There was an error in this gadget

Tuesday, September 27, 2011

FF "Heart" chap 8

OMO!!! I wanna cry... T.T *author lebay deh!* Ya sudah, selamat membaca... =D Title: Heart Genre: Romance Tokoh: 1. Lee Hyun Ae (tokoh utama/pembaca/siapa saja yang mau lah) 2. Kim Soo Ae 3. Park Yong Kyo (shbt Hyun Ae) 4. Jung Ji Hyun 5. Kim Hyun Joong 6. Jung Yunho 7. Kim Jae Joong 8. Lee Song Yi (sahabat Soo Ae) Chapter 8 Heart -Hyun Ae POV- Bel terdengar setelah sepuluh menit kepergian Hyun Joong. Aku membuka pintu. Tak ada siapapun kecuali sebuah kado. Tertulis di sana untukku. Dengan takut aku membukanya. Kue rasa strowberi kesukaanku. Dari siapa? Aku mencari cari siapa tahu pengirimnya meninggalkan surat atau apapun. Sebuah amplop kecil terjatuh. Aku memungutnya. ”Annyeng chagiya... Apa kau masih suka dengan kue ini? Aku sengaja membalinya untukmu ^^ Aku harap aku bisa memakannya bersamamu. akh... aku merindukan saat-saat kebersamaan kita dulu. Apa kau merindukanku? Yunho” Jantungku berdetak lebih cepat. Aku tak pernah membayangkan dia akan melakukan ini. Segera aku membakar surat pendeknya. Lain hari kiriman seperti itu datang lagi. Semuanya merupakan kue kesukaanku. Pria itu masih mengingatnya. Setiap kali dia menyisipkan surat pendek. Isinya kurang lebih sama. Mengatakan ingin kembali seperti dulu. Ingin bersamaku. Dan setiap kali pula aku tak memakannya. Tak juga menyimpannya. Aku memberikannya pada teman di kampusku atau juga tetanggaku. Pernah dia menelpon ke nomorku yang belum pernah kuganti. Dengan sangat terpaksa aku menggantinya. Aku tak ingin ada kontak dengannya. Aku tak mau kehilangan Hyun Joong. Aku benar-benar mencintainya. ----End Hyun Ae POV---- -Yunho POV- Hampir sebulan ini aku mengirim kue untuknya. Kadang kuselingi dengan meingirim bunga. Setiap kali kuselipkan surat di sana. Dia tak pernah sekalipun membalasnya. Aku cukup senang jika dia menerima hadiahku. Aku mencoba menghubunginya. Masih aktif. Tapi tak diangkatnya. Dan setelah hari di mana aku mencoba menelponnya, nomor HPnya sudah tak aktif lagi. Beberapa hari aku mencoba, hasilnya tetap sama. Hari ini aku mengirimkan hadiah lagi. Kali ini aku tidak pergi begitu saja setelah memberi hadiah seperti hari-hari yang lalu. Aku akan menemuinya. Aku ingin bicara dengannya. Bel ku tekan. Terdengar langkah kaki mendekat dari dalam. Pasti dia. Aku tahu dia hari ini tidak ada jam kuliah. Dia membuka pintu. Tampak sekali dia terkejut menemukanku diluar rumah. ”Hai!” Dia diam tak menjawab. ”Boleh aku masuk?” aku bertanya sambil tersenyum semanis yang kubisa. Seolah tersadar dia menutup pintu. Tapi aku menahannya. ”Kenapa kau lakukan ini Hyun Ae-ah?” ”Mianhae oppa...” sekali lagi dia berusaha menutup pintu, aku berusaha menahannya, namun gagal. ”Oppa...,” katanya dari balik pintu, ”aku sudah bilang, kita tidak boleh bertemu.” ”Aku tahu. Tapi aku merindukanmu...” ”Oppa punya orang yang lebih berhak untuk oppa rindukan. Mian...” ”Seandainya... aku punya mesin waktu... aku tak akan pernah meninggalkanmu.” Hening. ”Hyun Ae...” ”Oppa,” potongnya cepat, ”setiap orang sudah punya mesin waktu. Untuk kembali ke masa lalu, mesin waktu itu kita beri nama kenangan.” (saya suka kalimat ini) *author nebeng, mengganggu!!* ”Apa... aku hanya tinggal kenangan?” (OMO!!!) *lagi2 aouthor ikut2an!!!