bisa belajar banyak hal dari temannya itu.
Deg!
Aku tak sengaja memandang Egi. Dengan segera aku memalingkan wajahku. Aduh… rasanya sulit sekali bertemu mata dengan lelaki pemilik senyum hangat ini. Ah… Cintaku memang masih untuknya, bagaimana ini?
***

Perlahan kurasai pesawat mulai naik. Kudengar helaan napas Lia. Dia mungkin sama tegangnya denganku. Yah… rasanya sulit sekali digambarkan perasaan kami ini. Nana, berapa lama ya tidak melihat gadis itu? Hampir setahun lebih rasanya. Bagaimana ya dia sekarang? Apa Bali banyak merubahnya?
Kami sudah mengudara sekarang. Sabuk pengaman boleh di lepas. Kulihat keluar jendela. Langit biru dan sedikit awan putih di sebelah sana. Sinar matahari jelas sekali dari sini. Kualihkan pandanganku ke bawah. Semua tak terlihat jelas lagi di mataku.
Aku menyandarkan kepalaku di dinding pesawat. Memejamkan mata.
Bali dan Nana, tunggu kami. Sebentar lagi kami datang… ^^
***

~Nana~
Kita berencana tapi Tuhanlah yang menentukan. Kadang Ia memberi jalan yang mulus, kadang juga jalan yang berliku. Dan itulah yang kualami.
Aku, Nana, genap berusia 24 tahun di Januari lalu. Aku tahu, tak ada tanda-tanda kedewasaan di diriku. Aku masih saja Nana yang dulu, yang tidak bisa menyebut ‘R’ dengan sempurna, Nana yang heboh, Nana yang tak bisa diam, Nana yang cerewet, dan terkadangn nana yang menyebalkan karena terllau banyak bertanya. Dan yang paling jelas adalah, tinggiku yang tak pernah bertambah. Terhenti di 157cm. Jadi… bagaimana jadinya aku kalau berdiri di samping orang yang bertubuh setinggi 180cm?
Kehidupan sekolahku sempat tak berjalam mulus. Ketika lulus aku memutuskan mendaftar di universitar luar kota yang kualitas bahasa inggrisnya bagus dan ada ekstrakurikuler bahasa koreanya. Aku bahkan sudah membayangkan bagaimana asyiknya aku nanti. Namun, Tuhan berkehendak lain. Aku tidak lulus dalam tes.
Sambil ikut gelombang kedua aku didaftarkan ayahku di beberapa akademi perawat. Lagi-lagi aku gagal. Jadilah selama setahun aku pengangguran. Baru tahun berikutnya aku ikut tes OSMPTN lagi dan memilih universitas yang sama dengan Lia, Ima, dan Egi saja. Cukup sedih juga saat melihat mereka lulus duluan tepat empat tahun dan aku masih setahun lagi.
Aku tak menginginkan jadi guru, makanya setelah lulus aku memilih ke Bali. Menjadi guide di sebuah hotel di sana. Untung saja aku belajar sendiri bahasa korea dengan CD dan buku-buku bahasa korea yang kubeli semasa kuliah. Jadinya aku lumayan bisa. Dan berkat laki-laki korea yang bekerja jadi guide juga di hotel yang sama denganku, aku bsia belajar banyak darinya. Kami lebih sering berada di kelompok tur yang sama.
Dia sudah dua tahun di sini. Jadi bisa di bilang dia seniorku. Umurnya kalau tidak salah 26 tahun. Dia tampan, seperti orang korea kebanyakan, hehe… tingginya 182 cm. aku paling suka melihat senyumnya. Dia laki-laki pemilik senyum manis yang kutemui selama hidupku menurutku dan selain Kim Jae Joong (idolaku) tentunya.. Namanya Lee Jong Hwa.
Kami semakin akrab setelah aku pindah ke kostan yang ternyata dekat dengan kostnya juga.
Aku tak tahu cinta itu apa dan seperti apa. Yang kuyakini cuma, aku mencintai Kim Jae Joong, lelaki tercantik di boyband favoriteku, Dong Bang Shin Ki. Anehnya… Jong Hwa, entah sejak kapan, dia juga menjadi sesuatu yang penting di hatiku. Berada di tahta kedua di hatiku. Ini benar-benar cinta atau cuma sekedar obsesi berlebihan terhadap hal-hal atau orang-orang korea, aku tak tahu. Aku hanya berharap hari-hari menyenangkan di sini, dan bersamanya ini, tetap berjalan selamanya.
Aku tersenyum saat pikiranku mengembara pada hari esok. Lia, Ima, dan Egi akan ke mari. Wuah… rasa-rasanya… ingin sekali aku memperkenalkan mereka pada Jong Hwa. Pasti Jong Hwa makin senang banyak yang menyukai negerinya yang indah dan selalu menunjukan semangat cinta tanah air itu. Seharusnya aku juga belajar semangat cinta tanah air darinya ya, hahha… Tolong tenang saja Indonesiaku. Aku memang mencintai negeri itu, tapi tentu saja lebih mencintai tanah airku, hehe…
Kapan ya, bisa ke negeri gingseng itu? Melihat keindahannya. Bertemu dengan DBSK. Apa di antara kami nanti ada yang ke sana?
Puk!
Aku menoleh. Kutemukan Jong Hwa tersenyum padaku, lalu duduk di sampingku. Kami memang tidak ada jadwal tour hari ini dan esok. Untunglah…
“Melamunkan apa?”
Aku menggeleng.
Dia mengacak-acak rambutku sambil tertawa. “liar! (Bohong!)” katanya.
“No (Tidak). Hanya memikirkan teman-temanku yang datang besok saja kok, hehe…” Yah… beginilah kami, berkomunikasi dalam tiga bahasa, Indonesia, Inggris, dan Korea.
Jong Hwa menganggukkan kepalanya. “Benar juga. Apa perlu aku membuat kimchi untuk menyambut kehadiran mereka?” aku memandanginya yang lumayan fasih berbahasa Indonesia, walau logat koreanya masih saja ada.
“Mmm… boleh juga. Mereka kan belum pernah makan kimchi. Pasti mereka senang.”
Jong Hwa tersenyum lebar.
“Kita beli bahan-bahannya sekarang. Kajja!!!”
Aku tak pernah tahu, pertemuan esok, akan jadi hal yang akan kusesali. Dan akupun tak pernah menyadari kalau cinta dan obsesi bedanya tipis sekali.


