There was an error in this gadget

Tuesday, September 27, 2011

FF "Heart" chap 4

Title: Heart Genre: Romance Tokoh: 1. Lee Hyun Ae (tokoh utama/pembaca/siapa saja yang mau lah) 2. Kim Soo Ae 3. Park Yong Kyo (shbt Hyun Ae) 4. Jung Ji Hyun 5. Kim Hyun Joong 6. Jung Yunho 7. Kim Jae Joong 8. Lee Song Yi (sahabat Soo Ae) Chapter 4 The Deepest Heart -Hyun Ae POV- Pagi hari, aku tak bicara dengannya. Malas saja. Rasanya masih kesal. Dia mencoba memancing pembicaraan, tapi aku mash kukuh dengan sikapku. Diam. Saat sarapan, kami makan dalam diam. Kemudian dia mengantarku pulang. Tetap, tak ada kata selama perjalanan. Mungkin dia juga bingung harus melakukan apa agar aku bicara. ”Nanti ku telpon.” katanya. Aku tak menganguk juga tak menggeleng. Dengan ragu dia masuk ke mobilnya. Aku masuk ke kamarku. Mandi. Kemudian bersiap-siap kuliah. Malas sebenarnya. Apalagi bertemu dengan Yong Kyo dan Jae joong yang tampaknya makin sering memperhatikanku. Melihat wajahku yang masih kusut ini, pasti mereka heboh. Tiba-tiba aku teringat sungai Han. Tempat pertapaan favoritku. Biasanya kalau lagi bad mood atau butuh ketenangan dan penyegaran, aku datang ke sana. Terakhir aku ke sana saat aku bersama dengan ’dia’. Kami berpisah saat kami memilih jalan yang berbeda. Dia pada bakat dance dan nyanyinya, dan aku.... yang bukan apa-apa. Aku tak pernah ke sana lagi. Hal itu terjadi sejak kelas 2 SMA. Ku hentikan mobilku di sungai Han ini. Lebih tiga tahun berlalu sejak hari itu. Aku keluar dari mobil. Bersandar di pintunya. Menikmati lembutnya angin yang bertiup. Ada apa dengan hatiku? Kenapa aku tidak mengerti? Apakah.... aku benar-benar jatuh cinta padanya? Tiba-tiba Hpku bergetar. Ugh! Aku lupa mematikannya. Apa itu dari Hyun Joong? Aku berpura-pura tak mendegarnya. Panggilan berakhir. Tapi dua detik kemudian panggilan itu masuk lagi.dengan kesal aku membuka pintu mobil, mengambil hpku. Nomor asing. Dengan enggan aku menjawabnya. ”Yoboseo...” ”Hyun Ae-ah? Masih ingat denganku?” ”Mm... siapa ya?” Siapa? Suaranya laki-laki. Rasanya kenal. Jangan-jangan teman SMA? “Masih ingat? Break dance? ’Are u ready?’?” Mwo? “Yun… Yunho oppa..??” Without words you let me know love Without words you gave me love You made me even hold on your breath But you ran away like this Without words love leaves me Without words love tosses me away What should I say next? My closed lips were surprised on their own It came without any words (Without Words by Park Shin Hye) Suara di seberang sadan menderaikan tawa. Memang benar dia. Orang yang selalu mengikuti acara itu adalah dia. Dari SMP sampai dia kuliah. Kami berpisah karena ada tawaran untuknya mengambil S2 jurusn seni. Membuatnya pergi diikuti kedua orang tuanya. ”Untunglah kau masih ingat. Ternyata nomor hpmu tidak berubah.” ”Nde... oppa... apa kabar?” ”Baik. Kamu?” Aku mengangguk. Menyadari orang di seberang telpon ini tak akan melihat anggukanku aku mengiyakannya. ”Nde, oppa.” Seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh. Seseorang dengan senyum yang sama hangat dan polosnya berada di depanku. Aku merasakan waktu berhenti di sekitarku. ”Annyeong, Hyun Ae-ah?” ^_^ ”An... annyeong oppa...” Kami terdiam cukp lama. “Oppa… sedang berlibur ke mari?” ”Anni. Aku tinggal di sini. Umma dan appa masih di sana. Karena orangtuanya tak ingin jauh dari anaknya aku putuskan untuk pindah ke sini.” ”Orang tua~ siapa?” Dia diam sejenak. ”Istriku.” Aku melihat ke arah tangannya. Sebuah cincin pernikahan melingkar di jarinya. Laki-laki yang lebih tua lima tahun dariku ini telah menikah. ”Chukae... mian karena terlambat mengucapkannya.” aku mencoba tersenyum. Dia menggeleng. ”Anni. Aku saja yang tidak sempat mengabarimu.” Aku tersenyum