There was an error in this gadget

Saturday, August 14, 2010

FF: Wrong Heart/1s/

Hm… short FF lagi. Mian kalau ceritanya gaje.
Di tunggu komentarnya di sini. Yang kena tag WAJIB comment lho, hehehe
-------------------------------------------------------------

Title: Wrong heart
C ast: Hyun Ae and Taemin
Music: ---
Wrong Heart

Cinta itu… kenapa harus menyakitkan?
Aku perlahan membuka hati untuknya. Untuk seorang namja yang lebih muda tiga tahun dariku. Namja yang kuarasa tak akan bias menjagaku, yang bagiku hanya menganggap cinta itu Cuma permaianan. Tapi itu dulu. Jauh sebelum cinta itu mengikat hatiku.
“Kenapa harus kau, Hyun Ae-ssi?” wanita empat puluh lima tahun itu memandangku penuh luka. Ruangan pribadi direstoran ini etrasa mencekam. Sekali lagi ia menorehkan luka di hatiku. Luka yang tak bsia ku maafkan. Karena demi karirnya, dia meninggalkan aku dan appa. Pergi begitu saja. aku tak akan pernah tahu dialah ibuku, jika appa tak menyimpan fotonya dan omonim tidak tahu rahasia hubungan mereka.
Apa cintaku sebuah kesalahan?
Aku menggenggam tanganku kuat. Air mata sudah mengganytung di pelupuk mataku. Rasanya perih itu makin dalam saat ingat hari itu. Hari di mana dia hadir si sebuah acara dan memperkenalkan anaknya.
Dadaku sesak. Aku terkunci ditempatku berdiri. Anaknya yang dia sembunyikan dari publik ada di layar kaca itu. Bukan, bukan aku. Tapi anaknya yang lain yang lebih beruintung akrena di aakuinya. Dia terlalu mencinati suaminya yang sekarang. Atau mungkin hartanya?
Perasaan ini datang tanpa ku pinta, bisakah aku mengakhirinya?
Aku emngajak namja itu kemari. Mau bertemu empat mata di restoran ini. Memperjelas apa hubungannya dnegan wanita yang kubenci itu, juga mengakhiri hubungan kami. tapi ternyata, dia justru dating dan emngajak wanita tua itu ke sini. Bahkan dengan ceria mengenalklan aku sebagai kekasihnya.
‘Maksudmu…’ wanita itu memandangku tak percaya. ‘Sudah berapa lama?’
‘Menjalani lima bulan,’ jawab namja cantik itu.
Ia mengangguk lalu meminta anak kesayangannya itu mengambilkan barangnnya yang tertinggal di mobil. Aku tahu, dia bohong. Dia ingin bicara empat mata dneganku.
Satu pesan masuk ke HPku.
Pengirim: Taemin nae namja
‘Noona.. mian tidak mengatakannya padamu. Aku sengaja mengajak umma. Aku ingin kau tahu kalau aku serius denganmu. Tenanglah noona… umma orangnya baik dan lembut, jadi jangan khawatir ^^ Sarangahae ^^’
Kabut di mataku makin tebal.
Kenapa aku jatuh cinta padamu?
“Kenapa harus kau?” ulang wanita di depanku. “Kau kakaknya kau tahu itu???” ucapnya dingin.
Air mataku jatuh. Untuk pertama kalinya aku menangis di depan wanita itu.
“Kenapa menangis? Kau menyesal?” ujernya tanpa ada rasa simpati sedikitpun. Ia tersenyum sinis.
“Aku memang menyesal,” isakku. “AKu menyesal karena kau ummaku!” kataku tajam. “Juga ummanya,” lirihku pedih.
Aku beridiri dan beranjak pergi. Keseka air mataku yang kembali jatuh. Taemin yang sepertinya baru kembali dari parkiran melihat aneh padaku. Dia mendekatiku tapi aku menghidar.
“Noona!” ia menarik tanganku. “Wae?” Tanyanya cemas saat melihat mataku yang memerah.
“Kita putus,” ujerku terbata.
“Noona..?” ia menatapku tak percaya.
“Aku memintamu bertemu hari ini untuk menyampaikan itu, Min.” dadaku sesak saat mengatakannya. “Mian…”
“Noona bercanda kan?” ia menatap mataku.
“Mianhae…” Aku segera melepas genggamannya dan berlari sekuatku. Ia terpaku sesaat lantas mengejarku.
Aku masuk ke dalam taksi dan pergi. Tak peduli dnegan dia yang berteriak dan memukul-mukul kaca dengan panik.
Sambil menangis aku mengambil HPku. Mematikannnya dan mengambil SIM cardnya. lantas mematahkannya. Mulai sekarag aku tak boleh berhubungan dengannya.
Tolong jangan ikat hatiku!! Karena aku mungkin tak akan sanggup memandangmu.

-END-
comment boleh di fb kok ^^

Monday, August 9, 2010

FF: Promise part 3

Title: Promise
Author: Imah Hyun Ae
Cast: Leeteuk (Super Junior) , Hyun Ae , dan Kyu Hyun (Super Junior)
Genre: Family/romance
Disclaimer: Ini cerita adapatasi dari film jepang dengan judul “Be With You”. Di sini saya tulis dengan gaya penulisan saya dengan bumbu-bumbu perasaan saya ^___^ saya harap kalian menyukainya seperti saya menyukai film tersebut XDXD


PROMISE
Part 3

Hyun Ae mengajak Kyu Hyun menanam biji bunga matahari.
“Kuharap aku bisa melihatnya saat berbunga,” gumam Hyun Ae.
Kyu Hyun menoleh. “Umma bicara sesuatu?” tanyanya.
Hyun Ae mengelus kepala Kyu Hyun dengan lembut dan tersenyum padanya.
“Ini apa?” Tanya Hyun Ae ketika melihat Kalung yang di pakai Kyu Hyun.
“Ini.. kunci kotak rahasia yang umma beri padaku. Tapi aku belum menemukan kotaknya.” Kyu Hyun berkata dengan wajah hampir menangis.
“Kita cari sama-sama ya?”
Kyu Hyun tersenyum cerah dan mengangguk semangat.
>>cut>>

Hujan turun lagi. Hyun Ae meminta teman sekantornya Leeteuk untuk menemuinya di sebuah kafe.
“Anda…” wanita yang duduk dengan gelisah sejak tadi langsung pucat melihat Hyun Ae.
“Jeongmal mianhae… Saya tahu ini menakutkan Anda. Saya tak bisa menjelaskan semuanya, saya…” Hyun Ae menarik napas. “sebentar lagi musim hujan akan berakhir, maka saya pun sebentar lagi akan menghilang, jadi… bisakah Anda menjaga Leeteuk dan Kyu Hyun saya?”
Wanita di depan Hyun Ae terkejut. Namun seketika mengerti kenapa selama musim hujan ini Leeteuk terlihat lebih gembira. Hyun Ae-nya sudah kembali, meski ia sendiri sulit untuk percaya.
“Mianhae… Permintaan saya memang aneh.. saya… Cuma takut. Lupakan apa yang saya katakan. Mian sudah mengganggu Anda.” Hyun Ae berdiri.
“Leeteuk dan Kyu Hyun sangat mencintai Anda,” kata wanita itu. “Anda jangan khawatir. Mereka pasti baik-baik saja,” sambungnya menenangkan.
Hyun Ae membungkukkan tubuhnya. “Gomaweo…” bisiknya lega. Ia lalu melangkah pergi.
Sambil memayungi tubuhnya, Hyun Ae berjalan. Dia meenuju sebuah toko. Memberi kue ulang tahu di sana untuk Kyu Hyun. Padahal ulang tahun Kyu Hyun masih seminggu lagi.
“Ajjusshi?” kata hyun Ae ragu saat kue sudah ada di tangannya.
“Nde?” tukang kue di depannya menatapnya.
“Apa Anda berniat tutup?”
Tukang kue memandangnya dengan aneh. “Tentu saja tidak.”
Hyun Ae tersenyum lega. “Kalau begitu, bisa kirimkan kue ulang tahun untuk anak saya?”
“Tentu. Kapan?” jawab tukang kue itu semangat.
“Berapa yang harus saya bayar jika saya minta mengirimkannya di setiap ulang tahun anak saya sampai dia berusia delapan belas tahun?”
“Eh?” tukang kue itu mencari keseriusan di wajah Hyun Ae. Setelah menemukannya dia mengatakan nominal yang harus di bayar.
>>cut>>

“Teuki~,” tegur Kyu Hyuh saat mereka sama-sama mandi usai merayakan ulang tahunya yang di percepat Hyun Ae.
“Nde~?”
“Apa saat musim hujan usai, umma akan pergi lagi?”
“Mungkin…” jawabnya lambat. “Kita harus siap, Kyu Hyun-ah…” di elusnya kepala Kyu Hyun dengan saying.
Kyu Hyun mengangguk pelan. Kesedihan akan berpisah lagi tergambar jelas di mata mereka.
>>cut>>

Boneka matahari terbalik tampaknya tak mampu mengabulkan permintaan Kyu Hyun. Karena di balik awan, mataharri pertama musim panas menyapa.
Kyu Hyun segera meminta ijin dengan gurunya untuk pulang. Anak kecil itu berlari dengan panik ke rumah.
“Umma??” panggilnya ketika ia sudah tiba di rymah. “UMMA??” teriaknya.
Hyun Ae keluar dari kamar dengan senyum lembutnya. Kyu Hyun memeluk Hyun Ae dengan erat.
“Umma tidak akan pergi kan?” tanyanya nyaris menangis sambil mempererat pelukannya. Hyun Ae mengelus kepala anak itu dengan sayang.
>>cut>>

Leeteuk terkejut mendengar berita di TV yang menyatakan bahwa msuim hujan telah berkahir dan matahari musim panas pertama sudah muncul. Ia berhambur keluar kantor. Bersepeda sekuat tenaga menuju rumahnya.
“Hyun Ae??” panggilnya.
Rumah tampak sunyi. Ia mencari, tapi tak menemukan Hyun Ae di sana.
Ia teringat dongeng yang ditulis Hyun Ae.
“Hutan itu!” gumam Leeteuk.
>>cut>>

“Aku takut appa tidak sempat datang, Kyu Hyun-ah…” guman Hyun Ae.
Kyu Hyun menatapnya. “Appa sangat lamban. Jalan saja sering lamban, umma.”
Hyun Ae tersenyum tipis mendengar komentar Kyu Hyun. “Kau tahu Kyu Hyun-ah? Dulu… appa adalah pelari hebat. Lebih cepat dari yang bisa kau kira”
“Jeongmal?”
Hyun Ae mengangguk.

Langit semakin cerah. Hyun Ae duduk di sebelah sana sambil memperhatikan Kyu Hyun yang mencari sesuatu di rumput.
“HYUN AE-AH??!!!” teriakan keras dari ujung gerbang membuat Hyun Ae berdiri.
“HYUN AE-AH?!!” teriak Leeteuk lagi. Ia berlari kencang.
Hyun Ae mendekat.
“Mianhae… karena aku tak bisa membahagiakanmu,” ujer Leeteuk penuh sesal. Butiran bening menggantung di pelupuk matanya.
Hyun Ae segera menggeleng. “Aku bahagia bersamamu,Teuki oppa. Kau dan Kyu Hyun adalah kebahagiaanku. Jaga Kyu Hyun untukku ya?”
Air mata Leeteuk menggenang.
Hyun Ae menyandarkan kepalanya di bahu Leeteuk. Lagi, ia memasukkan tangannya ke saku kiri jas Leeteuk.
Leeteuk segera memasukan tangannya ke saku kirinya juga. Ia menggenggam tangan Hyun Ae dengan erat, seolah tak mau melepaskannya lagi.
“Gomaweoyo…” bisik Hyun Ae.
Air mata Leeteuk jatuh. Perpisahan akan tiba.
Air yang tertampung di daun bergulir. Jatuh setetes ke genagan air yang memantulkan bayangan Hyun Ae dan Leeteuk. Seketika bayangan Hyun Ae menghilang.
>>cut>>
#End Flashback#