TBC

Love Ya!!! chapter 10

Love Ya!!!

By Imah Hyun Ae


Chapter 10
Arga, Tentang Lia dan Egi

¬~Bandara, sekarang ini ~
Aku berdiri. Beberapa orang tampak melakukan hal yang sama. Sepertinya mereka juga menunggu teman atau kerabat mereka keluar dari pintu itu.
Aku mengedarkan pandanganku. Jantungku seperti tak berdetak saat kulihat dua sosok di sebelah sana. Lia dengan jaket merah dan rambut tergerai rapi berjalan beriringan dengan satu sosok yang semakin tampak dewasa itu. Lia tampak cantik dengan dandanan minimalisnya dan Egi tanpak gagah dengan setelan kemeja hijau kotak-kotaknya. Kulihat lelaki itu tengah menarik dua koper. Pasti satunya milik Lia.
Seketika suara Arga terngiang di telingaku.
“Jika terjadi apa-apa denganku, aku justru ingin laki-laki yang menggantikan posisiku adalah dia…”
***

~Sebulan Usai Pernikahan Lia dan Arga~
Aku sedang di toko buku, mencari-cari buku pembelajaran yang kira-kira sesuai dengan proposalku, ketika satu sosok berkemeja biru bermotif garis putih terlihat oleh mataku. Sepertinya aku kenal siapa dia.
Seolah merasa kuperhatikan, dia menoleh ke arahku. Kusambut tatapannya dengan senyum canggung. Perlahan dia mendekat.
“Ima kan?” tanyanya. Mungkin untuk meyakinkan dirinya kalau dia tak salah orang.
Aku mengangguk.
“Apa kabar?” tanyanya lagi sembari tersenyum cerah.
“Baik, seperti yang kau lihat. Kau sendiri?”
“Sama. Seperti yang kau lihat juga. Eukyang-kyang…”
Aku tertawa mendengar tawa khasnya itu. “Membeli apa?” tanyaku akhirnya usai tertawa.
“Ah… ini. Buku pesanan Lia.” Wajahnya memerah saat nama ‘Lia’ dia sebut.
“Cie… pasangan baru perhatian sekali…” godaku. Wajah Arga makin memerah.
Hm… kurasa Lia benar. Arga memang lebih tepat di sebut imut dari pada tampan, hehe…
“Kamu sendiri?” dia melihat buku yang kupegang.
“Oh. Buku tambahan untuk proposalku.” Dia mengangguk.
“Aku ke kasir dulu ya?” pamitnya.
“Ah, aku juga mau ke sana sebenarnya.”
“Ya, sudah. Kita sama-sama saja.” Ucapnya sembari tersenyum hangat.
Kamipun sama-sama menuju kasir. Usai membayar dia mempersilahkan aku duluan.
“Bilang pada Lia, jangan membiarkan suami tersayangnya berkeliaran seorang diri,” godaku lagi.
Lagi-lagi wajah putih Arga memerah.
“Hey!! Kau senang melihatku malu, ya?” ujernya salah tingkah. Aku tertawa pelan melihat tingkahnya.
“Mm… sampai jumpa. Titip salam buat Lia, ya?” pamitku.
Arga mengangguk. “Main-mainlah ke kos kami, hehe…”
Aku mengiyakan dengan gumaman lalu melangkah pergi.
“Mm… Ma?” panggil Arga tertahan.
Agak ragu aku berbalik. Kulihat Arga seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi ragu. “Ada apa?”
“Mm…” dia menarik napas. “Lia dan Egi…”
Deg! Kenapa dengan mereka?
“…apa sudah lama saling mengenal?” sambung Arga pelan.
Aku menatapnya. Mencari tahu adakah hal yang mengganggu pikirannya. “Ya,” jawabku lambat. “Setahuku sudah sejak SD mereka berteman.”
Arga manggut-manggut sembari berkata, “Jadi selama itu…”
Kutemukan gurat gundah di wajahnya.
“Kenapa?” tanyaku khawatir.
“Orang luar… tak seharusnya masuk di antara mereka kan?” ucap Arga setengah bergumam.
“Eh?”
Arga tersenyum. “Lupakan! Sampai ketemu lagi…” Ia lantas berbalik dan melangkah. Meninggalkanku dalam kebingungan yang di buatnya.
Seharusnya aku paham maksud perkataanmu waktu itu, Ga. Maaf…
***

