Chapter 12
Bali dan Kenangan
Suasana sangat ramai. Hiruk pikuk orang-orang yang berlalu lalang membuat langkah Nana melambat. Dia menoleh ke kiri dank e kananan. Jong Hwa terus mengikuti di sampingnya.
Nana menghela napas panjang. Ketiga sosok yang di nantinya tak jua terlihat. Dia mencari lagi di anrata kerumunan orang yang menghalangi pandangannya.
Ia baru akan mengeluh lagi ketika satu sosok dengan wajah lelah tapi tampak gembira tertangkap retinanya. Dua orang yang lebih tinggi dari sosok itu membuat senyum Nana yang sempat hilang merekah kembali. Dengan semangat ia melambaikan tangannya dan berteriak memanggil nama mereka bertiga.
“Ima!!! Lia!! Egi!!!”
Ketiga pemilik nama tersebut menoleh ke arahnya. Senyum lebar terukir di wajah mereka.
“Onnie!!! (Kakak!!),” teriak Lia sambil berlari mendekat ke Nana dan memeluknya. Jelas sekali wanita yang sudah menikah ini sangat merindukan sahabatnya.
Egi tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sorot matanya mengatakan Anak-ini-memang-tidak-berubah. Ima yang melihat ekspresi dan sorot mata Egi Cuma bisa membuang muka. Lagi-lagi, cemburu hinggap di hatinya. Tak sengaja ia bertemu mata dengan Jong Hwa.
Laki-laki yang lebih tinggi dari Egi itu tersenyum. Ima membalasnya dengan senyum tipis.
“Ima?” panggil Nana. Ima menoleh. “Bogoshipda… (Aku merindukanmu…),” ujernya sambil merentangkan tangannya.
Ima tersenyum, “Aku juga,” ucapnya lalu mendekat dan memeluk Nana.
Nana melihat ke arah Egi lalu mendekat. “Apa kabar, oppa?” tegurnya sambil menepuk pundak Egi dengan pelan.
Egi tertawa kecil. “Seperti yang kau lihat.” Diliriknya sosok yang berwajah putih bersih yang sejak tadi berdiri tak jauh darinya. “Siapa? Pacarmu ya?” bisiknya.
Nana tertawa. “Tidak. Dia tetanggaku. Orang korea yang bekerja di hotel yang sama denganku. Sudah pernah kuceritakan ke kalian kan?”
Mereka bertiga mengangguk. Sedang Jong Hwa tersenyum ramah.
“Kau akan tinggal dengannya selama di sini sedang Lia dan Ima akan tinggal denganku.”
Egi mengangguk-angguk. Dia menghadap Jong Hwa. “Bangapta. Egi imnida. (Senang berjumpa denganmu. Aku Egi.).” Egi mengulurkan tangan.
“Nado. Lee Jong Hwa imnida.” Sambut Jong Hwa.
“Maaf kalau kehadiranku mengganggu.”
“Gwencahana…”
“Lia,” ujer Lia memperkenalkan diri tanpa diminta sambil mengulurkan tangan.
“Jong Hwa…” sambut Jong Hwa ramah.
“Ima,” ujer Ima pelan seraya mengulurkan tangan.
Jong Hwa menyambutnya. “Jong Hwa.” Tiba-tiba, kegugupan menyusup ke hatinya. Terkunci di sana tanpa sempat ia mencegahnya.
“Ayo kita ke rumahku sekarang! Aku sudah buat kimchi untuk kalian lho!!!” ajak Nana semangat.
“Yayyy… asyikk…” cepat Lia menarik tangan Nana. “Kajja!!”
Jong Hwa tertawa. “Seperti melihat Nana jadi dua,” komentarnya.
“Begitulah kalau mereka bertemu.” Egi membenarkan sambil tersenyum memperhatikan dua wanita di depan mereka yang seperti angka satu dan nol itu.
Jong Hwa mengulum senyum. Diluar kesadarannya dia melirik ke Ima yang ternyata sedang memandangi Egi dengan sorot mata berbeda. Saat pandangan mereka bertemu, Ima cepat-cepat berpaling.
***
Ruangan kecil yang menjadi ruang tengah di kostan Nana terlihat semain kecil saat mereka duduk di sana dan menikmati kimchi yang sudah di siapkan Nana dan Jong Hwa.
Nana tertawa geli melihat ekspresi ketiga temannya yang baru pertama kali memakannya. Jelas sekali lidah mereka belum terbiasa.
Mereka lalu membicarakan kehidupan mereka selama setahun ini. Hal-hal apa saja yang terjadi. Setelah semua sudah diceritakan giliran Jong Hwa yang harus menceritakan tentang negerinya yang membuat keempat warga Indonesia ini tergila-gila.
***
~Ima~
Sore hari, Bali menyambut kami dengan ramah. Noktah-noktah jingga di langit pun mulai tampak. Angin lembut menyapa tubuh kami. Memainkan beberapa helai rambut kami. Seolah mengucapkan selamat datang pada kami.
Hampir pukul lima sore, kami memutuskan jalan-jalan ke pantai sambil menunggu malam tiba. Sesekali kubidikkan kameraku pada siluet senja di depan kami ini.
“Ah, foto kami juga!!!” pekik Lia semangat. Dia langsung menggandeng tangan Egi. Membuat lelaki yang sejak tadi memandang laut lepas itu terkejut. Setelah kufoto, dia berlari ke arah Nana dan Jong Hwa lalu menarik tangan mereka.
Dia berdiri di samping Egi. Di sampingnya Nana. Dan di samping Nana, adalah Jong Hwa.
Usai kufoto, ia mendekatiku dan mengambil kameraku.
“Jong Hwa, bisa tolong fotokan?” pintanya lalu menarikku ke sampingnya. Nana cepat menggandeng tanganku. Dia dan Lia sudah memasang wajah imut. Egi dengan ekspresi konyolnya dan aku memilih bergaya cool saja.
Aku kembali mengabadikan pemandangan sekitar. Rasa sesak memenuhi dadaku saat melihat Lia dan Egi berjalan bersisian di bibir pantai . sesekali mereka tertawa saat air pantai menyentuh kaki mereka yang mereka biarkan telanjang.
Lia berhambur ke laut. Dengan senyum tersungging di bibirnya, Egi mengikuti. Membuatku hanya bisa menghela napas panjang di sudut ini.
“A~!!!” pekik Lia saat Egi dengan sengaja menyiram Lia dengan air laut. Sambil menjerit dan tertawa lepas, Lia membalas. Mereka terus seperti itu. Membuatku merasa seperti orang asing di sini. Aku serasa dilarang masuk di antara mereka. Ah, bukan dilarang. Tapi memang tak bisa masuk. Sedang Nana dan Jong Hwa, tertawa saja melihat tingkah mereka berdua.
Jadi… inikah perasaan Arga waktu itu? Perasaan tak bisa masuk di antara kedua orang yang tanpa sadar saling terikat itu?!!
Kulihat sekarang Lia mematung. Cepat Egi mendekat. “Kau kenapa?” tanyanya.
Aku mendekati mereka. Ingin tahu. Begitu juga dengan Nana dan Jong Hwa.
“AH? Hanya teringat masa lalu.” Lia berpaling menatap laut lepas. “Dulu… sewaktu ke pantai, Arga menaikan kedua tangannya, membentuk isyarat ‘cinta’ dalam kebiasaan korea. Sambil membentuk isyarat itu dia berkata ‘jeongmal saranghae’ padaku. Dia… tersenyum seperti biasanya. Kedua matanya menyipit. Deretan giginya yang rapi pun terlihat bersama senyuman itu. Sayang… dia harus pergi lebih dulu…” Lia tersenyum pedih pada kami.
Aku tak bsia berkata apa-apa. Aku mengerti sedihnya.
Egi tampak mendekat dan menepuk pelan pundak berkali-kali. Seolah mengatakan ‘Sabarlah’ pada sahabat kecilnya itu. Kulihat Lia mebalas tepukan itu dengan senyum lembutnya. Tatap matanya seperti mengatakan aku-bersyukur-kau-aku-masih-punya-kau-Gi.
Adakah yang bisa membuatku menghilang dari tempat ini sekarang?!!
“Aku mau beli minuman, ada yang mau ikut?” aku menoleh. Jong Hwa tampak menanti jawaban dari kami.
“Kita sama-sama saja,” ujer Egi. Yang lain setuju. Mereka melangkah. Kutarik napas perlahan. Lalu berjalan lambat di belakang mereka. Kenapa perasaan ini masih ada?
TBC
mohon sarannya...
pasti masih banyak yang kurang kan? ^^
Showing posts with label Novel Love Ya. Show all posts
Showing posts with label Novel Love Ya. Show all posts
Friday, February 4, 2011
Love Ya!!! chapter 11
Love Ya!!!
by Imah Hyun Ae
Chapter 11
Go To Bali
~Ima~
“Ima~!!!”
Teriakan Lia menyadarkanku. Aku melambai pada mereka dan menyuguhkan senyum terbaikku.
“Wah~ kau sedikit berubah,” ujer Lia sambil memelukku. Dia kemudian melepas pelukannya dan menelitiku dari ujung kaki ke ujung kepala. Membuatku ikut-ikutan memperhatikan diriku.
“Kau makin cantik.” Dia tersenyum tulus padaku. Kemudian menatap Egi. “Ya kan, Gi?” tanyanya.
Kulirik Egi sekilas. Lelaki dengan gaya rambut chesenut itu mengangguk sembari memperhatikanku.
“Mm… ke tempatku sekarang?” tanyaku. Mereka mengangguk bersamaan. Rencananya kami akan menunggu di hotel tempatku menginap sampai jam tiga nanti, dan barulah kami berangkat ke Bali. Tempat di mana Nana sekarang berada. Dia jadi guide untuk pengunjung dari korea karena kemahirannya berbahasa itu. Apalagi ada temannya yang keturunan korea asli juga bekerja untuk hohel yang sama. Jadi dia bisa belajar banyak hal dari temannya itu.
Deg!
Aku tak sengaja memandang Egi. Dengan segera aku memalingkan wajahku. Aduh… rasanya sulit sekali bertemu mata dengan lelaki pemilik senyum hangat ini. Ah… Cintaku memang masih untuknya, bagaimana ini?
***
Perlahan kurasai pesawat mulai naik. Kudengar helaan napas Lia. Dia mungkin sama tegangnya denganku. Yah… rasanya sulit sekali digambarkan perasaan kami ini. Nana, berapa lama ya tidak melihat gadis itu? Hampir setahun lebih rasanya. Bagaimana ya dia sekarang? Apa Bali banyak merubahnya?
Kami sudah mengudara sekarang. Sabuk pengaman boleh di lepas. Kulihat keluar jendela. Langit biru dan sedikit awan putih di sebelah sana. Sinar matahari jelas sekali dari sini. Kualihkan pandanganku ke bawah. Semua tak terlihat jelas lagi di mataku.
Aku menyandarkan kepalaku di dinding pesawat. Memejamkan mata.
Bali dan Nana, tunggu kami. Sebentar lagi kami datang… ^^
***
~Nana~
Kita berencana tapi Tuhanlah yang menentukan. Kadang Ia memberi jalan yang mulus, kadang juga jalan yang berliku. Dan itulah yang kualami.
Aku, Nana, genap berusia 24 tahun di Januari lalu. Aku tahu, tak ada tanda-tanda kedewasaan di diriku. Aku masih saja Nana yang dulu, yang tidak bisa menyebut ‘R’ dengan sempurna, Nana yang heboh, Nana yang tak bisa diam, Nana yang cerewet, dan terkadangn nana yang menyebalkan karena terllau banyak bertanya. Dan yang paling jelas adalah, tinggiku yang tak pernah bertambah. Terhenti di 157cm. Jadi… bagaimana jadinya aku kalau berdiri di samping orang yang bertubuh setinggi 180cm?
Kehidupan sekolahku sempat tak berjalam mulus. Ketika lulus aku memutuskan mendaftar di universitar luar kota yang kualitas bahasa inggrisnya bagus dan ada ekstrakurikuler bahasa koreanya. Aku bahkan sudah membayangkan bagaimana asyiknya aku nanti. Namun, Tuhan berkehendak lain. Aku tidak lulus dalam tes.
Sambil ikut gelombang kedua aku didaftarkan ayahku di beberapa akademi perawat. Lagi-lagi aku gagal. Jadilah selama setahun aku pengangguran. Baru tahun berikutnya aku ikut tes OSMPTN lagi dan memilih universitas yang sama dengan Lia, Ima, dan Egi saja. Cukup sedih juga saat melihat mereka lulus duluan tepat empat tahun dan aku masih setahun lagi.
Aku tak menginginkan jadi guru, makanya setelah lulus aku memilih ke Bali. Menjadi guide di sebuah hotel di sana. Untung saja aku belajar sendiri bahasa korea dengan CD dan buku-buku bahasa korea yang kubeli semasa kuliah. Jadinya aku lumayan bisa. Dan berkat laki-laki korea yang bekerja jadi guide juga di hotel yang sama denganku, aku bsia belajar banyak darinya. Kami lebih sering berada di kelompok tur yang sama.
Dia sudah dua tahun di sini. Jadi bisa di bilang dia seniorku. Umurnya kalau tidak salah 26 tahun. Dia tampan, seperti orang korea kebanyakan, hehe… tingginya 182 cm. aku paling suka melihat senyumnya. Dia laki-laki pemilik senyum manis yang kutemui selama hidupku menurutku dan selain Kim Jae Joong (idolaku) tentunya.. Namanya Lee Jong Hwa.
Kami semakin akrab setelah aku pindah ke kostan yang ternyata dekat dengan kostnya juga.
Aku tak tahu cinta itu apa dan seperti apa. Yang kuyakini cuma, aku mencintai Kim Jae Joong, lelaki tercantik di boyband favoriteku, Dong Bang Shin Ki. Anehnya… Jong Hwa, entah sejak kapan, dia juga menjadi sesuatu yang penting di hatiku. Berada di tahta kedua di hatiku. Ini benar-benar cinta atau cuma sekedar obsesi berlebihan terhadap hal-hal atau orang-orang korea, aku tak tahu. Aku hanya berharap hari-hari menyenangkan di sini, dan bersamanya ini, tetap berjalan selamanya.
Aku tersenyum saat pikiranku mengembara pada hari esok. Lia, Ima, dan Egi akan ke mari. Wuah… rasa-rasanya… ingin sekali aku memperkenalkan mereka pada Jong Hwa. Pasti Jong Hwa makin senang banyak yang menyukai negerinya yang indah dan selalu menunjukan semangat cinta tanah air itu. Seharusnya aku juga belajar semangat cinta tanah air darinya ya, hahha… Tolong tenang saja Indonesiaku. Aku memang mencintai negeri itu, tapi tentu saja lebih mencintai tanah airku, hehe…
Kapan ya, bisa ke negeri gingseng itu? Melihat keindahannya. Bertemu dengan DBSK. Apa di antara kami nanti ada yang ke sana?
Puk!
Aku menoleh. Kutemukan Jong Hwa tersenyum padaku, lalu duduk di sampingku. Kami memang tidak ada jadwal tour hari ini dan esok. Untunglah…
“Melamunkan apa?”
Aku menggeleng.
Dia mengacak-acak rambutku sambil tertawa. “liar! (Bohong!)” katanya.
“No (Tidak). Hanya memikirkan teman-temanku yang datang besok saja kok, hehe…” Yah… beginilah kami, berkomunikasi dalam tiga bahasa, Indonesia, Inggris, dan Korea.
Jong Hwa menganggukkan kepalanya. “Benar juga. Apa perlu aku membuat kimchi untuk menyambut kehadiran mereka?” aku memandanginya yang lumayan fasih berbahasa Indonesia, walau logat koreanya masih saja ada.
“Mmm… boleh juga. Mereka kan belum pernah makan kimchi. Pasti mereka senang.”
Jong Hwa tersenyum lebar.
“Kita beli bahan-bahannya sekarang. Kajja!!!”
Aku tak pernah tahu, pertemuan esok, akan jadi hal yang akan kusesali. Dan akupun tak pernah menyadari kalau cinta dan obsesi bedanya tipis sekali.
TBC
by Imah Hyun Ae
Chapter 11
Go To Bali
~Ima~
“Ima~!!!”
Teriakan Lia menyadarkanku. Aku melambai pada mereka dan menyuguhkan senyum terbaikku.
“Wah~ kau sedikit berubah,” ujer Lia sambil memelukku. Dia kemudian melepas pelukannya dan menelitiku dari ujung kaki ke ujung kepala. Membuatku ikut-ikutan memperhatikan diriku.
“Kau makin cantik.” Dia tersenyum tulus padaku. Kemudian menatap Egi. “Ya kan, Gi?” tanyanya.
Kulirik Egi sekilas. Lelaki dengan gaya rambut chesenut itu mengangguk sembari memperhatikanku.
“Mm… ke tempatku sekarang?” tanyaku. Mereka mengangguk bersamaan. Rencananya kami akan menunggu di hotel tempatku menginap sampai jam tiga nanti, dan barulah kami berangkat ke Bali. Tempat di mana Nana sekarang berada. Dia jadi guide untuk pengunjung dari korea karena kemahirannya berbahasa itu. Apalagi ada temannya yang keturunan korea asli juga bekerja untuk hohel yang sama. Jadi dia bisa belajar banyak hal dari temannya itu.
Deg!
Aku tak sengaja memandang Egi. Dengan segera aku memalingkan wajahku. Aduh… rasanya sulit sekali bertemu mata dengan lelaki pemilik senyum hangat ini. Ah… Cintaku memang masih untuknya, bagaimana ini?
***
Perlahan kurasai pesawat mulai naik. Kudengar helaan napas Lia. Dia mungkin sama tegangnya denganku. Yah… rasanya sulit sekali digambarkan perasaan kami ini. Nana, berapa lama ya tidak melihat gadis itu? Hampir setahun lebih rasanya. Bagaimana ya dia sekarang? Apa Bali banyak merubahnya?
Kami sudah mengudara sekarang. Sabuk pengaman boleh di lepas. Kulihat keluar jendela. Langit biru dan sedikit awan putih di sebelah sana. Sinar matahari jelas sekali dari sini. Kualihkan pandanganku ke bawah. Semua tak terlihat jelas lagi di mataku.
Aku menyandarkan kepalaku di dinding pesawat. Memejamkan mata.
Bali dan Nana, tunggu kami. Sebentar lagi kami datang… ^^
***
~Nana~
Kita berencana tapi Tuhanlah yang menentukan. Kadang Ia memberi jalan yang mulus, kadang juga jalan yang berliku. Dan itulah yang kualami.
Aku, Nana, genap berusia 24 tahun di Januari lalu. Aku tahu, tak ada tanda-tanda kedewasaan di diriku. Aku masih saja Nana yang dulu, yang tidak bisa menyebut ‘R’ dengan sempurna, Nana yang heboh, Nana yang tak bisa diam, Nana yang cerewet, dan terkadangn nana yang menyebalkan karena terllau banyak bertanya. Dan yang paling jelas adalah, tinggiku yang tak pernah bertambah. Terhenti di 157cm. Jadi… bagaimana jadinya aku kalau berdiri di samping orang yang bertubuh setinggi 180cm?
Kehidupan sekolahku sempat tak berjalam mulus. Ketika lulus aku memutuskan mendaftar di universitar luar kota yang kualitas bahasa inggrisnya bagus dan ada ekstrakurikuler bahasa koreanya. Aku bahkan sudah membayangkan bagaimana asyiknya aku nanti. Namun, Tuhan berkehendak lain. Aku tidak lulus dalam tes.
Sambil ikut gelombang kedua aku didaftarkan ayahku di beberapa akademi perawat. Lagi-lagi aku gagal. Jadilah selama setahun aku pengangguran. Baru tahun berikutnya aku ikut tes OSMPTN lagi dan memilih universitas yang sama dengan Lia, Ima, dan Egi saja. Cukup sedih juga saat melihat mereka lulus duluan tepat empat tahun dan aku masih setahun lagi.
Aku tak menginginkan jadi guru, makanya setelah lulus aku memilih ke Bali. Menjadi guide di sebuah hotel di sana. Untung saja aku belajar sendiri bahasa korea dengan CD dan buku-buku bahasa korea yang kubeli semasa kuliah. Jadinya aku lumayan bisa. Dan berkat laki-laki korea yang bekerja jadi guide juga di hotel yang sama denganku, aku bsia belajar banyak darinya. Kami lebih sering berada di kelompok tur yang sama.
Dia sudah dua tahun di sini. Jadi bisa di bilang dia seniorku. Umurnya kalau tidak salah 26 tahun. Dia tampan, seperti orang korea kebanyakan, hehe… tingginya 182 cm. aku paling suka melihat senyumnya. Dia laki-laki pemilik senyum manis yang kutemui selama hidupku menurutku dan selain Kim Jae Joong (idolaku) tentunya.. Namanya Lee Jong Hwa.
Kami semakin akrab setelah aku pindah ke kostan yang ternyata dekat dengan kostnya juga.
Aku tak tahu cinta itu apa dan seperti apa. Yang kuyakini cuma, aku mencintai Kim Jae Joong, lelaki tercantik di boyband favoriteku, Dong Bang Shin Ki. Anehnya… Jong Hwa, entah sejak kapan, dia juga menjadi sesuatu yang penting di hatiku. Berada di tahta kedua di hatiku. Ini benar-benar cinta atau cuma sekedar obsesi berlebihan terhadap hal-hal atau orang-orang korea, aku tak tahu. Aku hanya berharap hari-hari menyenangkan di sini, dan bersamanya ini, tetap berjalan selamanya.
Aku tersenyum saat pikiranku mengembara pada hari esok. Lia, Ima, dan Egi akan ke mari. Wuah… rasa-rasanya… ingin sekali aku memperkenalkan mereka pada Jong Hwa. Pasti Jong Hwa makin senang banyak yang menyukai negerinya yang indah dan selalu menunjukan semangat cinta tanah air itu. Seharusnya aku juga belajar semangat cinta tanah air darinya ya, hahha… Tolong tenang saja Indonesiaku. Aku memang mencintai negeri itu, tapi tentu saja lebih mencintai tanah airku, hehe…
Kapan ya, bisa ke negeri gingseng itu? Melihat keindahannya. Bertemu dengan DBSK. Apa di antara kami nanti ada yang ke sana?
Puk!
Aku menoleh. Kutemukan Jong Hwa tersenyum padaku, lalu duduk di sampingku. Kami memang tidak ada jadwal tour hari ini dan esok. Untunglah…
“Melamunkan apa?”
Aku menggeleng.
Dia mengacak-acak rambutku sambil tertawa. “liar! (Bohong!)” katanya.
“No (Tidak). Hanya memikirkan teman-temanku yang datang besok saja kok, hehe…” Yah… beginilah kami, berkomunikasi dalam tiga bahasa, Indonesia, Inggris, dan Korea.
Jong Hwa menganggukkan kepalanya. “Benar juga. Apa perlu aku membuat kimchi untuk menyambut kehadiran mereka?” aku memandanginya yang lumayan fasih berbahasa Indonesia, walau logat koreanya masih saja ada.
“Mmm… boleh juga. Mereka kan belum pernah makan kimchi. Pasti mereka senang.”
Jong Hwa tersenyum lebar.
“Kita beli bahan-bahannya sekarang. Kajja!!!”
Aku tak pernah tahu, pertemuan esok, akan jadi hal yang akan kusesali. Dan akupun tak pernah menyadari kalau cinta dan obsesi bedanya tipis sekali.
TBC
Love Ya!!! chapter 10
Love Ya!!!
By Imah Hyun Ae
Chapter 10
Arga, Tentang Lia dan Egi
¬~Bandara, sekarang ini ~
Aku berdiri. Beberapa orang tampak melakukan hal yang sama. Sepertinya mereka juga menunggu teman atau kerabat mereka keluar dari pintu itu.
Aku mengedarkan pandanganku. Jantungku seperti tak berdetak saat kulihat dua sosok di sebelah sana. Lia dengan jaket merah dan rambut tergerai rapi berjalan beriringan dengan satu sosok yang semakin tampak dewasa itu. Lia tampak cantik dengan dandanan minimalisnya dan Egi tanpak gagah dengan setelan kemeja hijau kotak-kotaknya. Kulihat lelaki itu tengah menarik dua koper. Pasti satunya milik Lia.
Seketika suara Arga terngiang di telingaku.
“Jika terjadi apa-apa denganku, aku justru ingin laki-laki yang menggantikan posisiku adalah dia…”
***
~Sebulan Usai Pernikahan Lia dan Arga~
Aku sedang di toko buku, mencari-cari buku pembelajaran yang kira-kira sesuai dengan proposalku, ketika satu sosok berkemeja biru bermotif garis putih terlihat oleh mataku. Sepertinya aku kenal siapa dia.
Seolah merasa kuperhatikan, dia menoleh ke arahku. Kusambut tatapannya dengan senyum canggung. Perlahan dia mendekat.
“Ima kan?” tanyanya. Mungkin untuk meyakinkan dirinya kalau dia tak salah orang.
Aku mengangguk.
“Apa kabar?” tanyanya lagi sembari tersenyum cerah.
“Baik, seperti yang kau lihat. Kau sendiri?”
“Sama. Seperti yang kau lihat juga. Eukyang-kyang…”
Aku tertawa mendengar tawa khasnya itu. “Membeli apa?” tanyaku akhirnya usai tertawa.
“Ah… ini. Buku pesanan Lia.” Wajahnya memerah saat nama ‘Lia’ dia sebut.
“Cie… pasangan baru perhatian sekali…” godaku. Wajah Arga makin memerah.
Hm… kurasa Lia benar. Arga memang lebih tepat di sebut imut dari pada tampan, hehe…
“Kamu sendiri?” dia melihat buku yang kupegang.
“Oh. Buku tambahan untuk proposalku.” Dia mengangguk.
“Aku ke kasir dulu ya?” pamitnya.
“Ah, aku juga mau ke sana sebenarnya.”
“Ya, sudah. Kita sama-sama saja.” Ucapnya sembari tersenyum hangat.
Kamipun sama-sama menuju kasir. Usai membayar dia mempersilahkan aku duluan.
“Bilang pada Lia, jangan membiarkan suami tersayangnya berkeliaran seorang diri,” godaku lagi.
Lagi-lagi wajah putih Arga memerah.
“Hey!! Kau senang melihatku malu, ya?” ujernya salah tingkah. Aku tertawa pelan melihat tingkahnya.
“Mm… sampai jumpa. Titip salam buat Lia, ya?” pamitku.
Arga mengangguk. “Main-mainlah ke kos kami, hehe…”
Aku mengiyakan dengan gumaman lalu melangkah pergi.
“Mm… Ma?” panggil Arga tertahan.
Agak ragu aku berbalik. Kulihat Arga seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi ragu. “Ada apa?”
“Mm…” dia menarik napas. “Lia dan Egi…”
Deg! Kenapa dengan mereka?
“…apa sudah lama saling mengenal?” sambung Arga pelan.
Aku menatapnya. Mencari tahu adakah hal yang mengganggu pikirannya. “Ya,” jawabku lambat. “Setahuku sudah sejak SD mereka berteman.”
Arga manggut-manggut sembari berkata, “Jadi selama itu…”
Kutemukan gurat gundah di wajahnya.
“Kenapa?” tanyaku khawatir.
“Orang luar… tak seharusnya masuk di antara mereka kan?” ucap Arga setengah bergumam.
“Eh?”
Arga tersenyum. “Lupakan! Sampai ketemu lagi…” Ia lantas berbalik dan melangkah. Meninggalkanku dalam kebingungan yang di buatnya.
Seharusnya aku paham maksud perkataanmu waktu itu, Ga. Maaf…
***
~Sebulan setelah pertemuan itu~
“Ima!!!”
Aku sedang membayar belanjaanku di minimarket yang tak jauh dari kampus, ketika sebuah suara memanggilku. Aku menoleh. Kudapati si pemilik wajah ceria yang Lia cintai itu tengah memandangku.
“Bisa temani aku?” tanyanya pelan.
Aku diam sesaat. Mendapati lekuk gundah di wajahnya membuatku tak sadar menganggukan kepala.
Di belakangnya aku mengikuti.
“Maaf kalau aku mengganggu kesibukanmu,” ujernya ketika langkahnya berhenti di dekat gerbang universitas.
“Tidak apa-apa,” jawabku ragu. Apa benar ini tidak apa-apa? Bagaimana kalau ada yang mengenal kami lewat dan salah sangka?
“Aku cuma ingin seseorang mendengarkanku…” ucapnya pelan.
Aku baru mau menjawab, ‘Lia pasti mendengarkanmu’ ketika dia berkata lagi,
“Tentang Lia dan juga Egi.”
Eh? Kenapa dengan mereka?
Arga duduk di jembatan kecil di jalanan gerbang itu. “Kalau ada dua orang yang menyukaimu, yang satu memberi kegembiraan padamu dan yang satunya lagi memberi rasa nyaman, mana yang kau pilih?”
Kutatap dia yang memandang lurus pada jalanan di depan kami.
“Kalau aku, mungkin akan memilih rasa nyaman. Perasaan itu jauh lebih lama bertahan kan?”
Arga menatap perih padaku. Ada apa dengannya? Apa jawabanku melukainya?
“Aku tanya pada Lia ‘Apa arti aku bagimu?’ dan Lia menjawab ‘Kegembiraanku’. Lalu kutanya, ‘Kalau sahabat baikmu?’, dia menjawab ‘Ima dan Nana adalah adik dan kakak tersayangku. Sedang Egi adalah abang terbaikku’ sambil tertawa. Kutanya lagi dengan hati-hati, ‘Kalau bersama Egi, apa yang kau rasakan?’. Dia jawab sambil tersenyum dengan tenang, ‘Nyaman. Mungkin karena dia sudah kuanggap seperti abang kandungku’.” Arga memandangku dengan gurat luka yang makin jelas di wajahnya.