* can’t i see you again? I can’t see me in your eyes Confortable waves and remains of the smile make me cry (While I was Waiting byPanic) ”Mianhae oppa... biarkan semuanya jadi masa lalu. Aku mendoakan kebahagianmu oppa. Tolong, doakan kebahagiaan untukku juga.” Aku terdiam. Kata yang pernah di ucapkan oleh seseorang. Kata yang hampir sama. Mungkinkah ini karma? Perlahan aku melangkah mundur. Menjauh dari pintu apartemen Hyun Ae. Bayangan masa lalu itu hadir di benakku. -flashback- Aku menatap seseorang di depanku. Kata appa dia pintar. Pandai memainkan piano. Padahal di rumahnya sama sekali tak pernah ada alat musik mahal itu. Dia benar-benar biasa, tapi kecerdasannya mengagumkan. Dia anak teman lama appa. Kerena pernah di tolong sewaktu SMA dulu, appa merasa berhutang budi. Mulanya appa menawarkan jabatan pada appanya, tapi appa orang itu menolak. Bukan seberapa, tak perlu membalas budi, katanya. Dia hanya mempercayai bahwa appaku bisa meneruskan perusahaan Jung yang baru meningkat. Jadi, sebagai gantinya appa menikahkan aku dengan anaknya. Pernikahan tanpa cinta! Gadis itu benar-benar biasa. Jujur saja, dia tak sedap di pandang mata. Aku menikah dengannya dengan terpaksa. Aku tak diijinkan berontak apalagi kabur. Aku membawanya ke rumah yang di berikan appa untuk ’kami’. ”Itu kamarmu.” kataku dingin saat kami sudah masuk ke rumah. Dia menatapku bingung. Mungkin dipikirannya aku bersedia sekamar dengannya. ”Harus kukatakan padamu,” aku berkata tanpa melihatnya, ”aku mencintai orang lain. Namanya Hyun Ae. Kuharap kau mengerti. Mian...” aku masuk ke kamarku. Menutup pintu dan menguncinya. Samar ku dengar dia terisak. Hatiku sekeras batu rupanya. Tak tersentuh sama sekali dengan tangisnya yang pilu. Kupikir dia akan berubah. Menatapku dengan benci. Tapi yang kudapati adalah senyum dan sikap lembutnya. Aku masih mengacuhkan sikapnya. Mungkin dia sakit hati berkali-kali karena sikapku. Berkali-kali kudengar dari balik kamarnya dia menangis. Tapi, tak pernah sekalipun dia tunjukan itu padaku. Apalagi marah. Perlahan aku menyadari dia begitu cantik. Seorang wanita dengan hati seputih salju. Bagai malaikat. Selama denganku, aku tahu aku hanya akan menyakitinya. Tapi aku tak bisa menceraikannya. Appa melarangku. Dan aku tak bisa membantah larangannya. Karena jika kau membantah appa akan melakukan segala cara untuk menghentikan hobi dance ku! Dia tahu, dance adalah hidupku. ”Yunho-ssi, sarapan untkmu sudah siap.” suara lembut gadis itu setiap kali dia selesai membuat sarapan. ”Yunho ssi, kau sudah pulang? Sudah makan?” tanyanya saat aku pulang kerja ”Yunho-ssi, kau sudah minum obat?” tanyanya cemas saat aku jatuh sakit. Sayangnya hatiku tak bisa luluh. Aku hanya bisa menganggapnya sebagai teman. Aku tak pernah mengacuhkannya lagi. Tapi juga tak memberi kesempatan untuk lebih jauh. Sering aku menceritakan tetang Hyun Ae padanya. Tak pernah bosan. Dia selalu mendengarkan dengan antusias. Tak menunjukan bahwa hatinya hancur mendengar betapa aku mencintai Hyun Ae-ku. Dia benar-benar teman yang baik. Hanya teman, pagar itu terpasang kuat di antara kami. Setahun tepat pernikahan kami, tak ada perubahan. Masih seperti itu. Aku ingin melepasnya, membiarkan dia mencari orang yang lebih pantas untuknya. Seseorang yang bisa menyayanginya. Membalas ketulusannya. Dan hari ini, malam hari, dia menungguku seperti biasa. Hanya kata-katanya setelah menanyakan sudah pulang dan sudah makan, berbeda. Bukan membicarakan pekerjaan masing-masing seperti hari kemarin di ruang tengah. TV masih menyiarkan acara komedi kesukaanku saat dia berkata.... ”Yunho-yah... aku... sudah mengajukan surat cerai kepengadilan.” Aku mengalihkan pandanganku. Menatapnya. ”Mianhae Yunho-yah...,” dia balas menatapku. Tak ada keraguan di matanya. ”Aku rasa sudah saatnya kita biarkan semua ini jadi masa lalu. Aku mendoakan kebahagianmu. Tolong, doakan kebahagiaan untukku juga.” katanya sambil