Showing posts with label FF Begin. Show all posts
Showing posts with label FF Begin. Show all posts

Friday, February 18, 2011

FF Begin Chapter 25

Title : Begin chapter 25 ‘Lucky’
Author : Imah Hyun Ae
Ide : Park Yong Kyo
Genre : Romance
Tokoh :
1. Kim Hyun Ae (pembacaku atau kalau nggak mau…saya aja ea?? Hehehe ^^)
2. Park Yong Kyo aka Rima (teman kalian yang cinta ama Korea)
3. Lee Hyu Rim aka lia (teman kalian yang cinta ama Korea juga)
4. Kim Hyun Joong (suami Hyun Ae)
5. Jung Yunho (namja idaman Hyun Ae ^_^)
6. Kim Jae Joong (sahabat Hyun Joong kekasih Lee Eun Shi)
7. Kim Junsu (pasangan masih rahasia)
8. Lee Eun Shi (kekasih Kim Jae Joong)
9. And other member dbsk and SS501
------------------------------------------------------------------------

Begin Chapter 25
‘Lucky’

#Lia POV
Aku dan Rima sejak dua minggu lalu sudah menempati kosan baru kami. Ukurannya yang agak besar membuat dua orang ‘besar’ seperti aku dan Rima tidak merasa terlalu sempit. Tetangganya juga menyenangkan walau aku harus terbata-bata mengucapkan bahasa inggris bersama mereka juga sesekali bahasa korea bersama kamus lengkap Inggris-Indonesia, dan Korea-Indonesia di tanganku. Mereka seperti menghargai usahaku untuk bisa bahasa mereka, hahaha…
O,ya, Seperti yang direncanakan kosan kami dekat dengan rumah Hyun Ae. Hanya berbeda jalan saja. Kami setiap sore selalu berkunjung ke sana. Sekalian menikmati pemandangan senja yang memukai di belakang rumahnya yang langsung menghadap laut.
Kami juga bekerja di restoran Indonesianya. Katanya supaya kami mudah melayani tamu. Dia bahkan memperkerjakan kami setengah hari saja. Sisanya untuk kami mengenal kota Seoul. Ada-ada saja pikirannya. Tapi, lumayan juga sih.
Hari ini, usai bekerja aku dan Rima kembali ke kos kami. Beberapa menit kemudian aku memutuskan untuk jalan-jalan. Rima kuajak, namun ia menolak. Dan ide untuk jalan-jalan seorang diri tiba-tiba muncul. Pasti asyik. Tanpa Rima (karena dia sedang lelah katanya) dan tanpa Hyun Ae (karena aku tahu dia sedang repot mengurus cabang restorannya yang baru ^^). Perjalanan ini pasti ‘mengasyikan’. Kalau tersesat aku masih bisa menghubungi Hyun Ae. Yup, sudah mempersiapkan semuanya, dari baterai HP yang kuisi hingga full, pulsanya juga. Jadi aku tak perlu cemas.
Yup. Usai mengganti pakaian, aku keluar kos. Kuhirup udara Seoul di siang hari pada peralihan musim semi ke musim panas. Hm… berbeda dengan Indonesia.
Dengan senyum lebar, langkah pertama kumulai…
-End POV-
>>>cut>>>

#Junsu POV
Aku sudah mencari dan menguhubungi manajerku beberapa kali, tak ada jawaban. Padahal aku mau menitip belikan DVD PlayStation terbaru. Ke mana sih si hyung itu? Tidak tahu apa kalau aku tak akan tenang sebelum mendapatkan DVD itu?!! Aishh… kesalku sambil mengacak-acak rambutku. Kuintip kru yang lain. Semua terlihat sibuk. Member lainnya juga sibuk. Changmin sibuk pemotretan untuk iklan pakaian di sebuah majalah. Yoochun sedang iklan CF bersama Jae Joong hyung. Yunho hyung sibuk jadi model di MV versi drama lagu SHINee. Dan aku karena belum ada tawaran untuk drama musical terbaru, terpaksa menganggur. Sedang rekaman untuk single terbaru masih sepuluh hari lagi. ugh…
Padahal aku sengaja ke manajemen berharap bertemu manajer hyung dan minta belikan DVD itu biar aku tidak bosan!
Kesal. Aku memutuskan keluar. Turun ke lantai satu dan menuju mobil hitam milikku. Lalu melajukannya ke jalanan Seoul. Tanpa kusadari aku melintasi jalanan menuju pasar. Ada banyak toko-toko di sana.
Lama aku berputar-putar dan akhirnya menemukan sebuah toko yang kuyakini ada menjual DVD PlayStation itu di deretan toko-toko sepanjang jalan ini. Segera aku menuju area parkir. Lalu membongkar kotak yang memang selalu ada di jok belakang. Mengambil wig dan kaca mata hitam juga topi putih. Yah, biar tidak terlihat kalau aku ini seorang bintang, eu-kyang-kyang…
Kulihat di kaca spion, hm, penyamaranku sudah OK. Apalagi aku pakai kaos oblong dan jeans yang simpel. Semoga tidak ada yang mengenaliku. Aku juga tidak akan lama, hanya mencari DVD itu dan membelinya lalu pulang. Yup, paling lima menit saja, tak akan ada yang menyadari kalau aku adalah Junsu DBSK, eu-kyang-kyang…
Baiklah. Aku turun dari mobil dan melangkah ke toko itu.
Aku sudah berada di depan tumpukan DVD PlayStation. Ada banyak ternyata yang baru dan belum sempat kubeli. Aku jadi bingung. Apa kubeli semua saja?
Aku langsung mengambil 15 DVD. Apa masih ada yang belum kuambil ya?
Kulihat-lihat lagi.
“O?” jeritku saat mendapatkan yang belum kumiliki. Langsung kuambil dan mencari lagi.
Kasak-kusuk terdengar di sekitarku. Apa aku sudah terlalu lama di sini? Apa mereka menyadari siapa aku?
Ragu-ragu aku menoleh. Mereka memang memperhatikanku. Aish… mengganggu kesenangan orang saja.
Cepat aku menyatukan DVD yang sudah kupilih tadi.
“Chogi~” seseorang menegurku sambil mengintip ke wajahku. Seorang yeoja. Apa dia Cassie? Aish… Lekas aku berbalik menuju kasir dan mengabaikannya.
“Kau Junsu oppa kan?” tegurnya lagi sambil menghampiriku.
Kulihat pengunjung dan Kasir memperhatikanku. “A-annio.” Elakku dengan suara khasku. Iash… harusnya tadi dibikin aneh nih suara. Aigo…
“Yah! Benar kau Junsu oppa!” jeritnya.
Deg!
“Hanya Junsu oppa yang punya suara seunik ini!” jeritnya sekali lagi. Membuat pengunjung diluar menghentikan langkahnya. “Oppa, ayo foto denganku!!!”
Pengunjung lainnya mendekat. Mengamatiku dengan seksama. Sial! “Tidak kau salah!” ujerku cepat sembari menyerahkan uang dan menarik kantung plastik berisi DVD PlayStationku. Cepat-cepat aku keluar.
“YA! Junsu oppa!!! Chankanman!!!” jerit yeoja itu.
Aku segera berlari menjauh. Si yoeja terus berteriak di belakangku diiringi kehebohan pengunjung lain. Sial!!
Aku berlari secepatnya berharap segera sampai ke parkiran mobilku. Tapi aneh. Kenapa serasa jauh? Bukannya tadi cukup dekat? Apa aku salah jalan?
Bruk!!!
Keasyikan berpikir, aku sampai menubruk seseorang. “Mian!” ujerku cepat dan berlari lagi.
-End POV-

