There was an error in this gadget

Thursday, February 3, 2011

Love Ya!!! chapter 6

Love Ya!!!
by Imah Hyun Ae

Chapter 6
My Big Brother

---Lia---
Angkasa penuh dengan awan-awan putih. Hanya sedikit langit biru yang tampak. Anginpun tampak sesekali menyapa helai-helai daun. Hawanya yang dingin sedikit membuat tubuhku gemetar dalam perjalanan menuju ke bandara ini.
Egi menatapku. “Gwenchana?” tanyanya cemas.
Aku mengangguk. Kuberikan senyuman agar dia tak mencemaskanku lagi. Perlahan kulihat dia melepas jaketnya dan menyerahkannya padaku.
“Pakailah…”
Aku menatapnya.
“Kau kedinginan kan?”
“Hehehe…” aku cengengesan. “Gomaweo,” ucapku girang. Ia manggut-manggut sambil menyeruput kopi hangat yang baru dibelinya.
Kami duduk sambil menunggu penerbangan kami yang masih tiga puluh menit lagi.
Beberapa waktu yang lalu Ima, sahabat kami, menanyakan kapan kami berangkat ke Jakarta. Ah… tak disangka dia sukses dengan karir menulisnya. Juga pekerjaan tetapnya sebagai guru matematika. Mengenang kesuksesannya membuatku tersenyum.
Kupandangi Egi yang duduk di sampingku. Laki-laki yang sudah kuanggap sebagai kakak kandungku ini mengetuk-ngetukkan jarinya di kursi. Senandung kecilnya terdengar. Kuamati wajahnya yang terlihat lebih tegas sekarang. Ia tumbuh sebagai laki-laki dewasa yang tampan dan mapan. Tapi kenapa masih belum mencari calon istri ya? Kurasa lelaki baik ini harus dapat gadis yang baik juga.
Aku tersenyum dengan pikiranku sendiri. Hei, dia tahu tidak ya kalau aku selalu merasa nyaman di dekatnya?
***

~Kelas 2 SD~

Aku sedang duduk-duduk di sofa. Mama, papa, dan kakak perempuanku sedang sibuk menata barang-barang. Kami baru pindah ke rumah ini kemarin. Rumah yang dengan sengaja dipilih dekat dengan sekolahku. Juga sekolah kakak-kakakku.
Aku menghibur diriku yang bosan dengan melompat-lompat dari sofa satu ke sofa lainnya.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar bunyi ketukan pintu dari luar. Aku menghentikan aktifitasku sesaat. Dan melanjutkannya lagi.
“Tolong buka pintunya, Ya!” teriak mama.
“Ya, Ma.”
Aku turun dari sofa dan berjalan keluar.
Di depan pintu kulihat wanita tiga puluh tahunan tersenyum padaku.
“Kami tetangga sebelah. Ibumu ada?” tanyanya lembut.
Aku mengangguk. “Mama!! Ada teman Mama!!” teriakku asal.
“Siapa?” tanya Mama sambil keluar dan berhenti tepat di depan wanita itu.
Wanita itu mengulurkan tangannya. “Kami tetangga sebelah. Waktu melihat Anda, saya merasa kenal. Baru ingat, ternyata kita pernah bertemu sewaktu sama-sama menjemput anak kita di SD.”
“AH…” mama menjerit. “Iya. Jenk Lina kan?”
Wanita yang dipanggil ‘Jenk Lina’ itu mengangguk. Mama segera mempersilahkan masuk.
Kulihat seorang anak laki-laki mengekor di belakangnya.
“Egi, sapa teman sekelasmu,” pinta wanita itu.
Sekelas? Aku memandang anak laki-laki itu lagi.
“Ajakin main dong, Ya…” pinta Mama.
Dengan malu-malu aku berkata, “Mau main?”
Egi mengangguk lambat.
Aku mengajaknya ke halaman.
“Kita main kelereng yuk? Kau punya kelereng tidak?” tanya Egi.
Aku menggeleng sedih.
Egi mengambil sesuatu di sakunya. “Pakai punyaku saja. Ini!”
Aku tersenyum cerah dan segera mengambilnya. Egi kemudian membuat lubang. Katanya kelereng siapa yang masuk kelubang itu pertama kali, berarti dia yang kalah.
Walau tidak mengerti, aku tetap bermain dengannya. Sebuah permainan yang menyenangkan dengan seseoran yang menyenangkan… ^_^
***

