There was an error in this gadget

Thursday, February 3, 2011

Love Ya!!! chapter 7

Love Ya!!!
by Imah Hyun Ae

Chapter 7
Kisahku…

~Ima~
Aku seolah tahu arah hidupku. Aku lulus SD, SMP, lalu SMA dan masuk ke Perguruan Tinggi. Jadi, jika guru meminta mengatakan cita-cita apakah yang aku punya, maka akan menjawab ‘jadi guru’ dengan entengnya. Atau kadang-kadang, aku ikut-ikutan temanku. Bilang ingin jadi berguna bagi nusa dan bangsa, haha…
Tak pernah terbesit di pikiranku jadi apa aku nanti. Melihat polisi, hatiku tak tergerak. Dokter, aku menggeleng. Perawat? Oh, tidak, terima kasih. Guru? Yah… mungkin ini memang takdirku.
Aku mungkin tak pernah punya cita-cita, yang begitu ingin kuwujudkan. Hingga suatu hari seorang teman di SMP membawa novelette kesukaannya dan memaksaku membacanya. Novelette itu bercerita tentang sebuah liontin. Menarik. Penulisnya berhasil membuatku hanyut dalam alur ceritanya.
“Keren…” komentarku usai membaca cerita itu.
“Hm-mm. Gara-gara cerita tersebut aku jadi ingin membuat cerita juga. Kita sama-sama buat yuk?” ajaknya.
“Eh? Kenapa mengajakku? Aku tidak bisa menulis…” sahutku malu.
“Aku juga tidak bisa. Kita coba sama-sama, ya? Nanti kalau sudah selesai kita tukeran… Kamu baca punya aku, aku baca punyamu, Ok?”
“Mm…” aku berpikir sebentar. “Boleh…”
Wajahnya sumringah.
Dan sejak saat itu aku mulai menulis. Aku lebih sering menyebarkan karyaku yang biasa itu pada teman-temanku. Sedangkan si penggagas ide menulis itu cuma mau memamerkan karyanya padaku. Padahal karyanya jauh lebih indah, menarik, dan bisa dibilang luar biasa untuk ukuran siswa SMP.
Bersamanya, aku pun berburu majalah yang berisi cerpen. Dan saat membaca cerpen yang menurut kami ‘biasa’ saja, kami akan protes. Gara-gara itulah, aku bertekad menjadi penulis terkenal, hehehe…
Baru kutahu, bakat menulis ini menurun dari ayahku. Dan berhenti saat beliau kuliah. Gara-garanya, teman beliau membaca karangan beliau yang belum selesai tanpa ijin.
Dua tahun bergelut di dunia tulis-menulis dan hanya mempublikasikannya dengan teman sekelas, menimbulkan dorongan yang kuat untuk mengirimnya ke majalah. Aku mengirim empat judul ke majalah yang berbeda. Dan enam bulan lamanya tak ada satupun jawaban.
Sedih. Tapi, mungkin bukan takdirku. Aku memutuskan berhenti menulis. Tapi siapa sangka, seolah Tuhan melarangku, suatu hari Pak Pos mengatakan ada wesel untukku. Yang ternyata adalah honor dari cerpenku yang di terbitkan salah satu majalah remaja. Haha…
Aku pun kembali berkarya. Kali ini aku membuat novel. Sayangnya, di tolak.
Lia, Egi dan Nana menyemangatiku. Kadang merekalah kuminta memeriksa hasil imajinasiku. Siapa tahu menurut mereka membosankan. Kalau menurut mereka saja begitu, apalagi yang lain? Hehe…
Saat kuliah, aku berkenalan dengan yang namanya Fan Fictions. Berisi cerita fiksi buatan fans di mana tokoh di cerita itu adalah artis idola atau tokoh kartun/novel idola fans tersebut.
Aku mencoba menulis dengan format itu. Dan kupublikasikan di FB. Tidak di sangka banyak yang suka. Dan menurut mereka yang baca, aku lebih bagus kalau menulis sad story, hehehe…
Dan ini cerita yang paling di sukai…

Title: End of Love
Author: Imah Hyun Ae
Cast: Eunhyuk aka Hyuk Jae (Super Junior), Hyun Ae dan Taemin (SHINee)
Disclaimer: imajinasi saya ketika mau bikin cerpen ^^