~Sebulan setelah pertemuan itu~
“Ima!!!”
Aku sedang membayar belanjaanku di minimarket yang tak jauh dari kampus, ketika sebuah suara memanggilku. Aku menoleh. Kudapati si pemilik wajah ceria yang Lia cintai itu tengah memandangku.
“Bisa temani aku?” tanyanya pelan.
Aku diam sesaat. Mendapati lekuk gundah di wajahnya membuatku tak sadar menganggukan kepala.
Di belakangnya aku mengikuti.
“Maaf kalau aku mengganggu kesibukanmu,” ujernya ketika langkahnya berhenti di dekat gerbang universitas.
“Tidak apa-apa,” jawabku ragu. Apa benar ini tidak apa-apa? Bagaimana kalau ada yang mengenal kami lewat dan salah sangka?
“Aku cuma ingin seseorang mendengarkanku…” ucapnya pelan.
Aku baru mau menjawab, ‘Lia pasti mendengarkanmu’ ketika dia berkata lagi,
“Tentang Lia dan juga Egi.”
Eh? Kenapa dengan mereka?
Arga duduk di jembatan kecil di jalanan gerbang itu. “Kalau ada dua orang yang menyukaimu, yang satu memberi kegembiraan padamu dan yang satunya lagi memberi rasa nyaman, mana yang kau pilih?”
Kutatap dia yang memandang lurus pada jalanan di depan kami.
“Kalau aku, mungkin akan memilih rasa nyaman. Perasaan itu jauh lebih lama bertahan kan?”
Arga menatap perih padaku. Ada apa dengannya? Apa jawabanku melukainya?
“Aku tanya pada Lia ‘Apa arti aku bagimu?’ dan Lia menjawab ‘Kegembiraanku’. Lalu kutanya, ‘Kalau sahabat baikmu?’, dia menjawab ‘Ima dan Nana adalah adik dan kakak tersayangku. Sedang Egi adalah abang terbaikku’ sambil tertawa. Kutanya lagi dengan hati-hati, ‘Kalau bersama Egi, apa yang kau rasakan?’. Dia jawab sambil tersenyum dengan tenang, ‘Nyaman. Mungkin karena dia sudah kuanggap seperti abang kandungku’.” Arga memandangku dengan gurat luka yang makin jelas di wajahnya.
Apa dia merasa sakit hati dengan jawaban Lia?
“Menurutmu, cinta itu apa?” tanyanya sambil mengalihkan pandagannya ke jalanan lagi. “Kegembiraan atau rasa nyaman?”
Aku menggigit bibir bawahku. Apa dia bermaksud bilang kalau Lia tak sadar telah mencintai Egi?!!
“Rasa nyaman, kan?” simpulnya sambil lagi-lagi menatap perih padaku.
“Kenapa… kau katakan semua ini padaku?”
Arga menunduk. Memainkan jemarinya. Tanpa melihat ke arahku dia berkata, “Karena kurasa kau pendengar yang baik.” Katanya pelan.
Aku mendengus. “Lain kali jangan ceritakan apapun lagi padaku. Aku tak tahu juga tak mau tahu!” tegasku sengit. Lantas berbalik pergi.
Bagaimana mungkin aku bisa dengar segala hal tentang Lia yang ‘mungkin’ tidak sadar mencintai Egi. Lia yang begitu Egi cintai selama ini?!!
“Karena ku pikir kau bisa menyimpan rahasia, makanya aku ceritakan semua padamu.” Langkahku terhenti. “Aku ingin seseorang mendengarkan kegundahanku.” Sambung Arga setengah berbisik.
“Aku ingin Lia hanya memandangku, apa itu terlalu egois?” ia kembali mengutarakan isi hatinya.
Aku menghela napas dan kembali memandangnya. “Semua yang kau lakukan terasa benar ketika kau begitu mencintai seseorang,” kataku akhirnya.
Arga tersenyum tipis. “Aku memang sangat mencintainya, Ma,” jujurnya lirih. “Apa kau tahu bagaimana caranya membuat dia hanya memandangku?”
Aku diam untuk sesaat. “Bagaimana kalau kau membawanya ke tempat yang cukup jauh dari Egi.”
“Eh?” dia terkejut dengan saranku. Saran yang hadir bersamaan dengan keegoisan di hatiku.
“Lalu buat Lia merasa bahagia karena telah memilihmu,” tambahku.
Satu detik. Dua detik. Tak ada reaksi dari Arga. Namun di detik ke lima kulihat senyum khasnya mengembang.
Ternyata meski jauh, hati mereka tetap terikat kan, Ga?
***

~Tiga hari sebelum berpisah dengan Lia~
Aku keluar dari rumah. Siap mau ke kampus. Namun satu sosok di depan pagar rumahku membuat langkahku melambat. Dia memberikan cengiran khasnya padaku. Kali ini tak ada duka di wajahnya. Apa… sekarang Lia sudah hanya memandanganya saja?
Aku tersenyum padanya sembari berkata, “Ada hal yang membahagiakan rupanya…”
Arga tertawa dengan tawa khasnya.
“Kau benar. Tiga hari lagi aku dan Lia akan pindah. Kami akan tinggal di rumah orang tuaku. Hehehe… Kau tahu? Kupikir dia akan menolak, ternyata saat kutanya dia justru menyetujuinya. Ah… betapa leganya aku sekarang…” Wajahnya benar-benar menggambarkan kegembiraannya. Aku tersenyum melihat wajah cerahnya itu.
“Eh, kau suka korea juga kan?”
Aku mengangguk cepat.”Kenapa?”
“Umm… bagaimana mengatakan ‘Aku mencintaimu’ dalam bahasa korea?”
“Eh?”
“Ayolah… biar Lia semakin suka padaku.” Dia memberikan senyum lebarnya.
Aku tergelak. “Saranghae…” jawabku usai puas menertawakan kepolosannya.
“Eh?”
“Saranghae,artinya aku mencintaimu.” Jelasku sambil mengulum senyum.
“Sa… ‘Sa’ apa?” tanyanya meminta pengulangan.
“Sa-rang-hae,” aku memutuskan mengejanya.
“Sa-rang…” dia mencoba dengan semangat tinggi.
“Hae…” sambungku.
“Sa-rang-hae…” wajahnya kian girang. “Yee…!!! Aku bisa!!” dia bersorak riang.
Aku tergelak. “Kalau kau sungguh mencintainya maka tambahkan kata ‘Jeongmal’.”
“Jeong… Apa?”
“Jeongmal,” ulangku. Dia mengangguk-angguk paham.
“Jeongmal saranghae, artinya aku sungguh mencintaimu.” Terangku.
“Jeongmal… saranghae…” dia mencoba. Senyumnya semakin sumringah saat sukses mengatakan kalimat itu.
“Lia akan lebih terkesan kalau kau melakukan ini.” Aku mengangkat kedua tangannya dan menyatukan jari-jarinya, sebisa mungkin membentuk love. “Lalu ucapkan ‘Jeongmal saranghae’.”
“Jeongmal saranghae.” Ucapnya malu-malu.
Aku tersenyum melihatnya.
“Thanks, Ma!” aku mengangguk. “Maaf sudah mengganggumu.”
“Santai saja.”
“Kau mau ke kampus?”
Aku mengangguk mengiyakan.
“Mau ku antar?”
“Tidak. Nanti Lia salah paham.”
Arga tergelak.
“Umm, Ma?” panggilnya hati-hati.
“Ya?”
“Boleh aku jujur?”
Aku mengangguk dengan bimbang.
“Jika terjadi apa-apa denganku, aku justru ingin laki-laki yang menggantikan posisiku adalah dia…”
“Eh? Dia? Maksudmu?”
“Egi, hehehe….”
Apa benar kau ingin begitu, Ga? Boleh tidak aku mencegah hal itu terjadi?
***

TBC

Love Ya!!! chapter 9

Love Ya!!!
oleh Imah Hyun Ae

Chapter 9
My Secret Love

~Ima~
Kulihat jam warna perak campur pink di pergelangan tangan kiriku. Kalau tak ada gangguan, sebentar lagi mereka datang.
Aku menghela napas.
Bagaimana aku harus bersikap? Ternyata cinta itu masih untuknya. Apa yang harus aku lakukan? Masih bisakah aku tersenyum biasa seperti dulu? Aku terlalu gugup untuk bertemu dengannya lagi. Terlalu takut jika melihat pandangan penuh kasihnya masih untuk… Lia.
Aku menghela napas. Bayang-bayang masa lalu itu kembali hadir.
***

