There was an error in this gadget

Thursday, February 3, 2011

Love Ya!!! chapter 2

Chapter 2
My Forever Love

---Egi---
Aku tak pernah membayangkan, bahwa aku, Egi Prayoga, akan jatuh cinta pada gadis sedalam ini. Sampai-sampai hatiku yakin bahwa selamanya hanya akan ada dia.
Mungkin aku terlalu memanjakan perasaan ini. Menuruti kehendaknya yang selalu mengenang debaran ketika di dekatnya.
Lihatlah sekarang, aku mengenang lagi! Duduk di jendela kamarku. Sebenarnya mau memikirkan fanfic (cerita fiksi yang ditulis fans dengan tokoh utamanya adalah idolanya) yang akan kutulis. Namun, hati ini membawa pikiranku berkelanan ke hari-hari itu…
***

SMA kelas XI, pertengahan April.

Aku berjalan-jalan di samping ruang kesenian. Ketika sebuah suara merdu tertangkap telingaku langkahku langsung terhenti. Kuintip ruangan tersebut dari balik pintu.
Di dalamnya ada tiga teman baikku, penggila korea juga. Mereka sedang duduk sambil menghapalkan lagu Picture of You dari DBSK, band favorite kami, yang tadi kudengar.
Aku masuk tanpa menimbulkan suara. Lalu…
“DAR!!!”
Semua terkejut. Ima memukuliku gemas.
“YA~!! Mau membuat kami mati?!!” Nana mencubit tanganku kuat sambil berkomentar seperti itu.
Sedang Lia, ia tergelak melihatku meringis.
“Rasakan!” katanya.
Bugh! Pukulan dari Lia mendarat di bahuku. Hal yang sering dilakukannya. Tapi… kenapa denganku?
Lia tertawa keras. Dan itu… membuat dadaku berdebar aneh. Apa yang terjadi? Bukankah dia sering tertawa seperti itu saat mengerjaiku atau saat menonton reality show idola kami bersama-sama?
Aku membeku beberapa saat.
“Kau kenapa?” aku tahu Nana menegurku. Tapi tubuhku tak mau kuperintah untuk bergerak. Mataku masih menatap Lia tanpa kedip. Lia yang masih dengan model rambut yang sama, dengan wajah tanpa riasan sama sekali. Tapi justru membuat dadaku bergemuruh hebat. Kenapa bisa membuat dadaku sesak begini?
Dugh!!
Seseorang menginjak kakiku. Sakit! Aku tak jua mau menoleh.
Kurasakan kedua tangan memegang pipiku, menggerakkan kepalaku, membuatku menghadapnya. Pipi orang yang memegangku ini tampak kembung. Dia… mau meludahiku???
“Apa-apaan kau??” tanyaku gugup pada Nana yang kini sedang menelan ludah.
“Baguslah kalau aku sadar…” gumamnya.
“Jika kau tadi masih belum sadar juga, Nana berniat menyembur wajahmu dengan air yang di mulutnya tadi.” Kata Lia sambil menahan tawa.
“Apa??”
“Habis… dari tadi di panggil tidak tahu-menahu. Kami kan jadi takut…” ujer Nana.
Ups! “Maaf…” aku memberikan cengiran lebarku.
“Sudahlah… sekarang ambil gitar dan mainkan lagu Picture of You. Kami mau menyanyikannya lagi,” perintah Lia.
Aku mengerti. Kuambil gitar dan memainkannya. Sesekali kulihat Lia. Angin seperti menyentuh wajahnya dengan lebut. Sesekali mempermainkan helaian rambutnya yang terurai. Membuat wajahnya yang seperti sedang menghayati lagu semakin terlihat… Cantik! Hey… kenapa dari dulu aku tak sadar kalau kata itu pantas untuknya ya?
***