Leeteuk membaca diary Hyun Ae.
~isi diary Hyun Ae~
“Dia Leeteuk, seorang laki-laki biasa. Aku melihat tingkah anehnya suatu ketika. Saat itu dia berjaan dengan tali sepatu yang terlepas.
‘Chogi… tali sepatumu…” aku menegurnya. Ia segera membenarkan sepatunya, tapi lupa dengan sepedanya yang belum di standarkannya. Seketika sepedanya terjatuh.
Aku tertawa diam-diam.
Dengan kekusasaanku sebagai dewan sekolah aku bisa membuat diriku duduk di sampingnya selama dua tahun. Meski setiap di kelas hanya bisa menyapanya sedekarnya. Aku sudah bahagia hanya dengan berada di sampingnya.
Perpisahan sekolah, ia tampak hendak keluar kelas. Aku lekas mengambil buku kenangan yang kubuat dari tangan salah-satu teman sekelas dan segera menahan langkahnya. Aku memintanya menandatangi buku kenanganku ini.
Dia menerima bukuku dan mencari pennya. Usai menulis di buku itu, ia menyerahkanya padaku. Aku segera menyambutnya danberhambur keluar. Bersembunyi dibalik tiang besar.
‘Aku merasa nyaman duduk di sampingmu selama ini. Leeteuk.’ Tulisnya.
Senyumku merekah.
Saat sadar pennya masih di bukuku aku berbalik dan bermaksud menyerahkannya. Namun ketka melihat langkah cepatnya yang menjauh, kuputuskan untuk menyimpan pen tersebut. Berharap suatu hari nanti aku akan menelponnya dengan alasan mau mengembalikann pen ini.
Di Seoul aku mau menelponnya tapi tidak jadi. Aku takut. Takut… ia tak menjawab telponku.
Siapa sangka dia justru menelponku ketika aku pulang ke rumah. Dia menanyakan pen itu. Pen kesayangannya mungkin. Aku bilang akan kucari, padahal, pen itu ada di tanganku. Pen keberuntunganku!
Kami bertemu. Aku menyerahkan pennya. Dia menanyakan kabarku, aku senang sekali. Kupikir pembicaraan akan berjalan lama. Tapi ternyata setelah itu, dia diam.
Cukup lama sampai akhirnya dia bilang…
‘Kalau begitu … sampai jumpa.’
Aku mengangguk gamang. Hanya sampai di sini kah? Tapi… aku ingin lebih…
‘Sampai jumpa,’ balasku. Aku melangkah dengan berat. Aku tak mau secepat ini!, hatiku menjerit.
‘Chogi…’ ia menegurku. Aku berbalik dengan penuh harap.
‘Apa kau punya waktu untuk minum kopi?’ tanyanya.
Tentu saja! Aku mengangguk cepat.
Di kedai kopi dia terus bicara tanpa henti. Tak memberiku kesempatan sedikitpun untuk berkomentar dan bercerita tentang kegiatanku. Tak apa. Aku senang bisa lebih lama dengannya.
Di stasiun kereta api (dia mengantarku), aku sengaja memasukkan tanganku ke saku kiri jaketnya. Ia manatapku kaget. Aku berusaha sesantai mungkin, meskipun sebenarnya aku sadar wajahku memanas dan jantungku berdetak makin kencang. Aku ingin dia tahu aku menyukainya.
Perlahan, ia menggerakak tangannya menggenggam erat tanganku. Saat itu rasanya hangat sekali.
Satu kali kencan dan empat puluh tujuh surat cinta, hubungan kami berakhir. Kenapa begitu?
Kudengar dia berhenti kuliah di jurusan paling di cintainya. Dia bekerja. Untuk meminta penjelasannya, Aku menemuminya.dia bersikap dingin padaku. Mengatakan kalau dia tak pantas untukku. Aku baru mau mengatakan: ‘Tapi aku ingin di sisimu. Asal bersamamu, aku tak peduli hal lain. Yang aku pedulikan, aku bahagia jika dengannya’, dia meninggalkanku. Hatiku sakit. Kenapa dia jadi sedingin itu padaku?
Hujan turun dengan deras ketika kau keluas dari ruang kuliahku. Karena terburu-buru, aku memutuskan menggunakan tasku sebagai payung. Baru beberapa langkah melaju di hujan, seseorang memanggilku.
‘Bukumu,’ kata laki-laki, teman sekelasku. Ia menyerahkan bukuku yang kuperlukan untuk tugasku.
Aku bicara dengannya di bawah payungnya. Tiba-tiba pandanganku terhenti pada sosok yang tidak asing bagiku. Sosok yang kurindukan. Leeteuk.
Aku pamit pada temanku dan memanggil Leeteuk yang terus berjalan. Aku mengejarnya. Tak peduli dengan hujan yang akan mebasahi tubuhku.
Aku terus memanggil namanya, tapi ia tak berhenti. Mungkin tak mendengar.
Ia menyebrang jalan. Tanpa melihat kanan-kiri aku menyebrang jalan. Mengejarnya. Meneriakkan namanya. Ia masih tak berhenti melangkah.
Ckiiittttt!!!
Mobil mengerem cepat. Saat aku menoleh…
Brugh!!
Aku jatuh. Mobil menabrakku cukup kuat. Sakit! Tapi aku harus bangun dan mengejarnya. Aku bangkit. Berlari kecil. Kulihat di sudut san dia tengah berhenti mengatur napas.
Aku lega. Segera kulangkahkan kakiku. Tapi… aku kembali jatuh. Kali ini tak sadarkan diri.
Aku tahu, tak akan ada yang percaya dengan ceritaku. Saat aku koma, aku justru melintasi waktu menuju masa depan. Bertemu dengan Leeteuk yang berusia dua puluh sembilan tahun dan seorang anak yang lahir dari pernikahan kami, Kyu Hyun, berusia sembilan tahun.
Aku kembali ke masa dua puluh tahunku. Kembali seiring dengan musim hujan yang usai. Aku terbangun dari koma.
Apa yang akan kuputuskan? Pergi menemui Leeteuk dan menikah dengannya? Lalu meninggal di usia dua puluh delapan tahun? Atau… aku menghentikan perasaan ini. Menikah dengan orang lain saja dan punya kehidupan masa depan yang berbeda?
Tidak! Bagaimanapun, aku mencintai Leeteuk. Aku… aku lebih memilih hidup singkat tapi bahagia karena bersama orang yang kucintai, dari pada bersama orang lain.
Aku berlari cepat. Seolah tak ijinkan waktu berlalu begitu saja.
Aku menelpon Leeteuk dan memintanya bertemu. Aku mengajaknya bertemu di taman bunga matahari.
Teuki oppa, Kyu Hyun-ah… tunggu aku!!!
Leeteuk tampak terkejut ketika aku tiba. Kukatakan aku tahu segalanya. Ku katakan kami akan bahagia. Kami bisa bersama-sama.
Kupeluk ia dengan erat. Ia membalas pelukanku.
Tak lama setelah hari itu kami menikah dan tinggal di dekat dokter yang merawat Leeteuk. Hari-hari bersamanya kujalani dengna bahagia.
Aku memang akan meninggalkan mereka di usia dua puluh delapan tahunku. Tapi aku juga akan kembali. Kembali menemui mereka id musim hujan setahun setelah kepergianku. Karena itulah, aku berjanji pada buah hatiku, bahwa aku pasti kembali. Pasti!
~end diary Hyun Ae~

Bunga matahari bermekaran dengan indahnya. Leeteuk yang duduk di teras menutup diary Hyun Ae.
Kyu Hyun sedang menyiapkan makanan di dapur berrteriak, “Teuki~ sudah siap!”
“Nde~” Leeteuk pun beranjak. Di tatapnya anaknya yang semakin tinggi sekarang.
Hyun Ae-ah, aku menjaganya dengan baik kan?, batinku.
Aku membayangkan Hyun Ae tersenyum dan mengangguk di atas sana.
~TAMAT~
Waaa~ sweet banget kan?? I love this story XDXD
Di tunggu komentarnya ^________^

FF: Promise part 2

Title: Promise
Author: Imah Hyun Ae
Cast: Leeteuk (Super Junior) , Hyun Ae , dan Kyu Hyun (Super Junior)
Genre: Family/romance
Disclaimer: Ini cerita adapatasi dari film jepang dengan judul “Be With You”. Di sini saya tulis dengan gaya penulisan saya dengan bumbu-bumbu perasaan saya ^___^ saya harap kalian menyukainya seperti saya menyukai film tersebut XDXD


PROMISE
Part 2

-Leeteuk POV-
Aku jatuh cinta padanya. Pada gadis bernama Hyun Ae. Dia yang bersikap dingin pada siapapun termasuk aku. Tapi aku tetap menyukainya.
Di SMA, selama dua tahun duduk di sampingnya yang bahkan tak saling bicara, tetap membuatku bahagia.
Dia murid teladan. Membuatku berpikir tidak ada asmara dalam kamus sekolahnya.
Karena selalu sendiri, aku memilih mengikuti klub lari di sekolahku. Aku ikut perlombaan. Sayangnya ada lawan yang curang. Ia menarik celanaku, membuatku terjatuh. Membuatku kalah, padahal aku ingin menunjukan kehebatanku pada Hyun Ae.
Aku kesal! Aku berambisi untuk menang di perlombaan berikutnya. Karenanya aku latikhan terus menerus tanpa kenal lelah.

Hari perpisahan tiba.
Aku menatapnya yang minta tanda tangan pada teman-teman yang lain di buku kenangan siswa yang ia buat sendiri untuk dirinya.
Aku juga ingin menulis sesuatu di sana, sebagai kata perpisahanku. Tapi… siapa aku?
Aku putuskan untuk pulang. Aku ambil tasku dan berjalan menuju pintu. Nanmun seseorang menahanku!
Hyun Ae?!!
“Tolong… tanda tanganmu!” ia menyodorkan buku kenangan itu. Dengan gugup aku mengambilnya. Akupun mencari penku.
“Aku merasa nyaman duduk di sampingmu selama ini. Leeteuk.” Tulisku.
Kuserahkan lagi buku itu padanya. Ia menyambut dengan segera dan berhambur keluar.
Aku menyusul. Tapi dia sudah tak ada. Penku… masih terselip di bukunya…
Kuambil atau tidak ya?
Aku bimbang.
Namun detik berikutnya aku memutuskan untuk membiarkannya. Berharap suatu hari aku bsia menelponnya dengan alasan mau mengambil pen itu.
Aku lantas melangkah pergi.
-end Leeteuk POV-

“Hm…” Hyun Ae mangangguk-anggukan kepalanya. “Tapi, kapan kita kencan?”
“Itu… masih belum,” jawab Leeteuk sedikit malu. Iapun kembali melanjutkan.

-Leeteuk POV-
Aku mengambil jurusan olah raga. Itu membuatku bisa terus berlari. Sedang Hyun Ae memilih kuliah di Seoul.
Suatu hari, aku mendengar dia pulang dari Seoul.
Aku seegra menelponnya. Memintanya bertemu untuk mengambil penku. Aku ingin melihatnya lagi setelah dua setengah tahun tak pernah bertemu. Kami janjian di sebuah tempat.
“Leeteuk-ssi?” panggilnya saat aku tiba dan kebingungan mencari sosoknya. Ia tampak lebih cantik dari yang terakhir kulihat. Perlahan aku mendekat.
“Ini penmu.” Ia menyerahkan pen biru, pen keberuntunganku.
“Gomaweo~” aku menyambut pen tersebut dengan gembira. “Lama tak bertemu apa kabarmu?” Aku berbasa-basi.
“Baik. Kau sendiri?” ia tersenyum ramah.
“Sama. Baik juga.”
Kami terdiam beberapa detik. Aku tak tahu bagaimana seharusnya. “Kalau begitu… sampai jumpa.” Hey! Apa yang kuputuskan?!
“Ah, nde. Sampai jumpa.” Hyun Ae melangkah.
“Chogi…” tegurku gugup. Ia berhenti melangkah dan berbalik menatapku.
Harus ku katakan. Ini kesempatan yang tak boleh di sia-siakan, kan?
“Apa kau punya waktu untuk minum kopi?” tanyaku akhirnya.
Aku lega ketika dia menjawabku dengan anggukan.

Aku dan dia ke kedai kopi. Selama pertemuan itu aku terus bicara tanpa henti. Bicara tentang banyak hal dari kegiatan kuliah sampai buku yang akhir-akhir ini kubaca. Aku tak mau berhenti. Aku takut jika aku berhenti dia akan berpamitan untuk pulang. Aku masih ingin menikmati pertemuan ini lebih lama lagi.
Malam merambat. Aku mengantarnya ke stasiun kereta api.
Udara sangat dingin. Aku memasukkan tanganku ke saku jaketku.
Deg! Jantungku berdetak cepat ketika sebuah tangan masuk ke saku jaketku juga. Hyun Ae memasukkan tangan kanannya ke saku jaket kiriku. Aku menoleh ke arahnya. Ia tampak berusha biasa saja dengan wajah bersemu merah.
Perlahan aku memindahkan tanganku, masih di saku kiriku, hanya saja kali ini aku menggenggam tangannya erat. Sejak itu kencan kami di mulai. *cie oppa… suit-suit*
-end Leeteuk POV-


Hyun Ae tersenyum. Merekapun kembali melangkah.
Mendadak Hyun Ae memasukan tangannya ke saku kiri jaket Leeteuk. Leeteuk menoleh kaget. Jantungnya berdetak tak karuan.
“Aku ingin mencintaimu lagi,” kata Hyun Ae pelan. Wajah Leeteuk memanas.
“Kita mulai dari awal lagi,” sambungnya, “Kita mulai pelan-pelan,” Hyun Ae menatap kedua mata Leeteuk, membuat Leeteuk makin gugup.
“o.. oppa,” sambung Hyun Ae terbata. Wajah Leeteuk makin memerah. Sudah lama sekali panggilan itu tidak di dengarnya. Senyum lebarnya merekah. Ia mengangguk. Di genggamnya tangan Hyun Ae yang di saku kirinya itu.
>>cut>>

Leeteuk mengenang kembali bagaimana kisah cintanya dengan Hyun Ae.
-Leeteuk POV-
Aku terus berlari tanpa kenal lelah. Mungkin karena aku terlalu memaksakan diri, hingga suatu hari aku jatuh di lapangan.
Banyak dokter yang kutemui, dan hasilnya menyatakan otakku mengeluarkan zat kimia. Dan itu akan menghambat saraf gerakku. Dokter melarangku berlari lagi. Jika tidak, aku tak akan bisa tertolong.
Dengan berat hati aku mundur dari dunia olah raga yang paling kucintai. Dengan berat hati pula aku keluar dari universitars dan putus dengan Hyun Ae. Putus setelah satu kali kencan dan empat puluh tujuh surat cinta. Semuanya harus kuakhiri sekarang. Aku tak pantas untuknya.