#Author POV
Lia sedang asyik melihat majalah yang ia sendiri tak tahu apa yang tertulis di dalamnya (karena tulisannya tulisan hangul) ketika seseorang menubruknya. Ia hampir terjatuh.
“Mian!!” ujer si penabrak sambil membungkuk dan kembali berlari. Lia memandang punggung sosok yang menubruknya dengan heran. Ia mengembalikan majalah yang ia lihat tadi dan melangkah namun langsung terhenti saat melihat tumpukan DVD di jalanan. Ia teringat sosok tadi membawa bungkusan. Ah? Apa ini miliknya?
Lia cepat memungutnya dan mencari sosok tadi. Sudah agak jauh dari tempatnya. Lekas ia berlari dengan kecepatan penuh dan berteriak. “Chogiyo~!!”
Sosok yang diteriaki tak menoleh. Mungkin tak mendengar.
“YA!!!” teriak Lia lagi. “DVD-mu!!!” teriaknya dalam bahasa Indonesia. Menyadari kesalahan bahasanya, ia berteriak lagi meski pengucapannya agak janggal, “Your DVD!! Your DVD fall?” teriak Lia sembarang ucap. Sosok yang di kejar menoleh namun kembali berlari dengan kencang.
“YA!!” teriak Lia lagi. “Igo-” teriak Lia tertahan. Aish… bagaimana bilangnya?? Sembarang sajalah!!! “It’s yours??!!” (maksudnya ‘apa ini punyamu?’, Cuma karena Lia tidak begitu mahir bahasa inggris jadi kacau begitu ^^) “DVD!!! Ya!!! Wait!!! Your DVD, bukan???” teriaknya kali ini campur-campur, karena tidak tahu bahasa inggrisnya bagaimana, sambil berlari dan melambaikan DVD.
Junsu masih berlari tanpa arah dan ketika melihat tulisan ‘toilet’ ia segera masuk ke sana. “Semoga dia tidak melihat! Aish… kenapa harus ada insiden seperti ini??” sungutnya di dalam.
Lia yang kelelahan hampir menyerah ketika melihat sosok yang di kejarnya menuju toilet. Ia segera berlari ke sana. Tepat di depan toilet yang tertutup ia mengatur napasnya lalu berkata dengan bahasa Indonesia, “Apa kau di dalam?” sambil mengetuk pintu.
Junsu mendengar suara yeoja, dan keningnya langsung berkerut bingung. Bicara apa dia tadi?
“Pabo! Pakai bahasa inggris Lia!!” gumam Lia sambil memukul pelan kepalanya. “I… ‘maksud’ bahasa inggrisnya apa ya? Aigo…” gerundel Lia. “Sorry. I cannot…” Lia berpikir sebentar sebelum berkata, “…tell English and Korea very good. You understand, yes?”
Junsu garuk-garuk kepala mendengar bahasa Lia yang tidak dipahaminya. Apa maksudnya?
“You can out?” tanya Lia ragu-ragu. Maksud hati pengen bilang, ‘bisakah kamu keluar?’. Di dalam Junsu makin ragu-ragu dengan kemampuan bahasa inggrisnya yang sebelumnya dia kira sudah bagus.
“I… ‘mau’ apa ya?” Bingung, Lia mengambil kamusnya. Ternyata ia cuma bawa kamus Korea-Indonesia/Indonesia-Korea. Dicarinya kata ‘mau’. Tidak ada! “Kamusnya payah!!” kesal Lia. Sembarang saja Lia. Semampu kamu!!! nasehat hatinya lagi.
Junsu mengeryit. Bahasa apa itu? Ah, jangan-jangan diluar orang gila! Hyung, tolong… jerit Junsu dalam hati.
“Ya!! You here, yes? You can out? I will tell you, it’s DVD you?” kata Lia akhirnya. Maksudnya sebenarnya, ‘Kau di dalam kan? Bisakah kau keluar? Saya mau bertanya apa DVD ini milikmu?’.
Junsu makin bingung. Ia cuma menangkap kata DVD. Dia bicara apa?? Batin Junsu. DVD? Cepat ia melihat kantung plastic yang sejak tadi dia pegang. “EH???” jeritnya saat melihat kantung plastik itu kosong dan robek di bagian bawahnya. Ragu-ragu ia keluar.
Melihat pintu toilet terbuka Lia langsung tersenyum. “It’s DVD you?” tanyanya sambil menunjukan DVD pada Junsu.
Junsu mengambil semua DVD itu dan melihat semuanya. “Yes! Ini DVD-ku. Maksudku DVD me!” kata Junsu asal saking girang sambil tersenyum senang. Ia lalu mendongak, “Goma-,” kata-katanya terhenti saat melihat siapa yang membawa DVD-nya. Ia merasa tak asing dengan wajah yeoja di depannya.
Lia tersenyum lega. “OK. I will go. Annyeong~” ujer Lia lalu berbalik.
Junsu tak menjawab. Pikirannya masih mengembara mencari ingatannya tentang yeoja di depannya. Hingga akhirnya ia teringat pertemuan dengan teman-teman Hyun Ae beberapa minggu lalu. “Li… Lia??” panggil Junsu ragu.
Langkah Lia terhenti. Ia mendengar sosok di belakangnya memanggilnya. Dengan bingung ia berbalik.
“You Lia? Hyun Ae friend, kan?” tanya Junsu sembari mendekat.
Lia mengangguk.
“Ini aku, Junsu. Junsu DBSK!” jerit Junsu. Tak sadar kalau dia masih di tempat yang ramai.
Lia hanya mengerti ‘Junsu DBSK’. Ia menatap sosok di depannya tak percaya.
Junsu melepas kaca matanya sambil tertawa, “Eu-kyang-kyang… tidak kusangka kita bertemu di sini? Eu-kyang-kyang…”
Meski tidak mengerti Lia ikut tertawa. Tidak menyadari beberapa pasang mata memperhatikan mereka.
Kasak-kusuk terdengar. Junsu memperhatikan sekitar dan…. “Aahhhhh!!!!! Aku lupa!!!” jeritnya saat menyadari kenapa orang-orang memperhatikannya. Ia menutup mulutnya dan mengenakan kaca matanya. Kemudian ia berjalan menunduk guna menyembunyikan wajahnya.
Lia memperhatikan dengan raut bingung.
Menyadari sesuatu, Junsu berbalik dan menarik tangan Lia. “Kajja!!” ujernya pelan lalu kembali berjalan cepat sambil menyeret Lia.
Lia melihat punggung namja di depannya lalu ke tangannya yang di genggam si namja. Tangan Junsu oppa hangat… batinnya. Rasa hangat menjalari hati dan seluruh tubuhnya.
Akhirnya Junsu menghentikan langkahnya. Ia dan Lia tiba diparkiran dengan selamat (tanpa gangguan fans). Dibukakannya pintu samping pengemudi untuk Lia. “Masuklah,” ujer Junsu. Lia tidak mengerti bahasanya cuma ia mengerti bahasa isyarat tubuh Junsu. Dengan linglung ia masuk.
Junsu cepat menuju kursi kemudi dan duduk di sana. Ia melepas alat penyamarannya dan menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil melirik ke Lia. “Mian… aku tidak tahu kenapa, tadi malah berbalik dan menarikmu sampai ke sini, hehehe…” ujernya salah tingkah. “Karena sudah terlanjur, akan kuantar kau pulang. Apa kau ke sini tadi sendiri? Atau bersama Rima dan Hyun Ae?”
Lia yang sekali lagi hanya mengerti ucapan ‘Rima dan Hyun Ae’, dengan ragu-ragu menggeleng. “I alone.” Ujernya sambil berharap Junsu mengerti.
“Ah!!! Kau tidak bisa bahasa korea ya? Jadi you alone? OK. Then we go to Hyun Ae’s home,” kata Junsu pede padahal bahasa inggrisnya masih kacau sambil menghidupkan mesin mobil.
“But…” kata Lia ragu-ragu. Ia mau mengatakan kalau ia sudah tinggal di kos tapi bingung mengatakannya.
“Nde?” Junsu menatapnya. Menunggu kelanjutan kalimat yeoja di sampingnya.
Lia menggeleng. “A-annio…” sahut Lia sambil tersenyum aneh.
Junsu balas tersenyum dan melajukan mobilnya.
>>>cut>>>

Lia menggaruk kepalanya yang tak gatal sementara Junsu terus menekan bel rumah Hyun Ae. Rumah tersebut tampak sepi.
“Ke mana mereka?” gumam Junsu. Ia menolek ke Lia, “Kau punya kuncinya kan?”
“Nde?” Lia merasa Junsu bicara padanya namun ia tidak mengerti. “Oppa tell me?” (maksud Lia, “Oppa bicara padaku?”).
Kening Junsu mengeryit. Tell me apaan? Bingungnya. Ah, mungkin maksudnya ulangi lagi. “I mean… you umm… have… key house?”
Key house? Kunci rumah? Batin Lia. Ia memberikan senyum aneh lalu menggeleng.
“Aneh. Seharusnya kau punya!” sungut Junsu. “Bagaimana sekarang?”
Lia ingin menangis. Padahal ia sudah sangat beruntung bisa bertemu Junsu dan bisa berduaan dengannya. Tapi gara-gara bahasa korea yang masih belum begitu dikuasainya, hal itu tak bisa ia nikmati. “Oppa,” ujer Lia hati-hati. Junsu memperhatikannya lagi. “Mm… I not here. I leave…” (maksudnya, “Saya tidak di sini lagi. saya sudah pindah”).
Junsu mengeryit sekali lagi. Dia bicara apa? Tidak di sini? Leave itu tinggal,kan? Jadi maksudnya ‘saya tinggal?’ Apa maksud sebenarnya dia sudah tidak tinggal di rumah Hyun Ae?? Aish… coba ada Yoochun!
“Oppa, understand?” tanya Lia ragu-ragu.
“Yes, I stand. Eu-kyang-kyang…” ujer Junsu gaje.
*aduh apa sih mereka ini??? #author bingung#apalagi yang baca*
Lia tersenyum lega.
“You tell me before harusnya. Jadi I can antar.”
Mata Lia membulat. Bingung total dengan bahasa gado-gado Junsu. Junsu oppa ngomong apa ya? Jerit hatinya pilu.
“So, where your house?” tanya Junsu akhirnya. *tuh kan inggrisnya Junsu oppa kacau*
“Ah, there.” Lia cepat menunjuk ke arah seberang. “Street before this street.” Terangnya terbata.
Junsu manggut-manggut. Ia mengerti dengan jelas dan tersenyum dengan bangga. “OK. We go there. Kajja…” ujernya semangat sambil tersenyum lebar pada Lia. Lia balas tersenyum lega.
*kira-kira memang begini tidak ya kenyataannya, hahahaha*
>>>>cut>>>>

Mobil hitam berhenti di depan kosan bercat putih. Seorang yeoja di dalamnya turun dari mobil. Sedang namja yang menyupir mobil tersebut memilih tidak keluar. Ia menurunkan kaca mobil dan berbicara pada yeoja itu.
“Sorry, I cannot go to your home (maksudnya saya tidak bisa main ke kosmu). Mungkin ada my fans here. And sangat menakutkan if they see me. You understand?”
Lia mengangguk meski tidak mengerti apa yang Junsu bicarakan.
“Gomaweo for this day (maksudnya ‘terima kasih untuk hari ini’). This day is fun day (hari ini hari yang menyenangkan).” ujer Junsu sambil tersenyum senang. Lia turut tersenyum.
“Bye…” pamit Junsu sambil melambai.
“Bye, oppa!!” sahut Lia sambil membalas lambaiannya. Dan juga masih dengan senyum gembira.
Junsu balas tersenyum dan menutup kaca mobil. Tak berapa lama, mobilnya menghilang dari pandangan Lia.
-End POV-

#Lia POV
Hfff… hari ini benar-benar melelahkan. Mengejar seorang yang ternyata Junsu oppa. Bicara pakai bahasa inggris yang hancur dengannya. Menarikku ke mobilnya. Mengantarku ke rumah Hyun Ae. Bicara lagi. Aish… Andai bahasa inggrisku seperti Rima, atau bahasa koreaku sefasih Hyun Ae, mungkin tak akan terasa selelah ini. Malah mungkin akan sangat menyenangkan. Aigo… nasib-nasib…
Sebaiknya jangan diceritakan ke Rima atau Hyun Ae, bisa-bisa mereka menertawakanku.
Aku masuk ke rumah dan Rima menyambutku dengan wajah heran dengan semangkuk mi instan di tangannya.
“Kenapa denganmu? Pulang-pulang langsung berwajah manyun…” tanyanya,
Aku menggeleng dan masuk ke kamarku dengan malas. Kenapa harus begini nasibku…
-End POV-

#Junsu POV
Hoahh…. Tidak di sangka, gara-gara beli DVD PlayStation aku di kejar-kejar fans. Sampai-sampai aku tidak mengenali siapa yang mengejarku ke toilet dan menyerahkan DVD-ku yang jatuh. Ternyata dia Lia, temannya Hyun Ae. Hahahaha… bahasa inggrisnya sama parahnya denganku. Untungnya masih bisa kumengerti walau sedikit. Coba kalau tidak, bagaimana kami berkomunikasi.
Senyumku kembali mengembang. Kalau diingat-ingat, lucu juga. Serasa berada di dunia lain. Hanya berdua dengannya dan tidak ada yang membantu menerjemahkan apa yang mau kami katakan. Kalau lebih lama lagi bicara dengannya, bisa-bisa aku sudah pakai bahasa tarsan, eu-kyang-kyang…
Aku terus melajukan mobil sambil menertawakan pertemuanku dengan Lia. Tak lama, aku tiba di kediaman DBSK. Masih dengan senyum mengembang aku masuk. Ada banyak sepatu yang tidak di raknya. Sepertinya member lainnya baru datang.
“Aku pulang,” Ujerku lalu masuk ke dalam.
“Dari mana, Su?” tegur Yoochun yang sedang rebahan di ruang keluarga.
“Dari petualangan yang menyenangkan,” ujerku. Yoochun menatap heran, minta penjelasan.
Aku memberikan tawa khasku. “Kau tidak boleh tahu, Chun. Eu-kyang-kyang…” sambungku lalu masuk ke kamar.
“Ya!!! Sejak kapan kau senang merahasiakan sesuatu.” Protes Yoochun.
“Sejak hari ini, Chun!!! Eu-kyang-kyang…” teriakku sambil tertawa.
-End POV-