End Of Love

Kelas gaduh. Para siswa sibuk bercanda dan menggoda pujaan hatinya yang ada di kelas. Sedang para siswi ada yang sibuk bergosip, ada yang mendekati dan mencari perhatian idola mereka, ada pula yang bercanda tidak jelas.
Aku masih nyaman duduk di bangkuku dengan kedua tangan menopang dagu. Tak peduli dengan kegaduhan di sekitarku.
Kulirik Junsu. Dia tampak sedang meluncurkan aksi mempesonanya, membuat siswi yang menggerumbunginya menjerit heboh.
Aku memanyunkan bibirku sembari mengingat bahwa pesona yang kupunya hanya akan kutunjukkan pada seorang gadis yang sudah hampir dua tahun ini mengisi mimpi-mimpi indahku. Dia berhasil merebut hatiku di hari perpisahan SMP dulu. Ah, suaranya sangat indah dan pandai sekali bermain piano.
Sayangnya, aku dan dia beda kelas. Ah… padahal aku ingin memandang sosoknya sepuasku. Sosok anggun dan punya senyum manis itu.
“Boleh pinjam buku paket bahasa inggris salah satu dari kalian?” suara sopan itu membuyarkan lamunanku. Kerumunan di sekitarku menoleh ke sumber suara.
Angin serasa menyapa tubuhku. Lembut dan syahdu. Di depan pintu, berdiri sosok yang tengah kubayangkan sejak tadi, Lee Hyun Ae.
Kulihat beberapa orang bergerak mengambil buku mereka. Sadar, aku segera mencari buku bahasa inggrisku. ‘Ini kesempatan,’ batinku.
Saat aku mendapatkan buku tersebut, seorang teman sekelas sudah menyerahkan buku paketnya pada pujaan hatiku itu. Aku segera berhambur, mendekat. Mengambil buku tersebut dan menyerahkan ke orang itu.
“Punyaku saja,” kataku sambil menyerahkan buku paketku. Dia menerimanya dengan memandnag bingung padaku.
“Gomaweo…” katanya canggung. “Nanti pulang sekolah kukembalikan.”
Aku mengangguk sambil tersenyum lebar. Kebahagiaan tergambar jelas di wajahku. Ini pertama kalinya aku dan dia bicara, hehehe…
Puk!
Seseorang menepuk pundakku keras.
“Apa yang kau lakukan??” teriakku kesal sat melihatnya tersenyum lebar.
“Menyadarkanmu kalau dia sudah pergi.” ujer Junsu santai lalu menyeretku ke lapangan basket. Aku tahu, beberapa siswi di kelas memandang aneh padaku. Mungkin mereka bertanya-tanya, kenapa aku bertingkah seperti tadi. Terserahlah… yang penting aku bahagia sekarang ^___^
***