Aku memulai aktivitas baruku. Tanpa kuduga Hyun Ae menemukanku. Ia Meminta penjelasan dariku. Aku memilih bersikap dingin padanya meski hatiku sangat ingin memeluknya. Aku sengaja membuatnya terluka. Meski dengan begitu, aku juga terluka dalam.
“Sudah kubilang hubungan kita berakhir kan? Jangan menemuiku lagi.”
“Tapi-,” kata-katanya terhenti ketika kau memutuskan masuk ke dalam, meninggalkannya. Ia berlari sambil menangis, aku tahu itu.
Aku pikir aku bisa tenang dan belajar melepasnya. Namun aku salah. Aku tidak bisa. Aku sangat ingin bertemu dengannya lagi.
Aku tak peduli apapun sekarangi. Tak peduli dengan ketakutanku pada keramaian. Aku mau melihatnya sekali lagi!
Aku tiba di kampusnya. Benar di Seoul. Hujan turun dengan lebatnya, seolah ingin menahan langahku.
Kulihat di seberang sana Hyun Ae keluar dari kelasnya. Ia memayungi tubuhnya dengan tasnya. Aku mendekat. Perasaan ini sudah tka bisa kubendung lagi. Aku… merindukannya!
“Hyun Ae-ah?”
Langkahku terhenti tiba-tiba ketika panggilan itu terdengar. Kulihat satu sosok laki-laki tampan mendekat ke arah Hyun Ae. Sepertinya ia mahasiswa di universitas ini juga. Laki-laki itu menyerahkakn sebuah buku pada Hyun Ae. Wanita yang kucintai itu tampak senang mendapat buku itu.
Aku merasaka sakit. Bukan hanya hati, atpi sekujur tubuhku merasakan sakit yang sama. Aku sadar siapa aku. Aku memilih pergi tanpa bertemu dengannya. Hujan lebat mengiringi langkahku yang terhenti di tepi jalan raya.

Waktu berlalu. Langit cerah seolah menaungiku. Ya, karena Hyun Ae menelponku dan meminta bertemu. Dia meyakinkanku kalau kami bisa bersama. Ia berkata seperti meyakinkan hatinya sendiri.
Benar. Ia sudah tahu semuanya. Kenapa aku berhenti dan menjauhinya. Aku lega ia menerimaku apa adanya.
Aku tak peduli apapun lagi. Aku ingin hidup dengannya. Aku mau terus bersamanya. Aku… aku sangat mencintainya!
Hyun Ae memelukku erat. Aku membalas pelukannya. Aku tak ingin berbisah lagi dengannya. Dia kehidupanku.
Tak berapa lama kami menikah dan tinggal di dekat dokter yang merawatku.
-end Leeteuk POV-
>>cut>>

Kyu Hyun setiap hari menggantung boneka matahari terbalik di teras rumah. Harapannya dengan begitu hujan akan selalu turun.
Hyun Ae melihat boneka itu dengan pandangan aneh.
“Kau yang menggantungnya?”
Kyu Hyun tertunduk. Ia tak menjawab sama sekali.
>>cut>>

Di kamar.
Kyu Hyun membuka lembaran dongeng yang di tulis Hyun Ae. Di sana diceritakan Hyun Ae akan menghilang seiring dnegan perginya musim hujan.
Di lembar berikutmya tampak gambar Hyun Ae membuka pintu rahasia. Di sanalah dia kembali dan di sana pula ia akan menghilang untuk selamanya.
Kyu Hyun menatap gambar di sana dengan sedih.
>>cut>>

Hyun Ae tanpa sengaja menemukan sebuah buku. Tak di sangka buku itu buku yang ditulisnya. Di bukanya buku tersebut lembar demi lembar. Cerita di sana membuat hatinya galau. Di tatapnya sekeliling. Ada kesedihan di matanya.
>>cut>>
Pagi hari Leeteuk mendapati Hyun Ae tengah mengajari Kyu Hyun menggoreng telur. Agak aneh, tapi Hyun Ae menenangkannya dengan senyuman manisnya.
Di hari lain Hyun Ae mengajari Kyu Hyun menjemur pakaian dan menyemir sepatu Leeteuk.
Tingkah Hyun Ae membuat perasaan sedih yang sempat hilang bergelayut kembali. Apakah sebentar lagi Hyun Ae akan menghilang, batin Leeteuk takut.
>>cut>>

Dokter yang merawat Leeteuk selama ini menatap langit dari jendela kantornya. Ia selalu mendegarkan cerita Leeteuk dengan antusias. Laki-laki paruh baya itu selalu percaya dengan apa yang Leeteuk katakan.
“Kenapa Anda percaya dengan cerita saya?” Tanya Leeteuk akhirnya. Ia cukup bingung dengan kepercayaan dokter padanya. Bukankah orang yang tahu Hyun Ae telah tiada, tak akan percaya?!
“Matamu menunjukannya, Leeteuk. Matamu mengatakan yang sebenarnya. kau bahagia karena istrimu kembali lagi bersamamu.”
Leeteuk tersenyum.
“Jadi… dia akan menghilang saat musim hujan usai?” dokter itu bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.
“Mungkin…” jawab Leeteuk setengah berbisik.
“Kau beruntung,” kata dokter itu, membuat Leeteuk mendongak dan memberikan perhatian penuh padanya.
“Nde?” Leeteuk ingin penjelasan lebih.
Dokter itu kembali ketempat duduknya dan tersenyum bijak pada Leeteuk. “Kau dan Hyun Ae adalah pasangan sejati. Kalian berpisah lalu bertemu kembali. Saling jatuh cinta lagi. Itulah cinta sejati. Kalian beruntung bisa merasakannya.”
Leeteuk tersenyum tipis. Tapi… aku tak mau dia pergi, Dokter…, batinnya.
= To Be Continue =

Comment ya ^_____^

FF: Promise part 1

Hohoho…. Kali ini adaptasi dari film jepang yang kutonton saat pulang kampong dan mendadak jadi sangat kusukai lho…. Awalnya bingung castnya siapa, tapi setelah di putuskan cukup lama, aku memutuskan oppaku yang satu ini jadi pemerannya, hehehe… Hope you like it guys…
------------------------------------------------------------------------

Title: Promise
Author: Imah Hyun Ae
Cast: Leeteuk (Super Junior) , Hyun Ae , dan Kyu Hyun (Super Junior)
Genre: Family/romance
Disclaimer: Ini cerita adapatasi dari film jepang dengan judul “Be With You”. Di sini saya tulis dengan gaya penulisan saya dengan bumbu-bumbu perasaan saya ^___^ saya harap kalian menyukainya seperti saya menyukai film tersebut XDXD

PROMISE
Part 1
~Kyu Hyun 18 tahun~
Kyu Hyun sedang menyiapkan sarapan.
“Teuki~!” ia memanggil appanya dnegan panggilan khusus itu. “Sarapan sudah siap!”
“Nde~” jawab Leeteuk dari dalam kamar.
Tok! Tok! Tok!
Seseorang mengetuk pintu. Kyu Hyun keluar dan mendapati tukang kue yang biasa mengatar kue ulang tahun untuknya berdiri di depan pintu.
“Pagi sekali, ajjusshi?” tegurnya. Ia menyambut tukang kue itu dengan senyum lebarnya.
Tukang kue itu tersenyum dan menyerahkan kue tart di tangannya ke Kyu Hyun.
“Benar toko ajjushi mau tutup?” Tanya Kyu Hyun sambil menanda tangani tanda terima kue tersebut.
“Begitulah…” lirih tukang kue itu lega. Tugas bertahun-tahunnya sudah berakhir hari ini.
“Khamsahamnida untuk kirimannya selama ini ajjushi…” Kyu Hyun membungkukan tubuhnya, hormat.
“Chomanne…” jawab ajjushi itu. Kyu Hyun tersenyum melepas kepergiannya. Setelah hari ini tak akan ada kue tart dari umma lagi, pikirnya.
--

Kyu Hyun yang mengenakan seragam SMA mengayuh sepedanya. Ia berhenti ketika melihat hutan kenangan di depannya. Membuatnya teringat lagi dengan sosok ummanya.
“Rasanya seperti baru saja berlalu…” batinya mengenang.
Di depan sana, di bawah gerbang besar tua, ia melihat sosok umma, appa dan dia yang sedang berjalan ceria dengan tangan saling bertautan.

#Flashback#

Hujan mengguyur desa. Tampak pihak keluarga berlalu sambil bergumam.
“Sewaktu Kyu Hyun tidak ada… Hyun Ae baik-baik saja.”
“Dia pergi gara-gara Kyu Hyun…”
“Kalau tidak ada Kyu Hyun, Hyun Ae pasti masih hidup.”
Kyu Hyun kecil tak tahu apa-apa. Dia diam sambil memandangi makam ummanya. Sedangkan Leeteuk, ia menatap makam itu dengan wajah yang sangat terpukul.

Hampir setahun berlalu. Leeteuk tiap pagi menyiapkan sarapan untuk Kyu Hyun walaupun selalu tidak sukses.
“Mian…” pinta Leeteuk lirih setiap kali ia menyiapkan sarapan.
“Mm-mm… masih bisa ku makan, Teuki.” Kyu Hyun tersenyum lalu memakan telur ceplok yang dibuat Leeteuk.
Usai sarapan mereka siap-siap.
“Aku berangkat~” pamit Kyu Hyun.
“Hm-mm.” sahut Leeteuk sambil memasang kemejanya.
“Jangan terlambat, Teuki!” nasehat Kyu Hyun. Anak kecil itu seperti orang dewasa saja.
“Nde~ aku hamper siap.” Balas Leeteuk sambil memasang kaos kakinya.
Kyu Hyun pamit lagi dan berangkat ke sekolahnya seorang diri.
Leeteuk segera mengunci pintu dan jendela. Ia mengeluarkan sepedanya lantas mengayuhnya menuju kantor.
>>Cut>>

Malam merambat. Leeteuk menata makan malam merka di atas meja makan. Lagi-lagi yang dimasaknya tampak hitam, sedikit hangus.
“Mianhae…” Ia minta maaf lagi pada Kyu Hyun.
“Masih bisa kumakan, Teuki~” Kyu Hyun tersenyum hannagt. Anak berusia Sembilan tahun ini seolah mengerti ketidakmampuan appanya dan tak mau menuntut lebih. Ia malah menenangkan appanya dnegan senyuman lembutnya.
Usai makan Kyu Hyun mencuci piring.
Sambil menatap langit penuh bintang di luar sana Kyu Hyun memanggil Leeteuk.
“Teuki~?” panggil Kyu Hyun pelan.
“Nde?”
“Apa umma akan datang?”
“Apa umma pernah berbohong?” Leeteuk balik bertanya. Kyu Hyun menggeleng. Ia lalu membuka buku dongeng di tangan kanannya yang ditulis ummanya khusus untuknya. Dongeng itu menceritakan tentang Hyun Ae, ummanya sendiri. Ummanya berjanji, di musim hujan –setahun setelah dia meninggal- ia akan kembali.
*apakah Hyun Ae akan memenuhi janjinya?*
>>cut>>

Musim hujan tiba. Kyu Hyun dengan sengaja menggantung boneka matahari terbalik di teras kelasnya. Ia berharap bersama hujan ummanya akan datang.
>>cut>>

Leeteuk selalu mengenang Hyun Ae. Dengan melihat foto dan video tentang Hyun Ae.
-satu adegan di video-
Kyu Hyun sedang mencari sesuatu. Di sampingnya Hyun Ae tenah menanam bibit bunga.
“Apa yang kau cari, Kyu?” Tanya Leeteuk sambil merekam aktivitas Kyu Hyun dan Hyun Ae.
“Tanaman berdaun empat. Kalau aku menemukannya umma bisa sembuh…” Kyu Hyun menjawab lirih smabil terus mencari *so sweet*
“Gomapta, Kyu~” bisik Hyun Ae. Ia menatap buah hatinya dengan mata terharu.
-end video-
Leeteuk menatap sosok Hyun Ae di video dengan penuh kerinduan.
>>cut>>

Hujan gerimis…
Kyu Hyun dan Leeteuk sedang di hutan. Di bawah sebuah gerbang seperti bangunan tua.
Kyu Hyun sedang mencari sesuatu sedangkan Leeteuk mengamati sekitar yang di basahi air hujan. Leeteuk berharap Hyun Ae benar-benar memenuhi janjinya. Ia sudah sangat rindu pada wanita anggun itu.
Namun… hal itu tidak mungkin kan? Ia dan Kyu Hyun hanya terlalu berharap dan merindukan sosok Hyun Ae.
“U-umma?” kata Kyu Hyun pelan. Leeteuk mendelik ke Kyu Kyun.
“UMMA???” panggilnya semangat lalu berlari lurus ke depannya. Mata Leeteuk mengikuti dengan gugup.
Seketika waktu terasa terhenti. Di sana ada sosok wanita berkaos pink panjang dan mengenakan rok panjang putih tengah memandang kosong ke atas. Wajahnya, postur tubuhnya, mirip dengan Hyun Ae. Dia… Hyun Ae kan? Ia benar-benar kembali?
Detik serasa tak bergerak.
“Umma~ kau kembali?” Tanya Kyu Hyun bahagia ketika tepat di depan wanita yang berparas mirip dengan Hyun Ae itu.
Wanita itu menoleh pelan.
“Hyun Ae-ah…” Leeteuk menyebut nama itu dengan pelan. Bahagia memenuhi hatinya.
“Kalian… siapa?”
>>cut>>