Apa dia merasa sakit hati dengan jawaban Lia?
“Menurutmu, cinta itu apa?” tanyanya sambil mengalihkan pandagannya ke jalanan lagi. “Kegembiraan atau rasa nyaman?”
Aku menggigit bibir bawahku. Apa dia bermaksud bilang kalau Lia tak sadar telah mencintai Egi?!!
“Rasa nyaman, kan?” simpulnya sambil lagi-lagi menatap perih padaku.
“Kenapa… kau katakan semua ini padaku?”
Arga menunduk. Memainkan jemarinya. Tanpa melihat ke arahku dia berkata, “Karena kurasa kau pendengar yang baik.” Katanya pelan.
Aku mendengus. “Lain kali jangan ceritakan apapun lagi padaku. Aku tak tahu juga tak mau tahu!” tegasku sengit. Lantas berbalik pergi.
Bagaimana mungkin aku bisa dengar segala hal tentang Lia yang ‘mungkin’ tidak sadar mencintai Egi. Lia yang begitu Egi cintai selama ini?!!
“Karena ku pikir kau bisa menyimpan rahasia, makanya aku ceritakan semua padamu.” Langkahku terhenti. “Aku ingin seseorang mendengarkan kegundahanku.” Sambung Arga setengah berbisik.
“Aku ingin Lia hanya memandangku, apa itu terlalu egois?” ia kembali mengutarakan isi hatinya.
Aku menghela napas dan kembali memandangnya. “Semua yang kau lakukan terasa benar ketika kau begitu mencintai seseorang,” kataku akhirnya.
Arga tersenyum tipis. “Aku memang sangat mencintainya, Ma,” jujurnya lirih. “Apa kau tahu bagaimana caranya membuat dia hanya memandangku?”
Aku diam untuk sesaat. “Bagaimana kalau kau membawanya ke tempat yang cukup jauh dari Egi.”
“Eh?” dia terkejut dengan saranku. Saran yang hadir bersamaan dengan keegoisan di hatiku.
“Lalu buat Lia merasa bahagia karena telah memilihmu,” tambahku.
Satu detik. Dua detik. Tak ada reaksi dari Arga. Namun di detik ke lima kulihat senyum khasnya mengembang.
Ternyata meski jauh, hati mereka tetap terikat kan, Ga?
***
~Tiga hari sebelum berpisah dengan Lia~
Aku keluar dari rumah. Siap mau ke kampus. Namun satu sosok di depan pagar rumahku membuat langkahku melambat. Dia memberikan cengiran khasnya padaku. Kali ini tak ada duka di wajahnya. Apa… sekarang Lia sudah hanya memandanganya saja?
Aku tersenyum padanya sembari berkata, “Ada hal yang membahagiakan rupanya…”
Arga tertawa dengan tawa khasnya.
“Kau benar. Tiga hari lagi aku dan Lia akan pindah. Kami akan tinggal di rumah orang tuaku. Hehehe… Kau tahu? Kupikir dia akan menolak, ternyata saat kutanya dia justru menyetujuinya. Ah… betapa leganya aku sekarang…” Wajahnya benar-benar menggambarkan kegembiraannya. Aku tersenyum melihat wajah cerahnya itu.
“Eh, kau suka korea juga kan?”
Aku mengangguk cepat.”Kenapa?”
“Umm… bagaimana mengatakan ‘Aku mencintaimu’ dalam bahasa korea?”
“Eh?”
“Ayolah… biar Lia semakin suka padaku.” Dia memberikan senyum lebarnya.
Aku tergelak. “Saranghae…” jawabku usai puas menertawakan kepolosannya.
“Eh?”
“Saranghae,artinya aku mencintaimu.” Jelasku sambil mengulum senyum.
“Sa… ‘Sa’ apa?” tanyanya meminta pengulangan.
“Sa-rang-hae,” aku memutuskan mengejanya.
“Sa-rang…” dia mencoba dengan semangat tinggi.
“Hae…” sambungku.
“Sa-rang-hae…” wajahnya kian girang. “Yee…!!! Aku bisa!!” dia bersorak riang.
Aku tergelak. “Kalau kau sungguh mencintainya maka tambahkan kata ‘Jeongmal’.”
“Jeong… Apa?”
“Jeongmal,” ulangku. Dia mengangguk-angguk paham.
“Jeongmal saranghae, artinya aku sungguh mencintaimu.” Terangku.
“Jeongmal… saranghae…” dia mencoba. Senyumnya semakin sumringah saat sukses mengatakan kalimat itu.
“Lia akan lebih terkesan kalau kau melakukan ini.” Aku mengangkat kedua tangannya dan menyatukan jari-jarinya, sebisa mungkin membentuk love. “Lalu ucapkan ‘Jeongmal saranghae’.”
“Jeongmal saranghae.” Ucapnya malu-malu.
Aku tersenyum melihatnya.
“Thanks, Ma!” aku mengangguk. “Maaf sudah mengganggumu.”
“Santai saja.”
“Kau mau ke kampus?”
Aku mengangguk mengiyakan.
“Mau ku antar?”
“Tidak. Nanti Lia salah paham.”
Arga tergelak.
“Umm, Ma?” panggilnya hati-hati.
“Ya?”
“Boleh aku jujur?”
Aku mengangguk dengan bimbang.
“Jika terjadi apa-apa denganku, aku justru ingin laki-laki yang menggantikan posisiku adalah dia…”
“Eh? Dia? Maksudmu?”
“Egi, hehehe….”
Apa benar kau ingin begitu, Ga? Boleh tidak aku mencegah hal itu terjadi?
***
TBC
By Imah Hyun Ae
Chapter 10
Arga, Tentang Lia dan Egi
¬~Bandara, sekarang ini ~
Aku berdiri. Beberapa orang tampak melakukan hal yang sama. Sepertinya mereka juga menunggu teman atau kerabat mereka keluar dari pintu itu.
Aku mengedarkan pandanganku. Jantungku seperti tak berdetak saat kulihat dua sosok di sebelah sana. Lia dengan jaket merah dan rambut tergerai rapi berjalan beriringan dengan satu sosok yang semakin tampak dewasa itu. Lia tampak cantik dengan dandanan minimalisnya dan Egi tanpak gagah dengan setelan kemeja hijau kotak-kotaknya. Kulihat lelaki itu tengah menarik dua koper. Pasti satunya milik Lia.
Seketika suara Arga terngiang di telingaku.
“Jika terjadi apa-apa denganku, aku justru ingin laki-laki yang menggantikan posisiku adalah dia…”
***
~Sebulan Usai Pernikahan Lia dan Arga~
Aku sedang di toko buku, mencari-cari buku pembelajaran yang kira-kira sesuai dengan proposalku, ketika satu sosok berkemeja biru bermotif garis putih terlihat oleh mataku. Sepertinya aku kenal siapa dia.
Seolah merasa kuperhatikan, dia menoleh ke arahku. Kusambut tatapannya dengan senyum canggung. Perlahan dia mendekat.
“Ima kan?” tanyanya. Mungkin untuk meyakinkan dirinya kalau dia tak salah orang.
Aku mengangguk.
“Apa kabar?” tanyanya lagi sembari tersenyum cerah.
“Baik, seperti yang kau lihat. Kau sendiri?”
“Sama. Seperti yang kau lihat juga. Eukyang-kyang…”
Aku tertawa mendengar tawa khasnya itu. “Membeli apa?” tanyaku akhirnya usai tertawa.
“Ah… ini. Buku pesanan Lia.” Wajahnya memerah saat nama ‘Lia’ dia sebut.
“Cie… pasangan baru perhatian sekali…” godaku. Wajah Arga makin memerah.
Hm… kurasa Lia benar. Arga memang lebih tepat di sebut imut dari pada tampan, hehe…
“Kamu sendiri?” dia melihat buku yang kupegang.
“Oh. Buku tambahan untuk proposalku.” Dia mengangguk.
“Aku ke kasir dulu ya?” pamitnya.
“Ah, aku juga mau ke sana sebenarnya.”
“Ya, sudah. Kita sama-sama saja.” Ucapnya sembari tersenyum hangat.
Kamipun sama-sama menuju kasir. Usai membayar dia mempersilahkan aku duluan.
“Bilang pada Lia, jangan membiarkan suami tersayangnya berkeliaran seorang diri,” godaku lagi.
Lagi-lagi wajah putih Arga memerah.
“Hey!! Kau senang melihatku malu, ya?” ujernya salah tingkah. Aku tertawa pelan melihat tingkahnya.
“Mm… sampai jumpa. Titip salam buat Lia, ya?” pamitku.
Arga mengangguk. “Main-mainlah ke kos kami, hehe…”
Aku mengiyakan dengan gumaman lalu melangkah pergi.
“Mm… Ma?” panggil Arga tertahan.
Agak ragu aku berbalik. Kulihat Arga seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi ragu. “Ada apa?”
“Mm…” dia menarik napas. “Lia dan Egi…”
Deg! Kenapa dengan mereka?
“…apa sudah lama saling mengenal?” sambung Arga pelan.
Aku menatapnya. Mencari tahu adakah hal yang mengganggu pikirannya. “Ya,” jawabku lambat. “Setahuku sudah sejak SD mereka berteman.”
Arga manggut-manggut sembari berkata, “Jadi selama itu…”
Kutemukan gurat gundah di wajahnya.
“Kenapa?” tanyaku khawatir.
“Orang luar… tak seharusnya masuk di antara mereka kan?” ucap Arga setengah bergumam.
“Eh?”
Arga tersenyum. “Lupakan! Sampai ketemu lagi…” Ia lantas berbalik dan melangkah. Meninggalkanku dalam kebingungan yang di buatnya.
Seharusnya aku paham maksud perkataanmu waktu itu, Ga. Maaf…
***
~Sebulan setelah pertemuan itu~
“Ima!!!”
Aku sedang membayar belanjaanku di minimarket yang tak jauh dari kampus, ketika sebuah suara memanggilku. Aku menoleh. Kudapati si pemilik wajah ceria yang Lia cintai itu tengah memandangku.
“Bisa temani aku?” tanyanya pelan.
Aku diam sesaat. Mendapati lekuk gundah di wajahnya membuatku tak sadar menganggukan kepala.
Di belakangnya aku mengikuti.
“Maaf kalau aku mengganggu kesibukanmu,” ujernya ketika langkahnya berhenti di dekat gerbang universitas.
“Tidak apa-apa,” jawabku ragu. Apa benar ini tidak apa-apa? Bagaimana kalau ada yang mengenal kami lewat dan salah sangka?
“Aku cuma ingin seseorang mendengarkanku…” ucapnya pelan.
Aku baru mau menjawab, ‘Lia pasti mendengarkanmu’ ketika dia berkata lagi,
“Tentang Lia dan juga Egi.”
Eh? Kenapa dengan mereka?
Arga duduk di jembatan kecil di jalanan gerbang itu. “Kalau ada dua orang yang menyukaimu, yang satu memberi kegembiraan padamu dan yang satunya lagi memberi rasa nyaman, mana yang kau pilih?”
Kutatap dia yang memandang lurus pada jalanan di depan kami.
“Kalau aku, mungkin akan memilih rasa nyaman. Perasaan itu jauh lebih lama bertahan kan?”
Arga menatap perih padaku. Ada apa dengannya? Apa jawabanku melukainya?
“Aku tanya pada Lia ‘Apa arti aku bagimu?’ dan Lia menjawab ‘Kegembiraanku’. Lalu kutanya, ‘Kalau sahabat baikmu?’, dia menjawab ‘Ima dan Nana adalah adik dan kakak tersayangku. Sedang Egi adalah abang terbaikku’ sambil tertawa. Kutanya lagi dengan hati-hati, ‘Kalau bersama Egi, apa yang kau rasakan?’. Dia jawab sambil tersenyum dengan tenang, ‘Nyaman. Mungkin karena dia sudah kuanggap seperti abang kandungku’.” Arga memandangku dengan gurat luka yang makin jelas di wajahnya.
Apa dia merasa sakit hati dengan jawaban Lia?
“Menurutmu, cinta itu apa?” tanyanya sambil mengalihkan pandagannya ke jalanan lagi. “Kegembiraan atau rasa nyaman?”
Aku menggigit bibir bawahku. Apa dia bermaksud bilang kalau Lia tak sadar telah mencintai Egi?!!
“Rasa nyaman, kan?” simpulnya sambil lagi-lagi menatap perih padaku.
“Kenapa… kau katakan semua ini padaku?”
Arga menunduk. Memainkan jemarinya. Tanpa melihat ke arahku dia berkata, “Karena kurasa kau pendengar yang baik.” Katanya pelan.
Aku mendengus. “Lain kali jangan ceritakan apapun lagi padaku. Aku tak tahu juga tak mau tahu!” tegasku sengit. Lantas berbalik pergi.
Bagaimana mungkin aku bisa dengar segala hal tentang Lia yang ‘mungkin’ tidak sadar mencintai Egi. Lia yang begitu Egi cintai selama ini?!!
“Karena ku pikir kau bisa menyimpan rahasia, makanya aku ceritakan semua padamu.” Langkahku terhenti. “Aku ingin seseorang mendengarkan kegundahanku.” Sambung Arga setengah berbisik.
“Aku ingin Lia hanya memandangku, apa itu terlalu egois?” ia kembali mengutarakan isi hatinya.
Aku menghela napas dan kembali memandangnya. “Semua yang kau lakukan terasa benar ketika kau begitu mencintai seseorang,” kataku akhirnya.
Arga tersenyum tipis. “Aku memang sangat mencintainya, Ma,” jujurnya lirih. “Apa kau tahu bagaimana caranya membuat dia hanya memandangku?”
Aku diam untuk sesaat. “Bagaimana kalau kau membawanya ke tempat yang cukup jauh dari Egi.”
“Eh?” dia terkejut dengan saranku. Saran yang hadir bersamaan dengan keegoisan di hatiku.
“Lalu buat Lia merasa bahagia karena telah memilihmu,” tambahku.
Satu detik. Dua detik. Tak ada reaksi dari Arga. Namun di detik ke lima kulihat senyum khasnya mengembang.
Ternyata meski jauh, hati mereka tetap terikat kan, Ga?
***
~Tiga hari sebelum berpisah dengan Lia~
Aku keluar dari rumah. Siap mau ke kampus. Namun satu sosok di depan pagar rumahku membuat langkahku melambat. Dia memberikan cengiran khasnya padaku. Kali ini tak ada duka di wajahnya. Apa… sekarang Lia sudah hanya memandanganya saja?
Aku tersenyum padanya sembari berkata, “Ada hal yang membahagiakan rupanya…”
Arga tertawa dengan tawa khasnya.
“Kau benar. Tiga hari lagi aku dan Lia akan pindah. Kami akan tinggal di rumah orang tuaku. Hehehe… Kau tahu? Kupikir dia akan menolak, ternyata saat kutanya dia justru menyetujuinya. Ah… betapa leganya aku sekarang…” Wajahnya benar-benar menggambarkan kegembiraannya. Aku tersenyum melihat wajah cerahnya itu.
“Eh, kau suka korea juga kan?”
Aku mengangguk cepat.”Kenapa?”
“Umm… bagaimana mengatakan ‘Aku mencintaimu’ dalam bahasa korea?”
“Eh?”
“Ayolah… biar Lia semakin suka padaku.” Dia memberikan senyum lebarnya.
Aku tergelak. “Saranghae…” jawabku usai puas menertawakan kepolosannya.
“Eh?”
“Saranghae,artinya aku mencintaimu.” Jelasku sambil mengulum senyum.
“Sa… ‘Sa’ apa?” tanyanya meminta pengulangan.
“Sa-rang-hae,” aku memutuskan mengejanya.
“Sa-rang…” dia mencoba dengan semangat tinggi.
“Hae…” sambungku.
“Sa-rang-hae…” wajahnya kian girang. “Yee…!!! Aku bisa!!” dia bersorak riang.
Aku tergelak. “Kalau kau sungguh mencintainya maka tambahkan kata ‘Jeongmal’.”
“Jeong… Apa?”
“Jeongmal,” ulangku. Dia mengangguk-angguk paham.
“Jeongmal saranghae, artinya aku sungguh mencintaimu.” Terangku.
“Jeongmal… saranghae…” dia mencoba. Senyumnya semakin sumringah saat sukses mengatakan kalimat itu.
“Lia akan lebih terkesan kalau kau melakukan ini.” Aku mengangkat kedua tangannya dan menyatukan jari-jarinya, sebisa mungkin membentuk love. “Lalu ucapkan ‘Jeongmal saranghae’.”
“Jeongmal saranghae.” Ucapnya malu-malu.
Aku tersenyum melihatnya.
“Thanks, Ma!” aku mengangguk. “Maaf sudah mengganggumu.”
“Santai saja.”
“Kau mau ke kampus?”
Aku mengangguk mengiyakan.
“Mau ku antar?”
“Tidak. Nanti Lia salah paham.”
Arga tergelak.
“Umm, Ma?” panggilnya hati-hati.
“Ya?”
“Boleh aku jujur?”
Aku mengangguk dengan bimbang.
“Jika terjadi apa-apa denganku, aku justru ingin laki-laki yang menggantikan posisiku adalah dia…”
“Eh? Dia? Maksudmu?”
“Egi, hehehe….”
Apa benar kau ingin begitu, Ga? Boleh tidak aku mencegah hal itu terjadi?
***
TBC
Love Ya!!! chapter 9
Love Ya!!!
oleh Imah Hyun Ae
Chapter 9
My Secret Love
~Ima~
Kulihat jam warna perak campur pink di pergelangan tangan kiriku. Kalau tak ada gangguan, sebentar lagi mereka datang.
Aku menghela napas.
Bagaimana aku harus bersikap? Ternyata cinta itu masih untuknya. Apa yang harus aku lakukan? Masih bisakah aku tersenyum biasa seperti dulu? Aku terlalu gugup untuk bertemu dengannya lagi. Terlalu takut jika melihat pandangan penuh kasihnya masih untuk… Lia.
Aku menghela napas. Bayang-bayang masa lalu itu kembali hadir.
***
~SMA kelas X Semester 2~
Aku belum lama mengenalnya. Baru sekitar lima bulan. Dia sahabat Lia dari kecil. ‘Laki-laki aneh’, itu kesan pertamaku padanya. Ya… karena melihat dia yang begitu antusias terhadap hal-hal berbau korea. Menangis diam-diam saat drama itu menampilkan adegan sedih. Ikutan heboh, tak kalah hebohnya dengan kami yang terlalu menghayati adegan di drama tersebut.
Nana, sahabat baruku juga. Dan dia sudah menjadi sahabat Lia sejak SMP, tak masuk hari ini. Jadilah aku pulang sendirian.
Sambil melangkah mundur, aku melambai pada Lia dan Egi. Mereka membalas lambaianku.
“Hati-ha—” kata-kata Lia tak selesai karena saat itu kakiku mengenai batu. Aku jatuh. Kurasai kaki kananku sakit.
“Tidak apa-apa?” Lia menatap cemas saat melihatku meringis. Kupegangi pergelangan kakiku.
Lia dan Egi membantuku berdiri.
“Thanks…” ucapku sambil menahan sakit. Sepertinya kakiku terkilir.
“Masih bisa jalan?”
Aku mengangguk. “Sampai jumpa…” pamitku dan mulai berjalan. Sayangnya di langkah kedua aku limbung. Cepat Egi menyambutku.
“Sepertinya kau terkilir,” gumamnya. “Mau ke rumah sakit?”
Aku menggeleng. “Ayahku bisa memijatnya kok.”
“Oh…” Di pandangnya aku sesaat.
Deg!
Ada perasaan lain di dadaku. Apa ini?
“Biar kupapah,” katanya sambil melingkarkan tanganku di bahunya. Di tatapnya Lia. “Kau pulang saja dulu. Ima biar aku yang antar.”
Lia tampak mengangguk.
Sambil berjalan kulirik dia. Wangi farfumnya membuat hatiku terasa hangat. Aneh…
Mendadak dia menoleh ke arahku. Aku terkejut, sekaligus salah tingkah.
“Jangan merasa tidak enak. Kita kan teman?” ujernya. Dia tersenyum hangat padaku.
Deg!
Jantungku berdetak aneh lagi. Kenapa bisa?
Di bus, dia duduk di sampingku.
“Masih sakit?” tanyanya cemas.
Aku mengangguk tanpa berani memandangnya.
----
Bus berhenti. Egi melangkah lebih dulu. Tepat did ala pintu keluar dia berhenti lalu berjongkok membelakangiku.
“Kenapa?” tanyaku bingung.
“Biar kugendong. Kakimu semakin parah kalau kau paksa berjalan lagi,” ujernya.
“Tapi…”
“Cepatlah. Orang di belakang sudah menunggu,” ucapnya.
Aku menoleh ke belakang. Memang benar, ada beberapa orang yang menunggu.
“Maaf,” ujerku tak enak pada mereka.
Segera aku melingkah tanganku di leher Egi. Jantungku berdetak semakin cepat. Perlahan dia berjalan. Aroma minyak rambut yang dia pakai tercium. Jantungku kembali tak berdetak dengan tenang.
“Rumahmu di mana?” ujernya tiba-tiba.
“EH? Di… Di sebelah sini,” kutunjuk jalanan sebelah kiri dengan gugup.
Hff…. Kenapa denganku? Kenapa… aku ingin… jalan ini tak pernah berujung? Kenapa… aku ingin di belakangnya seperti ini… lebih lama lagi? Apa… aku jatuh cinta? Pada Egi?
“Yang mana rumahmu?”
“EH?” aduh… lagi-lagi mengagetkanku.
“Hmf… kau melamun ya?” tanyanya sambil tertawa geli.
“Hehe… yang itu rumahku,” kataku malu.
Dipencetnya bel rumahku. Tak lama kemudian pintu di buka. Ibuku kaget melihatku di gendong.
“Kau kenapa?” tanyanya sambil mempersilahkan Egi masuk.
“Tadi tergelincir,” kataku saat Egi meurunkanku di kursi.
“Ya ampun.. Bagaimana bisa?” tanya ibu lagi.
Aku meringis.
“Aku pulang ya? Sepertinya hari mau hujan…” pinta Egi.
“Tidak istirahat dulu?”
Egi menggeleng.
Aku menghela napas kecewa. Aku tidak ingin dia pergi.
“Sebaiknya kau obati kakimu. Sampai jumpa,” pamitnya.
Aku mengangguk lemah. “Terima kasih sudah mengantarku,” ucapku tulus.
Dia tersenyum hangat. “Jangan sungkan begitu.”
Hfff… wajahku memanas lagi…
***
~SMA Kelas XI Semester 1~
Ruang seni yang sepi. Aku berjalan perlahan sambil membawa gitar ke dekat jendela. Angin sepoi masuk dan mengibas-ngibas poniku. Aku menghirup udaranya yang segar dalam-dalam.
Kulihat di lapangan ada sekelompok siswa bermain basket. Adakah Egi di sana? Aku melongokan kepalaku agar lebih jelas melihat. Tidak ada.
Kuraih lembaran kertas di saku bajuku. Lirik lagu Perhaps Love, ost. Drama korea Princess Hours, kesukaan kami.
Aku mulai menggenjreng gitar.
“…
Is it love? If you feel the same way, is it a beginning?
My heart keep saying it loves you
…”
Bayangan Egi menari-nari di benakku. Membuatku berhenti menggenjreng gitar.
“Kenapa berhenti?” seseorang menegurku dan mengambil lembaran kertas laguku.
Deg!
Jantungku berpacu cepat saat tahu siapa dia. Egi.
“Biar ku coba,” matanya berbinar gembira. Diambilnya gitar di tanganku dan mulai mencoba lagu tersebut. Pertama-tama dia bergumam. Saat dapat nada yang pas, dia memintaku bernyanyi mengiringinya.
“Suaraku jelek,” tolakku malu.
“Tidak apa-apa,” ujernya sambil memainkan intro. Mau tidak mau aku bernyanyi.
Sambil bergitar dia pun ikut bernyanyi. Sesekali dia tersenyum sambil menatapku.
Satu pintaku pada-Mu Tuhan, Mohon hentikan waktu… Aku ingin terhenti di menit ini bersamanya…
Namun detik terus berjalan…
***
~SMA Kelas XI Semester 2, awal-awal musim hujan~
Hujan turun dengan lebat tanpa diduga pagi ini. Aku dan Rima sama sekali tidak membawa payung. Gara-gara itulah kami terburu-buru berlari menuju koridor. Sampai-sampai aku tidak sadar dengan keadaan tasku yang terbuka.
“Ima~!!! Bukumu!!!” teriak seseorang di belakangku. Aku yang sudah di koridor segera berbalik. Kulihat buku-bukuku tercecer. Egi tampak sedang mengambilkan bukuku. Segera aku berlari mendekat.
“A~ Thanks…” ucapku lalu memunguti bukuku juga.
“Sepertinya tasmu minta ganti,” ujer cowok yang berada di bawah payung yang Lia pegang.
Aku mengangguk meski kurasai hatiku tidak terima dengan sikap Lia pada Egi itu. Hey!! Apa aku cemburu?
Egi menyerahkan bukuku.
“Makasih…”
Dia menjawab dengan gumaman sambil mengeluarkan isi tasnya. Lalu diserahkannya tasnya padaku. “Pakai tasku saja,” ucapnya ringan.
Dadaku menghangat… “Tapi…”
“Pakai saja.” Paksanya sembari tersenyum hangat.
Aku merasa wajahku memanas. “Thanks…”
Dia tersenyum lagi. “Jangan sungkan.”
“Sini. Biar kupegang payungmu,” tawarku saat kulihat Lia mau menawarkan bantuan padanya yang tampak kesulitan memegang buku dan payungnya.
“Thank you…” diserahkannya payungnya padaku. Lantas bersama-sama kami menuju koridor. Biarkan aku lebih dekat dengannya, Ya, batinku.
***
~Kelas XI SMA Semester 2, akhir bulan Mei~
Hujan turun saat pulang sekolah dan lagi-lagi aku lupa bawa payung. Aku berencana pinjam punya Egi, namun batal saat kudengar permbicaraan Egi yang lupa membawa payung juga. Pulang sekolah ini kami mau nonton bareng di rumah Lia.
Sambil bernaung di bawah payung Nana aku melangkah. Kami masuk ke bus dan duduk di kursi nomor tiga dari belakang. Sedang Lia dan Egi dapat kursi di paling belakang.
Bus perlahan melaju.
Aku mau menawarkan cemilanku ke Egi dan Lia di belakang, tapi tidak jadi. Ada hal yang langsung menyakiti hatiku. Egi, kulihat dia memandang keluar jendela. Bukan memandang pemandangan di luar sana, tapi… bayangan Lia yang terpantul di kaca itu.
Aku seperti kesulitan bernapas. Rasanya marah sekali. Marah pada Lia dan Egi. Tapi, siapa aku?
Aku berbalik dengan kecewa. Aku sadari satu hal. Hal yang sebenarnya terlihat jelas sejak lama: bagi Egi, Lia bukan cuma teman, tapi diam-diam laki-laki pemilik senyum hangat itu mencintainya.
Ngilu. Rasanya ngilu sekali mengetahui perasaan ini tak akan bersambut. Apa bisa kumatikan perasaan ini?!!
Aku… mungkin akan memakan waktu lama: diam-diam mencintainya.
***
~SMA Kelas XII~
Acara kelulusan kami buat sendiri usai pengumuman. Kami lega, kami semua lulus. Kami merayakannya di rumahku. Mereka duduk di ruang tengah sambil menonton MV terbaru boy band favorit kami. Dan aku sibuk membuat nasi goreng plus cemilan berupa gorengan. Sesekali Nana masuk ke dapur menawarkan bantuan.
“Tidak perlu. Sebentar lagi selesai, kok,” tolakku. “Duduk manis dan nonton saja di sana.”
“Oke, Bos!!” ujernya sembari memberi hormat. Ia lalu masuk ke dalam.
Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahnya.
Masakanku telah masak ketika Egi datang.
“Wow…” komentarnya takjub. “Jadi lapar.” Ia cengengesan sembari mengambil satu gorengan dari piring yang kupegang.
Aku tergelak. “Tolong bawakan, ya?”
“Sip!” ujernya ceria.
Kami sama-sama ke dalam dan menikmati nasi goreng yang kubuat.
“Hm… Kau cocok dijadikan calon istri, Ma. Masakanmu enak, beda dengan Lia, hahaha…”
Aku tertawa lebar. Senang karena dipujinya lebih baik dari Lia.
Lia mencibir. “Nasi goreng aku juga bisa.”
“Aku juga,” balas Egi cepat. “Tapi tak seenak ini! Wee…”
Lia manyun.
“Kapan-kapan kau buat lagi, ya?” Egi tersenyum sangat lembut padaku.
Hatiku menghangat…
***
~Perkuliahan Semester 4~
Kami sudah banyak mengenal kata-kata korea dari sebuah grup pecinta korea yang setiap minggunya memberikan pelajaran tersebut. Nana dan aku belajar keras menghapal kata demi katanya.
Lirik lagu kesukaan kami pun kami hapal beserta maknanya. Jadi, ketika ada yang bertanya apa yang kami nyanyikan, kami bisa dengan mudah menjelaskannya.
Kupandangi lirik lagu yang baru kudapat. Soundtrack drama You Are Beautiful. Ada dua lagu yang cocok untuk menggambarkan perasaanku. Pertama ‘Without A Word’, dan kedua ‘What Should I Do?’.
Aku menghela napas sembari menghidupkan mp3 hpku dan ikut bernyanyi.