Aku baru keluar kelas saat sosok Hyun Ae tersenyum menyambutku. Dia mendekat dan menyerahkan buku paket bahasa inggrisku.
“Jeongmal gomaweo, Hyuk Jae-ssi,” ujernya tulus. Hangat menebar di seluruh sel tubuhku.
“N-nde. Chomanayo…” sahutku selembut mungkin. Hebat. Di dekatnya rasanya senyumku tak pernah luntur, hehehe…
“Kalau begitu, aku duluan. Sekali lagi terima kasih…” pamitnya lalu berbalik.
Dia pergi? Aku ingin lebih lama lagi. Hatiku menjerit-jerit gelisah.
“Cha-chankanman… (tu-tunggu…)”
Hyun Ae menghentikan langkahnya dan berbalik. “Nde?”
Aku mendekatinya dengan satu tangan menarik Junsu untuk mengikutiku.
“Boleh sama-sama? Kami juga mau pulang…”
“A~ Nde.”
Kami melangkah bersama. Ah… andai berdua saja pasti lebih indah…
Di depan gerbang tampak Heechul sunbei, Onew, Soo Hyun dan Taemin menunggu. Mereka adalah sahabat Hyun Ae sejak kecil (aku tahu hal ini dari teman yang sekelas dengan mereka dulu).
“Noona!!” Taemin memekik girang dan segera menarik Hyun Ae menjauh dariku. Matanya menyelidikku tajam. Anak ini seolah tahu aku menyimpan rasa pada Hyun Ae.
Seolah tak peduli dengan aku dan Junsu, mereka melangkah ke halte dan naik ke bus.
Soo Hyun dan Onew duduk berdampingan. Sejak kelas satu mereka resmi jadi pasangan kekasih. Heechul memilih duduk di sebelah teman sekelasnya dan Taemin… Dia menyeret Hyun Ae ke belakang. Duduk di bangku terakhir.
Aku mengikuti mereka. Junsu sudah dapat tempat duduk di depan tadi.
“Ya~!” teriak Taemin kesal. “Kenapa mengikuti kami?”
Lihat! Aku baru saja duduk di sebelah Hyun Ae dia sudah sekesal itu. Apa haknya??
“Cuma ini yang kosong. Lihat saja!” komentarku datar.
“Tsk!” dia berdecak kesal.
Kuambil ipodku. “Mau ikut dengar?” tawarku pada Hyun Ae.
“Ah? Boleh. Lagu siapa saja yang kau punya?” Hyun Ae tampak antusias.
“Noona?” Taemin memanggil dengan nada cepat. “Aku dapat lagu baru. Coba dengar! Lagunya asyik lho!” katanya sambil memasang headset ke telinga Hyun Ae.
Ugh, menyebalkan! Anak ini kenapa seolah tidak memberiku kesempatan? Apa Hyun Ae miliknya?! Tidak kan?
“A?? kita tukar tempat dulu,” ujernya lagi.
M-mwo??? Aku melotot padanya saat dia duduk di sampingku. Dia balas melotot padaku tak kalah galak.
Aish… Aku membuang napas keras. Mencoba mengusir kekesalanku.
Bus berjalan.
Hyun Ae tampak asyik sekali bicara dengan Taemin yang lebih muda tiga tahun darinya. Dia baru kelas satu SMA, tergolong cepat untuk anak seusianya.
Mereka tertawa bersama, membuat kekesalanku meningkat.
Dengan santai Taemin bersandar di sandaran kursi lalu….
YA!!! Berani-beraninya dia!! Kenapa dia merebahkan kepalanya di bahu Hyun Ae-ku????
Aku panik sekaligus cemburu. Kulihat Hyun Ae mencubit pipi Taemin sambil tersenyum. Dia menanggapi tingkah anak itu sesantai itu?!
Gigiku bergemelutuk menahan geram. Hari yang semula kukira menyenangkan, berubah sudah. Argh…kenapa anak ini harus ada di dekat Hyun Ae?!! Menyebalkan! Tapi, kenapa Hyun Ae begitu santai menanggapi kelakuannya?
Lihat!! Sekarang si Taemin yang sok imut itu memejamkan matanya. Nyaman sekali dia!!
Kutatap Hyun Ae yang sedang asyik… MERAPIKAN RAMBUT TAEMIN??
Omo!! Jangan-jangan…
***

Hujan deras. Para siswi yang membawa payung sudah berjalan menuju halte. Salah satu dari mereka ada yang menawari Junsu satu payung berdua, Junsu menerima tawaran itu dengan bahagia.
Aku sedang berpikir meminjam payung siapa ketika kulihat Hyun Ae berjalan dengan lesu. Dia membuka payungnya dengan enggan.
Segera aku menghampirinya.
“Anyeong…” sapaku.
“Ah, anyeong, Hyuk Jae-ssi.” Jawabnya kaget. Dia mencoba tersenyum.
“Mana yang lain? Biasanya kalian bersama.” Tegurku saat sadar keempat sahabatnya tidak ada.
“Heechul oppa sedang ada kelas tambahan. Onew dan Soo Hyun sedang kencan.”
“Hujan-hujan begini?” potongku.
Hyun Ae tertawa kecil. “Apa yang kau pikirkan. Mereka sedang kencan di kelas, membahas materi ujian matematika yang akan keluar besok di kelas mereka.” Terangnya.
Aku mengangguk paham. “Lalu Taemin?”
“Minnie?” ulangnya.
O, jadi panggilan kecil anak itu ‘Minnie’?!
Hyun Ae menghela napas berat. “Dia duluan. Katanya menemani temannya mencari buku.”
Kuteliti wajah lesu Hyun Ae. Apa gara-gara Taemin?
“Temannya itu perempuan ya?” tebakku.
“Nde…” lirih Hyun Ae. Pandangannya tertuju pada hujan.
Apa dia sedih? Dia tampak tak bersemangat sekali.
Aku mengambil payungnya dan menariknya ke sampingku.
“Hyuk Jae-ssi?” Ia terkejut dengan perlakuanku.
“Biar aku yang mengantarmu pulang…”
“EH? Tidak perlu. Aku-,”
“Kajja!” potongku cepat. Aku tak mau mendengar dia menolak tawaranku. Kutarik tangannya untuk membuatnya melangkah. Tangan kananku menggenggam tangan kirinya dnegan erat sementara tangan kiriku memegang payung. Agak sulit karena aku harus berusaha agar Hyun Ae tidak basah.
Perlahan Hyun Ae melepas genggaman tanganku. Aku menoleh ke arahnya. Dia tampak pura-pura tak tahu.
Dengan canggung aku memindang genggaman payungku ke tangan kanan. Kami melangkah dalam diam…
***