_TBC_

Gomaweo… hahaha… Tunggu kelanjutannya ya ^^d

Friday, February 11, 2011

FF Begin Chapter 24

Title : Begin chapter 24 ‘Yunho’s Heart’
Author : Imah Hyun Ae
Ide : Park Yong Kyo
Genre : Romance
Tokoh :
1. Kim Hyun Ae (pembacaku atau kalau nggak mau…saya aja ea?? Hehehe ^^)
2. Park Yong Kyo aka Rima (teman kalian yang cinta ama Korea)
3. Lee Hyu Rim aka lia (teman kalian yang cinta ama Korea juga)
4. Kim Hyun Joong (suami Hyun Ae)
5. Jung Yunho (namja idaman Hyun Ae ^_^)
6. Kim Jae Joong (sahabat Hyun Joong kekasih Lee Eun Shi)
7. Kim Junsu (pasangan masih rahasia)
8. Lee Eun Shi (kekasih Kim Jae Joong)
9. And other member dbsk and SS501
------------------------------------------------------------------------

Begin Chapter 24
‘Yunho’s Heart’


#Yunho POV
Pertemuan-pertemuanku dengan Hyun Ae:
~Flashback~
Aku sedang mengunjungi yayasan di mana aku sebagai salah satu donaturnya. Aku berjalan ke sayap kiri. Bosan, aku pamit dan memilih naik ke lantai atas dan berhenti di atap. Tampak di sana yeoja berambut hitam terkuncir berdiri di sudut kanan. Sesaat aku ragu untuk mendekat. Namun, ketika samar-samar kudengar senandung lagu “Trust” darinya, aku memutuskan mendekat.
Senyumku mengembang. ‘Suaranya lumayan,’ batinku. Dan aku terperanjat tepat saat yeoja itu berbalik menghadapku.
“A… Annyeong…” sapaku gugup sambil membungkuk.
Yeoja itu melepaskan headsetnya dan balas membungkukan badan. “Ada yang bisa saya bantu?” ujernya.
“Ah? Anni. Saya cuma melihat-lihat. Jongsuhamnida sudah mengganggu Anda.”
“Tidak apa-apa. Apa… Anda pengajar baru?” tanyanya. Aku menggeleng.
“A~ Jangan-jangan Anda donator yang dimaksud pagi tadi. Anda Tuan Jung, bukan?”
Aku mengangguk ragu. Yeoja itu segera membungkuk. “Maaf sempat tidak mengenali Anda.”
Aku tertawa pelan. “Santai saja. Anda pengajar baru?”
Yeoja itu mengangguk. “Baru dua bulan lebih.”
Aku menganguk-angguk. ‘Bahasa koreanya lumayan, tapi logatnya aneh. Dan sepertinya dia tak mengenaliku.’ Batinku girang. “Anda tidak terlihat seperti orang korea.”tegurku padanya. “Boleh tahu Anda berasal dari mana?”
Yeoja itu tersenyum. “Saya dari Indonesia.”
“Waw… Jauh juga. Semoga Anda betah di sini.” Komentarku sambil tersenyum lembut.
“Nde,” jawabnya sambil balas tersenyum. Satu desiran aneh hinggap di hatiku. ‘Ada apa ini?’ batinku tegang. “Um… Tidak apa-apa kan kalau saya di sini?”
“Ah.. Te… Tentu…”
Aku tersenyum lagi, lalu menikmati pemandangan yang terhampar di bawah. Aku lalu menutup mata. Menikmati semilir angin yang menyapa. ‘Damai sekali,’ batinku. Kubuka kembali mataku dengan senyum mengembang. ‘Lama sekali rasanya tidak merasakan ketenangan seperti ini.’ Aku perlahan menoleh ke arah yoeja tadi. “Khamsahamnida,” ucapku tulus.
“Untuk… apa?” tanyanya bingung.
“Terima kasih karena sudah mengijinkan saya menikmati ketenangan tempat ini,” jelasku sambil tersenyum hangat.
“Tidak perlu seperti itu. Ini bukan bangunan milik saya. Dan seharusnya saya yang meminta ijin pada Anda. Anda kan donator di sini, jauh lebih berkuasa dari pada saya yang di gaji…”
Aku tertawa pelan. Sebuah pesan masuk ke HP-ku. Dari adikku. “Maaf, saya harus ke bawah. Annyeong…” pamitku.
“Annyeong…” sahut yeoja itu sambil membungkuk.
Aku balas membungkuk. Lalu pergi.
>>>cut>>>

Di lain hari…
Aku dengan terburu-buru keluar dari kamarku. Siap menuju suatu tempat dengan pakaian yang rapi. Seorang namja imut yang kebetulan sedang duduk di ruang tengah menoleh. “Mau ke mana, hyung?” tegurnya dengan suara khasnya itu. siapa lagi kalau bukan Junsu.
“Mau… keluar sebentar. Ada… urusan…” jawabku sambil memasang wig berambut ikal dengan gugup.
“Jangan lupa bawakan aku makanan ya, hyung?” pinta namja kurus tinggi yang sejak tadi asyik memperhatikan laptopnya, Shim Changmin.
Aku berdecak. Paham betul dengan dongsaeng yang hobi makan apa saja itu. “Ingatkan aku lagi nanti,” sahutku sambil ke luar kediaman kami.

Aku mengetuk-ngetuk jemariku, gelisah. Lampu lalu lintas masih belum juga berubah ke warna hijau. Padahal biasanya aku tenang-tenang saja dengan warna meram di lampu itu. Apa karena sudah tidak sabar untuk bertemu dengan yeoja itu? *^_^*
Awal pertemuanku dengan seorang yeoja dari Indonesia. Hanya kebetulan. Aku sedang ke atap sekolah yang berada di naungan yayasan di mana aku salah satu donaturnya dan melihatnya. Kami bicara sebentar dan aku mengenalnya bernama Hyun Ae setelah pertemuan kami yang kesekian. Nama yang indah.
Tiba di yayasan, aku berjalan cepat ke atas. Merasa jalan cepat juga lambat, aku memutuskan untuk berlari. Seperti ingin cepat sampai ke atap sekolah yang terus-terusan memanggilku untuk segera datang.
Aku tersenyum saat pikiranku membayangkan di sebelah kanan atap, seorang yeoja berdiri membelakangiku. Headset menempel di telinganya. Lirih senanungnya akan hinggap ke telingaku. Aku akan berjalan mendekat dan ragu-ragu menegurnya, seperti waktu itu.
Langkahkju terhenti di depan pintu atap. Ketika tanganku menyentuh pemutar pintu, senyumku telah merekah lebar.
Whusss…
Hanya angin yang menyapa ketika pintu atap kubuka. Sosok yang kuharapkan tak ada sejauh mata memandang. Aku menghela napas kecewa.
Ketika aku hendak pergi, sebuah suara aneh terdengar dari sudut kiri. Dari balik dinding sepertinya.
Perlahan-lahan aku mendekat. Dan…
Yeoja yang kucari tampak duduk bersandar dinding itu sambil bersenandung.
Aku duduk dan menyapanya. Tanpa tahu bagaimana awalnya, aku kehabisan bahan pembicaraan. Sepertinya dia juga begitu. Situasi ini tak enak. Kami cukup lama saling diam.
Ragu-ragu aku menoleh. Kuberikan senyuman padanya. Dia membalasnya. “Maaf karena saya tidak begitu bisa menghidupkan suasana.” kataku
“Saya juga. Mian…” ujernya malu.
Aku tersenyum lembut. “Anda tidak akan mengusir saya kan?”
Dia menatapku. “Tentu saja tidak.”
Aku tersenyum lebar. “Saya sepertinya jatuh cinta pada tempat ini.” Dan mungkin juga pada Anda… sambungku dalam hati.
Jantungku berdetak cepat. aku tahu dia sedang memperhatikanku. Aku memilih tetap memandang langit. ‘Bolehkah aku memupuk perasaan ini?’
Beberapa waktu kemudian…
“Umm… chogi~,” tegurnya. Aku menoleh.
“Nde?” sahutku.
“Mian, Saya sudah harus ke kelas.”
Sudah waktunya ya? Waktu kenapa begitu cepat berlalu?
Perlahan aku menganggukt. “Semoga lain kali kita bsia bertemu lagi.”
“Nde?” dia agak terkejut. Tapi, itu memang harapanku. Tapi, kalau bertemu perasaan ini akan semakin subur, kan? Apa boleh? Aku.. seharusnya bagaimana?
Kusuguhkan senyum termanisku.
“A… Annyeong…” pamitnya cepat.
“Annyeong…” sahutku.
Aku menghela napas saat sosoknya menghilang dari pandanganku.
Rasanya ketenangan di sini lenyap bersama perginya dia…
Aku… sebaiknya pulang…
>>>cut>>>

H-1 DBSK concert…
Aku merasa yeoja itu sebaiknya menyaksikan konser kami. Aku ingin dia melihatku perform. Cepat-cepat aku menuju ke sekolah sebelum latihan siang kami dimulai.
Tiba di sekolah aku menuju atap, tapi tak menemukannya. Aku menunggu beberapa saat, tapi semakin gelisah. Aku lalu turun dan mencari di ruang guru, namun tak ada. Aku berniat mencari tahu jadwal yeoja itu namun karena belum tahu namanya, tidak jadi. Untunglah aku menemukannya baru keluar dari kelas 1 A. Aku menegurnya dan tersenyum lebar padanya. “Untung bertemu Anda di sini. Saya tidak tahu harus mencari di mana ketika tak menemukan Anda di atap dan di ruang guru,” ujerku.
“Tadi… saya ada kelas.” Jawabnya.
Akumengangguk paham. “Ini untuk Anda.” Kataku sambil menyerahkan selembar amplop padanya.
“Apa ini?” tanyanya.
Aku tersenyum misterius.
Ia perlahan membuka amplop itu. dan segera memandangku kembali dengan aneh ketika mendapati amplop itu adalah tiket konser DBSK.
Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. “Anda… bukan fans mereka ya? Mian…”
“Bukan begitu…”
“Jadi… Anda akan datang kan?” aku tersenyum cerah. “Saya tunggu!!” Aku lantas pergi dengan sejuta kebahagiaan menyelimuti hatiku.
>>>cut>>>