~SMA kelas X Semester 2~
Aku belum lama mengenalnya. Baru sekitar lima bulan. Dia sahabat Lia dari kecil. ‘Laki-laki aneh’, itu kesan pertamaku padanya. Ya… karena melihat dia yang begitu antusias terhadap hal-hal berbau korea. Menangis diam-diam saat drama itu menampilkan adegan sedih. Ikutan heboh, tak kalah hebohnya dengan kami yang terlalu menghayati adegan di drama tersebut.
Nana, sahabat baruku juga. Dan dia sudah menjadi sahabat Lia sejak SMP, tak masuk hari ini. Jadilah aku pulang sendirian.
Sambil melangkah mundur, aku melambai pada Lia dan Egi. Mereka membalas lambaianku.
“Hati-ha—” kata-kata Lia tak selesai karena saat itu kakiku mengenai batu. Aku jatuh. Kurasai kaki kananku sakit.
“Tidak apa-apa?” Lia menatap cemas saat melihatku meringis. Kupegangi pergelangan kakiku.
Lia dan Egi membantuku berdiri.
“Thanks…” ucapku sambil menahan sakit. Sepertinya kakiku terkilir.
“Masih bisa jalan?”
Aku mengangguk. “Sampai jumpa…” pamitku dan mulai berjalan. Sayangnya di langkah kedua aku limbung. Cepat Egi menyambutku.
“Sepertinya kau terkilir,” gumamnya. “Mau ke rumah sakit?”
Aku menggeleng. “Ayahku bisa memijatnya kok.”
“Oh…” Di pandangnya aku sesaat.
Deg!
Ada perasaan lain di dadaku. Apa ini?
“Biar kupapah,” katanya sambil melingkarkan tanganku di bahunya. Di tatapnya Lia. “Kau pulang saja dulu. Ima biar aku yang antar.”
Lia tampak mengangguk.
Sambil berjalan kulirik dia. Wangi farfumnya membuat hatiku terasa hangat. Aneh…
Mendadak dia menoleh ke arahku. Aku terkejut, sekaligus salah tingkah.
“Jangan merasa tidak enak. Kita kan teman?” ujernya. Dia tersenyum hangat padaku.
Deg!
Jantungku berdetak aneh lagi. Kenapa bisa?
Di bus, dia duduk di sampingku.
“Masih sakit?” tanyanya cemas.
Aku mengangguk tanpa berani memandangnya.
----
Bus berhenti. Egi melangkah lebih dulu. Tepat did ala pintu keluar dia berhenti lalu berjongkok membelakangiku.
“Kenapa?” tanyaku bingung.
“Biar kugendong. Kakimu semakin parah kalau kau paksa berjalan lagi,” ujernya.
“Tapi…”
“Cepatlah. Orang di belakang sudah menunggu,” ucapnya.
Aku menoleh ke belakang. Memang benar, ada beberapa orang yang menunggu.
“Maaf,” ujerku tak enak pada mereka.
Segera aku melingkah tanganku di leher Egi. Jantungku berdetak semakin cepat. Perlahan dia berjalan. Aroma minyak rambut yang dia pakai tercium. Jantungku kembali tak berdetak dengan tenang.
“Rumahmu di mana?” ujernya tiba-tiba.
“EH? Di… Di sebelah sini,” kutunjuk jalanan sebelah kiri dengan gugup.
Hff…. Kenapa denganku? Kenapa… aku ingin… jalan ini tak pernah berujung? Kenapa… aku ingin di belakangnya seperti ini… lebih lama lagi? Apa… aku jatuh cinta? Pada Egi?
“Yang mana rumahmu?”
“EH?” aduh… lagi-lagi mengagetkanku.
“Hmf… kau melamun ya?” tanyanya sambil tertawa geli.
“Hehe… yang itu rumahku,” kataku malu.
Dipencetnya bel rumahku. Tak lama kemudian pintu di buka. Ibuku kaget melihatku di gendong.
“Kau kenapa?” tanyanya sambil mempersilahkan Egi masuk.
“Tadi tergelincir,” kataku saat Egi meurunkanku di kursi.
“Ya ampun.. Bagaimana bisa?” tanya ibu lagi.
Aku meringis.
“Aku pulang ya? Sepertinya hari mau hujan…” pinta Egi.
“Tidak istirahat dulu?”
Egi menggeleng.
Aku menghela napas kecewa. Aku tidak ingin dia pergi.
“Sebaiknya kau obati kakimu. Sampai jumpa,” pamitnya.
Aku mengangguk lemah. “Terima kasih sudah mengantarku,” ucapku tulus.
Dia tersenyum hangat. “Jangan sungkan begitu.”
Hfff… wajahku memanas lagi…
***

~SMA Kelas XI Semester 1~
Ruang seni yang sepi. Aku berjalan perlahan sambil membawa gitar ke dekat jendela. Angin sepoi masuk dan mengibas-ngibas poniku. Aku menghirup udaranya yang segar dalam-dalam.
Kulihat di lapangan ada sekelompok siswa bermain basket. Adakah Egi di sana? Aku melongokan kepalaku agar lebih jelas melihat. Tidak ada.
Kuraih lembaran kertas di saku bajuku. Lirik lagu Perhaps Love, ost. Drama korea Princess Hours, kesukaan kami.
Aku mulai menggenjreng gitar.
“…
Is it love? If you feel the same way, is it a beginning?
My heart keep saying it loves you
…”
Bayangan Egi menari-nari di benakku. Membuatku berhenti menggenjreng gitar.
“Kenapa berhenti?” seseorang menegurku dan mengambil lembaran kertas laguku.
Deg!
Jantungku berpacu cepat saat tahu siapa dia. Egi.
“Biar ku coba,” matanya berbinar gembira. Diambilnya gitar di tanganku dan mulai mencoba lagu tersebut. Pertama-tama dia bergumam. Saat dapat nada yang pas, dia memintaku bernyanyi mengiringinya.
“Suaraku jelek,” tolakku malu.
“Tidak apa-apa,” ujernya sambil memainkan intro. Mau tidak mau aku bernyanyi.
Sambil bergitar dia pun ikut bernyanyi. Sesekali dia tersenyum sambil menatapku.
Satu pintaku pada-Mu Tuhan, Mohon hentikan waktu… Aku ingin terhenti di menit ini bersamanya…
Namun detik terus berjalan…
***