Tanpa sepatah kata, cinta datang. Tanpa sepatah kata, ia menyapa. Membawa bahagia tanpa diminta. Membuat hari yang biasa-biasa saja jadi istimewa. Merubah hal-hal kecil bisa jadi sitimewa.
Kulihat Hyun Ae tengah serius memilih mana yang bagus dari dua buah kalung yang penjaga toko aksesoris sodorkan pada kami.
“Jadi yang mana?” tanyaku. Hyun Ae menaruh telunjuk nya di dagu. Seolah sedang berpikir keras.
“yang mana?” desakku tak sabar.
“Umm… Ini.” Dia menunjuk kalung dengan liontin lumba-lumba.
“Yang ini, omonim.” Kataku pada penjaga tokonya. Si penjaga itu segera membungkusnya dan menyerahkannya padaku.
Aku bilang pada Hyun Ae sesaat sebelum berangkat kalau aku mau membelikan sesuatu untuk orang yang special bagiku. Dia menemaniku dengan antusias.

Tiba di rumahnya, kuserahkan kalung tersebut. Dia menadnagku penuh Tanya.
“Bukannya…” kata-katanya menggantung.
“Orang special itu adalah kau, Hyun Ae-ah…”
“Eh?”
“Kalau kau menerimaku, pakailah kalung ini. Kapanpun kau mau menerimaku.
“Hyun Jae-ssi, aku-.”
“Aku tak mau dengar jawaban selain kau menerimaku, Hyun Ae-ah.” Kuberikan senyum terbaikku padanya.
“Hyuk Jae-ssi, mia-.”
“Noona!!” panggil seseorang di belakangnya.
Hyun Ae pasti mau bilang, ‘Mianhae, aku tidak bisa.’ Untung saja seseorang memanggilnya.
“Lama sekali! Aku hampir mati bosan menunggu, noona!” lanjut orang yang memanggil Hyun Ae tadi dengan manja.
Aku tak jadi merasa beruntung ketika melihat siapa yang memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan Taemin. Anak ‘kecil’ itu tampak merengut.
“Mianhae, Minnie…” kata Hyun Ae sambil mencubit pipi Taemin yang merengut dengan gemas.
Aku mengehmpaskan napas dengan keras. “Aku pergi dulu. Bye…” pamitku.
“Ah? Nde. Bye…” sahut Hyun Ae canggung.
“Pergi dan jangan pernah mendekati noonaku lagi!” teriaknya padaku.
Aku terus berjalan. Pura-pura tak mendengarnya.
“Noona, aku tak suka melihat noona jalan dengannya!” samar kudengar kalimat itu meluncur di bibir Taemin.
“…”
Aish…
***

Hari terlalu cerah untuk suasana hati seperti ini. Berkali-kali aku menghela napas panjang. Mencoba mengusir ingatan tentang kejadian yang baru saja terjadi. Sayangnya, aku gagal. Kata-katanya itu kembali berkelebat di benakku.

-Flashback-
Hyun Ae dating ke ruang seni, tempat di mana aku sering diam-diam melatih tarianku. Dia dating untuk mengembalikan kalung yang kuberi.
“BUkannya aku bilang akan menunggu sampai kapanpun?”
“Mianhae…” lirihnya.
Aku mendengus kecewa. “Apa sampai kapanpun kau tetap hanya memandang Taemin?”
Hyun Ae tampak terkejut.
“Apa selamanya hanya dia yang kau sukai dan aku selamanya tetap sebagai teman?” kesalku.
“Jongsuhamnida, Hyuk Jae-ssi.” Ia berkata penuh sesal. Seketika dadaku sakit!
Aku membuang muka. Tak ingin memperlihatkan bulir kecewa yang menggenang di mataku. “Setelah lebih dari dua tahun rasa ini ada dan kau tolak begitu saja?!”
“Mian…” lirihnya. Perlahan dia beranjak pergi.
“Apa jika si Taemin itu tidak mengatakan suka padamu…” kata-kataku sukses membuatnya berhenti. “… kau tetap mengembalikan kalung ini padaku?”
“Mianhae…” hanya itu jawabannya. Lantas dia benar-benar pergi.
-End Flashback-

