There was an error in this gadget

Friday, February 4, 2011

Love Ya!!! chapter 11

Love Ya!!!
by Imah Hyun Ae

Chapter 11
Go To Bali

~Ima~

“Ima~!!!”
Teriakan Lia menyadarkanku. Aku melambai pada mereka dan menyuguhkan senyum terbaikku.
“Wah~ kau sedikit berubah,” ujer Lia sambil memelukku. Dia kemudian melepas pelukannya dan menelitiku dari ujung kaki ke ujung kepala. Membuatku ikut-ikutan memperhatikan diriku.
“Kau makin cantik.” Dia tersenyum tulus padaku. Kemudian menatap Egi. “Ya kan, Gi?” tanyanya.
Kulirik Egi sekilas. Lelaki dengan gaya rambut chesenut itu mengangguk sembari memperhatikanku.
“Mm… ke tempatku sekarang?” tanyaku. Mereka mengangguk bersamaan. Rencananya kami akan menunggu di hotel tempatku menginap sampai jam tiga nanti, dan barulah kami berangkat ke Bali. Tempat di mana Nana sekarang berada. Dia jadi guide untuk pengunjung dari korea karena kemahirannya berbahasa itu. Apalagi ada temannya yang keturunan korea asli juga bekerja untuk hohel yang sama. Jadi dia bisa belajar banyak hal dari temannya itu.
Deg!
Aku tak sengaja memandang Egi. Dengan segera aku memalingkan wajahku. Aduh… rasanya sulit sekali bertemu mata dengan lelaki pemilik senyum hangat ini. Ah… Cintaku memang masih untuknya, bagaimana ini?
***

Perlahan kurasai pesawat mulai naik. Kudengar helaan napas Lia. Dia mungkin sama tegangnya denganku. Yah… rasanya sulit sekali digambarkan perasaan kami ini. Nana, berapa lama ya tidak melihat gadis itu? Hampir setahun lebih rasanya. Bagaimana ya dia sekarang? Apa Bali banyak merubahnya?
Kami sudah mengudara sekarang. Sabuk pengaman boleh di lepas. Kulihat keluar jendela. Langit biru dan sedikit awan putih di sebelah sana. Sinar matahari jelas sekali dari sini. Kualihkan pandanganku ke bawah. Semua tak terlihat jelas lagi di mataku.
Aku menyandarkan kepalaku di dinding pesawat. Memejamkan mata.
Bali dan Nana, tunggu kami. Sebentar lagi kami datang… ^^
***