SMA kelas XI, akhir Mei…
Hujan turun dengan lebat. Padahal pagi tadi matahari masih bersinar cerah dan hawa panas menyelimuti ruangan. Kulajukan langkahku mengikuti langkah Ima yang semakin cepat di sampingku. Kami sekelas, sedang Lia dan Nana di kelas yang lain.
Benar saja, rupanya sosok Lia dan Nana sudah ada di depan sana. Tepatnya di depan kelas X ruang dua.
“Bagaimana? Jadi mencari majalah hari ini?” tanyaku pada dua teman di depanku yang tingginya saling berbeda itu. Kalau boleh menyamakan sih, mereka terlihat seperti angka sepuluh. Lia jadi angka satunya dan Nana jadi angka nolnya, hehe…
Lia dan Nana saling tatap.
“Sepertinya tidak ,” ujer Nana sedih.
“Hujan terlalu lebat dan tidak mungkin teduh sebelum jam tiga. Dan lagi, belum tentu kios majalah itu buka hujan-hujan begini,” jelas Lia.
“Ya sudah. Besok saja,” putus Ima.
Kami mengangguk menyetujui.
“Kita pulang?” tanya Nana pada Ima.
“Bagaimana kalau nonton di rumahku saja?” tawar Lia.
“Benar?” Tanya Ima semangat.
Lia mengangguk. “Kita selesaikan drama yang belum tamat kita tonton kemarin. Hehehe…”
Nana dan Ima mengangguk cepat.
“Kalian bawa payung?” Tanya Lia pada kami.
Aku diam sesaat. Lalu sebuah cengiran lebar kusuguhkan. “Lupa!”
Lia memandang Ima dan Nana.
Ima menggeleng.
“Aku bawa,” kata Nana.
“Ya sudah, Egi denganku dan Ima denganmu,” putus Lia.
Ima mengangguk. Nana langsung membuka payungnya.
“Sini, biar aku yang pegang,” kataku pada Lia. Kuambil payungnya. Hatiku terasa hangat karena di sampingnya.
Kami berempat berjalan beriringan menuju halte.
Kami masuk ke dalam bus. Ima dan Nana duduk di kursi nomor empat. Sedang aku dan Lia, kami duduk di kursi paling akhir. Mungkin karena kami cukup lambat.
Aku duduk di dekat jendela sebelah kanan dan Lia di sebelahku. Degup jantungku semakin cepat ketika dia menyelipkan headset ke telingaku.
Aku tersenyum canggung. Lalu memalingkan wajah. Menatap hujan dari jendela di sambingku sembari menghembuskan napas. Mencoba mengusir kegugupanku. Padahal dia sudah sering begitu…
Bus berjalan pelan seiring dengan musik di headset yang perlahan mengalunkan lagu Forever Love dari boyband idola kami.
Aku menoleh ke arah Lia. Kudapati dia sedang memejamkan matanya. Tertidur kah? Atau sedang menikmati lagu ini?
Aku sedang mengamati lekuk wajahnya ketika dia tiba-tiba membuka mata dan bergumam, “Aku mengantuk sekali,” sambil melihatku.
Jantungku mau lepas rasanya. “Mengagetkanku!” desisku sambil mengurut dada. Membuatnya tertawa pelan. Ia lantas menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi bus.
Aku menghela napas. Ikut menyandarkan diri di sandaran kursi bus juga. Aku memandang Lia lagi sesaat, lalu memilih memandang ke luar jendela.
Deg!
Pandanganku seketika terkunci pada satu bayangan yang terpantul di kaca ini. Bayangan Lia yang menunduk dan memejamkan mata ada di kaca jendela bus.
Senyumku mengembang. Perlahan aku mengelus bayangan itu, seolah mengelus sosok Lia.
***

Benar. Kegugupan terus berlanjut dan semakin meningkat jika dia mendadak memalingkan wajah atau membuka matanya jika dia tidur. Atau menatapku antusias ketika aku bicara. Ah… aku terlalu menyukainya…
Kulangkahkan kakiku menuju laptopku. Membuka Microsoft word dan mulai mengetik sebuah fanfic pendek. Meski ku tulis tokohnya adalah salah satu anggota boyband idolaku dan seorang tokoh fiktif. Hmf… sebenarnya buka fiktif. Yang jadi tokoh asli di sini adalah aku dan Lia. Mungkin cuma Ima yang tahu hal ini. Itupun kalau dia memaknainya dengan serius.

Title: “MY FOREVER LOVE”
Tokoh: Kim Junsu (DBSK) dan Hyun Ae (fiksi)
Disclaimer: imajinasi saya, terinspirasi dari kisah hidup seseorang

MY FOREVER LOVE

Meski kau tak pernah tahu, diam-diam telah lama aku memperhatikanmu. Di sudut ini, bersembunyi. Mengintip tawamu yang renyah yang selalu menyejukkan hati ini.
Di belakangmu, pelan-pelan aku mengikuti jejakmu. Mengukir derit langkahmu di hati dan ingatanku.
Di seberang jalan, aku menatapmu yang sedang mencari-cari sesuatu dengan tenang. Aku ikut merasakan kebahagiaan ketika kau mendapatkan apa yang kau cari.
Salju turun dengan lebat di hari lain. Aku mendekatimu dan menyodorkan payungku. Kau menoleh.
“Junsu oppa (Kak Junsu?!)?!” desismu kaget.
“Pakailah…”
“Tapi-“
“Gumanhae (sudahlah) pakai saja.” Kataku sembari tersenyum. Kuserahkan payungku. Rasanya salju mencair karena hangatnya hati di dekatmu, Hyun Ae-ah…
“Gomaweo oppa… (terima kasih, Kak…),” kau tersenyum cerah.
Aku melepasmu. Sahabat baikku yang kucintai. Langkahmu yang kecil, lagi-lagi membekas di hatiku.
---
“Chukae (selamat), Hyun Ae-ah…” batinku ketika melihatmu hari ini berdiri di pelaminan. Mengikat janji dengan seorang laki-laki di sebelahmu,dan itu bukan aku.
Kau menikah dengannya, ‘seorang yang aku cintai,’ katamu dulu ketika mengatakan akan menikah dengannya. Tidak kah kau tahu kalau kata-kata itu menyakitiku?
Senyum bahagia di wajahmu makin mengiris-ngiris hatiku.
Aku menjabat tanganmu. “Chukae…” kataku. Bersamaan dengan itu kepingan cinta di hatiku retak.
“Gomaweo oppa…” ujermu ceria.
Hatiku makin mengerut. Sakit. Tapi tetap saja di palung hatiku terukir satu kata. “Saranghae, Hyun Ae-ah (aku mencintaimu, Hyun Ae). Youngwonhi… (selamanya…).”
-end-

Ku cek sekali lagi ketikanku. Lagi-lagi, aku teringat hari-hari berat itu…


TBC...

No comments:

Post a Comment