@ DBSK concert
Aku mencari sosok yeoja itu dan menemukannya di bangku lain, tidak di bangku tiket yang kuberikan padanya. Di sebelahnya ada seorang namja. Mereka sesekali berbicara, membuatku agak kesal.
Dan saat yeoja itu menangis, aku mendapati si namja menenangkannya. Rasanya aku ingin berlari ke bangkunya dan menyeretnya jauh-jauh dari namja itu. Hei, kenapa aku bisa berpikiran begitu?
Aku mengangkat bahuku dan terus menyanyi.
>>>cut>>>

Beberapa minggu kemudian…
Aku baru selesai mandi ketika kudengar seseorang memencet bel kediaman kami. Kulihat Changmin membukakan pintu. Awalnya kupikir manajer, namun ternyata…
Aku seperti kehilangan udara. Napasku sesak. Yeoja itu ada di depanku bersama Hyun Joong?
Agak heran, aku menyambut mereka. Mempersilahkan mereka duduk. Hyun Joong memperkenalkan yeoja itu dan baru kutahu bernama Hyun Ae. Aku tersenyum lembut padanya, dan perasaan hilang selama ini terisi oleh rasa hangat yang menyusup di hatiku karena melihatnya kembali.
Jae Joong tahu kalau aku sering ke sekolah untuk bertemu dengan seorang yeoja, tapi sepertinya ia tidak menyadari kalau Hyun Aelah yeoja yang kumaksud. Ia memilih duduk di beranda. Kalau tahu, mungkin ia akan terus memandangi sikapku pada Hyun Ae dengan penuh minat, hahaha… untunglah…
Saat Hyun Joong pergi, aku memberanikan diri bertanya padanya, “Masih ingat dengan seorang namja yang memberikanmu tiket konser sebulan lalu?”
“Eh?” dia terkejut.
“Kenapa kau tidak menggunakan tiket yang kuberi?”
“EH??? Jadi…” ia jelas makin terkejut.
Aku mengangguk. “Namja itu aku, Hyun Ae-ssi. Arrasseo…” gumamnya. “Apa dia yang memberimu tiket?”
“Nde?”
“Kim Hyun Joong.” Jelasku mencoba mengusir sedikit rasa kesalku ketika teringat konser itu.
“A… Nde… Cosunghamnida…” Hyun Ae membungkuk dalam.
“Ya! Jangan begini.” Aku tersenyum lembut padanya.
Hyun Ae mengangguk lagi.
“O, ya, boleh tahu siapa paling kau sukai di grup?” pertanyaan Yoochun membuat pipi Hyun Ae merona. “Nugu?” Tanyanya tak sabar. Aku juga tak sabar. Apakah aku?
Junsu dan Changmin sudah memasang wajah imut mereka. rasanya aku ingin memasukkan mereka ke kamar agar berhenti bertingkah seperti itu di depan Hyun Ae.
“Yunho oppa…” jawab Hyun Ae pelan. Aku tersenyum dengan bangga. Oppa katanya? Dadaku menghangat lagi.
Pembicaraan terus berlanjut dan aku menikmati pertemuan ini.
Lalu aku ke dapur untuk mengambilkannya minuman.
Member lain mengikuti dan mengejekku. Seoalah-olah mereka bisa membaca pikiranku. Aku terus mengelak dan cepat-cepat ke ruang tamu lagi namun Hyun Ae sudah tidak ada. Kutanya Jae Joong yang ada di ruang tamu, dia bilang Hyun Ae tiba-tiba memilih pulang.
Meski kecewa, aku memilih diam.
Saat asyik-asyiknya mengobrol, Hyun Joong kembali. Menatap heran pada kami sambil menanyakan Hyun Ae di mana. Changmin mengatakan sesuai perkataan Jae Joong. Hyun Joong bertanya lagi dan wajahnya terlihat panik. Ia keliur kediaman kami dan menelpon seseorang. Hyun Ae, kah?
Lalu dia menuju salah satu halte. Aku dan member lain mengikuti. Hyun Ae ada di sana. Hyun Joong langsung mendekat. Aku bisa melihat wajahnya yang terlihat sangat marah.
“Kenapa tiba-tiba ingin pulang? Bukankah aku menyuruhmu menungguku di tempat mereka? Bukankah aku juga bilang, aku pergi cuma sebentar? Kenapa tidak menunggu sampai aku kembali?” Tanya Hyun Joong tak sabar. “Kau sendiri yang bilang masih tak terlalu bisa membaca huruf hangul, kenapa nekat jalan di daerah asing begini?”di tatapnya Hyun Ae dengan emosi.“Kalau kau naik ke bus yang slaah bagaimana??”
Hyun Ae menunduk dalam. Matanya mengabur. Aku ingin mendekat dan menghentikan emosi Hyun Joong namun kalimat Hyun Joong berikutnya membuatku terhenyak.
“Kalau begitu ingin pulang, kau bisa menelponku kan? Aku tak sesibuk yang kau kira, sampai-sampai tidak bisa mengantarmu! Apa karena tahu aku Hyun Joong, kau merasa aku bukan ‘oppamu’ lagi??”
Apa dia menyukai Hyun Ae…??
“Mian…” lirih Hyun Ae pelan.
“Apa kau berpikiran kalau kau minta tolong padaku, aku akan merasa susah? Bukankah aku bilang tidak apa-apa? Kalau kau pulang sendiri dan akhirnya tersesat, tidakkah kau berpikir itulah yang sebenarnya membuatku susah???”
Dadaku sakit melihat sebegitu perhatiannya Hyun Joong dengan Hyun Ae. Sementara Hyun Ae makin menunduk dalam. “Mian…” katanya setengah terisak.
Hyun Joong menghela napas. Lalu mendekat. Diacak-acaknya rambut Hyun Ae dengan sayang sambil berkata, “Lain kali jangan begini lagi!”
Aku tak sanggup melihatnya. Apa aku cemburu? Mungkin…
>>>cut>>>

Pertemuan berikutnya di dorm SS501. Pertemuan yang menyenangkan smapai akhirnya Hyun Joong menyanyikan lagu “Perhaps Love” saat aku ke toilet. Alunan lagunya masih sempat kudengar saat aku mengambil air minum di kulkas mereka.
Aku hendak bergabung namun urung saat kudengar,
“Hyun Joong menyukai Hyun Ae!” teriak empat namja. Siapa lagi kalau bukan Jungmin, Young Saeng, Baby Hyung, dan Kyu Jong. Hyun Joong tak mampu bereaksi apalagi aku. Dadaku sakit.
“Jincha???” tanya Junsu polos.
“Jangan percaya Junsu oppa. Mereka hanya bercanda,” kata Hyun Ae setengah tertawa. “Ya kan oppa?”
“Ya…” jawab Hyun Joong mengambang.
“Tuh kan…” katanya tenang.
“Aku… menyukaimu, Hyun Ae-ah…” kata Hyun Joong akhirnya. Aku mendesah. Aku tak mampu melangkahkan kakiku keluar. Terlalu kaget dengan kejujuran Hyun Joong. Apa Hyun Ae punya perasaan yang sama dengan Hyun Joong? Mengingat mereka begitu dekat.
Aku menggigit bibir bawahku dan bersyukur saat Hyun Ae bersikap tidak percaya bahkan mengatakan maaf.
>>>Cut>>>

Waktu berlalu dan aku tak bersemangat semenjak kejadian itu. Member DBSK yang lain tahu betul alasannya. Jae Joong sudah menceritakan tentang Hyun Ae yang kusukai sejak pertama kali bertemu di atap sekolah.
“Ya, hyung!! Mau sampai kapan kau bersikap seperti ini? Kalau memang suka, temui dia. Katakan perasaan hyung padanya seperti yang Hyun Joong lakukan!” kesal Yoochun usai mencuci mukanya. Ia hanya tidur sebentar dan terkejut mendengar bunyi tv dari ruang tengah. Aku yang menyalakan tv itu karena tidak bisa tidur semalaman.
“Bukankah Hyun Ae-ah bilang hyung urutan pertama di hatinya. Jamin! Pasti di terima deh!” sahut Junsu semangat yang tiba-tiba muncul di samping Yoochun.
“Benar, hyung!” sahut Changmin cepat. Ia baru saja mengambil cemilan di kulkas. Mungkin ia terbangun gara-gara perutnya minta di isi. “Kau harusnya mengejarnya. Bukankah prinsipmu meski teman, kalau cinta, akan kau perjuangkan terus? Palli! Nanti keburu dia pulang! dia kan tidak lama di sini?!!” katanya di sela-sela kunyahannya.
“Haruskah?” tanyaku akhirnya.
“Aku baru lihat leader DBSK seragu ini!” kesal Yoochun.
“Kalau hyung memang cinta, ya… kejar saja.”kata Changmin menggebu-gebu.
“Hwaiting, hyung!!!” Junsu menyemangati.
Aku mengangguk-angguk. Kutatap ketiga member DBSK yang sudah menjadi bagian dari hidupku bergantian lalu menarik napas dan berdiri. “Baiklah… Doakan aku!” kataku semangat. Yang lain mengangguk senang.
“Tapi, inikan masih pagi! Apa dia sudah di sekolah?” aku duduk lagi di sofa.
“Aishh… kalau memang harus sekarang, datang saja ke rumahnya.” Sahut Yoochun masih dengan kekesalan yang sama.
“Kenapa tidak membuat rencana agar terkesan romantis?” usul Changmin. Junsu mengangguk menyetujui.
Bletak!! Yoochun memukul kepala keduanya.
“Ya! Apa sempat? Kita akan tur keliling asia seminggu lagi. Apa sempat membuat rencana romantis?” tanya Yoochun. “Kalian sendiri tahu jadwal kita penuh sekarang. Jam 8 nanti kita sudah harus latihan seharian! Dua hari kemudian kita harus berangkat untuk gladi kotor.”
Changmin manyun. Merasa idenya diremehkan. Sedang Junsu, makhluk polos yang satu itu, kembali mengangguk-angguk.
“Tapi aku tidak tahu rumahnya di mana…” ujerku pelan.
Gubrak!
Yoochun seolah jatuh dari tempatnya. Bagaimana bisa begitu suka dengan seseorang tapi tidak tahu di mana rumahnya. Aigo….
“Tanya Hyun Joong hyung saja. Dia pasti tahu!” sahut Changmin dengan senyum kebangaan. Ia seolah mendapat ide yang brilian.
“Benar!” lagi-lagi junsu menjetujui.
“Kalau ditanya kenapa ingin tahu rumah, aku harus jawab apa?” tanyaku bingung.
Yoochun tampak geregetan. “Ya tinggal bilang kalau kita mau mengunjunginya kan? Aishhh…”
Aku langsung sumringah. Kuambil HPku dan menelpon Hyun Joong.
“Yongseo…” Sahut Hyun Joong dengan nada tak suka.
Aku jadi tak enak. “Yongseo, Hyun Joong-ah! Mian menganggumu pagi-pagi.”
“Nde. Gwencahana. Waeyo?” sahut Hyun Joong.
“Kau tahu kediaman Hyun Ae kan? Bisa kau beri tahu alamatnya. Kami ingin mengunjunginya,” kataku dnegan raut cemas. Aku tak begitu yakin Hyun Joong akan memberitahunya.
Hyun Joong terdiam.
“Hyun Joong-ah? Kau masih di situ?” tanyaku. Kecemasanku makin menjadi.
“AH… Nde.”
“Jadi bisa kau beri alamatnya?” tanyaku penuh harap.
“Hyun Ae pulang hari ini.” kata Hyun Joong tercekat.
“Nde?”
“Dia sekarang di bandara dan akan berangkat sekitar satu jam lagi. Dia bahkan tak pamit padaku!” kesal Hyun Joong.
Aku terdiam. Tanpa menutup telpon aku berhambur ke dalam kamar. Jae Joong terkejut karena tiba-tiba aku membuka pintu.
“Waeyo, Yunho-ah?” tanyanya melihat wajah panikku.
“Kunci mobil mana?” kataku sambil terus mencari dengan panik.
“Kau taruh di meja itu seingatku!”kata Jae Joong. Cepat kucari dan menemukannya. Buru-buru aku keluar.
“YA!!! Ada apa??” tanya Jae Joong smabil menahan langkahku dengan menarik tanganku.
“Hyun Ae… Dia akan pulang hari ini!”
“M-MWO???” keempat member tampak terkejut.
>>>>cut>>>>

