There was an error in this gadget

Friday, February 4, 2011

Love Ya!!! chapter 12

Chapter 12
Bali dan Kenangan

Suasana sangat ramai. Hiruk pikuk orang-orang yang berlalu lalang membuat langkah Nana melambat. Dia menoleh ke kiri dank e kananan. Jong Hwa terus mengikuti di sampingnya.
Nana menghela napas panjang. Ketiga sosok yang di nantinya tak jua terlihat. Dia mencari lagi di anrata kerumunan orang yang menghalangi pandangannya.
Ia baru akan mengeluh lagi ketika satu sosok dengan wajah lelah tapi tampak gembira tertangkap retinanya. Dua orang yang lebih tinggi dari sosok itu membuat senyum Nana yang sempat hilang merekah kembali. Dengan semangat ia melambaikan tangannya dan berteriak memanggil nama mereka bertiga.
“Ima!!! Lia!! Egi!!!”
Ketiga pemilik nama tersebut menoleh ke arahnya. Senyum lebar terukir di wajah mereka.
“Onnie!!! (Kakak!!),” teriak Lia sambil berlari mendekat ke Nana dan memeluknya. Jelas sekali wanita yang sudah menikah ini sangat merindukan sahabatnya.
Egi tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sorot matanya mengatakan Anak-ini-memang-tidak-berubah. Ima yang melihat ekspresi dan sorot mata Egi Cuma bisa membuang muka. Lagi-lagi, cemburu hinggap di hatinya. Tak sengaja ia bertemu mata dengan Jong Hwa.
Laki-laki yang lebih tinggi dari Egi itu tersenyum. Ima membalasnya dengan senyum tipis.
“Ima?” panggil Nana. Ima menoleh. “Bogoshipda… (Aku merindukanmu…),” ujernya sambil merentangkan tangannya.
Ima tersenyum, “Aku juga,” ucapnya lalu mendekat dan memeluk Nana.
Nana melihat ke arah Egi lalu mendekat. “Apa kabar, oppa?” tegurnya sambil menepuk pundak Egi dengan pelan.
Egi tertawa kecil. “Seperti yang kau lihat.” Diliriknya sosok yang berwajah putih bersih yang sejak tadi berdiri tak jauh darinya. “Siapa? Pacarmu ya?” bisiknya.
Nana tertawa. “Tidak. Dia tetanggaku. Orang korea yang bekerja di hotel yang sama denganku. Sudah pernah kuceritakan ke kalian kan?”
Mereka bertiga mengangguk. Sedang Jong Hwa tersenyum ramah.
“Kau akan tinggal dengannya selama di sini sedang Lia dan Ima akan tinggal denganku.”
Egi mengangguk-angguk. Dia menghadap Jong Hwa. “Bangapta. Egi imnida. (Senang berjumpa denganmu. Aku Egi.).” Egi mengulurkan tangan.
“Nado. Lee Jong Hwa imnida.” Sambut Jong Hwa.
“Maaf kalau kehadiranku mengganggu.”
“Gwencahana…”
“Lia,” ujer Lia memperkenalkan diri tanpa diminta sambil mengulurkan tangan.
“Jong Hwa…” sambut Jong Hwa ramah.
“Ima,” ujer Ima pelan seraya mengulurkan tangan.
Jong Hwa menyambutnya. “Jong Hwa.” Tiba-tiba, kegugupan menyusup ke hatinya. Terkunci di sana tanpa sempat ia mencegahnya.
“Ayo kita ke rumahku sekarang! Aku sudah buat kimchi untuk kalian lho!!!” ajak Nana semangat.
“Yayyy… asyikk…” cepat Lia menarik tangan Nana. “Kajja!!”
Jong Hwa tertawa. “Seperti melihat Nana jadi dua,” komentarnya.
“Begitulah kalau mereka bertemu.” Egi membenarkan sambil tersenyum memperhatikan dua wanita di depan mereka yang seperti angka satu dan nol itu.
Jong Hwa mengulum senyum. Diluar kesadarannya dia melirik ke Ima yang ternyata sedang memandangi Egi dengan sorot mata berbeda. Saat pandangan mereka bertemu, Ima cepat-cepat berpaling.
***