“I shouldn’t have done that
I should have ignored it
Like I didn’t see it
Like I couldn’t see it
I shouldn’t have looked at you in the first place
…
Without a word, you made me know love
Without a word, you gave me your love
You made me fill myself with every breath
Then you ran away
Without a word, love left me
Without a word, love tossed me aside
Not knowing what to say
My lips must have been surprised
Because you came without a word
…
…
Without a word, tears start falling down
Without a word, my heart breaks
Without a word, I wait for love
Without a word, I hurt because of love
I zone out, I become a fool
Because I cry just by looking at the sky
…
Without a word, it comes
Without a word, it leaves
Like a fever I’ve had
Maybe all I have to do is hurt for a while
Because in the end,
The only thing that remains are scars…”
Aku menghela napas lagi. Kubalik lembar berikutnya dan mulai menyanyi lagi.
“…
What should I do… What should I do… You’re leaving
What should I do… What should I do… You’re leaving
I love you… I love you… I cry out to you
But you can’t hear me… Because I’m only shouting with my heart
All day long I try to erase you, but you arise in my thoughts again
All day long I try to say goodbye to you, but you arise in my thoughts again
Although you’ve gone to a place where I can’t hold you even if I reach out my hand
I can’t find you, I can only cry
What should I do… What should I do… I can only see you
What should I do… What should I do… I love you
I’m sorry… I’m sorry… Can you hear me
Please return to me… If it isn’t you, I can’t go on
…”
“Tumben lagu sedih?” tanya Egi yang langsung duduk di depanku dan merebut lembaran kertasku. “Lagu di drama yang kita tonton kemarin ya?”
Aku mengangguk.
“Sepertinya Lia dan Nana belum keluar…” gumamnya sambil melihat kea rah kampus Lia dan Nana.
Aku mengangguk. Memang sudah kebiasaan kami kalau jam kuliah sudah berakhir, kami akan menunggu satu sama lain di warung makan ini.
“Sebentar,” ujernya lalu berjalan ke sebelah sana, ke kerumunan mahasiswa yang sedang asyik bermain gitar. Dia kembali dengan satu gitar di tangannya dan menggenjrengnya tak jelas.
“Kita duet, yuk?” ajaknya. “Lagu May I Love You, bagaimana?”
“Tapi…”
“Aku tahu kau hapal.” Potongnya cepat. Dia pun memulai intronya dan menyanyi,
“Muni yollineyo kudega turo-ojyo
Chonnune nan nae saramin gol aratjyo
Nae ape tagawa kugae sugimyo bichin olgul
Chongmal nuni bushige arumdapjo
(The door opens, you come in
I knew it was you
You walk to me and show your face
It is so beautiful)”
Di bait kedua dia melirikku.
Aku menyanyi dengan pelan.
“Wonirinji nachsolchiga a-nhayo sollego itjyo
Nae mamul modu kachyogan kudae…
(It looks familiar, my heart is beating
You have taken my heart…)”
Egi tersenyum dan menyahut.
“Joshimsurobke yaegi hallaeyo yong-ginae bollaeyo
Na onulbuto kudaerul saranghaedo dwelkkayo…
(I will tell you how, I will be brave
May I love you know?”
Kusahut,
“Cho-umin-golyo bunmyonghan nukkin nochige sichi-anhchyo
Sarangi oryo nabwayo kudaeyege nul choh-un gonman julkkeyo
(This is first time, I don’t want to miss it
Love has arrived, I’ll do very best)”
Egi kembali tersenyum hangat. Lalu bersama-sama kami menyanyikan bagian akhir lagu ini.
“Cham ma-nhun ibyol cham ma-nhun nunmul jal kyondyonaetkiye
Chom nujo-optjiman kudaerul manage dwennabwayo chigum nae-ape anjun saramul
Saranghaedo dwelkkayo
Togun-gorinun manure
Kudaeyege nul choh-un gonman julkkeyo
Naega kudaerul saranghaedo dwelkkayo
(There were so many cries and tears
But I finally met you
May I love you?
This is my first time
I don’t want miss it
May I love you?)”
Pengunjung di warung bertepuk tangan meski tidak tahu lagi apa yang kami nyanyikan.
“Kalian cocok jadi penyanyi duet,” ujer salah satunya.
“Iya. Mungkin bisa mengalahkan pasangan duet terkenal saat ini,” tambah yang lain. Semua tergelak.
Kami berdua cuma bisa tersenyum.
“Hey! Kalau aku menikah nanti, di resepsiku kamu jadi penyanyinya, ya?”
“Umm… tergantung,” jawabku.
“Tergantung apanya?”
“Tergantung siapa calonmu, hehe…”
Egi tersenyum lalu memandang langit di luar sana. “Benar juga. Kira-kira nanti aku menikah dengan siapa, ya?”
Aku memandangnya. Apa boleh aku berdoa kalau orang yang kau nikahi nanti adalah aku, Gi?
Egi masih memandang langit. Hanya angin yang diam-diam menghibur hatiku.
***
~Perkuliahan Semester 5~
Gundukan di depanku belum kering dan tangisku belumlah pecah dengan sempurna. Tapi… ibu justru memilih menyusulnya. Menyusul ayah yang lebih dulu meninggalkanku. Beliau meninggal seminggu lebih dulu.
Aku menarik napas dalam. Langit cerah yang memayungiku seolah tak peduli akan dukaku ini.
Seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh dan menemukan sosok pemilik senyum hangat yang mengisi hatiku beberapa tahun ini. Dia menatapku dengan lembut. Seolah memintaku untuk kuat.
Aku menelan ludah. Mencoba menahan tangisku agar tak pecah di depannya. Aku tak mau Egi melihatku rapuh.
Semilir angin langsung menggigit hatiku. Nyeri. Mengakibatkan satu butir air mata jatuh ke pipiku.
“Aku belum sempat membahagiakan mereka…” lirihku berat. “Aku belum sempat meminta maaf,” isakku pecah seketika. “Belum sempat membalas kasih sayang mereka selama ini. Aku…”
Egi merangkul bahuku. Menegarkanku. Tapi aku sudah terlanjur rapuh…
“Mereka belum sempat melihat karyaku di terbitkan…” air mataku makin membanjir. “Kenapa mereka malah pergi?” tanyaku sambil terduduk. Tak sanggup menahan duka dan sesal yang bergelayut ini.
Egi tak mengatakan apa-apa. Ia membiarkanku terisak makin keras. Perlahan di sandarkannya kepalaku di pundaknya dan dielusnya dengan lembut. Membuatku merasa nyaman. Juga membuat cinta ini semakin dalam…
***
~Pernikahan Lia~
Dulu aku tak percaya dengan kata-kata ‘Melihatmu sakit, aku pun merasa sakit’. Aku pikir itu bualan yang tak seharusnya dipercayai. Namun, sekarang aku menyadari bahwa aku salah. Melihatnya yang memandang sosok di depan penghulu itu dengan tatapan penuh luka, hatiku jelas sekali terasa sakitnya. Menusuk tajam hingga keseluruh tulang-tulangku.
‘Bahagiamu, bahagiaku juga’ aku jadi percaya kata ini juga.
Rasanya ingin sekali mengulurkan tangan. Mengatakan padanya dengan lantang, ‘Lihatlah! Ada aku yang menyayangimu. Jadi berhentilah mencintainya. Mulailah denganku!’. Namun aku tak bisa. Kata-kata itu hanya sampai di kerongkonganku dan tak pernah berhasil keluar.
Perlahan aku duduk di sampingnya.
“Di sebuah tempat di mana dia berhasil meraihku ketika dia mengulurkan tangan. Di sebuah tempat di mana aku bisa selalu mendengarnya jika dia memanggilku. Aku akan tetap di sana dan tak berubah sedikitpun. Karena aku mencintainya. Karena aku seorang yang bodoh.” Egi menoleh ke arahku. “A Song For A Fool dari Park Sang Woo. Kurasa kata-kata di lagu itu sangat cocok untukmu sekarang.” Kutatap dia, lalu tersenyum. Dan mungkin juga cocok untukku…
Aku kemudian melangkah pergi. Tak sanggup melihat luka yang tergambar jelas di matanya.
***
~Resepsi Pernikahan Lia~
“Kau ada masalah?” tanya Egi tiba-tiba. Apa raut wajahku terlihat sekali tak gembira.
“Kenapa?” kuusahakan tersenyum secerah mungkin.
Egi menggeleng. Aku segera memalingkan wajah. Tak mau melihat dirinya yang terluka lagi. Karena begitu melihatnya terluka, perih di hatiku makin bertambah.
***
~Setahun Setelah Wisuda~
Nana dan Egi tampak murung. Sepertinya mereka tak setuju dengan keputusan yang baru kusampaikan pada mereka.
“Mian… (maaf…),” lirihku.
“Kenapa harus pergi?” tanya Nana. Ini untuk ketiga kalinya dia mengulang pertanyaan itu.
“Sudah kukatakan, di sana lebih dekat dengan abangku. Lagipula lebih cepat untukku ke Jakarta jika harus mengurus novelku lagi, kan?”
“Tapi-”
“Kita masih bisa telpon-telponan kok,” sambarku cepat.
“Lia lebih dulu pergi. Sekarang kau. Mungkin nanti Nana juga. Hh…tinggal aku saja yang di sini nantinya.” Keluh Egi dengan wajah muram.
Aku pergi juga karenamu, Gi! Pergi karena tidak kuat dengan sikapmu yang terus memikirkan Lia!!
“Ah… nonton bareng tidak akan seru lagi!!” gerutu Nana.
“Maaf…” lirihku.
“Jadi kapan kau berangkat?” tanya Egi akhirnya.
“Mm… besok…” jawabku lambat. Takut mereka marah.
“Aish… kenapa baru sekarang mengatakannya? Setidaknya… setidaknya kau memberi kami kesempatan untuk membuat kejutan atau acara perpisahan kan?”
Aku menggeleng pelan. “Malam ini sudah cukup. Kenangan bahagia selama berteman dengan kalian sudah banyak. Lagipula aku pasti kemari mengunjungi kalian.”
“Janji?” pinta Nana.
Aku mengangguk pasti.
***
~Di Bandara, saat perpisahan tiba~
“Jangan lupa sering-sering hubungi kami di sini,” bisik Nana sambil menyeka air matanya. Tak kusangka anak yang ceria ini cengeng juga.
Aku mengangguk sambil tersenyum padanya.
“Jaga kesehatanmu,” nasehat Egi. Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk.
“Aku pasti merindukanmu,” bisik Egi dan berhasil membuat pertahananku runtuh.
“Jangan menangis lagi!” tegurnya sambil memberiku sapu tangannya.
“Gara-gara siapa coba!” protesku. Dielusnya kepalaku dengan sayang.
“Sampai jumpa…” bisiknya pelan. Membuatku mengangguk lemah.
Aku melambai dan melangkah mundur sambil menatap mereka. Mereka membalas lambaianku sambil berusaha menyuguhkan senyum hangat mereka. Segera kuhentikan langkahku. Perlahan kunaikkan kedua tanganku ke atas kepalaku dan menyatukan jari-jarinya. “Saranghae… (Aku mencintai kalian…)” bisikku.
Egi dan Nana membalas dengan gerakan yang sama.
Mungkin buatmu itu cuma ‘cinta’ sebagai seorang teman, Gi…
Kemudian aku pergi…
TBC
oleh Imah Hyun Ae
Chapter 9
My Secret Love
~Ima~
Kulihat jam warna perak campur pink di pergelangan tangan kiriku. Kalau tak ada gangguan, sebentar lagi mereka datang.
Aku menghela napas.
Bagaimana aku harus bersikap? Ternyata cinta itu masih untuknya. Apa yang harus aku lakukan? Masih bisakah aku tersenyum biasa seperti dulu? Aku terlalu gugup untuk bertemu dengannya lagi. Terlalu takut jika melihat pandangan penuh kasihnya masih untuk… Lia.
Aku menghela napas. Bayang-bayang masa lalu itu kembali hadir.
***
~SMA kelas X Semester 2~
Aku belum lama mengenalnya. Baru sekitar lima bulan. Dia sahabat Lia dari kecil. ‘Laki-laki aneh’, itu kesan pertamaku padanya. Ya… karena melihat dia yang begitu antusias terhadap hal-hal berbau korea. Menangis diam-diam saat drama itu menampilkan adegan sedih. Ikutan heboh, tak kalah hebohnya dengan kami yang terlalu menghayati adegan di drama tersebut.
Nana, sahabat baruku juga. Dan dia sudah menjadi sahabat Lia sejak SMP, tak masuk hari ini. Jadilah aku pulang sendirian.
Sambil melangkah mundur, aku melambai pada Lia dan Egi. Mereka membalas lambaianku.
“Hati-ha—” kata-kata Lia tak selesai karena saat itu kakiku mengenai batu. Aku jatuh. Kurasai kaki kananku sakit.
“Tidak apa-apa?” Lia menatap cemas saat melihatku meringis. Kupegangi pergelangan kakiku.
Lia dan Egi membantuku berdiri.
“Thanks…” ucapku sambil menahan sakit. Sepertinya kakiku terkilir.
“Masih bisa jalan?”
Aku mengangguk. “Sampai jumpa…” pamitku dan mulai berjalan. Sayangnya di langkah kedua aku limbung. Cepat Egi menyambutku.
“Sepertinya kau terkilir,” gumamnya. “Mau ke rumah sakit?”
Aku menggeleng. “Ayahku bisa memijatnya kok.”
“Oh…” Di pandangnya aku sesaat.
Deg!
Ada perasaan lain di dadaku. Apa ini?
“Biar kupapah,” katanya sambil melingkarkan tanganku di bahunya. Di tatapnya Lia. “Kau pulang saja dulu. Ima biar aku yang antar.”
Lia tampak mengangguk.
Sambil berjalan kulirik dia. Wangi farfumnya membuat hatiku terasa hangat. Aneh…
Mendadak dia menoleh ke arahku. Aku terkejut, sekaligus salah tingkah.
“Jangan merasa tidak enak. Kita kan teman?” ujernya. Dia tersenyum hangat padaku.
Deg!
Jantungku berdetak aneh lagi. Kenapa bisa?
Di bus, dia duduk di sampingku.
“Masih sakit?” tanyanya cemas.
Aku mengangguk tanpa berani memandangnya.
----
Bus berhenti. Egi melangkah lebih dulu. Tepat did ala pintu keluar dia berhenti lalu berjongkok membelakangiku.
“Kenapa?” tanyaku bingung.
“Biar kugendong. Kakimu semakin parah kalau kau paksa berjalan lagi,” ujernya.
“Tapi…”
“Cepatlah. Orang di belakang sudah menunggu,” ucapnya.
Aku menoleh ke belakang. Memang benar, ada beberapa orang yang menunggu.
“Maaf,” ujerku tak enak pada mereka.
Segera aku melingkah tanganku di leher Egi. Jantungku berdetak semakin cepat. Perlahan dia berjalan. Aroma minyak rambut yang dia pakai tercium. Jantungku kembali tak berdetak dengan tenang.
“Rumahmu di mana?” ujernya tiba-tiba.
“EH? Di… Di sebelah sini,” kutunjuk jalanan sebelah kiri dengan gugup.
Hff…. Kenapa denganku? Kenapa… aku ingin… jalan ini tak pernah berujung? Kenapa… aku ingin di belakangnya seperti ini… lebih lama lagi? Apa… aku jatuh cinta? Pada Egi?
“Yang mana rumahmu?”
“EH?” aduh… lagi-lagi mengagetkanku.
“Hmf… kau melamun ya?” tanyanya sambil tertawa geli.
“Hehe… yang itu rumahku,” kataku malu.
Dipencetnya bel rumahku. Tak lama kemudian pintu di buka. Ibuku kaget melihatku di gendong.
“Kau kenapa?” tanyanya sambil mempersilahkan Egi masuk.
“Tadi tergelincir,” kataku saat Egi meurunkanku di kursi.
“Ya ampun.. Bagaimana bisa?” tanya ibu lagi.
Aku meringis.
“Aku pulang ya? Sepertinya hari mau hujan…” pinta Egi.
“Tidak istirahat dulu?”
Egi menggeleng.
Aku menghela napas kecewa. Aku tidak ingin dia pergi.
“Sebaiknya kau obati kakimu. Sampai jumpa,” pamitnya.
Aku mengangguk lemah. “Terima kasih sudah mengantarku,” ucapku tulus.
Dia tersenyum hangat. “Jangan sungkan begitu.”
Hfff… wajahku memanas lagi…
***
~SMA Kelas XI Semester 1~
Ruang seni yang sepi. Aku berjalan perlahan sambil membawa gitar ke dekat jendela. Angin sepoi masuk dan mengibas-ngibas poniku. Aku menghirup udaranya yang segar dalam-dalam.
Kulihat di lapangan ada sekelompok siswa bermain basket. Adakah Egi di sana? Aku melongokan kepalaku agar lebih jelas melihat. Tidak ada.
Kuraih lembaran kertas di saku bajuku. Lirik lagu Perhaps Love, ost. Drama korea Princess Hours, kesukaan kami.
Aku mulai menggenjreng gitar.
“…
Is it love? If you feel the same way, is it a beginning?
My heart keep saying it loves you
…”
Bayangan Egi menari-nari di benakku. Membuatku berhenti menggenjreng gitar.
“Kenapa berhenti?” seseorang menegurku dan mengambil lembaran kertas laguku.
Deg!
Jantungku berpacu cepat saat tahu siapa dia. Egi.
“Biar ku coba,” matanya berbinar gembira. Diambilnya gitar di tanganku dan mulai mencoba lagu tersebut. Pertama-tama dia bergumam. Saat dapat nada yang pas, dia memintaku bernyanyi mengiringinya.
“Suaraku jelek,” tolakku malu.
“Tidak apa-apa,” ujernya sambil memainkan intro. Mau tidak mau aku bernyanyi.
Sambil bergitar dia pun ikut bernyanyi. Sesekali dia tersenyum sambil menatapku.
Satu pintaku pada-Mu Tuhan, Mohon hentikan waktu… Aku ingin terhenti di menit ini bersamanya…
Namun detik terus berjalan…
***
~SMA Kelas XI Semester 2, awal-awal musim hujan~
Hujan turun dengan lebat tanpa diduga pagi ini. Aku dan Rima sama sekali tidak membawa payung. Gara-gara itulah kami terburu-buru berlari menuju koridor. Sampai-sampai aku tidak sadar dengan keadaan tasku yang terbuka.
“Ima~!!! Bukumu!!!” teriak seseorang di belakangku. Aku yang sudah di koridor segera berbalik. Kulihat buku-bukuku tercecer. Egi tampak sedang mengambilkan bukuku. Segera aku berlari mendekat.
“A~ Thanks…” ucapku lalu memunguti bukuku juga.
“Sepertinya tasmu minta ganti,” ujer cowok yang berada di bawah payung yang Lia pegang.
Aku mengangguk meski kurasai hatiku tidak terima dengan sikap Lia pada Egi itu. Hey!! Apa aku cemburu?
Egi menyerahkan bukuku.
“Makasih…”
Dia menjawab dengan gumaman sambil mengeluarkan isi tasnya. Lalu diserahkannya tasnya padaku. “Pakai tasku saja,” ucapnya ringan.
Dadaku menghangat… “Tapi…”
“Pakai saja.” Paksanya sembari tersenyum hangat.
Aku merasa wajahku memanas. “Thanks…”
Dia tersenyum lagi. “Jangan sungkan.”
“Sini. Biar kupegang payungmu,” tawarku saat kulihat Lia mau menawarkan bantuan padanya yang tampak kesulitan memegang buku dan payungnya.
“Thank you…” diserahkannya payungnya padaku. Lantas bersama-sama kami menuju koridor. Biarkan aku lebih dekat dengannya, Ya, batinku.
***
~Kelas XI SMA Semester 2, akhir bulan Mei~
Hujan turun saat pulang sekolah dan lagi-lagi aku lupa bawa payung. Aku berencana pinjam punya Egi, namun batal saat kudengar permbicaraan Egi yang lupa membawa payung juga. Pulang sekolah ini kami mau nonton bareng di rumah Lia.
Sambil bernaung di bawah payung Nana aku melangkah. Kami masuk ke bus dan duduk di kursi nomor tiga dari belakang. Sedang Lia dan Egi dapat kursi di paling belakang.
Bus perlahan melaju.
Aku mau menawarkan cemilanku ke Egi dan Lia di belakang, tapi tidak jadi. Ada hal yang langsung menyakiti hatiku. Egi, kulihat dia memandang keluar jendela. Bukan memandang pemandangan di luar sana, tapi… bayangan Lia yang terpantul di kaca itu.
Aku seperti kesulitan bernapas. Rasanya marah sekali. Marah pada Lia dan Egi. Tapi, siapa aku?
Aku berbalik dengan kecewa. Aku sadari satu hal. Hal yang sebenarnya terlihat jelas sejak lama: bagi Egi, Lia bukan cuma teman, tapi diam-diam laki-laki pemilik senyum hangat itu mencintainya.
Ngilu. Rasanya ngilu sekali mengetahui perasaan ini tak akan bersambut. Apa bisa kumatikan perasaan ini?!!
Aku… mungkin akan memakan waktu lama: diam-diam mencintainya.
***
~SMA Kelas XII~
Acara kelulusan kami buat sendiri usai pengumuman. Kami lega, kami semua lulus. Kami merayakannya di rumahku. Mereka duduk di ruang tengah sambil menonton MV terbaru boy band favorit kami. Dan aku sibuk membuat nasi goreng plus cemilan berupa gorengan. Sesekali Nana masuk ke dapur menawarkan bantuan.
“Tidak perlu. Sebentar lagi selesai, kok,” tolakku. “Duduk manis dan nonton saja di sana.”
“Oke, Bos!!” ujernya sembari memberi hormat. Ia lalu masuk ke dalam.
Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahnya.
Masakanku telah masak ketika Egi datang.
“Wow…” komentarnya takjub. “Jadi lapar.” Ia cengengesan sembari mengambil satu gorengan dari piring yang kupegang.
Aku tergelak. “Tolong bawakan, ya?”
“Sip!” ujernya ceria.
Kami sama-sama ke dalam dan menikmati nasi goreng yang kubuat.
“Hm… Kau cocok dijadikan calon istri, Ma. Masakanmu enak, beda dengan Lia, hahaha…”
Aku tertawa lebar. Senang karena dipujinya lebih baik dari Lia.
Lia mencibir. “Nasi goreng aku juga bisa.”
“Aku juga,” balas Egi cepat. “Tapi tak seenak ini! Wee…”
Lia manyun.
“Kapan-kapan kau buat lagi, ya?” Egi tersenyum sangat lembut padaku.
Hatiku menghangat…
***
~Perkuliahan Semester 4~
Kami sudah banyak mengenal kata-kata korea dari sebuah grup pecinta korea yang setiap minggunya memberikan pelajaran tersebut. Nana dan aku belajar keras menghapal kata demi katanya.
Lirik lagu kesukaan kami pun kami hapal beserta maknanya. Jadi, ketika ada yang bertanya apa yang kami nyanyikan, kami bisa dengan mudah menjelaskannya.
Kupandangi lirik lagu yang baru kudapat. Soundtrack drama You Are Beautiful. Ada dua lagu yang cocok untuk menggambarkan perasaanku. Pertama ‘Without A Word’, dan kedua ‘What Should I Do?’.
Aku menghela napas sembari menghidupkan mp3 hpku dan ikut bernyanyi.
“I shouldn’t have done that
I should have ignored it
Like I didn’t see it
Like I couldn’t see it
I shouldn’t have looked at you in the first place
…
Without a word, you made me know love
Without a word, you gave me your love
You made me fill myself with every breath
Then you ran away
Without a word, love left me
Without a word, love tossed me aside
Not knowing what to say
My lips must have been surprised
Because you came without a word
…
…
Without a word, tears start falling down
Without a word, my heart breaks
Without a word, I wait for love
Without a word, I hurt because of love
I zone out, I become a fool
Because I cry just by looking at the sky
…
Without a word, it comes
Without a word, it leaves
Like a fever I’ve had
Maybe all I have to do is hurt for a while
Because in the end,
The only thing that remains are scars…”
Aku menghela napas lagi. Kubalik lembar berikutnya dan mulai menyanyi lagi.
“…
What should I do… What should I do… You’re leaving
What should I do… What should I do… You’re leaving
I love you… I love you… I cry out to you
But you can’t hear me… Because I’m only shouting with my heart
All day long I try to erase you, but you arise in my thoughts again
All day long I try to say goodbye to you, but you arise in my thoughts again
Although you’ve gone to a place where I can’t hold you even if I reach out my hand
I can’t find you, I can only cry
What should I do… What should I do… I can only see you
What should I do… What should I do… I love you
I’m sorry… I’m sorry… Can you hear me
Please return to me… If it isn’t you, I can’t go on
…”
“Tumben lagu sedih?” tanya Egi yang langsung duduk di depanku dan merebut lembaran kertasku. “Lagu di drama yang kita tonton kemarin ya?”
Aku mengangguk.
“Sepertinya Lia dan Nana belum keluar…” gumamnya sambil melihat kea rah kampus Lia dan Nana.
Aku mengangguk. Memang sudah kebiasaan kami kalau jam kuliah sudah berakhir, kami akan menunggu satu sama lain di warung makan ini.
“Sebentar,” ujernya lalu berjalan ke sebelah sana, ke kerumunan mahasiswa yang sedang asyik bermain gitar. Dia kembali dengan satu gitar di tangannya dan menggenjrengnya tak jelas.
“Kita duet, yuk?” ajaknya. “Lagu May I Love You, bagaimana?”
“Tapi…”
“Aku tahu kau hapal.” Potongnya cepat. Dia pun memulai intronya dan menyanyi,
“Muni yollineyo kudega turo-ojyo
Chonnune nan nae saramin gol aratjyo
Nae ape tagawa kugae sugimyo bichin olgul
Chongmal nuni bushige arumdapjo
(The door opens, you come in
I knew it was you
You walk to me and show your face
It is so beautiful)”
Di bait kedua dia melirikku.
Aku menyanyi dengan pelan.
“Wonirinji nachsolchiga a-nhayo sollego itjyo
Nae mamul modu kachyogan kudae…
(It looks familiar, my heart is beating
You have taken my heart…)”
Egi tersenyum dan menyahut.
“Joshimsurobke yaegi hallaeyo yong-ginae bollaeyo
Na onulbuto kudaerul saranghaedo dwelkkayo…
(I will tell you how, I will be brave
May I love you know?”
Kusahut,
“Cho-umin-golyo bunmyonghan nukkin nochige sichi-anhchyo
Sarangi oryo nabwayo kudaeyege nul choh-un gonman julkkeyo
(This is first time, I don’t want to miss it
Love has arrived, I’ll do very best)”
Egi kembali tersenyum hangat. Lalu bersama-sama kami menyanyikan bagian akhir lagu ini.
“Cham ma-nhun ibyol cham ma-nhun nunmul jal kyondyonaetkiye
Chom nujo-optjiman kudaerul manage dwennabwayo chigum nae-ape anjun saramul
Saranghaedo dwelkkayo
Togun-gorinun manure
Kudaeyege nul choh-un gonman julkkeyo
Naega kudaerul saranghaedo dwelkkayo
(There were so many cries and tears
But I finally met you
May I love you?
This is my first time
I don’t want miss it
May I love you?)”
Pengunjung di warung bertepuk tangan meski tidak tahu lagi apa yang kami nyanyikan.
“Kalian cocok jadi penyanyi duet,” ujer salah satunya.
“Iya. Mungkin bisa mengalahkan pasangan duet terkenal saat ini,” tambah yang lain. Semua tergelak.
Kami berdua cuma bisa tersenyum.
“Hey! Kalau aku menikah nanti, di resepsiku kamu jadi penyanyinya, ya?”
“Umm… tergantung,” jawabku.
“Tergantung apanya?”
“Tergantung siapa calonmu, hehe…”
Egi tersenyum lalu memandang langit di luar sana. “Benar juga. Kira-kira nanti aku menikah dengan siapa, ya?”
Aku memandangnya. Apa boleh aku berdoa kalau orang yang kau nikahi nanti adalah aku, Gi?
Egi masih memandang langit. Hanya angin yang diam-diam menghibur hatiku.
***
~Perkuliahan Semester 5~
Gundukan di depanku belum kering dan tangisku belumlah pecah dengan sempurna. Tapi… ibu justru memilih menyusulnya. Menyusul ayah yang lebih dulu meninggalkanku. Beliau meninggal seminggu lebih dulu.
Aku menarik napas dalam. Langit cerah yang memayungiku seolah tak peduli akan dukaku ini.
Seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh dan menemukan sosok pemilik senyum hangat yang mengisi hatiku beberapa tahun ini. Dia menatapku dengan lembut. Seolah memintaku untuk kuat.
Aku menelan ludah. Mencoba menahan tangisku agar tak pecah di depannya. Aku tak mau Egi melihatku rapuh.
Semilir angin langsung menggigit hatiku. Nyeri. Mengakibatkan satu butir air mata jatuh ke pipiku.
“Aku belum sempat membahagiakan mereka…” lirihku berat. “Aku belum sempat meminta maaf,” isakku pecah seketika. “Belum sempat membalas kasih sayang mereka selama ini. Aku…”
Egi merangkul bahuku. Menegarkanku. Tapi aku sudah terlanjur rapuh…
“Mereka belum sempat melihat karyaku di terbitkan…” air mataku makin membanjir. “Kenapa mereka malah pergi?” tanyaku sambil terduduk. Tak sanggup menahan duka dan sesal yang bergelayut ini.
Egi tak mengatakan apa-apa. Ia membiarkanku terisak makin keras. Perlahan di sandarkannya kepalaku di pundaknya dan dielusnya dengan lembut. Membuatku merasa nyaman. Juga membuat cinta ini semakin dalam…
***
~Pernikahan Lia~
Dulu aku tak percaya dengan kata-kata ‘Melihatmu sakit, aku pun merasa sakit’. Aku pikir itu bualan yang tak seharusnya dipercayai. Namun, sekarang aku menyadari bahwa aku salah. Melihatnya yang memandang sosok di depan penghulu itu dengan tatapan penuh luka, hatiku jelas sekali terasa sakitnya. Menusuk tajam hingga keseluruh tulang-tulangku.