Hyun Ae sepertinya kehilangan ingatannya. Ia tak kenal dengan Kyu Hyun dan Leeteuk. Ia tak ingat kalau ia telah menikah dan punya anak. Hyun Ae memutuskan untuk mulai dari awal. Hidup bersama mereka berdua dan belajar mengingat kehidupannya yang dulu, begitulah keputusan yang dipilih Hyun Ae.
Pagi-pagi ia membuat sarapan. Menyetrika seragam dan kemeja untuk Kyu Hyun dan Leeteuk.
“Jangan keluar rumah!” larang Leeteuk pada Hyun Ae ketika ia mau berangkat bekerja. “Aku takut kau hilang lagi seperti kemarin.” Leeteuk tersenyum lembut pada wanita di depannya untuk menutupi kegugupannya karena berbohong.
Hyun Ae mengangguk meski bingung.
Bagi Leeteuk dan Kyu Hyun, kehidupan mereka kembali menyenangkan.
>>cut>>

Suatu malam Hyun Ae tak bisa tidur. Leeteuk juga begitu. Ia keluar rumah dan menemukan Hyun Ae duduk di teras. Mereka lantas memutuskan keluar untuk jalan-jalan.
“Chogi…” dengan ragu-ragu Hyun Ae bicara. Leeteuk menoleh.
“Bisa kah kau ceritakan bagaimana kita saling jatuh cinta dulu?” sambung Hyun Ae malu-malu.
“Nde?!” Leeteuk terkejut.
“Aku tak ingat apapun tentang kita. Bisakah kau ceritakan padaku? Aku… ingin mengingatnya…”
Leeteuk mengangguk dan cerita masa lalu pun di mulai.
----------------------------------------------------------------------

Di tunggu komentarnya ^________^

FF: Your Love/1s/

Ini kutulis sambil mendengarkan lagu ‘The Name I love’ yang di nyanyikan Onew. Hmm… kayaknya cocok untuk soundtrack FF ini. langsung aja kali ya. Selamat membaca.
Kuharap kalian suka ^^
------------------------------------------------------

Title: Your Love
Cast: Hyun Ae and Shinee
Disclaimer: Ini ide saya. *Mohon, komentarnya* ^^
Music: The Name I Love by Onew SHINee

YOUR LOVE
Kupandangi langit kelabu di atas sana. Semburat wajahmu yang putih dan lembut terukir di sana. Suaramu yang berat kembali terngiang di telingaku.
‘Hyun Ae-ah… Saranghae…’
Bibirku mengukir senyum. Hal yang selalu terjadi ketika aku mengenangmu. Apa di atas sana kau juga tengah mengenangku, oppa?
Aku mengulurkan tanganku ke angkasa. Seolah-olah tengah mengelus wajahmu yang putih itu.
“Noona~!!” teriakan seseorang membuatku menoleh. Taemin, laki-laki imut dan cantik itu melambai melambai padaku. Hatiku perlahan merasa hangat.
“Palli!” teriak seorang laki-laki cerewet di sebelah Taemin. Siapa lagi kalau bukan Key. Ah, sejak tadi dia dan yang lain memang mengajak masuk ke rumah.
“Di sini terlalu dingin!” teriak anak laki-laki lain yang seumuran denganku. Jonghyun, laki-laki begitu di gilai wanita.
Senyumku mengembang. “Nde~,” sahutku sembari tertawa kecil dengan perhatian mereka yang berlebihan padaku. Sesaat aku kembali memalingkan wajahku ke langit. Ke tempat di mana kau berada sekarang.
‘Sampai jumpa lagi, oppa,’ batinku.
Puk! Syal hangat melingkari bahuku. Aku menoleh. Mata lembut itu menatapku.
“Jangan sampai noona sakit,” ujernya lalu menggenggam tanganku hangat. Sama dengan kehangatakan yang dulu pernah kau bagi denganku. ‘oppa, apa di atas sana kau merasa kedinginan jika salju turun?’
Kami masuk ke sebuah rumah. Rumah rahasia kita yang dulu. Yang sempat kutinggalkan selama dua tahun dan ternyata dirawat baik oleh adik-adik barumu. Aku meninggalkannya karena tak terima dengan kenyataan kau pergi dari dunia ini sebelum hatiku benar-benar siap kehilanganmu.
Dua tahu lalu kau jatuh dari tangga ketika hendak menolongku. Kepalamu terbentur dan tak sadarkan diri. Beberapa hari berlalu, dan kau pergi begitu saja tanpa pamit padaku.
“Minumlah.” Key memberikan secangkir teh hijau hangat padaku. Teh yang dulu sering kau buatkan untukku.
“Gomaweo, Key,” ucapku sembari menyeruput teh itu dengan senyuman tersungging di bibirku. Aku melirik Key. Kulihat dia tersenyum lembut padaku. Senyum yang sama seperti senyumanmu. Aku melihatmu di dirinya, oppa…
Denting piano terdengar. Aku menoleh ke sumber suara. Kulihat Jong Hyun tengah memainkannya. Ia memainkan lagu yang sering kau mainkan. Gaya saat memainkan piano sama persis dengan gayamu.
“Kau salah, Hyung!” tegur Taemin sambil tertawa. “Seharusnya begini.” Ia memainkan nada yang benar. Tawanya kembali terdengar ketika Jong Hyun salah lagi. Kedua matanya menyipit ketika giginya yang putih terlihat. Sama dengan cara tertawamu dulu.
Dadaku kembali menghangat.
Aku mencari sudut lain. Satu sosok sejak tadi tak telrihat.
Perlahan aku berjalan ke depan. Dia ada di teras. Menatap butiran salju yang turun.
“Ini kedua kalinya aku bisa melihat salju turun,” ujernya penuh kekaguman. Kutatap dua matanya. Sorot mata yang sama persis denganmu. Kau juga pecinta salju. Hm… Apakah… aku masih terukir di bola matamu oppa?
Sudah dua tahun lebih setelah kepergianmu. Sedih itu masih ada meski terkadang aku melihat sosokmu hidup lagi di diri mereka. Key yang dapat donor ginjalmu. Minho yang dapat donor matamu. Jonghyun yang dapat donor hatimu. Dan Taemin yang dapat donor jantungmu. Orang tuamu bersedia mendonorkannya pada mereka. Dan sejak saat itu, mereka di angkat menjadi keluarga kalian. Adik angkatmu.
Mereka yang tanpa sadar telah berjalan menuju rumah kecil ini. Lalu merawatnya dengan sepenuh hati. Apa kau yang menuntunnya oppa? Apa kau tahu kalau aku akan pulang?
Aku menatap angkasa yang menjatuhkan butiran putih itu. Seperti melihatmu yang gembira melempar salju-salju ini untukku. Gomaweo oppa, atas semua cintamu. Gomaweo… karena kau menyalurkan cinta dan kasih sayangmu di diri mereka untukku. Jeongmal gomaweo, Onew oppa.
-end-
Hfff…. Rasanya aku seperti benar-benar mengenang orang yang sangat kucintai, hehehe.
Di tunggu komentarnya ^^

FF: Memories of heart/1s/

Sepertinya ini Short FF lagi, hehehe…
Sad end lagi ga ya??? Menurut kalian?
Temukan jawabannya dengna membaca FF pendek ini, hehehe ^___^
---------------------------------------------------------

Title: Memories of Heart
Author: Imah Hyun Ae
Cast: SHINee
Disclaimer: ide saya yang menumpuk dan saya gabung jadi satu XD

MEMORIES OF HEART

~Key POV~
Aku memandangi langit kelabu di atasku. Tak ada yang istimewa hari ini. Hanya langit kelabu, lalu turun salju. Dingin menusuk. Hanya aktivitasku yang semakin padat. Hanya blitz kamera yang mengabadikan sosokku tanpa jemu. Yah… masih seperti biasanya.
Bagaimana dengan dirimu? Masihkah memainkan lagu rahasia kita? Kau terkejut sekali ketika kau bilang kau harus pindah. Dan akan memakan waktu lama untuk bertemu kembali.
Saat kau bilang, ‘Kita ada di bawah langit yang sama, jadi jika kita memainkan lagu rahasia ini, lalu memandang langit, maka hati kita menghangat, itu berarti hati kita masih terhubung’, dadaku benar-benar berdebar hebat. Jeongmal saranghae… jeongmal… Bogoshipda….
Puk!
Sebuah bola salju mendarat di bahu kananku. Kudapati siapa pelakunya. Anak itu tersenyum lebar.
“Siapa suruh kau melamun di udara dingin ini, hyung!” tegurnya sembari mendekatiku.
Aku membalas senyumnya. “Bukan melamun, Min.”
“Lalu?” ujer Taemin sambil menggosok-gosok kedua tangannya. Mencoba menghalau dinginnya udara.
“Hanya memikirkan sesuatu.” Jawabku. Dan ketika sosokmu terukir, dadaku terasa hangat. Apa kau merasakan kehangatan yang sama ketika memikirkanmu?
“Siapa?” Taemin kembali menyadarkanku.
Aku menjawabnya dengan senyuman. ‘Hyun Ae’, batinku mengucapkan nama itu.
Aku merangkul Taemin dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
***

~Taemin POV~
Musim berlalu. Dan kini musim semi tiba. Aku tahu seseorang yang dipikirkan Key hyung. Sosok yang senang sekali duduk di bawah pohon di musim semi seperti ini. Hyun Ae.
Jika Key hyung mengenang Hyun Ae noona, maka setiap waktu aku mengenangmu.
Terkadang aku menelponmu. Sekedar menanyakan kabar dan kegiatanmu. Kau yang keluar negeri membuatku yang masih sekolah ini harus bisa menghemat uang agar dapat menelponmu. Kau, kakak kelasku, sahabat sejak kecilku, juga cintaku noona. Pertukaran pelajar membuatku harus memendam rindu ini selama setahun. Tapi.. yang lebih kutakutkan… kau tak pernah tahu perasaanku. Perasaan yang sudah lama ada. Sudah sering kutunjukan padamu dengan tingkah manjaku. Mungkin karena aku terlalu muda, hingga kau menganggap kejujuranku Cuma bercanda. Padahal, rasaku ini sama dengan mereka yang seumuran denganmu atau yang lebih tua.
Tiga tahun lebih muda, bukan berarti aku tak serius, kan?
Aku berharap suatu hari, kau akan melihatku sebagai seorang laki-laki, noona.
Whuss…
Angin musim semi bertiup. Membawa aroma khas bunga-bunga yang mekar. Pandanganku terhenti ketika kudapati di depan sana Onew hyung melambai padaku. Dia terlihat ceria, tapi sebenarnya ada rahasia menyedihkan yang disembunyikannya.
Ah, apakah sudah saatnya latihan?
Aku segera berjalan ke arahnya. Latihan dance untuk performance kami nanti malam sepertinya segera di mulai.
Soo Ae noona, kau pernah bilang kau suka tarianku kan? Apa kau merasakannya? Semua tarianku, kupersembahkan untukmu. Jeongmal saranghae, noona…
***

~Onew POV~
Di lain musim.
Udara yang pengap. Wajah yang memerah. Matahari yang terik. Juga kegembiraan lantaran libur musim panas tiba. Aku benci!
Benci melihat terik matahari yang menyengat itu! Benci dengan segala hal yang berkaitan dnegan musim panas. Semuanya akan mengingatkanku padamu, cinta pertamaku. Juga kekasih pertamaku. Karena di musim panas dua tahun lalu, Tuhan mengambilmu dariku.
Aku ingat, kegiatan libur ketika musim panas waktu itu: Jalan santai sejauh 30 kilometer yang diadakan sekolah sebagai kegiatan kenang-kenangan siswa SMA kelas tiga. Di hari itu kau pergi untuk selamanya. Kau oleng karena kelelahan dan dehidrasi. Lalu jatuh membentur batu yang ada di pinggir jalan tanpa sempat kutolong. Kau koma tiga hari lamanya, lalu…
Setelah hari itu, hanya bayanganmu di benakku yang selalu menemaniku. Aku… merindukanmu…
“Hyung!! Palli~!” teriak Taemin.
Aku mengangguk lemah. Ia yang memaksaku ikut hari ini di acara liburan yang diadakan management. Liburan yang akan diliput stasiun tv swasta di negeri kami.
“Terkenang dengannya lagi?” bisik Key saat aku berhasil menyusul mereka yang menungguku.
Aku hanya bisa tersenyum lemah.
Minho menepuk pundakku. Semua member memang tahu kisah itu.
***