Aku kembali menghempaskan napasku dengan keras. Kemarin saat aku pamit, aku sebenarnya tak benar-benar pergi. Aku bersembunyi, mencuri dengar pembicaraan mereka.

-Flashback-
“Pergi dan jangan pernah mendekati noona-ku lagi!” teriak Taemin padaku ketika aku melangkah pergi meninggalkan rumah Hyun Ae.
Aku terus berjalan. Pura-pura tak mendengarnya.
“Noona, aku tak suka melihat noona jalan dengannya!” samar kudengar kalimat itu meluncur di bibir Taemin.
“Wae? Dia kan temanku?”
Langkahku terhenti. Aku bersembunyi dan mendengarkan pembicaraan mereka.
“Aku tetap tidak suka!”
Hyun Ae tertawa kecil melihat wajah kesal Taemin. “Pasti ada alasannya kan kalau tidak suka?
Taemin manyun. Wajahnya jelas sekali merengut.
“Waeyo?” Tanya Hyun Ae lagi.
“Aku… aku mau noona hanya memandangku!” jujurnya pelan.
Deg! Apa ini pernyataan cinta?
“Nde?” Hyun Ae tampak tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
“Aku… suka noona.” Ucap Taemin lambat. Ia menunduk dalam. “Bukan suka sebagai adik dan kakak. Tapi suka terhadap lawan jenis,” katanya setengah berbisik. “Aku ingin noona hanya untukku.”
Hyun Ae menatapnya gugup. “Jangan bercanda seperti ini, Taemin-ah! Ini tidak lucu.”
“Jeongmal saranghaeyo, noona!!” Taemin menatap Hyun Ae tajam. Wajahnya serius sekali. “Jadi, berhentilah memandangku sebagai magnae! Naneun namja!!” tegasnya. “Jadi, pandang aku sebagai namja!”
Hyun Ae terdiam.
Mungkin karena malu, Taemin melangkah pergi dengan canggung.
“Sejak tiga tahun lalu…” kata Hyun Ae lambat. “…aku tidak pernah memandangmu sebagai magnae lagi.”
Seketika Taemin berhenti.
“Nado… sarangahae, Taemin-ah…” kata Hyun Ae dengan pelan.
Senyum kekanak-kanakan Taemin merekah. “Jeongmal?”
“N-nde..” jawab Hyun Ae gugup.
Taemin langsung memeluk Hyun Ae sambil sesekali melompat girang. “Ye~ noona jadi pacarku sekarang!!” teriaknya girang. Ia lantas melepas pelukannya dan kembali berkata, “Mulai sekarang aku panggil chagiya ya?”
Wajah Hyun Ae memerah.
“Chagiya?” panggil Taemin lembut sambil menggandeng tangan Hyun Ae mesra. Senyum manis terukir di wajahnya.
Aish…
-End Flashback-

Cinta datang tanpa suara. Membawa angan terbang indah di angkasa. Ia lalu pergi dengan meninggalkan luka. Menghempasku seketika, tanpa peduli aku siap atau tidak!
Hhhh…. Kenapa kisah cintaku tak berakhir bahagia?!
--End--

Kalau ini yang paling kusukai, hehehe…

Title: Memories of Heart
Author: Imah Hyun Ae
Cast: all member SHINee
Disclaimer: ide saya yang menumpuk dan saya gabung jadi satu XD

