There was an error in this gadget

Sunday, December 19, 2010

Cantik, I'm Coming!!! bab 2

Bab 2

Rea menutup buku fisikanya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi belajar. Dia menghela napas pelan. Ditatapnya beberapa daun yang melambai diluar sana. Terlihat pula olehnya cahaya senja yang mulai bertahta di angkasa. Tanpa dia sadari sudah sekian jam dia menghadapi kata-kata, rumus-rumus, dan angka-angka. Semakin sibuk dia dengan pelajaran, dia pikir dia akan melupakan kematian kekasihnya itu.
Benar, baru sedetik bayangan itu melintas, dia tak bisa berkonsentrasi lagi. Pikirannya sudah fokus pada peristiwa itu. Saat mendung bergantung di langit. Saat angin bergerak menerpa dedaunan dan ranting dengan lembut. Ketika siswa-siswi lalu lalang meninggalkan sekolah menuju rumah mereka.
***
Kala itu, siang sudah beranjak. Rea berdiri di bawah pohon akasia yang ada di halaman depan sekolah, menunggu Andre, cowok paling baik yang pernah Rea kenal.
Taman itu sudah sepi saat sosok Andre muncul dengan senyum hangatnya. Tak bisa dipungkiri jantung Rea berdetak kencang, rona merah menghiasi pipinya. Perasaan itulah yang membuatnya berani melanggar larangan ‘pacaran’ dari keluarganya. Dia sangat mencintai Andre. Jadi tidak mungkin menurutnya yang dirasakannnya ini cuma cinta monyet.
“Lama, ya?” Tanya Andre ketika sudah di depan Rea.
Rea tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Baginya, asalkan Andre datang, beberapa waktu yang dihabiskan untuk menunggu tak akan membuatnya merasa lama!
“Mau es krim?” tawar Andre sambil membuka tas plastik yang dia bawa. “Tadi kubeli di kantin. Masih dingin… Nih..”
Rea mengambil es krim yang ditawarkan Andre. Sambil mnembuka bungkusan es krim tersebut, mereka duduk di tepi kolam yang ada di taman itu. Pembicaraan yang menyenangkan seputar band kesayangan dan novel baru kesukaan mereka terus berlanjut. Sesekali mereka bercanda. Tertawa bersamaan.
Hujan makin lebat saat jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Andre memandangi Rea lama. Membuat Rea sedikit grogi.
“Re…” pangggilan lembut Andre hampir membuat jantung Rea lepas. “Apa kau tahu kalau aku ingin menjadi hujan?”
Rea menggeleng.
“Aku ingin menjadi hujan karena kau sangat suka hujan. Ingin selalu kau pandangi dengan kagum, dan selalu kau nanti.”
Rea tersneyum. Wajahnya menghangat. Andre…
“Kalau nanti aku meninggal, kau tak perlu mengaisiku.”
Rea memandang bingung.
“Karena…” Andre meraih tangan Rea. “Karena… aku bisa terlahir kembali menjadi hujan dan menari-nari di sekitarmu, menjagamu, menemanimu. Selamanya aku akan melihat senyum bahagaimu dan kau juga bisa lihat aku ada untukmu. Ingat, Kau hanya perlu lihat sekelilingmu, ada aku.”
“Andre…” mata Rea berbinar.
Itu pertemuan terakhir, juga ucapan terakhir. Karena saat pulang di hari itu, kecelakaan itu terjadi. Dan Andre… pergi bersama hujan yang mereda.
***