‘Bahagiamu, bahagiaku juga’ aku jadi percaya kata ini juga.
Rasanya ingin sekali mengulurkan tangan. Mengatakan padanya dengan lantang, ‘Lihatlah! Ada aku yang menyayangimu. Jadi berhentilah mencintainya. Mulailah denganku!’. Namun aku tak bisa. Kata-kata itu hanya sampai di kerongkonganku dan tak pernah berhasil keluar.
Perlahan aku duduk di sampingnya.
“Di sebuah tempat di mana dia berhasil meraihku ketika dia mengulurkan tangan. Di sebuah tempat di mana aku bisa selalu mendengarnya jika dia memanggilku. Aku akan tetap di sana dan tak berubah sedikitpun. Karena aku mencintainya. Karena aku seorang yang bodoh.” Egi menoleh ke arahku. “A Song For A Fool dari Park Sang Woo. Kurasa kata-kata di lagu itu sangat cocok untukmu sekarang.” Kutatap dia, lalu tersenyum. Dan mungkin juga cocok untukku…
Aku kemudian melangkah pergi. Tak sanggup melihat luka yang tergambar jelas di matanya.
***
~Resepsi Pernikahan Lia~
“Kau ada masalah?” tanya Egi tiba-tiba. Apa raut wajahku terlihat sekali tak gembira.
“Kenapa?” kuusahakan tersenyum secerah mungkin.
Egi menggeleng. Aku segera memalingkan wajah. Tak mau melihat dirinya yang terluka lagi. Karena begitu melihatnya terluka, perih di hatiku makin bertambah.
***
~Setahun Setelah Wisuda~
Nana dan Egi tampak murung. Sepertinya mereka tak setuju dengan keputusan yang baru kusampaikan pada mereka.
“Mian… (maaf…),” lirihku.
“Kenapa harus pergi?” tanya Nana. Ini untuk ketiga kalinya dia mengulang pertanyaan itu.
“Sudah kukatakan, di sana lebih dekat dengan abangku. Lagipula lebih cepat untukku ke Jakarta jika harus mengurus novelku lagi, kan?”
“Tapi-”
“Kita masih bisa telpon-telponan kok,” sambarku cepat.
“Lia lebih dulu pergi. Sekarang kau. Mungkin nanti Nana juga. Hh…tinggal aku saja yang di sini nantinya.” Keluh Egi dengan wajah muram.
Aku pergi juga karenamu, Gi! Pergi karena tidak kuat dengan sikapmu yang terus memikirkan Lia!!
“Ah… nonton bareng tidak akan seru lagi!!” gerutu Nana.
“Maaf…” lirihku.
“Jadi kapan kau berangkat?” tanya Egi akhirnya.
“Mm… besok…” jawabku lambat. Takut mereka marah.
“Aish… kenapa baru sekarang mengatakannya? Setidaknya… setidaknya kau memberi kami kesempatan untuk membuat kejutan atau acara perpisahan kan?”
Aku menggeleng pelan. “Malam ini sudah cukup. Kenangan bahagia selama berteman dengan kalian sudah banyak. Lagipula aku pasti kemari mengunjungi kalian.”
“Janji?” pinta Nana.
Aku mengangguk pasti.
***
~Di Bandara, saat perpisahan tiba~
“Jangan lupa sering-sering hubungi kami di sini,” bisik Nana sambil menyeka air matanya. Tak kusangka anak yang ceria ini cengeng juga.
Aku mengangguk sambil tersenyum padanya.
“Jaga kesehatanmu,” nasehat Egi. Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk.
“Aku pasti merindukanmu,” bisik Egi dan berhasil membuat pertahananku runtuh.
“Jangan menangis lagi!” tegurnya sambil memberiku sapu tangannya.
“Gara-gara siapa coba!” protesku. Dielusnya kepalaku dengan sayang.
“Sampai jumpa…” bisiknya pelan. Membuatku mengangguk lemah.
Aku melambai dan melangkah mundur sambil menatap mereka. Mereka membalas lambaianku sambil berusaha menyuguhkan senyum hangat mereka. Segera kuhentikan langkahku. Perlahan kunaikkan kedua tanganku ke atas kepalaku dan menyatukan jari-jarinya. “Saranghae… (Aku mencintai kalian…)” bisikku.
Egi dan Nana membalas dengan gerakan yang sama.
Mungkin buatmu itu cuma ‘cinta’ sebagai seorang teman, Gi…
Kemudian aku pergi…
TBC
Love Ya!!! chapter 8
Love Ya!!!
oleh Imah Hyun Ae
Chapter 8
Kata-kata Indah
~Ima~
Langit masih penuh dengan awan, tapi gerbang berwarna kuning dan merah bata itu tetap saja berdiri angkuh menghalangi para siswa yang terlambat di luar sana. Keadaan yang sama dengan hari sabtu sebelumnya. Mungkin siswanya agak malas masuk hari ini lantaran hari sabtu ini hari khusus untuk siswa menyalurkan minat dan hobinya. Lebih tepatnya hari khusus untuk ektrakurikuler.
Ada banyak bidang ditawarkan pada hari ini, yaitu: semua pelajaran UN, komputer, debat bahasa inggris, kelas bahasa Jerman, kelas tari, drama, sepak bola, volley, basket, tennis, dan kepenulisan. Tapi, kalau ada remedial di hari ini, maka diwajibkan mengikuti remedial. Karena kadang-kadang, hari ini juga digunakan untuk meremedial siswa yang nilainya rendah.
Kulihat dua belas siswa sedang diceramahi Bu Eni, guru yang paling hobi melakukan hal itu di SMA ini.
Perlahan aku melewati selasar. Lapangan upacara menyambutku. Kali ini bukan rumput hijau yang kulihat. Lapangan ini sudah berganti dengan warna abu-abu yang tidak terlalu memikat hati.
Aku berbelok ke ruang kantor dan duduk di bangkuku. Mengambil beberapa buku tulis yang kuperlukan untuk kelas ektrakurikuler yang kupegang.
Murid yang ada di kelas yang kupegang ini ada 11 orang. Jumlah yang sedikit tapi ini jauh lebih baik. Tujuh di antaranya siswa-siswi kelas XI dan empat lagi siswa-siswi kelas X. Siswa kelas XII diwajibkan mengambil salah-satu mata pelajaran UN sebagai ektrakurikuler mereka. Terutama mata pelajaran yang kurang mereka kuasai.
Dengan langkah pasti aku menuju kelas X-E yang ada di ujung kiri bangunan sekolah.
“Pagi semua!!!” sapaku girang.
“Pagi, Kak!!!” sahut muridku dengan senyum senang. Dan aku sengaja meminta mereka memanggilku ‘kakak’ untuk kelas ini. Karena aku merasa masih belum pantas dipanggil guru walau sudah setahun memegang kelas kepenulisan ini.
Aku menaruh buku dan berdiri di depan mereka, bersandar pada meja. Kusapukan pandanganku ke seluruh penjuru kelas. “Senang rasanya kalian semua hadir lagi di kelas ini.”
Sebelas siswa-siswiku ini tersenyum lebar.
“Bagaimana dengan tugas yang Kakak beri? Sudah kalian kerjakan?”
“Belum!!” sahut seorang siswi berponi dengan rambut sebahu.
“Kok belum, An?” tanyaku pada siswi itu.
“Bingung mengembangkannya seperti apa, Kak.” Jelas Anna lagi.
Minggu kemarin aku memberi tugas pada mereka untuk mencari kata-kata indah di lagu yang mereka suka. Lalu mengembangkannya menjadi sebuah cerita pendek dengan imajinasi mereka sendiri. Minimal hanya selembar kertas. Kalau bisa sih lagunya lagu korea. Karena aku sangat menyukai lirik lagu dari Negara gingseng itu, hihihi….
Kupandangi penghuni kelas kepenulisan satu per satu.
“Tapi, sudah dapat kata-kata indah itu, kan?”
“Sudah…” koor mereka serempak.
Aku tersenyum melihat mereka yang seperti itu. “Baiklah. Coba sebutkan judul lagu dan siapa penyanyinya. Lalu sampaikan pada yang lain apa maksud dari keseluruhan lagu itu, dan setelah itu baru katakana kata-kata yang indah di lagu itu!” pintaku semangat.
“Hmm… biar adil, Kakak duluan, deh.” Semua mengangguk semangat. Tampak mereka antusias sekali.
Senyumku kian lebar. “Banyak lagu yang Kakak sukai sebenarnya. Tapi, yang lagi Kakak suka saat ini adalah Can’t Let You Go Even If I Die. Kalau dalam bahasa korea judulnya Jugodo Mot Bonae. Lagu ini dinyanyikan oleh grup 2AM dan menceritakan tentang seorang laki-laki yang diputus kekasihnya. Tapi si laki-laki itu tidak mau. Meskipun dia mati dia tetap tidak ingin putus. Kata-kata yang indah di lagu itu menurut Kakak adalah ‘Jika kau begitu ingin pergi, bohongi saja aku. Bilang kita akan bertemu besok. Senyumlah dan bilang sampai jumpa’.”
Rita, gadis berambut kuncir kuda, mengangkat tangannya. “Bisa Kakak nyayikan? Rasanya pernah dengar.”
Aku menggeleng. “Suara Kakak jelek. Dengarkan dari HP saja ya?” kukeluarkan HPku dan memainkan lagu tersebut. Kudapati mata mereka berbinar.
“Wow…” desis Angga, siswa berwajah oriental yang selalu terlihat stylist.
“Bagus kan?” aku meminta pembenaran dari mereka.
Semuanya tersenyum dan mengangguk mantap.
“Baiklah… sekarang giliran kalian. Hm, mulai dari siapa ya….” Kulihat mereka yang tampak gugup. Hanya satu anak yang antusias ingin ditunjuk. Annisa.
“Ya sudah. Kamu Annisa…”
Anak itu tersenyum lebar. “Judul lagunya After Love dari band FT. Island. Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang dibohongi kekasihnya. Dia percaya dengan cinta kekasihnya tapi ternyata semua itu dusta. Namun, meski didustai seperti itu, dia tetap bersedia menunggu kekasihnya. Berharap suatu saat kekasihnya kembali lagi padanya.”
Aku mengangguk cepat. Tahu benar lagu itu lagu yang mana.
“Kalimat yang indah menurutku, ‘Kau mengambil seluruh hatiku, mengambil semua cintaku, bahkan sesudah kau pergi meninggalkanku’.”
Aku bertepuk tangan. “Itu salah satu lagu yang kakak suka. Nah, berdasarkan inti cerita dan kalimat indah itu, kamu bisa berimajinasi. Sesuka kamu. Bayangkan kenapa kekasihnya bisa berdusta. Bayangkan kenapa seseorang itu begitu setia. Ungkapkan saja dengan bahasa kalian. Jangan memikirkan jelek atau lainnya. Yang paling penting, tulis saja apa yang ingin kalian tulis. Paham?”
Mereka mengangguk. Ada beberapa yang masih tampak ragu. “Jangan pernah ragu dengan imajinasi kalian. Okay?”
Mereka mengangguk lagi.
“Baik. Sekarang, coba kamu, Angga.”
“Mm… judul lagunya If Tomorrow Never Comes oleh boyband Boyzone. Menceritakan tentang laki-laki yang jatuh cinta pada seorang wanita. Jika esok hari tak ada akankah orang yang dicintainya tahu perasaannya. Kalimat yang kusuka ‘She is my only love’.”
Aku tersenyum melihat dia mengakhiri pendapatnya tentang lagu itu.
Aku menunjuk sosok di pojok sana, Rina.
“Lagu yang kusuka adalah lagu ‘Marry You’ dari Super Junior. Lagu ini menceritakan seorang laki-laki yang ingin menikahi gadis yang dicintainya. Meski sulit, ia ingin tetap menjaga kekasih hatinya itu. Ia tahu, cintanya kurang cukup, tapi ia akan berusaha menjaga cintanya yang kurang itu. Kata-kata yang indah di lagu itu adalah ‘Sembari mencintaimu meskipun turun hujan dan salju, aku akan menjagamu’.”
“Whoa…” Lagi-lagi salah satu lagu yang kusuka.
“Sekarang, coba kamu Yoga.” Kutunjuk siswi kelas satu yang adem ayem di depanku ini. Dia sedikit gugup ketika kutunjuk. Kulihat tangannya bergetar.
“Lagu ‘Kesendirianku’ dari G2. Lagunya bercerita tentang laki-laki yang sangat mencintai seorang gadis. Lalu suatu hari gadis itu pergi untuk selama-lamanya dari dunianya. ‘Bila harus terpisah, dan tak akan kembali, biar cinta hidupku berahir selamanya…’.”
Kuberikan senyum lembut padanya. “Hm… sekarang giliran siapa lagi ya…”
Banyak yang mengangkat tangan.
“Coba kamu, Siska…” pintaku.
Anak berkaca mata itu pun memulai…
TBC
comment please... ^^
oleh Imah Hyun Ae
Chapter 8
Kata-kata Indah
~Ima~
Langit masih penuh dengan awan, tapi gerbang berwarna kuning dan merah bata itu tetap saja berdiri angkuh menghalangi para siswa yang terlambat di luar sana. Keadaan yang sama dengan hari sabtu sebelumnya. Mungkin siswanya agak malas masuk hari ini lantaran hari sabtu ini hari khusus untuk siswa menyalurkan minat dan hobinya. Lebih tepatnya hari khusus untuk ektrakurikuler.
Ada banyak bidang ditawarkan pada hari ini, yaitu: semua pelajaran UN, komputer, debat bahasa inggris, kelas bahasa Jerman, kelas tari, drama, sepak bola, volley, basket, tennis, dan kepenulisan. Tapi, kalau ada remedial di hari ini, maka diwajibkan mengikuti remedial. Karena kadang-kadang, hari ini juga digunakan untuk meremedial siswa yang nilainya rendah.
Kulihat dua belas siswa sedang diceramahi Bu Eni, guru yang paling hobi melakukan hal itu di SMA ini.
Perlahan aku melewati selasar. Lapangan upacara menyambutku. Kali ini bukan rumput hijau yang kulihat. Lapangan ini sudah berganti dengan warna abu-abu yang tidak terlalu memikat hati.
Aku berbelok ke ruang kantor dan duduk di bangkuku. Mengambil beberapa buku tulis yang kuperlukan untuk kelas ektrakurikuler yang kupegang.
Murid yang ada di kelas yang kupegang ini ada 11 orang. Jumlah yang sedikit tapi ini jauh lebih baik. Tujuh di antaranya siswa-siswi kelas XI dan empat lagi siswa-siswi kelas X. Siswa kelas XII diwajibkan mengambil salah-satu mata pelajaran UN sebagai ektrakurikuler mereka. Terutama mata pelajaran yang kurang mereka kuasai.
Dengan langkah pasti aku menuju kelas X-E yang ada di ujung kiri bangunan sekolah.
“Pagi semua!!!” sapaku girang.
“Pagi, Kak!!!” sahut muridku dengan senyum senang. Dan aku sengaja meminta mereka memanggilku ‘kakak’ untuk kelas ini. Karena aku merasa masih belum pantas dipanggil guru walau sudah setahun memegang kelas kepenulisan ini.
Aku menaruh buku dan berdiri di depan mereka, bersandar pada meja. Kusapukan pandanganku ke seluruh penjuru kelas. “Senang rasanya kalian semua hadir lagi di kelas ini.”
Sebelas siswa-siswiku ini tersenyum lebar.
“Bagaimana dengan tugas yang Kakak beri? Sudah kalian kerjakan?”
“Belum!!” sahut seorang siswi berponi dengan rambut sebahu.
“Kok belum, An?” tanyaku pada siswi itu.
“Bingung mengembangkannya seperti apa, Kak.” Jelas Anna lagi.
Minggu kemarin aku memberi tugas pada mereka untuk mencari kata-kata indah di lagu yang mereka suka. Lalu mengembangkannya menjadi sebuah cerita pendek dengan imajinasi mereka sendiri. Minimal hanya selembar kertas. Kalau bisa sih lagunya lagu korea. Karena aku sangat menyukai lirik lagu dari Negara gingseng itu, hihihi….
Kupandangi penghuni kelas kepenulisan satu per satu.
“Tapi, sudah dapat kata-kata indah itu, kan?”
“Sudah…” koor mereka serempak.
Aku tersenyum melihat mereka yang seperti itu. “Baiklah. Coba sebutkan judul lagu dan siapa penyanyinya. Lalu sampaikan pada yang lain apa maksud dari keseluruhan lagu itu, dan setelah itu baru katakana kata-kata yang indah di lagu itu!” pintaku semangat.
“Hmm… biar adil, Kakak duluan, deh.” Semua mengangguk semangat. Tampak mereka antusias sekali.
Senyumku kian lebar. “Banyak lagu yang Kakak sukai sebenarnya. Tapi, yang lagi Kakak suka saat ini adalah Can’t Let You Go Even If I Die. Kalau dalam bahasa korea judulnya Jugodo Mot Bonae. Lagu ini dinyanyikan oleh grup 2AM dan menceritakan tentang seorang laki-laki yang diputus kekasihnya. Tapi si laki-laki itu tidak mau. Meskipun dia mati dia tetap tidak ingin putus. Kata-kata yang indah di lagu itu menurut Kakak adalah ‘Jika kau begitu ingin pergi, bohongi saja aku. Bilang kita akan bertemu besok. Senyumlah dan bilang sampai jumpa’.”
Rita, gadis berambut kuncir kuda, mengangkat tangannya. “Bisa Kakak nyayikan? Rasanya pernah dengar.”
Aku menggeleng. “Suara Kakak jelek. Dengarkan dari HP saja ya?” kukeluarkan HPku dan memainkan lagu tersebut. Kudapati mata mereka berbinar.
“Wow…” desis Angga, siswa berwajah oriental yang selalu terlihat stylist.
“Bagus kan?” aku meminta pembenaran dari mereka.
Semuanya tersenyum dan mengangguk mantap.
“Baiklah… sekarang giliran kalian. Hm, mulai dari siapa ya….” Kulihat mereka yang tampak gugup. Hanya satu anak yang antusias ingin ditunjuk. Annisa.
“Ya sudah. Kamu Annisa…”
Anak itu tersenyum lebar. “Judul lagunya After Love dari band FT. Island. Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang dibohongi kekasihnya. Dia percaya dengan cinta kekasihnya tapi ternyata semua itu dusta. Namun, meski didustai seperti itu, dia tetap bersedia menunggu kekasihnya. Berharap suatu saat kekasihnya kembali lagi padanya.”
Aku mengangguk cepat. Tahu benar lagu itu lagu yang mana.
“Kalimat yang indah menurutku, ‘Kau mengambil seluruh hatiku, mengambil semua cintaku, bahkan sesudah kau pergi meninggalkanku’.”
Aku bertepuk tangan. “Itu salah satu lagu yang kakak suka. Nah, berdasarkan inti cerita dan kalimat indah itu, kamu bisa berimajinasi. Sesuka kamu. Bayangkan kenapa kekasihnya bisa berdusta. Bayangkan kenapa seseorang itu begitu setia. Ungkapkan saja dengan bahasa kalian. Jangan memikirkan jelek atau lainnya. Yang paling penting, tulis saja apa yang ingin kalian tulis. Paham?”
Mereka mengangguk. Ada beberapa yang masih tampak ragu. “Jangan pernah ragu dengan imajinasi kalian. Okay?”
Mereka mengangguk lagi.
“Baik. Sekarang, coba kamu, Angga.”
“Mm… judul lagunya If Tomorrow Never Comes oleh boyband Boyzone. Menceritakan tentang laki-laki yang jatuh cinta pada seorang wanita. Jika esok hari tak ada akankah orang yang dicintainya tahu perasaannya. Kalimat yang kusuka ‘She is my only love’.”
Aku tersenyum melihat dia mengakhiri pendapatnya tentang lagu itu.
Aku menunjuk sosok di pojok sana, Rina.
“Lagu yang kusuka adalah lagu ‘Marry You’ dari Super Junior. Lagu ini menceritakan seorang laki-laki yang ingin menikahi gadis yang dicintainya. Meski sulit, ia ingin tetap menjaga kekasih hatinya itu. Ia tahu, cintanya kurang cukup, tapi ia akan berusaha menjaga cintanya yang kurang itu. Kata-kata yang indah di lagu itu adalah ‘Sembari mencintaimu meskipun turun hujan dan salju, aku akan menjagamu’.”
“Whoa…” Lagi-lagi salah satu lagu yang kusuka.
“Sekarang, coba kamu Yoga.” Kutunjuk siswi kelas satu yang adem ayem di depanku ini. Dia sedikit gugup ketika kutunjuk. Kulihat tangannya bergetar.
“Lagu ‘Kesendirianku’ dari G2. Lagunya bercerita tentang laki-laki yang sangat mencintai seorang gadis. Lalu suatu hari gadis itu pergi untuk selama-lamanya dari dunianya. ‘Bila harus terpisah, dan tak akan kembali, biar cinta hidupku berahir selamanya…’.”
Kuberikan senyum lembut padanya. “Hm… sekarang giliran siapa lagi ya…”
Banyak yang mengangkat tangan.
“Coba kamu, Siska…” pintaku.
Anak berkaca mata itu pun memulai…
TBC
comment please... ^^
Thursday, February 3, 2011
Love Ya!!! chapter 7
Love Ya!!!
by Imah Hyun Ae
Chapter 7
Kisahku…
~Ima~
Aku seolah tahu arah hidupku. Aku lulus SD, SMP, lalu SMA dan masuk ke Perguruan Tinggi. Jadi, jika guru meminta mengatakan cita-cita apakah yang aku punya, maka akan menjawab ‘jadi guru’ dengan entengnya. Atau kadang-kadang, aku ikut-ikutan temanku. Bilang ingin jadi berguna bagi nusa dan bangsa, haha…
Tak pernah terbesit di pikiranku jadi apa aku nanti. Melihat polisi, hatiku tak tergerak. Dokter, aku menggeleng. Perawat? Oh, tidak, terima kasih. Guru? Yah… mungkin ini memang takdirku.
Aku mungkin tak pernah punya cita-cita, yang begitu ingin kuwujudkan. Hingga suatu hari seorang teman di SMP membawa novelette kesukaannya dan memaksaku membacanya. Novelette itu bercerita tentang sebuah liontin. Menarik. Penulisnya berhasil membuatku hanyut dalam alur ceritanya.
“Keren…” komentarku usai membaca cerita itu.
“Hm-mm. Gara-gara cerita tersebut aku jadi ingin membuat cerita juga. Kita sama-sama buat yuk?” ajaknya.
“Eh? Kenapa mengajakku? Aku tidak bisa menulis…” sahutku malu.
“Aku juga tidak bisa. Kita coba sama-sama, ya? Nanti kalau sudah selesai kita tukeran… Kamu baca punya aku, aku baca punyamu, Ok?”
“Mm…” aku berpikir sebentar. “Boleh…”
Wajahnya sumringah.
Dan sejak saat itu aku mulai menulis. Aku lebih sering menyebarkan karyaku yang biasa itu pada teman-temanku. Sedangkan si penggagas ide menulis itu cuma mau memamerkan karyanya padaku. Padahal karyanya jauh lebih indah, menarik, dan bisa dibilang luar biasa untuk ukuran siswa SMP.
Bersamanya, aku pun berburu majalah yang berisi cerpen. Dan saat membaca cerpen yang menurut kami ‘biasa’ saja, kami akan protes. Gara-gara itulah, aku bertekad menjadi penulis terkenal, hehehe…
Baru kutahu, bakat menulis ini menurun dari ayahku. Dan berhenti saat beliau kuliah. Gara-garanya, teman beliau membaca karangan beliau yang belum selesai tanpa ijin.
Dua tahun bergelut di dunia tulis-menulis dan hanya mempublikasikannya dengan teman sekelas, menimbulkan dorongan yang kuat untuk mengirimnya ke majalah. Aku mengirim empat judul ke majalah yang berbeda. Dan enam bulan lamanya tak ada satupun jawaban.
Sedih. Tapi, mungkin bukan takdirku. Aku memutuskan berhenti menulis. Tapi siapa sangka, seolah Tuhan melarangku, suatu hari Pak Pos mengatakan ada wesel untukku. Yang ternyata adalah honor dari cerpenku yang di terbitkan salah satu majalah remaja. Haha…
Aku pun kembali berkarya. Kali ini aku membuat novel. Sayangnya, di tolak.
Lia, Egi dan Nana menyemangatiku. Kadang merekalah kuminta memeriksa hasil imajinasiku. Siapa tahu menurut mereka membosankan. Kalau menurut mereka saja begitu, apalagi yang lain? Hehe…
Saat kuliah, aku berkenalan dengan yang namanya Fan Fictions. Berisi cerita fiksi buatan fans di mana tokoh di cerita itu adalah artis idola atau tokoh kartun/novel idola fans tersebut.
Aku mencoba menulis dengan format itu. Dan kupublikasikan di FB. Tidak di sangka banyak yang suka. Dan menurut mereka yang baca, aku lebih bagus kalau menulis sad story, hehehe…
Dan ini cerita yang paling di sukai…
Title: End of Love
Author: Imah Hyun Ae
Cast: Eunhyuk aka Hyuk Jae (Super Junior), Hyun Ae dan Taemin (SHINee)
Disclaimer: imajinasi saya ketika mau bikin cerpen ^^
End Of Love
Kelas gaduh. Para siswa sibuk bercanda dan menggoda pujaan hatinya yang ada di kelas. Sedang para siswi ada yang sibuk bergosip, ada yang mendekati dan mencari perhatian idola mereka, ada pula yang bercanda tidak jelas.
Aku masih nyaman duduk di bangkuku dengan kedua tangan menopang dagu. Tak peduli dengan kegaduhan di sekitarku.
Kulirik Junsu. Dia tampak sedang meluncurkan aksi mempesonanya, membuat siswi yang menggerumbunginya menjerit heboh.
Aku memanyunkan bibirku sembari mengingat bahwa pesona yang kupunya hanya akan kutunjukkan pada seorang gadis yang sudah hampir dua tahun ini mengisi mimpi-mimpi indahku. Dia berhasil merebut hatiku di hari perpisahan SMP dulu. Ah, suaranya sangat indah dan pandai sekali bermain piano.
Sayangnya, aku dan dia beda kelas. Ah… padahal aku ingin memandang sosoknya sepuasku. Sosok anggun dan punya senyum manis itu.
“Boleh pinjam buku paket bahasa inggris salah satu dari kalian?” suara sopan itu membuyarkan lamunanku. Kerumunan di sekitarku menoleh ke sumber suara.
Angin serasa menyapa tubuhku. Lembut dan syahdu. Di depan pintu, berdiri sosok yang tengah kubayangkan sejak tadi, Lee Hyun Ae.
Kulihat beberapa orang bergerak mengambil buku mereka. Sadar, aku segera mencari buku bahasa inggrisku. ‘Ini kesempatan,’ batinku.
Saat aku mendapatkan buku tersebut, seorang teman sekelas sudah menyerahkan buku paketnya pada pujaan hatiku itu. Aku segera berhambur, mendekat. Mengambil buku tersebut dan menyerahkan ke orang itu.
“Punyaku saja,” kataku sambil menyerahkan buku paketku. Dia menerimanya dengan memandnag bingung padaku.
“Gomaweo…” katanya canggung. “Nanti pulang sekolah kukembalikan.”
Aku mengangguk sambil tersenyum lebar. Kebahagiaan tergambar jelas di wajahku. Ini pertama kalinya aku dan dia bicara, hehehe…
Puk!
Seseorang menepuk pundakku keras.
“Apa yang kau lakukan??” teriakku kesal sat melihatnya tersenyum lebar.
“Menyadarkanmu kalau dia sudah pergi.” ujer Junsu santai lalu menyeretku ke lapangan basket. Aku tahu, beberapa siswi di kelas memandang aneh padaku. Mungkin mereka bertanya-tanya, kenapa aku bertingkah seperti tadi. Terserahlah… yang penting aku bahagia sekarang ^___^
***
Aku baru keluar kelas saat sosok Hyun Ae tersenyum menyambutku. Dia mendekat dan menyerahkan buku paket bahasa inggrisku.
“Jeongmal gomaweo, Hyuk Jae-ssi,” ujernya tulus. Hangat menebar di seluruh sel tubuhku.
“N-nde. Chomanayo…” sahutku selembut mungkin. Hebat. Di dekatnya rasanya senyumku tak pernah luntur, hehehe…
“Kalau begitu, aku duluan. Sekali lagi terima kasih…” pamitnya lalu berbalik.
Dia pergi? Aku ingin lebih lama lagi. Hatiku menjerit-jerit gelisah.
“Cha-chankanman… (tu-tunggu…)”
Hyun Ae menghentikan langkahnya dan berbalik. “Nde?”
Aku mendekatinya dengan satu tangan menarik Junsu untuk mengikutiku.
“Boleh sama-sama? Kami juga mau pulang…”
“A~ Nde.”
Kami melangkah bersama. Ah… andai berdua saja pasti lebih indah…
Di depan gerbang tampak Heechul sunbei, Onew, Soo Hyun dan Taemin menunggu. Mereka adalah sahabat Hyun Ae sejak kecil (aku tahu hal ini dari teman yang sekelas dengan mereka dulu).
“Noona!!” Taemin memekik girang dan segera menarik Hyun Ae menjauh dariku. Matanya menyelidikku tajam. Anak ini seolah tahu aku menyimpan rasa pada Hyun Ae.
Seolah tak peduli dengan aku dan Junsu, mereka melangkah ke halte dan naik ke bus.
Soo Hyun dan Onew duduk berdampingan. Sejak kelas satu mereka resmi jadi pasangan kekasih. Heechul memilih duduk di sebelah teman sekelasnya dan Taemin… Dia menyeret Hyun Ae ke belakang. Duduk di bangku terakhir.