MEMORIES OF HEART

~Key POV~
Aku memandangi langit kelabu di atasku. Tak ada yang istimewa hari ini. Hanya langit kelabu, lalu turun salju. Dingin menusuk. Hanya aktivitasku yang semakin padat. Hanya blitz kamera yang mengabadikan sosokku tanpa jemu. Yah… masih seperti biasanya.
Bagaimana dengan dirimu? Masihkah memainkan lagu rahasia kita? Kau terkejut sekali ketika kau bilang kau harus pindah. Dan akan memakan waktu lama untuk bertemu kembali.
Saat kau bilang, ‘Kita ada di bawah langit yang sama, jadi jika kita memainkan lagu rahasia ini, lalu memandang langit, maka hati kita menghangat, itu berarti hati kita masih terhubung’, dadaku benar-benar berdebar hebat. Jeongmal saranghae… jeongmal… Bogoshipda….
Puk!
Sebuah bola salju mendarat di bahu kananku. Kudapati siapa pelakunya. Anak itu tersenyum lebar.
“Siapa suruh kau melamun di udara dingin ini, hyung!” tegurnya sembari mendekatiku.
Aku membalas senyumnya. “Bukan melamun, Min.”
“Lalu?” ujer Taemin sambil menggosok-gosok kedua tangannya. Mencoba menghalau dinginnya udara.
“Hanya memikirkan sesuatu.” Jawabku. Dan ketika sosokmu terukir, dadaku terasa hangat. Apa kau merasakan kehangatan yang sama ketika memikirkanmu?
“Siapa?” Taemin kembali menyadarkanku.
Aku menjawabnya dengan senyuman. ‘Hyun Ae’, batinku mengucapkan nama itu.
Aku merangkul Taemin dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
***

~Taemin POV~
Musim berlalu. Dan kini musim semi tiba. Aku tahu seseorang yang dipikirkan Key hyung. Sosok yang senang sekali duduk di bawah pohon di musim semi seperti ini. Hyun Ae.
Jika Key hyung mengenang Hyun Ae noona, maka setiap waktu aku mengenangmu.
Terkadang aku menelponmu. Sekedar menanyakan kabar dan kegiatanmu. Kau yang keluar negeri membuatku yang masih sekolah ini harus bisa menghemat uang agar dapat menelponmu. Kau, kakak kelasku, sahabat sejak kecilku, juga cintaku noona. Pertukaran pelajar membuatku harus memendam rindu ini selama setahun. Tapi.. yang lebih kutakutkan… kau tak pernah tahu perasaanku. Perasaan yang sudah lama ada. Sudah sering kutunjukan padamu dengan tingkah manjaku. Mungkin karena aku terlalu muda, hingga kau menganggap kejujuranku Cuma bercanda. Padahal, rasaku ini sama dengan mereka yang seumuran denganmu atau yang lebih tua.
Tiga tahun lebih muda, bukan berarti aku tak serius, kan?
Aku berharap suatu hari, kau akan melihatku sebagai seorang laki-laki, noona.
Whuss…
Angin musim semi bertiup. Membawa aroma khas bunga-bunga yang mekar. Pandanganku terhenti ketika kudapati di depan sana Onew hyung melambai padaku. Dia terlihat ceria, tapi sebenarnya ada rahasia menyedihkan yang disembunyikannya.
Ah, apakah sudah saatnya latihan?
Aku segera berjalan ke arahnya. Latihan dance untuk performance kami nanti malam sepertinya segera di mulai.
Soo Ae noona, kau pernah bilang kau suka tarianku kan? Apa kau merasakannya? Semua tarianku, kupersembahkan untukmu. Jeongmal saranghae, noona…
***

~Onew POV~
Di lain musim.
Udara yang pengap. Wajah yang memerah. Matahari yang terik. Juga kegembiraan lantaran libur musim panas tiba. Aku benci!
Benci melihat terik matahari yang menyengat itu! Benci dengan segala hal yang berkaitan dnegan musim panas. Semuanya akan mengingatkanku padamu, cinta pertamaku. Juga kekasih pertamaku. Karena di musim panas dua tahun lalu, Tuhan mengambilmu dariku.
Aku ingat, kegiatan libur ketika musim panas waktu itu: Jalan santai sejauh 30 kilometer yang diadakan sekolah sebagai kegiatan kenang-kenangan siswa SMA kelas tiga. Di hari itu kau pergi untuk selamanya. Kau oleng karena kelelahan dan dehidrasi. Lalu jatuh membentur batu yang ada di pinggir jalan tanpa sempat kutolong. Kau koma tiga hari lamanya, lalu…
Setelah hari itu, hanya bayanganmu di benakku yang selalu menemaniku. Aku… merindukanmu…
“Hyung!! Palli~!” teriak Taemin.
Aku mengangguk lemah. Ia yang memaksaku ikut hari ini di acara liburan yang diadakan management. Liburan yang akan diliput stasiun tv swasta di negeri kami.
“Terkenang dengannya lagi?” bisik Key saat aku berhasil menyusul mereka yang menungguku.
Aku hanya bisa tersenyum lemah.
Minho menepuk pundakku. Semua member memang tahu kisah itu.
***

