There was an error in this gadget

Tuesday, September 27, 2011

FF "Heart" chap 1

FF ini adaptasi dari novel Jodoh dari Surga.Saya harap kalian suka. karena sebenarnya ini awal-awal dlu saya mengenal FF, jadi harap maklum ya ^^ Title: Heart Genre: Romance Tokoh: 1. Lee Hyun Ae (tokoh utama/pembaca/siapa saja yang mau lah) 2. Kim Soo Ae 3. Park Yong Kyo (shbt Hyun Ae) 4. Jung Ji Hyun 5. Kim Hyun Joong 6. Jung Yunho 7. Kim Jae Joong 8. Lee Song Yi (sahabat Soo Ae) Chapter 1 Why Must I ”Jadi...malam ini kamu akan dipertemukan dengan belahan jiwamu yang datang dari negeri antah berantah itu?” tanya Yong Kyo, sahabatku. Dia sudah tahu perihal perjodohanku dengan seseorang yang aku tidak tahu siapa dia kecuali dia S2 lulusan ekonomi terbaik dari Perancis, pandai main piano dan biola. ”Dia asli Korea kok! Bukan dari negeri antah-berantah!” bantahku ”Bukan itu yang kumaksud, Hyun Ae-ah!” ”Hm~m. Dia datang malam ini.” ”Nggak Khawatir kalau-kalau cowok itu akan setua apa? Jangan-jangan kepala penuh rambut putih atau...botak.” Aku langsung manyun. Yong kyo malah tertawa. Dasar tu anak! “Memangnya aku di jodohkan dengan harebushi-harebushi (kakek-kakek)??” Yong kyo tertawa. ”Nggak kebayang deh...” ucapnya di sela tawanya. Huu... ”Tapi...gimana kalau dia cakep?” aku berharap sih begitu. Yong kyo mendengus. ”Emang kalau cakep kamu mau?” ”Nggak juga sih! Hehe...” hatiku berdesir. Satu sosok berkelebat di pikiranku. ”Tuh kan... Aku juga nggak mau. Secara aku lebih bebas merdeka memilih dengan siapa aku hidup nanti.” ”Maksudnya, pilihan jomblo seumur hidup? Hihihi....” ”Yee... itu sih kamu. Makanya, punya cowok dong, biar bisa bilang ’appa, aku sudha punya pilihan sendiri’.” ”Memang kamu punya? Perasaan enggak deh!” ”Aku masih punya waktu untuk mencari, nah kamu???” Hfff, bicara denganya terkadang tidak menghasilkan solusi. Memang sih, aku selama 20 tahun hidupku tak ada satupun cowok yang hinggap kecuali satu. Dia yang enggan untuk ku ingat lagi. Bicara soal 20 tahun, apakah di usia itu, jika tidak punya kekasih, sudah dicap sebagai perawan tua? Tidak kan? Aishh... tidak kah orang tuaku tahu aku masih ingin menikmati hidup? Masih ingin bermimpi tentang idolaku... masih ingin memberi seluruh cintaku untuk mereka.. masih ingin menikmati masa-masa kuliah juga tentunya. ”Seandainya ’dia’ kembali...apa kau akan menolak perjodohan ini?” Aku terdiam cukup lama. Ingatan tentang dia kembali hadir. Aku menghela napas, membuang jauh-jauh sosok itu. ”Anni.” ”I can’t believe it!” Yong Kyo benar. Aku tersenyum pahit. “Heh, speaker berjalan! Bisa diam nggak sih! Berisik tahu!!!” Kim Jae joong, musuh bebebuyutan Yong Kyo menegur. Baru sadar aku bahwa kami masih di perpustakaan. Segera aku menundukan wajahku, berpura-pura membaca. Sementara Yong Kyo... ”Huh!!! Dasar cowok tampang cewek!” Hihihi, aku tertawa dalam hati. Tapi kusadari bibirku mengulum senyum. Ah, kuharap musuh bebuyutan ini berjodoh. “Ya!!! Kau mentertawakanku ya!??” Yong Kyo makin sewot. Hehehe.... “Nggak apa-apa. Yong Kyo kan baik hati, ramah-tamah dan tidak sombong.” “Huuuu....” Jae Joong melayangkan koor andalannya. ”Apa ha-hu ha-hu???” ”Sudah-sudah. Mrs Park dan Mr Kim, marahnya ditersukan di KUA saja...” ”NO WAY!!!!” sahut Jae Joong, sedikit berteriak. ”Ih, siapa juga yang mau nikah sama kamu??” ”Mrs Park, Mr kim...” Kepala perpustakaan datang. O-oww!! Mulut Yong Kyo dan Jae Joong langsung mendesiskan kata itu. Perlahan mereka menundukkan kepala, kembali membaca. Keheningan merayap. Membuatku memikirkan kehidupanku lagi. Aku teringat kata-kata Yong Kyo tentnang calon tunanganku. Boleh jadi dia asal bicara. Tapi bagaimana kalau benar? Kubayangkan