~SMA Kelas XI Semester 2, awal-awal musim hujan~
Hujan turun dengan lebat tanpa diduga pagi ini. Aku dan Rima sama sekali tidak membawa payung. Gara-gara itulah kami terburu-buru berlari menuju koridor. Sampai-sampai aku tidak sadar dengan keadaan tasku yang terbuka.
“Ima~!!! Bukumu!!!” teriak seseorang di belakangku. Aku yang sudah di koridor segera berbalik. Kulihat buku-bukuku tercecer. Egi tampak sedang mengambilkan bukuku. Segera aku berlari mendekat.
“A~ Thanks…” ucapku lalu memunguti bukuku juga.
“Sepertinya tasmu minta ganti,” ujer cowok yang berada di bawah payung yang Lia pegang.
Aku mengangguk meski kurasai hatiku tidak terima dengan sikap Lia pada Egi itu. Hey!! Apa aku cemburu?
Egi menyerahkan bukuku.
“Makasih…”
Dia menjawab dengan gumaman sambil mengeluarkan isi tasnya. Lalu diserahkannya tasnya padaku. “Pakai tasku saja,” ucapnya ringan.
Dadaku menghangat… “Tapi…”
“Pakai saja.” Paksanya sembari tersenyum hangat.
Aku merasa wajahku memanas. “Thanks…”
Dia tersenyum lagi. “Jangan sungkan.”
“Sini. Biar kupegang payungmu,” tawarku saat kulihat Lia mau menawarkan bantuan padanya yang tampak kesulitan memegang buku dan payungnya.
“Thank you…” diserahkannya payungnya padaku. Lantas bersama-sama kami menuju koridor. Biarkan aku lebih dekat dengannya, Ya, batinku.
***

~Kelas XI SMA Semester 2, akhir bulan Mei~
Hujan turun saat pulang sekolah dan lagi-lagi aku lupa bawa payung. Aku berencana pinjam punya Egi, namun batal saat kudengar permbicaraan Egi yang lupa membawa payung juga. Pulang sekolah ini kami mau nonton bareng di rumah Lia.
Sambil bernaung di bawah payung Nana aku melangkah. Kami masuk ke bus dan duduk di kursi nomor tiga dari belakang. Sedang Lia dan Egi dapat kursi di paling belakang.
Bus perlahan melaju.
Aku mau menawarkan cemilanku ke Egi dan Lia di belakang, tapi tidak jadi. Ada hal yang langsung menyakiti hatiku. Egi, kulihat dia memandang keluar jendela. Bukan memandang pemandangan di luar sana, tapi… bayangan Lia yang terpantul di kaca itu.
Aku seperti kesulitan bernapas. Rasanya marah sekali. Marah pada Lia dan Egi. Tapi, siapa aku?
Aku berbalik dengan kecewa. Aku sadari satu hal. Hal yang sebenarnya terlihat jelas sejak lama: bagi Egi, Lia bukan cuma teman, tapi diam-diam laki-laki pemilik senyum hangat itu mencintainya.
Ngilu. Rasanya ngilu sekali mengetahui perasaan ini tak akan bersambut. Apa bisa kumatikan perasaan ini?!!
Aku… mungkin akan memakan waktu lama: diam-diam mencintainya.
***

~SMA Kelas XII~
Acara kelulusan kami buat sendiri usai pengumuman. Kami lega, kami semua lulus. Kami merayakannya di rumahku. Mereka duduk di ruang tengah sambil menonton MV terbaru boy band favorit kami. Dan aku sibuk membuat nasi goreng plus cemilan berupa gorengan. Sesekali Nana masuk ke dapur menawarkan bantuan.
“Tidak perlu. Sebentar lagi selesai, kok,” tolakku. “Duduk manis dan nonton saja di sana.”
“Oke, Bos!!” ujernya sembari memberi hormat. Ia lalu masuk ke dalam.
Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahnya.
Masakanku telah masak ketika Egi datang.
“Wow…” komentarnya takjub. “Jadi lapar.” Ia cengengesan sembari mengambil satu gorengan dari piring yang kupegang.
Aku tergelak. “Tolong bawakan, ya?”
“Sip!” ujernya ceria.
Kami sama-sama ke dalam dan menikmati nasi goreng yang kubuat.
“Hm… Kau cocok dijadikan calon istri, Ma. Masakanmu enak, beda dengan Lia, hahaha…”
Aku tertawa lebar. Senang karena dipujinya lebih baik dari Lia.
Lia mencibir. “Nasi goreng aku juga bisa.”
“Aku juga,” balas Egi cepat. “Tapi tak seenak ini! Wee…”
Lia manyun.
“Kapan-kapan kau buat lagi, ya?” Egi tersenyum sangat lembut padaku.
Hatiku menghangat…
***

~Perkuliahan Semester 4~
Kami sudah banyak mengenal kata-kata korea dari sebuah grup pecinta korea yang setiap minggunya memberikan pelajaran tersebut. Nana dan aku belajar keras menghapal kata demi katanya.
Lirik lagu kesukaan kami pun kami hapal beserta maknanya. Jadi, ketika ada yang bertanya apa yang kami nyanyikan, kami bisa dengan mudah menjelaskannya.
Kupandangi lirik lagu yang baru kudapat. Soundtrack drama You Are Beautiful. Ada dua lagu yang cocok untuk menggambarkan perasaanku. Pertama ‘Without A Word’, dan kedua ‘What Should I Do?’.
Aku menghela napas sembari menghidupkan mp3 hpku dan ikut bernyanyi.
“I shouldn’t have done that
I should have ignored it
Like I didn’t see it
Like I couldn’t see it
I shouldn’t have looked at you in the first place

Without a word, you made me know love
Without a word, you gave me your love
You made me fill myself with every breath
Then you ran away

Without a word, love left me
Without a word, love tossed me aside
Not knowing what to say
My lips must have been surprised
Because you came without a word


Without a word, tears start falling down
Without a word, my heart breaks
Without a word, I wait for love
Without a word, I hurt because of love
I zone out, I become a fool
Because I cry just by looking at the sky

Without a word, it comes
Without a word, it leaves
Like a fever I’ve had
Maybe all I have to do is hurt for a while
Because in the end,
The only thing that remains are scars…”

Aku menghela napas lagi. Kubalik lembar berikutnya dan mulai menyanyi lagi.
“…
What should I do… What should I do… You’re leaving
What should I do… What should I do… You’re leaving
I love you… I love you… I cry out to you
But you can’t hear me… Because I’m only shouting with my heart