~SD Kelas 4~

Kusobek kertas bertuliskan angka empat di lembar matematikaku. Kesal. Aku sudah susah payah belajar tapi yang kudapat cuma angka kursi itu. Padahal gelap mulai merambat dan aku tak mau pulang. Aku yakin mama dan papa pasti marah. Anak bungsunya tak akan bisa diharapkan padahal ulangan kenaikan kelas dua minggu lagi.
Aku mengucek mataku. Menyapu embun yang menggantung di kelopak mataku. Meski begitu, dadaku masih memburu. Emosi karena kegagalan dan ketakutan kena marah masih tersisa.
“Lia~?”
Suara yang tak asing.
Aku menoleh. Terlihat Egi lari mendekatiku.
“Akhirnya ketemu juga! Ayo pulang. Mamamu sudah cemas.” Dia menarik tanganku.
“Tidak mau!” kutepis tangannya dengan kasar.
“Kenapa?”
“Pasti dimarahi kalau pulang! Papa kan tidak suka aku dapat nilai merah!!”
Egi melingkarkan tangannya di pundakku. “Nanti kubela,” katanya yakin.
“Mana bisa! Kamu kan kecil…” sungutku.
Dia menggaruk kepalanya yang kuyakin tidak gatal. Iya-juga-ya. Mungkin itulah arti tatapannya padaku.
“Kalau begitu ke rumahku saja,” tawarnya. “Kita belajar sama-sama biar tidak dapat nilai merah lagi. Yuk?”
Aku segera mengangguk dan tersenyum cerah.
Di depan rumah tampak mama dan papa, juga orang tuanya Egi. Aku segera bersembunyi di balik tubuh Egi yang sama kecilnya dneganku.
Mama langsung berhambur ke arahku. Memelukku dengan erat. Saat papa mendekat Egi menghadangnya.
“Kalau Om mau marahi Lia, Om tidak boleh lewat!” ancamnya.
Papa diam sesaat lalu tersenyum. “Kalau Om janji tidak marah, Om boleh lewat kan?”
Egi memandangku. Perlahan dia menghadap papaku lagi.
“Om janji,” kata papaku meyakinkan.
Egi mundur selangkah. Mempersilahkan papaku lewat. Beberapa saat kemudian kurasakan papa mengelus kepalaku dengan sayang.
Terima kasih, Gi…
***

~SMP kelas VII~
Aku dan Egi sedang makan di kantin.
“Gawat!” aku menepuk keningku dengan keras saat aku ingat kalau PR Fisikaku belum ku kerjakan.
Egi memandangku. ‘Lagi?!’ tatapannya seolah berkata demikian.
Aku meringis dan menangkupkan kedua tanganku. “Nyontek ya?” ujerku sedemikian memelas pada Egi.
Egi masih diam.
“Please…” kutunjukkan puppy eyes-ku. Padahal tak perlu begitupun ia pasti mengiyakannya.
Tuh, kan. Dia sudah bergerak menuju kasir dan membayar makanan yang dia pesan. Lantas berjalan ke kelas.
Di kelas, dia mengambil buku tulisnya dan menyerahkannya padaku. Aku menyalinnya dengan kecepatan penuh.
“Salin yang cepat! Nanti Bapak keburu masuk,” ujernya yang duduk di sampingku sambil geleng-geleng kepala. Tak habis pikir kenapa aku bisa lupa, hehehe…
***