Aku mengemudi dengan cemas. Kami sampai dan langsung masuk. Kami agak mencuri perhatian karena tanpa melakukan penyamaran sama sekali. Untung pengunjung masih sedikit. Aku agak aneh mendengar dari speaker suara seseorang bernyanyi sambil subuk mencari informasi di mana ruangan untuk perbangan Indonesia.
“Neomanieoyahaneu nae maeumul yong sehagil
Mani bujukedo mani mujodaro naingul
“Dderoneun himdeun nari chajaindedo
Sesang ketkaji jabeun du son nochi aneulke”

Aku sudah menemukan tempat Hyun Ae berada. Aku cepat-cepat ke sana diikuti yang lain. Aku lupa, kalau aku baru bisa masuk ke ruang keberangkatan kalau meiliki tiket. Cepat Aku berbalik. Lagu masih mengalun. Seolah itu adalah soundtrack dari perjuanganku.
“Gomawoyo nae gtae meumulreojyeoseo”

Aku sedang memesan tiket ke Indonesia. Beruntung karena masih bersisa. Aku cepat melangkah namun seketika terhenti saat mendengardari pengeras suara di bandara.
“Jeongmal gomaweo Hyun Ae-ah.”
Hyun Joong kah??
“Jadi kumohon, jangan pergi…” sambung suara itu lagi.
“Hyung?” tegur Yoochun. Ia dan member yang lain memang mengikuti ke manapun aku pergi. Ditatapnya diriku dengan tatapan simpati. “Masih sempat kalau kau mau berusaha.” Ujernya.
“Aku sudah terlambat!”
“Belum jika Hyun Ae menolak!” kata Yoochun yakin. Diseretnya akudengan semangat.
Namun, kenyataannya kami terlambat. Di dalam, sudah ada pemadanagan yang langsung menyakiti hatiku. Hyun Ae memeluk Hyun Joong.
>>>cut>>>

Hatiku remuk saat mendapatkan undangan pernikahan langsung dari Hyun Joong. Yah, karena pernikahan ini sembunyi-sembunyi, makanya dia menyerahkan sendiri padaku dan member lain. aku melihat undangan itu dan tertulis dengan nyata di sana nama Hyun Ae dan Hyun Joong sendiri. mereka akan menikah di Indonesia.
“Aku rasa aku tidak bisa datang,” ujerku senormal mungkin pada Hyun Joong.
“Tidak apa-apa. Aku mengerti kesibukan kalian. Mohon doakan kami ya?” pinta Hyun Joong dengan wajah sumringah. Aku tersenyum sebisaku meski hati ini rasanya terkoyak hingga habis tak berbentuk.
~End All Flashback~

Aku mendesah. Lalu menuju ranjang. Menenggelamkan tubuh ini dan berharap perasaan ini juga ikut tenggelam meski kutahu itu tak akan mungkin…
_TBC_

Hohoho… next chapter kira-kira masuk ke tokoh siapa ya? Lia? Rima? Jae Joong? Junsu? Changmin? Atau Yoochun? Atau jangan-jangan sebagian besar dari mereka? hahaha… tunggu kelanjutannya ya ^^
Di tunggu komentarnya. Mohon maaf juga nih kalau ada salah-salah ketik. Maklum buru-buru ^^d *peace*

FF Begin Chapter 22

Title: Begin chapter 23 ‘Like Crazy’
Author: Imah Hyun Ae
Ide: Park Yong Kyo
Genre: Romance
Tokoh:
1. Kim Hyun Ae (pembacaku atau kalau nggak mau…saya aja ea?? Hehehe ^^)
2. Park Yong Kyo aka Rima (teman kalian yang cinta ama Korea)
3. Lee Hyu Rim aka lia (teman kalian yang cinta ama Korea juga)
4. Kim Hyun Joong (suami Hyun Ae)
5. Jung Yunho (namja idaman Hyun Ae ^_^)
6. Kim Jae Joong (sahabat Hyun Joong kekasih Lee Eun Shi)
7. Kim Junsu (pasangan masih rahasia)
8. Lee Eun Shi (kekasih Kim Jae Joong)
9. And other member dbsk and SS501
------------------------------------------------------------------------

Begin Chapter 23
‘Like Crazy’

#Lia POV

Sudah lebih dari seminggu setelah pertemuan kami dengan DBSK. Namun serasa sudah lama sekali. Pertemuan yang menyenangkan, tapi kurang sempurna karena Jae Joong oppa hanya sebentar. Sepertinya dia begitu sibuk dan punya banyak masalah. Sampai-sampai Rima tak sempat sekedar bersalaman dengannya.
Ah, bicara soal salaman, sebenarnya aku agak menyesal. Kenapa tidak langsung kupeluk saja orang yang paling kusukai itu? Menghidup aroma tubuhnya. Atau langsung menyeretnya ke bandara? *lho?* Aish…
Kugaruk kepalaku yang tak gatal sambil memandangi Rima yang masih serius membuat kue. Katanya itu untuk DBSK oppa. Dia akan minta Hyun Joong atau Hyun Ae mengantarkannya. Sebagai permintaan maaf kami karena hanya member satu oleh-oleh. Padahal kami mengakunya fans berat mereka.
“Berhentilah menggaruk kepalamu! Ketombemu bisa jatuh ke adonan ini tahu!!” sewot Rima tiba-tiba.
“Ya, Umma!!!”teriakku. aku memang sering memanggilnya ‘umma’. Kenapa? Hanya suka saja, hahaha… “Aku tidak punya ketombe! Nih lihat!!” ujerku sambil menyodorkan kepalaku kepadanya.
Sebuah kikikan halus terdengar dari belakangku. Aku dan Rima menoleh dan mendapati Hyun Ae sedang mengamati kami.
“Sejak kapan kau menguping?” sewotku.
Hyun Ae hanya tertawa dan mendekati kami.
“Sudah selesai?” tanya Rima.
Kudapati Hyun Ae mengangguk. Dia baru kembali dari restorannya.
“Lagi membuat apa?” tanya Hyun Ae sambil duduk di kursi.
“Kue buat uri oppa?” ujerku. Kening Hyun Ae berkerut.
“Tolong ya?” ujer Rima sambil menangkupkan tangan dan menunjukan wajah puppy eyesnya.
“Tolong apa?” tanya Hyun Ae bingung.
“Tolong antarkan ke DBSK oppa,” ujerku penuh harap. Hyun Ae memang belum kami beri tahu tentang rencana kami ini. “Kau mau kan?”
“Tidak apa-apa jika kami tidak boleh ikut. Asal kau mengantarkannya pada mereka.” sambung Rima.
Hyun Ae menatap kami bergantian.
“Hyun Joong oppa juga boleh… Ya?” pintaku lagi.
Hyun Ae menghela napas.
“Ini sebagai permintaan maaf kami karena memberi hadiah hanya satu saja untuk mereka.” rengek Rima. Aku menunjukan wajah penuh harapku.
“Aishh… Ara~.” Ucap Hyun Ae akhirnya. Aku dan Rima langsung saling ‘tos’, hehehe…
“O, ya.” Ucap Rima tiba-tiba. Aku dan Hyun Ae serempak menoleh ke arahnya. “Aku memutuskan untuk lebih lama di sini, boleh?”
“Ah, aku juga!!!” teriakku.
“Tentu saja boleh,” jawab Hyun Ae.
“Tapi, aku akan sangat lama…” sambung Rima.
“Tak masalah…” sahut Hyun Ae
Rima menggeleng. “Akan jadi masalah buatmu dan suamimu. Kalian akan sulit untuk… ehm… ‘bermesraan’. Kau mengerti maksudku kan?”
Benar juga… *dari tadi ‘benar juga’ terus nih si Lia*
Hyun Ae tertawa. “Kau ini!!”
-End POV-

#Rima POV
Aku menatap Hyun Ae lalu beralih ke Lia. Aku sudah beberapa hari memikirkan ini. benar. Tinggal lama di sini, mungkin sekitar satu tahunan, sekalian merasakan bagaimana rasanya hidup di Negara empat musim seperti di negeri ini. dan tidak mungkin selama setahun aku menetap di rumah Hyun Ae kan? Aku harus menyewa rumah kecil atau kos-kosan. Masalahnya aku tidak punya banyak uang. Tidak mungkin menambah repot Hyun Ae dengan menanggung biaya hidup di sini, bukan? Jadi kuputuskan…
“Aku memutuskan untuk menyewa rumah kecil atau kosan. Kalau tidak keberatan kau pinjami aku uang. Nanti kubayar dengan bekerja di restoranmu. Aku juga akan mencari pekerjaan lain.” kataku pada Hyun Ae.
“Tidak perlu seperti itu!” tolak Hyun Ae. “Aku yang mengajak kalian ke sini. Jadi…”
“Tidak!!” potongku. Aku tidak mau menyusahkannya. Kalaupun dia merasa tidak akan menyusahkan, tetap saja aku merasa tidak enak. “Kau dan Hyun Joong oppa sudah cukup repot dengan adanya kami di sini. Lagipula, aku ingin tahu bagaimana rasanya hidup di negeri orang? Ingin juga merasakan apa yang kau rasakan saat pertama kali hidup di negeri ini,” kataku sambil tersenyum untuk meyakinkannya.
Hyun Ae menatapku dan Lia bergantian. “Kalian yakin?”
Aku mengangguk mantap.
“Kalau Rima umma bilang begitu, aku ngikut aja, hehehehe…” Jawab Lia sambil cengengesan.
Hyun Ae menghela napas. “Baiklah… Nanti kupikirkan kalian bekerja di mana.”
“Bantu kami mencari kos juga, hehe…” sahutku.
Hyun Ae tersenyum. “Nde~. Kita cari di dekat sini saja.”
Aku dan Lia mengangguk bersamaan.
-End POV-