All day long I try to erase you, but you arise in my thoughts again
All day long I try to say goodbye to you, but you arise in my thoughts again
Although you’ve gone to a place where I can’t hold you even if I reach out my hand
I can’t find you, I can only cry

What should I do… What should I do… I can only see you
What should I do… What should I do… I love you
I’m sorry… I’m sorry… Can you hear me
Please return to me… If it isn’t you, I can’t go on
…”

“Tumben lagu sedih?” tanya Egi yang langsung duduk di depanku dan merebut lembaran kertasku. “Lagu di drama yang kita tonton kemarin ya?”
Aku mengangguk.
“Sepertinya Lia dan Nana belum keluar…” gumamnya sambil melihat kea rah kampus Lia dan Nana.
Aku mengangguk. Memang sudah kebiasaan kami kalau jam kuliah sudah berakhir, kami akan menunggu satu sama lain di warung makan ini.
“Sebentar,” ujernya lalu berjalan ke sebelah sana, ke kerumunan mahasiswa yang sedang asyik bermain gitar. Dia kembali dengan satu gitar di tangannya dan menggenjrengnya tak jelas.
“Kita duet, yuk?” ajaknya. “Lagu May I Love You, bagaimana?”
“Tapi…”
“Aku tahu kau hapal.” Potongnya cepat. Dia pun memulai intronya dan menyanyi,
“Muni yollineyo kudega turo-ojyo
Chonnune nan nae saramin gol aratjyo
Nae ape tagawa kugae sugimyo bichin olgul
Chongmal nuni bushige arumdapjo
(The door opens, you come in
I knew it was you
You walk to me and show your face
It is so beautiful)”

Di bait kedua dia melirikku.
Aku menyanyi dengan pelan.
“Wonirinji nachsolchiga a-nhayo sollego itjyo
Nae mamul modu kachyogan kudae…
(It looks familiar, my heart is beating
You have taken my heart…)”
Egi tersenyum dan menyahut.
“Joshimsurobke yaegi hallaeyo yong-ginae bollaeyo
Na onulbuto kudaerul saranghaedo dwelkkayo…
(I will tell you how, I will be brave
May I love you know?”
Kusahut,
“Cho-umin-golyo bunmyonghan nukkin nochige sichi-anhchyo
Sarangi oryo nabwayo kudaeyege nul choh-un gonman julkkeyo
(This is first time, I don’t want to miss it
Love has arrived, I’ll do very best)”

Egi kembali tersenyum hangat. Lalu bersama-sama kami menyanyikan bagian akhir lagu ini.
“Cham ma-nhun ibyol cham ma-nhun nunmul jal kyondyonaetkiye
Chom nujo-optjiman kudaerul manage dwennabwayo chigum nae-ape anjun saramul
Saranghaedo dwelkkayo
Togun-gorinun manure
Kudaeyege nul choh-un gonman julkkeyo
Naega kudaerul saranghaedo dwelkkayo
(There were so many cries and tears
But I finally met you
May I love you?
This is my first time
I don’t want miss it
May I love you?)”

Pengunjung di warung bertepuk tangan meski tidak tahu lagi apa yang kami nyanyikan.
“Kalian cocok jadi penyanyi duet,” ujer salah satunya.
“Iya. Mungkin bisa mengalahkan pasangan duet terkenal saat ini,” tambah yang lain. Semua tergelak.
Kami berdua cuma bisa tersenyum.
“Hey! Kalau aku menikah nanti, di resepsiku kamu jadi penyanyinya, ya?”
“Umm… tergantung,” jawabku.
“Tergantung apanya?”
“Tergantung siapa calonmu, hehe…”
Egi tersenyum lalu memandang langit di luar sana. “Benar juga. Kira-kira nanti aku menikah dengan siapa, ya?”
Aku memandangnya. Apa boleh aku berdoa kalau orang yang kau nikahi nanti adalah aku, Gi?
Egi masih memandang langit. Hanya angin yang diam-diam menghibur hatiku.
***

~Perkuliahan Semester 5~
Gundukan di depanku belum kering dan tangisku belumlah pecah dengan sempurna. Tapi… ibu justru memilih menyusulnya. Menyusul ayah yang lebih dulu meninggalkanku. Beliau meninggal seminggu lebih dulu.
Aku menarik napas dalam. Langit cerah yang memayungiku seolah tak peduli akan dukaku ini.
Seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh dan menemukan sosok pemilik senyum hangat yang mengisi hatiku beberapa tahun ini. Dia menatapku dengan lembut. Seolah memintaku untuk kuat.
Aku menelan ludah. Mencoba menahan tangisku agar tak pecah di depannya. Aku tak mau Egi melihatku rapuh.
Semilir angin langsung menggigit hatiku. Nyeri. Mengakibatkan satu butir air mata jatuh ke pipiku.
“Aku belum sempat membahagiakan mereka…” lirihku berat. “Aku belum sempat meminta maaf,” isakku pecah seketika. “Belum sempat membalas kasih sayang mereka selama ini. Aku…”
Egi merangkul bahuku. Menegarkanku. Tapi aku sudah terlanjur rapuh…
“Mereka belum sempat melihat karyaku di terbitkan…” air mataku makin membanjir. “Kenapa mereka malah pergi?” tanyaku sambil terduduk. Tak sanggup menahan duka dan sesal yang bergelayut ini.
Egi tak mengatakan apa-apa. Ia membiarkanku terisak makin keras. Perlahan di sandarkannya kepalaku di pundaknya dan dielusnya dengan lembut. Membuatku merasa nyaman. Juga membuat cinta ini semakin dalam…
***