Ingatan itu terhenti bersamaan dnegan hujan yang turun deras di luar sana…
Rea menyeka air matanya. Apa benar kau ada di sekitarku, Ndre? Batinnya sambil menuju beranda kamarnya dengan membawa sebuah foto kesayangannya. Sambil menangis tertahan, dipeluknya foto itu. Foto dirinya dan Andre.
Rinai hujan makin deras.
Apakah di antara butiran hujan ini ada dirimu, Ndre? Batinnya lagi. Digigitnya bibir bawahnya menahan pilu. Di tatapnya foto yang disimpannya hati-hati. Satu foto yang menyimpan kebahgian yang kini telah jadi kenangan.
Whuss…..
Angin kencang menerpa tubuh Rea sekaligus menerbangkan foto miliknya, ke rumah sebelah.
Segera ia masuk ke dalam dan turun ke lantai bawah. Berniat mengambil foto yang jatuh ke bawah.
“Kenapa, Re?” tegur Mama yang melihatnya.
Dia tidak menjawab, terus saja melangkah ke luar.
“Di luar hujan, Re. Nanti kamu sakit,” tegur mamanya lagi.
Rea sayup-sayup mendengar hal itu, tapi foto dirinya dengan Andre jauh lebih penting.
Dibukanya pintu pagar yang terkunci. Dia tak perlu mengetuknya karena yakin rumah itu masih kosong. Kemarin saat dia melintas, papan bertuliskan ‘RUMAH INI DIJUAL. JIKA BERMINAT HUBUNGI 08xxxx’ masih ada.
Dicarinya foto itu di halaman samping, tepat diseberangnya adalah beranda kamarnya. Tidak ada. Dia melangkah ke sisi lain, tak ada juga. Ke mana perginya? Batinnya cemas. Dicarinya lagi ke sudut lain. Tak ada. Badannya sudah basah oleh hujan. Dia menuju sisi kanan, masih terus mencari. Dekat pagar samping rumahnya yang rendah, lembar putih terlihat. Cepat-cepat dia mendekat. Benar, itu foto yang dicarinya. Untung masih belum rusak. Dipeluknya dengan erat foto itu lagi. Tanpa sengaja dia melihat ke arah rumah kosong itu. Agak aneh karena beberapa jendelanya terbuka dan tirainya semua juga dibiarkan terbuka. Sekilas sosok di dalamnya terlihat, sedang membelakanginya. Siapa? Apa… bayangan Andre?
Sosok itu memutar tubuhnya. Kali ini menghadap Rea.
Rea menahan napas. Matanya membulat. Kaget. Sosok itu jelas bukan Andre. Karena postur tubuhnya yang kurus dan wajahnya terlihat seperti seorang gadis. Jangan-jangan… penunggu rumah ini…. Hiii…. Rea bergidik ngeri. Cepat-cepat dia keluar dari halaman rumah itu.
***

“Ya ampun, Rea! Kenapa kamu hujan-hujananan???” sambut Mama. Rea tak menjawab. Jantungnya masih berdegup kencang, ketakutan.
Melihat wajah pucat Rea, Mama menyentuh keningnya. Tak ada tanda-tanda demam. Rea pun tak tampak menggigil.
Apa benar yang kulihat tadi penunggu rumah itu? Kalau iya, bagaimana aku tidur malam ini? Pikirnya semakin takut.
“Kenapa, sayang?” tegur Mama lagi sambil mengelus rambut Rea yang basah.
“Ah… itu… ta-tadi lihat rumah sebelah… kayak a-ada orang…” ucapnya terbata.
“Rumah sebelah? Oh…” mama tersenyum. “Mama belum kasih tahu kamu, ya? Rumah itu sudah dibeli. Sekarang kita punya tetangga baru. Katanya anaknya SMA juga.”
“Tetangga?” gumam Rea. Hhhff… ia lega sekali mendengarnya.
***

Rea melangkah menuju pintu beranda kamarnya. Bermaksud menjutupnya karena sudah malam. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat kamar diseberang rumahnya yang kosong meski lampunya sudah menyala. Benda-benda yang memenuhi ruang kamar itu terlihat cukup jelas. Dari pernak-perniknya, terlihat kalau itu kamar cowok.
Hujan turun lagi.
“Aku ingin menjadi hujan karena kau sangat suka hujan. Aku ingin selalu kau pandangi dengan kagum, dan selalu kau nanti.” Kata-kata Andre waktu itu terngiang lagi. Perlahan Rea bersandar di samping pintu. Menatap butir air yang jatuh lagi di depannya.
“Kalau nanti aku meninggal, kau tak perlu menangisiku.”
Sayangnya aku tetap menangis, Ndre… batinnya.
“Karena… aku bisa terlahir kembali menjadi hujan dan menari-nari di sekitarmu, menjagamu, menemanimu. Selamanya aku akan melihat senyum bahagaimu dan kau juga bisa lihat aku ada untukmu. Ingat, kau hanya perlu lihat sekelilingmu, ada aku.”
Rea ke berandanya. Mengulurkan tangannya pada hujan. Andre, apa ini kau? Aku merindukanmu, Ndre…
Sekelebat sosok diseberang terlihat masuk kamar. Mengambil sesuatu lalu duduk di tepi ranjang. Gadis cantik yang tadi dilihat Rea. Apa dia pemilik kamar itu? Cantik, tapi suka hal-hal yang berbau cowok sepertinya.
Seperti merasa diperhatikan, sosok diseberang sana menoleh ke arah Rea. Cepat Rea mengalihkan pandangannya dan beranjak masuk ke dalam. Menutup pintu dan tirainya tanpa berani melihat ke seberang sana […]

No comments:

Post a Comment