~SMP kelas VIII semester ganjil~
Hari ini pengambilan nilai menendang bola ke gawang untuk mata pelajaran olah raga. Sekarang giliranku. Dengan semangat aku menendangnya. Shuuut… Bola berguling dan teman-temanku tertawa puas. Akupun tidak bisa menahan tawaku sendiri lantaran bola masuk gawang bersamaan dengan sepatuku yang sukses masuk ke saluran air yang ada di dekat lapangan bola itu.
Sambil terus tertawa, Egi melompati saluran itu. Dia mengambil sepatuku. Aku menanti dengan senang, karena kupikir dia akan menyerahkannya padaku. Namun ternyata dia justru menaiki tangga dan menaruh sepatuku di atas atap sekolah!!
“EGI!!!”
“Huahahaha,,,,”
Sial! Teman-teman malah tertawa.
Aku bersumpah tidak akan bicara padanya!
“Biar cepat kering, Ya!” teriak Egi dari atas. “Apa kau mau pakai sepatu basah?” kata-katanya berhasil membuat teman-teman yang tertawa tadi bungkam seketika.
Rasanya ingin sekali aku memanggilnya ‘kakakku tersayang’, hehehe….. Aku menyayangimu, sahabat terbaikku ^^
***

~SMA Kelas XI~
“EGI~!!!” Aku meneriakkan namanya sambil berlari di koridor. Sesuatu mendesakku. Keadaan benar-benar genting. Apalagi kalau bukan lupa mengerjakan PR.
Aku masuk kelas Egi yang untuk pertama kalinya kami terpisah kelas. Egi menatapku bingung.
“Ada apa?” tanyanya.
Aku mendekat dan langsung duduk di kursi samping tempat duduknya. Memandangnya penuh harap. Kuserahkan buku tulis dan paketku padanya.
“Tolong kerjakan,” bisikku saat halaman berisi lima soal bahasa inggris yang tak terlalu kumengerti tertera di depan kami.
Egi berdecak, seolah sudah hapal dengan tabiatku ini.
“Mana pennya?”
“Ups! Lupa! Hehehe…”
Dia mencibir. Lalu mengambil pennya dan mulai mengerjakan. Dia hanya berpura-pura enggan, aku tahu itu. Karena jika tidak. Dia pasti tidak akan seserius itu mengerjakannya,
“Ini!” dia menyerahkan tugasku tadi.
“Thanks my big brother!! Hehehe….”
“Ck! Cepat salin ulang. Tapi kalau ada yang salah, jangan marah padaku, hahaha….”
“Huu…” gerutuku.
***

~SMA kelas XI~
Aku beringsut dan memanyunkan bibirku. Hujan turun dengan lebat. Pasti akan lama redanya. Entah sampai kapan aku berteduh di kios ini!
Drrtt…
HP-ku bergetar. Kulihat ada SMS masuk. Dari Egi.
“Kau di mana?” tulisnya.
“Lagi di kios pasar,” balasku cepat.
“Hujan-hujan begini? Mau kujemput? Mumpung motor ayahku ada.”
“Huahhh… kau memang penyelamatku. Aku tunggu di kios majalah pertama sebelah kanan pasar.”
“OK.”
Lima belas menit kemudian Egi sampai dengan jas hujan birunya. Dia menyerahkan jas hujan lain padaku.
“Beli apa kau tadi?” tanyanya saat aku naik.
“Cuma pakaian baru, hehehe….”
“O… ada tujuan lain?”
“Tidak. Kenapa?”
“Kalau ada bisa kuantar,” jawabnya. Lalu mulai menjalankan motor.
Egi... thanks a lot ^___^
***

~Usai OSPEK~
“Kau tidak apa-apa?” Egi memandangku khawatir. Aku jatuh sakit usai acara penutupan Ospek kemarin. Mungkin kelelahan. Mama dan papa sudah pergi ke tempat kerja mereka sedang kakak-kakakku sudah ke kampus. Padahal rencananya mau ke Program Studi. Melihat jadwal kuliah kalau-kalau sudah keluar.
Egi menyentuh keningku yang panas dengan hati-hati.
“Sudah minum obat?”
Aku menggeleng.
“Sudah makan?”
Aku menggeleng lagi.
Dia keluar kamarku tanpa berkata-kata lagi.
Tiga puluh menit kemudian dia datang dengan obat, segelas air dan semangkuk bubur.
“Kau yang buat?” tanyaku takjub.
Egi mengangguk sambil membantuku duduk. Ah… kepalaku pusing.
“Makanlah… Baru setelah itu minum obat.”
“Aku tidak yakin yang ini bisa dimakan.” Kutunjuk buburnya.
Egi memukul tanganku. “Sakit-sakit masih bisa meremehkanku!” dengusnya sambil tersenyum.
Aku tertawa pelan. Perlahan kusantap bubur tersebut.
Egi berjalan mendekati jendela. Membukanya. Membiarkan udara segar dari luar masuk ke kamarku.
“Kau ke program studimu saja. Aku tidak apa-apa,” kataku ketika melihatnya duduk di kursi meja belajarku. Bukankah dia mau melihat jadwal juga hari ini?
“Aku di sini sampai kakak atau orang tuamu pulang. Kau istirahat saja. Akan kutunggui. Masalah ke program studi masih bisa lain hari kok.” Dia tersenyum menenangkan.
“Thanks,” ucapku tulus. Egi mengangguk.
Aku menarik selimutku. Lalu diam-diam tersenyum di baliknya. Terima kasih sudah mencemaskanku, Gi.
***