Aku mengikuti mereka. Junsu sudah dapat tempat duduk di depan tadi.
“Ya~!” teriak Taemin kesal. “Kenapa mengikuti kami?”
Lihat! Aku baru saja duduk di sebelah Hyun Ae dia sudah sekesal itu. Apa haknya??
“Cuma ini yang kosong. Lihat saja!” komentarku datar.
“Tsk!” dia berdecak kesal.
Kuambil ipodku. “Mau ikut dengar?” tawarku pada Hyun Ae.
“Ah? Boleh. Lagu siapa saja yang kau punya?” Hyun Ae tampak antusias.
“Noona?” Taemin memanggil dengan nada cepat. “Aku dapat lagu baru. Coba dengar! Lagunya asyik lho!” katanya sambil memasang headset ke telinga Hyun Ae.
Ugh, menyebalkan! Anak ini kenapa seolah tidak memberiku kesempatan? Apa Hyun Ae miliknya?! Tidak kan?
“A?? kita tukar tempat dulu,” ujernya lagi.
M-mwo??? Aku melotot padanya saat dia duduk di sampingku. Dia balas melotot padaku tak kalah galak.
Aish… Aku membuang napas keras. Mencoba mengusir kekesalanku.
Bus berjalan.
Hyun Ae tampak asyik sekali bicara dengan Taemin yang lebih muda tiga tahun darinya. Dia baru kelas satu SMA, tergolong cepat untuk anak seusianya.
Mereka tertawa bersama, membuat kekesalanku meningkat.
Dengan santai Taemin bersandar di sandaran kursi lalu….
YA!!! Berani-beraninya dia!! Kenapa dia merebahkan kepalanya di bahu Hyun Ae-ku????
Aku panik sekaligus cemburu. Kulihat Hyun Ae mencubit pipi Taemin sambil tersenyum. Dia menanggapi tingkah anak itu sesantai itu?!
Gigiku bergemelutuk menahan geram. Hari yang semula kukira menyenangkan, berubah sudah. Argh…kenapa anak ini harus ada di dekat Hyun Ae?!! Menyebalkan! Tapi, kenapa Hyun Ae begitu santai menanggapi kelakuannya?
Lihat!! Sekarang si Taemin yang sok imut itu memejamkan matanya. Nyaman sekali dia!!
Kutatap Hyun Ae yang sedang asyik… MERAPIKAN RAMBUT TAEMIN??
Omo!! Jangan-jangan…
***
Hujan deras. Para siswi yang membawa payung sudah berjalan menuju halte. Salah satu dari mereka ada yang menawari Junsu satu payung berdua, Junsu menerima tawaran itu dengan bahagia.
Aku sedang berpikir meminjam payung siapa ketika kulihat Hyun Ae berjalan dengan lesu. Dia membuka payungnya dengan enggan.
Segera aku menghampirinya.
“Anyeong…” sapaku.
“Ah, anyeong, Hyuk Jae-ssi.” Jawabnya kaget. Dia mencoba tersenyum.
“Mana yang lain? Biasanya kalian bersama.” Tegurku saat sadar keempat sahabatnya tidak ada.
“Heechul oppa sedang ada kelas tambahan. Onew dan Soo Hyun sedang kencan.”
“Hujan-hujan begini?” potongku.
Hyun Ae tertawa kecil. “Apa yang kau pikirkan. Mereka sedang kencan di kelas, membahas materi ujian matematika yang akan keluar besok di kelas mereka.” Terangnya.
Aku mengangguk paham. “Lalu Taemin?”
“Minnie?” ulangnya.
O, jadi panggilan kecil anak itu ‘Minnie’?!
Hyun Ae menghela napas berat. “Dia duluan. Katanya menemani temannya mencari buku.”
Kuteliti wajah lesu Hyun Ae. Apa gara-gara Taemin?
“Temannya itu perempuan ya?” tebakku.
“Nde…” lirih Hyun Ae. Pandangannya tertuju pada hujan.
Apa dia sedih? Dia tampak tak bersemangat sekali.
Aku mengambil payungnya dan menariknya ke sampingku.
“Hyuk Jae-ssi?” Ia terkejut dengan perlakuanku.
“Biar aku yang mengantarmu pulang…”
“EH? Tidak perlu. Aku-,”
“Kajja!” potongku cepat. Aku tak mau mendengar dia menolak tawaranku. Kutarik tangannya untuk membuatnya melangkah. Tangan kananku menggenggam tangan kirinya dnegan erat sementara tangan kiriku memegang payung. Agak sulit karena aku harus berusaha agar Hyun Ae tidak basah.
Perlahan Hyun Ae melepas genggaman tanganku. Aku menoleh ke arahnya. Dia tampak pura-pura tak tahu.
Dengan canggung aku memindang genggaman payungku ke tangan kanan. Kami melangkah dalam diam…
***
Tanpa sepatah kata, cinta datang. Tanpa sepatah kata, ia menyapa. Membawa bahagia tanpa diminta. Membuat hari yang biasa-biasa saja jadi istimewa. Merubah hal-hal kecil bisa jadi sitimewa.
Kulihat Hyun Ae tengah serius memilih mana yang bagus dari dua buah kalung yang penjaga toko aksesoris sodorkan pada kami.
“Jadi yang mana?” tanyaku. Hyun Ae menaruh telunjuk nya di dagu. Seolah sedang berpikir keras.
“yang mana?” desakku tak sabar.
“Umm… Ini.” Dia menunjuk kalung dengan liontin lumba-lumba.
“Yang ini, omonim.” Kataku pada penjaga tokonya. Si penjaga itu segera membungkusnya dan menyerahkannya padaku.
Aku bilang pada Hyun Ae sesaat sebelum berangkat kalau aku mau membelikan sesuatu untuk orang yang special bagiku. Dia menemaniku dengan antusias.
Tiba di rumahnya, kuserahkan kalung tersebut. Dia menadnagku penuh Tanya.
“Bukannya…” kata-katanya menggantung.
“Orang special itu adalah kau, Hyun Ae-ah…”
“Eh?”
“Kalau kau menerimaku, pakailah kalung ini. Kapanpun kau mau menerimaku.
“Hyun Jae-ssi, aku-.”
“Aku tak mau dengar jawaban selain kau menerimaku, Hyun Ae-ah.” Kuberikan senyum terbaikku padanya.
“Hyuk Jae-ssi, mia-.”
“Noona!!” panggil seseorang di belakangnya.
Hyun Ae pasti mau bilang, ‘Mianhae, aku tidak bisa.’ Untung saja seseorang memanggilnya.
“Lama sekali! Aku hampir mati bosan menunggu, noona!” lanjut orang yang memanggil Hyun Ae tadi dengan manja.
Aku tak jadi merasa beruntung ketika melihat siapa yang memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan Taemin. Anak ‘kecil’ itu tampak merengut.
“Mianhae, Minnie…” kata Hyun Ae sambil mencubit pipi Taemin yang merengut dengan gemas.
Aku mengehmpaskan napas dengan keras. “Aku pergi dulu. Bye…” pamitku.
“Ah? Nde. Bye…” sahut Hyun Ae canggung.
“Pergi dan jangan pernah mendekati noonaku lagi!” teriaknya padaku.
Aku terus berjalan. Pura-pura tak mendengarnya.
“Noona, aku tak suka melihat noona jalan dengannya!” samar kudengar kalimat itu meluncur di bibir Taemin.
“…”
Aish…
***
Hari terlalu cerah untuk suasana hati seperti ini. Berkali-kali aku menghela napas panjang. Mencoba mengusir ingatan tentang kejadian yang baru saja terjadi. Sayangnya, aku gagal. Kata-katanya itu kembali berkelebat di benakku.
-Flashback-
Hyun Ae dating ke ruang seni, tempat di mana aku sering diam-diam melatih tarianku. Dia dating untuk mengembalikan kalung yang kuberi.
“BUkannya aku bilang akan menunggu sampai kapanpun?”
“Mianhae…” lirihnya.
Aku mendengus kecewa. “Apa sampai kapanpun kau tetap hanya memandang Taemin?”
Hyun Ae tampak terkejut.
“Apa selamanya hanya dia yang kau sukai dan aku selamanya tetap sebagai teman?” kesalku.
“Jongsuhamnida, Hyuk Jae-ssi.” Ia berkata penuh sesal. Seketika dadaku sakit!
Aku membuang muka. Tak ingin memperlihatkan bulir kecewa yang menggenang di mataku. “Setelah lebih dari dua tahun rasa ini ada dan kau tolak begitu saja?!”
“Mian…” lirihnya. Perlahan dia beranjak pergi.
“Apa jika si Taemin itu tidak mengatakan suka padamu…” kata-kataku sukses membuatnya berhenti. “… kau tetap mengembalikan kalung ini padaku?”
“Mianhae…” hanya itu jawabannya. Lantas dia benar-benar pergi.
-End Flashback-
Aku kembali menghempaskan napasku dengan keras. Kemarin saat aku pamit, aku sebenarnya tak benar-benar pergi. Aku bersembunyi, mencuri dengar pembicaraan mereka.
-Flashback-
“Pergi dan jangan pernah mendekati noona-ku lagi!” teriak Taemin padaku ketika aku melangkah pergi meninggalkan rumah Hyun Ae.
Aku terus berjalan. Pura-pura tak mendengarnya.
“Noona, aku tak suka melihat noona jalan dengannya!” samar kudengar kalimat itu meluncur di bibir Taemin.
“Wae? Dia kan temanku?”
Langkahku terhenti. Aku bersembunyi dan mendengarkan pembicaraan mereka.
“Aku tetap tidak suka!”
Hyun Ae tertawa kecil melihat wajah kesal Taemin. “Pasti ada alasannya kan kalau tidak suka?
Taemin manyun. Wajahnya jelas sekali merengut.
“Waeyo?” Tanya Hyun Ae lagi.
“Aku… aku mau noona hanya memandangku!” jujurnya pelan.
Deg! Apa ini pernyataan cinta?
“Nde?” Hyun Ae tampak tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
“Aku… suka noona.” Ucap Taemin lambat. Ia menunduk dalam. “Bukan suka sebagai adik dan kakak. Tapi suka terhadap lawan jenis,” katanya setengah berbisik. “Aku ingin noona hanya untukku.”
Hyun Ae menatapnya gugup. “Jangan bercanda seperti ini, Taemin-ah! Ini tidak lucu.”
“Jeongmal saranghaeyo, noona!!” Taemin menatap Hyun Ae tajam. Wajahnya serius sekali. “Jadi, berhentilah memandangku sebagai magnae! Naneun namja!!” tegasnya. “Jadi, pandang aku sebagai namja!”
Hyun Ae terdiam.
Mungkin karena malu, Taemin melangkah pergi dengan canggung.
“Sejak tiga tahun lalu…” kata Hyun Ae lambat. “…aku tidak pernah memandangmu sebagai magnae lagi.”
Seketika Taemin berhenti.
“Nado… sarangahae, Taemin-ah…” kata Hyun Ae dengan pelan.
Senyum kekanak-kanakan Taemin merekah. “Jeongmal?”
“N-nde..” jawab Hyun Ae gugup.
Taemin langsung memeluk Hyun Ae sambil sesekali melompat girang. “Ye~ noona jadi pacarku sekarang!!” teriaknya girang. Ia lantas melepas pelukannya dan kembali berkata, “Mulai sekarang aku panggil chagiya ya?”
Wajah Hyun Ae memerah.
“Chagiya?” panggil Taemin lembut sambil menggandeng tangan Hyun Ae mesra. Senyum manis terukir di wajahnya.
Aish…
-End Flashback-
Cinta datang tanpa suara. Membawa angan terbang indah di angkasa. Ia lalu pergi dengan meninggalkan luka. Menghempasku seketika, tanpa peduli aku siap atau tidak!
Hhhh…. Kenapa kisah cintaku tak berakhir bahagia?!
--End--
Kalau ini yang paling kusukai, hehehe…
Title: Memories of Heart
Author: Imah Hyun Ae
Cast: all member SHINee
Disclaimer: ide saya yang menumpuk dan saya gabung jadi satu XD
MEMORIES OF HEART
~Key POV~
Aku memandangi langit kelabu di atasku. Tak ada yang istimewa hari ini. Hanya langit kelabu, lalu turun salju. Dingin menusuk. Hanya aktivitasku yang semakin padat. Hanya blitz kamera yang mengabadikan sosokku tanpa jemu. Yah… masih seperti biasanya.
Bagaimana dengan dirimu? Masihkah memainkan lagu rahasia kita? Kau terkejut sekali ketika kau bilang kau harus pindah. Dan akan memakan waktu lama untuk bertemu kembali.
Saat kau bilang, ‘Kita ada di bawah langit yang sama, jadi jika kita memainkan lagu rahasia ini, lalu memandang langit, maka hati kita menghangat, itu berarti hati kita masih terhubung’, dadaku benar-benar berdebar hebat. Jeongmal saranghae… jeongmal… Bogoshipda….
Puk!
Sebuah bola salju mendarat di bahu kananku. Kudapati siapa pelakunya. Anak itu tersenyum lebar.
“Siapa suruh kau melamun di udara dingin ini, hyung!” tegurnya sembari mendekatiku.
Aku membalas senyumnya. “Bukan melamun, Min.”
“Lalu?” ujer Taemin sambil menggosok-gosok kedua tangannya. Mencoba menghalau dinginnya udara.
“Hanya memikirkan sesuatu.” Jawabku. Dan ketika sosokmu terukir, dadaku terasa hangat. Apa kau merasakan kehangatan yang sama ketika memikirkanmu?
“Siapa?” Taemin kembali menyadarkanku.
Aku menjawabnya dengan senyuman. ‘Hyun Ae’, batinku mengucapkan nama itu.
Aku merangkul Taemin dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
***
~Taemin POV~
Musim berlalu. Dan kini musim semi tiba. Aku tahu seseorang yang dipikirkan Key hyung. Sosok yang senang sekali duduk di bawah pohon di musim semi seperti ini. Hyun Ae.
Jika Key hyung mengenang Hyun Ae noona, maka setiap waktu aku mengenangmu.
Terkadang aku menelponmu. Sekedar menanyakan kabar dan kegiatanmu. Kau yang keluar negeri membuatku yang masih sekolah ini harus bisa menghemat uang agar dapat menelponmu. Kau, kakak kelasku, sahabat sejak kecilku, juga cintaku noona. Pertukaran pelajar membuatku harus memendam rindu ini selama setahun. Tapi.. yang lebih kutakutkan… kau tak pernah tahu perasaanku. Perasaan yang sudah lama ada. Sudah sering kutunjukan padamu dengan tingkah manjaku. Mungkin karena aku terlalu muda, hingga kau menganggap kejujuranku Cuma bercanda. Padahal, rasaku ini sama dengan mereka yang seumuran denganmu atau yang lebih tua.
Tiga tahun lebih muda, bukan berarti aku tak serius, kan?
Aku berharap suatu hari, kau akan melihatku sebagai seorang laki-laki, noona.
Whuss…
Angin musim semi bertiup. Membawa aroma khas bunga-bunga yang mekar. Pandanganku terhenti ketika kudapati di depan sana Onew hyung melambai padaku. Dia terlihat ceria, tapi sebenarnya ada rahasia menyedihkan yang disembunyikannya.
Ah, apakah sudah saatnya latihan?
Aku segera berjalan ke arahnya. Latihan dance untuk performance kami nanti malam sepertinya segera di mulai.
Soo Ae noona, kau pernah bilang kau suka tarianku kan? Apa kau merasakannya? Semua tarianku, kupersembahkan untukmu. Jeongmal saranghae, noona…
***
~Onew POV~
Di lain musim.
Udara yang pengap. Wajah yang memerah. Matahari yang terik. Juga kegembiraan lantaran libur musim panas tiba. Aku benci!
Benci melihat terik matahari yang menyengat itu! Benci dengan segala hal yang berkaitan dnegan musim panas. Semuanya akan mengingatkanku padamu, cinta pertamaku. Juga kekasih pertamaku. Karena di musim panas dua tahun lalu, Tuhan mengambilmu dariku.
Aku ingat, kegiatan libur ketika musim panas waktu itu: Jalan santai sejauh 30 kilometer yang diadakan sekolah sebagai kegiatan kenang-kenangan siswa SMA kelas tiga. Di hari itu kau pergi untuk selamanya. Kau oleng karena kelelahan dan dehidrasi. Lalu jatuh membentur batu yang ada di pinggir jalan tanpa sempat kutolong. Kau koma tiga hari lamanya, lalu…
Setelah hari itu, hanya bayanganmu di benakku yang selalu menemaniku. Aku… merindukanmu…
“Hyung!! Palli~!” teriak Taemin.
Aku mengangguk lemah. Ia yang memaksaku ikut hari ini di acara liburan yang diadakan management. Liburan yang akan diliput stasiun tv swasta di negeri kami.
“Terkenang dengannya lagi?” bisik Key saat aku berhasil menyusul mereka yang menungguku.
Aku hanya bisa tersenyum lemah.
Minho menepuk pundakku. Semua member memang tahu kisah itu.
***
~Minho POV~
Musim berganti.
Daun menguning dan berguguran. Jatuh jauh dari pohonnya ketika tertiup angin.
Suhu mulai berubah. sejuk. Namun hal itu memperjelas hatiku yang kosong. Sunbei bersuara indah yang tak sengaja kudengar dari ruang musik hampir setahun lalu pergi. Kau dengan berani pergi membawa serta hatiku, tanpa sempat memberi kesempatan padaku untuk mengenal siapa dirimu. Yang kutahu hanyalah kau kakak tingkatku.
Aku berjalan menyusuri halaman samping ruang musik. Gemerisik daun yang kuinjak menyayat hatiku. Mengalunkan lagu sendu yang dulu pernah tak sengaja kudengar kau nyanyikan setahun lalu.
Kusentuh dindingnya yang menyimpan kenangan tentangmu. “Jeongmal bogoshipda…” bisikku.
“Ya~ Choi Minho!!” aku terkejut. Seseornag melongokan kepalanya dari jendela dan berteriak menyebut namaku.
“Baru lima menit kita pisah kau sudah merindukanku?!!”
Kupukul kepalanya dengan pelan. “Yang benar saja, hyung! Aku memikirkan seseorang yang istimewa, tapi jelas itu bukan kau!!” aku menyandarkan punggungku di dinding ruang musik.
“Aish… sunbei itu lagi?”
Aku mendelik ke arah si ‘bling-bling’ di sampingku ini.
“Lupakan! Dia tidak akan hadir lagi! Carilah yang lain? Masih banyak kan yang mengantri cintamu?”
Aku mencibirnya. “Jangan hanya bsia menasehati, hyung!” tegurku.
“Mwo?”
Aku tertawa sambil menggelengkan kepala. “Kenapa kau tidak menasehati dirimu sendiri? Bukankah Han Jae Jin sudah jadi milik orang lain sejak tiga bulan lalu? Kenapa masih memikirkannya?”
“M-mwo? Siapa yang memikirkannya??” katanya gugup.
“Ck! Jangan bohong, hyung!”
Jong Hyun hyung langsung manyun.
Aku menertawakannya sepuasku.
Sunbei… Kau sudah lulus, kemungkinan bertemu lagi memang sangat kecil. Tapi… aku boleh berharap pertemuan itu terjadi kan?
***
~Jong Hyun POV~
Di lain waktu…
Angin menggerakkan dahan-dahan pohon. Gemerisiknya cukup mengganggu. Langit tampak pekat. Hujan sebentar lagi turun.
Aku melangkah cepat. Aroma yang enak hinggap di hidungku. Langkahku terhenti. Seketika aku melihat satu sosok yang anggun sedang menghiasi kue tart. Itu…kau Han Jae Jin.
Sepertinya kue itu baru saja kau buat. Terlihat sekali kau puas dengan hasil kerjamu. Aku turut tersenyum. Andai saja kue itu untukku.
“Sukses?” sebuah suara langsung menghempaskan hatiku ke perut bumi.
Kulihat kau mengangguk pada sosok yang hobi membuat kue itu dengan malu-malu.
“Wow… cantiknya. Boleh kucicipi?” ia tersenyum manis padamu.
“Tentu.” jawabmu girang. “Ini aku buat khusus untuk oppa, kok.”
Oppa? Kata itu menyakitiku Jae Jin-ah…
“Jeongmal? Gomaweo…” ujer laki-laki itu sambil mengelus kepalamu dengan sayang.
Dadaku sesak. Kenapa lagi-lagi aku harus menyaksikan hal ini? Ini sudah kesekian kalinya aku melihat kebersamaanmu dengannya. Itu melukai perasaanku. Tapi… siapa aku bagimu? Hanya seorang Jong Hyun yang dipuja banyak orang, namun tak kau lirik! Benar kan?
Lihat! Aku tahu hal itu, tapi hatiku terus menginginkanmu. Harus bagaimanakah aku, Jae Jin-ah….?
--End--
--------------------------------------------------------
Sad end lebih bagus, mungkin karena hatiku juga, yang tak pernah merasai cinta yang berbalas…
TBC
by Imah Hyun Ae
Chapter 7
Kisahku…
~Ima~
Aku seolah tahu arah hidupku. Aku lulus SD, SMP, lalu SMA dan masuk ke Perguruan Tinggi. Jadi, jika guru meminta mengatakan cita-cita apakah yang aku punya, maka akan menjawab ‘jadi guru’ dengan entengnya. Atau kadang-kadang, aku ikut-ikutan temanku. Bilang ingin jadi berguna bagi nusa dan bangsa, haha…
Tak pernah terbesit di pikiranku jadi apa aku nanti. Melihat polisi, hatiku tak tergerak. Dokter, aku menggeleng. Perawat? Oh, tidak, terima kasih. Guru? Yah… mungkin ini memang takdirku.
Aku mungkin tak pernah punya cita-cita, yang begitu ingin kuwujudkan. Hingga suatu hari seorang teman di SMP membawa novelette kesukaannya dan memaksaku membacanya. Novelette itu bercerita tentang sebuah liontin. Menarik. Penulisnya berhasil membuatku hanyut dalam alur ceritanya.
“Keren…” komentarku usai membaca cerita itu.
“Hm-mm. Gara-gara cerita tersebut aku jadi ingin membuat cerita juga. Kita sama-sama buat yuk?” ajaknya.
“Eh? Kenapa mengajakku? Aku tidak bisa menulis…” sahutku malu.
“Aku juga tidak bisa. Kita coba sama-sama, ya? Nanti kalau sudah selesai kita tukeran… Kamu baca punya aku, aku baca punyamu, Ok?”
“Mm…” aku berpikir sebentar. “Boleh…”
Wajahnya sumringah.
Dan sejak saat itu aku mulai menulis. Aku lebih sering menyebarkan karyaku yang biasa itu pada teman-temanku. Sedangkan si penggagas ide menulis itu cuma mau memamerkan karyanya padaku. Padahal karyanya jauh lebih indah, menarik, dan bisa dibilang luar biasa untuk ukuran siswa SMP.
Bersamanya, aku pun berburu majalah yang berisi cerpen. Dan saat membaca cerpen yang menurut kami ‘biasa’ saja, kami akan protes. Gara-gara itulah, aku bertekad menjadi penulis terkenal, hehehe…
Baru kutahu, bakat menulis ini menurun dari ayahku. Dan berhenti saat beliau kuliah. Gara-garanya, teman beliau membaca karangan beliau yang belum selesai tanpa ijin.
Dua tahun bergelut di dunia tulis-menulis dan hanya mempublikasikannya dengan teman sekelas, menimbulkan dorongan yang kuat untuk mengirimnya ke majalah. Aku mengirim empat judul ke majalah yang berbeda. Dan enam bulan lamanya tak ada satupun jawaban.
Sedih. Tapi, mungkin bukan takdirku. Aku memutuskan berhenti menulis. Tapi siapa sangka, seolah Tuhan melarangku, suatu hari Pak Pos mengatakan ada wesel untukku. Yang ternyata adalah honor dari cerpenku yang di terbitkan salah satu majalah remaja. Haha…
Aku pun kembali berkarya. Kali ini aku membuat novel. Sayangnya, di tolak.
Lia, Egi dan Nana menyemangatiku. Kadang merekalah kuminta memeriksa hasil imajinasiku. Siapa tahu menurut mereka membosankan. Kalau menurut mereka saja begitu, apalagi yang lain? Hehe…
Saat kuliah, aku berkenalan dengan yang namanya Fan Fictions. Berisi cerita fiksi buatan fans di mana tokoh di cerita itu adalah artis idola atau tokoh kartun/novel idola fans tersebut.
Aku mencoba menulis dengan format itu. Dan kupublikasikan di FB. Tidak di sangka banyak yang suka. Dan menurut mereka yang baca, aku lebih bagus kalau menulis sad story, hehehe…
Dan ini cerita yang paling di sukai…
Title: End of Love
Author: Imah Hyun Ae
Cast: Eunhyuk aka Hyuk Jae (Super Junior), Hyun Ae dan Taemin (SHINee)
Disclaimer: imajinasi saya ketika mau bikin cerpen ^^
End Of Love
Kelas gaduh. Para siswa sibuk bercanda dan menggoda pujaan hatinya yang ada di kelas. Sedang para siswi ada yang sibuk bergosip, ada yang mendekati dan mencari perhatian idola mereka, ada pula yang bercanda tidak jelas.
Aku masih nyaman duduk di bangkuku dengan kedua tangan menopang dagu. Tak peduli dengan kegaduhan di sekitarku.
Kulirik Junsu. Dia tampak sedang meluncurkan aksi mempesonanya, membuat siswi yang menggerumbunginya menjerit heboh.
Aku memanyunkan bibirku sembari mengingat bahwa pesona yang kupunya hanya akan kutunjukkan pada seorang gadis yang sudah hampir dua tahun ini mengisi mimpi-mimpi indahku. Dia berhasil merebut hatiku di hari perpisahan SMP dulu. Ah, suaranya sangat indah dan pandai sekali bermain piano.
Sayangnya, aku dan dia beda kelas. Ah… padahal aku ingin memandang sosoknya sepuasku. Sosok anggun dan punya senyum manis itu.
“Boleh pinjam buku paket bahasa inggris salah satu dari kalian?” suara sopan itu membuyarkan lamunanku. Kerumunan di sekitarku menoleh ke sumber suara.
Angin serasa menyapa tubuhku. Lembut dan syahdu. Di depan pintu, berdiri sosok yang tengah kubayangkan sejak tadi, Lee Hyun Ae.
Kulihat beberapa orang bergerak mengambil buku mereka. Sadar, aku segera mencari buku bahasa inggrisku. ‘Ini kesempatan,’ batinku.
Saat aku mendapatkan buku tersebut, seorang teman sekelas sudah menyerahkan buku paketnya pada pujaan hatiku itu. Aku segera berhambur, mendekat. Mengambil buku tersebut dan menyerahkan ke orang itu.
“Punyaku saja,” kataku sambil menyerahkan buku paketku. Dia menerimanya dengan memandnag bingung padaku.
“Gomaweo…” katanya canggung. “Nanti pulang sekolah kukembalikan.”
Aku mengangguk sambil tersenyum lebar. Kebahagiaan tergambar jelas di wajahku. Ini pertama kalinya aku dan dia bicara, hehehe…
Puk!
Seseorang menepuk pundakku keras.
“Apa yang kau lakukan??” teriakku kesal sat melihatnya tersenyum lebar.
“Menyadarkanmu kalau dia sudah pergi.” ujer Junsu santai lalu menyeretku ke lapangan basket. Aku tahu, beberapa siswi di kelas memandang aneh padaku. Mungkin mereka bertanya-tanya, kenapa aku bertingkah seperti tadi. Terserahlah… yang penting aku bahagia sekarang ^___^
***
Aku baru keluar kelas saat sosok Hyun Ae tersenyum menyambutku. Dia mendekat dan menyerahkan buku paket bahasa inggrisku.
“Jeongmal gomaweo, Hyuk Jae-ssi,” ujernya tulus. Hangat menebar di seluruh sel tubuhku.
“N-nde. Chomanayo…” sahutku selembut mungkin. Hebat. Di dekatnya rasanya senyumku tak pernah luntur, hehehe…
“Kalau begitu, aku duluan. Sekali lagi terima kasih…” pamitnya lalu berbalik.
Dia pergi? Aku ingin lebih lama lagi. Hatiku menjerit-jerit gelisah.
“Cha-chankanman… (tu-tunggu…)”
Hyun Ae menghentikan langkahnya dan berbalik. “Nde?”
Aku mendekatinya dengan satu tangan menarik Junsu untuk mengikutiku.
“Boleh sama-sama? Kami juga mau pulang…”
“A~ Nde.”
Kami melangkah bersama. Ah… andai berdua saja pasti lebih indah…
Di depan gerbang tampak Heechul sunbei, Onew, Soo Hyun dan Taemin menunggu. Mereka adalah sahabat Hyun Ae sejak kecil (aku tahu hal ini dari teman yang sekelas dengan mereka dulu).
“Noona!!” Taemin memekik girang dan segera menarik Hyun Ae menjauh dariku. Matanya menyelidikku tajam. Anak ini seolah tahu aku menyimpan rasa pada Hyun Ae.
Seolah tak peduli dengan aku dan Junsu, mereka melangkah ke halte dan naik ke bus.
Soo Hyun dan Onew duduk berdampingan. Sejak kelas satu mereka resmi jadi pasangan kekasih. Heechul memilih duduk di sebelah teman sekelasnya dan Taemin… Dia menyeret Hyun Ae ke belakang. Duduk di bangku terakhir.
Aku mengikuti mereka. Junsu sudah dapat tempat duduk di depan tadi.
“Ya~!” teriak Taemin kesal. “Kenapa mengikuti kami?”
Lihat! Aku baru saja duduk di sebelah Hyun Ae dia sudah sekesal itu. Apa haknya??