sisa hidupku harus kulewati bersama orang asing dan kemungkinan besar tidak akan bisa kucintai. Dia belum tentu mencintaiku. Akh... apalagi kalau dia benar-benar tua. Fisiknya, penampilannya, caranya menajalani hidup. OMO!!! O.o Hm... apa aku kabur saja? *setan mengangguk membenarkan* Aishh... kenapa harus aku yang mendapati nasib seperti ini? Dari mana juga datangnya makhluk planet bernama Kim Hyun Joong itu. Bagaimana bisa dia dijodohkan denganku. Anak jendral siapa? Atau... anak direktur perusahaan apa? Apa jangan-janagn teman bisnis appa?? Oh My God! What should i do? Oppa…. (maksudku para idolaku) tolong aku… jika ini mimpi, maka ini mimpi terburukku. Tolong bangunkan aku!!!! Wake me gently, my sunhine Just like princess in the fairly tales, I will close my eyes and wait When I open my eyes, please stay by my side Oppa…. T.T Pukul 19.25 aku tiba di rumah. Sepulang kuliah aku berkeliling kota Seoul dulu. Santai-santai di sungai Han, kemudian makan es krim di sebuah cafe. Tak ada niat pulang, sampai umma menelponku memintaku segera pulang. Aishh... Di depan rumah ada BMW hitam parkir seenaknya. Mobil honda jazzku tidak bisa masuk. Ottokhe??? Aku segera turun. Celingak-celinguk. Sepertinya di mobil itu masih ada orang. Tahu dari mana? Kayanya sih... Aishh.. jangan tanya-tanya lagi. Aku mengetuk kaca mobil BMW itu. Tuk-tuk-tuk. Tak ada respon. Jangan-jangan nggak ada orangnya? Aku berbalik, hendak menuju mobilku, ketika kudengar... ”Nona... Nona....” yang langsung membuatku terlonjak kaget. Hantu kah? ”Mian, mengagetkan Anda.” Aku berbalik. ”Apakah mobil saya mengganggu?” Belum hilang kekagetanku, aku kembali ternganga. Sinar lampu jalan depan rumahku jatuh tepat di wajah orang yang memanggilku tadi. Sumpah! Dia mirip sekali dengan Yoon Ji Hoo. Sunbae nasional anak-anak SMA. Itu lho tokoh dalam drama boys before flower, yang booming di Asia??? Tahu kan? Tahu kan??? Hyun Ae.. apa aku sudah rabun?! Orang setampan dia mana mungkin ada di depanmu! “Nona… mau parkir?” “Eng…m.. ma... mau par...kir… ma...suk…” Hyun Ae-ah... kenapa di saat-saat penting ini malah gagap! Memalukan!! ”Oh, mian... kalau begitu saya majukan sedikit mobil saya.” ”Nde....” Dia memajukan mobilnya beberapa meter. Sekarang mobilku bisa masuk. Btw... itu tadi tetangga baru ya? Atau... tamunya tetangga? Tukeran tamu yuk, hehehe.... Tapi.... gawat! Keringat dingin membanjiri tubuhku. Tadi aku langsung keluar dari mobil usai mematikan mesinnya. Aku lupa mencabutnya. Alhasil kunci itu tertinggal di dalam. Minta tolong siapa? Kalau ketahuan appa teledor begini bisa kena marah. ”Silahkan nona.” Hyun Ae-ah... pabo!!! ”Kuncinya ketinggalan di dalam ya?” Seketika wajahku menghangat. ”Arraso....” dia menuju mobilku. ”Mmm... Nona... masuk saja dulu. Nanti kuncinya saya antar sama mobilnya ke dalam.” ”Ah, saya tunggu saja.” Dia mengangguk. Kemudian melanjutkan kegiatannya. Mobil berhasil di masukan ke dalam. Aku mengikutinya di belakang. Ketika dia keluar dari mobilku, aku tersenyum. Ia menatapku kemudian balas tersenyum ”Kamsahamnida...” ucapku sambil membungkukkan tubuhku. ”Ah, jangan sungkan.” ia menyerahkan kuncil mobilku. ”Khamsahamnida....” ucapku sekali lagi. ”Mian...Saya harus masuk.” aku menunjuk rumahku. Dia mengikuti arah telunjukku kemudian dia menangguk. Aku pun masuk ke dalam. Kulihat dua orang yang tak kukenal duduk di ruang keluarga. ”Ms Kim, ini lho Hyun Ae, anak saya yang saya ceritakan itu.” ucap Umma sambil memegang bahuku bangga. Aku tersenyum sekenanya. ”Aduuuuh....senangnya ketemu calon menantuku...” sahut ms Kim O_o Ouch! WHAT???? Jangan-jangan mereka.... orang tuanya si Kim Hyun Joong