pahit. Lebih baik aku tidak tahu oppa, karena jika aku mengetahuinya, aku tidak akan sanggup berbicara padamu pada hari ini. ”Punya anak berapa?” ”Baru 4...” Aku menatapnya. Terkejut. -----End Hyun Ae POV---- -Yunho POV- Aku baru beberapa kali berkunjung ke tempat ini setelah hampir tiga tahun. Aku menyukai ketenangan dan keindahannya. Juga sebuah kenangan yang menjadi rahasia di sungai itu. Aku tengah berjalan ketika melihat sosok yang cukup kukenal. Bukan, tapi kurindukan. Aku membuka Hpku. Untuk pertama kalinya aku memberanikan diriku menelponnya. Kuharap dia tak mengganti nomornya. aku menunggu. Tak ada respon. Hanya bunyi nada tunggu di seberang sana. Aku mencoba lagi. Dan.... ”Yoboseo....” suara itu nyaris menghentikan detak jantungku. ”Hyun Ae-ah? Masih ingat denganku?” kusadari suaraku bergetar. ”Mm... siapa ya?” “Masih ingat? Break dance? ’Are u ready?’?” dengan semangat aku mengingatkannya. “Yun… Yunho oppa..??” Aku menderaikan tawa. Lega karena dia mengingatku. Sambil berbincang dengannya aku mendekatinya. ”Untunglah kau masih ingat. Ternyata nomor hpmu tidak berubah.” ”Nde... oppa... apa kabar?” ”Baik. Kamu?” ”Nde, oppa.” Aku sudah dekat dengannya. Kutepuk pundaknya. Dia menoleh. Seseorang dengan senyum yang kurindukan menatap terkejut. Aku merasakan waktu berhenti di sekitarku. Apa dia merasakannya juga? ”Annyeong, Hyun Ae-ah?” ^_^ ”An... annyeong oppa...” dia tampak gugup. The empty love, even with the sadness burning in the chest I will not be able to push you out from my heart Because the imperfect me is insignificant Until the falling tears Submerge every single memories For you are my love, I will surely find you (Find by DBSK) Kami terdiam cukup lama. “Oppa… sedang berlibur ke mari?” ”Anni. Aku tinggal di sini. Umma dan appa masih di sana. Karena orangtuanya tak ingin jauh dari anaknya aku putuskan untuk pindah ke sini.” ”Orang tua~ siapa?” Haruskah aku mengatakannya? Kenyataan yang ingin sekali kusangkal. ”Istriku.” lirihku akhirnya. Dia melihat ke arah tanganku. ”Chukae... mian karena terlambat mengucapkannya.” Aku menggeleng. ”Anni. Aku saja yang tidak sempat mengabarimu.” ”Punya anak berapa?” tanyanya setelah beberapa detik terdiam. ”Baru 4...” kulihat dia terkejut. ”Maksudku baru isi empat bulan.” Dia tertawa. ”Chukae...” ”Gomawo...” Aku bersandar di samping mobilnya. ”Oppa.... apa kau benar-benar akan membuat tim kesebelasan dari anak-anakmu?” Aku yang kali ini tertawa. ”Apa kau mempercayai ucapanku waktu itu Hyun Ae-ah? Aku hanya bercanda. Apa aku ingin membuat istriku mati?” Dia tertawa mendengar ucapanku. ”Kau sendiri... sudah bertunangan rupanya..” Dia menoleh ke arahku. Terkejut. Mungkin bertanya-tanya bagaimana aku bisa tahu. Aku meraih tangan kanannya. Cincin pertuangannya masih tersemat di sana. ”Hyun Joong.” bacaku pada nama yang terukir di cincin itu. ”Hm... kapan kau akan memperkenalkanku padanya? Aku ingin tahu seperti apa laki-laki yang berhasil menggantikanku menjagamu?” What if It seems like you’re going to love me Because it seems like you’re going to come to me if I wait just a little With these anticipations I can’t leave you Even though I know that as time accumulates It becomes pain Oh girl (What If by Super Junior) ----End Yunho POV---- -Hyun Ae POV- ”Hyun Joong.” bacanya pada nama yang terukir di cincin itu. Aku baru ingat aku mengenakan cincin itu. ”Hm... kapan kau akan memperkenalkanku padanya? Aku ingin tahu seperti apa laki-laki yang berhasil menggantikanku menjagamu?” Sejenak aku tersipu. Yunho oppa masih seperti yang dulu, suka bercanda, sangat santai dan... tampan. Dulu... aku suka diam-diam melirik matanya yang setajam elang, dagunya yang lancip, senyumnya yang polos, juga memperhatian langkahnya yang tegas. Aku mengenalnya saat aku tak sengaja ikut lomba dance ’are you ready?’ Kubilang tak sengaja karena temanku langsung mendaftarkanku tanpa memberitahukanku terlebih dulu. Untung hasilnya lumayan, juara harapan. Sedang dia berhasil meraih juara 2. Aku dan dia sering berlatih dance sama-sama. Dia mengajariku beberapa gerakan. Kami semakin hari semkin akrab. Dari hubungan sebagai teman, berubah menjadi adik-kakak. t Amma dan appa juga tidak keberatan dengan kebersamaan kami, karena ternyata dia anak sahabat sekaligus rekan kerja mereka. Namun, kedekatan kami berakhir saat aku masih kelas 1 SMA. Dia harus pergi. Sejak itu kami kehilangan komunikasi. Dia yang tak kunjung menghubungiku dan nomor hpnya yang ada padaku tak pernah aktif lagi membuatku kehilangan jejaknya. Kebersamaan kami hanya tinggal kenangan. Mengurungku dengan harapan dia akan kembali. Membalas perasaanku yang lebih muda darinya dengan perasaan yang sama. Kurasa itu tak akan pernah terwujud lagi. I did my best But I guess my best wasn't good enough 'Cause here we are back where we were before Seems nothing ever changes We're back to being strangers (Just Once, Changmin ver.) Kini, Yunho oppa ada di depanku. Duduk dan saling bercerita denganku. Seperti dulu. Aku merasa... telah menemukan sebagian jiwaku yang hilang, yang kemarin sempat kupikir telah berhasil di bawa laki-laki yang bertunangan denganku. Kami berjalan-jalan di tepi sungai Han, makan siang lalu mengobrol lagi sambil duduk di tepi sungai indah itu. ”Eh, mau lihat foto istriku?” ”Ah, jeongmal? Boleh?” ”Tentu saja.” dia tertawa. Mengambil dompetnya dan mengambil sebuah foto di sana. Dia menyerahkan foto itu padaku. Aku tertegun. Perempuan di foto itu sangat mirip denganku, chubby-nya, hidungnya, bibirnya, lekuk wajahnya. Kalau saja dia tidak mengenakan gaun pengantin dan di sampingnya berdiri Yunho oppa aku akan menyangka itu fotoku. “Mirip denganmu kan?” “Ah? Nde... tapi..dia jauh lebih cantik dan tinggi.” Aku menyerahkan kembali foto tersebut. Dia menyimpannya kembali. “Yang penting mirip dongsaengku,” katanya seraya mengelus kepalaku. Elusan sayang seperti tahun-tahun yang lalu. Sebuah perasaan lama yang kukenal hadir kembali memenuhi ruang di hatiku. ”Wae...?” tanyaku perlahan. Dia menatapku. Mata elangnya menunjukan sorot yang lembut. ”Supaya aku bisa terus mengingat dongsaeng tersayangku.” Gemuruh ombak serasa menghantam hatiku. Aku kembali tertegun. Tapi tak lama, karena dia kembali mengajakku berbincang. Kami terus berbincang hingga sore menjelang. Seolah tak ada hari lain. Senja menarikan kemegahannya di depan kami. Aku menatapnya takjub. Dia diam memperhatikanku. ”Kau masih menyukai senja, seperti dulu.” Aku mengangguk, tak melepaskan pandanganku dari sinar jingga itu. Usai atraksi senja tadi, kami memutuskan pulang. Yunho oppa menutup pintu mobilku smabil tersenyum. ”Gomawo, Hyun Ae-ah. untuk segalanya.” ”Gomawo karena sudah bercerita banyak hari ini padaku oppa.” Aku melajukan mobilku usai melambai padanya. Hariku terasa berwarna lagi. Saat tiba di rumah umma dan appa belum pulang, tapi aku justru mendapati sosok Hyun Joong duduk di ruang tengah. Menungguku. ”Sudah pulang?” tanyanya. ”Mm.” aku mengiyakan. ”Apa kau sudha makan?” ”Nde.” singkat dan dingin. ”Oh. kalau begitu istirahatlah. Aku... pulang dulu.” dia mendekat. Hendak mencium keningku, tapi aku memilih melangkah mundur. Menolaknya. Dia menatapku sesaat sebelum akhirnya mengucapkan selamat malam dan menghilang di balik pintu. ------------------------------------------------------------------------------------------------- ottokhe?? penasaran tidak?? gkgkgkgk.... XD RCL ya...

No comments:

Post a Comment