~Minho POV~

Musim berganti.
Daun menguning dan berguguran. Jatuh jauh dari pohonnya ketika tertiup angin.
Suhu mulai berubah. sejuk. Namun hal itu memperjelas hatiku yang kosong. Sunbei bersuara indah yang tak sengaja kudengar dari ruang musik hampir setahun lalu pergi. Kau dengan berani pergi membawa serta hatiku, tanpa sempat memberi kesempatan padaku untuk mengenal siapa dirimu. Yang kutahu hanyalah kau kakak tingkatku.
Aku berjalan menyusuri halaman samping ruang musik. Gemerisik daun yang kuinjak menyayat hatiku. Mengalunkan lagu sendu yang dulu pernah tak sengaja kudengar kau nyanyikan setahun lalu.
Kusentuh dindingnya yang menyimpan kenangan tentangmu. “Jeongmal bogoshipda…” bisikku.
“Ya~ Choi Minho!!” aku terkejut. Seseornag melongokan kepalanya dai jendela dan berteriak menyebut namaku.
“Baru lima menit kita pisah kau sudah merindukanku?!!”
Kupukul kepalanya dengan pelan. “Yang benar saja, hyung! Aku memikirkan seseorang yang istimewa, tapi jelas itu bukan kau!!” aku menyandarkan punggungku di dinding ruang musik.
“Aish… sunbei itu lagi?”
Aku mendelik ke arah si ‘bling-bling’ di sampingku ini.
“Lupakan! Dia tidak akan hadir lagi! Carilah yang lain? Masih banyak kan yang mengantri cintamu?”
Aku mencibirnya. “Jangan hanya bsia menasehati, hyung!” tegurku.
“Mwo?”
Aku tertawa sambil menggelengkan kepala. “Kenapa kau tidak menasehati dirimu sendiri? Bukankah Han Jae Jin sudah jadi milik orang lain sejak tiga bulan lalu? Kenapa masih memikirkannya?”
“M-mwo? Siapa yang memikirkannya??” katanya gugup.
“Ck! Jangan bohong, hyung!”
Jong Hyun hyung langsung manyun.
Aku menertawakannya sepuasku.
Sunbei… Kau sudah lulus, kemungkinan bertemulagi memang sangat kecil. Tapi… aku boleh berharap pertemuan itu terjadi kan?
***

~Jong Hyun POV~
Di lain waktu…
Angin menggerakkan dahan-dahan pohon. Gemerisiknya cukup mengganggu. Langit tampak pekat. Hujan sebentar lagi turun.
Aku melangkah cepat. Aroma yang enak hinggap di hidungku. Langkahku terhenti. Seketika aku melihat satu sosok yang anggun sedang menghiasi kue tart. Itu…kau Han Jae Jin.
Sepertinya kue itu baru saja kau buat. Terlihat sekali kau puas dengan hasil kerjamu. Aku turut tersenyum. Andai saja kue itu untukku.
“Sukses?” sebuah suara langsung menghempaskan hatiku ke perut bumi.
Kulihat kau mengangguk pada sosok yang hobi membuat kue itu dengan malu-malu.
“Wow… cantiknya. Boleh kucicipi?” ia tersenyum manis padamu.
“Tentu.” jawabmu girang. “Ini aku buat khusus untuk oppa, kok.”
Oppa? Kata itu menyakitiku Jae Jin-ah…
“Jeongmal? Gomaweo…” ujer laki-lai itu sambil mengelus kepalamu dengan sayang.
Dadaku sesak. Kenapa lagi-lagi aku harus menyaksikan hal ini? Ini sudah kesekian kalinya aku melihat kebersamaanmu dengannya. Itu melukai perasaanku. Tapi… siapa aku bagimu? Hanya seorang Jong Hyun yang dipuja banyak orang, namun tak kau lirik! Benar kan?
Lihat! Aku tahu hal itu, tapi hatiku terus menginginkanmu. Harus bagaimanakah aku, Jae Jin-ah….?
***
--------------------------------------------------------

Tamat ^^

Gimana?? Sebenarnya kalau di perpanjang lebih bagus lagi kan? Mau sih… namun setelah aku melihat semua catatanku, aku shok!!! Ada 15 judul FF yang belum kutulis. Ada 4 FF berseri yang belum kutulis dan ku tamatkan! Jadinya… sampai di sini saja dulu. Kalau ada ilham lagi, akan kusambung lagi. Hahaha XDXD
Mian… kalau kalian kecewa, m(_ _)m

FF: Crying Heart/1s/

Sekali lagi saya bikin short FF. Moga-moga kalian suka ya… ^^
Title: Crying Heart
Author: Imah Hyun Ae
Cast: Ryeowook (Super Junior) dan Hyun Ae
Disclaimer: murni khayalan saya di hari hujan yang lebat, ^^
----------------------------------------------------------

CRYING HEART

Hujan lebat di luar sana Hyun Ae-ah… ikuti gerimis yang berturut-turut dan setiap hari membanjiri hatiku. Rintik kecilnnya ukirkan wajahmu yang basah tapi ceria di benakku.

-flashback-
Splash!
Kau menyiramku dengan genangan air hujan saat kita berhujan ria dalam perjalan pulang sekolah.
“Ya~!” teriakku kaget. Aku segera membalasmu. Kau menjulurkan lidah. Tertawa sambil berlari menghindariku. Aku mengejarmu.
-end flashback-

Kita menari di bawah hujan hari itu.
Kenapa? Kenapa kau hanya memandangku sebagai teman? Bukankah sudah pernah kubilang, ‘Kau hidupku’? Apa kau tak mendengarnya? Apa kau lupa?
Tidak… kau tak mendengarnya, karena aku… mengatakannya dengan keras di hatiku saja.
Kulihat kertas tebal di tanganku. Hatiku sakit. Tulisan di sana menyakitiku.
Resepsi Pernikahan: Hyun Ae dan Eunhyuk
Hari: Rabu, 11 Agustus 2010
Tempat: Hotel Minaa
Aku mengatup kedua bibirku dengan rapat. Perih itu makin membuat dadaku sesak.
Kabut menggangtung di mataku. Aku tahu, sesaat lagi, butiran bening ini akan mengaliri pipiku.
-flashback-
“Oppa baru bangun?” tegurmu ketika aku membukakan pintu untukmu. Kau mengunjungki di waktu yang berbeda dari biasanya.
Aku hampir sebulan di luar kota. Jadi, sepagi ini kau menemuiku, apa karena merindukanku?
Aku mengangguk dan mempersilahkanmu masuk.
“Tumben kau sepagi ini ke tempatku? Ada hal penting? Atau kau merindukanku?” godaku.
Kau tergelak. “Anni. Sebenarnya aku ingin oppa orang yang pertama tahu, setelah kedua orang tuaku tentunya.”
“Tahu? Tentang apa?” aku memandangmu antusias.
Kau tersipu, entah karena apa. Rona wajahmu terlihat sekali bahagia. Kabar baik kah? Aku menduga-duga.
“Aku… akan menikah…” lirihmu. Tapi senyum yang terukir di wajahmu menunjukan itu hal yang paling dinantikanmu selama ini.
Jantungku serasa berhenti berdetak. “Jeongmal?”
Kau mengangguk. Lalu mengeluarkan sebuah undangan.
“Aku sengaja mengatakannya setelah undangan ini jadi, hehehe…” kau menyerahkan undangan yang ada di tangan kanannya padaku. Dengan enggan aku mengambilnya. “Oppa terkejut kan?” tanyamu gembira.
Senyumku tak mampu terukir dengan sempurna.
Kau kembali tertawa. “Oppa mau kan menyanyi di pernikahanku?”
“Kalau aku tidak mau, kau akan marah?” tanyaku lambat.
Kau memandangku, sedikit terkejut. “Tentu saja. Oppa tamu utama di pestaku! Jadi Jangan sampai tidak datang lho oppa! Aku akan membencimu selamanya!” ancamnya tak serius.
“Calon suamimu… apa aku mengenalnya.” Aku menghela napas. Tak sanggup mengingat kau akan menikah sebentar lagi.
Kau diam sesaat. “Kurasa oppa kenal. Dia teman sekantorku.”
“Kenapa aku tidak tahu kau pacaran dengannya?”
Kau menggeleng cepat. “Kami tidak pacaran oppa.”
Aku menatapmu lekat, mencari tahu apa maksud kalimatmu.
“Dia mengajakku makan malam, dia bilang dia mencintaiku,” pandangan matamu berbinar. Apa itu kebahagian?
“Dan saat itulah dia melamarku,” bisikmu pelan.
“Saat itu juga kau meerimanya?”
Dengan malu-malu kau mengangguk.
Kenapa? Aku yang selama ini mencintaimu, di dekatmu, memperhatikanmu, kenapa kau memilihnya?
“Karena aku mencintainya…” ucapmu seolah mendengar pertanyaan batinku. “Makanya saat dia bilang mau menikah dneganku aku terima.”
Aku tak tahu apa yang harus kukatakan.
“Aku mau bilang pada oppa, juga memperkenalkannya pada oppa, tapi waktu itu oppa ada tugas di luar kota. Kuputuskan mengatakannya saat oppa datang saja, tapi berubah pikiran, lebih baik saat undangan jadi saja, biar jadi kejutan, hehehe… tak disangka oppa baru kemarin kembali dan undangannya sudah jadi dua hari lalu..” Senyum khasnya lagi-lagi mengembang. Senyum yang begitu kusukai, tapi hari ini amat melukaiku.
“Jadi…” ia menatapku penuh harap, “Oppa pasti datang dan menyanyi kan?”
Aku mengangguk pelan...
-End Flashback-
Aku meletakan undangan dan mendekat ke lemari pakaianku sambil menyekai butiran bening yang jatuh ke pipiku. Kuambil kemeja dan jas yang sudah kusiapkan untuk hari ini. Aku menghela napas berat dan mengenakannya.
Hujan sudah sedikit reda ketika aku tiba di tempat pernikahan itu berlangsung. Kulihat di pelaminan kau bersanding dengan seorang laki-laki yang sepertinya sangat periang. Aku mendekat perlahan.
“Ryeowook oppa?” pekikmu gembira. “Kukira gara-gara hujan kau enggan datang…” ucapmu lega ketika aku sudah di depanmu.
Aku tersenyum sebisaku. “Aku sudah janji kan?” kataku pelan. Kau mengangguk.
“Chukae…” aku menyalamimu dan juga suamimu. Akh… hatiku perih… masih tak terima bahwa kau telah menikah, Hyun Ae-ah…
Kau tersenyum lebih gembira dari sebelumnya. “Gomaweo…”
Bagaimana caraku agar tak mencintaimu lagi, Hyun Ae-ah? Lukaku… semakin menganga lebar. Sekarang rasanya hati ini tak lagi perih, tapi juga berlumuran darah…
-end-

Hahaha, benar-benar pendek ya? ^__^
Aku tidak tahu lagi bagaimana memperpanjangnya. Karena setelah kucoba, ceritanya jadi menjemukan. Begitulah… makanya aku memutuskan seperti ini saja.
Yang kena tag WAJIB COMMENT!!!
Hehehe, di tunggu….
O, ya. Main-main ke blogku juga ya ^__^ di http://hyunae19.blogspot.com/

FF: Sadness part 2 -end-

Title: Sadness
Cast: Yoochun, Hyun Ae, and other member DBSK
Disclaimer: murni imajinasi saya

SADNESS
Part 2

Yoochun menatap kami bergantian dan certa tentang hubungannya dengan Hyun Ae pun di mulai.

-Yoochun POV-
Dia memang bukan cinta pertamaku. Tapi aku bisa pastikan, dialah cinta terakhirku. Bersamanya, aku merasa nyaman. Bukankah.. rasa nyaman itu lebih lama bertahan?
Benar-benar tak bisa kusangka, seorang gadis biasa saja bisa ,menggenggam hatiku sedalam ini. Namanya Lee Hyun Ae. Tiba-tiba saja saat melihatnya tertawa gembira dadaku berdebar. Ia yang selalu menolong orang lain dengan tulus. Selalu tersenyum lembut pada siapa saja. Menundukan wajahnya ketika malu. Ah… aku tak tahu sejak kapan aku suka segala yang ada di dirinya.
Aku sempat berpikir sebaiknya kusimpan saja rasa ini. Ia dan yang lain tak perlu tahu. Tapi, ketika ada namja lain mendekatinya, aku beriubah pikiran. Aku memutuskan perasaanku padanya.
Hari itu dengan sengaja aku mengikutinya. Dan di sanalah, di depan sebuah halte dekat rumahnya, perasaanku kusampainan.
Aku menunduk sambil menggesekkan sepatuku di aspal.
Lirih kudengar sebuah suara yang kunanti, “Nado…”
Aku mendongak. “Eh?”
“Nado saranghae…” katanya pelan. Wajahnya tampak bersemu merah.
“Jeongmal?”
Dia mengangguk sambil tersenyum malu.
“Yayyy~~~.” aku berteriak gembira. “Hyun Ae yeoja chingu-ku sekarang,” aku berputar-putar bahagia. Kutemukan senyum manisnya.
Aku teringat sesuatu. Aku yang popular dan menyatakan cinta padanya lebih dulu, kurasa wajar kalau dia menjawab begitu. Aku baru mau bilang harus backstreet dan kalau ada yang tahu hubungan ini berakhir, meski aku yakin tak akan kulakukan, ketika dia bersuara…
“Tapi kita backstreet ya? Orang tuaku… tidak mengijinkan aku pacaran. Kalau ketahuan teman-teman atau siapapun,” ia menatapku, “Kita putus.”
“Eh?”
Hyun Ae menunduk.
Itu yang kumau, tapi, kenapa rasanya sedih mendengar dia yang memintanya ya?
“A…Arasseo,” ujerku terbata.
Hyun Ae mendongak. Matanya mencari kesungguhanku. Ketika ia tersenyum, aku tahu dia telah mendapatkannya.
Aku mengantarnya, tapi akan berpisah di jarak yang cukup jauh dari rumahnya. Kami tak boleh ketahuan.
Kami melangkah dalam diam. Meski diam, tangan kami saling terpaut erat. Senyum merekah di sudut bibir kami. Ini disebut kebahagian kecil dari cinta kan?
Aku tahu, satu hal telah menyatukan kami. Hati yang dipenuhi cinta.