#Hyun Ae POV
Aku agak terkejut melihat semangat mereka untuk tinggal di negeri ini, terutama Rima. Aku tak bisa membantak kekeraskepalaan mereka. Apa boleh buat. Nanti aku mencari pekerjaan yang tidak memberatkan mereka saja.
Sejam berlalu dan kue yang Rima buat sudah masak. Ia mendinginkannya beberapa saat lalu menghiasinya dengan krim coklat. Membuatku ingin mencicipinya karena coklat makanan kesukaanku.
“Kenapa tadi tidak buat dua?” sungutku menyadari aku tidak bisa mencicipinya. “Aku juga mau..”
“Ya! Kau bisa beli kan?” sahut Rima cuek.
Aku manyun. “Ya sudah. Tidak aku antar ke oppa!” ancamku.
Rima mendelik marah. Aku langsung tertawa. “Iya-iya. Kuantar.” Kataku. Rima tersenyum penuh kemenangan. Sebenarnya mana mungkin juga tidak aku antar, merekakan sudah susah-susah membuatnya.
Setelah kue dihiasi, aku memberikan kotak kue yang kebetulan masih ada di lemari piringku.
Pada akhirnya aku mengajak mereka ikut serta. Hanya saja, mereka tetap di mobil nantinya sementara aku menyerahkan kue itu.
Aku keluar dan diikuti mereka. Supir pribadi sudah siap di depan. Kami masuk, dan perlahan mobil melintasi ruas jalan Seoul menuju kediaman DBSK.
-end POV-
>>>cut>>>

#Author POV

Di depan kediaman DBSk…
Hyun Ae turun dengan membawa kotak kue di tangan kanannya. Sementara Rima dan Lia di dalam mobil dengan mata fokos pada sosok Hyun Ae.
Hyun Ae menekan bel sekali. Ia menunggu beberapa saat, tak ada suara dari dalam. Ditekannya sekali lagi, tetap tak ada jawaban. Dicobanya lagi, keadaan masih sama. Sepertinya mereka sedang keluar, batinnya.
Sementara itu, sebuah mobil hitam berhenti. Lima namja turun bergiliran dari mobil itu dan menuju ke rumah. Mereka tampak terkejut melihat ada sosok yeoja di depan rumah mereka.
Hyun Ae baru hendak menaruh kue itu di depan rumah ketika ia mendengar langkah kaki mendekat. Ia pikir Rima dan Lia menyusulnya ternyata bukan. Ia melihat lima namja yang ditunggunya ada di depannya. Sepertinya baru kembali dari suatu tempat. Ia menyuguhkan senyumnya. “Annyeong oppa..” sapanya.
Namja yang paling depan tak menyahut. Hanya mendelik dengan Hyun Ae dengan raut tak suka lalu mendekat ke pintu dan membukanya.
“Annyeong…” sahut empat namja lainnya.
“Mmaafkan sikap Jae Joong hyung. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Hampir seminggu ini ia terlihat kesal,” ujer Yunho.
Hyun Ae mengangguk mengerti.
“Masuklah…” tawar Yunho sambil masuk ke dalam diikuti yang lain.
“Anni,” tolak Hyun Ae dan langsung menghentikan langkah Yunho.
“Tolong jangan diambil hati sikap Jae Joong hyung tadi. Dia hany-”
“Annio…” kata Hyun Ae sambil tersenyum. “Aku ke sini memang cuma mau menyerahkan ini oppa,” ujernya sambil menyodorkan kotak kue.
“Apa itu? Makanan kah??” tanya Changmin dengan mata penuh harap.
Hyun Ae mengangguk sambil tertawa kecil. “Iya oppa. Ini kue buatan Rima dan Lia. Mereka minta maaf karena hanya bisa memberikan satu kenang-kenangan dari Indonesia dengan kalian.”
Changmin cepat menyambutnya. “Gomaweo…” ujernya sambil membawa kue itu ke dalam.
“Ya!! Aish… Dia selalu begitu kalau soal makanan. Sopan-santunnya langsung hilang,” keluh Yunho. Membuat Hyun Ae lagi-lagi tertawa kecil.
“Ara oppa. Aku pulang dulu. Annyeong…” pamit Hyun Ae.
“Sampaikan salam dan terima kasih kami pada mereka.”
Hyun Ae mengangguk dan berbalik.
“Tidak dariku!!!” terdengar suara keras dari dalam.
Hyun Ae tahu itu suara siapa, ia terus saja berjalan dan masuk ke mobilnya. “Mereka menitip salam dan terima kasih untuk kuenya,” ujernya. Rima dan Lia tersenyum senang. “Jalan, Pak. Kita kembali ke rumah,” pinta Hyun Ae pada supirnya.
Sementara itu di kediaman DBSK…
Yunho berbalik. Menatap si pelaku yang bersuara nyaring tadi. “Ya! Hyung!!! Kenapa kau ini??” heran Yunho. Ia lalu kembali melihat keluar. Ia yakin Hyun Ae mendengar teriakan Jae Joong barusan. “Kalau kesal dengan suatu hal, jangan limpahkan kekesalanmu ke orang lain!” nasehat Yunho sambil masuk ke dalam.
Jae Joong mendengus dan duduk di sofa sambil meminum minuman dingin yang ia bawa dari dapur. “Dia yang membuatku kesal. Apa perlu dia menunjukan ke temannya kalau dia juga dekat dengan kita? Apa dia ingin membuat seluruh dunia iri padanya?? Huh!!” sungut Jae Joong.
“Ya!! Sejak kapan kau berpikiran seperti itu, hyung?!” heran Yunho. “Dia hanya berbagi keberuntungannya dekat dengan kita pada temannya, memangnya salah?”
Jae Joong menatap Yunho tak suka. Ia masih kesal dengan Hyun Ae lantaran Eun Shi masih mengabaikannya hingga hari ini. Seandainya tidak, mungkin ia akan bersikap sedikit ramah.
“Bukankah kau yang lebih peduli dengan fans, hyung? Kenapa seperti tidak suka begini? “ sambung Yunho lagi.
Jae Joong mendengus dan kembali meneguk minuman dinginnya. Saat Yunho berlalu hendak ke kamar, ia bersuara dengan dingin, “Kalau bukan Hyun Ae, apa kau akan tetap berpikiran seperti ini?”
“Tentu saja, hyung!” tegas Yunho. Lalu masuk ke kamarnya.
“Pembohong!” gumam Jae Joong. “Kau sangat mengistimewakannya Yunho-yah, sangat!”
Yunho bersandar dibalik pintu kamar. Ia mendesah. Sejujurnya, ia sendiri tahu bahwa ia sangat mengistimewakan Hyun Ae. Sejujurnya, ia masih berharap perasaan yeoja itu masih untuknya. Sejujurnya, ialah yang paling tidak rela pernikahan Hyun Joong dan Hyun Ae terlaksana. Tapi ia bisa apa? Hyun Ae yang memilih Hyun Joong sebagai teman dalam sedih dan senangnya, bukan memilihnya. Sejujurnya, debur indah di hatinya masih terasa setiap kali ia bertemu dengan yeoja itu. Sejujurnya pula, ia nyaris gila karena tak bisa menghentikan perasaan cinta itu di hatinya.
Cinta itu, kenapa harus ada kalau pada akhirnya berakhir duka? Batin Yunho. Di benaknya kini berkelebat kenangannya bersama Hyun Ae.
_TBC_


Hohoho…. Lanjut ke chapter 24 ya, special Yunho POV hihihi… ^^

Thursday, February 3, 2011

FF Begin chapter 22

Title: Begin chapter 22 ‘Firasat’
Author: Imah Hyun Ae
Ide: Park Yong Kyo
Genre: Romance
Tokoh:
1. Kim Hyun Ae (pembacaku atau kalau nggak mau…saya aja ea?? Hehehe ^^)
2. Park Yong Kyo aka Rima (teman kalian yang cinta ama Korea)
3. Lee Hyu Rim aka lia (teman kalian yang cinta ama Korea juga)
4. Kim Hyun Joong (suami Hyun Ae)
5. Jung Yunho (namja idaman Hyun Ae ^_^)
6. Kim Jae Joong (sahabat Hyun Joong kekasih Lee Eun Shi)
7. Kim Junsu (pasangan masih rahasia)
8. Lee Eun Shi (kekasih Kim Jae Joong)
9. And other member dbsk and SS501
------------------------------------------------------------------------

Begin Chapter 22
‘Firasat’