~Perkuliahan Semester 4~
“Lia~!!!” teriakan Egi membangunkanku dari tidurku yang nyenyak. Kubuka mata yang masih terasa berat dan mengambil jam weaker-ku. Baru pukul tiga sore. Baru sejam aku tidur dan sudah diganggu. Uh… kalau bukan hal penting, akan kumarahi dia!
Dengan malas aku duduk di ranjangku. Kulihat Egi sudah di ambang pintu.
“Ada apa?”
Dia mengeluarkan sesuatu dari kantung plastik yang dibawanya. “Tara!!!” pekiknya girang. Kesadaranku terkumpul sepenuhnya saat melihat sebuah DVD bertuliskan ‘Concert DBSK at Tokyo Dome’ ada tangannya. Aku cepat mendekatinya.
“Kau membelinya?”
Egi mengangguk mantap.
“Via online store, hehe…” katanya sambil cengengesan dan duduk di kasurku. “Lumayan, ngabisin tiga ratus lima puluh ribu, hahaha…” sambungnya.
“Ah, curang!!” kupukul dia pakai bantal. “Kenapa tidak bilang pada kami?” kusuguhkan wajah cemberutku padanya. Bukankah dia tahu kami menginginkan DVD itu juga!
“Dari pada kamu, Nana dan Ima ikut menghabiskan tiga ratus lima puluh ribu seperti aku, kupikir lebih baik aku saja yang beli dan membuat copy-annya untuk kalian, hehe…”
“Ah? Kau bisa?”
Egi mengangguk yakin.
“Hua… Gomaweo, Chingu!” kuambil DVD di tangannya dan memeluk benda itu dengan erat.
Egi mengangguk ceria. “Aku telpon mereka dulu biar kita nonton sama-sama,” katanya.
Benar saja. Saat di telpon terdengar teriakan Nana dan Ima yang cempreng. Kebetulan Nana sedang main ke rumah Ima. Mereka bilang akan ke tempatku sekarang juga.
Aku tergelak membayangkan ekspresi girang mereka di ujung sana. Ah… rasanya aku juga ingin memeluk laki-laki di depanku ini.
Gomaweo,oppa* ^___^
(oppa: Kakak laki-laki (untukpembicara perempuan)
***

~Perkuliahan Semester 7~
“Ah!” aku menunjukkan wajah kecewaku. Begitu juga dengan Ima dan Egi. Kami yang beda jurusan telah berdoa semoga sekelompok dalam KKN ini, ternyata tidak terkabul.
Nana memandang kami. “Bagaimana?” tanyanya.
Kami menggeleng lemas.
“Hff… Tidak apa-apa.” Egi mencoba tegar. “Kalau bosan kita masih bisa saling telpon kan?”
Aku dan Ima lemas.
“Tidak akan seseru yang kubayangkan!” sungutku. “Jadi malas ikut!”
“Sudahlah… Pasti ada hikmahnya,” ujer Egi menenangkan. Dirangkulnya pundakku sambil tersenyum hangat. “Kalau kau batal ikut, bagaimana bisa cepat lulus?”
Aku manyun.
“Nanti kita saling cerita pengalaman kita,” bujuk Egi lagi.
Aku mengangguk lemah.
Tidak di sangka kau benar, Ga. Aku menemukan cinta terakhirku di sana. Terima kasih, sudah meyakinkanku ^^
***