~Pernikahan Lia~
Dulu aku tak percaya dengan kata-kata ‘Melihatmu sakit, aku pun merasa sakit’. Aku pikir itu bualan yang tak seharusnya dipercayai. Namun, sekarang aku menyadari bahwa aku salah. Melihatnya yang memandang sosok di depan penghulu itu dengan tatapan penuh luka, hatiku jelas sekali terasa sakitnya. Menusuk tajam hingga keseluruh tulang-tulangku.
‘Bahagiamu, bahagiaku juga’ aku jadi percaya kata ini juga.
Rasanya ingin sekali mengulurkan tangan. Mengatakan padanya dengan lantang, ‘Lihatlah! Ada aku yang menyayangimu. Jadi berhentilah mencintainya. Mulailah denganku!’. Namun aku tak bisa. Kata-kata itu hanya sampai di kerongkonganku dan tak pernah berhasil keluar.
Perlahan aku duduk di sampingnya.
“Di sebuah tempat di mana dia berhasil meraihku ketika dia mengulurkan tangan. Di sebuah tempat di mana aku bisa selalu mendengarnya jika dia memanggilku. Aku akan tetap di sana dan tak berubah sedikitpun. Karena aku mencintainya. Karena aku seorang yang bodoh.” Egi menoleh ke arahku. “A Song For A Fool dari Park Sang Woo. Kurasa kata-kata di lagu itu sangat cocok untukmu sekarang.” Kutatap dia, lalu tersenyum. Dan mungkin juga cocok untukku…
Aku kemudian melangkah pergi. Tak sanggup melihat luka yang tergambar jelas di matanya.
***

~Resepsi Pernikahan Lia~
“Kau ada masalah?” tanya Egi tiba-tiba. Apa raut wajahku terlihat sekali tak gembira.
“Kenapa?” kuusahakan tersenyum secerah mungkin.
Egi menggeleng. Aku segera memalingkan wajah. Tak mau melihat dirinya yang terluka lagi. Karena begitu melihatnya terluka, perih di hatiku makin bertambah.
***

~Setahun Setelah Wisuda~
Nana dan Egi tampak murung. Sepertinya mereka tak setuju dengan keputusan yang baru kusampaikan pada mereka.
“Mian… (maaf…),” lirihku.
“Kenapa harus pergi?” tanya Nana. Ini untuk ketiga kalinya dia mengulang pertanyaan itu.
“Sudah kukatakan, di sana lebih dekat dengan abangku. Lagipula lebih cepat untukku ke Jakarta jika harus mengurus novelku lagi, kan?”
“Tapi-”
“Kita masih bisa telpon-telponan kok,” sambarku cepat.
“Lia lebih dulu pergi. Sekarang kau. Mungkin nanti Nana juga. Hh…tinggal aku saja yang di sini nantinya.” Keluh Egi dengan wajah muram.
Aku pergi juga karenamu, Gi! Pergi karena tidak kuat dengan sikapmu yang terus memikirkan Lia!!
“Ah… nonton bareng tidak akan seru lagi!!” gerutu Nana.
“Maaf…” lirihku.
“Jadi kapan kau berangkat?” tanya Egi akhirnya.
“Mm… besok…” jawabku lambat. Takut mereka marah.
“Aish… kenapa baru sekarang mengatakannya? Setidaknya… setidaknya kau memberi kami kesempatan untuk membuat kejutan atau acara perpisahan kan?”
Aku menggeleng pelan. “Malam ini sudah cukup. Kenangan bahagia selama berteman dengan kalian sudah banyak. Lagipula aku pasti kemari mengunjungi kalian.”
“Janji?” pinta Nana.
Aku mengangguk pasti.
***

~Di Bandara, saat perpisahan tiba~
“Jangan lupa sering-sering hubungi kami di sini,” bisik Nana sambil menyeka air matanya. Tak kusangka anak yang ceria ini cengeng juga.
Aku mengangguk sambil tersenyum padanya.
“Jaga kesehatanmu,” nasehat Egi. Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk.
“Aku pasti merindukanmu,” bisik Egi dan berhasil membuat pertahananku runtuh.
“Jangan menangis lagi!” tegurnya sambil memberiku sapu tangannya.
“Gara-gara siapa coba!” protesku. Dielusnya kepalaku dengan sayang.
“Sampai jumpa…” bisiknya pelan. Membuatku mengangguk lemah.
Aku melambai dan melangkah mundur sambil menatap mereka. Mereka membalas lambaianku sambil berusaha menyuguhkan senyum hangat mereka. Segera kuhentikan langkahku. Perlahan kunaikkan kedua tanganku ke atas kepalaku dan menyatukan jari-jarinya. “Saranghae… (Aku mencintai kalian…)” bisikku.
Egi dan Nana membalas dengan gerakan yang sama.
Mungkin buatmu itu cuma ‘cinta’ sebagai seorang teman, Gi…
Kemudian aku pergi…