~Minho POV~

Musim berganti.
Daun menguning dan berguguran. Jatuh jauh dari pohonnya ketika tertiup angin.
Suhu mulai berubah. sejuk. Namun hal itu memperjelas hatiku yang kosong. Sunbei bersuara indah yang tak sengaja kudengar dari ruang musik hampir setahun lalu pergi. Kau dengan berani pergi membawa serta hatiku, tanpa sempat memberi kesempatan padaku untuk mengenal siapa dirimu. Yang kutahu hanyalah kau kakak tingkatku.
Aku berjalan menyusuri halaman samping ruang musik. Gemerisik daun yang kuinjak menyayat hatiku. Mengalunkan lagu sendu yang dulu pernah tak sengaja kudengar kau nyanyikan setahun lalu.
Kusentuh dindingnya yang menyimpan kenangan tentangmu. “Jeongmal bogoshipda…” bisikku.
“Ya~ Choi Minho!!” aku terkejut. Seseornag melongokan kepalanya dari jendela dan berteriak menyebut namaku.
“Baru lima menit kita pisah kau sudah merindukanku?!!”
Kupukul kepalanya dengan pelan. “Yang benar saja, hyung! Aku memikirkan seseorang yang istimewa, tapi jelas itu bukan kau!!” aku menyandarkan punggungku di dinding ruang musik.
“Aish… sunbei itu lagi?”
Aku mendelik ke arah si ‘bling-bling’ di sampingku ini.
“Lupakan! Dia tidak akan hadir lagi! Carilah yang lain? Masih banyak kan yang mengantri cintamu?”
Aku mencibirnya. “Jangan hanya bsia menasehati, hyung!” tegurku.
“Mwo?”
Aku tertawa sambil menggelengkan kepala. “Kenapa kau tidak menasehati dirimu sendiri? Bukankah Han Jae Jin sudah jadi milik orang lain sejak tiga bulan lalu? Kenapa masih memikirkannya?”
“M-mwo? Siapa yang memikirkannya??” katanya gugup.
“Ck! Jangan bohong, hyung!”
Jong Hyun hyung langsung manyun.
Aku menertawakannya sepuasku.
Sunbei… Kau sudah lulus, kemungkinan bertemu lagi memang sangat kecil. Tapi… aku boleh berharap pertemuan itu terjadi kan?
***

~Jong Hyun POV~
Di lain waktu…
Angin menggerakkan dahan-dahan pohon. Gemerisiknya cukup mengganggu. Langit tampak pekat. Hujan sebentar lagi turun.
Aku melangkah cepat. Aroma yang enak hinggap di hidungku. Langkahku terhenti. Seketika aku melihat satu sosok yang anggun sedang menghiasi kue tart. Itu…kau Han Jae Jin.
Sepertinya kue itu baru saja kau buat. Terlihat sekali kau puas dengan hasil kerjamu. Aku turut tersenyum. Andai saja kue itu untukku.
“Sukses?” sebuah suara langsung menghempaskan hatiku ke perut bumi.
Kulihat kau mengangguk pada sosok yang hobi membuat kue itu dengan malu-malu.
“Wow… cantiknya. Boleh kucicipi?” ia tersenyum manis padamu.
“Tentu.” jawabmu girang. “Ini aku buat khusus untuk oppa, kok.”
Oppa? Kata itu menyakitiku Jae Jin-ah…
“Jeongmal? Gomaweo…” ujer laki-laki itu sambil mengelus kepalamu dengan sayang.
Dadaku sesak. Kenapa lagi-lagi aku harus menyaksikan hal ini? Ini sudah kesekian kalinya aku melihat kebersamaanmu dengannya. Itu melukai perasaanku. Tapi… siapa aku bagimu? Hanya seorang Jong Hyun yang dipuja banyak orang, namun tak kau lirik! Benar kan?
Lihat! Aku tahu hal itu, tapi hatiku terus menginginkanmu. Harus bagaimanakah aku, Jae Jin-ah….?
--End--
--------------------------------------------------------

Sad end lebih bagus, mungkin karena hatiku juga, yang tak pernah merasai cinta yang berbalas…


TBC

No comments:

Post a Comment