Sejak hari itu kami harus menjaga jarak agar tak ada yang tahu kami berpacaran. Aku mengantarnya pulang dengan jarak beberapa meter di belakangnya. Dia akan berhenti dan menatapku sambil tersenyum. Ia melambai kemudian. Dan kami pun berpisah.
Saat jalan-jalan juga. Tak terlihat sekali kami adalah kekasih. Aku kadang gelisah, tapi melihatnya yang hanya menatapku, hatiku kembali tenang. Diam-diam sering aku memberikan ciuman jarak jauh dengannya. Dia akan membalas dengan cara yang sama diam-diam. Hanya di tempat rahasia kami, sebuah rumah kecil di dekat pantai . Di sana aku bisa duduk dekat dengannya. Menatapnya sepuasku. Menyanyikan lagu yang menyengkan untuknya. Membantunya mengerjakan PRnya. Mengelus kepalanya dengan lembut. Juga merebahkan kepalanya di pundakku sambil menggenggam tangannya lama. Aku... benar-benar jatuh cinta padanya.
Ketika aku memutuskan ikut audisi SM Entertainment, aku menemuinya diam-diam di tempat rahasia kami.
“Jeongmal?” tanyanya saat kusampaikan keinginanku ikut audisi. Ia tampak gembira. “Oppa pasti lolos.” ujernya riang.
“Gomaweo… Tapi… dengan begitu.. kita akan semakin sulit bertemu.”
Ia menggeleng. “Tidak apa-apa. Jika itu impian oppa, maka impian oppa menjadi impianku juga.”
“Bagaimana kalau kau lelah denganku lalu memutuskan untuk berpaling dariku?”
“Oppa cemas?”
Aku mengangguk gamang.
“Bukankah aku yang harusnya cemas.” Ujernya sambil menatap kedua mataku, serasa membaca hatiku. “Nae namja akan semakin banyak punya fans.” Ia menghela napas dan memandang keluar. Di masa trainee nanti banyak yeoja yang cantik. Oppa… pasti akan berpaling..” sambungnya setengah berbisik.
“Annio~,” tegasku segera. “Kau satu-satunya!”
“Jika dimulai dengan indah, kita harus akhiri dengan indah juga kan oppa?”
“Ya~! Jangan berkata seolah-olah kita putus. Aku janji aku akan usahakan menelponmu setiap hari.”
Ia tersenyum dan mengangguk.
Namun ternyata, aku tak bias memenuhi janjiku. Aku hanya bias mengirim pesan dan kalau usai latihan aku sempatkan mengirin pesan suara padanya.

Setelah debut, aku cuma bias menemuinya tiga kali dalam setahun. Saat ulang tahunnya, ulang tahunku (yang ini terkadang aku harus menyelesaikan pesta yang dibuat temanku baru menemuinya) dan hari jadian kami. Jadwal yang padat membuat dia yang lebih banya mengirim pesan suara padaku. Kadang, aku merasa bersalah padanya…
Aku mendapat image playboy di grupku. Aku cemas. Bagaimana kalau dia mengira aku seperti itu? Bagaimana jika hal itu membuatnya putus denganku? Namun dia tak pernah sekalipun membahasnya. Ketika kutanya dia menjawab, “Tidak apa-apa oppa. Asal jangan kenyataannya saja. Aku harap aku tetap di posisi ketiga setelah Tuhan dan orang tua oppa.”
Senyumku mengembang seketika.

Cemas itu masih ada. Kami yang berjauhan. Punya waktu senggang yang tak sama. Akankah perasaannya bertahan?
Aku gembira bukan main ketika dia mengirim pesan suara yang isinya,
“Oppa… aku sudah lihat banjun drama kalian. Whaa~ oppa kau keren sekali. Andai aku jadi tokoh utama wanitanya… Oppa, boleh aku bilang kalau aku cemnburu? Mianhae…oppa. Perasaan itu… benar-benar tak bias kukendalikan... Ottokhe?”
Segera aku menghubunginya dan meminta bertemu.
-End Yoochun POV-

“Whoaa….” Koor terpesona kami berkumandang bersamaan.
“Ingat ketika aku buru-buru keluar dan bilang keadaan darurat namun wajahku terlihat ceria.”
“O! yang waktu itu,” pekik Jae Joong.
“Nde. Hyung bilang aneh, kalau darurat seharusnya aku cemas. Hari itu hari di mana pertama kalinya dia bilang cemburu padaku.”
“O~” koor kami berkumandang lagi.

-Yoochun POV-
Aku menemui Hyun Ae di tempat rahasia kami.
“Oppa… apa kalimatku tadi membuat oppa cemas?” ujernya takut.
Aku mendekat.
“Mi-“
Aku memeluknya. Membuat kata-katanya terhenti.
“O… oppa?” ia terkejut.
Aku memeluknya erat. “Dari kemarin aku mencium bau yang terbakar.” ujerku sambil merebahkan kepalaku di pundaknya.
“Eh?”
“Ternyata itu hatimu ya…”
“Oppa~,” ia memukul bahuku. Aku tahu ia malu.
“Aish.. Berisik sekali. Apa kau mendengarnya?”
“Um..Nde!”
Eh? Di sini tidak ada bunyi berisik. Apa dia tahu maksudku?
“Bukankah itu bunyi debaran hati oppa?” lanjutnya.
Ah, ternyata dia tahu!! “Seharusnya aku yang bilang begitu kan? Kau berdebar hebat ketika kupeluk.”
Ia lagi-lagi memukul bahuku. Aku tertawa girang.
“Gomaweo…” ujerku.
“Eh?”
“Gomaweo karena selalu mencemaskanku.”
Kurasakan dia mengangguk.
“Gomaweo… karena sudah cemburu untukku.” *gyaaa~~~~*
“Oppa~” ia mencubitku. Kebiasaannya ketika rasa malunya memuncak.
“Itu melegakanku, Hyun Ae-ah..” bisikku.
Hyun Ae tak menjawab. Aku tak perlu jawaban langsung darinya. Pelukannya yang erat sudah menjawab semuanya.
“Jeongmal saranghae oppa…” bisiknya pelan.

Debut di jepang, hal paling menyiksaku. Membuatku tak bisa menemuinya di hari jadian kami. Aku memutuskan menelponnya.
“Kau di mana?” tanyaku usai menanyakan kabarnya.
“Oppa tidak tahu?” ia balik bertanya.
“Maksudmu?”
“Bukankah selama ini aku ada di hati oppa?” Dia menggodaku.
“Ya~.” Senyum bahagiaku merekah seketika.
“Aku sedang di kamar, oppa.” Ujernya usai tergelak.
“Sedang mengerjakan apa?”
“Umm… tugas rutin.”
“Tugas rutin?” ulangku.
“Hm-mm. Tugas memikirkan oppa sepanjang waktu.”
“Ya~”
Hyun Ae tertawa lagi.
“Kenapa justru kau yang menggodaku.” ucapku setengah bergumam. Gelak tawa Hyun Ae makin keras terdengar. Membuat dadaku terasa hangat.
-End Yoochun POV-

“Wowww….” Ujer Junsu. Matanya jelas terlihat sangat kagum dengan kisah cinta yang manis dari Yoochun.
“Suit-suit!” Changmin bersuit heboh.
Kulihat wajah Yoochun memerah. Ia terlihat bahagia sekali mengingat kisah manisnya dengan gadis itu.
“Ia juga membuat syal dan mengirimnya. Ingat ketika changmin bilang kenapa cuma satu syal saja yang kupakai?”
“Jangan-jangan…” Changmin menduga-duga.
Yoochun tersenyum hangat. “Itu hasil rajutannya.” Suaranya pelan.
“Whoaa.. Yoochun-ah… kau benar-benar suka padanya ya?” kata Junsu takjub.
Buhg!
Pukulan pelan mendarat di kepala Junsu.
“Kenapa kau menanyakan hal sebodoh itu??” ujer Jae Joong. “Itu sudah tentu kan?!!”
Yoochun tertawa. “Kalian mau melihat fotonya?” tawarnya.
“Boleh kah?” tanyaku tak percaya.
Yoochun mengangguk. Ia beranjak ke kamarnya dan kembali sambil membawa HPnya. Ia mengganti memori stick HPnya dengan yang baru di ambilnya di kamar.
“Ini dia,” ujerya setelah mendapatkan album foto bertuliskan ‘Nae Yeoja’.
Kami mendekat dan menatap foto yang ada di HP tersebut. Seorang gadis berambut lurus dan tebal. Matanya yang sedikit menyipit dengan lengkungan lembut dan hangat tercipta di bibirnya. Pipinya merona. Tampak seperti tersipu malu. Kulitnya yang putih cerah semakin mempesona kami.
“Cantik, hyung,” komentar Changmin.
Aku mengangguk menyetuji pendapatnya.
“Hm-mm,” Junsu ikut mnendukung komentar Changmin barusan. “Kenapa kau bilang biasa saja?” tanyanya.
Yoochun tertawa. “Sengaja. Agar kalian jujur menilainya, hahaha.”
-end flashback-

Hari yang bahagia setelah itu. Yoochun selalu menceritakan apa yang ia bicarakan dengan Hyun Ae usai menelpon. Dan kebahagiaan itu semakin kami rasakan meningkat ketika Yoochun bilang dia mau melamar gadis itu tiga bulan lalu.

-flasback-
“Apa manajemen mengijinkan?” tanyaku ketika Yoochun bilang dia mau melamar Hyun Ae.
“Nde.. sebenarnya manajemen juga sudah tahu sejak dua tahun lalu.
“MWO???” kami terkejut bersamaan.
Yoochun mengangguk. “Manajer yang bilang. Dari pada ketahuan lebih baik diberitahukan lebih dulu. Pemimpin melihat kesungguhanku. Ketika kubilang ‘lebih baik kehilangan karirku dari pada kehilangan dia’ pemimpin berkata ‘Jaga dia baik-baik. Kalau sampai fans tahu, aku tidak akan turun tangan untuk melindunginya’.”
“Jika itu kebahagiaanmu, maka itupun kebahagiaan kami juga. Good luck, Yoochun-ah.” Ujerku.
“Hwaiting, hyung!” Changmin semangat mengatakannya.
“Kabari kami segera apa jawaban Hyun Ae ya?” pinta Jae Joong.
Yoochun mengangguk.
Sejam kemudian dia menelpon dan jawaban gadis itu serta kedua orang tuanya adalah ‘Ya’.
Kami bersorak gembira. Seolah kamilah yang mau menikah.

Waktu berlalu. Segala persiapan dimulai.
Manajemen mengatur konferensi pers pernikahan Yoochun yang akan berlangsung dua minggu lagi. Mereka juga memperlihatkan foto-foto pra wedding Yoochun dengan Hyun Ae.
Semua berjalan lancer. Fans merestui hubungan mereka. Ikut bahagia dengna kebahagiaan Yoochun. Bahkan ada yang langsung memanggil Hyun Ae dengan sebutan ‘Onnie’. Kami lega.
-end Flasback-

Kami bahagia. Hingga membuat kami lupa untuk waspada terhadap fans fanatic kami.
Hari itu, seminggu sebelum pesta.

-Flashback-
Yoochun dan Hyun Ae mencoba jas dan gaun pengantin. Banyak fans yang mengikuti ke mana saja mereka pergi. Mereka heboh menyebarkan kegiatan yang Yoochun dan Hyun Ae lakukan. Tak kalah hebohnya dengan wartawan.
Merasa kehausan, Hyun Ae pamit ingin membeli minuman dingin di minimarket seberang. Yoochun masih mencoba jasnya yang lain. Sepertinya ukurannya ada yang kurang pas.
“Biar aku saja.” Tawarku ketika ia hendak keluar.
“Anni. Fans diluar cukup banyak. Nanti oppa malah tidak bisa lewat.”
“Tapi-“
“Gwenchana,” potongnya. Ia tersenyum meyakinkan. Aku mengalah. Membiarkannya keluar. Semoga tidak apa-apa.
Sesaat kecemasan melandaku. Ketika fans menyapa Hyun Ae dengan sebutan ‘onnie’ aku lega. Kulihat Hyun Ae membalas sapaan mereka. Kudengar juga mereka berpesan untuk menjaga Yoochun dengan baik.
Hyun Ae menjawab permintaan mereka sembari tersenyum dan terus berjalan ke seberang.
Yoochun menatapnya ketika ia keluar dari minimarket dengan sekantung plastikl kecil berisi minuman di tangannya.
“HYUN AE-AH??!!” teriakan Yoochun mengagetkan kami.
“KYAAAAA!!!” paru-paruku serasa lemas mendengar fans di luar menjerit. Satu sosok bersimbah darah di aspal membuat jantung kami seperti berhenti berdetak.
Yoochun dan kami berempat keluar.
Hyun Ae tampak tak bergerak.