“Cuma ini yang kosong. Lihat saja!” komentarku datar.
“Tsk!” dia berdecak kesal.
Kuambil ipodku. “Mau ikut dengar?” tawarku pada Hyun Ae.
“Ah? Boleh. Lagu siapa saja yang kau punya?” Hyun Ae tampak antusias.
“Noona?” Taemin memanggil dengan nada cepat. “Aku dapat lagu baru. Coba dengar! Lagunya asyik lho!” katanya sambil memasang headset ke telinga Hyun Ae.
Ugh, menyebalkan! Anak ini kenapa seolah tidak memberiku kesempatan? Apa Hyun Ae miliknya?! Tidak kan?
“A?? kita tukar tempat dulu,” ujernya lagi.
M-mwo??? Aku melotot padanya saat dia duduk di sampingku. Dia balas melotot padaku tak kalah galak.
Aish… Aku membuang napas keras. Mencoba mengusir kekesalanku.
Bus berjalan.
Hyun Ae tampak asyik sekali bicara dengan Taemin yang lebih muda tiga tahun darinya. Dia baru kelas satu SMA, tergolong cepat untuk anak seusianya.
Mereka tertawa bersama, membuat kekesalanku meningkat.
Dengan santai Taemin bersandar di sandaran kursi lalu….
YA!!! Berani-beraninya dia!! Kenapa dia merebahkan kepalanya di bahu Hyun Ae-ku????
Aku panik sekaligus cemburu. Kulihat Hyun Ae mencubit pipi Taemin sambil tersenyum. Dia menanggapi tingkah anak itu sesantai itu?!
Gigiku bergemelutuk menahan geram. Hari yang semula kukira menyenangkan, berubah sudah. Argh…kenapa anak ini harus ada di dekat Hyun Ae?!! Menyebalkan! Tapi, kenapa Hyun Ae begitu santai menanggapi kelakuannya?
Lihat!! Sekarang si Taemin yang sok imut itu memejamkan matanya. Nyaman sekali dia!!
Kutatap Hyun Ae yang sedang asyik… MERAPIKAN RAMBUT TAEMIN??
Omo!! Jangan-jangan…
***
Hujan deras. Para siswi yang membawa payung sudah berjalan menuju halte. Salah satu dari mereka ada yang menawari Junsu satu payung berdua, Junsu menerima tawaran itu dengan bahagia.
Aku sedang berpikir meminjam payung siapa ketika kulihat Hyun Ae berjalan dengan lesu. Dia membuka payungnya dengan enggan.
Segera aku menghampirinya.
“Anyeong…” sapaku.
“Ah, anyeong, Hyuk Jae-ssi.” Jawabnya kaget. Dia mencoba tersenyum.
“Mana yang lain? Biasanya kalian bersama.” Tegurku saat sadar keempat sahabatnya tidak ada.
“Heechul oppa sedang ada kelas tambahan. Onew dan Soo Hyun sedang kencan.”
“Hujan-hujan begini?” potongku.
Hyun Ae tertawa kecil. “Apa yang kau pikirkan. Mereka sedang kencan di kelas, membahas materi ujian matematika yang akan keluar besok di kelas mereka.” Terangnya.
Aku mengangguk paham. “Lalu Taemin?”
“Minnie?” ulangnya.
O, jadi panggilan kecil anak itu ‘Minnie’?!
Hyun Ae menghela napas berat. “Dia duluan. Katanya menemani temannya mencari buku.”
Kuteliti wajah lesu Hyun Ae. Apa gara-gara Taemin?
“Temannya itu perempuan ya?” tebakku.
“Nde…” lirih Hyun Ae. Pandangannya tertuju pada hujan.
Apa dia sedih? Dia tampak tak bersemangat sekali.
Aku mengambil payungnya dan menariknya ke sampingku.
“Hyuk Jae-ssi?” Ia terkejut dengan perlakuanku.
“Biar aku yang mengantarmu pulang…”
“EH? Tidak perlu. Aku-,”
“Kajja!” potongku cepat. Aku tak mau mendengar dia menolak tawaranku. Kutarik tangannya untuk membuatnya melangkah. Tangan kananku menggenggam tangan kirinya dnegan erat sementara tangan kiriku memegang payung. Agak sulit karena aku harus berusaha agar Hyun Ae tidak basah.
Perlahan Hyun Ae melepas genggaman tanganku. Aku menoleh ke arahnya. Dia tampak pura-pura tak tahu.
Dengan canggung aku memindang genggaman payungku ke tangan kanan. Kami melangkah dalam diam…
***
Tanpa sepatah kata, cinta datang. Tanpa sepatah kata, ia menyapa. Membawa bahagia tanpa diminta. Membuat hari yang biasa-biasa saja jadi istimewa. Merubah hal-hal kecil bisa jadi sitimewa.
Kulihat Hyun Ae tengah serius memilih mana yang bagus dari dua buah kalung yang penjaga toko aksesoris sodorkan pada kami.
“Jadi yang mana?” tanyaku. Hyun Ae menaruh telunjuk nya di dagu. Seolah sedang berpikir keras.
“yang mana?” desakku tak sabar.
“Umm… Ini.” Dia menunjuk kalung dengan liontin lumba-lumba.
“Yang ini, omonim.” Kataku pada penjaga tokonya. Si penjaga itu segera membungkusnya dan menyerahkannya padaku.
Aku bilang pada Hyun Ae sesaat sebelum berangkat kalau aku mau membelikan sesuatu untuk orang yang special bagiku. Dia menemaniku dengan antusias.
Tiba di rumahnya, kuserahkan kalung tersebut. Dia menadnagku penuh Tanya.
“Bukannya…” kata-katanya menggantung.
“Orang special itu adalah kau, Hyun Ae-ah…”
“Eh?”
“Kalau kau menerimaku, pakailah kalung ini. Kapanpun kau mau menerimaku.
“Hyun Jae-ssi, aku-.”
“Aku tak mau dengar jawaban selain kau menerimaku, Hyun Ae-ah.” Kuberikan senyum terbaikku padanya.
“Hyuk Jae-ssi, mia-.”
“Noona!!” panggil seseorang di belakangnya.
Hyun Ae pasti mau bilang, ‘Mianhae, aku tidak bisa.’ Untung saja seseorang memanggilnya.
“Lama sekali! Aku hampir mati bosan menunggu, noona!” lanjut orang yang memanggil Hyun Ae tadi dengan manja.
Aku tak jadi merasa beruntung ketika melihat siapa yang memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan Taemin. Anak ‘kecil’ itu tampak merengut.
“Mianhae, Minnie…” kata Hyun Ae sambil mencubit pipi Taemin yang merengut dengan gemas.
Aku mengehmpaskan napas dengan keras. “Aku pergi dulu. Bye…” pamitku.
“Ah? Nde. Bye…” sahut Hyun Ae canggung.
“Pergi dan jangan pernah mendekati noonaku lagi!” teriaknya padaku.
Aku terus berjalan. Pura-pura tak mendengarnya.
“Noona, aku tak suka melihat noona jalan dengannya!” samar kudengar kalimat itu meluncur di bibir Taemin.
“…”
Aish…
***
Hari terlalu cerah untuk suasana hati seperti ini. Berkali-kali aku menghela napas panjang. Mencoba mengusir ingatan tentang kejadian yang baru saja terjadi. Sayangnya, aku gagal. Kata-katanya itu kembali berkelebat di benakku.
-Flashback-
Hyun Ae dating ke ruang seni, tempat di mana aku sering diam-diam melatih tarianku. Dia dating untuk mengembalikan kalung yang kuberi.
“BUkannya aku bilang akan menunggu sampai kapanpun?”
“Mianhae…” lirihnya.
Aku mendengus kecewa. “Apa sampai kapanpun kau tetap hanya memandang Taemin?”
Hyun Ae tampak terkejut.
“Apa selamanya hanya dia yang kau sukai dan aku selamanya tetap sebagai teman?” kesalku.
“Jongsuhamnida, Hyuk Jae-ssi.” Ia berkata penuh sesal. Seketika dadaku sakit!
Aku membuang muka. Tak ingin memperlihatkan bulir kecewa yang menggenang di mataku. “Setelah lebih dari dua tahun rasa ini ada dan kau tolak begitu saja?!”
“Mian…” lirihnya. Perlahan dia beranjak pergi.
“Apa jika si Taemin itu tidak mengatakan suka padamu…” kata-kataku sukses membuatnya berhenti. “… kau tetap mengembalikan kalung ini padaku?”
“Mianhae…” hanya itu jawabannya. Lantas dia benar-benar pergi.
-End Flashback-
Aku kembali menghempaskan napasku dengan keras. Kemarin saat aku pamit, aku sebenarnya tak benar-benar pergi. Aku bersembunyi, mencuri dengar pembicaraan mereka.
-Flashback-
“Pergi dan jangan pernah mendekati noona-ku lagi!” teriak Taemin padaku ketika aku melangkah pergi meninggalkan rumah Hyun Ae.
Aku terus berjalan. Pura-pura tak mendengarnya.
“Noona, aku tak suka melihat noona jalan dengannya!” samar kudengar kalimat itu meluncur di bibir Taemin.
“Wae? Dia kan temanku?”
Langkahku terhenti. Aku bersembunyi dan mendengarkan pembicaraan mereka.
“Aku tetap tidak suka!”
Hyun Ae tertawa kecil melihat wajah kesal Taemin. “Pasti ada alasannya kan kalau tidak suka?
Taemin manyun. Wajahnya jelas sekali merengut.
“Waeyo?” Tanya Hyun Ae lagi.
“Aku… aku mau noona hanya memandangku!” jujurnya pelan.
Deg! Apa ini pernyataan cinta?
“Nde?” Hyun Ae tampak tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
“Aku… suka noona.” Ucap Taemin lambat. Ia menunduk dalam. “Bukan suka sebagai adik dan kakak. Tapi suka terhadap lawan jenis,” katanya setengah berbisik. “Aku ingin noona hanya untukku.”
Hyun Ae menatapnya gugup. “Jangan bercanda seperti ini, Taemin-ah! Ini tidak lucu.”
“Jeongmal saranghaeyo, noona!!” Taemin menatap Hyun Ae tajam. Wajahnya serius sekali. “Jadi, berhentilah memandangku sebagai magnae! Naneun namja!!” tegasnya. “Jadi, pandang aku sebagai namja!”
Hyun Ae terdiam.
Mungkin karena malu, Taemin melangkah pergi dengan canggung.
“Sejak tiga tahun lalu…” kata Hyun Ae lambat. “…aku tidak pernah memandangmu sebagai magnae lagi.”
Seketika Taemin berhenti.
“Nado… sarangahae, Taemin-ah…” kata Hyun Ae dengan pelan.
Senyum kekanak-kanakan Taemin merekah. “Jeongmal?”
“N-nde..” jawab Hyun Ae gugup.
Taemin langsung memeluk Hyun Ae sambil sesekali melompat girang. “Ye~ noona jadi pacarku sekarang!!” teriaknya girang. Ia lantas melepas pelukannya dan kembali berkata, “Mulai sekarang aku panggil chagiya ya?”
Wajah Hyun Ae memerah.
“Chagiya?” panggil Taemin lembut sambil menggandeng tangan Hyun Ae mesra. Senyum manis terukir di wajahnya.
Aish…
-End Flashback-
Cinta datang tanpa suara. Membawa angan terbang indah di angkasa. Ia lalu pergi dengan meninggalkan luka. Menghempasku seketika, tanpa peduli aku siap atau tidak!
Hhhh…. Kenapa kisah cintaku tak berakhir bahagia?!
--End--
Kalau ini yang paling kusukai, hehehe…
Title: Memories of Heart
Author: Imah Hyun Ae
Cast: all member SHINee
Disclaimer: ide saya yang menumpuk dan saya gabung jadi satu XD
MEMORIES OF HEART
~Key POV~
Aku memandangi langit kelabu di atasku. Tak ada yang istimewa hari ini. Hanya langit kelabu, lalu turun salju. Dingin menusuk. Hanya aktivitasku yang semakin padat. Hanya blitz kamera yang mengabadikan sosokku tanpa jemu. Yah… masih seperti biasanya.
Bagaimana dengan dirimu? Masihkah memainkan lagu rahasia kita? Kau terkejut sekali ketika kau bilang kau harus pindah. Dan akan memakan waktu lama untuk bertemu kembali.
Saat kau bilang, ‘Kita ada di bawah langit yang sama, jadi jika kita memainkan lagu rahasia ini, lalu memandang langit, maka hati kita menghangat, itu berarti hati kita masih terhubung’, dadaku benar-benar berdebar hebat. Jeongmal saranghae… jeongmal… Bogoshipda….
Puk!
Sebuah bola salju mendarat di bahu kananku. Kudapati siapa pelakunya. Anak itu tersenyum lebar.
“Siapa suruh kau melamun di udara dingin ini, hyung!” tegurnya sembari mendekatiku.
Aku membalas senyumnya. “Bukan melamun, Min.”
“Lalu?” ujer Taemin sambil menggosok-gosok kedua tangannya. Mencoba menghalau dinginnya udara.
“Hanya memikirkan sesuatu.” Jawabku. Dan ketika sosokmu terukir, dadaku terasa hangat. Apa kau merasakan kehangatan yang sama ketika memikirkanmu?
“Siapa?” Taemin kembali menyadarkanku.
Aku menjawabnya dengan senyuman. ‘Hyun Ae’, batinku mengucapkan nama itu.
Aku merangkul Taemin dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
***
~Taemin POV~
Musim berlalu. Dan kini musim semi tiba. Aku tahu seseorang yang dipikirkan Key hyung. Sosok yang senang sekali duduk di bawah pohon di musim semi seperti ini. Hyun Ae.
Jika Key hyung mengenang Hyun Ae noona, maka setiap waktu aku mengenangmu.
Terkadang aku menelponmu. Sekedar menanyakan kabar dan kegiatanmu. Kau yang keluar negeri membuatku yang masih sekolah ini harus bisa menghemat uang agar dapat menelponmu. Kau, kakak kelasku, sahabat sejak kecilku, juga cintaku noona. Pertukaran pelajar membuatku harus memendam rindu ini selama setahun. Tapi.. yang lebih kutakutkan… kau tak pernah tahu perasaanku. Perasaan yang sudah lama ada. Sudah sering kutunjukan padamu dengan tingkah manjaku. Mungkin karena aku terlalu muda, hingga kau menganggap kejujuranku Cuma bercanda. Padahal, rasaku ini sama dengan mereka yang seumuran denganmu atau yang lebih tua.
Tiga tahun lebih muda, bukan berarti aku tak serius, kan?
Aku berharap suatu hari, kau akan melihatku sebagai seorang laki-laki, noona.
Whuss…
Angin musim semi bertiup. Membawa aroma khas bunga-bunga yang mekar. Pandanganku terhenti ketika kudapati di depan sana Onew hyung melambai padaku. Dia terlihat ceria, tapi sebenarnya ada rahasia menyedihkan yang disembunyikannya.
Ah, apakah sudah saatnya latihan?
Aku segera berjalan ke arahnya. Latihan dance untuk performance kami nanti malam sepertinya segera di mulai.
Soo Ae noona, kau pernah bilang kau suka tarianku kan? Apa kau merasakannya? Semua tarianku, kupersembahkan untukmu. Jeongmal saranghae, noona…
***
~Onew POV~
Di lain musim.
Udara yang pengap. Wajah yang memerah. Matahari yang terik. Juga kegembiraan lantaran libur musim panas tiba. Aku benci!
Benci melihat terik matahari yang menyengat itu! Benci dengan segala hal yang berkaitan dnegan musim panas. Semuanya akan mengingatkanku padamu, cinta pertamaku. Juga kekasih pertamaku. Karena di musim panas dua tahun lalu, Tuhan mengambilmu dariku.
Aku ingat, kegiatan libur ketika musim panas waktu itu: Jalan santai sejauh 30 kilometer yang diadakan sekolah sebagai kegiatan kenang-kenangan siswa SMA kelas tiga. Di hari itu kau pergi untuk selamanya. Kau oleng karena kelelahan dan dehidrasi. Lalu jatuh membentur batu yang ada di pinggir jalan tanpa sempat kutolong. Kau koma tiga hari lamanya, lalu…
Setelah hari itu, hanya bayanganmu di benakku yang selalu menemaniku. Aku… merindukanmu…
“Hyung!! Palli~!” teriak Taemin.
Aku mengangguk lemah. Ia yang memaksaku ikut hari ini di acara liburan yang diadakan management. Liburan yang akan diliput stasiun tv swasta di negeri kami.
“Terkenang dengannya lagi?” bisik Key saat aku berhasil menyusul mereka yang menungguku.
Aku hanya bisa tersenyum lemah.
Minho menepuk pundakku. Semua member memang tahu kisah itu.
***
~Minho POV~
Musim berganti.
Daun menguning dan berguguran. Jatuh jauh dari pohonnya ketika tertiup angin.
Suhu mulai berubah. sejuk. Namun hal itu memperjelas hatiku yang kosong. Sunbei bersuara indah yang tak sengaja kudengar dari ruang musik hampir setahun lalu pergi. Kau dengan berani pergi membawa serta hatiku, tanpa sempat memberi kesempatan padaku untuk mengenal siapa dirimu. Yang kutahu hanyalah kau kakak tingkatku.
Aku berjalan menyusuri halaman samping ruang musik. Gemerisik daun yang kuinjak menyayat hatiku. Mengalunkan lagu sendu yang dulu pernah tak sengaja kudengar kau nyanyikan setahun lalu.
Kusentuh dindingnya yang menyimpan kenangan tentangmu. “Jeongmal bogoshipda…” bisikku.
“Ya~ Choi Minho!!” aku terkejut. Seseornag melongokan kepalanya dari jendela dan berteriak menyebut namaku.
“Baru lima menit kita pisah kau sudah merindukanku?!!”
Kupukul kepalanya dengan pelan. “Yang benar saja, hyung! Aku memikirkan seseorang yang istimewa, tapi jelas itu bukan kau!!” aku menyandarkan punggungku di dinding ruang musik.
“Aish… sunbei itu lagi?”
Aku mendelik ke arah si ‘bling-bling’ di sampingku ini.
“Lupakan! Dia tidak akan hadir lagi! Carilah yang lain? Masih banyak kan yang mengantri cintamu?”
Aku mencibirnya. “Jangan hanya bsia menasehati, hyung!” tegurku.
“Mwo?”
Aku tertawa sambil menggelengkan kepala. “Kenapa kau tidak menasehati dirimu sendiri? Bukankah Han Jae Jin sudah jadi milik orang lain sejak tiga bulan lalu? Kenapa masih memikirkannya?”
“M-mwo? Siapa yang memikirkannya??” katanya gugup.
“Ck! Jangan bohong, hyung!”
Jong Hyun hyung langsung manyun.
Aku menertawakannya sepuasku.
Sunbei… Kau sudah lulus, kemungkinan bertemu lagi memang sangat kecil. Tapi… aku boleh berharap pertemuan itu terjadi kan?
***
~Jong Hyun POV~
Di lain waktu…
Angin menggerakkan dahan-dahan pohon. Gemerisiknya cukup mengganggu. Langit tampak pekat. Hujan sebentar lagi turun.
Aku melangkah cepat. Aroma yang enak hinggap di hidungku. Langkahku terhenti. Seketika aku melihat satu sosok yang anggun sedang menghiasi kue tart. Itu…kau Han Jae Jin.
Sepertinya kue itu baru saja kau buat. Terlihat sekali kau puas dengan hasil kerjamu. Aku turut tersenyum. Andai saja kue itu untukku.
“Sukses?” sebuah suara langsung menghempaskan hatiku ke perut bumi.
Kulihat kau mengangguk pada sosok yang hobi membuat kue itu dengan malu-malu.
“Wow… cantiknya. Boleh kucicipi?” ia tersenyum manis padamu.
“Tentu.” jawabmu girang. “Ini aku buat khusus untuk oppa, kok.”
Oppa? Kata itu menyakitiku Jae Jin-ah…
“Jeongmal? Gomaweo…” ujer laki-laki itu sambil mengelus kepalamu dengan sayang.
Dadaku sesak. Kenapa lagi-lagi aku harus menyaksikan hal ini? Ini sudah kesekian kalinya aku melihat kebersamaanmu dengannya. Itu melukai perasaanku. Tapi… siapa aku bagimu? Hanya seorang Jong Hyun yang dipuja banyak orang, namun tak kau lirik! Benar kan?
Lihat! Aku tahu hal itu, tapi hatiku terus menginginkanmu. Harus bagaimanakah aku, Jae Jin-ah….?
--End--
--------------------------------------------------------
Sad end lebih bagus, mungkin karena hatiku juga, yang tak pernah merasai cinta yang berbalas…
TBC
Love Ya!!! chapter 6
Love Ya!!!
by Imah Hyun Ae
Chapter 6
My Big Brother
---Lia---
Angkasa penuh dengan awan-awan putih. Hanya sedikit langit biru yang tampak. Anginpun tampak sesekali menyapa helai-helai daun. Hawanya yang dingin sedikit membuat tubuhku gemetar dalam perjalanan menuju ke bandara ini.
Egi menatapku. “Gwenchana?” tanyanya cemas.
Aku mengangguk. Kuberikan senyuman agar dia tak mencemaskanku lagi. Perlahan kulihat dia melepas jaketnya dan menyerahkannya padaku.
“Pakailah…”
Aku menatapnya.
“Kau kedinginan kan?”
“Hehehe…” aku cengengesan. “Gomaweo,” ucapku girang. Ia manggut-manggut sambil menyeruput kopi hangat yang baru dibelinya.
Kami duduk sambil menunggu penerbangan kami yang masih tiga puluh menit lagi.
Beberapa waktu yang lalu Ima, sahabat kami, menanyakan kapan kami berangkat ke Jakarta. Ah… tak disangka dia sukses dengan karir menulisnya. Juga pekerjaan tetapnya sebagai guru matematika. Mengenang kesuksesannya membuatku tersenyum.
Kupandangi Egi yang duduk di sampingku. Laki-laki yang sudah kuanggap sebagai kakak kandungku ini mengetuk-ngetukkan jarinya di kursi. Senandung kecilnya terdengar. Kuamati wajahnya yang terlihat lebih tegas sekarang. Ia tumbuh sebagai laki-laki dewasa yang tampan dan mapan. Tapi kenapa masih belum mencari calon istri ya? Kurasa lelaki baik ini harus dapat gadis yang baik juga.
Aku tersenyum dengan pikiranku sendiri. Hei, dia tahu tidak ya kalau aku selalu merasa nyaman di dekatnya?
***
~Kelas 2 SD~
Aku sedang duduk-duduk di sofa. Mama, papa, dan kakak perempuanku sedang sibuk menata barang-barang. Kami baru pindah ke rumah ini kemarin. Rumah yang dengan sengaja dipilih dekat dengan sekolahku. Juga sekolah kakak-kakakku.
Aku menghibur diriku yang bosan dengan melompat-lompat dari sofa satu ke sofa lainnya.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar bunyi ketukan pintu dari luar. Aku menghentikan aktifitasku sesaat. Dan melanjutkannya lagi.
“Tolong buka pintunya, Ya!” teriak mama.
“Ya, Ma.”
Aku turun dari sofa dan berjalan keluar.
Di depan pintu kulihat wanita tiga puluh tahunan tersenyum padaku.
“Kami tetangga sebelah. Ibumu ada?” tanyanya lembut.
Aku mengangguk. “Mama!! Ada teman Mama!!” teriakku asal.
“Siapa?” tanya Mama sambil keluar dan berhenti tepat di depan wanita itu.
Wanita itu mengulurkan tangannya. “Kami tetangga sebelah. Waktu melihat Anda, saya merasa kenal. Baru ingat, ternyata kita pernah bertemu sewaktu sama-sama menjemput anak kita di SD.”
“AH…” mama menjerit. “Iya. Jenk Lina kan?”
Wanita yang dipanggil ‘Jenk Lina’ itu mengangguk. Mama segera mempersilahkan masuk.
Kulihat seorang anak laki-laki mengekor di belakangnya.
“Egi, sapa teman sekelasmu,” pinta wanita itu.
Sekelas? Aku memandang anak laki-laki itu lagi.
“Ajakin main dong, Ya…” pinta Mama.
Dengan malu-malu aku berkata, “Mau main?”
Egi mengangguk lambat.
Aku mengajaknya ke halaman.
“Kita main kelereng yuk? Kau punya kelereng tidak?” tanya Egi.
Aku menggeleng sedih.
Egi mengambil sesuatu di sakunya. “Pakai punyaku saja. Ini!”
Aku tersenyum cerah dan segera mengambilnya. Egi kemudian membuat lubang. Katanya kelereng siapa yang masuk kelubang itu pertama kali, berarti dia yang kalah.
Walau tidak mengerti, aku tetap bermain dengannya. Sebuah permainan yang menyenangkan dengan seseoran yang menyenangkan… ^_^
***
~SD Kelas 4~
Kusobek kertas bertuliskan angka empat di lembar matematikaku. Kesal. Aku sudah susah payah belajar tapi yang kudapat cuma angka kursi itu. Padahal gelap mulai merambat dan aku tak mau pulang. Aku yakin mama dan papa pasti marah. Anak bungsunya tak akan bisa diharapkan padahal ulangan kenaikan kelas dua minggu lagi.
Aku mengucek mataku. Menyapu embun yang menggantung di kelopak mataku. Meski begitu, dadaku masih memburu. Emosi karena kegagalan dan ketakutan kena marah masih tersisa.
“Lia~?”
Suara yang tak asing.
Aku menoleh. Terlihat Egi lari mendekatiku.
“Akhirnya ketemu juga! Ayo pulang. Mamamu sudah cemas.” Dia menarik tanganku.
“Tidak mau!” kutepis tangannya dengan kasar.
“Kenapa?”
“Pasti dimarahi kalau pulang! Papa kan tidak suka aku dapat nilai merah!!”
Egi melingkarkan tangannya di pundakku. “Nanti kubela,” katanya yakin.
“Mana bisa! Kamu kan kecil…” sungutku.
Dia menggaruk kepalanya yang kuyakin tidak gatal. Iya-juga-ya. Mungkin itulah arti tatapannya padaku.
“Kalau begitu ke rumahku saja,” tawarnya. “Kita belajar sama-sama biar tidak dapat nilai merah lagi. Yuk?”
Aku segera mengangguk dan tersenyum cerah.
Di depan rumah tampak mama dan papa, juga orang tuanya Egi. Aku segera bersembunyi di balik tubuh Egi yang sama kecilnya dneganku.
Mama langsung berhambur ke arahku. Memelukku dengan erat. Saat papa mendekat Egi menghadangnya.
“Kalau Om mau marahi Lia, Om tidak boleh lewat!” ancamnya.
Papa diam sesaat lalu tersenyum. “Kalau Om janji tidak marah, Om boleh lewat kan?”
Egi memandangku. Perlahan dia menghadap papaku lagi.
“Om janji,” kata papaku meyakinkan.
Egi mundur selangkah. Mempersilahkan papaku lewat. Beberapa saat kemudian kurasakan papa mengelus kepalaku dengan sayang.
Terima kasih, Gi…
***
~SMP kelas VII~
Aku dan Egi sedang makan di kantin.
“Gawat!” aku menepuk keningku dengan keras saat aku ingat kalau PR Fisikaku belum ku kerjakan.
Egi memandangku. ‘Lagi?!’ tatapannya seolah berkata demikian.
Aku meringis dan menangkupkan kedua tanganku. “Nyontek ya?” ujerku sedemikian memelas pada Egi.
Egi masih diam.
“Please…” kutunjukkan puppy eyes-ku. Padahal tak perlu begitupun ia pasti mengiyakannya.
Tuh, kan. Dia sudah bergerak menuju kasir dan membayar makanan yang dia pesan. Lantas berjalan ke kelas.
Di kelas, dia mengambil buku tulisnya dan menyerahkannya padaku. Aku menyalinnya dengan kecepatan penuh.
“Salin yang cepat! Nanti Bapak keburu masuk,” ujernya yang duduk di sampingku sambil geleng-geleng kepala. Tak habis pikir kenapa aku bisa lupa, hehehe…
***
~SMP kelas VIII semester ganjil~
Hari ini pengambilan nilai menendang bola ke gawang untuk mata pelajaran olah raga. Sekarang giliranku. Dengan semangat aku menendangnya. Shuuut… Bola berguling dan teman-temanku tertawa puas. Akupun tidak bisa menahan tawaku sendiri lantaran bola masuk gawang bersamaan dengan sepatuku yang sukses masuk ke saluran air yang ada di dekat lapangan bola itu.
Sambil terus tertawa, Egi melompati saluran itu. Dia mengambil sepatuku. Aku menanti dengan senang, karena kupikir dia akan menyerahkannya padaku. Namun ternyata dia justru menaiki tangga dan menaruh sepatuku di atas atap sekolah!!
“EGI!!!”
“Huahahaha,,,,”
Sial! Teman-teman malah tertawa.
Aku bersumpah tidak akan bicara padanya!
“Biar cepat kering, Ya!” teriak Egi dari atas. “Apa kau mau pakai sepatu basah?” kata-katanya berhasil membuat teman-teman yang tertawa tadi bungkam seketika.
Rasanya ingin sekali aku memanggilnya ‘kakakku tersayang’, hehehe….. Aku menyayangimu, sahabat terbaikku ^^
***
~SMA Kelas XI~
“EGI~!!!” Aku meneriakkan namanya sambil berlari di koridor. Sesuatu mendesakku. Keadaan benar-benar genting. Apalagi kalau bukan lupa mengerjakan PR.
Aku masuk kelas Egi yang untuk pertama kalinya kami terpisah kelas. Egi menatapku bingung.
“Ada apa?” tanyanya.