itu????? OMO!!!! Lho??!! Mana yang namanya si Hyun Joong? Masa ajushi (paman) yang disampingnya Mrs. Kim itu? Dia akn seumuran dengan ayahku!!!! “Ah, Hyun Joong, kau sudah datang...” “Nde.” Sebuah suara menajwab di belakangku. Aku merasa jantungku berhenti berdetak. Lega, karena bukan ajushi itu yang jadi calon suamiku melainkan orang yang ada di belakangku. Dengan gugup aku menoleh kebelakang. O_o Bukankah dia duplikatnya Ji Hoo sunbei, yang menolongku tadi? Jadi.. dia...si Kim Hyun Joong itu. Calon suamiku? Benarkah? Kudapati dia tersenyum padaku. ”Hyun Joong imnida,” katanya memperkenalkan diri. Aku baru sadar dari keterpanaanku saat ibuku memukul pundakku. ”Eh? Emm.. A... Annyeong... Hyun Ae imnida.” Aishh... kenapa pertemuan kami seperti ini? Tidak adakah cara lain yang lebih... manis? Ah... padahal aku sudah bilang pada Yong Kyo akan menolak pertunangan ini, apapun yang terjadi! Tapi.... senyumnya... OMO!!!! Benar-benar membuatku meleleh. Aku pamit untuk mandi. Di kamar mandi aku terlongong-longong. Begitu juga di kamar dan di depan lemari pakaian. Akhirnya kuputuskan mengenakan rok panjang dan t-shirt. ”Jadi, bagaimana Hyun Joong, kamu siap?” suara Mr. Kim. Langkahku terhenti. ”Nde...” APA?? ”Mantap?” suara appa. ”Mantap, ajuhsi...” ”Appa...” ”Eh? Nde...Appa...” ”Baguslah...” Appa mngurut dada, lega. Kemudian appa dan Mr. Kim tertawa. Lho?? Aku tidak ditanya??? “Hyun Ae, ottohke?” Tanya Mrs Kim sambil tersenyum menatapku. Duplikat Ji Hoo menatapku. Tapi sedetik kemudian mengalihkan pandangnya. Aku hanya mematung. Bingung harus menjawab apa. Bukan, maksudku, bingung bagaimana menolak dengan kata-kata yang tidak menyakiti semuanya. Aku perlu waktu banyak untuk merangkainya. ”Diamnya perempuan tandanya setuju, ya kan Hyun Ae?” appa!!! Aku makin terdiam. Appa memang begitu. Aku menatap umma. Matanya mengisyaratkan agar aku mengiyakan. Umma.... Aku masih diam saat mereka sibuk menentukan tanggal pertunangan dan pernikahan. Pertunangan tiga minggu lagi dan pernikahannya tiga bulan kemudian. Apa aku benar-benar akan menikah dengannya?! Sesuatu terbesit di benakku. ”Mmm... Mian... boleh saya bertanya?” Mrs Kim mengangguk mengiyakan. ”Bisakah... bisakah saya... minta nomor HP Anda eng.. Hyun Joong-ssi.” ”Ah... benar biar makin dekat. Arrasso-arrasso...” Aduh, Mr Kim! “Biar ku missedcall sekarang. Berapa nomormu Hyun Ae-ah?” dia tak menggunakan kata resmi lagi. Dia juga memanggilku Hyun Ae-ah. Terdengar nyaman sekali. Malamnya, tepatnya pukul 23.00. Annyeonghaseo… Hyun Joong-ssi apakah Anda sudah tidur? Mian kalau saya mengganggu. Beberapa menit kemudian. Anyyeong Hyun Ae-ah. Belum. Ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan. Mianhae. Tidak apa-apa. Aku terdiam sesaat. Haruskah kutanyakan? Hyun Joong-ssi, bolehkah saya bertanya. Tentu. Mmm... Hyun Joong-ssi, bagaimana kalau saya menolak perjodohan ini? Apakah ada orang lain, Hyun Ae-ah? Anni. Hanya saja saya... tidak sreg dengan caranya. Apakah karena kita tidak saling mengenal? Bukankah ada masa tiga bulan sebelum menikah, tidak kah itu cukup untuk membuatmu mengenalku? Tapi... saya benar-benar tidak ingin. Kenapa tidak di coba? Sebuah hubungan serius bukan untuk coba-coba Hyun Joong-ssi. Jalani dulu, Hyun Ae-ah. Demi orangtua kita. Kenapa Anda menerima perjodohan ini? Kenapa harus saya? Tidakkah anda punya pilihan sendiri? Jika Anda punya pilihan sendiri saya bersedia membantu. Kau akan membantu jika kau mengiyakannya. Mengiyakan apa ?_? Mau kah kau jadi sahabatku, Hyun Ae-ah? Oh, makdusnya ini. Haruskah aku membalas ’tentu’? -------------------------------------------------------------------------

No comments:

Post a Comment