Ambulan membawa Hyun A eke rumah sakit. Yoochun ada di dalamnya. Kami mengikuti di belakang dengan mobil kami.
Rumah sakit tampat mencekam. Kami baru menyadari hal itu ketika melihat lorong UGD. Aku merasa bisa mendengar detak jantung member yang lain.
Suara tangis terdengar ketika kami di dekat ruang gawat darurat itu.
“Hyun Ae-ah!!!” teriakan Yoochun menyayat-nyayat hati kami. Ia menangis sambil memeluk sosok kaku di pembaringan. “Kajjima~” suaranya pilu sekali.
Aku merasa sulit untuk bernapas. Ini… ini bukan kenyataan kan?
“Jawab aku Hyun Ae-ah!” Yoochun tergugu. Bahunya bergetar. Ia mengguncang-guncang tubuh Hyun Ae yang tidak bergerak. Seketika air mata kami jatuh. Hyun Ae, gadis yang begitu dicintai Yoochun, telah tiada.

“Wae hyung?” lirih Yoochun ketika upaca pemakaman usai.
“Wae…” isaknya tertahan. Ia berlutut di depan makan Hyun Ae dan kembali menangis hebat.
Kami baru bisa membawanya ke mobil dan pulang saat tangisnya melemah dan ia sudah tak bisa melawan, kelelahan.
-end flashback-

Kami mengetahi pelaku tabrak lari Hyun Ae adalah salah satu fans fanatic kami. Di pengadilan dengan jujur dia bilang tak rela Yoochun menikah dengan orang lain.
Apa kalian tahu, Yoochun pernah bilang padaku, “Jika menjadi idola membuatku harus kehilangan Hyun Ae, maka aku lebih memilih tidak pernah menjadi idola, hyung.”
Apa kalian tahu? Lebih dari enam tahun ia diam demi Cassiopeia. Menjaga hati Cassiopeia agar tidak terluka.
Hyun Ae yang bahkan sudah sejak delapan tahun selalu ada di samping Yoochun. Menudukung segalanya. Percaya padanya. Bertahan untuknya. Setia padanya.
Lalu kenapa? KENAPA??
Kalian bilang mencintai Yoochun. Tapi apa? Apa yang sudah dilakukan salah satu dari kalian? Kenapa menyakiti idola kalian? Bukankah cinta yang sesungguhnya tak akan menyakiti orang yang dicintainya?
Ah, mian… aku malah marah-marah seperti ini. Ini bukan salah kalian. Tapi salah pelaku itu.
Kami sungguh sangat berterimakasih atas segala cinta kalian yang begitu besar untuk kami. Tapi tolong jangan sesadis orang itu.
Sebulan lalu orang itu mengirim surat yang isinya minta maaf dan dia sangat menyesal. Tahukah kalian apa balasan Yoochun?
“Apa dengan menerima maafmu, Hyun Ae-ku kembali?”
Bahkan orang tua pelaku itu datang dan meminta maaf pada Yoochun langsung. Jawaban Yoochun masih sama.
“Apa dengan memaafkan, Hyun Ae-ku kembali?”
Ia meninggalkan orang tua pelaku itu begitu saja.
--
“Hyung?” jemariku terhenti ketika mendengar suara serak Yoochun memanggilku.
Aku menoleh dan melihatnya sedang memandangi langit yang muram.
“Apa dengan memaafkan orang itu, Hyun Ae-ku bisa kembali?”
Apa yang harus kujawab?
--End—

Hehehe… gomaweo udah baca…. Di tunggu komentarnya.
Bagi yang kena tag, WAJIB KOMENTAR lho~ ^^
Silahkan lanjut ke ceritaku yang lain ya~ XDXD

FF: Sadness part 1

Hahay… akhirnya author comeback lagi niy. Pasti udah pada kangenkan sama cerita author yang satu ini?? Hehe, ^///^
Ya udah ga usah pedulikan ocehan saya yang rada narsis itu. Kali ini saya nulis FF dengan sudut pandang utamanya adalah Yunho oppa. *Yayy~!!!*
Cerita ini tercipta sudah lama di otak saya, Cuma baru bisa ngetiknya sekarang. Kali ini sad end lagi. Mian kalau ga suka.
Sekali lagi ini cuma imajinasi saya *yang mungkin terlalu berlebihan* hehehe.
Oke. Lets read! AND LEAVE COMMENT PLEASE. Tolong JANGAN jadi SILENCE READER. Ini demi memompa semangat author juga, hehe…
--------------------------------------------------------------

Title: Sadness
Cast: Yoochun, Hyun Ae, and other member DBSK
Disclaimer: murni imajinasi saya

SADNESS
Part 1
Aku jung Yunho. Leader dari grup DBSK. Ah, kurasa thal ini tidak perlu ku tulis bukan?
Aku sengaja menulis kisah ini di sini. Di website resmi kami. Kuharap para cassie yang membacanya memahami perasaan kami. Terutama perasaannya.
Kalian boleh menyebarkan cerita ini ke grup kalian. Dan bagi yang bisa menerjemahkannya ke dalam bahasa inggris, ku mohon bantuan kalian juga. Sebarkan kisah ini agar hal yang menyakitinya- juga menyakiti kami- tidak terualang lagi. Dan kuharap juga tidak terjadi dengan idola kalian yang lain.
Sebelumnya maaf kalau cara menulisku tidak baik. Tidak mengalir seperti halnya kalian menulis FF untuk kami. Aku hanya ingin menyampaikan kesedihannya pada kalian.
“Rain in my heart… mou yamanai…”
Aku mendengar senandung serak di belakangku. Bukan, ini bukan suara Kim Junsu. Aku kenal betul suara ini milik siapa. Ini.. suara milik crying baby kami, Park Yoochun.
Aku menoleh ke belakang. Ia tampak bersandar di tiang jendela. Menatap pilu pada butir-butir hujan di luar sana. Ia masih bersenannndung ketika kudapati bulir air matanya jatuh. Di genggaman tangannya tergenggam kotak cantik. Aku tahu isi di dalamnya. Ia sempat memperlihatkannya pada kami. Benar. Sepasang cincin pernikahan. Aku tahu, sekali lagi dia menangisi gadis itu.
Sudah tiga bulan dia begitu. Dan selama itu pula yang kutemukan di wajahnya hanyalah lekuk sendu. Sesekali kudapati ia menangis diam-diam di kamarnya. Ah, siapapun pasoi akan sama sedihnya dengan dia jika mengalami hal yang sama.
Aku ingat, tiga bulan lalu, pada malam hari, di hari yang seharusnya jadi hari pernikahannya.

-flashback-
Denting piano terdengar dari ruang tengah. Aku bangun perlahan dan mengintip. Kudapati Yoochun tengah duduk di depan piano, memainkannya dengan wajah beruari air mata.
“Gomapta nae nomumollojoso… molinda…” ia bernyanyi tertahan. Aku tahu, lagu ini seharusnya dinyanyikan dengan bahagia di pesta pernikahan.
Air mata crying baby kami deras berjatuhan.
Dengan perlahan aku membuka pintu dan mendekat ke arahnya.
Isakannya terdengar jelas di sela lagunya.
“Yoochun-ah..” panggilku.
Ia menatapku dengan matanya yang merah. Ia berhenti memainkan tuts piano itu. “Bagaimana menurutmu, hyung? Lagu ini bagus kan?” senyum pedihnya menusuk hatiku. Tajam.
Aku bergeming. Pilu di matanya makin menyayat-nyayat seluruh persendianku.
“Aku berencana menyanyikan lagu ini di perbnikahan kami, hyung.” Ia kembali menjatuhkan tatapannya ke piano. Satu titik air jatuh di atas tutsnya.
“Kau tahu, hyung? Lagu ini…” lirihnya pelan, “adalah ungkapan terima kasihku padanya.”
Aku tak bisa mengatakan apapun melihat wajah pilunya itu.
“Tapi… aku tak sempat menyampaikannya padanya.” Butiran yang jatuh ke tuts piano tersebut semakin banyak.
Aku menggigit bibir bawahku. Menahan kabut yang menggenang di mataku agar tidak jatuh.
“Wae…??” bisiknya.
Apa yang harus ku katakabn?
“Wae hyung…?” isakannya kembali terdengar. “Wae…” suaranya tertelan kesedihannya yang dalam.
“Gumanhae, Yoochun hyung…” kudengar suara Changmin. Sejak kapan dia di sini?
Junsu juga. Ia mendekat dan menepuk pundak Yoochun. Air mata juga menggenang di pelupuk matanya.
“Ini mimpi kan??” ia meminta pembenaran dari kami.
Jae Joong menyeka air matanya yang jatuh.
“Katakan padaku yang terjadi cuma mimpi. Mimpi burukku…” isak Yoochun menjadi.
“Yoochun-ah..” jae joong mencoba bersuatra tapi gagal. Ia yang mudah menangis tak bisa menahan isakannya.
“Katakan itu mimpi, hyung.” Suara Yoochun makin memilukan hati siapapun yang mendengarnya.
Aku menepuk pundaknya. Berharap ia mampu menguatkan hatinya.
Kami menuntunnya ke sofa. Tangis masih menyelimuti wajahnya hingga akhirnya dia tertidur.
“Kajjima, Hyun Ae-ah…” igaunya. Air mata meleleh lagi dari sudut matanya.
-end flashback-

Seperti kataku, kebahagian menjadi lima kali lipat dan kesedihan di bagi jadi lima. Sedihnya, sedih kami juga.
Kalian mungkin tak menyangka jika ia akan menagis sehebat itu karena seorang gadis yang amat dicintainya pergi. Pergi dan tak akan pernah kembali.
Siapa yang tidak sesakit itu?!! Delapan tahun! Apa kalian tahu arti delapan tahunnya bersama gadis itu? HIDUPNYA!! Tapi setega itu seseorang menghancurkan segalanya!
Yoochun mati-matian selama delapan tahun menyembunyikan sosok gadis itu dari kalian. Ia tak ingin kalian melukainya. Sosok yang bahkan baru kami ketahui satu tahun terakhir. Sosok yang seketika membuat kami sadar betapa setianya Park Yoochun kami.