Aku mendekat dan langsung duduk di kursi samping tempat duduknya. Memandangnya penuh harap. Kuserahkan buku tulis dan paketku padanya.
“Tolong kerjakan,” bisikku saat halaman berisi lima soal bahasa inggris yang tak terlalu kumengerti tertera di depan kami.
Egi berdecak, seolah sudah hapal dengan tabiatku ini.
“Mana pennya?”
“Ups! Lupa! Hehehe…”
Dia mencibir. Lalu mengambil pennya dan mulai mengerjakan. Dia hanya berpura-pura enggan, aku tahu itu. Karena jika tidak. Dia pasti tidak akan seserius itu mengerjakannya,
“Ini!” dia menyerahkan tugasku tadi.
“Thanks my big brother!! Hehehe….”
“Ck! Cepat salin ulang. Tapi kalau ada yang salah, jangan marah padaku, hahaha….”
“Huu…” gerutuku.
***
~SMA kelas XI~
Aku beringsut dan memanyunkan bibirku. Hujan turun dengan lebat. Pasti akan lama redanya. Entah sampai kapan aku berteduh di kios ini!
Drrtt…
HP-ku bergetar. Kulihat ada SMS masuk. Dari Egi.
“Kau di mana?” tulisnya.
“Lagi di kios pasar,” balasku cepat.
“Hujan-hujan begini? Mau kujemput? Mumpung motor ayahku ada.”
“Huahhh… kau memang penyelamatku. Aku tunggu di kios majalah pertama sebelah kanan pasar.”
“OK.”
Lima belas menit kemudian Egi sampai dengan jas hujan birunya. Dia menyerahkan jas hujan lain padaku.
“Beli apa kau tadi?” tanyanya saat aku naik.
“Cuma pakaian baru, hehehe….”
“O… ada tujuan lain?”
“Tidak. Kenapa?”
“Kalau ada bisa kuantar,” jawabnya. Lalu mulai menjalankan motor.
Egi... thanks a lot ^___^
***
~Usai OSPEK~
“Kau tidak apa-apa?” Egi memandangku khawatir. Aku jatuh sakit usai acara penutupan Ospek kemarin. Mungkin kelelahan. Mama dan papa sudah pergi ke tempat kerja mereka sedang kakak-kakakku sudah ke kampus. Padahal rencananya mau ke Program Studi. Melihat jadwal kuliah kalau-kalau sudah keluar.
Egi menyentuh keningku yang panas dengan hati-hati.
“Sudah minum obat?”
Aku menggeleng.
“Sudah makan?”
Aku menggeleng lagi.
Dia keluar kamarku tanpa berkata-kata lagi.
Tiga puluh menit kemudian dia datang dengan obat, segelas air dan semangkuk bubur.
“Kau yang buat?” tanyaku takjub.
Egi mengangguk sambil membantuku duduk. Ah… kepalaku pusing.
“Makanlah… Baru setelah itu minum obat.”
“Aku tidak yakin yang ini bisa dimakan.” Kutunjuk buburnya.
Egi memukul tanganku. “Sakit-sakit masih bisa meremehkanku!” dengusnya sambil tersenyum.
Aku tertawa pelan. Perlahan kusantap bubur tersebut.
Egi berjalan mendekati jendela. Membukanya. Membiarkan udara segar dari luar masuk ke kamarku.
“Kau ke program studimu saja. Aku tidak apa-apa,” kataku ketika melihatnya duduk di kursi meja belajarku. Bukankah dia mau melihat jadwal juga hari ini?
“Aku di sini sampai kakak atau orang tuamu pulang. Kau istirahat saja. Akan kutunggui. Masalah ke program studi masih bisa lain hari kok.” Dia tersenyum menenangkan.
“Thanks,” ucapku tulus. Egi mengangguk.
Aku menarik selimutku. Lalu diam-diam tersenyum di baliknya. Terima kasih sudah mencemaskanku, Gi.
***
~Perkuliahan Semester 4~
“Lia~!!!” teriakan Egi membangunkanku dari tidurku yang nyenyak. Kubuka mata yang masih terasa berat dan mengambil jam weaker-ku. Baru pukul tiga sore. Baru sejam aku tidur dan sudah diganggu. Uh… kalau bukan hal penting, akan kumarahi dia!
Dengan malas aku duduk di ranjangku. Kulihat Egi sudah di ambang pintu.
“Ada apa?”
Dia mengeluarkan sesuatu dari kantung plastik yang dibawanya. “Tara!!!” pekiknya girang. Kesadaranku terkumpul sepenuhnya saat melihat sebuah DVD bertuliskan ‘Concert DBSK at Tokyo Dome’ ada tangannya. Aku cepat mendekatinya.
“Kau membelinya?”
Egi mengangguk mantap.
“Via online store, hehe…” katanya sambil cengengesan dan duduk di kasurku. “Lumayan, ngabisin tiga ratus lima puluh ribu, hahaha…” sambungnya.
“Ah, curang!!” kupukul dia pakai bantal. “Kenapa tidak bilang pada kami?” kusuguhkan wajah cemberutku padanya. Bukankah dia tahu kami menginginkan DVD itu juga!
“Dari pada kamu, Nana dan Ima ikut menghabiskan tiga ratus lima puluh ribu seperti aku, kupikir lebih baik aku saja yang beli dan membuat copy-annya untuk kalian, hehe…”
“Ah? Kau bisa?”
Egi mengangguk yakin.
“Hua… Gomaweo, Chingu!” kuambil DVD di tangannya dan memeluk benda itu dengan erat.
Egi mengangguk ceria. “Aku telpon mereka dulu biar kita nonton sama-sama,” katanya.
Benar saja. Saat di telpon terdengar teriakan Nana dan Ima yang cempreng. Kebetulan Nana sedang main ke rumah Ima. Mereka bilang akan ke tempatku sekarang juga.
Aku tergelak membayangkan ekspresi girang mereka di ujung sana. Ah… rasanya aku juga ingin memeluk laki-laki di depanku ini.
Gomaweo,oppa* ^___^
(oppa: Kakak laki-laki (untukpembicara perempuan)
***
~Perkuliahan Semester 7~
“Ah!” aku menunjukkan wajah kecewaku. Begitu juga dengan Ima dan Egi. Kami yang beda jurusan telah berdoa semoga sekelompok dalam KKN ini, ternyata tidak terkabul.
Nana memandang kami. “Bagaimana?” tanyanya.
Kami menggeleng lemas.
“Hff… Tidak apa-apa.” Egi mencoba tegar. “Kalau bosan kita masih bisa saling telpon kan?”
Aku dan Ima lemas.
“Tidak akan seseru yang kubayangkan!” sungutku. “Jadi malas ikut!”
“Sudahlah… Pasti ada hikmahnya,” ujer Egi menenangkan. Dirangkulnya pundakku sambil tersenyum hangat. “Kalau kau batal ikut, bagaimana bisa cepat lulus?”
Aku manyun.
“Nanti kita saling cerita pengalaman kita,” bujuk Egi lagi.
Aku mengangguk lemah.
Tidak di sangka kau benar, Ga. Aku menemukan cinta terakhirku di sana. Terima kasih, sudah meyakinkanku ^^
***
~Perkuliahan semester 8~
Egi memandangku. Tatapannya seolah tak percaya dengan apa yang baru kukatakan. Ima dan Nana pun tampak tak percaya.
“Aku serius,” tegasku sekali lagi.
“Jadi, siapa dia?” Tanya Nana antusias.
Egi menatapku dengan tatapan tak seperti biasanya. Mungkin kesal aku tidak menceritakan tentang ini padanya.
“Laki-laki yang kukenal di KKN. Anak Fisika. Namanya Arga.” Senyum bahagia menghiasi wajahku.
“Hahai… tampan tidak?” Ima seperti biasa menilai dari segi ketampanan. Dia sahabatku yang tampaknya mudah sekali jatuh cinta. Paling mudah menyerah juga. Tapi, itukan untuk cowok-cowok idolanya ya? Apa… dia tidak pernah benar-benar jatuh cinta?
“Mm…lebih tepat dibilang cute!”
“Aish… jadi penasaran!” ujer Nana.
Kulihat Egi. Dia tampak menerawang. Dan tak lama kemudian dia menghentak meja. Saat ditanya kenapa, dia bilang tiba-tiba ingat ada yang harus dicari.
Aku menggigit bibir bawahku saat dia melangkah cepat. Tapi kemudian dia berbalik dan menatapku lama.
“Chukae…”
Akhirnya dia mengatakannya juga. Kupikir dia kesal tadi, hehe…
Senyumku merekah. “Gomaweo…”
***
~Resepsi Pernikahan~
Pelaminan berhiaskan warna-warni bunga yang semarak. Kegembiraan tergambar jelas di wajahku dan Arga. Sejak duduk di pelaminan dia terus menggenggam tanganku.
“Selamat,” ucap Ima tulus.
Aku mengangguk gembira. “Kau cepat-cepatlah menyusul…”
Dia tertawa pelan.
“Semoga langgeng dan bahagia selalu,” kata Egi.
“Amin…” sahutku.
“Thanks, bro!” sahut Arga.
Egi mengangguk dan tersenyum tipis. “Jangan sampai menyakitinya,” ujernya.
Wuah… Egi bergaya seperti kakakku saja.
“Hm-mm. Aku tahu,” sahut Arga serius.
“Kalau kau berani kami tidak akan tinggal diam!” tambah Nana.
“Aku mengerti,” jawab Arga tegas.
***
~Perayaan Wisuda~
Aku, Ima dan Egi sama-sama lulus di tahun ini. Kami merayakannya bersama. Nana ikut walau dia baru menempuh semester enam. Maklum, dia sempat beristirahat setahun setelah lulus dari SMA.
Acara gembira itu berubah jadi sendu ketika Ima bertanya padaku apa aku akan ikut Arga ke tempat tinggalnya di kota Samarinda.
Lambat-lambat aku mengangguk.
“Kalau merindukan kami, telpon saja. Chat di FB juga boleh…” kata Nana sambil mengusap sudut matanya yang berair seketika.
“Kalau ganti nomor, kasih tahu kami juga,” kata Egi pelan.
“Kalian juga ya?” pintaku. Mereka mengangguk. Egi tampak tersenyum. Seolah ingin menghalau kecemasanku.
***
Sebuah tangan melambai-lambai di depan mataku.
“Kau melamun?” Tanya Egi yang rupanya sejak tadi memperhatikanku.
“Hm… tidak. Hanya teringat masa lalu,” sahutku. Kusuguhkan senyum hangatku padanya. Dia langsung mengacak-acak rambutku.
“Sudah saatnya kita berangkat!” Ditariknya koperku dan mulai berjalan.
“Mm… Gi?” panggilku. Dia berbalik. Alisnya terangkat, seolah bertanya ‘apa’.
“Meodeunge gomaweo (terima kasih atas segalanya),” ucapku sambil membungkukkan tubuhku.
Aku kembali berdiri tegak dan menatapnya sembari tersenyum lebar.
Egi tersenyum lebar sambil geleng-geleng kepala…
TBC
by Imah Hyun Ae
Chapter 6
My Big Brother
---Lia---
Angkasa penuh dengan awan-awan putih. Hanya sedikit langit biru yang tampak. Anginpun tampak sesekali menyapa helai-helai daun. Hawanya yang dingin sedikit membuat tubuhku gemetar dalam perjalanan menuju ke bandara ini.
Egi menatapku. “Gwenchana?” tanyanya cemas.
Aku mengangguk. Kuberikan senyuman agar dia tak mencemaskanku lagi. Perlahan kulihat dia melepas jaketnya dan menyerahkannya padaku.
“Pakailah…”
Aku menatapnya.
“Kau kedinginan kan?”
“Hehehe…” aku cengengesan. “Gomaweo,” ucapku girang. Ia manggut-manggut sambil menyeruput kopi hangat yang baru dibelinya.
Kami duduk sambil menunggu penerbangan kami yang masih tiga puluh menit lagi.
Beberapa waktu yang lalu Ima, sahabat kami, menanyakan kapan kami berangkat ke Jakarta. Ah… tak disangka dia sukses dengan karir menulisnya. Juga pekerjaan tetapnya sebagai guru matematika. Mengenang kesuksesannya membuatku tersenyum.
Kupandangi Egi yang duduk di sampingku. Laki-laki yang sudah kuanggap sebagai kakak kandungku ini mengetuk-ngetukkan jarinya di kursi. Senandung kecilnya terdengar. Kuamati wajahnya yang terlihat lebih tegas sekarang. Ia tumbuh sebagai laki-laki dewasa yang tampan dan mapan. Tapi kenapa masih belum mencari calon istri ya? Kurasa lelaki baik ini harus dapat gadis yang baik juga.
Aku tersenyum dengan pikiranku sendiri. Hei, dia tahu tidak ya kalau aku selalu merasa nyaman di dekatnya?
***
~Kelas 2 SD~
Aku sedang duduk-duduk di sofa. Mama, papa, dan kakak perempuanku sedang sibuk menata barang-barang. Kami baru pindah ke rumah ini kemarin. Rumah yang dengan sengaja dipilih dekat dengan sekolahku. Juga sekolah kakak-kakakku.
Aku menghibur diriku yang bosan dengan melompat-lompat dari sofa satu ke sofa lainnya.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar bunyi ketukan pintu dari luar. Aku menghentikan aktifitasku sesaat. Dan melanjutkannya lagi.
“Tolong buka pintunya, Ya!” teriak mama.
“Ya, Ma.”
Aku turun dari sofa dan berjalan keluar.
Di depan pintu kulihat wanita tiga puluh tahunan tersenyum padaku.
“Kami tetangga sebelah. Ibumu ada?” tanyanya lembut.
Aku mengangguk. “Mama!! Ada teman Mama!!” teriakku asal.
“Siapa?” tanya Mama sambil keluar dan berhenti tepat di depan wanita itu.
Wanita itu mengulurkan tangannya. “Kami tetangga sebelah. Waktu melihat Anda, saya merasa kenal. Baru ingat, ternyata kita pernah bertemu sewaktu sama-sama menjemput anak kita di SD.”
“AH…” mama menjerit. “Iya. Jenk Lina kan?”
Wanita yang dipanggil ‘Jenk Lina’ itu mengangguk. Mama segera mempersilahkan masuk.
Kulihat seorang anak laki-laki mengekor di belakangnya.
“Egi, sapa teman sekelasmu,” pinta wanita itu.
Sekelas? Aku memandang anak laki-laki itu lagi.
“Ajakin main dong, Ya…” pinta Mama.
Dengan malu-malu aku berkata, “Mau main?”
Egi mengangguk lambat.
Aku mengajaknya ke halaman.
“Kita main kelereng yuk? Kau punya kelereng tidak?” tanya Egi.
Aku menggeleng sedih.
Egi mengambil sesuatu di sakunya. “Pakai punyaku saja. Ini!”
Aku tersenyum cerah dan segera mengambilnya. Egi kemudian membuat lubang. Katanya kelereng siapa yang masuk kelubang itu pertama kali, berarti dia yang kalah.
Walau tidak mengerti, aku tetap bermain dengannya. Sebuah permainan yang menyenangkan dengan seseoran yang menyenangkan… ^_^
***
~SD Kelas 4~
Kusobek kertas bertuliskan angka empat di lembar matematikaku. Kesal. Aku sudah susah payah belajar tapi yang kudapat cuma angka kursi itu. Padahal gelap mulai merambat dan aku tak mau pulang. Aku yakin mama dan papa pasti marah. Anak bungsunya tak akan bisa diharapkan padahal ulangan kenaikan kelas dua minggu lagi.
Aku mengucek mataku. Menyapu embun yang menggantung di kelopak mataku. Meski begitu, dadaku masih memburu. Emosi karena kegagalan dan ketakutan kena marah masih tersisa.
“Lia~?”
Suara yang tak asing.
Aku menoleh. Terlihat Egi lari mendekatiku.
“Akhirnya ketemu juga! Ayo pulang. Mamamu sudah cemas.” Dia menarik tanganku.
“Tidak mau!” kutepis tangannya dengan kasar.
“Kenapa?”
“Pasti dimarahi kalau pulang! Papa kan tidak suka aku dapat nilai merah!!”
Egi melingkarkan tangannya di pundakku. “Nanti kubela,” katanya yakin.
“Mana bisa! Kamu kan kecil…” sungutku.
Dia menggaruk kepalanya yang kuyakin tidak gatal. Iya-juga-ya. Mungkin itulah arti tatapannya padaku.
“Kalau begitu ke rumahku saja,” tawarnya. “Kita belajar sama-sama biar tidak dapat nilai merah lagi. Yuk?”
Aku segera mengangguk dan tersenyum cerah.
Di depan rumah tampak mama dan papa, juga orang tuanya Egi. Aku segera bersembunyi di balik tubuh Egi yang sama kecilnya dneganku.
Mama langsung berhambur ke arahku. Memelukku dengan erat. Saat papa mendekat Egi menghadangnya.
“Kalau Om mau marahi Lia, Om tidak boleh lewat!” ancamnya.
Papa diam sesaat lalu tersenyum. “Kalau Om janji tidak marah, Om boleh lewat kan?”
Egi memandangku. Perlahan dia menghadap papaku lagi.
“Om janji,” kata papaku meyakinkan.
Egi mundur selangkah. Mempersilahkan papaku lewat. Beberapa saat kemudian kurasakan papa mengelus kepalaku dengan sayang.
Terima kasih, Gi…
***
~SMP kelas VII~
Aku dan Egi sedang makan di kantin.
“Gawat!” aku menepuk keningku dengan keras saat aku ingat kalau PR Fisikaku belum ku kerjakan.
Egi memandangku. ‘Lagi?!’ tatapannya seolah berkata demikian.
Aku meringis dan menangkupkan kedua tanganku. “Nyontek ya?” ujerku sedemikian memelas pada Egi.
Egi masih diam.
“Please…” kutunjukkan puppy eyes-ku. Padahal tak perlu begitupun ia pasti mengiyakannya.
Tuh, kan. Dia sudah bergerak menuju kasir dan membayar makanan yang dia pesan. Lantas berjalan ke kelas.
Di kelas, dia mengambil buku tulisnya dan menyerahkannya padaku. Aku menyalinnya dengan kecepatan penuh.
“Salin yang cepat! Nanti Bapak keburu masuk,” ujernya yang duduk di sampingku sambil geleng-geleng kepala. Tak habis pikir kenapa aku bisa lupa, hehehe…
***
~SMP kelas VIII semester ganjil~
Hari ini pengambilan nilai menendang bola ke gawang untuk mata pelajaran olah raga. Sekarang giliranku. Dengan semangat aku menendangnya. Shuuut… Bola berguling dan teman-temanku tertawa puas. Akupun tidak bisa menahan tawaku sendiri lantaran bola masuk gawang bersamaan dengan sepatuku yang sukses masuk ke saluran air yang ada di dekat lapangan bola itu.
Sambil terus tertawa, Egi melompati saluran itu. Dia mengambil sepatuku. Aku menanti dengan senang, karena kupikir dia akan menyerahkannya padaku. Namun ternyata dia justru menaiki tangga dan menaruh sepatuku di atas atap sekolah!!
“EGI!!!”
“Huahahaha,,,,”
Sial! Teman-teman malah tertawa.
Aku bersumpah tidak akan bicara padanya!
“Biar cepat kering, Ya!” teriak Egi dari atas. “Apa kau mau pakai sepatu basah?” kata-katanya berhasil membuat teman-teman yang tertawa tadi bungkam seketika.
Rasanya ingin sekali aku memanggilnya ‘kakakku tersayang’, hehehe….. Aku menyayangimu, sahabat terbaikku ^^
***
~SMA Kelas XI~
“EGI~!!!” Aku meneriakkan namanya sambil berlari di koridor. Sesuatu mendesakku. Keadaan benar-benar genting. Apalagi kalau bukan lupa mengerjakan PR.
Aku masuk kelas Egi yang untuk pertama kalinya kami terpisah kelas. Egi menatapku bingung.
“Ada apa?” tanyanya.
Aku mendekat dan langsung duduk di kursi samping tempat duduknya. Memandangnya penuh harap. Kuserahkan buku tulis dan paketku padanya.
“Tolong kerjakan,” bisikku saat halaman berisi lima soal bahasa inggris yang tak terlalu kumengerti tertera di depan kami.
Egi berdecak, seolah sudah hapal dengan tabiatku ini.
“Mana pennya?”
“Ups! Lupa! Hehehe…”
Dia mencibir. Lalu mengambil pennya dan mulai mengerjakan. Dia hanya berpura-pura enggan, aku tahu itu. Karena jika tidak. Dia pasti tidak akan seserius itu mengerjakannya,
“Ini!” dia menyerahkan tugasku tadi.
“Thanks my big brother!! Hehehe….”
“Ck! Cepat salin ulang. Tapi kalau ada yang salah, jangan marah padaku, hahaha….”
“Huu…” gerutuku.
***
~SMA kelas XI~
Aku beringsut dan memanyunkan bibirku. Hujan turun dengan lebat. Pasti akan lama redanya. Entah sampai kapan aku berteduh di kios ini!
Drrtt…
HP-ku bergetar. Kulihat ada SMS masuk. Dari Egi.
“Kau di mana?” tulisnya.
“Lagi di kios pasar,” balasku cepat.
“Hujan-hujan begini? Mau kujemput? Mumpung motor ayahku ada.”
“Huahhh… kau memang penyelamatku. Aku tunggu di kios majalah pertama sebelah kanan pasar.”
“OK.”
Lima belas menit kemudian Egi sampai dengan jas hujan birunya. Dia menyerahkan jas hujan lain padaku.
“Beli apa kau tadi?” tanyanya saat aku naik.
“Cuma pakaian baru, hehehe….”
“O… ada tujuan lain?”
“Tidak. Kenapa?”
“Kalau ada bisa kuantar,” jawabnya. Lalu mulai menjalankan motor.
Egi... thanks a lot ^___^
***
~Usai OSPEK~
“Kau tidak apa-apa?” Egi memandangku khawatir. Aku jatuh sakit usai acara penutupan Ospek kemarin. Mungkin kelelahan. Mama dan papa sudah pergi ke tempat kerja mereka sedang kakak-kakakku sudah ke kampus. Padahal rencananya mau ke Program Studi. Melihat jadwal kuliah kalau-kalau sudah keluar.
Egi menyentuh keningku yang panas dengan hati-hati.
“Sudah minum obat?”
Aku menggeleng.
“Sudah makan?”
Aku menggeleng lagi.
Dia keluar kamarku tanpa berkata-kata lagi.
Tiga puluh menit kemudian dia datang dengan obat, segelas air dan semangkuk bubur.
“Kau yang buat?” tanyaku takjub.
Egi mengangguk sambil membantuku duduk. Ah… kepalaku pusing.
“Makanlah… Baru setelah itu minum obat.”
“Aku tidak yakin yang ini bisa dimakan.” Kutunjuk buburnya.
Egi memukul tanganku. “Sakit-sakit masih bisa meremehkanku!” dengusnya sambil tersenyum.
Aku tertawa pelan. Perlahan kusantap bubur tersebut.
Egi berjalan mendekati jendela. Membukanya. Membiarkan udara segar dari luar masuk ke kamarku.
“Kau ke program studimu saja. Aku tidak apa-apa,” kataku ketika melihatnya duduk di kursi meja belajarku. Bukankah dia mau melihat jadwal juga hari ini?
“Aku di sini sampai kakak atau orang tuamu pulang. Kau istirahat saja. Akan kutunggui. Masalah ke program studi masih bisa lain hari kok.” Dia tersenyum menenangkan.
“Thanks,” ucapku tulus. Egi mengangguk.
Aku menarik selimutku. Lalu diam-diam tersenyum di baliknya. Terima kasih sudah mencemaskanku, Gi.
***
~Perkuliahan Semester 4~
“Lia~!!!” teriakan Egi membangunkanku dari tidurku yang nyenyak. Kubuka mata yang masih terasa berat dan mengambil jam weaker-ku. Baru pukul tiga sore. Baru sejam aku tidur dan sudah diganggu. Uh… kalau bukan hal penting, akan kumarahi dia!
Dengan malas aku duduk di ranjangku. Kulihat Egi sudah di ambang pintu.
“Ada apa?”
Dia mengeluarkan sesuatu dari kantung plastik yang dibawanya. “Tara!!!” pekiknya girang. Kesadaranku terkumpul sepenuhnya saat melihat sebuah DVD bertuliskan ‘Concert DBSK at Tokyo Dome’ ada tangannya. Aku cepat mendekatinya.
“Kau membelinya?”
Egi mengangguk mantap.
“Via online store, hehe…” katanya sambil cengengesan dan duduk di kasurku. “Lumayan, ngabisin tiga ratus lima puluh ribu, hahaha…” sambungnya.
“Ah, curang!!” kupukul dia pakai bantal. “Kenapa tidak bilang pada kami?” kusuguhkan wajah cemberutku padanya. Bukankah dia tahu kami menginginkan DVD itu juga!
“Dari pada kamu, Nana dan Ima ikut menghabiskan tiga ratus lima puluh ribu seperti aku, kupikir lebih baik aku saja yang beli dan membuat copy-annya untuk kalian, hehe…”
“Ah? Kau bisa?”
Egi mengangguk yakin.
“Hua… Gomaweo, Chingu!” kuambil DVD di tangannya dan memeluk benda itu dengan erat.
Egi mengangguk ceria. “Aku telpon mereka dulu biar kita nonton sama-sama,” katanya.
Benar saja. Saat di telpon terdengar teriakan Nana dan Ima yang cempreng. Kebetulan Nana sedang main ke rumah Ima. Mereka bilang akan ke tempatku sekarang juga.
Aku tergelak membayangkan ekspresi girang mereka di ujung sana. Ah… rasanya aku juga ingin memeluk laki-laki di depanku ini.
Gomaweo,oppa* ^___^
(oppa: Kakak laki-laki (untukpembicara perempuan)
***
~Perkuliahan Semester 7~
“Ah!” aku menunjukkan wajah kecewaku. Begitu juga dengan Ima dan Egi. Kami yang beda jurusan telah berdoa semoga sekelompok dalam KKN ini, ternyata tidak terkabul.
Nana memandang kami. “Bagaimana?” tanyanya.
Kami menggeleng lemas.
“Hff… Tidak apa-apa.” Egi mencoba tegar. “Kalau bosan kita masih bisa saling telpon kan?”
Aku dan Ima lemas.
“Tidak akan seseru yang kubayangkan!” sungutku. “Jadi malas ikut!”
“Sudahlah… Pasti ada hikmahnya,” ujer Egi menenangkan. Dirangkulnya pundakku sambil tersenyum hangat. “Kalau kau batal ikut, bagaimana bisa cepat lulus?”
Aku manyun.
“Nanti kita saling cerita pengalaman kita,” bujuk Egi lagi.
Aku mengangguk lemah.
Tidak di sangka kau benar, Ga. Aku menemukan cinta terakhirku di sana. Terima kasih, sudah meyakinkanku ^^
***
~Perkuliahan semester 8~
Egi memandangku. Tatapannya seolah tak percaya dengan apa yang baru kukatakan. Ima dan Nana pun tampak tak percaya.
“Aku serius,” tegasku sekali lagi.
“Jadi, siapa dia?” Tanya Nana antusias.
Egi menatapku dengan tatapan tak seperti biasanya. Mungkin kesal aku tidak menceritakan tentang ini padanya.
“Laki-laki yang kukenal di KKN. Anak Fisika. Namanya Arga.” Senyum bahagia menghiasi wajahku.
“Hahai… tampan tidak?” Ima seperti biasa menilai dari segi ketampanan. Dia sahabatku yang tampaknya mudah sekali jatuh cinta. Paling mudah menyerah juga. Tapi, itukan untuk cowok-cowok idolanya ya? Apa… dia tidak pernah benar-benar jatuh cinta?
“Mm…lebih tepat dibilang cute!”
“Aish… jadi penasaran!” ujer Nana.
Kulihat Egi. Dia tampak menerawang. Dan tak lama kemudian dia menghentak meja. Saat ditanya kenapa, dia bilang tiba-tiba ingat ada yang harus dicari.
Aku menggigit bibir bawahku saat dia melangkah cepat. Tapi kemudian dia berbalik dan menatapku lama.
“Chukae…”
Akhirnya dia mengatakannya juga. Kupikir dia kesal tadi, hehe…
Senyumku merekah. “Gomaweo…”
***
~Resepsi Pernikahan~
Pelaminan berhiaskan warna-warni bunga yang semarak. Kegembiraan tergambar jelas di wajahku dan Arga. Sejak duduk di pelaminan dia terus menggenggam tanganku.
“Selamat,” ucap Ima tulus.
Aku mengangguk gembira. “Kau cepat-cepatlah menyusul…”
Dia tertawa pelan.
“Semoga langgeng dan bahagia selalu,” kata Egi.
“Amin…” sahutku.
“Thanks, bro!” sahut Arga.
Egi mengangguk dan tersenyum tipis. “Jangan sampai menyakitinya,” ujernya.
Wuah… Egi bergaya seperti kakakku saja.
“Hm-mm. Aku tahu,” sahut Arga serius.
“Kalau kau berani kami tidak akan tinggal diam!” tambah Nana.
“Aku mengerti,” jawab Arga tegas.
***
~Perayaan Wisuda~
Aku, Ima dan Egi sama-sama lulus di tahun ini. Kami merayakannya bersama. Nana ikut walau dia baru menempuh semester enam. Maklum, dia sempat beristirahat setahun setelah lulus dari SMA.
Acara gembira itu berubah jadi sendu ketika Ima bertanya padaku apa aku akan ikut Arga ke tempat tinggalnya di kota Samarinda.
Lambat-lambat aku mengangguk.
“Kalau merindukan kami, telpon saja. Chat di FB juga boleh…” kata Nana sambil mengusap sudut matanya yang berair seketika.
“Kalau ganti nomor, kasih tahu kami juga,” kata Egi pelan.