#Author POV
Jae Joong menatap layar HP-nya. Ia pikir Hyun Joong menelponnya lagi untuk memperjelas undangan berkunjung ke rumahnya . ternyata bukan. Sebuah nama yang mengakrabinya enam bulan ini justru tertera di sana. Dengan senyum lebar, sambil mendekat ke jendela rumah DBSK, ia menekan tombol ‘Jawab’. Tak lama, suara lembut langsung menyergap telinganya.
“Annyeong, Jae Joong-ah…”
Jae Joong tergelak mendengarnya. Hal yang sering ia lakukan setiap sosok di ujung sana menyapanya. “Annyeong, Noona. Apa kau rindu padaku?” Sebentuk senyum melengkung di sudut bibirnya saat ia membayangkan sosok di seberang sana mencibir.
“Ya!!! Apa aku hanya boleh menelponmu kalau aku rindu?” sosok di ujung sana terdengar merajuk.
Jae Joong tergelak lagi. “Annio…” ujernya sambil duduk di jendela dan memainkan gorden dengan tangannya. “Sebenarnya tadi aku berniat menelponmu,” jujurnya.
“Jeongmalyeo? Bukannya tadi kau sibuk bicara dengan orang lain?” sosok di ujung telpon terdengar tak percaya.
“Ah…, kau cemburu?” Jae Joong tersenyum gembira.
“Anni!” sahut sosok di ujung telpon cepat.
Jae Joong tergelak lagi. “Tadi telpon dari Hyun Joong. Dia mengajakku dan member lain ke rumahnya besok. Sekedar makan-makan. Lagipula sudah lama kami tidak bertemu.”
“Hmmm… Jadi kalian akan bertemu dengan istrinya?”
“Ya, sepertinya begitu.” Jawab Jae Joong tak yakin. Ia malah berharap hanya akan bertemu dengan Hyun Joong saja, tidak dengan istrinya. Ia masih tidak tahu harus bersikap seperti apa kalau melihat Hyun Ae nantinya.
“Hyun Ae-ssi…” suara di ujung sana tertahan.
“Nde?”
Terdengar desahan panjang sebelum akhirnya sosok di sana berkata, “Dia beruntung. Dia menikahi orang yang dicintainya, mendapat restu dari orang tua, dan mendapat restu dari publik.”
Jae Joong terdiam.
“Apa… kita akan seberuntung dia?”
“Noona…” Jae Joong kebingungan harus menjawab apa.
“Jae Joong-ah…?” panggil sosok itu pelan. Jae Joong hapal betul kalau nada seperti ini artinya sosok di sana akan meminta sesuatu.
“Nde?”
“Maukah kau mengenalkanku pada temanmu?”
Jae Joong terdiam. Lama.
Sosok di ujung telpon membuang napas panjang. “Paling tidak, teman segrupmu tahu siapa aku bagimu,” ujernya pelan. Lalu menutup telpon. Jae Joong tahu, ini berarti sebuah paksaan. Ia HARUS mengenalkan sosok itu pada temannya.
Di tatapnya layar HP-nya dengan gamang. Sebenarnya apa yang ia ragukan? Bukankah ia sudah cukup yakin dengan pilihannya? Tidak apa-apa kan, kalau hanya teman-temannya yang tahu? Bukankah mereka bisa menjaga rahasia? Jadi, tak ada salahnya kan kalau mereka tahu? Ini tak akan membuat sosok yang dicintainya terganggu kehidupannya selama temannya menjaga rahasia, kan?
Ia mengusap kepalanya. Kebingungan nampak nyata di wajahnya.
Setelah cukup lama termenung, ia kembali menatap HP-nya. Menekan tombol navigasi dan mencari nama ‘Lee Eun Shi (Nae Chagiya)’. Kemudian ia menekan tombol ‘Panggil’.
-End POV-
>>>cut>>>

#Rima POV

Malam telah larut. Tapi aku tak kunjung bisa memejamkan mata. Sebuah rasa sedih menghampiri hatiku, entah apa sebabnya. Padahal seharusnya aku bahagia karena besok akan bertemu dengan idolaku. Satu-satunya idola yang kucintai sepenuh hatiku.
Aku membalik tubuhku dari posisi terlentang menjadi miring. Kutatap Lia yang tidur di sampingku. Tidak, sepertinya ia berusaha tidur. Pasti hatinya gelisah sekali dengan pertemuan esok.
Hm… Kenapa aku tak merasakan kegelisahan itu?
Aku mendesah. Lalu duduk di pembaringan yang nyaman ini. cukup lama, namun kantuk tak jua hadir. Dengan malas aku keluar bangkit dan menuju jendela. Kubuka tirainya. Langit terang akibat cahaya bulan langsung menyapaku. ciptakan bayangan sendu pada belakang pohon di depanku yang tidak terkena cahaya. Suram, namun terlihat menenangkan.
Kusandarkan tubuhku di tiang jendela sambil garuk kepalaku yang tak gatal. Aku frustasi. Tak tahu apa yang semestinya kulakukan untuk membunuh malam.
Bosan, aku melangkah ke lemari. Mencari barang akan kuberikan pada Jae Joong oppa dan member lainnya. Sederhana saja. Namun cukup cantik dan berkesan mewah menurutku. Sebuah bingkai foto yang terbuat dari lidi yang di cat warna-warni dan di hiasi pernak-pernik lain. Aku membelinya saat di Bandung. Dan jika Lia tak membawa apa-apa, maka aku bersedia mengakuinya sebagai hadiah ‘kami’ berdua.
‘Aku baik kan?’ batinku pede sambil menoleh ke arah Lia dan tersenyum geli. Aku yakin, kalau Lia mendengarnya, ia pasti akan mencibir.
-End POV-
>>>cut>>>


#Lia POV

Ketegangan luar biasa menyergapku. Susah payah aku mencoba memejamkan mata ini agar besoknya tidak terlihat kusut. Sayangnya, pikiran dan hatiku berbeda pendapat. Mau tidak mau aku memaksakan mata ini terpejam.
Entah sudah berapa lama mata ini kupejamkan, aku tdiak tahu. Yang jelas aku tidak benar-benar tidur dengan nyenyak.
Aku merasa kasur ini bergerak. Rupanya Rima baru kembali ke ranjang. Sepertinya ia sulit tidur mengingat hari esok akan jadi hari bersejarah untuk kami. Aku memperhatikannya yang memunggungiku. Dia tampak gelisah dari pada aku.
Aku memilih menatap langit-langit sembari membayangkan apa yang akan kami ucapkan besok saat bertemu mereka. Apa mereka merasa bahagia? Atau merasa terganggu dengan sosok kami? Apa yang akan dibicarakan? Apa mereka akan bersikap layaknya idola bertemu fans pada kami? Atau malah bersikap seolah-olah kami ini adalah teman baru mereka? bagaimana kalau aku tidak mengerti apa yang mereka ucapkan? Bahasa inggrisku masih kurang. Bahasa koreaku parah. Lalu, bagaimana bisa berkomunikasi dengan Junsu oppa? Aigoooo…
Aku menggaruk kepalaku. Putus asa.
“Eh, kan ada Hyun Ae. Dia pasti mau menerjemahkannya kan? Seperti saat kami bertemu SS501? Tenang… Tenang…” batinku menenangkan.
O,ya, bagaimana reaksiku kalau bisa bersalaman dengan Junsu oppa ya? Apa aku akan melompat kegirangan, heboh sendiri seperti biasanya, atau… Cuma bisa diam saking gugupnya. Ahh, bagaimana reaksiku kalau Junsu oppa tak seimut yang kulihat di fotonya ya? Tapi, bagaimana kalau dia lebih imut dari fotonya? Gyaaa…. >///< Panas menjalari wajahku. Memikirkannya saja sudah begini, bagaimana besok? Apa wajah ini akan jadi seperti tomat masak? Hehehe… ^///^ “Ya!!! Apa yang kau pikirkan?” teguran Rima membuatku menoleh. “Nde?” jawabku terkejut. “Kau bergerak-gerak terus dari tadi. Memukul-mukul kasur segala lagi!” omel Rima. “EH?” Sumpah, aku tidak sadar sama sekali (^.^) “Pasti memikirkan yang tidak-tidak bersama Junsu!” tebak Rima. Aku cuma bisa cengengesan. “Aishh…” kesal Rima. “Ya!! Memangnya kau tidak memikirkan Jae Joong oppa?” -end POV- >>>cut>>>


#Author POV
Hyun Ae tampak sibuk menyiapkan makan siang. Sedikit-sedikit dibantu Lia, dan Rima. Macam-macam yang mereka masak. Ada stik daging sapi, ayam goreng plus lalapan dan sambelnya, opor tahu, ikan panggang, dan salad. Minumannya ada es buah, jus jeruk dan es teh. Buah-buahan untuk cuci mulutnya ada melon, anggur, apel, pisang, dan semangka.
Setelah semua tertata rapi di meja halaman belakang, yang langsung menghadap laut, mereka duduk-duduk santai menunggu para undangan alias dbsk datang. Apalagi Rima dan Lia sudah mengenakan baju terbaru mereka yang dibelikan Hyun Ae. Jelas sekali ketegangan ada di wajah mereka saat jam sudah menunjukan pukul 1 waktu Korea. Mereka cemas. Jangan-jangan tidak jadi datang.
Hyun Joong sudah menelpon mereka dan menanyakan kepastian kedatangan mereka sekali lagi. Dan mereka bilang dalam perjalanan. Tampak Hyun Ae, Lia dan Rima bernapas lega bersamaan.

Ting-tong!
Akhirnya! Bel rumah akhirnya berbunyi! Sebuah penantian yang rasanya panjang sekali. Cepat Hyun Joong ke depan bersama Hyun Ae dan meninggalkan Lia dan Rima di belakang.
“Mian, terlambat!” ujer Yunho sambil membungkuk, ungkapan rasa bersalah.
Hyun Joong tersenyum lebar. “Gwenchana… Kami bisa mengerti kesibukan kalian. Terima kasih sudah bersedia datang…”
Yunho tersenyum.
“Makanannya banyak kan?” kata Changmin sambil menatap puppy eyes pada Hyun Ae. “Aku sengaja tidak makan siang tadi,” ujernya memelas. Hyun Ae tergelak. Sudah menjadi pria dewasa tapi Changmin masih saja seperti ini.
“Benar. Dia bilang agar perutnya muat menghabisi masakanmu. Aish… anak ini memang tidak tahu malu!” ujer Yoochun sambil menjitak kepala Changmin pelan.
“Ya! Hyung!!” pekik Changmin tak suka.
Hyun Joong tertawa melihat tingkah mereka. “Ara~” ujernya. “Di samping makanan, kami juga menyiapkan kejutan untuk kalian.”
“Kejutan?” pikik Junsu dengan suara lumba-lumbanya. “Oleh-oleh dari Indonesia kah?” tanyanya dengan binar penuh harap.
Hyun Joong dan Hyun Ae mengangguk bersamaan.
“Kuharap kalian tidak marah dan menyukainya,” ujer Hyun Ae.
“Tidak mungkin kami marah. Bisa-bisa Hyun Joong akan menghajar kami,” celetuk Yunho.
Wajah Hyun Ae bersemu. Sedang Hyun Joong tersenyum lebar.
“Kita ke halaman belakang sekarang. Kajja!” ajak Hyun Ae. Mereka mengangguk dan mulai melangkah. “Eh, tapi.. mana Jae Joong oppa?”
“Benar. Kenapa aku tidak melihatnya?” Hyun Joong ikut bertanya.
“Dia pakai mobil sendiri. Katanya mungkin akan terlambat,” jawab Yoochun.
Hyun Ae dan Hyun Joong mengovalkan bibir mereka dan mengangguk paham.