tersenyum. Senyum lembut seperti biasanya. For me Love is a baeutiful scar Even when i see your beautiful smile I can’t smile with you (Becouse I’m Stupid by SS501) Kemudian dia berdiri. Menundukan tubuhnya hampir 90 derajat. ”Mian sudah merepotkan selama ini...” ucapnya. Dia lantas berjalan menuju sbeuah tas yang tak kusadari telah ada sejak tadi. Isinya kurasa baju-bajunya. ”Kau... mau ke mana?” ”Tempat seharusnya aku berada.” tampak dia menahan tangis. ”Kapan-kapan,berkunjunglah ke rumah kecilku... chingu...” Dia menuju pintu. Aku tak mencegahnya. Aku tahu dia pergi dengan hati hancur. Aku melihat bahunya yang berguncang hebat. Aku tak ingin mengurungnya di rumah ini. Rumah yang tidak bisa membalas cintanya. Mianhae Kim Soo Ae. Jeongmal mianhae... -end flashback- Aku tertegun di dalam mobilku. Menatap bangunan apartemen yang Hun Ae tempati. Mungkin ini karma untukku karena telah menyakiti seorang sebaik dirimu Soo Ae. Apakah kau telah menemukan kebahagiaanmu? Hyun Ae-ku sudah menemukan kebahagiannya. -flash back- ”Chukaeyo Yunho-yah... akhirnya kau menemukan kebahagianmu.” Kim Soo Ae mengucapkan selamat padaku saat aku bilang padanya akan menikah dengan seseorang yang kuyakini aku mencintainya. Aku sengaja mengunjunginya di rumah mungilnya untuk memberitahukan kabar gembira itu. ”Dengan Hyun Ae bukan?” dia bertanya dengan nada gembira. Aku menggeleng. Dia tampak terkejut. ”Aku menemukan cinta yang baru. Namanya Ji Hyun.” ”Jeongmal? Aku harap kalian bersama selamanya. Jangan menyakitinya ya?” Aku mengangguk. ”Gomawo. Kalau kau tidak sibuk, dan tidak keberatan, ku harap kau datang.” Dia mengangguk. ”Tentu.” Benar saja. Dia datang. Menemuiku, calon istriku, appa dan umma. Dia datang hanya sebentar. Mengucapkan selamat dan semoga menjadi keluarga bahagia. Menggodaku dengan mengatakan semoga sukses membuat grup kesebelasan (anak dari istriku). -end flashback- Aku tersenyum mengenang hal itu. Soo Ae... aku... mungkin sudah menyakiti Ji Hyun dari belakang. Masihkah aku bisa di maafkan? Perlahan aku melajukan mobilku. Menjauh dari apartemen itu. ----End Yunho POV---- -Hyun Joong POV- Aku mencari kediaman Soo Ae. Beberapa kali berkunjung ke sana. Kadang kulihat wajahnya begitu pucat. Kutanyakan tentang sakitnya, dia hanya menjawabnya dengan senyum. Lantas mengalihkan pembicaraan. Dia tak ingin aku lebih jauh tentang sakitnya. Apa dia harus menyimpannya sendirian? Sekali lagi aku baru tahu kalau kedua orangtuanya meninggal. Katanya hanya berselang beberapa bulan setelah dia bercerai. Sering kubertanya, kenapa penderitaan tak kunjung menjauhinya? Apa karena dia selalu tersenyum menghadapi pahitnya kehidupannya? Apakah setelah dia menangis, dia akan mendapatkan kebahagiaan? Atau jangan-jangan... sampai akhir waktunya... bahagia itu tak pernah datang? Aku mengunjunginya sesaat sebelum aku pergi ke kantor, saat istirahat, dan pulang kantor. Jika tidak bisa bertemu aku akan menelponnya. Aku ingin membayar kesalahanku yang tak pernah ada di saat-saat sulitnya. ”Soo-ie, gwencanayo?” tanyaku saat melihat wajahnya kian pucat. ”Gwencana.” katanya dengan senyum menyenangkan. Dia memintaku untuk pulang. Dia mengingatkanku bahwa Hyun Ae menungguku di rumah. Aku mengangguk dan melangkah pergi. Di rumah kudapati Hyun Ae menungguku. Dia sama baiknya dengan Soo Ae. Aku mencintainya. Sangat. Tapi aku juga sangat menyayangi Soo-ie. Aku menempatkan Soo-ie di sisi hatiku yang lain. Dan Hyun Ae di sisi hatiku yang lain. Bolehkan? ----end Hyun Joong POV---- Ottokhe??? Kaget kan ternyata Soo Ae adalah istri Yunho yang pertama, hehehe....

No comments:

Post a Comment