“Kalian juga ya?” pintaku. Mereka mengangguk. Egi tampak tersenyum. Seolah ingin menghalau kecemasanku.
***
Sebuah tangan melambai-lambai di depan mataku.
“Kau melamun?” Tanya Egi yang rupanya sejak tadi memperhatikanku.
“Hm… tidak. Hanya teringat masa lalu,” sahutku. Kusuguhkan senyum hangatku padanya. Dia langsung mengacak-acak rambutku.
“Sudah saatnya kita berangkat!” Ditariknya koperku dan mulai berjalan.
“Mm… Gi?” panggilku. Dia berbalik. Alisnya terangkat, seolah bertanya ‘apa’.
“Meodeunge gomaweo (terima kasih atas segalanya),” ucapku sambil membungkukkan tubuhku.
Aku kembali berdiri tegak dan menatapnya sembari tersenyum lebar.
Egi tersenyum lebar sambil geleng-geleng kepala…
TBC
Love Ya!!! chapter 5
Love Ya!!!
oleh Imah Hyun Ae
Chapter 5
You’re My Love
---Lia---
Membingungkan… Perlahan aku terus memikirkanmu. Teringat cara tawamu yang khas. Tentangmu yang merebahkan kepalamu di bahuku. Cengiranmu yang lebar saat mau memberikan kejutan padaku. Tatapanmu saat kau memanggilku dengan sebutan ‘sayang’. Tingkah anehmu saat kau membujukku agar tersenyum lagi. Kedua matamu yang menyipit saat kau tersenyum tulus dan polos. Kau yang manyun ketika merajuk, persis seperti anak kecil. Lalu sosokmu yang serius saat bekerja, perhatian dan mudah sekali tersentuh.
Kau yang telah pergi dan aku masih mencintaimu. Apa kau masih ingat bagaimana kita bertemu?
Kuletakkan foto pernikahan aku dan Arga yang sejak tadi kupandangi. Perasaan cinta itu masih nyata di sini, di hati ini…
***
~KKN~
Aku mengenal seorang laki-laki yang aneh. Sudah hampir semester akhir, tapi tingkahnya seperti anak kecil. Senang mengagetkan orang lain, muncul tiba-tiba dengan tampang polosnya. Wajah penuh nafsu saat melihat makanan, apa saja. Tampang memelas ketika tak diberi. Heboh sendiri saat main game di HP-nya atau di HP teman-teman usai mengerjakan tugas.
Aku tak terlalu merasa terganggu dengan tingkahnya. Begitu juga dengan yang lain. Seolah paham bahwa laki-laki bernama Arga itu masa kecilnya kurang bahagia.
“Memikirkan apa?” tanya seseorang sambil menepuk bahu kananku. Aku menoleh ke kanan, tak ada siapa-siapa. Kutoleh ke kiri, sebuah senyum lembut tersungging di bibirnya. Kedua matanya menyipit saat lengkungan indah itu tercipta. Aku tak pernah melihat senyum seperti ini. Senyum cute yang berhasil membuat waktu dan segala hal di sekelilingku serasa tak bergerak.
“Arga, cepat!!” teriakan dari si ketua kelompok menyadarku.
“Oke!!” teriak Arga padanya.
“Aku duluan!” pamitnya padaku. Ia lantas berlari sekuat tenaga menyusul si ketua yang ada di depan.
Aku menghela napas dan memukul dadaku pelan. Kurasai jantungku berdebar kencang. Apa yang terjadi denganku?
----
“Sini kubawakan!”
Seseorang mengambil sayur-mayur yang baru kubeli dari pasar. Dan saat tahu siapa orang itu, aku hanya bisa tersenyum simpul.
“Thanks…” ujerku padanya saat sampai di dapur. Dia mengangguk.
“Ini,” kuberikan roti yang kubeli padanya. Dia memandangku aneh.
“Aku tahu kau lapar,” kataku menjawab keanehannya. Ia tergelak. Tawa khasnya yang seperti suara lumba-lumba itu membuatku ingin menertawakannya.
“Kau pengertian,” ujernya lalu pergi.
Kupandangi sosoknya sampai menghilang dari pandanganku.
Aku menghela napas dan berbalik. Memulai tugasku yang kena jadwal memasak hari ini.
“Kau memanggilku?” sebuah suara membuatku terkejut.
“Arga?!!” komentarku saat melihat dia sudah ada di balik jendela dapur padahal tadi sudah jauh melangkah. “Mengagetkanku saja!” desisku sambil mengurut dada.
“Eukyang-kyang…” ia tertawa. Dan seperti yang kukatakan, tawanya membuatku ingin tertawa juga.
“Kalau punya makanan lagi, jangan lupakan aku ya?” matanya menatapku penuh harap. Membuatku gemas. Berapa sih umur laki-laki ini?? Dan yang lebih penting, kenapa aku bisa mencintai orang seperti ini??!
----
Senyumnya seperti sinar matahari, menghangatkan jiwaku.
Kupandangi dia yang tengah memainkan gitar di sudut ini. Sesekali ikut bertepuk tangan saat suara seraknya yang khas itu berhasil menyanyikan lagu dengan merdu.
“If tomorrow never comes
Would you know how much I love you…”
Dia berhasil membuat satu tinta cinta tertoreh lagi di hatiku.
----
“Boleh bergabung?” suara khas Arga terdengar.
Aku menoleh dan kulihat dia sudah duduk di samping kananku. Jarak kami sekitar 40cm. dia tampak sudah asyik dengan HP-nya.
Aku kembali memandang langit.
Senja yang indah terukir di ufuk barat sana. Semburat jingganya menyebar luas, memantul di awan. Teriakan burung yang ingin pulang mengiringi gemerisik daun yang tertiup angin. Rasanya sore hari ini benar-benar damai.
“Kau bawa HP?” Tanya Arga tiba-tiba.
Aku menoleh ke arahnya seraya mengiyakan.
“Boleh kupinjam?” matanya menyipit dan senyum manis penuh harapnya terukir.
Deg!
Lagi-lagi dadaku berdebar hebat.
“Ada game-nya kan?”
“Ada.” Jawabku sambil mengambil HP di saku jinsku. Kuserahkan padanya. “Tapi hanya game biasa,” smabungku.
Dia asyik memencet tombol navigasi HPku.
“Aku boleh minta kan?” ia bertanya dengan pandangan serius pada HPku.
“Silahkan saja.”
“Thanks…” ia menyerahkan HPku dengan senyuman manisnya.
Aku hendak memasukkan HPku ke sakuku lagi ketika tiba-tiba ia berdering. Kulihat layarnya bertuliskan nomor baru. Cuma Missed call.
“Itu nomorku.”
Kutoleh Arga dengan segera.
“Save ya?”
“Bagaimana kau tahu nomorku?”
Kali ini Arga menyuguhkan cengirannya. “Rahasia,” katanya sembari mengedip jahil.
Aish… sial. Wajahku memanas.
“Kapan-kapan kutelpon ya?”
Bagaimana caraku menyembunyikan wajahku? Pasti merah sekali sekarang.
----
Siang hari, pulang dari kegiatan bersih-bersih lingkungan desa. Aku berjalan sambil memikirkan apa yang sedang Arga lakukan.
“Ya?” sebuah suara terdengar bersamaan dengan tepukan pelan yang mendarat di bahu kananku. Spontan aku menoleh ke kanan. Tak ada. Hm.. pasti Arga pelakunya. Dia kan selalu begini. Kutoleh sebelah kiriku.
Set!
Jari telunjuk kanan Arga menyentuh pipi kiriku.
“Kena deh! Eukyang-kyang…” Ia dengan santainya berkata seperti itu. Apa dia tidak tahu, itu membuat jantungku makin berdebar hebat?!
“Aku tahu kau memikirkanku, makanya kuhampiri, hehe…”
“Ge-er!” aku mencibir ke arahnya.
Lagi-lagi Arga tertawa dengan tawanya yang khas itu sambil berlalu meninggalkanku.
Hff… dia selalu begitu. Menghampiri sebentar lantas menjauh.
HP-ku berdering. Ada pesan masuk. Kubuka,
Pengirim: Arga
‘Kenapa matamu mengikutiku? Sudah rindu ya? ^___^’
Eh?
Kucari-cari sosoknya yang ternyata tengah duduk dengan ke dua tangan menopang dagunya. Kepalanya agak miring ke kiri. Dan dengan imutnya dia tersenyum ke arah… Aku?!!
Aku segera memalingkan wajah. Gugup sekaligus salah tingkah.
***
~Usai KKN~
Hari pertama.
Pesan dari Arga: “Hai.”
“Hai too ^^.”
“Lagi apa?”
“Balas SMS u :p”
“Hahaha…=D”
Hanya itu.
----
Di sore hari yang lain.
“Sibuk?” tulis Arga.
“Um…sedikit. Kenapa?”
“Tidak. Cuma mencari teman SMS-an hehehe… Ya sudah, met ngapain aja ^^”
“OK. Kamu juga ^^”
----
Malam minggu di tengah hujan lebat. Sebuah panggilan masuk ke HP-ku. Tertulis ‘Arga Memanggil’.
Kutekan tombol ‘Yes’.
“Hallo…” sapaku berusaha terdengar biasa saja.
“Hai,” jawabnya ceria. Kemudian dia hanya diam.
“Ada apa?” tanyaku bingung sekaligus tegang dengan kebisuannya.
“Ah? Tidak. Cuma mau mendengar suaramu saja, Eukyang-kyang…”
Aku tersenyum. Sudah lama sekali rasanya tak mendengar suara anehnya ini.
Aku baru mau berkomentar saat suara ‘Tut..tut…tut…’ menyapa telingaku. Ah, kenapa terlalu cepat ditutup?!
----
Di lain hari.
“Apa arti aku bagimu?”
Deg! SMS dari Arga membuat hatiku merasa tegang tak karuan. Apa maksud kalimat ini ya?
“Maksudnya?” balasku hati-hati.
“Jika bagimu aku bintang keberuntunganmu, maka kau harus tahu, aku bukanlah apa-apa tanpamu.” Balasnya.
Aku menghela napas seiring dengan wajahku yang memanas. Tapi, dia tak boleh tahu aku terbang karena kata-katanya kan?! Maka ku balas, “Lagi dapat tugas buat puisi ya?”
Sejam. Dua jam. Lima jam. Dua belas jam. Tak ada balasan darinya. Aku menyesal membalas seperti itu. Argh… coba balas kalimat yang lain ya? Tapi, kalimat seperti apa yang tidak terkesan ge-er??
----
Tiga hari kemudian.
Pengirim Arga: “Ini hati yang penuh kerinduan. Jika hatimu sama dengan hatiku, mau kah kau bersamaku?”
Deg! Apa yang harus kujawab?
Aku menghela napas panjang, dan mulai membalas, “Apa kalimat ini untuk orang yang kau cintai?”
Aku tahu ini pertanyaan bodoh. Tapi kuharap dia mau membalasnya.
Aku terus menunggu. Namun tak satupun pesan yang masuk ke HP-ku yang berasal dari Arga. Sial! Seharusnya aku jawab ‘iya’ saja tadi. Tapi… kalau ternyata dia cuma SMS iseng? Huff… berat juga jatuh cinta sama orang yang sulit ditebak!
----
Dua hari kemudian.
‘Arga memanggil’ tulisan ini tertera di layar HP-ku. Aku segera menjawab.
“Hallo…”
“Hallo…” suaranya terdengar tegang.
“Apa kabar, Ga?” tanyaku canggung.
“Apa kau punya pacar?”
O_o “Mm… tidak. Kenapa?” sekarang aku yang tegang. Apa Arga mau bilang cinta padaku?
“Kalau begitu mau jadi kekasihku?” tanyanya cepat.
“Eh? Kau bercanda?”
Terdengar suara berisik di ujung sana. Apa… Arga mengerjaiku?!
“Kau mengerjaiku?!!” kataku kesal.
“Tidak!!” sahutnya panik. “Ah… kenapa kalian menggangguku!!” teriaknya pada orang-orang di sekitarnya.
Dengan kesal aku mematikan telpon darinya.
Dia menelpon lagi, tapi kutolak.
Tak berapa lama sebuah SMS masuk. Dari Arga.
“Aku serius. Aku cinta sama kamu, Ya.”
“Jangan bercanda!” balasku.
“Bagaimana cara agar kau percaya?Aku benar-benar serius, Ya?”
Aku berpikir sebentar. “Kalau kau serius, datang saja ke rumahku dan bilang pada orang tuaku kalau kau mau aku jadi kekasihmu. Weee… :p”
Tak ada balasan darinya. Apa tadi dia memang serius ya? Aduh… orang yang jatuh cinta memang sering plin-plan…
----
Sebulan kemudian…
Pengirim Arga: “You’re my love, I miss you ^,^”
Deg!
Lagi-lagi dia berhasil menghadirkan degup ini di dadaku. Ahh…wajahku memanas hanya karena SMS itu.
Aku sedang memikirkan apa yang harus kubalas ketika dua buah mobil berhenti di depan rumahku.
Seorang wanita berkebaya dan dua orang laki-laki memakai jas keluar dari mobil itu. Salah satunya kukenali. Dia… Arga??
Lalu, beberapa orang lagi di belakang mereka keluar dan membawakan beberapa barang. Mereka masuk ke… rumahku?!!
***
“Hari itu kau datang dengan kedua orang tuamu. Melamarku. Kau tahu, itu terlalu mendadak buatku, Ga.” Aku tersenyum pada sosok Arga di foto yang kembali kupegang. “Meski begitu, aku tetap menerimamu. Kau tahu kenapa?”
Kupandangi sosok Arga di foto itu. Aku membayangkan dirinya menggeleng. Dengan lirih ku katakan padanya, “Karena aku mencintaimu…”
Dalam benakku, Arga-ku tersenyum…
Aku terlalu sering bertanya, kenapa kau pergi begitu cepat? Jelas-jelas kutahu begitulah takdirmu. Tidak ada sakit atau apapun, kau hanya pergi dengan berpesan padaku, “Jaga diri baik-baik.” Sesaat sebelum kau berangkat bekerja.
***
~Hari Kepergian Arga~
Suamiku tersenyum lembut ketika lagi-lagi saat aku mual-mual, kupikir aku hamil, ternyata hanya masuk angin.
“Mungkin belum waktunya,” ujernya menenangkan.
Aku tak mampu berkata apa-apa.
“Mungkin Tuhan ingin kita lebih banyak bersama-sama dulu, eukyang-kyang…”
Aku tersenyum.
“Aku pergi dulu ya.”
Aku mengangguk. Dia mencium keningku lalu pergi.
“Ma, titip jagain Lia, ya?” pintanya saat dia di depan pintu rumah. Tumben-tumbenan berpesan begitu. “Jaga diri baik-baik, ya.” Pesannya padaku sambil menatapku lama. Lalu mendekat ke arahku sambil berbisik, “Jeongmal saranghae, youngwonnhie…” Lantas tersenyum lembut padaku sambil mengelus pipiku dengan mesra. “Sampai jumpa lagi.”
Siang harinya kudengar kabar dia tiba-tiba jatuh pingsan. Katanya tekanan darahnya tinggi. Semalaman aku menunggunya di rumah sakit. Dia tak jua bangun. Dan paginya… dia benar-benar pergi.
***
Aku menyeka air mataku yang jatuh. Aku merindukanmu, Ga… Kupandangi fotonya yang tersenyum di tanganku ini. Terima kasih karena sudah jadi bagian di kehidupanku…
TBC...
saran please ^^
oleh Imah Hyun Ae
Chapter 5
You’re My Love
---Lia---
Membingungkan… Perlahan aku terus memikirkanmu. Teringat cara tawamu yang khas. Tentangmu yang merebahkan kepalamu di bahuku. Cengiranmu yang lebar saat mau memberikan kejutan padaku. Tatapanmu saat kau memanggilku dengan sebutan ‘sayang’. Tingkah anehmu saat kau membujukku agar tersenyum lagi. Kedua matamu yang menyipit saat kau tersenyum tulus dan polos. Kau yang manyun ketika merajuk, persis seperti anak kecil. Lalu sosokmu yang serius saat bekerja, perhatian dan mudah sekali tersentuh.
Kau yang telah pergi dan aku masih mencintaimu. Apa kau masih ingat bagaimana kita bertemu?
Kuletakkan foto pernikahan aku dan Arga yang sejak tadi kupandangi. Perasaan cinta itu masih nyata di sini, di hati ini…
***
~KKN~
Aku mengenal seorang laki-laki yang aneh. Sudah hampir semester akhir, tapi tingkahnya seperti anak kecil. Senang mengagetkan orang lain, muncul tiba-tiba dengan tampang polosnya. Wajah penuh nafsu saat melihat makanan, apa saja. Tampang memelas ketika tak diberi. Heboh sendiri saat main game di HP-nya atau di HP teman-teman usai mengerjakan tugas.
Aku tak terlalu merasa terganggu dengan tingkahnya. Begitu juga dengan yang lain. Seolah paham bahwa laki-laki bernama Arga itu masa kecilnya kurang bahagia.
“Memikirkan apa?” tanya seseorang sambil menepuk bahu kananku. Aku menoleh ke kanan, tak ada siapa-siapa. Kutoleh ke kiri, sebuah senyum lembut tersungging di bibirnya. Kedua matanya menyipit saat lengkungan indah itu tercipta. Aku tak pernah melihat senyum seperti ini. Senyum cute yang berhasil membuat waktu dan segala hal di sekelilingku serasa tak bergerak.
“Arga, cepat!!” teriakan dari si ketua kelompok menyadarku.
“Oke!!” teriak Arga padanya.
“Aku duluan!” pamitnya padaku. Ia lantas berlari sekuat tenaga menyusul si ketua yang ada di depan.
Aku menghela napas dan memukul dadaku pelan. Kurasai jantungku berdebar kencang. Apa yang terjadi denganku?
----
“Sini kubawakan!”
Seseorang mengambil sayur-mayur yang baru kubeli dari pasar. Dan saat tahu siapa orang itu, aku hanya bisa tersenyum simpul.
“Thanks…” ujerku padanya saat sampai di dapur. Dia mengangguk.
“Ini,” kuberikan roti yang kubeli padanya. Dia memandangku aneh.
“Aku tahu kau lapar,” kataku menjawab keanehannya. Ia tergelak. Tawa khasnya yang seperti suara lumba-lumba itu membuatku ingin menertawakannya.
“Kau pengertian,” ujernya lalu pergi.
Kupandangi sosoknya sampai menghilang dari pandanganku.
Aku menghela napas dan berbalik. Memulai tugasku yang kena jadwal memasak hari ini.
“Kau memanggilku?” sebuah suara membuatku terkejut.
“Arga?!!” komentarku saat melihat dia sudah ada di balik jendela dapur padahal tadi sudah jauh melangkah. “Mengagetkanku saja!” desisku sambil mengurut dada.
“Eukyang-kyang…” ia tertawa. Dan seperti yang kukatakan, tawanya membuatku ingin tertawa juga.
“Kalau punya makanan lagi, jangan lupakan aku ya?” matanya menatapku penuh harap. Membuatku gemas. Berapa sih umur laki-laki ini?? Dan yang lebih penting, kenapa aku bisa mencintai orang seperti ini??!
----
Senyumnya seperti sinar matahari, menghangatkan jiwaku.
Kupandangi dia yang tengah memainkan gitar di sudut ini. Sesekali ikut bertepuk tangan saat suara seraknya yang khas itu berhasil menyanyikan lagu dengan merdu.
“If tomorrow never comes
Would you know how much I love you…”
Dia berhasil membuat satu tinta cinta tertoreh lagi di hatiku.
----
“Boleh bergabung?” suara khas Arga terdengar.
Aku menoleh dan kulihat dia sudah duduk di samping kananku. Jarak kami sekitar 40cm. dia tampak sudah asyik dengan HP-nya.
Aku kembali memandang langit.
Senja yang indah terukir di ufuk barat sana. Semburat jingganya menyebar luas, memantul di awan. Teriakan burung yang ingin pulang mengiringi gemerisik daun yang tertiup angin. Rasanya sore hari ini benar-benar damai.
“Kau bawa HP?” Tanya Arga tiba-tiba.
Aku menoleh ke arahnya seraya mengiyakan.
“Boleh kupinjam?” matanya menyipit dan senyum manis penuh harapnya terukir.
Deg!
Lagi-lagi dadaku berdebar hebat.
“Ada game-nya kan?”
“Ada.” Jawabku sambil mengambil HP di saku jinsku. Kuserahkan padanya. “Tapi hanya game biasa,” smabungku.
Dia asyik memencet tombol navigasi HPku.
“Aku boleh minta kan?” ia bertanya dengan pandangan serius pada HPku.
“Silahkan saja.”
“Thanks…” ia menyerahkan HPku dengan senyuman manisnya.
Aku hendak memasukkan HPku ke sakuku lagi ketika tiba-tiba ia berdering. Kulihat layarnya bertuliskan nomor baru. Cuma Missed call.
“Itu nomorku.”
Kutoleh Arga dengan segera.
“Save ya?”
“Bagaimana kau tahu nomorku?”
Kali ini Arga menyuguhkan cengirannya. “Rahasia,” katanya sembari mengedip jahil.
Aish… sial. Wajahku memanas.
“Kapan-kapan kutelpon ya?”
Bagaimana caraku menyembunyikan wajahku? Pasti merah sekali sekarang.
----
Siang hari, pulang dari kegiatan bersih-bersih lingkungan desa. Aku berjalan sambil memikirkan apa yang sedang Arga lakukan.
“Ya?” sebuah suara terdengar bersamaan dengan tepukan pelan yang mendarat di bahu kananku. Spontan aku menoleh ke kanan. Tak ada. Hm.. pasti Arga pelakunya. Dia kan selalu begini. Kutoleh sebelah kiriku.
Set!
Jari telunjuk kanan Arga menyentuh pipi kiriku.
“Kena deh! Eukyang-kyang…” Ia dengan santainya berkata seperti itu. Apa dia tidak tahu, itu membuat jantungku makin berdebar hebat?!
“Aku tahu kau memikirkanku, makanya kuhampiri, hehe…”
“Ge-er!” aku mencibir ke arahnya.
Lagi-lagi Arga tertawa dengan tawanya yang khas itu sambil berlalu meninggalkanku.
Hff… dia selalu begitu. Menghampiri sebentar lantas menjauh.
HP-ku berdering. Ada pesan masuk. Kubuka,
Pengirim: Arga
‘Kenapa matamu mengikutiku? Sudah rindu ya? ^___^’
Eh?
Kucari-cari sosoknya yang ternyata tengah duduk dengan ke dua tangan menopang dagunya. Kepalanya agak miring ke kiri. Dan dengan imutnya dia tersenyum ke arah… Aku?!!
Aku segera memalingkan wajah. Gugup sekaligus salah tingkah.
***
~Usai KKN~
Hari pertama.
Pesan dari Arga: “Hai.”
“Hai too ^^.”
“Lagi apa?”
“Balas SMS u :p”
“Hahaha…=D”
Hanya itu.
----
Di sore hari yang lain.
“Sibuk?” tulis Arga.
“Um…sedikit. Kenapa?”
“Tidak. Cuma mencari teman SMS-an hehehe… Ya sudah, met ngapain aja ^^”
“OK. Kamu juga ^^”
----
Malam minggu di tengah hujan lebat. Sebuah panggilan masuk ke HP-ku. Tertulis ‘Arga Memanggil’.
Kutekan tombol ‘Yes’.
“Hallo…” sapaku berusaha terdengar biasa saja.
“Hai,” jawabnya ceria. Kemudian dia hanya diam.
“Ada apa?” tanyaku bingung sekaligus tegang dengan kebisuannya.
“Ah? Tidak. Cuma mau mendengar suaramu saja, Eukyang-kyang…”
Aku tersenyum. Sudah lama sekali rasanya tak mendengar suara anehnya ini.
Aku baru mau berkomentar saat suara ‘Tut..tut…tut…’ menyapa telingaku. Ah, kenapa terlalu cepat ditutup?!
----
Di lain hari.
“Apa arti aku bagimu?”
Deg! SMS dari Arga membuat hatiku merasa tegang tak karuan. Apa maksud kalimat ini ya?
“Maksudnya?” balasku hati-hati.
“Jika bagimu aku bintang keberuntunganmu, maka kau harus tahu, aku bukanlah apa-apa tanpamu.” Balasnya.
Aku menghela napas seiring dengan wajahku yang memanas. Tapi, dia tak boleh tahu aku terbang karena kata-katanya kan?! Maka ku balas, “Lagi dapat tugas buat puisi ya?”
Sejam. Dua jam. Lima jam. Dua belas jam. Tak ada balasan darinya. Aku menyesal membalas seperti itu. Argh… coba balas kalimat yang lain ya? Tapi, kalimat seperti apa yang tidak terkesan ge-er??
----
Tiga hari kemudian.
Pengirim Arga: “Ini hati yang penuh kerinduan. Jika hatimu sama dengan hatiku, mau kah kau bersamaku?”
Deg! Apa yang harus kujawab?
Aku menghela napas panjang, dan mulai membalas, “Apa kalimat ini untuk orang yang kau cintai?”
Aku tahu ini pertanyaan bodoh. Tapi kuharap dia mau membalasnya.
Aku terus menunggu. Namun tak satupun pesan yang masuk ke HP-ku yang berasal dari Arga. Sial! Seharusnya aku jawab ‘iya’ saja tadi. Tapi… kalau ternyata dia cuma SMS iseng? Huff… berat juga jatuh cinta sama orang yang sulit ditebak!
----
Dua hari kemudian.
‘Arga memanggil’ tulisan ini tertera di layar HP-ku. Aku segera menjawab.
“Hallo…”
“Hallo…” suaranya terdengar tegang.
“Apa kabar, Ga?” tanyaku canggung.
“Apa kau punya pacar?”
O_o “Mm… tidak. Kenapa?” sekarang aku yang tegang. Apa Arga mau bilang cinta padaku?
“Kalau begitu mau jadi kekasihku?” tanyanya cepat.
“Eh? Kau bercanda?”
Terdengar suara berisik di ujung sana. Apa… Arga mengerjaiku?!
“Kau mengerjaiku?!!” kataku kesal.
“Tidak!!” sahutnya panik. “Ah… kenapa kalian menggangguku!!” teriaknya pada orang-orang di sekitarnya.
Dengan kesal aku mematikan telpon darinya.
Dia menelpon lagi, tapi kutolak.
Tak berapa lama sebuah SMS masuk. Dari Arga.
“Aku serius. Aku cinta sama kamu, Ya.”
“Jangan bercanda!” balasku.
“Bagaimana cara agar kau percaya?Aku benar-benar serius, Ya?”
Aku berpikir sebentar. “Kalau kau serius, datang saja ke rumahku dan bilang pada orang tuaku kalau kau mau aku jadi kekasihmu. Weee… :p”
Tak ada balasan darinya. Apa tadi dia memang serius ya? Aduh… orang yang jatuh cinta memang sering plin-plan…
----
Sebulan kemudian…
Pengirim Arga: “You’re my love, I miss you ^,^”
Deg!
Lagi-lagi dia berhasil menghadirkan degup ini di dadaku. Ahh…wajahku memanas hanya karena SMS itu.
Aku sedang memikirkan apa yang harus kubalas ketika dua buah mobil berhenti di depan rumahku.
Seorang wanita berkebaya dan dua orang laki-laki memakai jas keluar dari mobil itu. Salah satunya kukenali. Dia… Arga??
Lalu, beberapa orang lagi di belakang mereka keluar dan membawakan beberapa barang. Mereka masuk ke… rumahku?!!
***
“Hari itu kau datang dengan kedua orang tuamu. Melamarku. Kau tahu, itu terlalu mendadak buatku, Ga.” Aku tersenyum pada sosok Arga di foto yang kembali kupegang. “Meski begitu, aku tetap menerimamu. Kau tahu kenapa?”
Kupandangi sosok Arga di foto itu. Aku membayangkan dirinya menggeleng. Dengan lirih ku katakan padanya, “Karena aku mencintaimu…”
Dalam benakku, Arga-ku tersenyum…
Aku terlalu sering bertanya, kenapa kau pergi begitu cepat? Jelas-jelas kutahu begitulah takdirmu. Tidak ada sakit atau apapun, kau hanya pergi dengan berpesan padaku, “Jaga diri baik-baik.” Sesaat sebelum kau berangkat bekerja.
***
~Hari Kepergian Arga~
Suamiku tersenyum lembut ketika lagi-lagi saat aku mual-mual, kupikir aku hamil, ternyata hanya masuk angin.
“Mungkin belum waktunya,” ujernya menenangkan.
Aku tak mampu berkata apa-apa.
“Mungkin Tuhan ingin kita lebih banyak bersama-sama dulu, eukyang-kyang…”
Aku tersenyum.
“Aku pergi dulu ya.”
Aku mengangguk. Dia mencium keningku lalu pergi.
“Ma, titip jagain Lia, ya?” pintanya saat dia di depan pintu rumah. Tumben-tumbenan berpesan begitu. “Jaga diri baik-baik, ya.” Pesannya padaku sambil menatapku lama. Lalu mendekat ke arahku sambil berbisik, “Jeongmal saranghae, youngwonnhie…” Lantas tersenyum lembut padaku sambil mengelus pipiku dengan mesra. “Sampai jumpa lagi.”
Siang harinya kudengar kabar dia tiba-tiba jatuh pingsan. Katanya tekanan darahnya tinggi. Semalaman aku menunggunya di rumah sakit. Dia tak jua bangun. Dan paginya… dia benar-benar pergi.
***
Aku menyeka air mataku yang jatuh. Aku merindukanmu, Ga… Kupandangi fotonya yang tersenyum di tanganku ini. Terima kasih karena sudah jadi bagian di kehidupanku…
TBC...
saran please ^^
Subscribe to:
Posts (Atom)