TBC

Love Ya!!! chapter 8

Love Ya!!!
oleh Imah Hyun Ae

Chapter 8
Kata-kata Indah

~Ima~
Langit masih penuh dengan awan, tapi gerbang berwarna kuning dan merah bata itu tetap saja berdiri angkuh menghalangi para siswa yang terlambat di luar sana. Keadaan yang sama dengan hari sabtu sebelumnya. Mungkin siswanya agak malas masuk hari ini lantaran hari sabtu ini hari khusus untuk siswa menyalurkan minat dan hobinya. Lebih tepatnya hari khusus untuk ektrakurikuler.
Ada banyak bidang ditawarkan pada hari ini, yaitu: semua pelajaran UN, komputer, debat bahasa inggris, kelas bahasa Jerman, kelas tari, drama, sepak bola, volley, basket, tennis, dan kepenulisan. Tapi, kalau ada remedial di hari ini, maka diwajibkan mengikuti remedial. Karena kadang-kadang, hari ini juga digunakan untuk meremedial siswa yang nilainya rendah.
Kulihat dua belas siswa sedang diceramahi Bu Eni, guru yang paling hobi melakukan hal itu di SMA ini.
Perlahan aku melewati selasar. Lapangan upacara menyambutku. Kali ini bukan rumput hijau yang kulihat. Lapangan ini sudah berganti dengan warna abu-abu yang tidak terlalu memikat hati.
Aku berbelok ke ruang kantor dan duduk di bangkuku. Mengambil beberapa buku tulis yang kuperlukan untuk kelas ektrakurikuler yang kupegang.
Murid yang ada di kelas yang kupegang ini ada 11 orang. Jumlah yang sedikit tapi ini jauh lebih baik. Tujuh di antaranya siswa-siswi kelas XI dan empat lagi siswa-siswi kelas X. Siswa kelas XII diwajibkan mengambil salah-satu mata pelajaran UN sebagai ektrakurikuler mereka. Terutama mata pelajaran yang kurang mereka kuasai.
Dengan langkah pasti aku menuju kelas X-E yang ada di ujung kiri bangunan sekolah.
“Pagi semua!!!” sapaku girang.
“Pagi, Kak!!!” sahut muridku dengan senyum senang. Dan aku sengaja meminta mereka memanggilku ‘kakak’ untuk kelas ini. Karena aku merasa masih belum pantas dipanggil guru walau sudah setahun memegang kelas kepenulisan ini.
Aku menaruh buku dan berdiri di depan mereka, bersandar pada meja. Kusapukan pandanganku ke seluruh penjuru kelas. “Senang rasanya kalian semua hadir lagi di kelas ini.”
Sebelas siswa-siswiku ini tersenyum lebar.
“Bagaimana dengan tugas yang Kakak beri? Sudah kalian kerjakan?”
“Belum!!” sahut seorang siswi berponi dengan rambut sebahu.
“Kok belum, An?” tanyaku pada siswi itu.
“Bingung mengembangkannya seperti apa, Kak.” Jelas Anna lagi.
Minggu kemarin aku memberi tugas pada mereka untuk mencari kata-kata indah di lagu yang mereka suka. Lalu mengembangkannya menjadi sebuah cerita pendek dengan imajinasi mereka sendiri. Minimal hanya selembar kertas. Kalau bisa sih lagunya lagu korea. Karena aku sangat menyukai lirik lagu dari Negara gingseng itu, hihihi….
Kupandangi penghuni kelas kepenulisan satu per satu.
“Tapi, sudah dapat kata-kata indah itu, kan?”
“Sudah…” koor mereka serempak.
Aku tersenyum melihat mereka yang seperti itu. “Baiklah. Coba sebutkan judul lagu dan siapa penyanyinya. Lalu sampaikan pada yang lain apa maksud dari keseluruhan lagu itu, dan setelah itu baru katakana kata-kata yang indah di lagu itu!” pintaku semangat.
“Hmm… biar adil, Kakak duluan, deh.” Semua mengangguk semangat. Tampak mereka antusias sekali.
Senyumku kian lebar. “Banyak lagu yang Kakak sukai sebenarnya. Tapi, yang lagi Kakak suka saat ini adalah Can’t Let You Go Even If I Die. Kalau dalam bahasa korea judulnya Jugodo Mot Bonae. Lagu ini dinyanyikan oleh grup 2AM dan menceritakan tentang seorang laki-laki yang diputus kekasihnya. Tapi si laki-laki itu tidak mau. Meskipun dia mati dia tetap tidak ingin putus. Kata-kata yang indah di lagu itu menurut Kakak adalah ‘Jika kau begitu ingin pergi, bohongi saja aku. Bilang kita akan bertemu besok. Senyumlah dan bilang sampai jumpa’.”
Rita, gadis berambut kuncir kuda, mengangkat tangannya. “Bisa Kakak nyayikan? Rasanya pernah dengar.”
Aku menggeleng. “Suara Kakak jelek. Dengarkan dari HP saja ya?” kukeluarkan HPku dan memainkan lagu tersebut. Kudapati mata mereka berbinar.
“Wow…” desis Angga, siswa berwajah oriental yang selalu terlihat stylist.
“Bagus kan?” aku meminta pembenaran dari mereka.
Semuanya tersenyum dan mengangguk mantap.
“Baiklah… sekarang giliran kalian. Hm, mulai dari siapa ya….” Kulihat mereka yang tampak gugup. Hanya satu anak yang antusias ingin ditunjuk. Annisa.
“Ya sudah. Kamu Annisa…”
Anak itu tersenyum lebar. “Judul lagunya After Love dari band FT. Island. Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang dibohongi kekasihnya. Dia percaya dengan cinta kekasihnya tapi ternyata semua itu dusta. Namun, meski didustai seperti itu, dia tetap bersedia menunggu kekasihnya. Berharap suatu saat kekasihnya kembali lagi padanya.”
Aku mengangguk cepat. Tahu benar lagu itu lagu yang mana.
“Kalimat yang indah menurutku, ‘Kau mengambil seluruh hatiku, mengambil semua cintaku, bahkan sesudah kau pergi meninggalkanku’.”
Aku bertepuk tangan. “Itu salah satu lagu yang kakak suka. Nah, berdasarkan inti cerita dan kalimat indah itu, kamu bisa berimajinasi. Sesuka kamu. Bayangkan kenapa kekasihnya bisa berdusta. Bayangkan kenapa seseorang itu begitu setia. Ungkapkan saja dengan bahasa kalian. Jangan memikirkan jelek atau lainnya. Yang paling penting, tulis saja apa yang ingin kalian tulis. Paham?”
Mereka mengangguk. Ada beberapa yang masih tampak ragu. “Jangan pernah ragu dengan imajinasi kalian. Okay?”
Mereka mengangguk lagi.
“Baik. Sekarang, coba kamu, Angga.”
“Mm… judul lagunya If Tomorrow Never Comes oleh boyband Boyzone. Menceritakan tentang laki-laki yang jatuh cinta pada seorang wanita. Jika esok hari tak ada akankah orang yang dicintainya tahu perasaannya. Kalimat yang kusuka ‘She is my only love’.”
Aku tersenyum melihat dia mengakhiri pendapatnya tentang lagu itu.
Aku menunjuk sosok di pojok sana, Rina.
“Lagu yang kusuka adalah lagu ‘Marry You’ dari Super Junior. Lagu ini menceritakan seorang laki-laki yang ingin menikahi gadis yang dicintainya. Meski sulit, ia ingin tetap menjaga kekasih hatinya itu. Ia tahu, cintanya kurang cukup, tapi ia akan berusaha menjaga cintanya yang kurang itu. Kata-kata yang indah di lagu itu adalah ‘Sembari mencintaimu meskipun turun hujan dan salju, aku akan menjagamu’.”
“Whoa…” Lagi-lagi salah satu lagu yang kusuka.
“Sekarang, coba kamu Yoga.” Kutunjuk siswi kelas satu yang adem ayem di depanku ini. Dia sedikit gugup ketika kutunjuk. Kulihat tangannya bergetar.
“Lagu ‘Kesendirianku’ dari G2. Lagunya bercerita tentang laki-laki yang sangat mencintai seorang gadis. Lalu suatu hari gadis itu pergi untuk selama-lamanya dari dunianya. ‘Bila harus terpisah, dan tak akan kembali, biar cinta hidupku berahir selamanya…’.”
Kuberikan senyum lembut padanya. “Hm… sekarang giliran siapa lagi ya…”
Banyak yang mengangkat tangan.
“Coba kamu, Siska…” pintaku.
Anak berkaca mata itu pun memulai…

TBC

comment please... ^^