~Nana~
Kita berencana tapi Tuhanlah yang menentukan. Kadang Ia memberi jalan yang mulus, kadang juga jalan yang berliku. Dan itulah yang kualami.
Aku, Nana, genap berusia 24 tahun di Januari lalu. Aku tahu, tak ada tanda-tanda kedewasaan di diriku. Aku masih saja Nana yang dulu, yang tidak bisa menyebut ‘R’ dengan sempurna, Nana yang heboh, Nana yang tak bisa diam, Nana yang cerewet, dan terkadangn nana yang menyebalkan karena terllau banyak bertanya. Dan yang paling jelas adalah, tinggiku yang tak pernah bertambah. Terhenti di 157cm. Jadi… bagaimana jadinya aku kalau berdiri di samping orang yang bertubuh setinggi 180cm?
Kehidupan sekolahku sempat tak berjalam mulus. Ketika lulus aku memutuskan mendaftar di universitar luar kota yang kualitas bahasa inggrisnya bagus dan ada ekstrakurikuler bahasa koreanya. Aku bahkan sudah membayangkan bagaimana asyiknya aku nanti. Namun, Tuhan berkehendak lain. Aku tidak lulus dalam tes.
Sambil ikut gelombang kedua aku didaftarkan ayahku di beberapa akademi perawat. Lagi-lagi aku gagal. Jadilah selama setahun aku pengangguran. Baru tahun berikutnya aku ikut tes OSMPTN lagi dan memilih universitas yang sama dengan Lia, Ima, dan Egi saja. Cukup sedih juga saat melihat mereka lulus duluan tepat empat tahun dan aku masih setahun lagi.
Aku tak menginginkan jadi guru, makanya setelah lulus aku memilih ke Bali. Menjadi guide di sebuah hotel di sana. Untung saja aku belajar sendiri bahasa korea dengan CD dan buku-buku bahasa korea yang kubeli semasa kuliah. Jadinya aku lumayan bisa. Dan berkat laki-laki korea yang bekerja jadi guide juga di hotel yang sama denganku, aku bsia belajar banyak darinya. Kami lebih sering berada di kelompok tur yang sama.
Dia sudah dua tahun di sini. Jadi bisa di bilang dia seniorku. Umurnya kalau tidak salah 26 tahun. Dia tampan, seperti orang korea kebanyakan, hehe… tingginya 182 cm. aku paling suka melihat senyumnya. Dia laki-laki pemilik senyum manis yang kutemui selama hidupku menurutku dan selain Kim Jae Joong (idolaku) tentunya.. Namanya Lee Jong Hwa.
Kami semakin akrab setelah aku pindah ke kostan yang ternyata dekat dengan kostnya juga.
Aku tak tahu cinta itu apa dan seperti apa. Yang kuyakini cuma, aku mencintai Kim Jae Joong, lelaki tercantik di boyband favoriteku, Dong Bang Shin Ki. Anehnya… Jong Hwa, entah sejak kapan, dia juga menjadi sesuatu yang penting di hatiku. Berada di tahta kedua di hatiku. Ini benar-benar cinta atau cuma sekedar obsesi berlebihan terhadap hal-hal atau orang-orang korea, aku tak tahu. Aku hanya berharap hari-hari menyenangkan di sini, dan bersamanya ini, tetap berjalan selamanya.
Aku tersenyum saat pikiranku mengembara pada hari esok. Lia, Ima, dan Egi akan ke mari. Wuah… rasa-rasanya… ingin sekali aku memperkenalkan mereka pada Jong Hwa. Pasti Jong Hwa makin senang banyak yang menyukai negerinya yang indah dan selalu menunjukan semangat cinta tanah air itu. Seharusnya aku juga belajar semangat cinta tanah air darinya ya, hahha… Tolong tenang saja Indonesiaku. Aku memang mencintai negeri itu, tapi tentu saja lebih mencintai tanah airku, hehe…
Kapan ya, bisa ke negeri gingseng itu? Melihat keindahannya. Bertemu dengan DBSK. Apa di antara kami nanti ada yang ke sana?
Puk!
Aku menoleh. Kutemukan Jong Hwa tersenyum padaku, lalu duduk di sampingku. Kami memang tidak ada jadwal tour hari ini dan esok. Untunglah…
“Melamunkan apa?”
Aku menggeleng.
Dia mengacak-acak rambutku sambil tertawa. “liar! (Bohong!)” katanya.
“No (Tidak). Hanya memikirkan teman-temanku yang datang besok saja kok, hehe…” Yah… beginilah kami, berkomunikasi dalam tiga bahasa, Indonesia, Inggris, dan Korea.
Jong Hwa menganggukkan kepalanya. “Benar juga. Apa perlu aku membuat kimchi untuk menyambut kehadiran mereka?” aku memandanginya yang lumayan fasih berbahasa Indonesia, walau logat koreanya masih saja ada.
“Mmm… boleh juga. Mereka kan belum pernah makan kimchi. Pasti mereka senang.”
Jong Hwa tersenyum lebar.
“Kita beli bahan-bahannya sekarang. Kajja!!!”
Aku tak pernah tahu, pertemuan esok, akan jadi hal yang akan kusesali. Dan akupun tak pernah menyadari kalau cinta dan obsesi bedanya tipis sekali.


TBC

No comments:

Post a Comment