Ruangan kecil yang menjadi ruang tengah di kostan Nana terlihat semain kecil saat mereka duduk di sana dan menikmati kimchi yang sudah di siapkan Nana dan Jong Hwa.
Nana tertawa geli melihat ekspresi ketiga temannya yang baru pertama kali memakannya. Jelas sekali lidah mereka belum terbiasa.
Mereka lalu membicarakan kehidupan mereka selama setahun ini. Hal-hal apa saja yang terjadi. Setelah semua sudah diceritakan giliran Jong Hwa yang harus menceritakan tentang negerinya yang membuat keempat warga Indonesia ini tergila-gila.
***
~Ima~
Sore hari, Bali menyambut kami dengan ramah. Noktah-noktah jingga di langit pun mulai tampak. Angin lembut menyapa tubuh kami. Memainkan beberapa helai rambut kami. Seolah mengucapkan selamat datang pada kami.
Hampir pukul lima sore, kami memutuskan jalan-jalan ke pantai sambil menunggu malam tiba. Sesekali kubidikkan kameraku pada siluet senja di depan kami ini.
“Ah, foto kami juga!!!” pekik Lia semangat. Dia langsung menggandeng tangan Egi. Membuat lelaki yang sejak tadi memandang laut lepas itu terkejut. Setelah kufoto, dia berlari ke arah Nana dan Jong Hwa lalu menarik tangan mereka.
Dia berdiri di samping Egi. Di sampingnya Nana. Dan di samping Nana, adalah Jong Hwa.
Usai kufoto, ia mendekatiku dan mengambil kameraku.
“Jong Hwa, bisa tolong fotokan?” pintanya lalu menarikku ke sampingnya. Nana cepat menggandeng tanganku. Dia dan Lia sudah memasang wajah imut. Egi dengan ekspresi konyolnya dan aku memilih bergaya cool saja.
Aku kembali mengabadikan pemandangan sekitar. Rasa sesak memenuhi dadaku saat melihat Lia dan Egi berjalan bersisian di bibir pantai . sesekali mereka tertawa saat air pantai menyentuh kaki mereka yang mereka biarkan telanjang.
Lia berhambur ke laut. Dengan senyum tersungging di bibirnya, Egi mengikuti. Membuatku hanya bisa menghela napas panjang di sudut ini.
“A~!!!” pekik Lia saat Egi dengan sengaja menyiram Lia dengan air laut. Sambil menjerit dan tertawa lepas, Lia membalas. Mereka terus seperti itu. Membuatku merasa seperti orang asing di sini. Aku serasa dilarang masuk di antara mereka. Ah, bukan dilarang. Tapi memang tak bisa masuk. Sedang Nana dan Jong Hwa, tertawa saja melihat tingkah mereka berdua.
Jadi… inikah perasaan Arga waktu itu? Perasaan tak bisa masuk di antara kedua orang yang tanpa sadar saling terikat itu?!!
Kulihat sekarang Lia mematung. Cepat Egi mendekat. “Kau kenapa?” tanyanya.
Aku mendekati mereka. Ingin tahu. Begitu juga dengan Nana dan Jong Hwa.
“AH? Hanya teringat masa lalu.” Lia berpaling menatap laut lepas. “Dulu… sewaktu ke pantai, Arga menaikan kedua tangannya, membentuk isyarat ‘cinta’ dalam kebiasaan korea. Sambil membentuk isyarat itu dia berkata ‘jeongmal saranghae’ padaku. Dia… tersenyum seperti biasanya. Kedua matanya menyipit. Deretan giginya yang rapi pun terlihat bersama senyuman itu. Sayang… dia harus pergi lebih dulu…” Lia tersenyum pedih pada kami.
Aku tak bsia berkata apa-apa. Aku mengerti sedihnya.
Egi tampak mendekat dan menepuk pelan pundak berkali-kali. Seolah mengatakan ‘Sabarlah’ pada sahabat kecilnya itu. Kulihat Lia mebalas tepukan itu dengan senyum lembutnya. Tatap matanya seperti mengatakan aku-bersyukur-kau-aku-masih-punya-kau-Gi.
Adakah yang bisa membuatku menghilang dari tempat ini sekarang?!!
“Aku mau beli minuman, ada yang mau ikut?” aku menoleh. Jong Hwa tampak menanti jawaban dari kami.
“Kita sama-sama saja,” ujer Egi. Yang lain setuju. Mereka melangkah. Kutarik napas perlahan. Lalu berjalan lambat di belakang mereka. Kenapa perasaan ini masih ada?



TBC

mohon sarannya...
pasti masih banyak yang kurang kan? ^^

No comments:

Post a Comment