There was an error in this gadget

Thursday, February 3, 2011

Love Ya!!! chapter 1

Ini rencananya akan saya buat npvel. jadi buat reader, mohon bantuannya ^^



Chapter 1
She is come…

---Egi---
Aku melihat jam untuk kedua kalinya. Masih lama. Perjanjian dia datang sekitar pukul dua siang ke kota cantik ini.
Dengan gelisah aku duduk lagi di kursi depan rumahnya. Papa-mamanya sudah tahu bahwa aku tidak sabar untuk bertemu dengannya. Dia sahabat baikku di SMA dulu, juga tetanggaku dari SD sampai kuliah. Kami terpisah karena dia menikah dan menjalankan bisnis rumah makan di daerah suaminya itu.
Hampir setahun sudah, aku tak sabar untuk bertemu dengannya.
Orang tuanya yang melihatku menggeleng-gelengkan kepala geli.
Aku duduk kembali. Mengetuk-ngetukan jariku di meja. Gelisah.
Detik bergerak seolah setahun. Aku benci perasaan seperti ini. Ya, karena sebentar lagi, pasti, mules akan menyerang perutku. Menuntutku untuk segera ke toilet. Benar-benar menyebalkan bukan?
Ah… gejalanya sudah di mulai. Dengan cepat aku berlari ke rumahku yang ada di seberang rumahnya. Aku berhambur ke toilet tanpa menyahut ibuku yang bertanya ‘ada apa’ padaku.
Kenapa penyakit dari kecil ini tidak sembuh-sembuh? Selalu saja begini jika gelisah terhadap sesuatu.
Lima menit berlalu. Aku keluar dan memandang rumahnya. Tidak ada tanda-tanda mobil travel datang. Dengan santai aku menyeberang lagi. Duduk di depan rumahnya. Kali ini sambil online. Ku update status tentang dia yang masih sekitar tiga puluh menit lagi baru sampai (mungkin).
***

Hhh… Akhirnya… Sebuah mobil berhenti di depan rumahnya ini. Apakah orang yang kunanti sejak tadi ada di dalamnya?
Beragam perasaan menyerbuku seketika. Perasaan cemas, gugup, senang, lega, takut, bahagia, semua jadi satu.
Aku berdiri ketika pintu samping kanan terbuka. Satu sosok keluar dengan senyum khas menghiasi bibirnya.
“Annyeong… (selamat siang…)” sapanya padaku dengan gayanya yang masih tak berubah, kekanak-kanakan, dalam bahasa korea. Kami memang pecinta korea sejak SD dulu.
Ah… sahabat pecinta koreaku. Lama sekali rasanya waktu baru mengijinkan kita tuk bertemu.
Dia yang punya tinggi 170cm itu tampak kurusan sekarang. Tak berisi seperti dulu. Membuat dadaku sedikit ngilu. Apakah karena kepergian suaminya dia jadi tak mengontrol kesehatannya?
“Olenmaniya chingu…. (Lama tidak bertemu, teman),” ujerku tertahan. Gemuruh di dadaku makin nyata.
Dia mengangguk.
“Bogoshipda… (Aku merindukanmu…),” lirihku tanpa sadar.
“Nado… (Aku juga).” Balasnya.
Hangat. Kurasai dadaku menghangat. Aku tahu yang dia maksud bukanlah rindu yang aku maksud. Tapi, tetap saja tak merubah hatiku.
Kulihat supir mobil tersebut menurunkan barang-barang milik sahabatku ini. Aku turut membantunya.
“Gomaweo…(terima kasih), ” ujernya.
“Jangan sungkan,” kataku sambil memandanginya lekat-lekat. Ah… gurat luka karena suaminya meninggal enam bulan lalu akibat kecelakaan lalu lintas masih tampak jelas di wajahnya.
“Aku pulang saja. Sepertinya kau lelah. Kau istirahatlah… besok kita jalan-jalan ke tempat-tempat yang ingin kau kunjungi.”
Dia tersenyum dan mengangguk. “Juga ceritskan kisah cintamu,” sambungnya sambil mengerlingkan matanya.
Aku tertawa canggung. Dari dulu hingga sekarang, tidak kah kau lihat, Cuma kau orang yang kucintai, Lia. Cuma kau…
“Mau merahasiakannya dariku lagi?” ia menatapku tajam. Mengancam.
“Eh? Annio (tidak)!” kataku cepat.
“Kalian ini! Kalau bertemu selalu saja memakai bahasa planet itu!” tegur mamanya.
Kami tergelak bersamaan. Dari dulu beliau selalu menyebut bahasa itu sebagai bahasa planet.
“Bukan planet, Ma. Tapi bahasa korea.” Jelas Lia.
Jawaban mamanya sama seperti dulu, “Terserah mama menyebutnya apa.”
Aku dan Lia cuma bisa menggelengkan kepala geli.
---------------------------------------------------------------

Bagaimana? Chapter 1 yang ini sudah lebih baik kan? Hehehe….

No comments:

Post a Comment