~Perkuliahan semester 8~
Egi memandangku. Tatapannya seolah tak percaya dengan apa yang baru kukatakan. Ima dan Nana pun tampak tak percaya.
“Aku serius,” tegasku sekali lagi.
“Jadi, siapa dia?” Tanya Nana antusias.
Egi menatapku dengan tatapan tak seperti biasanya. Mungkin kesal aku tidak menceritakan tentang ini padanya.
“Laki-laki yang kukenal di KKN. Anak Fisika. Namanya Arga.” Senyum bahagia menghiasi wajahku.
“Hahai… tampan tidak?” Ima seperti biasa menilai dari segi ketampanan. Dia sahabatku yang tampaknya mudah sekali jatuh cinta. Paling mudah menyerah juga. Tapi, itukan untuk cowok-cowok idolanya ya? Apa… dia tidak pernah benar-benar jatuh cinta?
“Mm…lebih tepat dibilang cute!”
“Aish… jadi penasaran!” ujer Nana.
Kulihat Egi. Dia tampak menerawang. Dan tak lama kemudian dia menghentak meja. Saat ditanya kenapa, dia bilang tiba-tiba ingat ada yang harus dicari.
Aku menggigit bibir bawahku saat dia melangkah cepat. Tapi kemudian dia berbalik dan menatapku lama.
“Chukae…”
Akhirnya dia mengatakannya juga. Kupikir dia kesal tadi, hehe…
Senyumku merekah. “Gomaweo…”
***

~Resepsi Pernikahan~
Pelaminan berhiaskan warna-warni bunga yang semarak. Kegembiraan tergambar jelas di wajahku dan Arga. Sejak duduk di pelaminan dia terus menggenggam tanganku.
“Selamat,” ucap Ima tulus.
Aku mengangguk gembira. “Kau cepat-cepatlah menyusul…”
Dia tertawa pelan.
“Semoga langgeng dan bahagia selalu,” kata Egi.
“Amin…” sahutku.
“Thanks, bro!” sahut Arga.
Egi mengangguk dan tersenyum tipis. “Jangan sampai menyakitinya,” ujernya.
Wuah… Egi bergaya seperti kakakku saja.
“Hm-mm. Aku tahu,” sahut Arga serius.
“Kalau kau berani kami tidak akan tinggal diam!” tambah Nana.
“Aku mengerti,” jawab Arga tegas.
***

~Perayaan Wisuda~
Aku, Ima dan Egi sama-sama lulus di tahun ini. Kami merayakannya bersama. Nana ikut walau dia baru menempuh semester enam. Maklum, dia sempat beristirahat setahun setelah lulus dari SMA.
Acara gembira itu berubah jadi sendu ketika Ima bertanya padaku apa aku akan ikut Arga ke tempat tinggalnya di kota Samarinda.
Lambat-lambat aku mengangguk.
“Kalau merindukan kami, telpon saja. Chat di FB juga boleh…” kata Nana sambil mengusap sudut matanya yang berair seketika.
“Kalau ganti nomor, kasih tahu kami juga,” kata Egi pelan.
“Kalian juga ya?” pintaku. Mereka mengangguk. Egi tampak tersenyum. Seolah ingin menghalau kecemasanku.
***

Sebuah tangan melambai-lambai di depan mataku.
“Kau melamun?” Tanya Egi yang rupanya sejak tadi memperhatikanku.
“Hm… tidak. Hanya teringat masa lalu,” sahutku. Kusuguhkan senyum hangatku padanya. Dia langsung mengacak-acak rambutku.
“Sudah saatnya kita berangkat!” Ditariknya koperku dan mulai berjalan.
“Mm… Gi?” panggilku. Dia berbalik. Alisnya terangkat, seolah bertanya ‘apa’.
“Meodeunge gomaweo (terima kasih atas segalanya),” ucapku sambil membungkukkan tubuhku.
Aku kembali berdiri tegak dan menatapnya sembari tersenyum lebar.
Egi tersenyum lebar sambil geleng-geleng kepala…


TBC

No comments:

Post a Comment