Tiba di halaman belakang, empat namja tampan itu langsung menatap heran pada dua orang yang sedang menata kembali makanan dengan gugup.
“Ya! Apa mereka pembantu barumu?” celetuk Changmin. Hyun Ae langsung melotot marah. Bersamaan dengan itu dua jitakan langsung mendarat di kepalanya. Satu dari Hyun Joong, satu dari Yunho.
“Mereka sahabatku,” jelas Hyun Ae. “Rima, Lia?” panggilnya pada dua temannya.
Lia dan Rima menoleh sedetik dan langsung tertunduk. Hyun Ae tersenyum.
“Oppa, Let me introduce them. Yang tinggi ini Lia,” kata Hyun Ae dengan bahasa inggris campur korea lalu merangkul lengan Lia yang dingin. “Dan yang agak gemuk dan pendek ini Rima,” sambungnya sambil menunjuk Rima.
Empat namja tampan itu mengulurkan tangan. Sambil berucap “Bangapta” pada kedua orang yang baru mereka kenal. Lia dan Rima hanya bisa menunduk. Tangan mereka main dingin. Tapi hati mereka menjerit kegirangan. Terutama Lia. Akhirnya ia bisa bersalaman dengan Junsu.
“Mereka fans kalian,” ujer Hyun Joong menambahkan.
“Joengmal??” kata Junsu nyaris berteriak.
Lia dan Rima mengangguk malu-malu *jiah… padahal pengen meluk tuh*
“Gomaweo…” si Leader aka Yunho membungkuk sedikit.
“Junsu oppa, kau harus tahu bahwa Lia really love you,” ujer Hyun Ae sengaja bercampur bahasa inggris agar Lia juga mengerti. Ia tahu si dolphin voice ini akan berteriak heboh.
“Ah… Jinca???” teriak Junsu. Benar kan, dia heboh.
Wajah Lia bersemu merah dan mengangguk malu-malu lagi. *aslinya kalau ketemu gini gak ya si Lia? (author mikir)*
“Eu-kyang-kyang… Gomaweo!” kata Junsu usai tertawa bahagia. Ia lalu menyuguhkan senyum khasnya. Senyum yang membuat Lia makin meleleh…
“Kalau yang itu?” tanya Changmin penuh harap.
Hyun Ae menoleh ke arah Rima. “Dia mencintai hyungmu. Jae Joong oppa,” terang Hyun Ae. Hanya perlu satu detik, wajah Changmin yang semula penuh harap berubah cemberut.
“Aish… kau suka Yunho hyung, dia suka Jae hyung.” Katanya dalam bahasa korea sambil menunjuk Hyun Ae dan Rima. “Dan dia suka Junsu? Aish… dia kan tinggi, kenapa tidak memilih menyukai pria tinggi seperti aku?”
Bletak!! Junsu menjitak kepala Changmin sambil berkata, “Ya!! Sudah tidak memanggilku ‘hyung’, mengataiku ‘pendek’ lagi!”
Jelas Rima dan Lia saling tatap. Bingung!
“Hanya masalah yang tidak penting,” terang Hyun Ae. Ia menatap Rima yang sepertinya melirik ke sana ke mari sejak tadi. Yah, pasti mencari Jae Joong. “Dia akan terlambat,” ujer Hyun Ae sambil menepuk pundaknya.
Rima menatap bingung.
“Jae Joong. Dia akan terlambat,” terang Hyun Ae lagi.
Rima mengangguk. Perasaan sedih merayapi hatinya. Kegelisahannya tadi malam terjawab sudah.
>>>cut>>>

Yunho, Junsu, Changmin, Yoochun, Hyun Joong, Hyun Ae, Rima dan Lia sedang menikmati makan siang mereka. Mereka sudah tak sanggup menunggu Jae Joong yang memang terlambat sekali. Terutama si Changmin. Padahal untuk membunuh waktu dan rasa lapar mereka sudah membicarakan banyak hal. Sampai-sampai menghabiskan es buah yang Hyun Ae buat. Bahkan, kado rahasia Rima juga sudah diserahkannya. Seperti yang dia rencanakan, dia bilang itu dari Lia dan Rima. Empat member tampak senang menerimanya.
Mereka sedang asyik makan porsi pertama mereka, kecuali Changmin yang sudah masuk ke porsi kedua. Tiba-tiba saja, HP Hyun Joong berbunyi. Sebuah pesan masuk.
“Jae Joong bilang ia sedang diperjalan dan membawa seorang teman,” ujer Hyun Joong.
Baru saja berkata begitu, bel berbunyi. Mereka tidak menyangka secepat ini Jae Joong datang. Hyun Joong keluar sedang Hyun Ae ke dapur mengambil nasi, lalu piring dan gelas untuk teman Jae Joong. Sedang yang lain bertanya-tanya, siapa yang Jae Joong bawa.
Hyun Joong sedikit terjekut mendapati sosok di samping Jae Joong. Seorang yeoja dengan dandanan minimalis dan terlihat lebih tua dari Jae Joong. Ia mempersilahkan keduanya masuk.
Langkah Jae Joong terhenti saat melihat member lain tertawa bersama dua orang yeoja asing. Ia menatap Hyun Joong. Meminta jawaban.
“Mereka teman istriku,” kata Hyun Joong sambil tersenyum hangat. “Salah satunya fans beratmu.”
Kening Jae Joong mengeryit. “Apa Hyun Ae yang mengajak mereka?”
Hyun Joong mengangguk.
Air muka Jae Joong berubah.
“Kajja,” pinta Hyun Joong.
Jae Joong dan sosok di sampingnya yang tak Hyun Joong kenal melangkah.
“Kupikir ini hanya pertemuan kau dan istrimu dengan kami,” gumam Jae Joong. Ada nada tak suka dari suaranya. Tapi Hyun Joong tidak terlalu menanggapinya.
Jae Joong dan sosok itu duduk di kursi kosong di depan Rima dan Lia, di samping Yoochun.
Hyun Ae datang dan menaruh piring dan gelas di depan mereka lalu mengambil teko dan masuk ke dapur lagi. Mengisi teko itu dengan jus jeruk lagi.
Sementara itu…
“Hyung, nuguya?” tegur Yoochun. Seperti mewakili Rima yang sejak tadi melirik sosok yeoja duduk di samping Jae Joong.
Jae Joong diam sesaat sebelum akhirnya berkata, “Lee Eun Shi. Designer baruku,” ujernya tercekat.
Eun Shi menatap Jae Joong dengan tatapan yang tak bisa diartikan yang lainnya sebelum akhirnya ia melempar senyum pada semua yang ada di meja. “Annyeong…” ujernya pelan.
Jae Joong mendesah. Ia lalu mengeluarkan HP-nya dan mengetik sebuah pesan.
“Noona, sepertinya hari ini aku tidak bisa mengenalkanmu. Kau sendiri dengar di sini ada fans kami. Mian…” send to ‘Lee Eun Shi (Nae jagiya)’.
Sosok yang duduk di samping Jae Joong mengeluarkan HP-nya yang bordering lalu membuang napas. “Mian,” ujernya lalu berdiri dari kursinya. “Aku sepertinya harus pergi,” terangnya dengan wajah keruh. “Annyeong…” ia membungkuk lalu pergi. Semua menatap heran.
“Mian…” ujer Jae Joong. Tak sengaja matanya bertatapan dengan Rima yang sejak tadi mengamatinya. Sesuatu menyusup di relung jiwanya, tapi ia mengabaikannya.
Rima cepat-cepat menunduk. Dan Jae Joong lekas berdiri. Ia mengejar Eun Shi. Semua yang ada di meja saling pandang. Bingung.
“Noona??” suara Jae Joong menahan langkah Hyun Ae. Ia lalu mengintip di balik dinding dapur dan melihat Jae Joong meraih tangan yeoja yang tidak dikenalnya dan berkata, “Mianhae…”
Eun Shi menepis tangan Jae Joong dengan kasar. “Kau pasti sudah tahu di sini ada fansmu kan?” ujernya emosi. Jae Joong menggeleng tegas, tapi Eun Shi tetap tak peduli.
“Kau sengaja mengajakku kemari, seolah ingin mengenalkanku padahal kau tidak ingin. Kau mempermainkanku, Jae. Itu menyakitkan!” ada nada terluka di suaranya.
“Annio, noona! Aku sungguh ti-”
Kata-kata Jae Joong terhenti saat Eun Shi melangkah pergi. Cepat-cepat ia mengejar.
Hyun Ae masih mengintip. Sedikit bingung dengan kata-kata Jae Joong dan yeoja itu barusan.

Di luar kediaman Hyun Ae, Jae Joong mengejar Eun Shi. Yeoja itu melangkah cepat. Lalu memanggil taksi yang kebetulan lewat.
Jae Joong mendengus kesal. Dia hendak mengejar dengan mobilnya saat menyadari kunci mobilnya tertinggal di meja makan. “Aishhh…” kesalnya.
Dengan langkah lebar Jae Joong masuk ke dalam. Ia melihat Hyun Ae memegang teko. “Kau puas?” katanya sinis.
“Nde?” sahut Hyun Ae bingung.
Jae Joong mendengus. “Kau pasti merasa senang berhasil membuat banyak orang iri!” katanya geram penuh amarah. Ia merasa seseorang perlu di salahkan atas kemarahan Eun Shi kali ini dan itu Hyun Ae. “Juga berhasil membawa teman-temanmu untuk bertemu kami!! Kenapa tidak sekalian saja kau bawa seluruh cassie di Indonesia hah??” sambungnya. Ditatapnya Hyun Ae tajam.
Hyun Ae terdiam. Ia tahu, sejak ia menikah dengan Hyun Joong, tak sekalipun Jae Joong baik padanya.
Mendapati Hyun Ae hanya diam dan menatapnya ‘tanpa dosa’, ia mendengus kesal. Ia lalu ke halaman. Mengambil kunci kontak mobilnya dengan kasar. Tidak peduli dengan mereka yang menatapnya heran.
“Mohon maafkan sikap Jae Joong. Ia tidak biasanya seperti ini,” pinta Yunho yang diterjemahkan oleh Yoochun dalam bahasa inggris. Rima dan Lia tersenyum dan mengangguk paham. Dalam benak Lia, “Mungkin Jae Joong oppa lagi ada masalah”, sedangkan di benak Rima, “Lee Eun Shi… Apa ada sesuatu antara dia dan Jae oppa? Pantas saja dari malam tadi tidak merasa bahagia. Rupanya pertemuanku dengannya akan seperti ini… Harus siap-siap terluka nih…”

_TBC_

Hohoho…. Ottokhe? Pertemuan yang menggembirakan awalnya, namun berakhir dengan tidak nyaman ya? Hehe… mian kalau yang ini jelek dan nggak suka. Author nggak tahu mesti gimana lagi. Nggak tahu apa Lia dan Rima memang akan begitu tingkahnya kalau bertemu namja-namja itu. lebih nggak tahu lagi apa yang akan ditulis di chap selanjutnya *lho?*
Hahaha… jangan terkejut begitu. Tunggu saja kelanjutannya. Pokoknya lebih seru lagi. Dan kayaknya fokusnya akan lebih luas lagi, yakni Rima, Lia, Eun Shi, Jae Joong, Junsu, Yunho, Hyun Joong, dan Hyun Ae gkgkgk…
Buat Yoochun dan Changmin, tenang, mereka nanti juga dapat bagian. Jadi, tunggu dengan sabar ya ^^
Gomaweo… *bow*
Comment please ^^d