-flashback-
Aku sedang membuat lirik rap pada lagu terbaru kami, ketika Changmin mengguncang-guncang tubuhku dengan semangat.
“Wae?” Bukannya menjawab, si maknae ini justru menutup pintu kamar dan memasang headset ketelingaku.
Aku menatapnya bingung.
“Dengar, hyung!” perintahnya. Ia memencet tombol dan…
“Oppa..” suara seorang gadis. Aku memandang Changmin penuh selidik. “Sedang apa? Aku baru saja selesai mengejakan tugas kuliahku. Capeknya… Oppa sendiri? Baik-baik saja kan?”
“Nugu?” tanyaku usai mendengar kalimat itu.
Changmin mengakat bahunya. “Ini milik Yoochun hyung. Coba lihat dan dengar yang lain. Semua isisnya suara gadis ini!” wajah Changmin menunjukan dia sudah menemukan sebuah rahasia besar.
“Jeongmal?” aku segera mengeceknya. Omo!! Suara itu lagi!
“Hey oppa… suka dengan syal yang kuberi? Bagus kan? Tapi… tanganku sampai penuh luka membuatnya. A~, jangan panik oppa! Aku bohong padamu, hehe… Aku kan sudah sering merajut, jadi mana mungkin penuh luka. O, ya, bagaimana hari ini? Menyenangkan? Trainee tak membuat oppa lupa menjaga kesehatan kan? Jangan lupa oppa, di sini ada aku yang mencemaskanmu. Saranghae, oppa..”
Kupandang Changmin. “Menurutmu siapa dia?”
“Aku curiga dia…” Changim menggantung kalimatnya. Ia mengambil sebelah headset dan memasang di telinganya. Ia memainkan rekaman suara yang ada, lalu menggantinya. Kepalanya menggeleng seolah berkata, ”Bukan ini”.
“Coba hyung dengarkan yang ini,” ujernya gembira sekaligus semangat.
Aku mengarkan dengan seksama. “Oppa… tenanglah. Aku percaya pada oppa. Jika image oppa harus seperti itu tidak apa-apa. Asal jangan kenyartaannnya saja. Asal aku tetap di posisi ketiga di hati oppa, setelah Tuhan dan orang tua oppa. Nae saranghae oppa….”
Mulutku membulat. Terkejut.
Changmin mencari lagi. “Bukan.” Ia mencari lagi. “Masih bukan,” katanya.
“Ah, ini dia.” Ia tersenyum lebar padaku. Aku tak sabar mendengarnya.
“Oppa… aku sudah lihat banjun drama kalian. Whaa~ oppa kau keren sekali. Andai aku jadi tokoh utama wanitanya… Oppa, boleh aku bilang kalau aku cemburu? Mianhae…oppa. Perasaan itu… benar-benar tak bisa kukendalikan... Ottokhe?”
Kepala Changmin miring ke kiri. Ia seolah bertanya, apa-pendapatmu-hyung.
“Jadi… gadis ini…”
Changmin mengangguk c epat sebelum aku menyelesaikan kalimatku.
“Kurasa dia kekasih Yoochun hyung. Aku yakin itu.” Ucapnya. Lagi-lagi penuh semangat.
Aku dan Changmin saling tatap. Takjub dengan temuan kami.
Kami keluar kamar, bermaksud mengabarkan berita penting ini pada Junsu dan Jae Joong yang sedang berbelanja. Langkah kami terhenti ketika si tokoh utama tampak sednag mencari sesuatu dengan cemas.
“Mencari apa?” tanyaku.
“Apa kau melihat hpku hyung? Terakhir kali aku duudk di sini. Kupikir tertinggal di sini.”
Aku melirik Changmin.
Yoochun menatap Changmin. “Min?”
Changmin tersenyum lebar. “Ini.” Ia menyerakannya. “Tapi.. mian hyung.. aku dan Yunho hyung tadi membuka isinya.”
Wajah Yoochun berubah.
Yoochun meraih HPnya. “Kalian mendengar semuanya?” suaranya melemah.
“Hampir…” ujer Changmin.
Yoochun terduduk di sofa. Syok mungkin.
“Eh? Ada apa?” Jae Joong dan junsu baru datang terkejut melihat kami. Mereka mendekat.
“Jadi… masih mau merahasiakannya dari kami?” ujerku santai pada Yoochun.
Yoochun tersenyum malu. Ia menggeleng. “Rasanya sudah tidak bisa lagi. Mian, karena merahasiakannya selama ini.”
“Soal apa?” Tanya junsu antusias.
“Jadi, ceritakan pada kami sekarang, hyung. Tetang cintamu itu.” Pinta changmin dengan mata puppy eyes-nya.
Yoochun menghela napas. Ia diam sesaat sambil menatap kami bergantian. “Dia.. Hyun Ae,” mulainya sambil menatap HPnya. “Lee Hyun Ae.” Ia tersenyum. Lebih lembut dari biasanya. Tampak dari binar matanya rasa sayang yang amat dalam untuk gadis itu. “Dia kekasihku.” Matanya menerawang.
Kami mengangguk.
“Aku menyimpan semua pesan suaranya agar bisa terus kudengarkan kalau aku tak biss menghubunginya ketika aku merindukannya. Aku menyimpannya di memori sticknya agar bisa kulepas saat aku selesai mendengarkannya. Jika ada yang menyentuh hpku, tetap aman. Tapi.. tadi kau malah meninggalkannya. Untung kalian yang menemukannya. Aku sudah cemas kalau-kalau terjatuh di jalan dan di temukan fans.”
Kami paham. Betapa berbahayanya jika hal tersebut sampai keluar.
“Karena tak bisa sering menelponnya, jadi, untuk mengobati rinduku aku selalu mendengarkan suaranya ini.”
“Arraseo..” ujer Junsu smabil menaggguk-anggukan kepalanya. Wajahnya sumringah. Sepertinya senang dengan kisah Yoochun ini.
“Tunggu, selama ini kau sering membaca majalah sambil memasang headset hp ini di telingamu. Jangan-jangan kau… mendengarkan suaranya ya?” tanya Jae Joong semangat.
Yoochun tertawa kecil sambil mengangguk. “Nde.” Ucapnya malu. Wajahnya memerah.
“Sudah berapa lama kau dengannya, Hyung?” Tanya Changmin menyelidik.
“Tujuh tahun…”
“Mwo???” kami terkejut bersamaan.
“Jadi…” aku mencoba menyimpulkan.
“Sebelum trainee aku sudah pacaran dengannya.” Ia menerawang dan… Tersenyum! Lebih manis dari yang pernah kami lihat. “kami backstreet dari teman-teman di sekolah juga orang tuanya. Dan ternyata harus berlanjut hingga kini.”
“Whoaa~. Kau berencana merahasiakannya sampai kapan?” Tanya Jae Joong sambil memajukan wajahnya ke depan Yoochun.
“Annio.. aku tidak bermaksud merahasiakannya dari kalian. Hanya takut kalau terlalu banyak yang tahu, aku tidak bisa melindunginya.”
“Jadi aku tidak percaya pada kami?” Tanyaku.
“A..anni.” Yoochun tampak gugup. “AKu tak bermaksud begitu, hyung. Aku sempat mau mengatakan pada kalian, bahkan berencana memperkenalkannya pada kalian, tapi…”
“Tapi apa?” Changmin tak sabar.
“Umm.. tapi… manajer hyung melarangku.”
“Eh??” aku terkejut.
“Manajer??” Tanya junsu. “Jadi dia tahu??”
Yoochun mengangguk.
“Sejak kapan?” tanyaku lambat.
“Dua tahun lalu.”
Kami mengangguk.
“Arraseo..” ujerku. Kalau sudah manajer yang bilang, apa boleh buat. Mungkin demi kebaikan kami semua.
“Kau… serius dengannya?” tanya Jae Joong.
Yoochun mengangguk. “Aku berniat membongkar semuanya pada kalian setelah aku melamarnya. Juga meminta maaf karena tak menceritakan tentangnya dari dulu. Tapi… tak disangka kalian mengetahuinya lebih cepat.”
“Ceritakan lebih banyak lagi tentang dia.” Pintaku. Semua mengangguk setuju.
----------------------------------------------------------------------
Untuk Part 2 lihat di sini:


Comentnya boleh di sini kok…
Di tunggu XDXD

FF: Rain in our Heart

Ini Short FF keduaku. Kuharap kalian menyukainya ya?
Bagi yang kena tag harap comment. ^^
Kalau enggak, ada kemungkinan ga akan aku tag lagi lho.
And buat yang ga suka kena tag, kasih tahu juga, biar ga aku tag lagi ^^
Let read! XD
--------------------------------------------------------------

Title: Rain In Our Heart
Cast: Hyun Ae dan Kyu Hyun (Super Junior)
Disclaimer: dapat inspirasi ketika merenungi HP yang rusak, hehe
Music: *pilih sendiri aja music apa yang cocok untuk cerita ini, hehe*

RAIN IN OUR HEART

Dia diam-diam memperhatikan sosok tinggi dan tampan di sana. Selalu. Sosok yang seumuran denganku. Sosok yang bahkan suara tingginya tidak dapat kusaingi. Sosok yang amat sangat cocok menjadi seorang idola.
“Kau sibuk?” kutegur dia yang sejak tadi bersembunyi di balik sebuah pintu ruang latihan grup DBSK. Dia terperanjat.
“Kyu Hyun-ssi?” tegurnya sambil mengurut dadanya. “Waeyo?” tanyanya. Dia asisten penata busana kami. Kabarnya sih, keponakannya. Anehnya dia tidak selalu mengikuti ke manapun penata busana kami pergi.
“Tolong belikan minuman dingin.” Aku menyerahkan uang padanya.
“Minuman seperti biasa?”
Aku mengangguk. Aku memang sering memintanya membelikanku minuman. Bukan apa-apa. Aku… hanya ingin ada alasan untuk menegurnya. Hanya ingin menatap lebih dekat. Hanya ingin mendengar suaranya meski sedikit. “Ku tunggu di ruang latihan kami ya?”
Dia mengangguk lagi dan berlalu usai mengambil uang dari tanganku.
Aku menatap punggungnya yang menjauh. Sebenarnya, alasan aku memintanya membelikan minuman adalah karena tidak tahan melihatnya menatap Shim Changmin diam-diam seperti tadi. Hatiku sakit. Dadaku sesak!
Sering hatiku bertanya, kenapa dia tidak melihat ke arahku? Aku benar-benanr ingin bilang padanya ‘Ada aku yang memperhatikanmu, Hyun Ae-ah.’
***
Di lain waktu.
Aku menuju atap gedung. Latihan untuk Show kami baru saja berakhir. Aku meregangkan otot di sana dan melihat satu sosok yang amat kukenal. Hyun Ae.
Sengaja aku duduk di sampingnya. Jarak kami sekitar tiga puluh centimeter.
Dia menoleh ketika aku duduk.
“Tidak apa-apa kan?”
“Nde…” ujermya sambil mengangguk ragu. Kami terdiam cukup lama. Hanya angin musim gugur yang sesekali menyapa kulit kami.
“Kau Cassiopeia?” tanyaku mendadak. Buikan awal perbincangan yang baik kan?
Dia diam sesaat lalu mengangguk. “Tapi ELF juga.” Senyumnya mengembang. Membuat dadaku kembali berdebar.
Melihat reaksiku yang diam, dia berguman tak jelas. Terlihat cemas.
“Sebenarnya…” aku menelan ludah ketika dia menoleh. Haruskah kutanyakan? Bukankah terlihat sangat jelas? “… inti pertanyaanku bukan itu,” sambungku berat. hatiku melawan pikiranku.
“Nde?” ia bingung.
Aku menghela napas. “Apa… kau mencintainya?”
“Eh?”
“Shim Changmin. Kau mencintainya kan?” tenggorokanku sakit mengatakan hal itu.
“A..anni,” jawabnya gugup. “A..aku… cuma fansnya. Iya, fansnya, hehe…” tawanya terdengar aneh
“Kenapa memilih tidak mengaku?” paksaku.
Dia menggigit bibir bawahnya. “Apa perasaanku terlihat begitu jelas?” tanyanya cemas.
Aku mengangguk lambat. Secara tidak langsung dia sudah mengakuinya.“Buatku, sangat jelas terlihat.”
Dia menundukkan kepalanya. “Padahal aku sudah snagat hati-hati menutupi perasaanku.” Lirihnya. Dia kembali menatapku, tapi kali ini dengan mata penuh harap. “Tolong, rahasiakan ini ya?”
“Kenapa di rahasiakan?” padahal, tanpa dia minta, aku pasti merahasiakannya. Aku tak mau dia bersama dengan laki-laki bersuara tinggi itu.
“Peraturan management, kau tentu tahu kan?”
A~ peraturan tidka boleh pacaran itu. Apa dia yakin akan diterima Changmin ketika menyatakan perasaannya?
“Tidak boleh ada yang tahu.” Bisiknya lebih kepada dirinya sendiri.
“Mencintai seseorang tidak salah kan?” kataku.
Dia mengangguk lemah. “Mungkin…” dia berdehem sekali. “Mungkin aku takut. Takut karena terlalu mencintainya, orang-orang dan juga dia menganggapku hanya ingin bersinar di dekatnya.”
Aku tersenyum sinis. Alasan apa itu?
“Aku takut orang-orang tak mengakui keberadaanku. Kemampuanku. Seharusnya perasaan ini berhenti. Tapi aku tak bisa.” Wajahnya terlihat sedih.
“Aku tahu dia penyuka Noona, sama denganmu dan yang lain kan?” sambungnya pelan sambil memainkan jemarinya. Dia memang lebih muda dua tahun dariku.
“Meski begitu, karena cinta itu buta, ia akan jatuh pada siapa saja tanpa peduli dengan criteria kita kan?” aku terdengar membelanya. Tapi sebenarnya itu adalah kejujuranku. Walau dia buka wanita idamanku, hatiku memilihnya.
Dia tersenyum tipis. Diambilnya ipodnya dan memasang headsetnya. “Mau ikut dengar?” tawarnya.
Aku menggeleng. Aku paham. Dia tak mau membahas hal itu lagi.
Kupandangi jalanan di bawah. Waktu serasa berhenti ketika kudengar senandungnya. Suaranya merdu sekali. Seperti mendengar nyanyian bidadari surga.
***

Aku terpaku di tempatku berdiri. Satu sosok dengan aksinya yang memukau. Dengan tariannya yang indah dan suaranya yang mempesona. Dan penghayatan yang dalam. Senyum bahagia seperti kebahagiaan di lagu itu. Dia.. Hyun Ae.
Aku segera ke tempat ini ketika manajer bilang ternyata Hyun Ae adalah salah satu Trainee rahasia yang di siapkan untuk sebuah grup girl band ‘Miracle’ beranggotakan enam orang. Dia disiapkan sebagai senjata utama. Vocal utama dan dancer utama. Ia bahkan di latih khusus dalam sebuah teater agar bisa mengeluarkan penjiwaan dan ekspresi yang pas untuk menegaskan makna lagu itu.
Aku teringat kata-katanya di atap manajement waktu itu: ‘Mungkin aku takut. Takut karena terlalu mencintainya, orang-orang dan juga dia menganggapku hanya ingin bersinar di dekatnya. Aku takut orang-orang tak mengakui keberadaanku. Kemampuanku.’ Jadi, maksud kalimatnya adalah keberadaannya dan kemampuannya di grup ini.
Host memintanya menyanyi lagu yang paling disukainya. Dia tersenyum sesaat dan lagu What Shoul I do yang dipopulerkan Park Da Yee menegaskan karakter suaranya. Menegaskan perasaannya.
Aku tercenung. Sadar… kesempatanku berbicara padanya tak akan seperti dulu lagi. Sejak awal, memang cinta ini hanya bisa diteriakan di dalam hati. Cintanya pada Changmin dan cintaku padanya, tak akan pernah tersampaikan. Ini harus jadi rahasia di hati kami sendiri.
Sekarang, sepertinya, akulah yang harus menatapnya diam-diam di sudut ini. Tak boleh ada yang tahu.
-End-


comment pelase...